• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 1: Tanpa Kemiskinan
  • SDG 1: Tanpa Kemiskinan
Arsip:

SDG 1: Tanpa Kemiskinan

Departemen Perikanan UGM Buka Beasiswa Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa S1 melalui Kolaborasi dengan CV. Karya Rasa Indonesia

BeasiswaBerita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung keberlangsungan studi mahasiswa melalui pembukaan Program Beasiswa Bantuan Pendidikan hasil kolaborasi dengan CV. Karya Rasa Indonesia. Program ini ditujukan khusus bagi mahasiswa Program Sarjana (S1) Departemen Perikanan UGM dari seluruh angkatan yang membutuhkan dukungan pembiayaan pendidikan.

Beasiswa ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap mahasiswa yang memiliki semangat belajar tinggi, namun menghadapi keterbatasan ekonomi. Melalui program ini, Departemen Perikanan UGM bersama mitra berupaya memberikan kesempatan yang lebih luas agar mahasiswa dapat menyelesaikan studinya tanpa terkendala biaya pendidikan.

Ketua Departemen Perikanan UGM menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kualitas akademik, tetapi juga oleh kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, kolaborasi dengan dunia usaha menjadi langkah strategis dalam memperluas akses terhadap bantuan pendidikan sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sektor industri.

Program Beasiswa Bantuan Pendidikan ini terbuka bagi mahasiswa yang tidak sedang menerima beasiswa lain dan berasal dari keluarga kurang mampu. Sebagai bagian dari proses seleksi, calon penerima diwajibkan melampirkan curriculum vitae (CV), transkrip nilai terbaru, serta slip gaji orang tua atau surat keterangan penghasilan dari kelurahan sebagai bukti kondisi ekonomi keluarga.

Pada periode tahun ini, tersedia kuota bagi enam mahasiswa yang akan menerima bantuan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Seleksi dilakukan secara administratif dengan mempertimbangkan kelengkapan dokumen serta kesesuaian persyaratan yang telah ditetapkan.

Mahasiswa yang memenuhi kriteria dapat mengajukan pendaftaran secara daring melalui tautan http://ugm.id/BeasiswaKRI. Pendaftaran dibuka hingga 1 Juli 2026, sehingga mahasiswa diimbau untuk segera melengkapi seluruh persyaratan sebelum batas waktu yang telah ditentukan.

Melalui penyelenggaraan program ini, Departemen Perikanan UGM berharap semakin banyak mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikan tinggi dengan baik tanpa harus terbebani oleh kendala finansial. Program ini juga menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra industri mampu memberikan dampak positif bagi pengembangan sumber daya manusia di sektor perikanan.

Program Beasiswa Bantuan Pendidikan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan akses terhadap pendidikan tinggi yang inklusif dan berkualitas, SDG 1 (No Poverty) dengan membantu meringankan beban ekonomi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui penyediaan kesempatan pendidikan yang lebih setara, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara Departemen Perikanan UGM dan CV. Karya Rasa Indonesia dalam mendukung pengembangan generasi muda yang unggul dan berdaya saing.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Kerentanan Pendapatan Nelayan Jaring Hela Dasar di Tegal, Soroti Pentingnya Penguatan Kelembagaan Lokal

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Ketidakpastian pendapatan masih menjadi tantangan utama yang dihadapi nelayan skala kecil di Indonesia. Di balik besarnya hasil tangkapan pada musim tertentu, banyak nelayan harus menghadapi tekanan ekonomi yang tinggi ketika memasuki musim paceklik. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Muchammad Abdul Ghony An Nabalasiy, melakukan penelitian berjudul “Analisis Pendapatan Nelayan Jaring Hela Dasar di Desa Purwahamba, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal” di bawah bimbingan Candra Aryudiawan, S.Pi., M.Sc.

Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur dan besaran pendapatan nelayan jaring hela dasar (jaring arad), sekaligus mengidentifikasi berbagai permasalahan mendasar yang memengaruhi keberlanjutan usaha mereka serta merumuskan strategi pengembangan yang lebih adaptif. Lokasi penelitian dipilih di Desa Purwahamba, Kabupaten Tegal, yang dikenal sebagai salah satu sentra perikanan tangkap skala kecil di pesisir utara Pulau Jawa.

Menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif, penelitian dilakukan melalui metode sensus terhadap 33 nelayan aktif yang menjalankan sistem one-day fishing. Analisis pendapatan mengacu pada kerangka Panayotou (1985), sedangkan identifikasi akar permasalahan menggunakan pendekatan Root Cause Analysis (RCA). Pendekatan tersebut memungkinkan penelitian tidak hanya menggambarkan kondisi ekonomi nelayan, tetapi juga menjelaskan faktor-faktor kelembagaan yang memengaruhi keberlangsungan usaha perikanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total penerimaan nelayan mencapai Rp156,46 juta per tahun, dengan keuntungan bersih sekitar Rp87,81 juta per tahun. Namun demikian, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan tingkat kesejahteraan nelayan karena terdapat fluktuasi pendapatan yang sangat tajam antara musim panen dan musim paceklik. Kondisi ini menyebabkan nelayan tetap berada dalam siklus kerentanan ekonomi meskipun secara tahunan masih memperoleh keuntungan.

Penelitian juga menemukan bahwa biaya operasional didominasi oleh biaya variabel yang mencapai hampir 90 persen dari total biaya produksi. Ketergantungan yang tinggi terhadap solar bersubsidi menjadikan keberlangsungan usaha nelayan sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan energi maupun distribusi bahan bakar.

Melalui analisis akar masalah, penelitian berhasil mengidentifikasi empat persoalan utama yang dihadapi nelayan. Pertama, tingginya ketergantungan terhadap plele sebagai perantara pemasaran yang diperkuat dengan menurunnya fungsi Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Kedua, terbatasnya akses terhadap pembiayaan formal sehingga banyak nelayan terjebak dalam siklus utang berbasis hubungan patron-klien. Ketiga, pendangkalan muara yang menghambat aktivitas keluar masuk kapal dan meningkatkan biaya operasional. Keempat, rendahnya efektivitas berbagai program pemerintah yang belum diikuti oleh penguatan peran Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai kelembagaan ekonomi nelayan.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan sejumlah strategi pengembangan, antara lain memperkuat kelembagaan lokal nelayan, memperluas alternatif saluran pemasaran agar tidak bergantung pada satu aktor, mengembangkan skema pembiayaan berbasis tanggung renteng, mendorong advokasi pembangunan infrastruktur tambat kapal secara kolektif, serta memformalkan kesepakatan lokal antarnelayan untuk mengurangi ketergantungan struktural dalam hubungan patron-klien. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat daya tahan nelayan terhadap berbagai tekanan sosial maupun ekonomi.

Menurut Candra Aryudiawan, S.Pi., M.Sc., penelitian mengenai dinamika pendapatan nelayan skala kecil menjadi sangat penting karena persoalan kesejahteraan nelayan tidak dapat dinilai hanya dari besarnya keuntungan tahunan. Fluktuasi pendapatan musiman, akses terhadap pasar, kelembagaan, dan dukungan kebijakan menjadi faktor yang saling berkaitan dalam menentukan ketahanan ekonomi rumah tangga nelayan. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan perikanan perlu mempertimbangkan dimensi sosial, ekonomi, dan kelembagaan secara terpadu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan nelayan tidak cukup dilakukan melalui peningkatan produksi semata, tetapi juga memerlukan reformasi tata kelola kelembagaan dan kebijakan yang mampu mengurangi kerentanan ekonomi masyarakat pesisir. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan dalam menyusun program pemberdayaan nelayan skala kecil yang lebih efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian SDG 1 (No Poverty) melalui upaya pengurangan kerentanan ekonomi nelayan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong terciptanya usaha perikanan yang lebih produktif dan layak, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui penguatan akses terhadap pembiayaan, pasar, dan kelembagaan bagi nelayan skala kecil, serta SDG 14 (Life Below Water) yang menekankan pentingnya tata kelola perikanan yang berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat pesisir. Melalui penelitian-penelitian aplikatif seperti ini, Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada terus berupaya menghasilkan rekomendasi ilmiah yang mampu menjawab tantangan nyata pembangunan perikanan Indonesia sekaligus mendukung terwujudnya kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Teliti Perubahan Sosial Ekonomi Nelayan Pukat Cincin Dua Kapal di PPN Prigi

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Perubahan yang terjadi dalam sektor perikanan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi sumber daya ikan, tetapi juga oleh dinamika sosial dan ekonomi masyarakat nelayan. Berangkat dari isu tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prasasti Rektaning Soebekti, melaksanakan penelitian berjudul “Perubahan Sosial Ekonomi Nelayan Pukat Cincin Dua Kapal di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek” di bawah bimbingan Ir. Hery Saksono, M.A.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan usaha perikanan pukat cincin dua kapal (two-boat purse seine) di kawasan Prigi sekaligus menganalisis perubahan sosial ekonomi yang dialami oleh masyarakat nelayan di Desa Tasikmadu. Kawasan ini dipilih karena berada di sekitar Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, salah satu pusat aktivitas perikanan tangkap terbesar di Provinsi Jawa Timur yang memiliki peran strategis dalam perekonomian pesisir.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode sensus terhadap seluruh pemilik armada pukat cincin dua kapal yang berdomisili di Desa Tasikmadu. Sebanyak 32 nelayan menjadi responden penelitian sehingga mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ketenagakerjaan pada armada pukat cincin dua kapal di Desa Tasikmadu masih mempertahankan mekanisme tradisional berupa sistem upah esekan dan bagi hasil. Sistem esekan merupakan praktik unik yang telah lama berkembang di kalangan nelayan Prigi, di mana sebagian hasil tangkapan diambil secara langsung menggunakan kantong plastik (esek) segera setelah kapal bersandar. Praktik ini menjadi salah satu bentuk kompensasi bagi awak kapal sebelum hasil tangkapan dipasarkan.

Di sisi lain, penelitian juga mengungkap bahwa perubahan ekonomi semakin dirasakan oleh masyarakat nelayan, terutama akibat meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi komponen biaya operasional terbesar dalam usaha penangkapan ikan. Kondisi tersebut diperparah oleh distribusi subsidi BBM yang belum merata sehingga menimbulkan beban ekonomi yang berbeda antar pelaku usaha perikanan.

Selain tantangan ekonomi, penelitian ini menemukan adanya kesenjangan sosial ekonomi di antara nelayan. Perbedaan kemampuan modal, akses terhadap subsidi, serta kapasitas kepemilikan armada turut memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir. Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan sektor perikanan tidak hanya membutuhkan peningkatan produktivitas, tetapi juga kebijakan yang mampu menjamin pemerataan akses dan kesejahteraan bagi seluruh kelompok nelayan.

Menurut dosen pembimbing, Ir. Hery Saksono, M.A., penelitian-penelitian sosial ekonomi seperti ini memiliki peran penting dalam menyediakan dasar ilmiah bagi penyusunan kebijakan pembangunan perikanan yang lebih inklusif. Pemahaman mengenai dinamika kehidupan nelayan di tingkat lokal diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merancang program subsidi, perlindungan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir secara lebih tepat sasaran.

Melalui penelitian ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan riset yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan perikanan berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan Indonesia.

Penelitian ini juga sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) melalui upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong terciptanya sistem ekonomi perikanan yang lebih adil dan berkelanjutan, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui perhatian terhadap kesenjangan sosial ekonomi antar pelaku perikanan, serta SDG 14 (Life Below Water) yang menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Melalui riset-riset yang berorientasi pada penyelesaian permasalahan nyata di masyarakat, Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada terus berkontribusi dalam menghasilkan rekomendasi berbasis ilmiah yang mendukung pembangunan sektor perikanan Indonesia yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Perluas Implementasi MAYA ke Berbagai Wilayah Pesisir Indonesia

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Sebagai tindak lanjut dari pilot project Pengenalan Pencatatan Digital Usaha Perikanan Tangkap Berbasis WhatsApp yang telah dilaksanakan di Sadeng, Gunungkidul, DIY pada Sabtu, 6 Juni 2026, Departemen Perikanan UGM melakukan diskusi yang membahas perencanaan memperluas implementasi program ke berbagai wilayah pesisir di Indonesia. Program yang diinisiasi oleh Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D. saat ini direncanakan akan memperluas ekspansi implementasinya ke wilayah pesisir lain di Padang, Sumatera Barat; Kaur Selatan, Bengkulu; Sumbawa, Nusa Tenggara Barat; Manggarai, Nusa Tenggara Timur; Halmahera Tengah, Maluku Utara. Perluasan ini dilakukan melalui kolaborasi dengan enam mahasiswa Departemen Perikanan yang akan menjalankan program KKN-PPM UGM sebagai bagian dari mata kuliah wajib pengabdian masyarakat berbasis riset dan ilmu pengetahuan.

Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa membawa inovasi pencatatan hasil tangkapan dan keuangan usaha berbasis WhatsApp dengan dukungan AI (Artificial Intelligence) bernama MAYA (Manajemen Aktivitas Nelayan). MAYA dirancang sebagai asisten digital bagi perempuan pesisir untuk membantu pencatatan keuangan usaha perikanan secara sederhana, praktis, dan lebih presisi. Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat mempermudah ibu-ibu pesisir dalam memahami kondisi keuangan usahanya, memantau perkembangan usaha dari waktu ke waktu, serta mendukung pengambilan keputusan ekonomi yang lebih tepat.

Selain membantu pencatatan pemasukan dan pengeluaran, sistem ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha perikanan untuk memiliki riwayat keuangan yang lebih tertata. Catatan tersebut dapat menjadi modal penting ketika mengakses bantuan usaha maupun pengajuan kredit. Dengan demikian, digitalisasi pencatatan keuangan tidak hanya berfungsi sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga perempuan pesisir.

Meski teknologi MAYA masih terus disempurnakan, proses implementasi di berbagai daerah menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem. Melalui keterlibatan mahasiswa Departemen Perikanan yang akan menjalankan kegiatan KKN-PPM UGM, tim peneliti dapat melakukan pengujian langsung di lapangan, mengumpulkan data penggunaan, sekaligus memahami kebutuhan nyata masyarakat pesisir melalui pendekatan bottom-up. Pendekatan ini memungkinkan teknologi dikembangkan secara lebih adaptif sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan kapasitas pengguna di tingkat akar rumput. Inisiatif ini sekali lagi menjadi wujud komitmen Departemen Perikanan UGM, dalam menghadirkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Inisiatif pengembangan dan perluasan implementasi MAYA juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) melalui penguatan ekonomi rumah tangga nelayan, SDG 5 (Gender Equality) dengan meningkatkan kapasitas dan peran perempuan pesisir dalam pengelolaan usaha perikanan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui dukungan terhadap usaha mikro perikanan yang lebih produktif dan berkelanjutan, serta SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk mendukung transformasi sektor perikanan. Selain itu, program ini juga mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, masyarakat pesisir, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun inovasi yang berdampak nyata bagi pembangunan pesisir Indonesia. Dengan demikian, MAYA tidak hanya menjadi inovasi teknologi pencatatan usaha, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat yang mendorong terciptanya pembangunan perikanan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Magang Berdampak Mahasiswa Perikanan UGM: Suara Nelayan Juwana Diangkat ke Ruang Akademik dan Kebijakan

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Program Magang Berdampak di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali melahirkan karya penelitian yang dekat dengan realitas masyarakat pesisir. Salah satu mahasiswa, berhasil mengangkat dinamika sosial-ekonomi nelayan melalui penelitian berjudul “Protes Nelayan terhadap Kebijakan Penerimaan Negara Bukan Pajak Pasca Produksi di Pelabuhan Perikanan Pantai Juwana.”

Penelitian ini lahir dari pengalaman lapangan yang diperoleh selama kegiatan magang dan observasi langsung di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana, Kabupaten Pati. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, Ia melakukan wawancara dengan pemilik kapal, pengurus kapal, ABK, hingga pihak pelabuhan untuk memahami dampak kebijakan PNBP pasca produksi terhadap kehidupan nelayan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem PNBP pasca produksi sejak 2023 memunculkan keresahan di kalangan nelayan Pantura. Bentuk protes yang dilakukan meliputi demonstrasi, audiensi langsung, pemasangan surat terbuka, hingga penundaan pembayaran PNBP. Nelayan menilai kebijakan tersebut memberatkan karena pendapatan mereka sangat bergantung pada cuaca, musim, dan hasil tangkapan yang fluktuatif. Selain itu, adanya ancaman suspend izin kapal, denda keterlambatan pembayaran, serta ketidaksesuaian harga acuan ikan dengan harga pasar menjadi persoalan utama yang dirasakan nelayan.

Menariknya, penelitian ini tidak hanya menyoroti konflik kebijakan, tetapi juga menunjukkan pentingnya dialog antara pemerintah dan masyarakat pesisir. Respons dari pihak pelabuhan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang membuka ruang diskusi menjadi indikasi bahwa pengelolaan perikanan membutuhkan pendekatan partisipatif dan adaptif.

Melalui pengalaman Magang Berdampak, Mahasiswa tersebut tidak hanya belajar metode penelitian, tetapi juga memahami secara langsung kompleksitas kehidupan nelayan dan tata kelola sektor perikanan nasional. Pengalaman ini memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan ilmu akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.

Program ini juga memiliki keterkaitan kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian mengenai kesejahteraan nelayan mendukung SDG 1 (No Poverty) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui perhatian terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas. Selain itu, kajian tata kelola perikanan yang lebih adil dan partisipatif turut mendukung SDG 14 (Life Below Water) dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan dialog antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui karya seperti ini, mahasiswa Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa riset bukan hanya tentang data dan teori, tetapi juga tentang menghadirkan suara masyarakat pesisir ke ruang akademik dan pengambilan kebijakan.

Dosen Perikanan UGM: Melupakan Laut Berarti Mengabaikan Masa Depan Sosial Indonesia

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Wacana mengenai memudarnya orientasi pembangunan maritim Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah muncul opini berjudul “Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan” yang dimuat media nasional. Tulisan tersebut menyoroti bagaimana laut perlahan kehilangan posisi strategis dalam arah pembangunan Indonesia, padahal laut merupakan fondasi penting bagi identitas dan masa depan bangsa.
RMOL – Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan

Menanggapi isu tersebut, dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, menilai bahwa persoalan terbesar Indonesia hari ini bukan semata-mata eksploitasi laut, melainkan cara pandang pembangunan yang mulai menjauh dari identitas maritim bangsa.

Menurut Dr. Mukti, laut selama ini terlalu sering diposisikan hanya sebagai sumber ekonomi dan ruang produksi. Padahal, laut memiliki dimensi sosial, budaya, ekologis, hingga politik yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama komunitas pesisir dan nelayan kecil.

“Ketika laut hanya dipahami sebagai komoditas ekonomi, maka yang hilang bukan hanya ekosistemnya, tetapi juga ruang hidup masyarakat pesisir, pengetahuan lokal, dan identitas maritim Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan sektor kelautan seharusnya tidak berhenti pada peningkatan produksi atau investasi semata. Menurutnya, kebijakan maritim perlu melihat laut sebagai ruang kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan, budaya lokal, hingga keberlanjutan sosial masyarakat.

Dr. Mukti juga menyoroti bagaimana masyarakat pesisir sering menjadi kelompok yang paling terdampak ketika pembangunan tidak memperhatikan aspek sosial dan ekologis. Perubahan iklim, abrasi, pencemaran laut, hingga penurunan sumber daya ikan secara langsung memengaruhi kehidupan nelayan dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidup dari laut.

Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan paradigma pembangunan maritim yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Ia menilai pendekatan sosial dalam ilmu perikanan menjadi semakin penting untuk memahami bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, tekanan ekonomi, dan transformasi kebijakan di sektor kelautan.

“Laut bukan sekadar ruang geografis. Laut adalah ruang sosial. Di sana ada relasi budaya, ekonomi keluarga, solidaritas masyarakat, bahkan identitas komunitas yang terbentuk selama puluhan tahun,” jelasnya.

Sebagai akademisi yang menaruh perhatian pada kajian sosial perikanan dan masyarakat pesisir, Dr. Mukti Aprian juga menilai bahwa riset-riset sosial di bidang perikanan masih perlu diperkuat. Menurutnya, selama ini kajian kelautan lebih banyak didominasi pendekatan teknis dan produksi, sementara dinamika sosial masyarakat pesisir sering kurang mendapat perhatian.

Ia menekankan bahwa masa depan sektor kelautan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan memahami manusia yang hidup di dalam sistem tersebut.

Selain itu, Dr. Mukti menilai generasi muda perlu mulai membangun kembali kesadaran maritim. Kampus, menurutnya, memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk cara pandang baru terhadap laut, bukan sekadar sebagai sumber daya, tetapi sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan bangsa.

“Kalau laut rusak, dampaknya bukan hanya pada ikan atau ekosistem, tetapi juga pada ketahanan pangan, migrasi masyarakat pesisir, kemiskinan, hingga konflik sosial. Karena itu, menjaga laut sebenarnya adalah menjaga masa depan Indonesia,” tambahnya.

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, Departemen Perikanan UGM terus mendorong pengembangan ilmu perikanan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat pesisir.

Refleksi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-1 (No Poverty). Penguatan pembangunan maritim berbasis keberlanjutan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga ekologi laut sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

UGM Dorong Transformasi Digital bagi Perempuan Pembudidaya Ikan di Kulon Progo

Berita Kamis, 23 Oktober 2025

Kulon Progo, 23 Oktober 2025 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Partisipasi Perempuan Pembudidaya Ikan dalam Mencapai Ketahanan Pangan melalui Transformasi Digital.” Acara yang berlangsung di Aula Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kulon Progo ini dihadiri oleh Kepala DKP Kulon Progo, Kepala Bidang Perikanan Budidaya, perwakilan kelompok wanita pembudidaya ikan, serta penyuluh perikanan di wilayah Kulon Progo.

Turut hadir dari Universitas Gadjah Mada, Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D., dosen Departemen Perikanan UGM yang membawakan materi mengenai pemberdayaan ekonomi bagi perempuan; Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si., dosen Departemen Perikanan yang memaparkan manajemen budidaya ikan; serta Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM yang memperkenalkan aplikasi digital untuk pencatatan kegiatan dan keuangan budidaya ikan. Selain dosen, kegiatan ini juga diikuti oleh anggota Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA), yaitu Seruni Salsabila Putri Basoeki, S.Pi., M.Sc. dan Afifah Imawati Putri, S.Pi., yang aktif mendukung isu-isu perikanan dan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala DKP Kulon Progo, drh. Drajat Purbadi, M.Si., yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif kolaborasi antara UGM dan DKP Kulon Progo dalam meningkatkan kapasitas perempuan pembudidaya ikan di daerahnya. Sesi materi dimulai dengan paparan dari Dr. Endah Prihatiningtyastuti, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas perempuan pesisir dan perikanan darat. Ia menyampaikan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan melalui kegiatan budidaya ikan tidak hanya berdampak pada kesejahteraan keluarga, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan nasional. Selanjutnya, Dr. Susilo Budi Priyono memaparkan materi Manajemen Budidaya Ikan, menekankan bahwa keberhasilan usaha budidaya tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh kemampuan manajerial yang baik. Melalui penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), perempuan pembudidaya ikan didorong untuk melakukan pencatatan kegiatan secara sistematis agar dapat mengambil keputusan usaha yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Sebagai penutup, Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc. menyoroti pentingnya pencatatan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam usaha budidaya. Ia menjelaskan bahwa digitalisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pengelolaan usaha, salah satunya melalui pemanfaatan aplikasi Banoo sebagai alat bantu pencatatan yang mudah digunakan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi hanyalah sarana, sementara kunci keberhasilan terletak pada kedisiplinan dalam mencatat setiap kegiatan dan biaya budidaya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia poin ke-3 dan ke-4 mengenai blue economy dan pemberdayaan perempuan, serta sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 1 (No Poverty), 3 (Good Health and Well Being), 5 (Gender Equality), dan 15 (Life on Land) tentang pengentasan kemiskinan, kehidupan sehat dan sejahtera, kesetaraan gender, serta ekosistem laut. Melalui kegiatan ini, diharapkan perempuan pembudidaya ikan di Kulon Progo dapat semakin berdaya, adaptif terhadap teknologi, dan berkontribusi aktif dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.


Penulis: Seruni Salsabila Putri Basoeki
Editor: Nahla Alfiatunnisa

ODA KIOTEC Master’s Degree Scholarship Awardee Seminar Presentation 2025: Ajang Ilmiah dan Jejaring Akademik

BeasiswaBerita Rabu, 30 Juli 2025

Jakarta, 30 Juli 2025 — Korea-Indonesia Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC) menyelenggarakan ODA KIOTEC Master’s Degree Scholarship Awardee Seminar Presentation 2025 di Jakarta. Acara ini menjadi forum ilmiah bagi para penerima beasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka, sekaligus menjadi ruang pertemuan akademik antara mahasiswa, profesor, dan guru besar dari berbagai universitas perikanan terkemuka di Indonesia. Seminar ini menghadirkan suasana akademik yang hangat sekaligus penuh semangat kolaborasi. Para peserta yang terdiri dari mahasiswa S2 penerima beasiswa, guru besar, serta profesor dari penjuru Indonesia, memaparkan hasil penelitian dengan kualitas ide yang mendalam dan beragam.

Salah satu awardee, Nicholas Sidharta dari Magister Ilmu Perikanan UGM menyampaikan pengalamannya saat mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para profesor dan peneliti dari berbagai institusi merupakan pengalaman yang sangat berharga. Ia sendiri berkesempatan memaparkan penelitian berjudul “Stakeholders’ Perceptions of Adopting Irradiation Technology for Seafood Exports in Indonesia: Findings from Shrimp Commodity Using Q-Methodology”. Dalam presentasinya, ia menekankan pentingnya aspek storytelling agar penelitian dapat dipahami lebih luas, bahkan ketika topiknya masih asing bagi sebagian orang. “Saya berusaha mengemas istilah teknis seperti iradiasi menjadi sederhana, sehingga dapat dipahami audiens secara lebih mudah. Bersyukur topik yang unik ini dapat diterima dengan baik oleh panelis,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada pihak MTCRC, khususnya kepada Ivonne dan Park Hansan selaku Direktur MTCRC, serta Dr. Ir. Eko Setyobudi, M.Si., yang senantiasa memberikan pendampingan. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada para pembimbing, Prof. Suadi dan Indun Dewi Puspita, Ph.D., serta teman-teman yang telah memberikan dukungan penuh selama perjalanan akademiknya. “Acara ini menjadi momen terakhir bagi awardee beasiswa tahun ini. Saya belajar banyak dari penelitian dan pengalaman rekan-rekan, serta merasa beruntung dapat menjalin jejaring dengan para akademisi hebat. Harapan saya, kerja sama antara UGM dan MTCRC dapat terus terjaga dan semakin berkembang,” tambahnya. Acara ditutup dengan sesi foto bersama yang merekam kebersamaan seluruh peserta.

Kegiatan ini menegaskan bahwa ODA KIOTEC Master’s Degree Scholarship Awardee Seminar Presentation 2025 bukan hanya wadah berbagi ilmu, tetapi juga jembatan untuk mempererat hubungan akademik antara Indonesia dan Korea di bidang perikanan dan kelautan. Kegiatan ini mendukung tujuan global untuk pembangunan berkelanjutan pada poin (1) Menghapus Kemiskinan, (4) Pendidikan Bermutu, (8) Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, (14) Menjaga Ekosistem Laut, (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Kharisma Pundhi Rukmana

Editor: Nahla Alfiatunnisa

SinnTech Webinar #27: Membaca Ulang Masa Depan Komunitas Perikanan

Berita Selasa, 22 Juli 2025

Pada tanggal 22 Juli 2025, SinnTech Webinar #27 sukses digelar oleh Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM dengan mengangkat tema “The Empowerment of Fisheries Community”. Acara ini berhasil menarik 51 partisipan yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, hingga perwakilan instansi yang memiliki perhatian besar terhadap pembangunan komunitas perikanan yang berkelanjutan.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber ahli internasional yang membagikan pengalaman sekaligus gagasan strategis terkait pemberdayaan masyarakat pesisir dan perikanan. Andreas Bauer, MM. Sc., peneliti dari Institute of Development Research, BOKU – University of Natural Resources and Life Sciences, Vienna, yang memaparkan materi berjudul “Fisheries Community Development: Lessons Learnt from East and West Africa.”

Dalam paparannya, Andreas Bauer menekankan pentingnya penggunaan Multiple Lines of Evidence (MLE), yang menggabungkan indikator abiotik, biotik, serta pengetahuan sosial-ekologis masyarakat lokal. Pendekatan ini memungkinkan pengambilan keputusan berbasis bukti sekaligus menghargai kearifan komunitas. Ia juga menyoroti bagaimana refleksi kritis, eksplorasi perspektif alternatif, serta inovasi sosial menjadi kunci membangun keberlanjutan perikanan di Afrika Timur dan Barat.

Narasumber kedua adalah Dr. M. Arsyad Al Amin, M.Si., Kepala Departemen Pengembangan Komunitas Pesisir, Kelembagaan dan Kebijakan Kelautan, IPB University, turut membahas tantangan besar sektor perikanan di era disrupsi global. Tiga faktor utama yang menjadi sorotan adalah perubahan iklim, revolusi industri 4.0, dan pandemi COVID-19. Menurutnya, ketiga hal tersebut melahirkan model ekonomi baru: green/blue economy, sharing/digital economy, serta new normal economy. Dalam konteks ini, ketahanan (resilience) masyarakat pesisir ditentukan oleh kemampuan adaptasi terhadap risiko, sekaligus strategi mitigasi yang memperhatikan akar kerentanan sosial-ekonomi.

Pesan penting dari webinar ini adalah bahwa pemberdayaan komunitas perikanan tidak hanya soal pengelolaan sumber daya alam, tetapi juga membangun daya tahan sosial-ekonomi. Dengan memahami vulnerability sekaligus menguatkan resilience, komunitas pesisir dapat lebih siap menghadapi tantangan ekologi, sosial, maupun global. Partisipasi aktif peserta dalam diskusi, focus group, hingga refleksi bersama menunjukkan bahwa kolaborasi lintas ilmu dan lintas wilayah menjadi fondasi utama menuju masa depan perikanan yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini juga berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya, SDG 1 (No Poverty) melalui peningkatan kesejahteraan komunitas pesisir, SDG 2 (Zero Hunger) dengan mendukung ketahanan pangan berbasis perikanan berkelanjutan, SDG 13 (Climate Action) lewat adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, SDG 14 (Life Below Water) melalui pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi lintas negara, disiplin ilmu, dan institusi. Dengan demikian, webinar ini tidak hanya menghasilkan wawasan akademis, tetapi juga meneguhkan komitmen global dalam memperkuat keberlanjutan sektor perikanan dan komunitas yang menggantungkan hidup pada sumber daya laut.

Penulis: Galuh Wulanuari

Editor: Nahla Alfiatunnisa, S.Pi.

Departemen Perikanan UGM Terima Kunjungan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB University

Berita Rabu, 9 Juli 2025

Yogyakarta, 9 Juli 2025 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan akademik dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL), IPB University. Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membangun kolaborasi strategis antar dua universitas besar di Indonesia dalam bidang perikanan, kelautan, dan pengelolaan sumber daya pesisir. Rombongan dari IPB University disambut dengan hangat oleh Ketua Departemen Perikanan UGM beserta Sekretaris Departemen, serta sejumlah dosen dan staf Departemen Perikanan.

Pada pertemuan ini, kedua pihak membahas berbagai peluang kerja sama yang dapat dilakukan, mulai dari kolaborasi riset, pertukaran pengetahuan, hingga kegiatan akademik bersama. Salah satu agenda utama adalah rencana penyelenggaraan The 5th International Conference on Integrated Coastal Management and Marine Biotechnology yang merupakan sebuah forum internasional yang akan mempertemukan para peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang pengelolaan pesisir, kelautan, serta bioteknologi. Konferensi ini diharapkan menjadi ajang strategis untuk menyebarkan hasil-hasil penelitian terkini, memperkenalkan inovasi teknologi, serta membuka diskusi tentang tantangan dan peluang dalam pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM maupun PKSPL IPB sama-sama optimistis bahwa kunjungan ini akan membuka peluang kerja sama yang lebih luas, mulai dari penelitian bersama, publikasi ilmiah kolaboratif, hingga pengembangan program akademik yang mendukung pembangunan pesisir Indonesia. Selain itu, melalui konferensi internasional yang akan digelar, kedua institusi berharap dapat mendorong munculnya gagasan baru yang relevan dengan tantangan global, seperti perubahan iklim, degradasi ekosistem pesisir, hingga pemanfaatan bioteknologi untuk keberlanjutan sumber daya laut.

Momen ini menjadi simbol harapan bahwa kolaborasi antara UGM dan IPB akan terus berkembang, menghasilkan dampak nyata tidak hanya bagi akademisi, tetapi juga bagi masyarakat pesisir dan pengelolaan sumber daya laut di Indonesia. Sinergi antara Departemen Perikanan UGM dan PKSPL IPB University, diharapkan lahir terobosan-terobosan baru dalam pengelolaan sumber daya pesisir yang lebih inovatif, partisipatif, dan berkelanjutan. Kunjungan ini sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan pesisir yang berpihak pada ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini mendukung Tujuan Global untuk Pembangunan Berkelanjutan pada point (1) Menghapus Kemiskinan, (4) Pendidikan Bermutu, (8) Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, (9) Infrastruktur Industri dan Inovasi, (13) Penanganan Perubahan Iklim, (14) Menjaga Ekosistem Laut, dan (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Kharisma Pundhi Rukmana

Editor: Nahla Alfiatunnisa, S.Pi.

12
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY