Yogyakarta — Media Perikanan UGM kembali menghadirkan wawasan internasional melalui program Fisheries Talks. Pada episode kali ini, narasumber yang hadir adalah Prof. Madya Dr. Ching Fui Fui (Faihana Ching Abdullah), akademisi dan peneliti dari Institut Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah (UMS), yang membahas pentingnya konservasi ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) serta berbagi pengalamannya selama berada di Yogyakarta.
Dalam perbincangan yang berlangsung hangat dan inspiratif, Prof. Ching menjelaskan bahwa ikan Napoleon merupakan salah satu spesies ikan karang terbesar dan paling ikonik di kawasan Indo-Pasifik. Spesies ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang, namun populasinya menghadapi berbagai tekanan akibat eksploitasi berlebih dan degradasi habitat. Oleh karena itu, upaya konservasi berbasis riset menjadi sangat penting untuk memastikan keberlangsungan spesies tersebut di masa depan.
Menariknya, topik ikan Napoleon merupakan salah satu bidang yang juga menjadi perhatian penelitian Prof. Ching. Melalui berbagai publikasi ilmiahnya, beliau aktif mengkaji aspek pertumbuhan, konservasi, dan ketahanan genetik ikan Napoleon di wilayah perairan Malaysia.
Selain membahas ikan Napoleon, Prof. Ching juga menceritakan ketertarikannya terhadap Yogyakarta. Menurutnya, Yogyakarta memiliki kombinasi yang unik antara kekayaan budaya, suasana akademik yang dinamis, dan masyarakat yang ramah. Lingkungan tersebut menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu kota yang sangat mendukung pertukaran pengetahuan dan kolaborasi internasional.
Akademisi Internasional dengan Rekam Jejak Kuat di Bidang Akuakultur
Prof. Ching merupakan salah satu peneliti terkemuka di bidang perikanan dan akuakultur di Malaysia. Beliau berkiprah di Institut Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah, dengan fokus penelitian pada reproduksi ikan, fisiologi ikan, produksi benih ikan bernilai ekonomi tinggi, serta pengembangan akuakultur berkelanjutan. Penelitiannya mencakup berbagai spesies penting seperti kerapu, sidat, kakap putih, gobi, hingga ikan Napoleon.
Selain aktif melakukan penelitian, Prof. Ching juga terlibat dalam berbagai proyek strategis terkait ketahanan pangan laut, pengembangan teknologi akuakultur, kesehatan ikan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Hingga saat ini, beliau telah menghasilkan lebih dari seratus publikasi ilmiah dan memimpin maupun berpartisipasi dalam puluhan proyek penelitian yang didanai secara nasional maupun internasional.
Sebagai Direktur di Institut Penyelidikan Marin Borneo (IPMB), beliau juga berperan dalam pengembangan teknologi produksi benih ikan laut bernilai tinggi yang mendukung ketahanan pangan dan industri akuakultur Malaysia. Di bawah kepemimpinannya, IPMB memperoleh pengakuan sebagai Pusat Kecemerlangan Pendidikan Tinggi (HiCoE) di bidang produksi benih ikan laut bernilai tinggi.
Memperkuat Kolaborasi dan Perspektif Global
Kehadiran Prof. Ching dalam Fisheries Talks menunjukkan komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada untuk menghadirkan perspektif global kepada mahasiswa dan masyarakat. Melalui forum seperti ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan ilmiah mengenai keanekaragaman hayati laut, tetapi juga memahami bagaimana kolaborasi lintas negara dapat memperkuat upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya perikanan.
Episode ini menjadi bukti bahwa ilmu perikanan tidak mengenal batas geografis. Dari terumbu karang yang menjadi habitat ikan Napoleon hingga ruang-ruang diskusi akademik di Yogyakarta, kolaborasi dan pertukaran pengetahuan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perairan dunia.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan pendidikan, konservasi sumber daya laut, dan kerja sama akademik internasional.
link video:
Napoleon Researcher Gets Real About Aquaculture, Jogja & Sheila On 7