Dosen Departemen Perikanan UGM Jadi Narasumber Women Empowerment Program DWP Kementerian Kelautan dan Perikanan: GROW, BALANCE, LEAD, Dorong Perempuan Berdaya dan Berdampak
Berita Kamis, 22 Oktober 2026
Jakarta, 6 Oktober 2026 — Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sekretariat Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan kegiatan Knowledge Sharing bertajuk “Women Empowerment Program: GROW, BALANCE, LEAD” pada Selasa (6/10/2026). Tema tersebut menggambarkan proses pemberdayaan perempuan secara utuh, mulai dari pengenalan dan pengembangan potensi diri, kemampuan mengelola berbagai peran secara seimbang, hingga kemampuan menjadi perempuan yang mampu menginspirasi, memengaruhi, dan memberikan dampak positif. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan wawasan, kapasitas, dan kesadaran diri peserta agar mampu mengembangkan potensi, menata berbagai peran secara seimbang, serta menjadi perempuan yang inspiratif dan memberikan dampak positif bagi keluarga, organisasi, dan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan diri perempuan dalam mengambil keputusan, mengembangkan kapasitas diri, dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya. Kegiatan diikuti secara luring oleh 150 orang, yang terdiri atas 130 peserta, empat narasumber, dua moderator, empat undangan, dan 10 orang event crew. Secara daring, kegiatan ini juga diikuti oleh pengurus dan anggota DWP di lingkungan KKP serta peserta umum yang tertarik dengan tema pemberdayaan perempuan. Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan Sekretariat Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Septein Paramia Swantika. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan CV singkat narasumber dan inspiring women oleh moderator Dr. Tri Ratna Saridewi, S.Pi., M.Si.
Pada sesi satu kegiatan dilakukan pemaparan materi yang berjudul “Beyond Roles: Perempuan, Potensi, Pilihan, dan Dampak” oleh narasumber pertama, Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D. dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar menambah aktivitas atau tanggung jawab, melainkan memperluas kapasitas, pilihan, dan kesempatan perempuan untuk menentukan arah pertumbuhan dirinya. Perempuan tidak hanya menjalankan berbagai peran, tetapi juga memiliki potensi untuk berkembang dan menghasilkan kontribusi yang bermakna.
Pada bagian GROW, peserta diajak mengenali potensi, kekuatan, dan nilai diri melalui refleksi atas berbagai peran yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan kerap menjalankan peran domestik dalam keluarga, peran profesional atau ekonomi, serta peran sosial di lingkungan masyarakat dan organisasi. Berbagai tuntutan tersebut dapat membuat perempuan lebih berfokus memenuhi harapan orang lain daripada mengenali kebutuhan dan potensi dirinya sendiri. Melalui materi ini, peserta didorong untuk membangun kesadaran diri, menerima diri secara positif, dan mengenali berbagai batasan yang dapat menghambat perkembangan diri. Batasan tersebut dapat berasal dari pola pikir internal maupun ekspektasi sosial dan stereotip gender. Peserta juga diajak memahami pentingnya keberanian mengambil keputusan, mengembangkan kemampuan, serta memanfaatkan sumber daya dan kesempatan yang tersedia untuk mewujudkan potensi diri.
Selanjutnya, bagian BALANCE membahas pentingnya menyelaraskan berbagai peran yang dijalankan perempuan. Mengacu pada konsep peran produktif, reproduktif, dan sosial (sering disebut sebagai triple role atau tiga peran ganda yang dipopulerkan oleh Caroline Moser), materi ini menjelaskan bahwa tuntutan yang datang secara bersamaan dapat memicu kelelahan fisik maupun emosional apabila tidak dikelola dengan baik. Keseimbangan hidup tidak selalu berarti membagi waktu secara sama rata untuk setiap peran. Hal yang lebih penting adalah membangun harmoni sesuai dengan kebutuhan dan prioritas, menetapkan batas yang sehat, serta memberikan perhatian terhadap kesehatan fisik dan emosional. Dukungan keluarga, komunikasi yang terbuka, pembagian tanggung jawab, dan solidaritas antarsesama perempuan juga menjadi bagian penting dalam membantu perempuan menjalankan berbagai perannya secara lebih berkelanjutan.
Adapun bagian LEAD menekankan bahwa kepemimpinan perempuan tidak selalu harus diwujudkan melalui jabatan formal. Kepemimpinan dapat dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, mengelola emosi dan waktu, mengambil keputusan secara bijaksana, serta memberikan teladan melalui tindakan nyata. Empati, intuisi, komunikasi inklusif, dan resiliensi menjadi modal untuk menghadirkan pengaruh positif bagi keluarga, organisasi, dan masyarakat. Melalui integrasi ketiga pendekatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa perempuan berdaya adalah perempuan yang mampu mengenali potensinya, menentukan pilihan secara sadar, mengelola berbagai peran dengan lebih harmonis, dan menciptakan manfaat melalui kontribusi yang bermakna.
Pemaparan materi kedua disampaikan oleh Dr. Vita Mayastinasari, S.E., M.Si., dengan topik “Unlock Your Potential: Bertumbuh, Seimbang, dan Berdampak”. Materi ini memperkuat pesan bahwa perempuan tidak hanya didorong untuk menjadi lebih mampu, tetapi juga mampu mengelola dirinya, memilih perannya secara sadar, dan menghadirkan dampak positif. Topik ini menempatkan perempuan sebagai individu yang terus berkembang, pengelola berbagai peran, sekaligus sumber daya yang memiliki potensi kontribusi bagi organisasi dan masyarakat.
Kegiatan knowledge sharing dilanjutkan dengan dihadirkan inspiring women, penerima penghargaan dari GEF yang membagikan pengalaman dalam mengembangkan usaha dan memberdayakan kelompoknya di sektor perikanan. Pembicara inspiratif pertama, Sri Fany Mony, menyampaikan materi berjudul “Mengubah Potensi Lokal Menjadi Peluang Nyata di Maluku Tenggara.” Sebagai Ketua Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR) Dullah Tama, ia memimpin kegiatan pengolahan hasil perikanan dan diversifikasi produk olahan ikan untuk meningkatkan nilai jual. Pembicara inspiratif kedua, Novatheodora J.M. Essuruw, membawakan topik “Mewujudkan Produk Bernilai Tambah di Kaimana, Papua Barat” Sebagai ketua sekaligus penggerak kelompok, ia mengembangkan usaha pengolahan ikan gulama, komoditas pesisir yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal, menjadi produk bernilai tambah. Kedua kisah tersebut memberikan gambaran konkret bahwa pemberdayaan perempuan dapat diwujudkan melalui pengembangan keterampilan, penguatan kelembagaan kelompok, dan pemanfaatan potensi lokal. Perempuan tidak hanya berperan sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai penggerak yang membantu meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi anggota kelompoknya.
Melalui rangkaian materi dan pengalaman yang dibagikan, kegiatan Knowledge Sharing Women Empowerment Program: GROW, BALANCE, LEAD diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai potensi dan kekuatan diri, pentingnya keseimbangan dalam menjalankan berbagai peran, serta kepemimpinan melalui pengaruh positif. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan motivasi untuk terus mengembangkan kapasitas dan kepercayaan diri, membangun perspektif yang lebih luas mengenai kepemimpinan perempuan, serta mendorong munculnya komitmen personal untuk melakukan perubahan dan pengembangan diri. Pada akhirnya, pemberdayaan perempuan tidak hanya diukur dari kemampuan menjalankan banyak peran, tetapi juga dari kesempatan untuk bertumbuh, menentukan pilihan secara sadar, menjaga keseimbangan kehidupan, dan menghadirkan dampak yang bermakna. Semangat Grow, Balance, Lead menjadi ajakan bagi perempuan untuk terus mengembangkan potensi, menjalani peran secara lebih harmonis, dan menjadi sumber inspirasi serta manfaat bagi keluarga, organisasi, dan masyarakat. Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada narasumber, inspiring women, dan moderator, serta dilanjutkan dengan foto bersama.
Kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui penguatan kapasitas, kepercayaan diri, kesempatan, dan kepemimpinan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui inspirasi pengembangan usaha produktif, peningkatan nilai tambah komoditas perikanan, serta penguatan kemandirian ekonomi perempuan; dan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui upaya memperluas kesempatan dan partisipasi perempuan dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Kisah inspiratif para penggerak kelompok pengolah hasil perikanan dari Maluku Tenggara dan Kaimana juga menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat menjadi kekuatan penting dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal, memperkuat kemandirian masyarakat pesisir, dan menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.