• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
Arsip:

SDG 14: Ekosistem Lautan

Program Studi Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Akreditasi Internasional ASIIN hingga 2031

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Prestasi membanggakan kembali diraih Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program Studi Magister Ilmu Perikanan resmi memperoleh akreditasi internasional dari ASIIN (Accreditation Agency for Study Programmes in Engineering, Informatics, Natural Sciences and Mathematics). Pencapaian ini menjadi pengakuan internasional atas kualitas penyelenggaraan pendidikan, proses pembelajaran, dan capaian lulusan yang memenuhi standar akademik global.

Berdasarkan sertifikat akreditasi yang diterbitkan ASIIN, akreditasi untuk Program Studi Master of Science in Fisheries Science di Universitas Gadjah Mada berlaku mulai 26 September 2025 hingga 30 September 2031. Program studi ini juga dinyatakan memenuhi standar Level 7 European Qualifications Framework for Lifelong Learning (EQF LLL), yang menunjukkan kesetaraan kompetensi lulusan dengan jenjang magister pada kerangka kualifikasi pendidikan tinggi di Eropa.

ASIIN merupakan lembaga akreditasi internasional yang berbasis di Jerman dan dikenal luas dalam melakukan penjaminan mutu pendidikan tinggi di bidang teknik, ilmu alam, matematika, informatika, serta ilmu-ilmu terapan. Proses akreditasi dilakukan melalui evaluasi yang komprehensif terhadap kurikulum, capaian pembelajaran, kualitas dosen, tata kelola program studi, fasilitas pembelajaran, hingga sistem penjaminan mutu yang diterapkan oleh institusi.

Dalam sertifikat akreditasi disebutkan bahwa pemberian ASIIN Seal merupakan pengakuan bahwa program studi telah memenuhi tuntutan dunia akademik dan dunia profesi pada tingkat yang tinggi. Selain itu, ASIIN juga menilai bahwa program studi menyediakan lingkungan pembelajaran yang mendukung proses pendidikan yang berkualitas serta keberhasilan mahasiswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Penilaian tersebut didasarkan pada standar pembelajaran berbasis capaian (learning outcomes) yang selaras dengan European Qualifications Framework dan European Standards and Guidelines.

Ketua Departemen Perikanan UGM menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Akreditasi internasional bukan hanya menjadi bentuk pengakuan atas kualitas pendidikan yang telah dicapai, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus meningkatkan standar akademik, memperkuat internasionalisasi, dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global.

Bagi mahasiswa, akreditasi ASIIN memberikan nilai tambah karena menunjukkan bahwa proses pendidikan yang dijalani telah memenuhi standar internasional. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing lulusan, memperluas peluang studi lanjut maupun karier profesional, serta memperkuat jejaring akademik dan penelitian dengan berbagai institusi di luar negeri.

Ke depan, Departemen Perikanan UGM akan terus memperkuat kualitas pendidikan melalui inovasi kurikulum, pengembangan riset yang relevan dengan tantangan global, peningkatan kolaborasi internasional, serta penguatan kemitraan dengan pemerintah, industri, dan berbagai lembaga penelitian. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi bagi pembangunan sektor perikanan dan kelautan yang berkelanjutan.

Pencapaian akreditasi internasional ini juga mendukung komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pengakuan terhadap mutu pendidikan tinggi berkontribusi pada SDG 4: Quality Education melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan berstandar internasional. Penguatan jejaring akademik global dan harmonisasi standar pendidikan dengan kerangka kualifikasi internasional juga mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals, sementara pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidang perikanan diharapkan mampu mendukung SDG 14: Life Below Water melalui pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan.

Mahasiswa Pascasarjana Departemen Perikanan UGM Presentasikan Riset Perubahan Lahan Pesisir Indonesia pada Konferensi Internasional POCER 2026

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Malaysia – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), di tingkat internasional. Restiana Raiba, mahasiswa Program Pascasarjana, berkesempatan mempresentasikan hasil penelitiannya dalam 8th International Conference & Postgraduate Colloquium of Environmental Research (POCER 2026) yang diselenggarakan pada 8–9 Juli 2026 di University of Nottingham Malaysia.

POCER 2026 merupakan salah satu konferensi internasional bergengsi di bidang lingkungan dan keberlanjutan yang mengangkat tema “Weaving a Resilient and Sustainable Future”. Tahun ini, konferensi diikuti oleh lebih dari 400 peserta yang mewakili 96 institusi dari lebih dari 22 negara, menjadikannya forum penting bagi akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi untuk berbagi hasil riset serta memperkuat kolaborasi dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan global.

Pada kesempatan tersebut, Restiana Raiba mempresentasikan penelitian berjudul “Key Transition Signals of Coastal Land Use Change in Kendari Bay, Indonesia”, yang mengkaji dinamika perubahan penggunaan lahan di kawasan pesisir Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini berfokus pada identifikasi sinyal-sinyal transisi perubahan penggunaan lahan, khususnya pada ekosistem mangrove yang memiliki peran penting sebagai pelindung kawasan pesisir sekaligus penyimpan karbon alami.

Penelitian tersebut memanfaatkan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS) untuk memantau perubahan tutupan lahan dari waktu ke waktu. Analisis dilakukan menggunakan Intensity Analysis Framework yang dikembangkan oleh Pontius dan Aldwaik (2012), sebuah pendekatan yang mampu mengidentifikasi pola perubahan penggunaan lahan secara lebih rinci dibandingkan metode perubahan konvensional. Melalui pendekatan ini, penelitian tidak hanya menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi, tetapi juga mengungkap proses transisi antarjenis tutupan lahan yang menjadi indikator penting dalam pengelolaan wilayah pesisir.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan mangrove di Teluk Kendari mengalami transisi dua arah, yaitu terdapat area yang mengalami alih fungsi sehingga menyebabkan berkurangnya tutupan mangrove, namun di sisi lain juga ditemukan kawasan yang menunjukkan proses regenerasi dan pemulihan ekosistem. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa wilayah pesisir Teluk Kendari menghadapi tekanan pembangunan yang cukup besar, tetapi masih memiliki peluang yang signifikan untuk mendukung upaya restorasi dan rehabilitasi mangrove apabila didukung oleh kebijakan pengelolaan yang tepat.

Presentasi penelitian ini mendapatkan perhatian dari peserta konferensi karena menawarkan pendekatan analitis yang dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan tata ruang pesisir, pemantauan perubahan ekosistem, serta penyusunan kebijakan konservasi berbasis data spasial. Selain memperkaya diskusi ilmiah mengenai pengelolaan kawasan pesisir tropis, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi teknologi geospasial dalam mendukung pengambilan keputusan yang berkelanjutan.

Keikutsertaan Restiana Raiba dalam POCER 2026 menjadi bukti komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi pada forum ilmiah internasional. Melalui partisipasi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik di tingkat global, tetapi juga memperluas jejaring penelitian serta memperkenalkan hasil-hasil riset mengenai pengelolaan sumber daya pesisir Indonesia kepada komunitas ilmiah dunia.

Partisipasi aktif mahasiswa Departemen Perikanan UGM pada konferensi internasional ini diharapkan semakin memperkuat budaya riset yang unggul, kolaboratif, dan berorientasi pada penyelesaian berbagai tantangan lingkungan, sehingga mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan wilayah pesisir dan keberlanjutan sumber daya alam Indonesia.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui peningkatan kapasitas akademik mahasiswa dan partisipasi dalam forum ilmiah internasional. Penelitian mengenai dinamika mangrove di Teluk Kendari juga berkontribusi terhadap SDG 14: Life Below Water dengan menyediakan dasar ilmiah bagi pengelolaan ekosistem pesisir yang berkelanjutan, serta SDG 15: Life on Land melalui upaya pelestarian dan restorasi ekosistem mangrove sebagai habitat penting bagi keanekaragaman hayati. Selain itu, pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti mencerminkan kontribusi terhadap SDG 13: Climate Action, mengingat mangrove berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuan penyimpanan karbon dan perlindungan kawasan pesisir dari dampak perubahan iklim.

Dr. Senny Helmiati Raih Jabatan Fungsional Lektor, Perkuat Pengembangan Keilmuan Nutrisi dan Pakan Ikan di Departemen Perikanan UGM

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. resmi memperoleh kenaikan jabatan fungsional ke jenjang Lektor dalam bidang ilmu Nutrisi dan Pakan Ikan. Pencapaian ini menjadi pengakuan atas dedikasi dan kontribusi beliau dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada bidang akuakultur yang berfokus pada pengembangan nutrisi dan manajemen pakan ikan.

Kenaikan jabatan fungsional ini tidak hanya menjadi capaian akademik secara personal, tetapi juga memperkuat kapasitas Departemen Perikanan UGM dalam mengembangkan riset, pendidikan, dan inovasi di bidang budidaya perikanan. Bidang nutrisi dan pakan ikan memegang peranan penting dalam mendukung peningkatan produktivitas akuakultur yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Sebagai akademisi di Departemen Perikanan UGM, Dr. Senny menekuni bidang nutrisi ikan, manajemen pakan ikan, pakan alami, dan akuakultur. Fokus keilmuan tersebut diwujudkan melalui berbagai penelitian yang mengembangkan bahan baku pakan alternatif, peningkatan kualitas nutrisi pakan, hingga optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal sebagai bahan penyusun pakan ikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Dr. Senny aktif mengembangkan penelitian mengenai pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai sumber protein alternatif dalam formulasi pakan ikan, evaluasi mikrobiota maggot, pemanfaatan tanaman lokal seperti daun kelor, Lemna, kulit singkong, serta berbagai bahan baku nonkonvensional yang berpotensi menggantikan tepung ikan dan tepung kedelai. Penelitian-penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan formulasi pakan yang lebih ekonomis tanpa mengurangi performa pertumbuhan maupun kesehatan ikan budidaya.

Selain aktif melakukan penelitian, Dr. Senny juga berkontribusi dalam membimbing mahasiswa sarjana maupun pascasarjana, melaksanakan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, serta menjalin kolaborasi penelitian dengan berbagai institusi di dalam dan luar negeri. Rekam jejak publikasinya menunjukkan kontribusi yang konsisten dalam pengembangan ilmu nutrisi ikan, teknologi pakan, mikrobiologi akuakultur, hingga pemanfaatan serangga sebagai sumber protein alternatif bagi industri budidaya perikanan.

Berbagai inovasi yang dikembangkan juga memiliki relevansi yang tinggi terhadap tantangan akuakultur modern. Meningkatnya harga bahan baku pakan konvensional mendorong perlunya sumber protein alternatif yang lebih berkelanjutan. Melalui pendekatan ilmiah, Dr. Senny bersama tim peneliti terus mengeksplorasi berbagai sumber daya lokal yang mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pencapaian ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia akademik. Bertambahnya dosen pada jenjang Lektor diharapkan semakin memperkuat atmosfer akademik, memperluas jejaring penelitian, meningkatkan kualitas publikasi internasional, serta menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Departemen Perikanan UGM mengucapkan selamat kepada Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. atas capaian jabatan fungsional Lektor. Semoga pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya-karya ilmiah yang inovatif, memperkuat kolaborasi akademik, serta memberikan kontribusi yang semakin besar bagi pengembangan ilmu akuakultur dan kemajuan perikanan Indonesia.

Pencapaian ini juga mendukung komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kapasitas akademisi dan kualitas pendidikan tinggi, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan inovasi pakan dan teknologi budidaya, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan bahan baku alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan, serta SDG 14 (Life Below Water) dengan mendukung sistem akuakultur yang produktif, sehat, dan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan.

Guru Besar Departemen Perikanan UGM Dikukuhkan, Prof. Eko Setyobudi Tegaskan Pentingnya Data dalam Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan capaian akademik melalui pengukuhan Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. sebagai Guru Besar dalam bidang Biologi Perikanan dan Kelautan. Pengukuhan ini menjadi tonggak penting bagi Departemen Perikanan UGM dalam memperkuat kontribusi ilmu pengetahuan terhadap pengelolaan sumber daya perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Data sebagai Fondasi Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berkelanjutan”, Prof. Eko menegaskan bahwa pengambilan keputusan dalam sektor perikanan harus didasarkan pada data ilmiah yang akurat, berkelanjutan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, tantangan pengelolaan perikanan saat ini semakin kompleks akibat meningkatnya tekanan terhadap sumber daya ikan, perubahan iklim, serta tingginya kebutuhan pangan bagi masyarakat.

Prof. Eko menjelaskan bahwa ketersediaan data yang berkualitas merupakan prasyarat utama dalam menyusun kebijakan pengelolaan perikanan yang adaptif. Data mengenai stok ikan, dinamika populasi, kondisi habitat, hingga aktivitas penangkapan menjadi dasar penting dalam menentukan strategi pengelolaan yang mampu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan keberlanjutan ekosistem.

Sebagai akademisi yang menekuni bidang biologi perikanan dan kelautan, Prof. Eko juga menyoroti pentingnya integrasi berbagai sumber data, mulai dari hasil survei lapangan, pemantauan oseanografi, teknologi penginderaan jauh, hingga sistem informasi digital. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas analisis ilmiah sekaligus mendukung pengambilan kebijakan yang lebih cepat, tepat, dan berbasis bukti (evidence-based policy).

Bagi Departemen Perikanan UGM, pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian individu, tetapi juga memperkuat komitmen departemen dalam menghasilkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan sektor perikanan. Berbagai penelitian yang dikembangkan oleh sivitas akademika Departemen Perikanan UGM selama ini telah berkontribusi dalam penyediaan data ilmiah untuk pengelolaan perikanan, konservasi sumber daya akuatik, pengembangan akuakultur, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.

Keberadaan guru besar juga diharapkan semakin memperkuat atmosfer akademik di lingkungan Departemen Perikanan UGM melalui pengembangan riset multidisiplin, peningkatan kualitas publikasi internasional, serta kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan berbagai institusi akademik di tingkat nasional maupun global. Penguatan kapasitas keilmuan tersebut menjadi modal penting dalam mencetak lulusan yang mampu menjawab tantangan sektor perikanan di masa depan.

Momentum pengukuhan Prof. Eko Setyobudi sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan dosen muda untuk terus mengembangkan inovasi serta menghasilkan penelitian yang berdampak nyata bagi masyarakat. Departemen Perikanan UGM meyakini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan akan memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan tata kelola sumber daya perikanan yang lebih produktif, tangguh, dan berkelanjutan.

Pencapaian ini juga sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi dan pengembangan sumber daya manusia, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan riset dan inovasi berbasis data, SDG 14 (Life Below Water) dengan mendorong pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menghasilkan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.

Departemen Perikanan UGM Jajaki Peluang Kerja Sama Internasional Bersama Gyeongsang National University

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan delegasi dari Gyeongsang National University dalam rangka menjajaki peluang kerja sama akademik dan penelitian di bidang perikanan dan kelautan. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan produktif, menjadi langkah awal untuk memperkuat jejaring internasional serta mendorong kolaborasi yang saling menguntungkan bagi kedua institusi.

Diskusi difokuskan pada berbagai peluang kerja sama yang dapat dikembangkan di masa mendatang, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, kolaborasi penelitian, publikasi ilmiah bersama, hingga pengembangan program akademik yang mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi. Kedua institusi juga membahas potensi penyelenggaraan seminar bersama, kuliah tamu, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan akademik lintas negara.

Dalam pertemuan tersebut, Departemen Perikanan UGM memperkenalkan berbagai bidang unggulan yang dimiliki, meliputi pengelolaan sumber daya perikanan, akuakultur, oseanografi perikanan, teknologi hasil perikanan, konservasi ekosistem perairan, hingga kajian sosial-ekonomi dan kebijakan perikanan. Beragam aktivitas penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta jejaring kolaborasi nasional dan internasional yang telah berjalan juga menjadi bagian dari pembahasan.

Sementara itu, delegasi Gyeongsang National University memaparkan keunggulan institusinya dalam pengembangan ilmu kelautan dan perikanan serta menyampaikan ketertarikan untuk membangun kemitraan jangka panjang dengan Departemen Perikanan UGM. Kesamaan fokus penelitian dan tantangan yang dihadapi sektor perikanan di kawasan Asia menjadi landasan yang kuat untuk mengembangkan kolaborasi strategis di masa depan.

Melalui pertemuan ini, kedua belah pihak sepakat bahwa kerja sama internasional tidak hanya akan memperluas kesempatan penelitian dan publikasi, tetapi juga memberikan pengalaman akademik yang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi dan solusi ilmiah dalam menjawab berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya perairan, dan pembangunan perikanan berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM terus berkomitmen memperluas jejaring internasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kemitraan dengan berbagai universitas dunia diharapkan semakin memperkuat posisi Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan tinggi yang berdaya saing global dan berkontribusi nyata terhadap pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.

Kolaborasi ini juga sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan riset dan inovasi, SDG 14 (Life Below Water) dengan mendorong pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan internasional dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Departemen Perikanan UGM Sambut Kunjungan Edukasi SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3 Pangkalan Bun

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan edukasi dari siswa dan guru SMA Negeri 2 Pangkalan Bun dan SMA Negeri 3 Pangkalan Bun pada Kamis (25/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang 3.10 Departemen Perikanan UGM mulai pukul 14.00 WIB ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dunia pendidikan tinggi sekaligus membuka wawasan siswa mengenai prospek keilmuan dan karier di bidang perikanan.

Rombongan disambut hangat oleh dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Olivia Yofananda dan Dr. Sulistiowati, yang memperkenalkan profil Departemen Perikanan, bidang keilmuan, kegiatan akademik, fasilitas pembelajaran, hingga berbagai peluang pengembangan mahasiswa selama menempuh pendidikan di UGM.

Dalam sesi pemaparan, para peserta memperoleh gambaran mengenai ruang lingkup ilmu perikanan yang tidak hanya berfokus pada penangkapan ikan, tetapi juga mencakup pengelolaan sumber daya perairan, akuakultur, teknologi hasil perikanan, oseanografi perikanan, konservasi ekosistem perairan, hingga kebijakan dan pembangunan masyarakat pesisir. Para siswa juga dikenalkan pada berbagai kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi internasional yang dilakukan oleh sivitas akademika Departemen Perikanan UGM.

Suasana berlangsung interaktif ketika para siswa mengajukan berbagai pertanyaan mengenai proses seleksi masuk UGM, sistem perkuliahan, peluang beasiswa, hingga prospek lulusan di dunia kerja. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat generasi muda untuk mengenal lebih dekat bidang perikanan sebagai salah satu sektor strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan pembangunan maritim Indonesia.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM berharap para siswa memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kehidupan akademik di perguruan tinggi serta semakin termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kunjungan sekolah seperti ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi, foto bersama, dan pertukaran informasi mengenai berbagai program akademik yang tersedia di Departemen Perikanan UGM. Diharapkan kunjungan ini menjadi pengalaman berharga bagi para siswa dalam mempersiapkan pilihan studi dan karier di masa depan.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui perluasan akses informasi pendidikan tinggi yang berkualitas, SDG 14 (Life Below Water) dengan memperkenalkan pentingnya pengelolaan sumber daya perairan secara berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menyiapkan generasi muda yang berdaya saing dan berkontribusi bagi pembangunan Indonesia.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dampak Triple-Dip La Niña terhadap Zona Upwelling di Laut Maluku

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Fenomena perubahan iklim global tidak hanya memengaruhi kondisi cuaca di daratan, tetapi juga mengubah dinamika laut yang menjadi penopang produktivitas perikanan Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rolland Darrent Evaro, melakukan penelitian berjudul “Dampak Triple-Dip La Niña 2020–2023 terhadap Zona Upwelling di Laut Maluku” di bawah bimbingan Dr. rer. nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc.

Penelitian ini mengkaji bagaimana fenomena triple-dip La Niña yang berlangsung selama tiga tahun berturut-turut (2020–2023) memengaruhi dinamika oseanografi di Laut Maluku. Sebagai salah satu wilayah perairan penting di Indonesia Timur, Laut Maluku dikenal memiliki produktivitas perikanan yang sangat dipengaruhi oleh proses upwelling, yaitu naiknya massa air dingin yang kaya unsur hara dari lapisan laut dalam menuju permukaan. Proses alami ini menjadi fondasi tingginya produktivitas fitoplankton yang kemudian menopang rantai makanan hingga sumber daya ikan.

Melalui analisis data oseanografi berbasis satelit, penelitian mengevaluasi perubahan kecepatan angin, suhu permukaan laut (SPL), konsentrasi klorofil-a, dan Sea Level Anomaly (SLA) selama periode terjadinya triple-dip La Niña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara klimatologis, puncak Monsun Tenggara terjadi pada bulan Agustus, ketika proses upwelling berkembang paling kuat di Laut Maluku. Sebaliknya, pada periode Monsun Barat, khususnya Desember hingga Februari, wilayah tersebut didominasi oleh proses downwelling, yaitu tenggelamnya massa air permukaan yang menyebabkan berkurangnya pasokan nutrien ke lapisan atas laut.

Temuan yang paling menarik dari penelitian ini adalah bahwa fenomena triple-dip La Niña justru menyebabkan melemahnya intensitas upwelling selama musim Monsun Tenggara. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh meningkatnya anomali suhu permukaan laut dan tinggi muka laut, yang disertai dengan penurunan kecepatan angin serta menurunnya konsentrasi klorofil-a. Dengan kata lain, meskipun La Niña sering dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di Indonesia, dampaknya terhadap dinamika laut tidak selalu meningkatkan produktivitas perairan. Pada kasus Laut Maluku, fenomena iklim ini justru mengurangi kekuatan mekanisme alami yang selama ini menjadi penunjang kesuburan perairan.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa perubahan iklim global dapat memengaruhi proses-proses oseanografi yang menjadi dasar produktivitas perikanan. Melemahnya upwelling berpotensi mengurangi ketersediaan nutrien di perairan permukaan, sehingga dalam jangka panjang dapat memengaruhi kelimpahan plankton, distribusi ikan pelagis, hingga hasil tangkapan nelayan. Oleh karena itu, pemantauan kondisi oseanografi menjadi semakin penting sebagai bagian dari sistem pengelolaan sumber daya perikanan yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Menurut Dr. rer. nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., penelitian mengenai hubungan antara variabilitas iklim global dan dinamika oseanografi sangat penting untuk memperkuat pengelolaan perikanan berbasis sains. Informasi mengenai perubahan pola upwelling dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam penyusunan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, termasuk dalam perencanaan musim penangkapan ikan dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Melalui penelitian ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan kontribusinya dalam menghasilkan riset yang mendukung pengembangan ilmu oseanografi perikanan sekaligus menjawab tantangan pengelolaan sumber daya laut di era perubahan iklim. Hasil penelitian diharapkan menjadi referensi ilmiah bagi pemerintah, peneliti, maupun pengelola perikanan dalam menyusun kebijakan yang lebih adaptif terhadap variabilitas iklim di wilayah perairan Indonesia.

Penelitian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Climate Action) melalui peningkatan pemahaman mengenai dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut, serta SDG 14 (Life Below Water) dengan menyediakan dasar ilmiah bagi pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Selain itu, hasil penelitian turut berkontribusi pada SDG 2 (Zero Hunger) melalui dukungan terhadap keberlanjutan produksi perikanan sebagai sumber pangan, dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) dengan memperkuat pemanfaatan data satelit dan ilmu pengetahuan sebagai landasan pengambilan kebijakan berbasis bukti untuk menjaga ketahanan sumber daya perikanan Indonesia.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Kerentanan Pendapatan Nelayan Jaring Hela Dasar di Tegal, Soroti Pentingnya Penguatan Kelembagaan Lokal

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Ketidakpastian pendapatan masih menjadi tantangan utama yang dihadapi nelayan skala kecil di Indonesia. Di balik besarnya hasil tangkapan pada musim tertentu, banyak nelayan harus menghadapi tekanan ekonomi yang tinggi ketika memasuki musim paceklik. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Muchammad Abdul Ghony An Nabalasiy, melakukan penelitian berjudul “Analisis Pendapatan Nelayan Jaring Hela Dasar di Desa Purwahamba, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal” di bawah bimbingan Candra Aryudiawan, S.Pi., M.Sc.

Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur dan besaran pendapatan nelayan jaring hela dasar (jaring arad), sekaligus mengidentifikasi berbagai permasalahan mendasar yang memengaruhi keberlanjutan usaha mereka serta merumuskan strategi pengembangan yang lebih adaptif. Lokasi penelitian dipilih di Desa Purwahamba, Kabupaten Tegal, yang dikenal sebagai salah satu sentra perikanan tangkap skala kecil di pesisir utara Pulau Jawa.

Menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif, penelitian dilakukan melalui metode sensus terhadap 33 nelayan aktif yang menjalankan sistem one-day fishing. Analisis pendapatan mengacu pada kerangka Panayotou (1985), sedangkan identifikasi akar permasalahan menggunakan pendekatan Root Cause Analysis (RCA). Pendekatan tersebut memungkinkan penelitian tidak hanya menggambarkan kondisi ekonomi nelayan, tetapi juga menjelaskan faktor-faktor kelembagaan yang memengaruhi keberlangsungan usaha perikanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total penerimaan nelayan mencapai Rp156,46 juta per tahun, dengan keuntungan bersih sekitar Rp87,81 juta per tahun. Namun demikian, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan tingkat kesejahteraan nelayan karena terdapat fluktuasi pendapatan yang sangat tajam antara musim panen dan musim paceklik. Kondisi ini menyebabkan nelayan tetap berada dalam siklus kerentanan ekonomi meskipun secara tahunan masih memperoleh keuntungan.

Penelitian juga menemukan bahwa biaya operasional didominasi oleh biaya variabel yang mencapai hampir 90 persen dari total biaya produksi. Ketergantungan yang tinggi terhadap solar bersubsidi menjadikan keberlangsungan usaha nelayan sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan energi maupun distribusi bahan bakar.

Melalui analisis akar masalah, penelitian berhasil mengidentifikasi empat persoalan utama yang dihadapi nelayan. Pertama, tingginya ketergantungan terhadap plele sebagai perantara pemasaran yang diperkuat dengan menurunnya fungsi Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Kedua, terbatasnya akses terhadap pembiayaan formal sehingga banyak nelayan terjebak dalam siklus utang berbasis hubungan patron-klien. Ketiga, pendangkalan muara yang menghambat aktivitas keluar masuk kapal dan meningkatkan biaya operasional. Keempat, rendahnya efektivitas berbagai program pemerintah yang belum diikuti oleh penguatan peran Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai kelembagaan ekonomi nelayan.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan sejumlah strategi pengembangan, antara lain memperkuat kelembagaan lokal nelayan, memperluas alternatif saluran pemasaran agar tidak bergantung pada satu aktor, mengembangkan skema pembiayaan berbasis tanggung renteng, mendorong advokasi pembangunan infrastruktur tambat kapal secara kolektif, serta memformalkan kesepakatan lokal antarnelayan untuk mengurangi ketergantungan struktural dalam hubungan patron-klien. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat daya tahan nelayan terhadap berbagai tekanan sosial maupun ekonomi.

Menurut Candra Aryudiawan, S.Pi., M.Sc., penelitian mengenai dinamika pendapatan nelayan skala kecil menjadi sangat penting karena persoalan kesejahteraan nelayan tidak dapat dinilai hanya dari besarnya keuntungan tahunan. Fluktuasi pendapatan musiman, akses terhadap pasar, kelembagaan, dan dukungan kebijakan menjadi faktor yang saling berkaitan dalam menentukan ketahanan ekonomi rumah tangga nelayan. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan perikanan perlu mempertimbangkan dimensi sosial, ekonomi, dan kelembagaan secara terpadu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan nelayan tidak cukup dilakukan melalui peningkatan produksi semata, tetapi juga memerlukan reformasi tata kelola kelembagaan dan kebijakan yang mampu mengurangi kerentanan ekonomi masyarakat pesisir. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan dalam menyusun program pemberdayaan nelayan skala kecil yang lebih efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian SDG 1 (No Poverty) melalui upaya pengurangan kerentanan ekonomi nelayan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong terciptanya usaha perikanan yang lebih produktif dan layak, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui penguatan akses terhadap pembiayaan, pasar, dan kelembagaan bagi nelayan skala kecil, serta SDG 14 (Life Below Water) yang menekankan pentingnya tata kelola perikanan yang berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat pesisir. Melalui penelitian-penelitian aplikatif seperti ini, Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada terus berupaya menghasilkan rekomendasi ilmiah yang mampu menjawab tantangan nyata pembangunan perikanan Indonesia sekaligus mendukung terwujudnya kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Teliti Perubahan Sosial Ekonomi Nelayan Pukat Cincin Dua Kapal di PPN Prigi

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Perubahan yang terjadi dalam sektor perikanan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi sumber daya ikan, tetapi juga oleh dinamika sosial dan ekonomi masyarakat nelayan. Berangkat dari isu tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prasasti Rektaning Soebekti, melaksanakan penelitian berjudul “Perubahan Sosial Ekonomi Nelayan Pukat Cincin Dua Kapal di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek” di bawah bimbingan Ir. Hery Saksono, M.A.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan usaha perikanan pukat cincin dua kapal (two-boat purse seine) di kawasan Prigi sekaligus menganalisis perubahan sosial ekonomi yang dialami oleh masyarakat nelayan di Desa Tasikmadu. Kawasan ini dipilih karena berada di sekitar Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, salah satu pusat aktivitas perikanan tangkap terbesar di Provinsi Jawa Timur yang memiliki peran strategis dalam perekonomian pesisir.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode sensus terhadap seluruh pemilik armada pukat cincin dua kapal yang berdomisili di Desa Tasikmadu. Sebanyak 32 nelayan menjadi responden penelitian sehingga mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ketenagakerjaan pada armada pukat cincin dua kapal di Desa Tasikmadu masih mempertahankan mekanisme tradisional berupa sistem upah esekan dan bagi hasil. Sistem esekan merupakan praktik unik yang telah lama berkembang di kalangan nelayan Prigi, di mana sebagian hasil tangkapan diambil secara langsung menggunakan kantong plastik (esek) segera setelah kapal bersandar. Praktik ini menjadi salah satu bentuk kompensasi bagi awak kapal sebelum hasil tangkapan dipasarkan.

Di sisi lain, penelitian juga mengungkap bahwa perubahan ekonomi semakin dirasakan oleh masyarakat nelayan, terutama akibat meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi komponen biaya operasional terbesar dalam usaha penangkapan ikan. Kondisi tersebut diperparah oleh distribusi subsidi BBM yang belum merata sehingga menimbulkan beban ekonomi yang berbeda antar pelaku usaha perikanan.

Selain tantangan ekonomi, penelitian ini menemukan adanya kesenjangan sosial ekonomi di antara nelayan. Perbedaan kemampuan modal, akses terhadap subsidi, serta kapasitas kepemilikan armada turut memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir. Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan sektor perikanan tidak hanya membutuhkan peningkatan produktivitas, tetapi juga kebijakan yang mampu menjamin pemerataan akses dan kesejahteraan bagi seluruh kelompok nelayan.

Menurut dosen pembimbing, Ir. Hery Saksono, M.A., penelitian-penelitian sosial ekonomi seperti ini memiliki peran penting dalam menyediakan dasar ilmiah bagi penyusunan kebijakan pembangunan perikanan yang lebih inklusif. Pemahaman mengenai dinamika kehidupan nelayan di tingkat lokal diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merancang program subsidi, perlindungan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir secara lebih tepat sasaran.

Melalui penelitian ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan riset yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan perikanan berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan Indonesia.

Penelitian ini juga sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) melalui upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong terciptanya sistem ekonomi perikanan yang lebih adil dan berkelanjutan, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui perhatian terhadap kesenjangan sosial ekonomi antar pelaku perikanan, serta SDG 14 (Life Below Water) yang menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Melalui riset-riset yang berorientasi pada penyelesaian permasalahan nyata di masyarakat, Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada terus berkontribusi dalam menghasilkan rekomendasi berbasis ilmiah yang mendukung pembangunan sektor perikanan Indonesia yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Belajar dari Pemuteran Bali, Prof. Suadi Dalami Inovasi Biorock untuk Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Berita Senin, 22 Juni 2026

Buleleng – Guru Besar Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Suadi, M.Agr.Sc., Ph.D., melakukan kunjungan pembelajaran ke kawasan konservasi terumbu karang Biorock di Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempelajari secara langsung salah satu model konservasi pesisir berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat yang telah mendapatkan pengakuan internasional.

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Suadi berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan Tasya Karissa, Co-Founder dan Executive Director Biorock Indonesia, yang selama lebih dari dua dekade mengembangkan berbagai inisiatif restorasi terumbu karang dan pemberdayaan masyarakat pesisir di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Biorock Indonesia berhasil menjadikan Desa Pemuteran sebagai salah satu contoh sukses konservasi laut berbasis masyarakat yang diakui secara internasional. Melalui pendekatan yang menggabungkan inovasi teknologi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, program tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap pemulihan ekosistem terumbu karang sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Yang paling menarik dari Pemuteran bukan hanya teknologinya, tetapi bagaimana konservasi mampu menjadi gerakan sosial yang mengubah wajah desa. Ketika masyarakat dilibatkan dan merasakan manfaatnya secara langsung, konservasi tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi investasi masa depan,” ujar Prof. Suadi.

Teknologi Biorock sendiri merupakan metode restorasi terumbu karang yang memanfaatkan arus listrik bertegangan rendah yang dialirkan ke struktur logam di bawah laut. Proses tersebut memungkinkan mineral alami dalam air laut mengendap dan membentuk lapisan yang mendukung pertumbuhan karang secara lebih cepat dan tahan terhadap berbagai tekanan lingkungan. Teknologi ini telah digunakan di Pemuteran sejak tahun 2000 dan berkembang menjadi salah satu proyek restorasi terumbu karang terbesar di dunia.

Selain memberikan dampak ekologis melalui pemulihan ekosistem terumbu karang, proyek Biorock di Pemuteran juga berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pengembangan wisata bahari, peningkatan kunjungan wisatawan, serta tumbuhnya berbagai usaha masyarakat berbasis lingkungan. Transformasi tersebut menjadikan Pemuteran sebagai contoh nyata bagaimana konservasi dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi masyarakat pesisir.

Prof. Suadi menilai pendekatan yang diterapkan di Pemuteran sangat relevan dengan berbagai tantangan pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia. Menurutnya, keberhasilan konservasi memerlukan integrasi antara aspek ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan masyarakat. Oleh karena itu, pengalaman dari Pemuteran dapat menjadi referensi penting dalam pengembangan berbagai program pengabdian masyarakat, riset, maupun pendidikan di lingkungan Departemen Perikanan UGM.

Kunjungan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat wawasan mengenai model-model pengelolaan sumber daya pesisir yang berhasil di tingkat global. Sebagai akademisi yang selama ini banyak berkecimpung dalam bidang pembangunan masyarakat pesisir dan tata kelola perikanan, Prof. Suadi menegaskan pentingnya membangun pendekatan konservasi yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

“Pemuteran menunjukkan bahwa ketika teknologi, masyarakat, dan komitmen bersama bertemu dalam satu tujuan, dampaknya bisa sangat luar biasa. Ini menjadi inspirasi penting bagi pengembangan kawasan pesisir di berbagai daerah Indonesia,” tambahnya.

Departemen Perikanan UGM berharap pengalaman dan pembelajaran dari Pemuteran dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi konservasi yang tidak hanya menjaga keberlanjutan ekosistem laut, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang nyata bagi masyarakat pesisir.

Kegiatan pembelajaran dan pertukaran pengalaman ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 14: Life Below Water melalui penguatan praktik restorasi terumbu karang dan pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan. Selain itu, keberhasilan model Biorock dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth, sementara pendekatan kolaboratif antara masyarakat, akademisi, pemerintah, dan organisasi konservasi mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals. Penguatan edukasi dan transfer pengetahuan mengenai konservasi pesisir juga berkontribusi terhadap SDG 4: Quality Education.

123…18
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY