• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • hal. 4
Arsip:

SDG 14: Ekosistem Lautan

Prodi MSA UGM Perkuat Sinergi Menuju Peningkatan Mutu Akademik dan Pengembangan Program Tahun 2026

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta, 11 Juni 2026 — Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan rapat koordinasi yang melibatkan seluruh dosen Program Studi MSA di Ruang Serbaguna 1. Kegiatan yang dipimpin oleh Ketua Program Studi MSA, Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si., ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi berbagai capaian sekaligus menyusun langkah pengembangan program studi ke depan.

Rapat koordinasi dihadiri oleh dosen-dosen MSA, di antaranya Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Prof. Dr. Ir. Djumanto, M.Sc., Prof. Suadi, S.Pi., M.Sc., Ph.D., Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., Dr. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc., Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si. (Han), serta dosen dan tenaga akademik lainnya yang berkontribusi dalam pengembangan Program Studi MSA.

Salah satu agenda utama yang dibahas adalah evaluasi pelaksanaan Program Magang Berdampak Tahun 2026. Program ini dinilai memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga bagi mahasiswa karena memungkinkan mereka terlibat langsung dalam berbagai aktivitas profesional di sektor perikanan, pengelolaan sumber daya perairan, konservasi, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir. Evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi capaian, tantangan, dan peluang penguatan program pada periode mendatang.

Selain itu, forum juga membahas evaluasi perkuliahan dan praktikum Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Diskusi difokuskan pada peningkatan kualitas proses pembelajaran, efektivitas kegiatan praktikum, serta penguatan kompetensi mahasiswa agar semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Persiapan menghadapi Audit Mutu Internal (AMI) turut menjadi perhatian penting dalam rapat. Seluruh dosen berkomitmen untuk terus menjaga budaya mutu akademik melalui penguatan dokumentasi, peningkatan layanan pendidikan, serta evaluasi berkelanjutan terhadap berbagai indikator kinerja program studi.

Dalam bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi, peserta rapat juga mendiskusikan berbagai perkembangan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang telah dan akan dilaksanakan oleh dosen MSA. Berbagai penelitian yang tengah berlangsung diharapkan tidak hanya menghasilkan luaran ilmiah berkualitas, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pengelolaan sumber daya akuatik dan masyarakat pesisir Indonesia.

Aspek kemahasiswaan menjadi agenda penting lainnya. Program studi terus berupaya menciptakan lingkungan akademik yang mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa, baik melalui kegiatan akademik, penelitian, organisasi kemahasiswaan, maupun program penguatan kompetensi lainnya.

Rapat koordinasi ini juga menjadi momentum awal untuk mempersiapkan berbagai kegiatan dalam rangka Hari Ulang Tahun Departemen Perikanan UGM, yang akan menjadi ajang mempererat kebersamaan sekaligus menampilkan berbagai capaian akademik dan kontribusi Departemen Perikanan bagi masyarakat.

Melalui koordinasi yang rutin dan partisipatif, Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik menunjukkan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi yang terbangun di antara dosen diharapkan mampu memperkuat posisi MSA sebagai salah satu program studi unggulan dalam bidang pengelolaan sumber daya perairan dan lingkungan akuatik di Indonesia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan mutu pendidikan tinggi, SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan penelitian dan pengelolaan sumber daya akuatik berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi dan sinergi akademik dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Perubahan Bentang Pesisir Subang: Mangrove Menyusut, Tambak Terus Bertambah

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta — Wilayah pesisir merupakan kawasan yang terus mengalami perubahan akibat interaksi antara proses alam dan aktivitas manusia. Dinamika tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Zuhdi Ardi, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui skripsinya yang mengkaji perubahan luas lahan mangrove dan tambak di Kabupaten Subang, Jawa Barat, selama periode 2019–2025.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh berbasis citra satelit Sentinel-2 untuk memantau perubahan bentang pesisir secara lebih efisien dan akurat. Dengan dukungan platform Google Earth Engine dan algoritma random forest, penelitian mampu menghasilkan pemetaan penggunaan lahan yang memiliki tingkat akurasi sangat tinggi.

Kabupaten Subang dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu sentra perikanan budidaya penting di pesisir utara Jawa Barat. Seiring berkembangnya aktivitas budidaya, kawasan pesisir menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika yang menarik pada bentang pesisir Subang selama enam tahun terakhir. Kawasan mangrove mengalami perubahan luasan dari tahun ke tahun, sementara area tambak menunjukkan kecenderungan berkembang di sejumlah wilayah pesisir. Temuan ini memberikan gambaran bagaimana aktivitas pemanfaatan ruang pesisir terus membentuk lanskap kawasan pantai secara dinamis.

Menurut Zuhdi, pemantauan perubahan penggunaan lahan menjadi penting karena mangrove memiliki peran strategis sebagai pelindung pantai, habitat berbagai biota perairan, penyerap karbon, serta penyangga keberlanjutan ekosistem pesisir. Di sisi lain, sektor budidaya tambak juga berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat dan penyediaan pangan berbasis perikanan.

Melalui penelitian ini, Zuhdi menunjukkan bahwa teknologi satelit dapat menjadi alat yang efektif untuk memantau perubahan lingkungan pesisir dalam skala luas dan periode waktu yang panjang. Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi pengambil kebijakan dalam merencanakan pengelolaan wilayah pesisir yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Dr. Riza Yuliratno Setiawan menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi geospasial dalam bidang perikanan dan pengelolaan sumber daya perairan semakin penting di era saat ini. Data yang dihasilkan dari pemantauan satelit mampu membantu memahami perubahan lingkungan secara objektif dan mendukung proses pengambilan keputusan berbasis sains.

Penelitian Zuhdi menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa Perikanan UGM memanfaatkan teknologi mutakhir untuk menjawab berbagai tantangan pengelolaan sumber daya pesisir. Melalui pendekatan ilmiah yang inovatif, penelitian ini diharapkan dapat mendukung upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan sektor perikanan dan pelestarian ekosistem mangrove di Indonesia.

Kegiatan penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terutama SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan pengelolaan ekosistem pesisir, SDG 13 (Climate Action) melalui pemantauan ekosistem penyerap karbon biru, serta SDG 15 (Life on Land) melalui upaya pelestarian kawasan mangrove sebagai bagian penting dari bentang alam pesisir yang berkelanjutan.

Prof. Caleb Gardner Bagikan Strategi Pengelolaan Perikanan Lobster Berkelanjutan di Departemen Perikanan UGM

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta, 2 Juni 2026 – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan “Lobster Fisheries Workshop: Small Scale Fisheries Harvest Strategy” yang menghadirkan Prof. Caleb Gardner dari University of Tasmania, Australia, sebagai narasumber utama. Workshop ini menjadi wadah penting bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan pemangku kepentingan perikanan untuk mendalami strategi pengelolaan perikanan lobster yang berkelanjutan, khususnya pada sektor perikanan skala kecil.

Prof. Caleb Gardner merupakan ilmuwan perikanan yang dikenal secara internasional dalam bidang pengelolaan perikanan berbasis sains, asesmen stok, serta pengembangan strategi pemanenan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Pengalamannya dalam mendukung pengelolaan perikanan lobster di Australia menjadikannya salah satu pakar yang banyak berkontribusi dalam penyusunan kebijakan perikanan modern yang menyeimbangkan aspek ekologi dan ekonomi.

Dalam pemaparannya, Prof. Gardner menjelaskan bahwa keberhasilan pengelolaan perikanan lobster tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi hasil tangkapan, tetapi juga oleh kemampuan sistem pengelolaan dalam menjaga keberlanjutan stok sumber daya untuk generasi mendatang. Oleh karena itu, strategi pemanenan (harvest strategy) perlu dirancang berdasarkan data ilmiah yang kuat, indikator biologis yang jelas, serta mekanisme pengambilan keputusan yang adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan maupun dinamika perikanan.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya pengembangan sistem pengelolaan yang mampu mengintegrasikan tujuan konservasi dengan kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat nelayan. Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan pemanfaatan sumber daya perikanan dilakukan secara bertanggung jawab tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem laut.

Workshop ini juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk memahami bagaimana pengalaman pengelolaan lobster di berbagai negara dapat menjadi referensi dalam pengembangan tata kelola perikanan di Indonesia. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa tantangan perikanan skala kecil di berbagai belahan dunia memiliki kesamaan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan konservasi.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM terus memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus memperluas wawasan sivitas akademika mengenai praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Kehadiran pakar internasional seperti Prof. Caleb Gardner diharapkan dapat mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru, kolaborasi penelitian, dan inovasi kebijakan yang mendukung pembangunan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 (Life Below Water) melalui pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kapasitas akademik dan pertukaran pengetahuan internasional, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengembangan kolaborasi global dalam bidang perikanan dan kelautan.

Hari Laut Sedunia 2026: Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan Indonesia

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta — Setiap tanggal 8 Juni, dunia memperingati Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya laut bagi kehidupan manusia dan keberlanjutan planet bumi. Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, peringatan ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan peran laut sebagai sumber kehidupan, pangan, energi, dan kesejahteraan yang harus dijaga bersama.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan wilayah laut yang luas dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Laut Indonesia tidak hanya menyediakan sumber protein bagi jutaan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi nelayan, pembudidaya ikan, pelaku usaha perikanan, serta berbagai komunitas pesisir yang menggantungkan kehidupannya pada sumber daya perairan.

Namun demikian, laut saat ini menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, pencemaran, eksploitasi sumber daya yang berlebihan, kerusakan habitat pesisir, hingga hilangnya keanekaragaman hayati menjadi ancaman nyata yang memerlukan perhatian bersama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas pesisir, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Bagi dunia akademik, Hari Laut Sedunia menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan memiliki peran strategis dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Departemen Perikanan UGM terus berupaya menghasilkan inovasi dan solusi berbasis sains untuk menjawab berbagai tantangan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan.

Berbagai penelitian yang dilakukan dosen dan mahasiswa Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa keberlanjutan laut tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologis, tetapi juga oleh aspek sosial, ekonomi, budaya, dan tata kelola. Oleh karena itu, pendekatan multidisiplin dan kolaboratif menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan kelestarian ekosistem.

Momentum Hari Laut Sedunia juga mengingatkan pentingnya membangun generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap laut. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan global yang cepat, sektor perikanan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan dan komitmen terhadap keberlanjutan.

Tema global Hari Laut Sedunia tahun 2026 kembali menegaskan bahwa masa depan manusia sangat bergantung pada kesehatan laut. Setiap tindakan kecil, mulai dari mengurangi sampah plastik, mendukung konsumsi hasil perikanan yang bertanggung jawab, hingga berpartisipasi dalam kegiatan konservasi, merupakan kontribusi nyata dalam menjaga ekosistem laut.

Bagi Departemen Perikanan UGM, laut bukan sekadar objek kajian ilmiah, melainkan warisan bangsa yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Laut yang sehat akan mendukung ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat pesisir, stabilitas ekonomi, serta keberlanjutan pembangunan nasional.

Pada peringatan Hari Laut Sedunia 2026, keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengajak seluruh masyarakat untuk semakin peduli terhadap laut dan sumber daya perikanan Indonesia. Karena pada akhirnya, menjaga laut berarti menjaga kehidupan, menjaga ketahanan pangan, dan menjaga masa depan bangsa.

Peringatan Hari Laut Sedunia ini sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water) melalui upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan, SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis perikanan, SDG 13 (Climate Action) melalui peningkatan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan laut Indonesia.

Peneliti UGM Ungkap Kunci Ketahanan Wilayah Pesisir: Kolaborasi Lebih Efektif daripada Dominasi Satu Aktor

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta — Pengelolaan wilayah pesisir dan sumber daya perikanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologi dan ekonomi, tetapi juga oleh bagaimana berbagai pihak membangun kerja sama dalam tata kelola. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah Journal of Fisheries Science oleh tim peneliti yang terdiri dari Haposan Simatupang, Margaretha Hanita, Mukti Aprian dari Departemen Perikanan UGM, serta Akhmad Nurhijayat.

Penelitian berjudul “Navigating the Waters of Authority: Civil-Military Relations in the Securitization of Coastal and Fisheries Resources in Cilacap Regency” menyoroti dinamika tata kelola pesisir di Kabupaten Cilacap, salah satu wilayah pesisir Indonesia yang memiliki karakteristik unik karena adanya tumpang tindih kewenangan antara aktor sipil dan militer dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan perikanan.

Melalui pendekatan social-ecological systems, penelitian ini berupaya memahami bagaimana hubungan antaraktor dapat memengaruhi ketahanan sistem pesisir dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari aktivitas penangkapan ikan ilegal, tekanan ekonomi, hingga konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber daya.

Yang menarik, penelitian ini tidak hanya melihat aspek kelembagaan secara konvensional, tetapi juga memanfaatkan pendekatan Social Network Analysis (SNA) dan Qualitative Network Modelling and Simulation (QNMS) untuk memetakan hubungan antaraktor dan mengevaluasi berbagai skenario tata kelola yang mungkin terjadi.

Kolaborasi Menjadi Faktor Penentu Ketahanan

Salah satu temuan penting penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sumber daya pesisir tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan penegakan hukum. Sistem yang terlalu bergantung pada satu aktor justru berpotensi mengurangi kualitas koordinasi, partisipasi, dan kepercayaan antar pemangku kepentingan.

Sebaliknya, tata kelola yang dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, akademisi, masyarakat pesisir, pelaku usaha, dan berbagai aktor lainnya cenderung menghasilkan kondisi yang lebih stabil dan seimbang dalam jangka panjang.

Menurut Mukti Aprian, dosen Departemen Perikanan UGM yang terlibat dalam penelitian ini, tantangan pengelolaan perikanan modern semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan lintas sektor.

“Pengelolaan sumber daya perikanan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Ketahanan pesisir lahir dari kemampuan berbagai pihak untuk bekerja sama, membangun kepercayaan, dan menyelaraskan tujuan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya yang menjadi penopang kehidupan masyarakat,” jelas Mukti.

Perspektif Baru dalam Pengelolaan Perikanan

Penelitian ini memberikan perspektif baru bahwa ketahanan wilayah pesisir tidak hanya bergantung pada kondisi sumber daya alam, tetapi juga pada kualitas hubungan sosial dan kelembagaan yang mengelolanya. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, hasil penelitian ini menjadi relevan untuk mendukung pengembangan kebijakan yang lebih adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Selain memperkaya kajian mengenai tata kelola perikanan dan keamanan lingkungan, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi antara kapasitas penegakan hukum dengan mekanisme partisipatif yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi.

Hasil penelitian tersebut memperkuat pandangan bahwa masa depan pengelolaan perikanan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan berbagai aktor untuk membangun kolaborasi yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan ekologi.

Penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals khususnya SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan tata kelola sumber daya pesisir dan perikanan yang berkelanjutan, SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui peningkatan kualitas kelembagaan dan koordinasi antaraktor, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi dalam pengelolaan sumber daya alam yang kompleks.

link Paper:

Simatupang, et al. (2026)

Mahasiswa Akuakultur UGM Teliti Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Naga untuk Mendukung Kualitas Ikan Hias

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta — Inovasi dalam bidang akuakultur tidak selalu berawal dari teknologi yang rumit. Melalui penelitian skripsinya, Williana Arshanda, mahasiswa Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, mengeksplorasi potensi pemanfaatan limbah kulit buah naga merah sebagai bahan alami yang dapat dimanfaatkan dalam budidaya ikan hias. Wiliana mengekstraksi zat warna (karotenoid) kulit buah naga untuk meningkatkan kecerahan warna ikan.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. ini berfokus pada pengembangan kualitas ikan agar memiliki nilai tambah sekaligus berpotensi mengurangi limbah pertanian. Kajian tersebut menggunakan ikan molly balon sunkist sebagai model penelitian, salah satu jenis ikan hias yang dikenal karena warna tubuhnya yang menarik dan menjadi daya tarik utama di pasar ikan hias.

Menurut Williana, pemanfaatan bahan alami dalam budidaya ikan semakin mendapatkan perhatian karena sejalan dengan prinsip akuakultur berkelanjutan. Berbagai sumber hayati lokal diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan manfaat bagi kualitas ikan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada bahan tambahan sintetis.

Melalui penelitian ini, Williana melakukan serangkaian pengujian untuk mengevaluasi bagaimana bahan alami yang berasal dari kulit buah naga merah dapat dimanfaatkan dalam formulasi pakan ikan hias. Hasil kajian menunjukkan adanya potensi yang menarik untuk dikembangkan lebih lanjut dalam mendukung kualitas penampilan ikan, yang merupakan salah satu faktor penting dalam industri ikan hias.

Selain memberikan kontribusi bagi pengembangan teknologi budidaya, penelitian ini juga menunjukkan bagaimana limbah hasil pertanian dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Pendekatan tersebut mendukung konsep ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali sumber daya yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Dr. Senny Helmiati menyampaikan bahwa penelitian mahasiswa memiliki peran penting dalam menghasilkan inovasi-inovasi sederhana yang aplikatif dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan bahan alami yang mudah diperoleh di sekitar lingkungan menjadi salah satu arah pengembangan akuakultur masa depan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Penelitian Williana menjadi contoh bagaimana mahasiswa dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan sektor perikanan melalui pendekatan ilmiah yang kreatif. Temuan-temuan awal dari penelitian ini diharapkan dapat membuka peluang riset lanjutan terkait pemanfaatan bahan alami lokal untuk mendukung pengembangan industri ikan hias Indonesia.

Kegiatan penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan limbah pertanian bernilai tambah, SDG 14 (Life Below Water) melalui pengembangan budidaya perikanan yang berkelanjutan, serta SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui inovasi berbasis sumber daya lokal untuk mendukung sektor akuakultur.

Fisheries Talks UGM: Prof. Madya Dr. Ching Fui Fui Ungkap Pesona Ikan Napoleon dan Kecintaannya pada Yogyakarta

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Media Perikanan UGM kembali menghadirkan wawasan internasional melalui program Fisheries Talks. Pada episode kali ini, narasumber yang hadir adalah Prof. Madya Dr. Ching Fui Fui (Faihana Ching Abdullah), akademisi dan peneliti dari Institut Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah (UMS), yang membahas pentingnya konservasi ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) serta berbagi pengalamannya selama berada di Yogyakarta.

Dalam perbincangan yang berlangsung hangat dan inspiratif, Prof. Ching menjelaskan bahwa ikan Napoleon merupakan salah satu spesies ikan karang terbesar dan paling ikonik di kawasan Indo-Pasifik. Spesies ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang, namun populasinya menghadapi berbagai tekanan akibat eksploitasi berlebih dan degradasi habitat. Oleh karena itu, upaya konservasi berbasis riset menjadi sangat penting untuk memastikan keberlangsungan spesies tersebut di masa depan.

Menariknya, topik ikan Napoleon merupakan salah satu bidang yang juga menjadi perhatian penelitian Prof. Ching. Melalui berbagai publikasi ilmiahnya, beliau aktif mengkaji aspek pertumbuhan, konservasi, dan ketahanan genetik ikan Napoleon di wilayah perairan Malaysia.

Selain membahas ikan Napoleon, Prof. Ching juga menceritakan ketertarikannya terhadap Yogyakarta. Menurutnya, Yogyakarta memiliki kombinasi yang unik antara kekayaan budaya, suasana akademik yang dinamis, dan masyarakat yang ramah. Lingkungan tersebut menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu kota yang sangat mendukung pertukaran pengetahuan dan kolaborasi internasional.

Akademisi Internasional dengan Rekam Jejak Kuat di Bidang Akuakultur

Prof. Ching merupakan salah satu peneliti terkemuka di bidang perikanan dan akuakultur di Malaysia. Beliau berkiprah di Institut Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah, dengan fokus penelitian pada reproduksi ikan, fisiologi ikan, produksi benih ikan bernilai ekonomi tinggi, serta pengembangan akuakultur berkelanjutan. Penelitiannya mencakup berbagai spesies penting seperti kerapu, sidat, kakap putih, gobi, hingga ikan Napoleon.

Selain aktif melakukan penelitian, Prof. Ching juga terlibat dalam berbagai proyek strategis terkait ketahanan pangan laut, pengembangan teknologi akuakultur, kesehatan ikan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Hingga saat ini, beliau telah menghasilkan lebih dari seratus publikasi ilmiah dan memimpin maupun berpartisipasi dalam puluhan proyek penelitian yang didanai secara nasional maupun internasional.

Sebagai Direktur di Institut Penyelidikan Marin Borneo (IPMB), beliau juga berperan dalam pengembangan teknologi produksi benih ikan laut bernilai tinggi yang mendukung ketahanan pangan dan industri akuakultur Malaysia. Di bawah kepemimpinannya, IPMB memperoleh pengakuan sebagai Pusat Kecemerlangan Pendidikan Tinggi (HiCoE) di bidang produksi benih ikan laut bernilai tinggi.

Memperkuat Kolaborasi dan Perspektif Global

Kehadiran Prof. Ching dalam Fisheries Talks menunjukkan komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada untuk menghadirkan perspektif global kepada mahasiswa dan masyarakat. Melalui forum seperti ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan ilmiah mengenai keanekaragaman hayati laut, tetapi juga memahami bagaimana kolaborasi lintas negara dapat memperkuat upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya perikanan.

Episode ini menjadi bukti bahwa ilmu perikanan tidak mengenal batas geografis. Dari terumbu karang yang menjadi habitat ikan Napoleon hingga ruang-ruang diskusi akademik di Yogyakarta, kolaborasi dan pertukaran pengetahuan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perairan dunia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan pendidikan, konservasi sumber daya laut, dan kerja sama akademik internasional.

link video:

Napoleon Researcher Gets Real About Aquaculture, Jogja & Sheila On 7

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dampak El Niño dan La Niña terhadap Waduk Panglima Besar Soedirman Banjarnegara

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Perubahan iklim global ternyata tidak hanya berdampak pada cuaca, tetapi juga memengaruhi kondisi sumber daya perairan yang menopang berbagai aktivitas manusia. Hal ini terungkap dalam penelitian skripsi yang dilakukan oleh Hapsari Ayu Sedaya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, mengenai dinamika luas badan air Waduk Panglima Besar Soedirman (Waduk Mrica) di Kabupaten Banjarnegara selama periode 2019–2024.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra satelit Sentinel-1 untuk memantau perubahan luas badan air waduk terbesar di Banjarnegara tersebut. Waduk Panglima Besar Soedirman memiliki peran strategis sebagai sumber energi bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica sekaligus mendukung sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah hubungan yang sangat jelas antara fenomena iklim global dengan kondisi waduk. Hapsari menemukan bahwa fenomena El Niño pada tahun 2019 dan 2023 menyebabkan penurunan curah hujan yang diikuti penyusutan luas badan air waduk. Sebaliknya, periode Triple Dip La Niña pada tahun 2020 hingga 2022 meningkatkan curah hujan sehingga luas badan air waduk tetap tinggi, bahkan pada musim kemarau.

Namun, penelitian ini juga mengungkap fakta menarik bahwa perubahan luas badan air tidak hanya ditentukan oleh faktor alam. Operasional waduk, khususnya aktivitas pembangkitan listrik PLTA, turut memengaruhi fluktuasi volume air. Dengan kata lain, kondisi waduk merupakan hasil interaksi antara faktor iklim dan aktivitas manusia dalam pengelolaan sumber daya air.

Selain itu, analisis batimetri menunjukkan adanya variasi kedalaman dan kontur dasar waduk yang diduga berkaitan dengan proses sedimentasi serta pola aliran sungai yang masuk ke waduk. Temuan ini memberikan informasi penting untuk mendukung pengelolaan waduk secara berkelanjutan di masa mendatang.

Menurut Hapsari, pemantauan luas badan air menggunakan teknologi satelit dapat menjadi alat yang efektif untuk memahami respons waduk terhadap perubahan iklim sekaligus membantu perencanaan pengelolaan sumber daya air yang lebih adaptif.

Penelitian ini menunjukkan bahwa waduk bukan sekadar tampungan air, melainkan sistem dinamis yang dipengaruhi oleh perubahan iklim global, kebutuhan energi, dan proses ekologis yang berlangsung secara bersamaan. Informasi tersebut menjadi penting dalam mendukung ketahanan air, energi, dan pangan di tengah meningkatnya ketidakpastian iklim.

Penelitian ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 7 (Affordable and Clean Energy), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan basis ilmiah dalam pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap “Persaingan Tersembunyi” Antar Ikan Demersal di Pantai Kulon Progo

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Ekosistem laut menyimpan berbagai interaksi yang tidak selalu terlihat oleh mata. Melalui penelitian skripsinya, Eva Luthfiyyatun Nadiroh, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, berhasil mengungkap bagaimana beberapa spesies ikan demersal di perairan pantai Kabupaten Kulon Progo saling berinteraksi dan berbagi sumber makanan dalam ekosistem yang kompleks namun tetap seimbang.

Penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. ini menemukan fakta menarik bahwa beberapa spesies ikan demersal, yaitu Pennahia aneus, Polydactylus sextarius, Leiognathus equula, dan Upeneus moluccensis, ternyata memiliki jenis makanan yang mirip dan sering memanfaatkan sumber pakan yang sama.

Salah satu temuan unik dari penelitian ini adalah adanya perebutan sumber makanan antarspesies, terutama terhadap udang yang menjadi mangsa utama beberapa jenis ikan demersal. Meski demikian, persaingan tersebut tidak menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Sebaliknya, hasil pemodelan jejaring makanan (food web modeling) menunjukkan bahwa interaksi antarikan masih berlangsung secara alami dan mencerminkan kondisi ekosistem pantai yang relatif stabil.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar ikan yang diteliti termasuk kelompok karnivora dan omnivora, dengan kemampuan memanfaatkan berbagai jenis makanan sesuai ketersediaan sumber daya di lingkungan sekitarnya. Temuan ini memberikan gambaran bahwa hubungan antarorganisme di perairan pantai tidak hanya ditentukan oleh keberadaan spesies, tetapi juga oleh bagaimana mereka berbagi dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Informasi tersebut menjadi penting sebagai dasar ilmiah dalam pengelolaan sumber daya perikanan dan konservasi ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

Penelitian Eva menunjukkan bahwa memahami isi lambung ikan ternyata dapat membantu mengungkap cerita besar tentang keseimbangan ekosistem laut yang selama ini berlangsung di bawah permukaan perairan Kulon Progo. Kegiatan penelitian ini mendukung Sustainable Development Goals khususnya SDG 14 (Life Below Water)   melalui peningkatan pemahaman ilmiah mengenai interaksi ekologi dan keberlanjutan sumber daya perikanan di wilayah pesisir Indonesia dan SDG 4 Pendidikan Berkualitas.

Prof. Djumanto Buka Seminar Nasional Ikan XIII MII, Tegaskan Pentingnya Ekonomi Biru Berkelanjutan untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Bogor — Ketua Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII), Prof. Dr. Ir. Djumanto, M.Sc., secara resmi membuka Seminar Nasional Ikan XIII Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII) yang diselenggarakan secara hybrid di Bogor. Kegiatan ini menjadi momen istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun MII ke-26, sekaligus pelaksanaan Kongres VII MII yang akan menentukan arah organisasi pada periode mendatang.

Dalam sambutannya, Prof. Djumanto menyampaikan bahwa sejak berdiri pada tahun 2000, Masyarakat Iktiologi Indonesia telah berkomitmen menjadi wadah bagi para akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, dan pemerhati perikanan dalam mengembangkan ilmu iktiologi, yaitu ilmu yang mempelajari keanekaragaman ikan beserta berbagai aspek biologis, ekologis, dan pemanfaatannya.

Menurut Prof. Djumanto, keberadaan MII selama lebih dari dua dekade telah memberikan kontribusi penting dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi keanekaragaman hayati perairan, serta pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di Indonesia.

Pada penyelenggaraan Seminar Nasional Ikan XIII tahun ini, MII mengusung tema “Ekonomi Biru Berkelanjutan” yang dinilai sangat relevan dengan tantangan pembangunan sektor kelautan dan perikanan saat ini. Dalam sambutannya, Prof. Djumanto menegaskan bahwa ekonomi biru bukan hanya berbicara mengenai peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana pembangunan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya ikan dan ekosistem perairan.

“Tema ini menegaskan komitmen kita untuk menyeimbangkan konservasi sumber daya ikan dengan pembangunan sektor perikanan. Sinergi antara pelestarian keanekaragaman ikan dan pemanfaatan yang produktif menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki kekayaan ikan yang sangat besar, baik di perairan laut maupun perairan darat. Oleh karena itu, pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan menjadi fondasi penting untuk memastikan sumber daya tersebut tetap lestari dan mampu memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Seminar Nasional Ikan XIII juga menjadi forum strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam berbagi hasil penelitian, pengalaman lapangan, dan inovasi terbaru terkait ilmu perikanan dan konservasi sumber daya ikan. Selain memperluas wawasan ilmiah, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, sektor industri, dan mitra internasional.

Selain seminar, pelaksanaan Kongres VII MII menjadi agenda penting dalam rangka memperkuat organisasi. Prof. Djumanto berharap kongres dapat menghasilkan berbagai gagasan segar, kepemimpinan yang visioner, serta program kerja yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

“Melalui kongres ini, kita berharap MII dapat terus berkembang sebagai organisasi ilmiah yang relevan, progresif, dan menjadi rujukan utama dalam pengembangan ilmu iktiologi serta pengelolaan sumber daya perikanan Indonesia,” ujarnya.

Sebagai Guru Besar Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Djumanto dikenal sebagai akademisi yang telah lama berkontribusi dalam bidang sumber daya perikanan, ekologi perairan, dan konservasi ikan. Kepemimpinannya di MII memperkuat peran organisasi dalam menjembatani hasil-hasil penelitian dengan kebutuhan pengelolaan sumber daya perikanan nasional.

Penyelenggaraan Seminar Nasional Ikan XIII dan Kongres VII MII menunjukkan bahwa pengembangan ilmu iktiologi tidak hanya penting bagi kemajuan akademik, tetapi juga menjadi fondasi dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di era ekonomi biru.

Menariknya, Seminar Nasional Ikan XIII juga menjadi ajang pembelajaran dan aktualisasi bagi generasi muda peneliti perikanan. Prof. Djumanto secara khusus mendorong mahasiswa bimbingannya untuk berpartisipasi aktif dalam forum ilmiah nasional tersebut melalui presentasi hasil penelitian terbaru yang mereka lakukan. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam seminar ilmiah merupakan bagian penting dari proses pembentukan peneliti muda yang kritis, inovatif, dan mampu mengomunikasikan hasil riset kepada komunitas ilmiah yang lebih luas.

Prof. Djumanto menegaskan bahwa seminar ilmiah tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan hasil penelitian, tetapi juga sarana memperluas jejaring akademik, memperoleh masukan ilmiah, serta membuka peluang kolaborasi penelitian di masa mendatang. Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang berani tampil dan berkontribusi dalam forum-forum ilmiah nasional maupun internasional sehingga dapat memperkuat kapasitas akademik sekaligus meningkatkan daya saing lulusan Perikanan UGM di tingkat global.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals terutama SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis perikanan, SDG 14 (Life Below Water) melalui upaya pelestarian ekosistem perairan dan keanekaragaman ikan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi nasional dan internasional dalam pengembangan ilmu dan pengelolaan sumber daya perikanan.

123456…19
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY