• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
Arsip:

SDG 14: Ekosistem Lautan

Refleksi Idul Adha: Semangat Pengorbanan dan Kepedulian dalam Membangun Masa Depan Perikanan Berkelanjutan

Berita Jumat, 29 Mei 2026

Yogyakarta — Hari Raya Idul adha tidak hanya menjadi momentum ibadah dan perayaan keagamaan, tetapi juga ruang refleksi mengenai makna pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, semangat Idul adha menjadi pengingat penting bahwa pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan juga memerlukan dedikasi, kerja keras, dan pengorbanan bersama.

Makna pengorbanan dalam Idul adha tercermin dari keteladanan Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan kepatuhan, ketulusan, dan kesediaan menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi. Nilai tersebut relevan dengan dunia pendidikan dan pengembangan perikanan saat ini, di mana kemajuan ilmu pengetahuan, keberlanjutan sumber daya, dan kesejahteraan masyarakat pesisir tidak dapat dicapai secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan komitmen bersama.

Dalam konteks Departemen Perikanan, semangat pengorbanan dapat dimaknai melalui berbagai bentuk kontribusi. Dosen dan peneliti terus berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan serta inovasi untuk mendukung pengelolaan sumber daya perairan yang lebih baik. Mahasiswa belajar dan berproses untuk menjadi generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan. Sementara tenaga kependidikan turut menjaga ekosistem akademik agar tetap berjalan dengan baik.

Iduladha juga mengajarkan pentingnya berbagi dan memperkuat solidaritas sosial. Nilai tersebut sangat dekat dengan kehidupan masyarakat perikanan yang selama ini hidup berdampingan dengan budaya gotong royong dan kerja kolektif. Dalam banyak komunitas pesisir, keberhasilan tidak lahir dari kerja individu semata, tetapi dari kemampuan saling mendukung dan menjaga keberlanjutan bersama.

Selain itu, pengorbanan dalam sektor perikanan juga dapat dimaknai sebagai keberanian untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan keberlanjutannya. Upaya menjaga laut, sungai, pesisir, dan ekosistem perairan membutuhkan kesadaran untuk tidak hanya mengambil manfaat hari ini, tetapi juga memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati sumber daya yang sama.

Momentum Idul adha menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan pendidikan sejatinya harus memberi manfaat luas bagi masyarakat. Semangat berbagi, kepedulian, dan pengabdian menjadi bagian penting dalam perjalanan membangun sektor perikanan Indonesia yang lebih adil, tangguh, dan berkelanjutan.

Keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengucapkan Selamat Hari Raya Idul adha 1447 H. Semoga semangat pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian senantiasa menjadi inspirasi dalam berkarya, belajar, dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat serta masa depan sumber daya perikanan Indonesia.

Refleksi ini juga sejalan dengan nilai-nilai Sustainable Development Goals terutama tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan nilai kepedulian, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial dalam dunia pendidikan dan pengelolaan sumber daya perairan.

Dedikasi Panjang untuk Ilmu Perikanan: Prof. Ustadi Raih Kenaikan Pangkat Menjadi Pembina Utama Muda

Berita Jumat, 29 Mei 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Salah satu guru besar terbaiknya, Prof. Dr. Ustadi, S.Pi., M.P., resmi memperoleh kenaikan pangkat dari Pembina Tingkat I menjadi Pembina Utama Muda, sebuah capaian yang mencerminkan dedikasi panjang beliau dalam dunia pendidikan tinggi, penelitian, dan pengembangan ilmu perikanan di Indonesia.

Kenaikan pangkat ini bukan sekadar peningkatan jenjang administratif, tetapi menjadi bentuk penghargaan atas konsistensi kontribusi akademik, pengembangan keilmuan, serta pengabdian yang telah diberikan Prof. Ustadi selama bertahun-tahun di lingkungan Universitas Gadjah Mada maupun dalam pengembangan sektor perikanan nasional.

Di lingkungan Departemen Perikanan UGM, nama Prof. Ustadi dikenal luas sebagai akademisi yang memiliki perhatian besar pada bidang teknologi hasil perikanan, khususnya pengembangan mutu, keamanan pangan, dan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan. Melalui berbagai penelitian dan aktivitas akademik, beliau aktif mendorong penguatan inovasi produk hasil perikanan yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki daya saing dan manfaat bagi masyarakat.

Sebagai seorang profesor, Prof. Ustadi juga dikenal memiliki komitmen tinggi dalam mendampingi mahasiswa dan generasi muda akademik. Banyak mahasiswa yang mengenal beliau sebagai sosok dosen yang teliti, disiplin, namun tetap terbuka dalam berdiskusi dan membimbing pengembangan gagasan ilmiah.

Perjalanan akademik Prof. Ustadi menjadi gambaran bahwa capaian besar dalam dunia pendidikan tidak lahir secara instan. Konsistensi dalam mengajar, meneliti, menulis karya ilmiah, serta membangun jejaring kolaborasi menjadi fondasi penting yang mengantarkan beliau hingga pada capaian saat ini.

Dalam berbagai kesempatan, Prof. Ustadi juga aktif terlibat dalam kegiatan seminar, pengembangan riset, serta pengabdian kepada masyarakat yang berkaitan dengan pengolahan dan keamanan produk perikanan. Kontribusinya turut memperkuat posisi Departemen Perikanan UGM sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu perikanan di Indonesia.

Kenaikan pangkat menjadi Pembina Utama Muda ini sekaligus menjadi inspirasi bagi sivitas akademika bahwa dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan akan selalu memberikan dampak besar, tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Keluarga besar Departemen Perikanan UGM menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Prof. Ustadi atas capaian tersebut. Semoga amanah baru ini semakin memperkuat kontribusi beliau dalam pengembangan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi sektor perikanan Indonesia.

Pencapaian ini juga sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan tujuan ke-14 (Life Below Water) melalui penguatan pendidikan, riset, dan inovasi berkelanjutan di bidang perikanan dan kelautan.

Mahasiswa Akuakultur UGM Temukan Bakteriofag dari Tambak Kulon Progo, Berpotensi Jadi Senjata Alami Lawan Penyakit Udang Vaname

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Di tengah meningkatnya tantangan penyakit bakterial pada budidaya udang vaname, inovasi pengendalian penyakit yang ramah lingkungan menjadi semakin dibutuhkan. Kabar menggembirakan datang dari mahasiswa Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Lu’lu’ Putri El Maslifah, mahasiswa angkatan 2022, berhasil mengisolasi bakteriofag dari lingkungan tambak udang di Kabupaten Kulon Progo yang berpotensi dimanfaatkan sebagai agen pengendali alami penyakit bakterial pada budidaya udang vaname.

Penelitian yang dilakukan Lu’lu’ berangkat dari persoalan nyata di sektor akuakultur, yaitu tingginya ancaman penyakit vibriosis yang disebabkan bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan kerugian besar dalam industri budidaya udang karena memengaruhi kesehatan, pertumbuhan, hingga tingkat kelangsungan hidup udang.

Penelitian tersebut berhasil mengisolasi dan mengarakterisasi bakteri patogen serta bakteriofag dari lingkungan tambak budidaya udang vaname (Penaeus vannamei), termasuk identifikasi Vibrio parahaemolyticus yang membawa gen terkait patogenisitas penyakit udang. Selain itu, berhasil ditemukan bakteriofag litik yang mampu menginfeksi dan menghancurkan bakteri target, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen biokontrol alami untuk mendukung pengendalian penyakit pada budidaya udang.

Penelitian ini dibimbing oleh Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen Departemen Perikanan UGM yang aktif mengembangkan penelitian pada bidang kesehatan ikan dan akuakultur. Di bawah pendampingannya, mahasiswa didorong untuk mengembangkan pendekatan inovatif dalam menghadapi tantangan penyakit akuatik melalui solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Pemanfaatan bakteriofag saat ini semakin banyak mendapat perhatian karena dinilai sebagai alternatif pengendalian penyakit yang lebih spesifik dan berkelanjutan dibanding penggunaan antibiotik secara berlebihan. Pendekatan ini dinilai berpotensi mengurangi risiko resistensi antimikroba serta mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Bagi Lu’lu’, penelitian tersebut bukan hanya menjadi pengalaman akademik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana penelitian mahasiswa dapat berkontribusi terhadap persoalan nyata di sektor perikanan nasional. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan tambak lokal tidak hanya menjadi tempat produksi budidaya, tetapi juga menyimpan potensi sumber daya biologis yang dapat dikembangkan menjadi inovasi masa depan bagi kesehatan udang Indonesia. Penelitian ini mendukung agenda Sustainable Development Goals terutama SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan inovasi pengendalian penyakit yang lebih berkelanjutan di sektor akuakultur.

Limbah Jadi Peluang: SinnTech Webinar #37 UGM Soroti Masa Depan Blue Bioeconomy dari Sektor Perikanan

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Di tengah meningkatnya tantangan lingkungan dan tuntutan industri yang lebih berkelanjutan, konsep blue bioeconomy mulai menjadi perhatian dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan. Melalui SinnTech Webinar #37 yang diselenggarakan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, salah satu sesi menarik disampaikan oleh Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si. melalui materi bertajuk “The Blue Bioeconomy: Bioconverting Fisheries Waste into High-Value Commodities.”

Dalam paparannya, Dr. Latif mengajak peserta melihat limbah perikanan dari perspektif berbeda. Selama ini, limbah hasil perikanan kerap dipandang sebagai sisa produksi yang menimbulkan persoalan lingkungan. Namun melalui pendekatan blue bioeconomy, limbah justru dapat menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Konsep bioekonomi biru menempatkan sumber daya perairan sebagai bagian dari sistem yang saling terhubung, di mana hasil samping dan limbah industri tidak berhenti sebagai produk buangan, tetapi dapat dikonversi menjadi berbagai produk bernilai tambah. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang menekankan efisiensi penggunaan sumber daya dan minimisasi limbah.

Dalam sesi webinar tersebut, Dr. Latif menyoroti pentingnya inovasi biokonversi limbah perikanan, yaitu proses mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi baru. Limbah hasil pengolahan ikan dapat dimanfaatkan menjadi berbagai komoditas seperti bahan baku pakan, produk bioaktif, pupuk organik, kolagen, gelatin, hingga produk industri lainnya.

Menurutnya, sektor perikanan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan pendekatan ini mengingat tingginya produksi hasil perikanan nasional yang juga menghasilkan volume limbah cukup besar. Apabila dikelola secara tepat, limbah tersebut dapat menjadi sumber ekonomi baru sekaligus mengurangi tekanan lingkungan.

Materi yang disampaikan juga memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah modern tidak lagi hanya berbicara tentang pembuangan akhir, tetapi tentang bagaimana mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya melalui inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain aktif sebagai dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Latif memiliki pengalaman panjang dalam bidang pengelolaan dan pemanfaatan limbah industri perikanan. Beliau mengampu berbagai mata kuliah seperti Manajemen Limbah Industri Perikanan, Teknologi Pemanfaatan Limbah Perikanan, hingga Biokonversi dan Bioekonomi Limbah Perikanan.

Pengalaman tersebut memperkuat pesan bahwa pengembangan bioekonomi biru membutuhkan kolaborasi lintas bidang, mulai dari riset, teknologi, industri, hingga pendidikan tinggi.

SinnTech Webinar #37 menjadi ruang penting untuk mempertemukan mahasiswa, akademisi, peneliti, dan praktisi dalam mendiskusikan masa depan industri perikanan yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pengelolaan sumber daya yang semakin kompleks, gagasan tentang mengubah limbah menjadi peluang menjadi salah satu langkah strategis menuju masa depan perikanan Indonesia.

Kegiatan ini mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-12 (Responsible Consumption and Production), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan inovasi ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

 

SinnTech Webinar #37 UGM Angkat Ekonomi Sirkular: Dari Rumput Laut hingga Limbah Perikanan Bernilai Tinggi

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Isu pengelolaan limbah industri kini tidak lagi dipandang sekadar persoalan akhir produksi, melainkan peluang untuk menciptakan inovasi dan nilai tambah yang berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan SinnTech Webinar #37 dengan tema “Industrial Waste Management in the Circular Economy: A Marine and Fisheries Perspective.” Webinar ini akan diselenggarakan pada Selasa, 26 Mei 2026 pukul 13.00–15.30 WIB dan menjadi ruang diskusi mengenai transformasi limbah sektor kelautan dan perikanan menuju sistem ekonomi sirkular.

Melalui tema tersebut, SinnTech #37 mengangkat perspektif bahwa limbah perikanan dan sumber daya laut tidak lagi dipandang sebagai produk sisa, tetapi dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai tinggi yang mendukung keberlanjutan industri perikanan masa depan.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki kepakaran di bidang pemanfaatan sumber daya perairan dan bioekonomi biru. Narasumber pertama, Prof. Dr. Ir. Nurjanah, M.S., akan membawakan materi bertajuk “Innovation and Utilization of Indonesian Seaweed as Food and Non-Food Raw Materials.” Dalam paparannya, Prof. Nurjanah menyoroti besarnya potensi rumput laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga untuk berbagai produk nonpangan dan inovasi industri. Sejumlah inovasi bahkan telah dikembangkan menjadi produk berbasis kekayaan hayati laut serta menghasilkan berbagai pengembangan teknologi terapan.

Menariknya, berbagai inovasi yang dikembangkan juga mengarah pada pemanfaatan residu rumput laut menjadi produk turunan seperti pupuk berbasis biomassa laut. Beberapa inovasi tersebut telah didorong menuju perlindungan kekayaan intelektual, menunjukkan bahwa limbah hasil pengolahan sumber daya laut dapat diubah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si., akan membahas tema “The Blue Bioeconomy: Bioconverting Fisheries Waste into High-Value Commodities.” Materi ini mengajak peserta melihat bagaimana limbah hasil perikanan dapat dikonversi melalui pendekatan bioekonomi biru menjadi berbagai produk bernilai tambah, sekaligus mengurangi tekanan lingkungan akibat akumulasi limbah industri.

Kehadiran kedua narasumber tersebut memperkuat semangat SinnTech sebagai ruang berbagi ilmu yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, praktisi, hingga masyarakat umum dalam membahas isu-isu strategis perikanan dan kelautan.

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap keberlanjutan, webinar ini menjadi pengingat bahwa masa depan industri perikanan tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh kemampuan memanfaatkan sumber daya secara efisien dan bertanggung jawab.

Melalui SinnTech Webinar #37, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong inovasi dan diseminasi ilmu pengetahuan yang relevan dengan tantangan sektor perikanan modern.

Kegiatan ini juga mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-12 (Responsible Consumption and Production), tujuan ke-14 (Life Below Water), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan inovasi dan kolaborasi menuju ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Lawan Ancaman Penyakit Nila Terkini, Mahasiswa Akuakultur UGM Terlibat Pengembangan Strain Unggul Bersama DKP DIY

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta-Di balik upaya meningkatkan produksi perikanan budidaya, tantangan penyakit ikan masih menjadi persoalan serius yang dapat memengaruhi produktivitas dan keberlanjutan sektor akuakultur. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada turut mengambil peran dalam program pengembangan strain nila unggul Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan ikan nila unggul yang tidak hanya memiliki pertumbuhan yang baik, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap ancaman penyakit yang saat ini menjadi perhatian dalam budidaya ikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Fokus penelitian diarahkan pada uji ketahanan terhadap infeksi bakteri Aeromonas jandaei, patogen yang belakangan menjadi perhatian karena ditemukan pada kasus penyakit ikan nila terkini di DIY.

Yang menarik, program ini juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam terlibat pada riset berbasis permasalahan nyata di lapangan. Dua mahasiswa Akuakultur UGM yang terlibat aktif dalam kegiatan ini yaitu Nabil Ghifari Abdillah (angkatan 2022) dan Widi Nuraini (angkatan 2023). Keterlibatan mereka menjadi bukti bahwa mahasiswa sejak dini didorong untuk berkontribusi dalam penelitian aplikatif yang memiliki dampak nyata terhadap sektor perikanan. Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis laboratorium, tetapi juga belajar memahami pendekatan ilmiah untuk mengatasi permasalahan nyata di lapangan

Program kolaboratif ini  diimplementasi di Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB), Dinas Kelautan dan Perikanan, Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikoordinasi oleh dua staf BPTPB , yaitu  Pristia Yunik Praninda, S.Pi., M.Si. dan Iin Indriyani, S.K.H. dan disupervisi oleh satu dosen UGM, yaitu Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., yang aktif mengembangkan riset bidang mikrobiologi akuakultur.

Kasus penyakit pada ikan nila dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dinamika patogen di lapangan terus berkembang, ditandai dengan munculnya varian maupun agen penyakit baru yang berpotensi menurunkan produktivitas budidaya. Kondisi ini menegaskan bahwa pengembangan strain unggul ikan nila tidak dapat dilakukan secara statis, melainkan perlu dievaluasi dan diperbarui secara berkala melalui pendekatan berbasis sains, termasuk pemuliaan adaptif terhadap tekanan penyakit dan perubahan lingkungan budidaya, guna menjaga keberlanjutan dan ketahanan produksi akuakultur modern.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah ini menunjukkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menghadirkan solusi nyata bagi sektor perikanan. Tidak hanya menghasilkan data penelitian yang relevan dengan masalah dilapangan, program ini juga menjadi wahana pembentukan generasi muda perikanan yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan akuakultur Indonesia.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi riset dan inovasi sektor perikanan berkelanjutan.

Sambut UM UGM 2026, Departemen Perikanan Siapkan Generasi Pemimpin Masa Depan Sektor Perikanan Indonesia

Berita Senin, 25 Mei 2026

Yogyakarta — Momentum penerimaan mahasiswa baru melalui Ujian Mandiri (UM) UGM 2-8 Juni 2026 menjadi lebih dari sekadar proses seleksi masuk perguruan tinggi. Bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, kehadiran calon mahasiswa baru merupakan langkah awal dalam menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi pemimpin di sektor perikanan Indonesia.

Departemen Perikanan UGM menyambut pelaksanaan UM UGM 2026 dengan semangat membangun ruang belajar yang melahirkan sumber daya manusia berkualitas, adaptif, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya perairan. Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan, Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta muda yang siap menjadi penggerak perubahan.

Perikanan saat ini bukan lagi sekadar berbicara mengenai menangkap ikan atau kegiatan budidaya semata. Dunia perikanan telah berkembang menjadi bidang multidisiplin yang menggabungkan sains, teknologi, ekonomi, sosial, lingkungan, hingga kebijakan publik. Karena itu, Departemen Perikanan UGM berkomitmen membentuk lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, keterampilan lapangan, kapasitas riset, serta jiwa kepemimpinan yang kuat.

Melalui berbagai program studi yang dimiliki, mahasiswa dibekali pengalaman belajar yang luas mulai dari kegiatan praktikum, riset, magang industri, program internasional, pengabdian masyarakat, hingga keterlibatan dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menjadi inovator, peneliti, akademisi, pengambil kebijakan, maupun wirausahawan sektor perikanan.

Departemen Perikanan UGM percaya bahwa pemimpin masa depan sektor perikanan lahir dari individu yang memiliki kemampuan ilmu pengetahuan sekaligus kepekaan sosial. Laut, pesisir, dan sumber daya perikanan Indonesia membutuhkan generasi yang mampu melihat tantangan bukan sebagai hambatan, tetapi peluang untuk menghadirkan solusi.

Penerimaan mahasiswa baru melalui UM UGM menjadi pintu masuk bagi calon-calon talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk tumbuh dan berkembang bersama lingkungan akademik yang kolaboratif dan dinamis. Selamat berjuang kepada seluruh peserta UM UGM 2026. Semoga perjalanan ini menjadi langkah awal untuk menorehkan kontribusi nyata bagi masa depan perikanan Indonesia.

Semangat ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan pendidikan tinggi yang menghasilkan generasi unggul dan berdampak bagi masyarakat.

Dari Satelit ke Tambak: Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dinamika Tambak Rembang dan Jejak Perubahan Iklim di Pesisir Jawa

Berita Senin, 25 Mei 2026

Yogyakarta — Perubahan iklim global ternyata tidak hanya dirasakan melalui peningkatan suhu atau perubahan musim. Di wilayah pesisir, dampaknya juga dapat terlihat dari perubahan pola penggunaan lahan yang memengaruhi aktivitas masyarakat. Hal inilah yang menjadi fokus penelitian skripsi Fauziah Dian Anindya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, melalui kajian berjudul “Dinamika Luas Penggunaan Lahan Tambak di Wilayah Pesisir Kabupaten Rembang Periode 2017–2025.”

Penelitian tersebut mengangkat isu menarik mengenai bagaimana lahan tambak di kawasan pesisir Kabupaten Rembang mengalami perubahan dari waktu ke waktu akibat kombinasi faktor lingkungan, iklim, hingga aktivitas manusia. Dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui citra Sentinel-2 dan analisis menggunakan Google Earth Engine, penelitian ini menunjukkan bagaimana data satelit dapat digunakan untuk membaca perubahan lanskap pesisir secara lebih cepat dan akurat.

Melalui pendekatan klasifikasi terbimbing (supervised classification), Fauziah menelusuri dinamika penggunaan lahan tambak garam dan tambak budidaya selama periode 2017–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan luas tambak tidak terjadi secara acak, tetapi sangat dipengaruhi kondisi iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Salah satu temuan menarik muncul pada tahun 2022 ketika luas tambak garam mengalami penurunan. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi meningkatnya curah hujan akibat fenomena La Niña, yang menyebabkan proses produksi garam menjadi kurang optimal. Sebaliknya, ketika curah hujan menurun pada tahun 2023, luas tambak garam kembali meningkat.

Menariknya, pola berbeda justru terjadi pada tambak budidaya. Ketika tambak garam menurun, tambak budidaya menunjukkan kecenderungan meningkat. Temuan tersebut mengindikasikan adanya dinamika alih fungsi lahan yang dipengaruhi strategi adaptasi masyarakat pesisir terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan ekonomi.

Penelitian juga menemukan bahwa pada tahun 2019, luas tambak garam mengalami peningkatan yang diduga dipengaruhi fenomena IOD positif, yang berkaitan dengan kondisi curah hujan lebih rendah dan mendukung aktivitas produksi garam.

Menurut Fauziah, perubahan penggunaan lahan di wilayah pesisir tidak dapat dilepaskan dari interaksi kompleks antara faktor sosial-ekonomi, kebijakan, dan kondisi iklim global. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir memerlukan pendekatan yang adaptif dan berbasis data.

Kajian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana ilmu perikanan saat ini berkembang jauh melampaui aktivitas budidaya dan penangkapan ikan. Teknologi satelit, analisis spasial, dan pemodelan iklim kini menjadi bagian penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan yang lebih berkelanjutan.

Penelitian Fauziah diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi perencanaan wilayah pesisir dan pengambilan kebijakan terkait pemanfaatan lahan tambak di masa mendatang, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.

Penelitian ini juga mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-15 (Life on Land) melalui penguatan basis data ilmiah untuk mendukung pengelolaan wilayah pesisir yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan.

Menjaga Masa Depan Perairan dari Ruang Kuliah: Mata Kuliah Pengendalian Pencemaran Perairan UGM Cetak Generasi Penjaga Ekosistem Akuatik

Berita Senin, 25 Mei 2026

Yogyakarta — Di tengah meningkatnya tantangan pencemaran sungai, danau, pesisir, hingga laut akibat aktivitas manusia, kebutuhan akan generasi yang mampu memahami dan mengendalikan kerusakan lingkungan perairan menjadi semakin penting. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadirkan Mata Kuliah Pengendalian Pencemaran Perairan sebagai ruang pembelajaran untuk membentuk mahasiswa yang siap menjadi penjaga keberlanjutan ekosistem perairan masa depan.

Mata kuliah berbobot 2 SKS ini tidak sekadar mengajarkan teori pencemaran air, tetapi mengajak mahasiswa memahami persoalan nyata yang saat ini dihadapi berbagai wilayah perairan di Indonesia maupun dunia. Mulai dari peningkatan limbah domestik, pencemaran industri, penurunan kualitas air, hingga dampaknya terhadap sumber daya perikanan dan kehidupan masyarakat.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diajak memahami pengertian dan ruang lingkup pencemaran perairan secara komprehensif, termasuk berbagai dampak ekologis serta indikator yang digunakan dalam menilai kondisi lingkungan perairan. Mahasiswa juga mempelajari baku mutu lingkungan, pengolahan limbah, hingga strategi pengelolaan sumber daya perairan tercemar untuk mendukung usaha perikanan berkelanjutan.

Mata kuliah ini dibimbing oleh tim pengajar berpengalaman yang terdiri dari Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si., Drs. Namastra Probosunu, M.Si., dan Tony Budi Satriyo, S.Pi., M.Sc., Ph.D. yang menghadirkan perspektif multidisiplin dalam memahami persoalan lingkungan perairan.

Yang menarik, pembelajaran diselenggarakan menggunakan pendekatan Student Centered Learning (SCL) berbasis kasus (case-based learning). Mahasiswa tidak hanya duduk mendengarkan teori, tetapi ditantang menganalisis persoalan pencemaran yang terjadi di lapangan dan mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Dalam proses pembelajaran, mahasiswa juga belajar memahami peran indikator biologis, kualitas air, hingga berbagai regulasi dan peraturan lingkungan yang menjadi dasar pengelolaan sumber daya akuatik. Pendekatan ini penting karena pengendalian pencemaran tidak hanya berbicara mengenai aspek teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan kebijakan dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, mahasiswa diperkenalkan pada prinsip pengendalian pencemaran melalui pendekatan fisik, biologis, dan kimia. Bekal tersebut diharapkan mampu membantu mereka memahami bagaimana ekosistem perairan dapat dipulihkan dan dikelola secara lebih baik di masa depan. Bagi calon mahasiswa, mata kuliah ini menunjukkan bahwa dunia perikanan tidak hanya berkaitan dengan ikan dan laut semata. Perikanan modern juga menuntut kemampuan memahami isu lingkungan, teknologi, dan pengelolaan sumber daya secara terintegrasi.

Di era perubahan iklim dan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan, keberadaan mata kuliah seperti Pengendalian Pencemaran Perairan menjadi semakin relevan dalam mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan. Mata kuliah ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals khususnya  SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan pendidikan yang mendukung pengelolaan lingkungan perairan secara berkelanjutan.

Perkuat Jejaring Riset Nasional, Dosen Departemen Perikanan UGM Hadiri Koordinasi Kolaborasi PKR Alga Laut UHO–BRIN–UGM

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya memperkuat kolaborasi riset lintas institusi terus menjadi bagian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pada sektor kelautan dan perikanan. Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadiri kegiatan Koordinasi dan Jejaring Kolaborasi Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Alga Laut UHO–BRIN–UGM yang diselenggarakan pada Kamis, 21 Mei 2026 di Gedung A4 Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan tahun pertama program Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Alga Laut yang diinisiasi oleh Universitas Halu Oleo bekerja sama dengan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Universitas Gadjah Mada. Agenda utama pertemuan meliputi diskusi capaian luaran penelitian, berbagi hasil riset, hingga penguatan jejaring kolaborasi pengembangan alga laut di Indonesia.

Pertemuan ini dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai institusi. Dari Departemen Perikanan UGM hadir Ketua Departemen Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., Sekretaris Departemen Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., serta para ketua program studi dan kepala laboratorium. Turut hadir Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si. selaku Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si. Ketua Program Studi Akuakultur, Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc., Ph.D. Ketua Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, dan Prof. Dr. Ir. Leo Setyobudi, S.Pi., M.Si. Ketua Program Studi Magister Ilmu Perikanan.

Selain unsur Departemen Perikanan UGM, kegiatan juga melibatkan berbagai peneliti dan akademisi nasional. Hadir pula Ketua PKR Alga Laut UHO Wa Iba S.Pi., M.App.Sc., Ph.D., peneliti BRIN Dr. Nurrahmi Dewi Fajarningsih, Dr. Singgih Wibowo, serta Bakti Beryanto Sedayu, Ph.D. dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan penguatan ekosistem riset berbasis kolaborasi lintas institusi.

Alga laut saat ini menjadi salah satu komoditas strategis yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga potensi besar dalam pengembangan pangan, bioenergi, biomaterial, kesehatan, dan industri berbasis sumber daya hayati. Karena itu, penguatan kolaborasi penelitian dinilai menjadi langkah penting untuk mempercepat inovasi serta meningkatkan dampak riset bagi masyarakat.

Bagi Departemen Perikanan UGM, partisipasi dalam forum seperti ini membuka ruang lebih luas bagi pengembangan riset multidisiplin, memperkuat jaringan nasional, sekaligus memperluas peluang kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat di masa mendatang.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan riset, tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), serta tujuan ke-14 (Life Below Water) melalui pengembangan ilmu pengetahuan untuk mendukung pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

123…15
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY