• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • hal. 2
Arsip:

SDG 14: Ekosistem Lautan

Belajar Menjadi Nelayan Modern: Mata Kuliah Praktik Teknik Penangkapan Ikan UGM Hadirkan Pengalaman Lapangan bagi Mahasiswa

Berita Rabu, 6 Mei 2026

Yogyakarta — Dunia perikanan tangkap tidak hanya dipelajari melalui teori di ruang kelas. Melalui mata kuliah Praktik Teknik Penangkapan Ikan, mahasiswa Program Studi Sumberdaya Akuatik, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada diajak memahami langsung keterampilan dasar dalam teknik penangkapan ikan yang berkelanjutan.

Mata kuliah praktik berbobot 1 SKS ini menjadi salah satu pembelajaran penting bagi mahasiswa semester empat. Tidak hanya mengenalkan berbagai jenis alat tangkap, mahasiswa juga dibekali kemampuan teknis mulai dari merancang, merakit, hingga memperbaiki alat tangkap ikan secara langsung.

Berbeda dengan pembelajaran konvensional, mata kuliah ini menekankan pengalaman praktik sebagai inti pembelajaran. Mahasiswa diajak mengenal bahan dan alat penangkapan ikan, membuat webbing net, memperbaiki jaring rusak, menyambung jaring, hingga melakukan praktik penangkapan ikan secara langsung di lapangan.

Selain keterampilan teknis, mahasiswa juga diperkenalkan pada konsep perikanan berkelanjutan. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa memahami bagaimana alat tangkap dapat dirancang agar lebih ramah lingkungan serta memperhatikan kondisi habitat ikan dan ekosistem perairan.

Menurut deskripsi mata kuliah, mahasiswa juga mempelajari hubungan antara habitat, biologi ikan target, dan teknik pengoperasian alat tangkap. Pendekatan ini penting agar kegiatan penangkapan ikan tidak hanya efektif, tetapi juga tetap menjaga keseimbangan sumber daya perikanan.

Pembelajaran dilakukan melalui pendekatan student-centered learning dengan kombinasi diskusi, proyek, presentasi, serta tugas praktik. Penilaian lebih banyak menitikberatkan pada tugas dan kuis praktik, yang mencapai 70 persen dari total penilaian mata kuliah.

Tidak hanya melatih keterampilan mahasiswa, mata kuliah ini juga menjadi ruang untuk memahami tantangan dunia perikanan tangkap modern. Mahasiswa didorong untuk berpikir kritis mengenai efisiensi alat tangkap, keberlanjutan sumber daya ikan, hingga pentingnya inovasi teknologi penangkapan ikan.

Melalui pembelajaran berbasis praktik ini, Departemen Perikanan UGM berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan lapangan dan kesadaran ekologis dalam pengelolaan perikanan.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan perikanan berbasis praktik dan keberlanjutan menjadi langkah penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjaga masa depan ekosistem perairan Indonesia.

Dosen Perikanan UGM Soroti Ancaman Mikroplastik terhadap Masa Depan Laut dalam Oceanology Talk Series BRIN

Berita Rabu, 6 Mei 2026

Yogyakarta — Isu pencemaran laut kembali menjadi perhatian serius dalam forum ilmiah nasional. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Sulistiowati, menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Oceanology Talk Series #4 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional pada Rabu, 6 Mei 2026.

Dalam forum bertajuk “Anthropogenic Footprints: Heavy Metal and Plastic Stress in Marine Environments”, Dr. Sulistiowati membawakan materi berjudul “How Marine Debris and Microplastics are Compromising the Future of Our Oceans”. Materi tersebut mengangkat ancaman serius sampah laut dan mikroplastik terhadap keberlanjutan ekosistem perairan global.

Diskusi menyoroti bagaimana limbah plastik yang terus meningkat di laut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga masuk ke rantai makanan melalui organisme laut. Mikroplastik kini ditemukan di berbagai ekosistem, mulai dari sedimen, plankton, ikan, hingga produk konsumsi manusia, sehingga menjadi isu lingkungan sekaligus kesehatan yang semakin mendesak.

Dalam paparannya, Dr. Sulistiowati menekankan bahwa pencemaran mikroplastik merupakan persoalan lintas sektor yang membutuhkan pendekatan kolaboratif antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Menurutnya, perubahan perilaku konsumsi serta pengelolaan limbah yang lebih baik menjadi langkah penting dalam mengurangi tekanan terhadap laut.

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini juga menghadirkan peneliti dari Pusat Riset Oseanologi BRIN, termasuk Triyoni Purbonegoro yang membahas akumulasi logam berat pada lingkungan perairan. Forum ini menjadi ruang diskusi ilmiah mengenai dampak aktivitas manusia terhadap kesehatan ekosistem laut.

Keterlibatan dosen Perikanan UGM dalam forum nasional ini menunjukkan komitmen institusi dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang responsif terhadap isu lingkungan global. Penelitian dan edukasi mengenai pencemaran laut dinilai semakin penting di tengah meningkatnya ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya perairan.

Selain memperkuat jejaring akademik dan riset, partisipasi ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga laut dari ancaman sampah plastik dan limbah berbahaya lainnya.

Topik yang diangkat dalam forum ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan 12 (Responsible Consumption and Production). Upaya mengurangi pencemaran laut menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perairan bagi generasi mendatang.

Dosen Perikanan UGM Inisiasi Kerja Sama Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Gunungkidul

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Gunungkidul — Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menginisiasi kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat di wilayah Gunungkidul sebagai bagian dari penguatan sinergi akademik dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Kegiatan ini dijalankan oleh tim dosen yang terdiri atas Dr. Endah Prihatiningtyastuti, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Anes Dwi Jayanti. Selain menjadi langkah awal kolaborasi penelitian dan pengabdian, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi bersama masyarakat dan pemangku kepentingan terkait pengembangan potensi wilayah pesisir dan perikanan.

Dalam diskusi tersebut, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari pengelolaan sumber daya perairan, pemberdayaan masyarakat pesisir, penguatan kapasitas kelompok perikanan, hingga peluang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Pendekatan kolaboratif menjadi salah satu fokus utama agar program yang dijalankan tidak hanya berbasis penelitian akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Tim dosen Perikanan UGM menekankan pentingnya integrasi antara penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam proses pengembangan dan pengambilan keputusan.

Selain membahas potensi pengembangan sektor perikanan, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog untuk memahami tantangan lokal yang dihadapi masyarakat, termasuk isu keberlanjutan sumber daya, perubahan lingkungan, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi komunitas pesisir.

Kerja sama ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi jangka panjang antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam pengembangan riset terapan serta program pemberdayaan berbasis kebutuhan lokal.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya berkembang di ruang akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.

Inisiatif ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan  SDG 14 (Life Below Water). Kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan dan inklusif.

Dari Laut ke Ruang Sosial: Dosen Perikanan UGM Bahas Ketahanan Masyarakat Pesisir di Kuliah Umum Undiksha

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Buleleng – Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han) menjadi narasumber dalam kegiatan Kuliah Umum Public Lecture Series #10 dan #11 yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sosiologi bersama Eurasia Foundation di Universitas Pendidikan Ganesha pada 5 Mei 2026.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Balingkang Confucius Institute Undiksha tersebut, Dr. Mukti Aprian akan menyampaikan materi bertajuk “Relasi antar Masyarakat Pesisir di Indonesia: Potensi Ketahanan Sosial dan Budaya Menuju Indonesia Emas”. Materi ini menyoroti pentingnya memahami masyarakat pesisir tidak hanya dari aspek ekonomi dan produksi, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, dan relasi antar komunitas.

Dalam berbagai publikasinya, Dr. Mukti Aprian dikenal aktif mengangkat isu-isu sosial dalam sektor perikanan, termasuk dinamika masyarakat pesisir, hubungan sipil-militer dalam pengelolaan sumber daya laut, hingga perubahan orientasi riset perikanan modern yang dinilai semakin mengesampingkan aspek sosial. Salah satu kajiannya bahkan menyoroti bagaimana penelitian fleet dynamics perikanan global mengalami kecenderungan dominasi pendekatan ekonomi dan teknis, sementara dimensi sosial masyarakat nelayan perlahan memudar.

Menurutnya, sektor perikanan tidak dapat dipahami hanya melalui angka produksi atau efisiensi ekonomi semata. Di balik aktivitas perikanan terdapat relasi sosial, nilai budaya, solidaritas komunitas, hingga mekanisme adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan dan kebijakan.

Dalam beberapa penelitiannya, ia juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dan partisipatif dalam tata kelola sumber daya pesisir. Ketahanan sektor perikanan, menurutnya, tidak hanya bergantung pada kondisi ekologi laut, tetapi juga pada kekuatan relasi sosial masyarakat yang hidup di dalamnya.

Kehadiran Dr. Mukti Aprian sebagai pembicara di forum lintas disiplin ini menunjukkan bahwa ilmu perikanan memiliki keterkaitan erat dengan ilmu sosial dan humaniora. Selain Dr. Mukti, pembicara lainnya adalah Dr. phil. Geger Riyanto dari Program studi Antropologi Universitas Indonesia yang membawakan paparan dengan tema, “Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir di Maluku.” Dengan hadirnya berbagai ahli di bidang yang berbeda, pendekatan multidisiplin dinilai semakin penting untuk menjawab tantangan kompleks di wilayah pesisir Indonesia.

Kegiatan kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai bidang ilmu, serta menghadirkan ruang diskusi mengenai masyarakat pesisir sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Sejalan dengan itu, gagasan yang diangkat dalam kuliah umum ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water),  SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi ,dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Penguatan ketahanan sosial masyarakat pesisir menjadi bagian penting dalam menciptakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Fakultas Pertanian UGM dan FisTx Indonesia Tandatangani MoU Penguatan Inovasi Akuakultur Berkelanjutan

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Yogyakarta — Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada resmi menjalin kerja sama strategis dengan FisTx Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam upaya memperkuat inovasi dan pengembangan akuakultur berkelanjutan di Indonesia.

Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam mempertemukan dunia akademik dengan industri berbasis teknologi perikanan. Kerja sama diarahkan pada pengembangan riset, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, implementasi teknologi budidaya modern, hingga penguatan ekosistem akuakultur yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Sebagai perusahaan rintisan berbasis teknologi akuakultur, FisTx Indonesia dikenal aktif mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung produktivitas budidaya, khususnya sektor tambak udang dan perikanan modern. Perusahaan ini mengembangkan solusi seperti teknologi UV tambak, sistem budidaya terukur, pendampingan petambak, hingga pengelolaan kualitas air berbasis teknologi.

Dalam beberapa tahun terakhir, FisTx juga aktif memperkenalkan inovasi teknologi budidaya berkelanjutan, termasuk teknologi elektrolisis untuk meningkatkan kualitas air tambak dan mengurangi penggunaan bahan kimia dalam budidaya udang.

Melalui kerja sama ini, Fakultas Pertanian UGM berharap mahasiswa dan dosen dapat memperoleh ruang kolaborasi yang lebih luas dengan dunia industri, baik dalam bentuk penelitian terapan, program magang, pengembangan inovasi, maupun hilirisasi teknologi perikanan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dinilai semakin penting di tengah tantangan sektor akuakultur modern yang membutuhkan pendekatan multidisiplin dan berbasis teknologi. Integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri diharapkan mampu melahirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat pembudidaya.

Selain mendukung pengembangan teknologi, kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi sektor perikanan menuju sistem budidaya yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sejalan dengan itu, penandatanganan MoU ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomidan SDG 14 (Life Below Water). Sinergi antara perguruan tinggi dan industri menjadi langkah strategis dalam memperkuat inovasi akuakultur sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

Generasi Muda Diajak Kenal Keamanan Pangan Perikanan dalam Sosialisasi di BPTPB Cangkringan

Berita Senin, 4 Mei 2026

Sleman — Upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya keamanan pangan produk perikanan terus dilakukan melalui kegiatan edukatif dan interaktif. Pada Selasa, 28 April 2026, UPTD Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya menggelar kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan Produk Perikanan Budidaya di kawasan Argomulyo, Cangkringan.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas anggota Saka Bahari Kota Yogyakarta serta siswa-siswi SMK Sanden. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami pentingnya penerapan keamanan pangan dalam budidaya ikan, mulai dari proses produksi hingga pengelolaan hasil perikanan yang memenuhi standar mutu dan aman dikonsumsi.

Acara diawali dengan sesi pematerian di dalam ruangan. Materi pertama disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta mengenai program KAWEDAR (Kaweruh Digital Mina lan Samudra). Program ini merupakan inisiatif edukasi digital yang bertujuan memperluas penyebaran informasi dan literasi sektor kelautan dan perikanan melalui media sosial dan platform digital agar lebih mudah diakses masyarakat.

Selanjutnya, Rifki Listianto selaku anggota Komisi B DPRD Kota Yogyakarta memaparkan pentingnya dukungan kebijakan terhadap jaminan mutu produk perikanan. Ia menjelaskan bahwa DPRD memiliki peran strategis melalui fungsi penganggaran, pengawasan, dan legislasi untuk mendukung pengembangan sektor perikanan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Materi utama mengenai Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) disampaikan oleh Desy Putri Handayani. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa keamanan pangan harus dimulai sejak proses budidaya. Peserta dikenalkan pada berbagai aspek penting, seperti kualitas air, manajemen pakan, desain kolam yang baik, sanitasi lingkungan, hingga pemilihan benih sehat.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep Feed Conversion Ratio (FCR), yaitu indikator efisiensi penggunaan pakan dalam budidaya ikan. Pemahaman mengenai FCR dinilai penting karena berkaitan langsung dengan produktivitas budidaya sekaligus efisiensi biaya produksi.

Tidak hanya berlangsung di dalam kelas, kegiatan juga dilanjutkan dengan sesi lapangan melalui kunjungan ke UKBAT Wonocatur. Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat secara langsung praktik budidaya ikan air tawar dan berbagai komoditas yang dikembangkan, seperti ikan lele, nila, tawes, hingga wader pari.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis mengenai sistem budidaya ikan yang baik dan aman. Pendekatan edukatif berbasis pengalaman lapangan diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor perikanan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 4 (Quality Education), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan tujuan ke-14 (Life Below Water). Edukasi mengenai keamanan pangan dan budidaya berkelanjutan menjadi langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan.

Hari Pendidikan Nasional 2026: Departemen Perikanan UGM Refleksikan Pendidikan untuk Masa Depan Laut dan Pangan

Berita Sabtu, 2 Mei 2026

Yogyakarta, 2 Mei 2026 — Peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum refleksi bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam melihat kembali peran pendidikan terhadap masa depan sektor perikanan dan keberlanjutan sumber daya perairan Indonesia.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi ekosistem laut, hingga ancaman ketahanan pangan, pendidikan dinilai memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan. Pendidikan perikanan tidak lagi sekadar berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang keberlanjutan, inovasi, dan keadilan sosial bagi masyarakat pesisir.

Departemen Perikanan UGM terus mendorong proses pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui penguatan riset, praktikum lapangan, kolaborasi internasional, hingga pengabdian masyarakat, mahasiswa didorong untuk memahami persoalan perikanan secara lebih holistik—mulai dari aspek ekologi, ekonomi, teknologi, hingga dinamika sosial masyarakat.

Momentum Hari Pendidikan Nasional juga menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan harus mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Berbagai penelitian yang dikembangkan di lingkungan Departemen Perikanan diarahkan untuk memberikan solusi terhadap isu strategis, seperti perikanan berkelanjutan, kesehatan ikan, adaptasi perubahan iklim, hingga pengembangan pangan berbasis sumber daya laut.

Selain itu, transformasi digital dan perkembangan teknologi turut menjadi tantangan sekaligus peluang dalam dunia pendidikan perikanan. Mahasiswa dituntut tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif dalam menghadapi perubahan global yang semakin cepat.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga masa depan laut Indonesia. Melalui pendidikan yang inklusif dan berkualitas, diharapkan lahir generasi perikanan yang mampu menjadi penggerak perubahan menuju pengelolaan sumber daya perairan yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan.

Refleksi Hari Pendidikan Nasional ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan yang berkualitas menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang mampu menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus mendukung ketahanan pangan masa depan.

Hari Buruh 2026: Departemen Perikanan UGM Refleksikan Masa Depan Pekerja Sektor Perikanan

Berita Jumat, 1 Mei 2026

Yogyakarta, 1 Mei 2026 — Peringatan Hari Buruh Internasional menjadi momentum refleksi bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada terhadap kondisi dan masa depan pekerja di sektor perikanan. Di tengah tantangan perubahan iklim, tekanan ekonomi, dan transformasi industri, pekerja perikanan dinilai menjadi kelompok yang memiliki peran vital namun sering kali menghadapi berbagai kerentanan.

Sektor perikanan selama ini tidak hanya menopang ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat pesisir, nelayan, pembudidaya, pengolah hasil perikanan, hingga pekerja rantai distribusi. Namun demikian, berbagai persoalan seperti ketidakpastian pendapatan, risiko kerja tinggi, akses perlindungan sosial yang terbatas, hingga tekanan terhadap sumber daya laut masih menjadi tantangan nyata.

Melalui momentum Hari Buruh, sivitas akademika Departemen Perikanan UGM menekankan pentingnya membangun sistem perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga adil bagi para pekerja di dalamnya. Pendekatan keberlanjutan dinilai harus mencakup aspek sosial, termasuk kesejahteraan tenaga kerja, keselamatan kerja, serta akses terhadap pendidikan dan teknologi.

Selain itu, perkembangan teknologi dan modernisasi sektor perikanan juga perlu diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Transformasi menuju perikanan modern tidak boleh meninggalkan masyarakat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi perikanan nasional.

Dalam konteks akademik, Departemen Perikanan UGM terus mendorong penelitian dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada penguatan ketahanan sosial-ekonomi komunitas perikanan. Berbagai kajian tentang dinamika nelayan, perikanan adaptif, hingga tata kelola sumber daya pesisir menjadi bagian dari upaya memahami realitas pekerja perikanan secara lebih utuh.

Hari Buruh juga menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sektor perikanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologi laut, tetapi juga oleh kesejahteraan manusia yang bergantung padanya. Laut yang sehat perlu diiringi dengan kehidupan pekerja yang layak dan bermartabat.

Sejalan dengan itu, refleksi ini juga berkaitan erat dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya  SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas dan SDG 14 (Life Below Water). Pengelolaan perikanan yang berkelanjutan harus berjalan beriringan dengan penciptaan pekerjaan yang layak, perlindungan pekerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Mata Kuliah Iktiologi: Perikanan UGM Tawarkan Fondasi Penting Memahami Dunia Ikan bagi Mahasiswa Perikanan

Berita Kamis, 30 April 2026

Yogyakarta — Di balik keberhasilan sektor perikanan, terdapat fondasi keilmuan yang kuat yang dibangun sejak bangku kuliah. Salah satunya melalui mata kuliah Iktiologi yang menjadi mata kuliah wajib di Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

Mata kuliah ini diperuntukkan bagi mahasiswa semester dua, khususnya pada program studi akuakultur, sebagai langkah awal dalam memahami dunia ikan secara komprehensif. Melalui pembelajaran ini, mahasiswa tidak hanya diajak mengenal jenis-jenis ikan, tetapi juga memahami struktur tubuh, sistem organ, hingga fungsi biologis yang mendasari kehidupan ikan.

Diampu oleh tim pengajar yang  kompeten seperti Dr. Indah Istiqomah, dan Dr. Triyanto, mata kuliah ini dirancang dengan pendekatan pembelajaran modern berbasis student-centered learning. Mahasiswa diajak aktif melalui diskusi kelompok kecil, studi kasus, hingga pembelajaran berbasis proyek.

Proses pembelajaran juga mengadopsi sistem blended learning, yang menggabungkan perkuliahan tatap muka dan daring. Platform digital seperti eLOK dan eLISA dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas belajar mandiri, kuis, hingga diskusi interaktif. Dengan total beban studi sekitar 3,02 ECTS, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang seimbang antara teori, praktik, dan eksplorasi mandiri.

Materi yang diajarkan mencakup berbagai aspek penting dalam ilmu ikan, mulai dari klasifikasi seperti ikan tanpa rahang hingga ikan bertulang sejati, hingga sistem anatomi dan fisiologi seperti sistem pernapasan, peredaran darah, pencernaan, hingga reproduksi. Pemahaman ini menjadi dasar penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi di bidang perikanan berkelanjutan.

Tidak hanya itu, mata kuliah ini juga membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk mengaitkan ilmu dasar dengan isu yang lebih luas, seperti pengelolaan sumber daya perairan dan keberlanjutan sektor perikanan. Hal ini sejalan dengan capaian pembelajaran program studi yang menekankan pemahaman sistem perikanan secara holistik, termasuk aspek sosial dan ekonomi.

Dengan pendekatan yang adaptif dan komprehensif, mata kuliah Iktiologi tidak hanya menjadi pengantar ilmu, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk memahami kompleksitas dunia perikanan. Dari ruang kelas hingga diskusi daring, mahasiswa diajak untuk melihat ikan bukan sekadar komoditas, melainkan bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga keberlanjutannya.

Sejalan dengan itu, pembelajaran ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan yang berkualitas di bidang perikanan menjadi kunci dalam mencetak generasi yang mampu mengelola sumber daya laut secara bijak dan berkelanjutan.

Dua Dosen Perikanan UGM Raih Hibah Academic Excellence 2026, Masuk 35 Terbaik dari Ratusan Pengusul

Berita Kamis, 30 April 2026

Yogyakarta — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Dua dosen, yakni Dr. Ratih Ida Adharini dan Dr. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, berhasil meraih Hibah Program Peningkatan Academic Excellence Tahun 2026.

Penghargaan ini diberikan berdasarkan hasil evaluasi proposal yang dilaksanakan pada 14–23 April 2026, dengan mempertimbangkan penilaian ketat dari para reviewer. Dari ribuan dosen yang mengajukan proposal, hanya 35 orang yang berhasil lolos sebagai penerima hibah, menjadikan capaian ini sebagai prestasi yang sangat kompetitif dan bergengsi.

Dalam program ini, Dr. Ratih Ida Adharini mengusung penelitian yang berfokus pada penguatan sistem perikanan berkelanjutan berbasis pendekatan ekologi dan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah mengembangkan riset di bidang kesehatan ikan dan lingkungan perairan, yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem perikanan.

Program Hibah Academic Excellence sendiri dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas riset dosen di berbagai bidang strategis. Beberapa tujuan utama program ini meliputi pengembangan penelitian unggulan yang memiliki relevansi dan manfaat nyata bagi masyarakat, peningkatan publikasi ilmiah berbasis kolaborasi nasional dan internasional, serta penguatan jejaring kerja sama riset dengan institusi dalam dan luar negeri.

Selain itu, program ini juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi di tingkat global, termasuk dalam pemeringkatan seperti QS dan Times Higher Education (THE). Tidak kalah penting, hibah ini menjadi instrumen dalam memperkuat kompetensi dan kepakaran dosen guna mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara optimal.

Keberhasilan dua dosen Perikanan UGM ini menjadi bukti komitmen institusi dalam mendorong budaya riset yang unggul dan berdampak. Capaian ini diharapkan dapat menginspirasi sivitas akademika lainnya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan solusi bagi tantangan sektor perikanan di masa depan.

Sejalan dengan itu, program ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan riset unggulan di bidang perikanan tidak hanya mendorong inovasi dan daya saing akademik, tetapi juga berperan dalam memastikan pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.

1234…12
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY