• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • Berita
Arsip:

Berita

Dosen Departemen Perikanan UGM Jadi Narasumber Women Empowerment Program DWP Kementerian Kelautan dan Perikanan: GROW, BALANCE, LEAD, Dorong Perempuan Berdaya dan Berdampak

Berita Kamis, 22 Oktober 2026

Jakarta, 6 Oktober 2026 — Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sekretariat Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan kegiatan Knowledge Sharing bertajuk “Women Empowerment Program: GROW, BALANCE, LEAD” pada Selasa (6/10/2026). Tema tersebut menggambarkan proses pemberdayaan perempuan secara utuh, mulai dari pengenalan dan pengembangan potensi diri, kemampuan mengelola berbagai peran secara seimbang, hingga kemampuan menjadi perempuan yang mampu menginspirasi, memengaruhi, dan memberikan dampak positif. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan wawasan, kapasitas, dan kesadaran diri peserta agar mampu mengembangkan potensi, menata berbagai peran secara seimbang, serta menjadi perempuan yang inspiratif dan memberikan dampak positif bagi keluarga, organisasi, dan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan diri perempuan dalam mengambil keputusan, mengembangkan kapasitas diri, dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya. Kegiatan diikuti secara luring oleh 150 orang, yang terdiri atas 130 peserta, empat narasumber, dua moderator, empat undangan, dan 10 orang event crew. Secara daring, kegiatan ini juga diikuti oleh pengurus dan anggota DWP di lingkungan KKP serta peserta umum yang tertarik dengan tema pemberdayaan perempuan. Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan Sekretariat Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Septein Paramia Swantika. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan CV singkat narasumber dan inspiring women oleh moderator Dr. Tri Ratna Saridewi, S.Pi., M.Si.

Pada sesi satu kegiatan dilakukan pemaparan materi yang berjudul “Beyond Roles: Perempuan, Potensi, Pilihan, dan Dampak” oleh narasumber pertama, Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D. dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar menambah aktivitas atau tanggung jawab, melainkan memperluas kapasitas, pilihan, dan kesempatan perempuan untuk menentukan arah pertumbuhan dirinya. Perempuan tidak hanya menjalankan berbagai peran, tetapi juga memiliki potensi untuk berkembang dan menghasilkan kontribusi yang bermakna.

Pada bagian GROW, peserta diajak mengenali potensi, kekuatan, dan nilai diri melalui refleksi atas berbagai peran yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan kerap menjalankan peran domestik dalam keluarga, peran profesional atau ekonomi, serta peran sosial di lingkungan masyarakat dan organisasi. Berbagai tuntutan tersebut dapat membuat perempuan lebih berfokus memenuhi harapan orang lain daripada mengenali kebutuhan dan potensi dirinya sendiri. Melalui materi ini, peserta didorong untuk membangun kesadaran diri, menerima diri secara positif, dan mengenali berbagai batasan yang dapat menghambat perkembangan diri. Batasan tersebut dapat berasal dari pola pikir internal maupun ekspektasi sosial dan stereotip gender. Peserta juga diajak memahami pentingnya keberanian mengambil keputusan, mengembangkan kemampuan, serta memanfaatkan sumber daya dan kesempatan yang tersedia untuk mewujudkan potensi diri.

Selanjutnya, bagian BALANCE membahas pentingnya menyelaraskan berbagai peran yang dijalankan perempuan. Mengacu pada konsep peran produktif, reproduktif, dan sosial (sering disebut sebagai triple role atau tiga peran ganda yang dipopulerkan oleh Caroline Moser), materi ini menjelaskan bahwa tuntutan yang datang secara bersamaan dapat memicu kelelahan fisik maupun emosional apabila tidak dikelola dengan baik. Keseimbangan hidup tidak selalu berarti membagi waktu secara sama rata untuk setiap peran. Hal yang lebih penting adalah membangun harmoni sesuai dengan kebutuhan dan prioritas, menetapkan batas yang sehat, serta memberikan perhatian terhadap kesehatan fisik dan emosional. Dukungan keluarga, komunikasi yang terbuka, pembagian tanggung jawab, dan solidaritas antarsesama perempuan juga menjadi bagian penting dalam membantu perempuan menjalankan berbagai perannya secara lebih berkelanjutan.

Adapun bagian LEAD menekankan bahwa kepemimpinan perempuan tidak selalu harus diwujudkan melalui jabatan formal. Kepemimpinan dapat dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, mengelola emosi dan waktu, mengambil keputusan secara bijaksana, serta memberikan teladan melalui tindakan nyata. Empati, intuisi, komunikasi inklusif, dan resiliensi menjadi modal untuk menghadirkan pengaruh positif bagi keluarga, organisasi, dan masyarakat. Melalui integrasi ketiga pendekatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa perempuan berdaya adalah perempuan yang mampu mengenali potensinya, menentukan pilihan secara sadar, mengelola berbagai peran dengan lebih harmonis, dan menciptakan manfaat melalui kontribusi yang bermakna.

Pemaparan materi kedua disampaikan oleh Dr. Vita Mayastinasari, S.E., M.Si., dengan topik “Unlock Your Potential: Bertumbuh, Seimbang, dan Berdampak”. Materi ini memperkuat pesan bahwa perempuan tidak hanya didorong untuk menjadi lebih mampu, tetapi juga mampu mengelola dirinya, memilih perannya secara sadar, dan menghadirkan dampak positif. Topik ini menempatkan perempuan sebagai individu yang terus berkembang, pengelola berbagai peran, sekaligus sumber daya yang memiliki potensi kontribusi bagi organisasi dan masyarakat.

Kegiatan knowledge sharing dilanjutkan dengan dihadirkan inspiring women, penerima penghargaan dari GEF yang membagikan pengalaman dalam mengembangkan usaha dan memberdayakan kelompoknya di sektor perikanan. Pembicara inspiratif pertama, Sri Fany Mony, menyampaikan materi berjudul “Mengubah Potensi Lokal Menjadi Peluang Nyata di Maluku Tenggara.” Sebagai Ketua Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR) Dullah Tama, ia memimpin kegiatan pengolahan hasil perikanan dan diversifikasi produk olahan ikan untuk meningkatkan nilai jual. Pembicara inspiratif kedua, Novatheodora J.M. Essuruw, membawakan topik “Mewujudkan Produk Bernilai Tambah di Kaimana, Papua Barat” Sebagai ketua sekaligus penggerak kelompok, ia mengembangkan usaha pengolahan ikan gulama, komoditas pesisir yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal, menjadi produk bernilai tambah. Kedua kisah tersebut memberikan gambaran konkret bahwa pemberdayaan perempuan dapat diwujudkan melalui pengembangan keterampilan, penguatan kelembagaan kelompok, dan pemanfaatan potensi lokal. Perempuan tidak hanya berperan sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai penggerak yang membantu meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi anggota kelompoknya. 

Melalui rangkaian materi dan pengalaman yang dibagikan, kegiatan Knowledge Sharing Women Empowerment Program: GROW, BALANCE, LEAD diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai potensi dan kekuatan diri, pentingnya keseimbangan dalam menjalankan berbagai peran, serta kepemimpinan melalui pengaruh positif. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan motivasi untuk terus mengembangkan kapasitas dan kepercayaan diri, membangun perspektif yang lebih luas mengenai kepemimpinan perempuan, serta mendorong munculnya komitmen personal untuk melakukan perubahan dan pengembangan diri. Pada akhirnya, pemberdayaan perempuan tidak hanya diukur dari kemampuan menjalankan banyak peran, tetapi juga dari kesempatan untuk bertumbuh, menentukan pilihan secara sadar, menjaga keseimbangan kehidupan, dan menghadirkan dampak yang bermakna. Semangat Grow, Balance, Lead menjadi ajakan bagi perempuan untuk terus mengembangkan potensi, menjalani peran secara lebih harmonis, dan menjadi sumber inspirasi serta manfaat bagi keluarga, organisasi, dan masyarakat. Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada narasumber, inspiring women, dan moderator, serta dilanjutkan dengan foto bersama.

Kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui penguatan kapasitas, kepercayaan diri, kesempatan, dan kepemimpinan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui inspirasi pengembangan usaha produktif, peningkatan nilai tambah komoditas perikanan, serta penguatan kemandirian ekonomi perempuan; dan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui upaya memperluas kesempatan dan partisipasi perempuan dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Kisah inspiratif para penggerak kelompok pengolah hasil perikanan dari Maluku Tenggara dan Kaimana juga menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat menjadi kekuatan penting dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal, memperkuat kemandirian masyarakat pesisir, dan menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Sosialisasikan Pencatatan Digital dan Aplikasi “Mina Arta”, “Mina Candika”, serta “Kalkulator Budidaya” untuk Mendukung Budidaya Ikan

Berita Kamis, 22 Oktober 2026

Yogyakarta, 9 Oktober 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), berpartisipasi dalam kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan Produk Perikanan Budidaya dari Hulu hingga Hilir yang diselenggarakan pada Jumat (9/10/2026), pukul 13.00–16.00 WIB, di Ruang Gurami Lantai 2, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan unit kerja budidaya perikanan, kelompok pembudidaya ikan, unit pembenihan rakyat, pelaku usaha perikanan, penyuluh perikanan, serta pengelola usaha budidaya ikan pada Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pelaku usaha perikanan dalam menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, mulai dari aspek budidaya hingga pengolahan dan pemasaran produk. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM turut memperkenalkan pentingnya pencatatan digital dalam usaha perikanan melalui pemanfaatan aplikasi Banoo sebagai salah satu upaya mendukung pengelolaan usaha budidaya ikan yang lebih terencana dan efisien.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R. Hery Sulistio Hermawan, S.Pi., M.T., bersama Dra. Hj. Sri Muslimatun dari DPRD DIY. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai pencatatan digital dan pengenalan fitur-fitur aplikasi BanooTM yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha budidaya ikan. Materi pertama disampaikan oleh Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D., dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, dengan judul “Sosialisasi Pencatatan Digital dalam Usaha Perikanan.” Dalam pemaparannya, dijelaskan tentang pentingnya pencatatan usaha sebagai bagian dari pengelolaan budidaya ikan. Praktik pencatatan manual yang masih banyak mengandalkan ingatan dan perkiraan dapat menimbulkan sejumlah kendala, seperti risiko kehilangan atau kerusakan catatan, ketidakakuratan perhitungan harga pokok produksi (HPP), serta tidak terpisahnya pencatatan keuangan rumah tangga dan operasional usaha. Selain itu, keterbatasan pencatatan juga dapat menyulitkan pembudidaya dalam memantau parameter penting selama siklus produksi, seperti Feed Conversion Ratio (FCR), Survival Rate (SR), dan kualitas air. Tanpa pencatatan yang memadai, evaluasi penggunaan pakan, tingkat kelangsungan hidup ikan, dan kondisi kolam menjadi kurang optimal karena sebagian informasi hanya didasarkan pada perkiraan.

Pencatatan keuangan yang belum tertata juga dapat menjadi kendala ketika pelaku usaha membutuhkan laporan untuk mengakses pembiayaan atau permodalan dari lembaga keuangan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi digital diperkenalkan sebagai alternatif untuk membantu meningkatkan akurasi dan efisiensi pencatatan, mendukung pemantauan kegiatan budidaya, memperkuat ketertelusuran proses produksi (traceability), serta mempermudah pengelolaan usaha, termasuk ketika pembudidaya perlu memantau aktivitas dari jarak jauh. Sebagai salah satu rekomendasi untuk mendukung transformasi digital di sektor perikanan budidaya, Departemen Perikanan UGM memperkenalkan aplikasi BanooTM yang dirancang untuk membantu pembudidaya mengelola catatan kegiatan dan keuangan usaha secara lebih praktis melalui telepon genggam.

 Materi kedua disampaikan oleh Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., dari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, dengan judul “Panduan Pintar Aplikasi BanooTM untuk Budidaya Ikan.” Aplikasi BanooTM dikembangkan oleh Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D. bersama Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., Fakhrudin Hary Santoso, S.Pi., Erlangga Pradipta, S.T., dan Nava Farah Aszahra, S.Tr.T. Sebelum memasuki sesi materi, peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui pemahaman awal mengenai pencatatan digital dan penggunaan aplikasi. Selanjutnya, peserta diperkenalkan pada berbagai fitur BanooTM beserta pemanfaatannya dalam mendukung kegiatan budidaya dan pengelolaan keuangan usaha.

Secara umum, BanooTM dikembangkan untuk membantu pembudidaya merapikan pencatatan yang sebelumnya dilakukan secara manual agar dapat tersimpan lebih aman dan mudah diakses melalui telepon genggam. Aplikasi ini menyediakan sejumlah fitur yang mendukung kebutuhan perencanaan, pencatatan keuangan, pemantauan budidaya, hingga pengendalian peralatan kolam. Fitur Smart Plug berbasis Internet of Things (IoT) memungkinkan pengguna melakukan pengendalian peralatan dari jarak jauh, memantau penggunaan listrik, serta menerima notifikasi dan pengingat jadwal pengoperasian aerator. Fitur ini diharapkan dapat membantu pembudidaya mengelola penggunaan peralatan kolam secara lebih praktis. Fitur Kalkulator Budidaya membantu pengguna memperkirakan kebutuhan produksi sebelum memulai siklus budidaya. Melalui fitur ini, pembudidaya dapat melakukan estimasi kebutuhan pakan dan biaya benih, memproyeksikan volume panen serta harga jual, dan membandingkan total biaya dengan potensi pendapatan untuk memperkirakan keuntungan atau kerugian usaha. Sementara itu, fitur Mina Arta berfungsi sebagai buku kas digital untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran serta membantu memisahkan arus kas usaha. Fitur ini juga mencakup pencatatan utang-piutang, rekapitulasi keuangan bulanan, perhitungan keuntungan secara otomatis, indikator kebutuhan penghematan, dan penyusunan laporan dalam format PDF. Dengan pencatatan yang lebih terstruktur, pembudidaya diharapkan dapat mengevaluasi kondisi keuangan dan mengambil keputusan usaha berdasarkan informasi yang tercatat. Adapun fitur Mina Candika merupakan fasilitas penjurnalan budidaya ikan yang membantu pengguna mencatat dan memantau perkembangan kolam secara lebih spesifik. Melalui pencatatan aktivitas budidaya secara berkala, pembudidaya dapat membangun dokumentasi siklus produksi yang lebih sistematis sebagai bahan evaluasi pengelolaan kolam.

Pengenalan berbagai fitur tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pencatatan, perencanaan, dan pemantauan kegiatan budidaya ikan. Setelah penyampaian materi dan pengenalan aplikasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta menyampaikan pertanyaan serta berbagi pengalaman mengenai kondisi dan kebutuhan pencatatan yang dihadapi dalam praktik budidaya ikan di lapangan. Diskusi ini juga menjadi ruang bagi peserta untuk memberikan saran dan masukan terkait pengembangan aplikasi BanooTM agar fitur-fitur yang tersedia semakin sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata pelaku usaha perikanan. Masukan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan aplikasi sehingga pemanfaatannya dapat mendukung pengelolaan usaha budidaya ikan secara lebih efektif.

Sebagai penutup, peserta mengikuti post-test untuk mengetahui pemahaman setelah mengikuti sosialisasi dan pengenalan aplikasi. Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM turut mendorong penguatan kapasitas pelaku usaha perikanan dalam memanfaatkan teknologi digital, khususnya untuk mendukung pencatatan usaha dan pengelolaan budidaya ikan. Penerapan pencatatan yang lebih tertata diharapkan dapat membantu pembudidaya meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat pengelolaan keuangan, serta menyediakan informasi yang lebih baik untuk mendukung keberlanjutan usaha perikanan budidaya.

Kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui dukungan terhadap penguatan sektor perikanan budidaya sebagai salah satu sumber pangan berkelanjutan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha dalam mengelola kegiatan budidaya secara lebih efisien dan meningkatkan daya saing usaha; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi teknologi digital dan Internet of Things (IoT) dalam pengelolaan usaha perikanan; serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penguatan pencatatan, pemantauan, dan evaluasi proses produksi yang lebih terukur. Pemanfaatan aplikasi BanooTM diharapkan dapat mendorong transformasi digital sektor perikanan budidaya sekaligus mendukung praktik produksi yang lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan.

Faperta UGM dan SEAQIS Perkuat Kolaborasi, Dorong Integrasi Sains, Pendidikan, dan Perikanan Berkelanjutan

Berita Rabu, 7 Oktober 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM), melalui Departemen Perikanan, memperkuat jejaring kolaborasi dengan Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Quality Improvement of Teacher and Education Personnel in Science (SEAQIS). Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk mempertemukan kekuatan pendidikan tinggi, riset perikanan, dan pengembangan pendidikan sains dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun regional Asia Tenggara.

SEAQIS merupakan salah satu pusat regional SEAMEO yang memiliki mandat dalam meningkatkan kualitas pengembangan profesional guru dan tenaga kependidikan bidang sains di Asia Tenggara. Selain menyelenggarakan program pelatihan dan pengembangan kapasitas, SEAQIS juga mengembangkan kegiatan penelitian, pengembangan, serta penguatan jejaring dan pertukaran pengetahuan di bidang pendidikan sains.

Dalam konteks tersebut, Departemen Perikanan Faperta UGM memiliki peluang strategis untuk menghadirkan perspektif ilmu perikanan dan kelautan ke dalam pengembangan pendidikan sains. Perikanan merupakan bidang multidisiplin yang tidak hanya berkaitan dengan sumber daya ikan, tetapi juga mencakup ekologi, teknologi, pangan, ekonomi, masyarakat, hingga perubahan iklim. Kompleksitas tersebut membutuhkan pendekatan pembelajaran yang mampu menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Kolaborasi Faperta UGM dan SEAQIS diharapkan dapat berkembang dalam berbagai bentuk kegiatan, mulai dari pengembangan program pendidikan dan pelatihan, pertukaran pengetahuan, pengembangan materi pembelajaran berbasis isu perikanan dan kelautan, hingga penelitian kolaboratif. Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang bagi pengembangan pembelajaran berbasis STEM yang mengangkat persoalan nyata seperti keberlanjutan sumber daya perikanan, perubahan iklim, ketahanan pangan, akuakultur, pencemaran lingkungan, dan pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sumber daya perairan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, kerja sama ini juga menjadi peluang untuk memperluas dampak keilmuan dari lingkungan perguruan tinggi menuju ekosistem pendidikan yang lebih luas. Pengetahuan dan inovasi yang dikembangkan melalui riset perikanan dapat diterjemahkan menjadi materi, metode, dan pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual bagi generasi muda. Sebaliknya, jejaring SEAQIS di bidang pendidikan sains dapat menjadi ruang strategis bagi akademisi perikanan untuk memahami kebutuhan pengembangan literasi sains dan kapasitas sumber daya manusia di kawasan Asia Tenggara.

Kerja sama ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM untuk terus memperluas jejaring kemitraan nasional dan internasional. Departemen Perikanan UGM sendiri secara aktif membangun kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan, lembaga penelitian, pemerintah, dan sektor industri untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, dan teknologi di bidang perikanan dan kelautan.

Lebih jauh, sinergi Faperta UGM dan SEAQIS diharapkan tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang menghasilkan program nyata dan berkelanjutan. Integrasi antara keunggulan riset perguruan tinggi dengan pengalaman SEAQIS dalam pengembangan pendidikan sains dapat menciptakan model pembelajaran yang lebih inovatif, relevan, dan responsif terhadap tantangan sosial-ekologi di kawasan Asia Tenggara.

Kolaborasi tersebut juga memperkuat kontribusi kedua institusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan kualitas pendidikan dan pengembangan kapasitas; SDG 14: Ekosistem Lautan, melalui peningkatan literasi dan kesadaran mengenai keberlanjutan sumber daya perairan; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui pembangunan jejaring kolaborasi lintas institusi dan negara. Dengan demikian, kerja sama Faperta UGM dan SEAQIS tidak hanya memperkuat hubungan kelembagaan, tetapi juga membuka ruang baru bagi hadirnya pendidikan dan riset perikanan yang semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan berkelanjutan di Asia Tenggara.

Pusat Kolaborasi Riset Rekayasa Bioproduk Alga UGM Perkuat Kolaborasi Riset dan Hilirisasi Potensi Alga Indonesia

Berita Rabu, 7 Oktober 2026

Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Rekayasa Bioproduk Alga Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat jejaring kolaborasi riset dan pengembangan produk berbasis alga melalui rangkaian kunjungan dan diskusi dengan mitra akademik serta industri pada 5 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan dipimpin oleh Ketua PKR Rekayasa Bioproduk Alga UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., bersama tim UGM dan BRIN.

Kegiatan diawali dengan pertemuan bersama Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D. dari PKR Perancah Biomedis, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM. Pertemuan tersebut membahas peluang kolaborasi antara PKR Rekayasa Bioproduk Alga dan PKR Perancah Biomedis, khususnya dalam mengintegrasikan potensi bahan dan senyawa bioaktif yang berasal dari alga dengan pengembangan material untuk aplikasi biomedis. Setelah pertemuan di FKG UGM, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi PKR Rekayasa Bioproduk Alga di Departemen Perikanan UGM. Diskusi membahas arah pengembangan PKR ke depan, termasuk strategi penelitian, penguatan jejaring kolaborasi, pengembangan produk, serta peluang hilirisasi hasil riset. Dalam diskusi tersebut, pengembangan bioproduk berbasis alga diarahkan pada berbagai sektor potensial, terutama bidang medis dan biomedis.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan dan diskusi ke CV Indo Raya Internasional sebagai mitra industri. Pertemuan ini membahas peluang kerja sama dalam pengembangan dan hilirisasi produk kosmetik berbasis alga. Keterlibatan mitra industri dinilai penting untuk memastikan hasil riset dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan peluang pasar, sehingga tidak berhenti pada tahap publikasi ilmiah, tetapi dapat dilanjutkan menuju produk yang aplikatif dan memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi peluang penelitian bersama, pengembangan prototipe, serta penyusunan program kolaboratif yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pemanfaatan sumber daya alga sebagai bahan baku bioproduk inovatif. Kolaborasi ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan riset, inovasi, dan hilirisasi bioproduk berbasis alga; SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan pemanfaatan sumber daya alga yang bernilai tambah dan berkelanjutan; serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan sektor industri. Pengembangan bioproduk alga diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi berbasis pengetahuan, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan, menciptakan nilai ekonomi, dan memperkuat kontribusi riset Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan.

Mahasiswa Akuakultur UGM Raih Tiga Penghargaan di International Youth Innovation Summit Malaysia

Berita Jumat, 25 September 2026

Mahasiswa Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Vito Nathaniel Prabowo, berhasil menorehkan prestasi internasional melalui ajang International Youth Innovation Summit yang diselenggarakan di Malaysia. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Akuakultur angkatan 2024 ini berhasil meraih tiga penghargaan, yaitu Juara 1 Best Video Project, Juara 2 Best Project Innovation, dan Juara 3 Best Presentation.

Prestasi tersebut diraih Vito bersama tim INOVARTHA, sebuah tim lintas perguruan tinggi yang beranggotakan mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Universitas Brawijaya. Dalam tim tersebut, Vito Nathaniel Prabowo dari Fakultas Pertanian UGM berperan sebagai ketua kelompok. Ia berkolaborasi dengan Dinar Aulia Al-Ali dari Fakultas Peternakan UGM, Muhammad Ridho Syahputra dari Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, serta Nindya Karonawitri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.

Melalui INOVARTHA, tim mengembangkan gagasan PADI (Platform Agri-Desa Inovatif) sebagai sebuah platform yang dirancang untuk mendukung penguatan ekosistem pertanian dan meningkatkan keterhubungan antara produsen di tingkat desa dengan rantai pasar. Gagasan tersebut dikembangkan melalui sejumlah fitur inovatif, di antaranya Harvest Aggregator Hub, Dashboard PANTAU, sistem grading dan pendampingan kualitas, serta akses pasar business-to-business (B2B).

Konsep yang dikembangkan INOVARTHA tidak hanya menempatkan teknologi sebagai sarana digitalisasi, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat konektivitas antarpelaku dalam rantai nilai pertanian. Melalui integrasi informasi produksi, pengelolaan hasil panen, pengendalian kualitas, dan akses pasar, PADI diarahkan untuk membantu menciptakan ekosistem yang lebih terhubung antara petani, pendamping, pengelola hasil, dan pasar.

Keberhasilan Vito dan tim dalam ajang internasional tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas perguruan tinggi dalam menghasilkan gagasan inovatif. Latar belakang anggota tim yang berasal dari bidang pertanian, peternakan, teknik, dan ekonomi dan bisnis memungkinkan pengembangan PADI dilakukan dengan perspektif yang lebih beragam, mulai dari aspek produksi dan teknologi hingga pengelolaan serta akses pasar.

Bagi Departemen Perikanan UGM, prestasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan kapasitas mahasiswa untuk berinovasi dan berkolaborasi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan. Meskipun gagasan yang dikembangkan berfokus pada ekosistem pertanian, pengalaman Vito dalam membangun inovasi, bekerja dalam tim multidisiplin, serta berkompetisi pada tingkat internasional merupakan kompetensi yang relevan dengan pengembangan sektor perikanan dan akuakultur yang semakin membutuhkan integrasi teknologi, kewirausahaan, dan pendekatan lintas sektor.

Prestasi Vito dan tim juga sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Pengembangan PADI melalui pemanfaatan teknologi, penguatan rantai nilai, peningkatan akses pasar, dan kolaborasi lintas perguruan tinggi menunjukkan bagaimana inovasi mahasiswa dapat diarahkan untuk mendukung sistem pangan yang lebih terhubung, inklusif, dan berkelanjutan. Rangkaian prestasi ini sekaligus memperlihatkan peran generasi muda dalam membangun inovasi melalui kolaborasi dan pemanfaatan pengetahuan untuk menjawab tantangan pembangunan.

Magister Ilmu Perikanan UGM Perkuat Jejaring Akademik melalui Academic Travelling 2026

Berita Senin, 21 September 2026

Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) turut memperkuat jejaring akademik antarpascasarjana bidang perikanan dan kelautan melalui Academic Travelling 2026. Kegiatan yang memasuki penyelenggaraan kelima tersebut dilaksanakan di Gedung Kuliah Bersama Kampus C Universitas Airlangga (Unair), Minggu (20/9). Keikutsertaan Magister Ilmu Perikanan UGM dalam kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus berinteraksi dan bertukar pengalaman dengan mahasiswa dari berbagai program studi serumpun. Academic Travelling 2026 diikuti kurang lebih 50 mahasiswa pascasarjana dari sejumlah perguruan tinggi di Pulau Jawa, termasuk UGM, Universitas Diponegoro, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Trunojoyo Madura.

Dalam forum diseminasi hasil penelitian mahasiswa, Magister Ilmu Perikanan UGM diwakili oleh Rausan Fikri dan Ahmad Ahista Salam. Keduanya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian di hadapan peserta dari berbagai program studi magister bidang perikanan dan kelautan. Rausan Fikri mempresentasikan penelitian berjudul “Pemanfaatan Hasil Samping Spirulina (Arthrospira platensis) sebagai Sumber Antioksidan dengan Fermentasi Menggunakan Berbagai Konsentrasi Glukosa.” Penelitian tersebut mengangkat pemanfaatan hasil samping Spirulina sebagai sumber antioksidan melalui proses fermentasi dengan penggunaan berbagai konsentrasi glukosa. Sementara itu, Ahmad Ahista Salam memaparkan penelitian berjudul “Social Impact Assessment: Penilaian Dimensi Sosial Ekonomi di Pelabuhan Perikanan Untia, Kota Makassar.” Penelitian tersebut mengangkat dimensi sosial ekonomi dalam konteks aktivitas pelabuhan perikanan. Kedua topik yang dipresentasikan menunjukkan keragaman penelitian mahasiswa Magister Ilmu Perikanan UGM, baik pada aspek pemanfaatan sumber daya berbasis bioteknologi maupun aspek sosial ekonomi perikanan.

Selain diseminasi penelitian mahasiswa, Academic Travelling 2026 juga menjadi forum sharing session mengenai pengelolaan program studi. Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi para pengelola dan peserta dari program studi serumpun untuk saling berbagi pengalaman, memperluas komunikasi akademik, dan memperkuat jejaring kerja sama di bidang perikanan dan kelautan. Ketua Pelaksana Academic Travelling 2026, Prof. Dr. A. Shofy Mubarak, S.Pi., M.Si., menyampaikan apresiasi atas partisipasi seluruh program studi yang mengikuti kegiatan. Ia menyampaikan bahwa pertemuan tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan serta memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu dan pengetahuan bidang perikanan dan kelautan.

Bagi Magister Ilmu Perikanan UGM, keterlibatan dalam Academic Travelling menjadi bagian dari pengembangan pengalaman akademik mahasiswa di luar lingkungan kampus. Forum tersebut memungkinkan mahasiswa untuk menyampaikan hasil penelitian, memperoleh perspektif dari berbagai bidang kajian, sekaligus membangun komunikasi dengan mahasiswa dan akademisi dari perguruan tinggi lain. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Airlangga Maritime Week 2026 yang bersamaan dengan pelaksanaan Seminar Nasional Bioteknologi Perikanan dan Kelautan, yang menghadirkan Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., dari Departemen Perikanan UGM dan Falasifah, S.Si., Direktur/CEO PT Alga Bioteknologi Indonesia (Albitec), sebagai narasumber. Rangkaian Academic Travelling 2026 ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama. Pada kesempatan tersebut, Universitas Trunojoyo Madura ditetapkan sebagai penyelenggara Academic Travelling tahun 2027. Penyelenggaraan tahun kelima ini juga diharapkan dapat terus berkembang dengan melibatkan lebih banyak program studi magister bidang perikanan dan kelautan, khususnya dari perguruan tinggi di Jawa dan sekitarnya.

Kegiatan Academic Travelling 2026 turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui diseminasi hasil penelitian, pertukaran pengalaman akademik, dan sharing session antarpengelola program studi, kegiatan ini mendorong penguatan kualitas pembelajaran serta pengembangan jejaring kolaborasi antarperguruan tinggi. Interaksi antarmahasiswa pascasarjana dari berbagai institusi juga membuka peluang bagi pertukaran pengetahuan dan pengembangan kerja sama akademik yang berkelanjutan dalam mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi di bidang perikanan dan kelautan.

Dosen THP UGM Dorong Diversifikasi Produk Olahan Tuna Bernilai Tambah

Berita Selasa, 15 September 2026

Semarang, 9 September 2026 — Dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Dr. Latif Sahubawa, turut berpartisipasi dalam The 9th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2026 di Semarang. Pada konferensi yang diselenggarakan 9 September 2026 tersebut, Dr. Latif mempresentasikan penelitian berjudul “Diversification, Quality Analysis, and Consumer Preference Level of Commercial Processed Tuna Products as a Leading Commodity in the Marine and Fisheries Sector.”

Penelitian ini membahas diversifikasi produk olahan tuna yang beredar secara komersial, analisis mutu produk, serta tingkat preferensi konsumen terhadap berbagai produk olahan berbahan baku tuna. Kajian tersebut menempatkan aspek mutu dan penerimaan konsumen sebagai bagian penting dalam pengembangan produk hasil perikanan bernilai tambah.

Tuna merupakan salah satu komoditas strategis dalam sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang dapat memenuhi kebutuhan dan selera konsumen. Diversifikasi menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas pemanfaatan tuna sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Melalui analisis mutu dan preferensi konsumen, penelitian ini memberikan gambaran mengenai karakteristik produk yang dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan produk olahan tuna. Pendekatan tersebut penting agar inovasi pengolahan hasil perikanan tidak hanya berorientasi pada aspek teknis produksi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan, penerimaan, dan kecenderungan konsumen.

Keikutsertaan Dr. Latif Sahubawa dalam ICTCRED 2026 menjadi bagian dari upaya dosen THP UGM untuk memperkenalkan hasil penelitian pada forum akademik internasional sekaligus memperkuat pertukaran pengetahuan mengenai pengembangan produk hasil perikanan. Kajian diversifikasi dan preferensi konsumen diharapkan dapat mendukung pengembangan industri pengolahan tuna yang lebih inovatif, kompetitif, dan mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan nilai tambah komoditas perikanan, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi produk olahan, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan produk perikanan yang lebih berorientasi pada kebutuhan dan preferensi konsumen.

Dosen THP UGM Bahas Pemanfaatan Lactiplantibacillus plantarum untuk Peningkatan Mutu Terasi

Berita Selasa, 15 September 2026

Semarang, 9 September 2026 — Dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Mgs. Muhammad Prima Putra, turut mempresentasikan hasil penelitian pada The 9th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2026 yang berlangsung di Semarang pada 9 September 2026. Dalam forum tersebut, ia mempresentasikan penelitian berjudul “Application of Lactiplantibacillus plantarum GMP 1 to Improve Quality, Safety, and Functional Properties of Rebon Shrimp Paste.”

Penelitian ini mengkaji pemanfaatan Lactiplantibacillus plantarum GMP 1 dalam proses pengolahan terasi berbahan dasar udang rebon. Kajian diarahkan untuk melihat potensi penggunaan mikroorganisme tersebut dalam meningkatkan mutu, keamanan, serta sifat fungsional produk hasil fermentasi.

Terasi merupakan salah satu produk olahan hasil perikanan yang telah lama menjadi bagian dari pangan masyarakat Indonesia. Namun, pengembangan kualitas produk dan pengendalian keamanan menjadi aspek penting untuk meningkatkan daya saingnya. Melalui pendekatan teknologi fermentasi, penelitian ini mengeksplorasi peluang untuk menghasilkan produk terasi dengan karakteristik yang lebih baik sekaligus memberikan nilai tambah terhadap komoditas udang rebon.

Pemanfaatan Lactiplantibacillus plantarum juga menunjukkan bagaimana teknologi fermentasi dapat dikembangkan tidak hanya untuk menghasilkan karakteristik produk yang diinginkan, tetapi juga sebagai pendekatan dalam pengembangan pangan fungsional dan peningkatan keamanan pangan. Kajian semacam ini menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan yang inovatif dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.

Keikutsertaan Muhammad Prima Putra dalam ICTCRED 2026 menjadi kesempatan untuk mendiseminasikan hasil penelitian sekaligus memperluas pertukaran pengetahuan mengenai inovasi pengolahan hasil perikanan. Penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan produk perikanan bernilai tambah yang aman, berkualitas, dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut pada skala industri.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan pangan berbasis sumber daya perikanan, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan keamanan dan sifat fungsional pangan, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi teknologi fermentasi dalam pengolahan hasil perikanan.

Dosen THP UGM Raih Best Oral Presenter pada The 9th ICTCRED 2026

Berita Selasa, 15 September 2026

Semarang, 9 September 2026 — Dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Indun Dewi Puspita, M.Sc., Ph.D berpartisipasi dalam The 9th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2026 yang diselenggarakan di Semarang pada 9 September 2026. Dalam konferensi internasional tersebut, Dr. Indun mempresentasikan hasil penelitiannya berjudul “Effect of Temperature on Growth and Histamine Formation of Klebsiella aerogenes E.1 in Yellowfin Tuna Flesh Model.”

Penelitian tersebut mengkaji pengaruh suhu terhadap pertumbuhan Klebsiella aerogenes E.1 serta pembentukan histamin pada model daging tuna sirip kuning (yellowfin tuna). Kajian ini menjadi penting dalam konteks mutu dan keamanan hasil perikanan, mengingat pengendalian suhu merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas ikan dan meminimalkan risiko pembentukan histamin selama penanganan dan penyimpanan.

Melalui penelitian tersebut, Dr. Indun menyoroti pentingnya pemahaman terhadap hubungan antara kondisi penyimpanan, pertumbuhan mikroorganisme, dan pembentukan senyawa yang berpotensi membahayakan konsumen. Hasil penelitian diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi pengendalian mutu dan keamanan produk perikanan, khususnya komoditas tuna yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Keikutsertaan dalam ICTCRED 2026 juga menjadi ruang bagi dosen THP UGM untuk memperluas jejaring akademik dan mendiseminasikan hasil penelitian pada forum internasional. Prestasi tersebut semakin istimewa dengan diraihnya penghargaan Best Oral Presenter oleh Dr. Indun Dewi Puspita. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kualitas penyampaian dan substansi penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi.

Partisipasi dan prestasi tersebut menunjukkan kontribusi riset THP UGM dalam menjawab tantangan keamanan pangan serta peningkatan mutu hasil perikanan. Kegiatan ini juga mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan keamanan pangan, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pengembangan pangan hasil perikanan yang aman dikonsumsi, serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

Seminar Selam Perikanan UGM Dorong Mahasiswa Kenali Dunia Bawah Air untuk Riset dan Konservasi

Berita Selasa, 15 September 2026

Yogyakarta, 11 September 2026 — Selam Perikanan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar Selam Perikanan 2026 pada Jumat (11/9). Mengangkat tema “Dive with Purpose: Menyelam untuk Riset, Konservasi dan Masa Depan Perikanan”, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai dunia bawah air sekaligus memahami peluang pemanfaatan keterampilan selam dalam bidang perikanan dan kelautan.

Seminar dibuka oleh Pembina Selam Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., IPU. Dalam sambutannya, Prof. Eko menyampaikan bahwa kegiatan selam memiliki relevansi yang kuat dengan bidang perikanan dan kelautan. Pengenalan terhadap dunia bawah air secara langsung dapat memberikan pengalaman dan wawasan yang tidak sepenuhnya diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas. “Kegiatan ini merupakan agenda untuk mengenalkan dan menambah wawasan tentang dunia bawah air yang sangat relevan dengan bidang perikanan dan kelautan. Banyak kesempatan yang bisa diperoleh dengan mengikuti kegiatan selam,” ujarnya.

Ketua Selam Perikanan UGM, Lhasa Aginza, menambahkan bahwa kegiatan selam tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan menyelam. Menurutnya, aktivitas tersebut juga menjadi sarana pembelajaran dan membangun kolaborasi. “Selam bukan hanya sekadar menyelam, tetapi belajar dan berkolaborasi,” kata Lhasa.

Seminar menghadirkan Ika Ristiyani Madyaningrum, S.Si., M.Sc. dari Sentra Selam Jogja sebagai pembicara. Ia mengajak peserta melihat laut sebagai ruang kehidupan yang perlu dijaga bersama. Menurutnya, laut tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dalam pengembangan bidang kelautan dan perikanan. “Laut adalah wadah kehidupan. Mari kita jaga bersama agar tetap lestari untuk generasi mendatang,” tuturnya. Melalui kegiatan selam, mahasiswa berkesempatan mengenal kondisi bawah air sekaligus memahami pentingnya konservasi dan menjaga ekosistem laut. Pengalaman tersebut juga dapat melengkapi pembelajaran akademik dengan keterampilan praktis yang diperoleh melalui organisasi, UKM, pelatihan, maupun kegiatan lapangan. Keterampilan yang diperoleh dari aktivitas selam juga memiliki keterkaitan dengan berbagai peluang di bidang perikanan dan kelautan, seperti penelitian, konservasi, jasa kelautan, dan wisata bahari. Kepemilikan lisensi selam dan sertifikasi kompetensi dapat menjadi nilai tambah bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Seminar diikuti lebih dari 50 peserta, terdiri atas dosen serta mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai angkatan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kegiatan selam dapat menjadi salah satu ruang pengembangan kompetensi mahasiswa di luar kegiatan akademik formal. Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan open recruitment anggota baru Selam Perikanan UGM. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk bergabung dan mengembangkan pengalaman, keterampilan, serta jejaring dalam dunia selam dan perikanan.

Kegiatan Seminar Selam Perikanan 2026 turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan pengetahuan dan keterampilan praktis mahasiswa, SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui peningkatan kesadaran terhadap konservasi dan keberlanjutan ekosistem laut, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, organisasi mahasiswa, dan praktisi di bidang selam, perikanan, dan kelautan. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki kompetensi, kepedulian, dan kemampuan kolaboratif untuk berkontribusi pada pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan.

123…36
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY