• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • sdg 15 Life on Land
  • sdg 15 Life on Land
Arsip:

sdg 15 Life on Land

Mahasiswa Pascasarjana Departemen Perikanan UGM Presentasikan Riset Perubahan Lahan Pesisir Indonesia pada Konferensi Internasional POCER 2026

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Malaysia – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), di tingkat internasional. Restiana Raiba, mahasiswa Program Pascasarjana, berkesempatan mempresentasikan hasil penelitiannya dalam 8th International Conference & Postgraduate Colloquium of Environmental Research (POCER 2026) yang diselenggarakan pada 8–9 Juli 2026 di University of Nottingham Malaysia.

POCER 2026 merupakan salah satu konferensi internasional bergengsi di bidang lingkungan dan keberlanjutan yang mengangkat tema “Weaving a Resilient and Sustainable Future”. Tahun ini, konferensi diikuti oleh lebih dari 400 peserta yang mewakili 96 institusi dari lebih dari 22 negara, menjadikannya forum penting bagi akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi untuk berbagi hasil riset serta memperkuat kolaborasi dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan global.

Pada kesempatan tersebut, Restiana Raiba mempresentasikan penelitian berjudul “Key Transition Signals of Coastal Land Use Change in Kendari Bay, Indonesia”, yang mengkaji dinamika perubahan penggunaan lahan di kawasan pesisir Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini berfokus pada identifikasi sinyal-sinyal transisi perubahan penggunaan lahan, khususnya pada ekosistem mangrove yang memiliki peran penting sebagai pelindung kawasan pesisir sekaligus penyimpan karbon alami.

Penelitian tersebut memanfaatkan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS) untuk memantau perubahan tutupan lahan dari waktu ke waktu. Analisis dilakukan menggunakan Intensity Analysis Framework yang dikembangkan oleh Pontius dan Aldwaik (2012), sebuah pendekatan yang mampu mengidentifikasi pola perubahan penggunaan lahan secara lebih rinci dibandingkan metode perubahan konvensional. Melalui pendekatan ini, penelitian tidak hanya menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi, tetapi juga mengungkap proses transisi antarjenis tutupan lahan yang menjadi indikator penting dalam pengelolaan wilayah pesisir.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan mangrove di Teluk Kendari mengalami transisi dua arah, yaitu terdapat area yang mengalami alih fungsi sehingga menyebabkan berkurangnya tutupan mangrove, namun di sisi lain juga ditemukan kawasan yang menunjukkan proses regenerasi dan pemulihan ekosistem. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa wilayah pesisir Teluk Kendari menghadapi tekanan pembangunan yang cukup besar, tetapi masih memiliki peluang yang signifikan untuk mendukung upaya restorasi dan rehabilitasi mangrove apabila didukung oleh kebijakan pengelolaan yang tepat.

Presentasi penelitian ini mendapatkan perhatian dari peserta konferensi karena menawarkan pendekatan analitis yang dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan tata ruang pesisir, pemantauan perubahan ekosistem, serta penyusunan kebijakan konservasi berbasis data spasial. Selain memperkaya diskusi ilmiah mengenai pengelolaan kawasan pesisir tropis, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi teknologi geospasial dalam mendukung pengambilan keputusan yang berkelanjutan.

Keikutsertaan Restiana Raiba dalam POCER 2026 menjadi bukti komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi pada forum ilmiah internasional. Melalui partisipasi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik di tingkat global, tetapi juga memperluas jejaring penelitian serta memperkenalkan hasil-hasil riset mengenai pengelolaan sumber daya pesisir Indonesia kepada komunitas ilmiah dunia.

Partisipasi aktif mahasiswa Departemen Perikanan UGM pada konferensi internasional ini diharapkan semakin memperkuat budaya riset yang unggul, kolaboratif, dan berorientasi pada penyelesaian berbagai tantangan lingkungan, sehingga mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan wilayah pesisir dan keberlanjutan sumber daya alam Indonesia.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui peningkatan kapasitas akademik mahasiswa dan partisipasi dalam forum ilmiah internasional. Penelitian mengenai dinamika mangrove di Teluk Kendari juga berkontribusi terhadap SDG 14: Life Below Water dengan menyediakan dasar ilmiah bagi pengelolaan ekosistem pesisir yang berkelanjutan, serta SDG 15: Life on Land melalui upaya pelestarian dan restorasi ekosistem mangrove sebagai habitat penting bagi keanekaragaman hayati. Selain itu, pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti mencerminkan kontribusi terhadap SDG 13: Climate Action, mengingat mangrove berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuan penyimpanan karbon dan perlindungan kawasan pesisir dari dampak perubahan iklim.

Dosen Perikanan UGM Berbagi Keahlian AMDAL dan ESIA dalam Pelatihan Lingkungan PSLH UGM

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta, 9 Juni 2026 — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan kembali ditunjukkan melalui kontribusi dosennya dalam kegiatan pelatihan profesional. Drs. Namastra Probosunu, M.Si., dosen Departemen Perikanan UGM, menjadi salah satu pemateri dalam pelatihan “Dasar-Dasar AMDAL dan ESIA” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan PSLH UGM tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang profesional yang ingin memperdalam pemahaman mengenai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) sebagai instrumen penting dalam pembangunan berkelanjutan. Drs. Probosunu memberikan materi pada Kelas A dan Kelas B yang diselenggarakan pada Selasa, 9 Juni 2026.

Dalam sesi yang disampaikan, Drs. Probosunu menekankan pentingnya pemahaman ekologi sebagai fondasi dalam proses penyusunan dan evaluasi dokumen AMDAL. Menurutnya, keputusan terkait kelayakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mengenai bagaimana suatu ekosistem bekerja serta bagaimana aktivitas pembangunan dapat memengaruhi keseimbangan lingkungan tersebut.

Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar ekosistem, mulai dari komponen penyusun ekosistem, interaksi antar populasi, hingga hubungan yang terbentuk dalam rantai dan jaring-jaring makanan. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut dinilai penting untuk mengidentifikasi potensi dampak lingkungan yang mungkin muncul akibat suatu kegiatan atau proyek pembangunan.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai tipologi ekosistem dan tingkat kerawanannya dalam konteks pengambilan keputusan lingkungan. Berbagai karakteristik ekosistem memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap gangguan, sehingga memerlukan pendekatan pengelolaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Dalam paparannya, Drs. Probosunu menjelaskan bahwa keberhasilan AMDAL tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen, tetapi juga oleh kualitas pemahaman terhadap sistem ekologis yang menjadi objek kajian. Dengan memahami kerentanan ekosistem sejak awal, berbagai risiko lingkungan dapat diidentifikasi dan diantisipasi secara lebih efektif.

Kehadiran Drs. Probosunu sebagai narasumber menunjukkan kontribusi aktif Departemen Perikanan UGM dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang lingkungan hidup. Keahlian yang dimiliki dosen-dosen Perikanan UGM tidak hanya bermanfaat bagi pengelolaan sumber daya perairan, tetapi juga mendukung berbagai aspek perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, UGM terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu menjembatani kebutuhan akademik dan praktik profesional. Transfer pengetahuan mengenai ekologi dan lingkungan menjadi bagian penting dalam menciptakan pembangunan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kapasitas profesional di bidang lingkungan, SDG 13 (Climate Action) melalui penguatan pemahaman dampak lingkungan dalam pembangunan, SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 15 (Life on Land) melalui penguatan perlindungan ekosistem sebagai dasar pengambilan keputusan yang berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Perubahan Bentang Pesisir Subang: Mangrove Menyusut, Tambak Terus Bertambah

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta — Wilayah pesisir merupakan kawasan yang terus mengalami perubahan akibat interaksi antara proses alam dan aktivitas manusia. Dinamika tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Zuhdi Ardi, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui skripsinya yang mengkaji perubahan luas lahan mangrove dan tambak di Kabupaten Subang, Jawa Barat, selama periode 2019–2025.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh berbasis citra satelit Sentinel-2 untuk memantau perubahan bentang pesisir secara lebih efisien dan akurat. Dengan dukungan platform Google Earth Engine dan algoritma random forest, penelitian mampu menghasilkan pemetaan penggunaan lahan yang memiliki tingkat akurasi sangat tinggi.

Kabupaten Subang dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu sentra perikanan budidaya penting di pesisir utara Jawa Barat. Seiring berkembangnya aktivitas budidaya, kawasan pesisir menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika yang menarik pada bentang pesisir Subang selama enam tahun terakhir. Kawasan mangrove mengalami perubahan luasan dari tahun ke tahun, sementara area tambak menunjukkan kecenderungan berkembang di sejumlah wilayah pesisir. Temuan ini memberikan gambaran bagaimana aktivitas pemanfaatan ruang pesisir terus membentuk lanskap kawasan pantai secara dinamis.

Menurut Zuhdi, pemantauan perubahan penggunaan lahan menjadi penting karena mangrove memiliki peran strategis sebagai pelindung pantai, habitat berbagai biota perairan, penyerap karbon, serta penyangga keberlanjutan ekosistem pesisir. Di sisi lain, sektor budidaya tambak juga berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat dan penyediaan pangan berbasis perikanan.

Melalui penelitian ini, Zuhdi menunjukkan bahwa teknologi satelit dapat menjadi alat yang efektif untuk memantau perubahan lingkungan pesisir dalam skala luas dan periode waktu yang panjang. Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi pengambil kebijakan dalam merencanakan pengelolaan wilayah pesisir yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Dr. Riza Yuliratno Setiawan menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi geospasial dalam bidang perikanan dan pengelolaan sumber daya perairan semakin penting di era saat ini. Data yang dihasilkan dari pemantauan satelit mampu membantu memahami perubahan lingkungan secara objektif dan mendukung proses pengambilan keputusan berbasis sains.

Penelitian Zuhdi menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa Perikanan UGM memanfaatkan teknologi mutakhir untuk menjawab berbagai tantangan pengelolaan sumber daya pesisir. Melalui pendekatan ilmiah yang inovatif, penelitian ini diharapkan dapat mendukung upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan sektor perikanan dan pelestarian ekosistem mangrove di Indonesia.

Kegiatan penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terutama SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan pengelolaan ekosistem pesisir, SDG 13 (Climate Action) melalui pemantauan ekosistem penyerap karbon biru, serta SDG 15 (Life on Land) melalui upaya pelestarian kawasan mangrove sebagai bagian penting dari bentang alam pesisir yang berkelanjutan.

Dari Satelit ke Tambak: Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dinamika Tambak Rembang dan Jejak Perubahan Iklim di Pesisir Jawa

Berita Senin, 25 Mei 2026

Yogyakarta — Perubahan iklim global ternyata tidak hanya dirasakan melalui peningkatan suhu atau perubahan musim. Di wilayah pesisir, dampaknya juga dapat terlihat dari perubahan pola penggunaan lahan yang memengaruhi aktivitas masyarakat. Hal inilah yang menjadi fokus penelitian skripsi Fauziah Dian Anindya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, melalui kajian berjudul “Dinamika Luas Penggunaan Lahan Tambak di Wilayah Pesisir Kabupaten Rembang Periode 2017–2025.”

Penelitian tersebut mengangkat isu menarik mengenai bagaimana lahan tambak di kawasan pesisir Kabupaten Rembang mengalami perubahan dari waktu ke waktu akibat kombinasi faktor lingkungan, iklim, hingga aktivitas manusia. Dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui citra Sentinel-2 dan analisis menggunakan Google Earth Engine, penelitian ini menunjukkan bagaimana data satelit dapat digunakan untuk membaca perubahan lanskap pesisir secara lebih cepat dan akurat.

Melalui pendekatan klasifikasi terbimbing (supervised classification), Fauziah menelusuri dinamika penggunaan lahan tambak garam dan tambak budidaya selama periode 2017–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan luas tambak tidak terjadi secara acak, tetapi sangat dipengaruhi kondisi iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Salah satu temuan menarik muncul pada tahun 2022 ketika luas tambak garam mengalami penurunan. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi meningkatnya curah hujan akibat fenomena La Niña, yang menyebabkan proses produksi garam menjadi kurang optimal. Sebaliknya, ketika curah hujan menurun pada tahun 2023, luas tambak garam kembali meningkat.

Menariknya, pola berbeda justru terjadi pada tambak budidaya. Ketika tambak garam menurun, tambak budidaya menunjukkan kecenderungan meningkat. Temuan tersebut mengindikasikan adanya dinamika alih fungsi lahan yang dipengaruhi strategi adaptasi masyarakat pesisir terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan ekonomi.

Penelitian juga menemukan bahwa pada tahun 2019, luas tambak garam mengalami peningkatan yang diduga dipengaruhi fenomena IOD positif, yang berkaitan dengan kondisi curah hujan lebih rendah dan mendukung aktivitas produksi garam.

Menurut Fauziah, perubahan penggunaan lahan di wilayah pesisir tidak dapat dilepaskan dari interaksi kompleks antara faktor sosial-ekonomi, kebijakan, dan kondisi iklim global. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir memerlukan pendekatan yang adaptif dan berbasis data.

Kajian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana ilmu perikanan saat ini berkembang jauh melampaui aktivitas budidaya dan penangkapan ikan. Teknologi satelit, analisis spasial, dan pemodelan iklim kini menjadi bagian penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan yang lebih berkelanjutan.

Penelitian Fauziah diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi perencanaan wilayah pesisir dan pengambilan kebijakan terkait pemanfaatan lahan tambak di masa mendatang, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.

Penelitian ini juga mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-15 (Life on Land) melalui penguatan basis data ilmiah untuk mendukung pengelolaan wilayah pesisir yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Diajak Turun Langsung Jaga Ikan Lokal Melalui Aksi Penebaran Benih di Embung Lembah UGM

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya menjaga keberlanjutan sumber daya ikan lokal tidak hanya dilakukan melalui riset dan kebijakan, tetapi juga melalui aksi nyata di lapangan. Dalam semangat konservasi dan kepedulian terhadap ekosistem perairan darat, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada diajak berpartisipasi dalam kegiatan Penebaran Ikan dalam Rangka Konservasi In Situ Ikan Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin, 18 Mei 2026. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian dari Dies Natalis ke-63 Departemen Perikanan.

Kegiatan yang berlangsung di Embung Lembah UGM tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian dan pemulihan sumber daya ikan lokal di perairan umum daratan melalui pendekatan konservasi in situ, yaitu pelestarian spesies langsung di habitat alaminya. Sejak pagi hari, mahasiswa Perikanan UGM dijadwalkan terlibat dalam kegiatan penebaran benih ikan sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung praktik konservasi sumber daya perikanan di lapangan.

Penebaran benih ikan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan populasi spesies asli perairan. Berbagai tekanan seperti perubahan lingkungan, degradasi habitat, hingga aktivitas manusia dapat memengaruhi keberadaan ikan lokal di perairan umum. Melalui kegiatan konservasi seperti ini, upaya pemulihan populasi dan pelestarian keanekaragaman hayati perairan dapat diperkuat.

Bagi mahasiswa Perikanan UGM, kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga karena mempertemukan aspek akademik dengan praktik nyata konservasi. Pembelajaran mengenai ekologi, pengelolaan sumber daya perairan, hingga keberlanjutan lingkungan tidak hanya dipahami secara teoritis di kelas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan langsung di lapangan.

Selain menjadi bentuk aksi konservasi, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menjaga sumber daya perikanan lokal. Keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga ekosistem perairan sebagai bagian dari masa depan lingkungan Indonesia. Semangat menjaga ikan lokal bukan sekadar tentang menambah populasi ikan di perairan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan warisan biodiversitas yang dimiliki Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water) SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 15 (Life on Land). Pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya perairan berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem untuk generasi mendatang.

KMIP Perikanan UGM Gelar Pelepasliaran Tukik di Pantai Goa Cemara, Wujud Kepedulian Mahasiswa terhadap Ekosistem Laut

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen mahasiswa terhadap pelestarian lingkungan kembali diwujudkan melalui aksi nyata. Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan (KMIP) menggelar kegiatan pelepasliaran tukik di Pantai Goa Cemara pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang menggabungkan semangat konservasi, edukasi, dan kebersamaan mahasiswa Perikanan UGM.

Kegiatan pelepasliaran tukik berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Sejak pagi hari, mahasiswa terlibat dalam rangkaian kegiatan yang tidak hanya menghadirkan pengalaman lapangan, tetapi juga mengajak peserta memahami pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Sebagai organisasi mahasiswa di lingkungan Departemen Perikanan, KMIP terus mendorong berbagai kegiatan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik dan organisasi, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan lingkungan. Pelepasliaran tukik dipilih karena memiliki makna penting dalam mendukung konservasi satwa laut yang kini menghadapi berbagai ancaman.

Penyu merupakan salah satu spesies yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Namun keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan habitat, sampah laut, perubahan iklim, hingga aktivitas manusia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat secara langsung bahwa menjaga keberlanjutan laut dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama.

Momen pelepasan tukik menuju laut juga menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi peserta. Di tengah suasana Pantai Goa Cemara, mahasiswa tidak hanya menyaksikan proses pelepasliaran, tetapi juga merefleksikan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya konservasi lingkungan.

Bagi KMIP, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang aktif, peduli, dan berdampak. Mahasiswa tidak hanya belajar melalui ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenai isu-isu lingkungan dan konservasi sumber daya perikanan.

Melalui kegiatan seperti ini, KMIP menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 15 (Life on Land). Keterlibatan mahasiswa dalam aksi konservasi menjadi langkah penting dalam menjaga ekosistem laut dan keanekaragaman hayati bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Turut Ambil Bagian dalam Kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” di Bantul

Berita Kamis, 7 Mei 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada turut berpartisipasi dalam kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis, 7 Mei 2026 di kawasan Rawa Kalibayem.

Dalam kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM diwakili oleh Prof. Alim Isnansetyo dan Dr. Riza Y. Setiawan. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari dukungan akademisi terhadap upaya pengendalian spesies ikan invasif di perairan umum.

Kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” merupakan aksi kolaboratif yang melibatkan berbagai instansi, akademisi, serta masyarakat lokal untuk mengurangi populasi ikan sapu-sapu di kawasan rawa. Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan, termasuk merusak habitat alami dan berkompetisi dengan ikan lokal.

Acara diawali dengan apel persiapan dan sambutan dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY sebelum peserta bersama-sama melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di area rawa. Selain menjadi kegiatan pengendalian ekologi, agenda ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perairan darat.

Partisipasi Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan berbasis kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Pendekatan semacam ini dinilai penting untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Melalui keterlibatan langsung di lapangan, sivitas akademika juga dapat memperkuat peran pengabdian kepada masyarakat sekaligus menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik pengelolaan lingkungan yang nyata.

Kegiatan ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water),  SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dan SDG 15 (Life on Land). Pengendalian spesies invasif menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan dan keberlanjutan keanekaragaman hayati lokal.

Departemen Perikanan UGM Ucapkan Selamat: Pengukuhan Prof. Jaka Widada Tandai Lompatan Baru Mikrobiologi Terapan

Berita Selasa, 21 April 2026

Yogyakarta – Civitas akademika Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas pengukuhan Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D sebagai Guru Besar dalam Bidang Mikrobiologi Terapan. Pengukuhan ini menjadi momen penting yang menegaskan kontribusi keilmuan beliau dalam pengembangan mikrobiologi untuk ketahanan pangan dan kesehatan global.

Dalam pidato pengukuhan berjudul “Holobiont sebagai Driver Revolusi Mikrobiologi Terapan untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan Global,” Prof. Jaka Widada menyoroti bahwa revolusi mikrobiologi terapan kini memasuki era baru. Konsep holobiont—yakni kesatuan antara organisme dengan mikroorganisme yang hidup bersamanya—kini bersinggungan erat dengan kemajuan rekayasa genetik tingkat lanjut seperti biologi sintetik (synthetic biology) dan biomanufaktur. Perkembangan ini membuka peluang besar dalam menghadirkan solusi inovatif bagi tantangan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam pemaparannya, Prof. Jaka juga menekankan potensi “raksasa mikroskopis” seperti bakteri dari kelompok Streptomyces dan Bacillus yang memiliki peran strategis dalam produksi senyawa bioaktif, peningkatan produktivitas pangan, hingga pengembangan teknologi kesehatan. Beliau dikenal aktif meneliti berbagai galur Streptomyces indigenos dari beragam habitat, termasuk isolat dari lingkungan laut Nusantara seperti Streptomyces sp. GMY01, yang menjadi salah satu sumber potensial pengembangan inovasi berbasis mikroba.

Civitas akademika Departemen Perikanan menyambut pencapaian ini sebagai inspirasi bagi penguatan kolaborasi lintas disiplin, khususnya dalam pemanfaatan mikrobiologi untuk mendukung sektor perikanan, kelautan, dan ketahanan pangan nasional. Pengukuhan ini diharapkan semakin mendorong lahirnya riset unggulan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Pencapaian ini juga selaras dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan), tujuan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), tujuan ke-4 Pendidikan  Berkualitas, tujuan ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), tujuan ke-15 Life on Land, serta tujuan ke-14 (Ekosistem Laut). Inovasi mikrobiologi terapan diharapkan dapat berkontribusi pada sistem pangan berkelanjutan, kesehatan global, serta pemanfaatan sumber daya hayati secara bertanggung jawab.

Sekali lagi, Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM mengucapkan selamat atas pengukuhan Guru Besar Prof. Jaka Widada. Semoga capaian ini terus menginspirasi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi bagi Indonesia dan dunia.

 

 

sumber foto: Prof. Nuryani dan Prof. Suadi

UGM Dorong Transformasi Digital bagi Perempuan Pembudidaya Ikan di Kulon Progo

Berita Kamis, 23 Oktober 2025

Kulon Progo, 23 Oktober 2025 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Partisipasi Perempuan Pembudidaya Ikan dalam Mencapai Ketahanan Pangan melalui Transformasi Digital.” Acara yang berlangsung di Aula Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kulon Progo ini dihadiri oleh Kepala DKP Kulon Progo, Kepala Bidang Perikanan Budidaya, perwakilan kelompok wanita pembudidaya ikan, serta penyuluh perikanan di wilayah Kulon Progo.

Turut hadir dari Universitas Gadjah Mada, Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D., dosen Departemen Perikanan UGM yang membawakan materi mengenai pemberdayaan ekonomi bagi perempuan; Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si., dosen Departemen Perikanan yang memaparkan manajemen budidaya ikan; serta Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM yang memperkenalkan aplikasi digital untuk pencatatan kegiatan dan keuangan budidaya ikan. Selain dosen, kegiatan ini juga diikuti oleh anggota Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA), yaitu Seruni Salsabila Putri Basoeki, S.Pi., M.Sc. dan Afifah Imawati Putri, S.Pi., yang aktif mendukung isu-isu perikanan dan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala DKP Kulon Progo, drh. Drajat Purbadi, M.Si., yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif kolaborasi antara UGM dan DKP Kulon Progo dalam meningkatkan kapasitas perempuan pembudidaya ikan di daerahnya. Sesi materi dimulai dengan paparan dari Dr. Endah Prihatiningtyastuti, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas perempuan pesisir dan perikanan darat. Ia menyampaikan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan melalui kegiatan budidaya ikan tidak hanya berdampak pada kesejahteraan keluarga, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan nasional. Selanjutnya, Dr. Susilo Budi Priyono memaparkan materi Manajemen Budidaya Ikan, menekankan bahwa keberhasilan usaha budidaya tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh kemampuan manajerial yang baik. Melalui penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), perempuan pembudidaya ikan didorong untuk melakukan pencatatan kegiatan secara sistematis agar dapat mengambil keputusan usaha yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Sebagai penutup, Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc. menyoroti pentingnya pencatatan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam usaha budidaya. Ia menjelaskan bahwa digitalisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pengelolaan usaha, salah satunya melalui pemanfaatan aplikasi Banoo sebagai alat bantu pencatatan yang mudah digunakan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi hanyalah sarana, sementara kunci keberhasilan terletak pada kedisiplinan dalam mencatat setiap kegiatan dan biaya budidaya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia poin ke-3 dan ke-4 mengenai blue economy dan pemberdayaan perempuan, serta sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 1 (No Poverty), 3 (Good Health and Well Being), 5 (Gender Equality), dan 15 (Life on Land) tentang pengentasan kemiskinan, kehidupan sehat dan sejahtera, kesetaraan gender, serta ekosistem laut. Melalui kegiatan ini, diharapkan perempuan pembudidaya ikan di Kulon Progo dapat semakin berdaya, adaptif terhadap teknologi, dan berkontribusi aktif dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.


Penulis: Seruni Salsabila Putri Basoeki
Editor: Nahla Alfiatunnisa

Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY