• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Mahasiswa Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Juara I Pentahelix Student Aquaculture Challenge 2026

Berita Selasa, 27 Oktober 2026

Semarang, 23 Oktober 2026 – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Dua mahasiswa Program Magister (S2) Ilmu Perikanan UGM, Putri Kumala Prabowo dan Alya Putri Mezzaluna, berhasil meraih Juara I Pentahelix Student Aquaculture Challenge 2026 dalam rangkaian kegiatan The International Conference on Aquaculture Indonesia (ICAI) 2026 yang diselenggarakan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) di Hotel Tentrem, Semarang pada 21-22 Oktober 2026. .

Dalam kompetisi tersebut, kedua mahasiswa tergabung dalam satu tim untuk mempresentasikan gagasan sekaligus hasil riset mengenai pemanfaatan bakteriofag sebagai solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan penyakit pada budidaya udang. Riset ini dilaksanakan di bawah bimbingan Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen UGM yang memiliki bidang keahlian mikrobiologi akuakultur.

Bakteriofag merupakan virus yang secara spesifik menginfeksi bakteri. Pemanfaatannya menjadi salah satu pendekatan yang menjanjikan dalam pengendalian bakteri patogen pada budidaya perikanan, khususnya udang, yang selama ini menghadapi tantangan penyakit dan kebutuhan akan strategi pengendalian yang lebih tepat sasaran. Melalui penelitian ini, tim UGM menawarkan perspektif pemanfaatan hasil riset mikrobiologi untuk menjawab permasalahan nyata di sektor akuakultur.

Presentasi tim UGM mendapatkan sambutan positif dari para pelaku industri budidaya udang yang hadir dalam kegiatan tersebut. Respons ini membuka peluang bagi pengembangan riset lebih lanjut, khususnya untuk mendorong hilirisasi teknologi bakteriofag agar dapat diimplementasikan dan memberikan manfaat nyata bagi para pembudidaya. Dukungan dari dunia industri menjadi salah satu aspek penting dalam menjembatani hasil penelitian akademik dengan kebutuhan di lapangan.

Pentahelix Student Aquaculture Challenge 2026 mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk berkompetisi melalui gagasan dan hasil penelitian di bidang akuakultur. Pendekatan pentahelix menempatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media sebagai unsur yang saling melengkapi dalam pembangunan akuakultur Indonesia. Kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan ilmiah, menyampaikan inovasi, serta membangun komunikasi dengan pemangku kepentingan di sektor perikanan dan budidaya.

Bagi Putri Kumala dan Alya Mezzaluna, pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan akademik, tetapi juga pengalaman berharga yang memperkuat keyakinan mereka untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor akuakultur Indonesia. Pengalaman mempresentasikan hasil penelitian di hadapan akademisi dan pelaku industri memberikan perspektif baru mengenai pentingnya riset yang tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Keduanya berharap dapat terus mengembangkan kompetensi dan menghasilkan inovasi yang relevan bagi industri budidaya perikanan. Mereka juga memiliki tekad untuk mengambil peran lebih besar dalam perkembangan akuakultur di masa depan dan menjadi game changer melalui kontribusi ilmiah, inovasi teknologi, serta penerapan hasil riset yang berdampak nyata.

Prestasi Putri Kumala Prabowo dan Alya Putri Mezzaluna menunjukkan potensi generasi muda UGM dalam menghadirkan solusi berbasis sains bagi tantangan akuakultur. Capaian ini sekaligus memperkuat pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam mendorong inovasi yang berkelanjutan bagi kemajuan sektor perikanan Indonesia.

Prestasi ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kompetensi, kreativitas, dan kapasitas inovasi mahasiswa berbasis riset; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan teknologi bakteriofag sebagai alternatif inovatif dalam pengendalian penyakit pada budidaya udang; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan pemangku kepentingan akuakultur. Selain itu, pemanfaatan bakteriofag sebagai pendekatan pengendalian bakteri patogen yang lebih spesifik juga berpotensi mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan praktik budidaya perikanan yang lebih berkelanjutan, produktif, dan ramah lingkungan.

Departemen Perikanan UGM Sosialisasikan Pencatatan Digital dan Aplikasi “Mina Arta”, “Mina Candika”, serta “Kalkulator Budidaya” untuk Mendukung Budidaya Ikan

Berita Kamis, 22 Oktober 2026

Yogyakarta, 9 Oktober 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), berpartisipasi dalam kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan Produk Perikanan Budidaya dari Hulu hingga Hilir yang diselenggarakan pada Jumat (9/10/2026), pukul 13.00–16.00 WIB, di Ruang Gurami Lantai 2, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan unit kerja budidaya perikanan, kelompok pembudidaya ikan, unit pembenihan rakyat, pelaku usaha perikanan, penyuluh perikanan, serta pengelola usaha budidaya ikan pada Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pelaku usaha perikanan dalam menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, mulai dari aspek budidaya hingga pengolahan dan pemasaran produk. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM turut memperkenalkan pentingnya pencatatan digital dalam usaha perikanan melalui pemanfaatan aplikasi Banoo sebagai salah satu upaya mendukung pengelolaan usaha budidaya ikan yang lebih terencana dan efisien.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R. Hery Sulistio Hermawan, S.Pi., M.T., bersama Dra. Hj. Sri Muslimatun dari DPRD DIY. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai pencatatan digital dan pengenalan fitur-fitur aplikasi BanooTM yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha budidaya ikan. Materi pertama disampaikan oleh Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D., dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, dengan judul “Sosialisasi Pencatatan Digital dalam Usaha Perikanan.” Dalam pemaparannya, dijelaskan tentang pentingnya pencatatan usaha sebagai bagian dari pengelolaan budidaya ikan. Praktik pencatatan manual yang masih banyak mengandalkan ingatan dan perkiraan dapat menimbulkan sejumlah kendala, seperti risiko kehilangan atau kerusakan catatan, ketidakakuratan perhitungan harga pokok produksi (HPP), serta tidak terpisahnya pencatatan keuangan rumah tangga dan operasional usaha. Selain itu, keterbatasan pencatatan juga dapat menyulitkan pembudidaya dalam memantau parameter penting selama siklus produksi, seperti Feed Conversion Ratio (FCR), Survival Rate (SR), dan kualitas air. Tanpa pencatatan yang memadai, evaluasi penggunaan pakan, tingkat kelangsungan hidup ikan, dan kondisi kolam menjadi kurang optimal karena sebagian informasi hanya didasarkan pada perkiraan.

Pencatatan keuangan yang belum tertata juga dapat menjadi kendala ketika pelaku usaha membutuhkan laporan untuk mengakses pembiayaan atau permodalan dari lembaga keuangan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi digital diperkenalkan sebagai alternatif untuk membantu meningkatkan akurasi dan efisiensi pencatatan, mendukung pemantauan kegiatan budidaya, memperkuat ketertelusuran proses produksi (traceability), serta mempermudah pengelolaan usaha, termasuk ketika pembudidaya perlu memantau aktivitas dari jarak jauh. Sebagai salah satu rekomendasi untuk mendukung transformasi digital di sektor perikanan budidaya, Departemen Perikanan UGM memperkenalkan aplikasi BanooTM yang dirancang untuk membantu pembudidaya mengelola catatan kegiatan dan keuangan usaha secara lebih praktis melalui telepon genggam.

 Materi kedua disampaikan oleh Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., dari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, dengan judul “Panduan Pintar Aplikasi BanooTM untuk Budidaya Ikan.” Aplikasi BanooTM dikembangkan oleh Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D. bersama Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., Fakhrudin Hary Santoso, S.Pi., Erlangga Pradipta, S.T., dan Nava Farah Aszahra, S.Tr.T. Sebelum memasuki sesi materi, peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui pemahaman awal mengenai pencatatan digital dan penggunaan aplikasi. Selanjutnya, peserta diperkenalkan pada berbagai fitur BanooTM beserta pemanfaatannya dalam mendukung kegiatan budidaya dan pengelolaan keuangan usaha.

Secara umum, BanooTM dikembangkan untuk membantu pembudidaya merapikan pencatatan yang sebelumnya dilakukan secara manual agar dapat tersimpan lebih aman dan mudah diakses melalui telepon genggam. Aplikasi ini menyediakan sejumlah fitur yang mendukung kebutuhan perencanaan, pencatatan keuangan, pemantauan budidaya, hingga pengendalian peralatan kolam. Fitur Smart Plug berbasis Internet of Things (IoT) memungkinkan pengguna melakukan pengendalian peralatan dari jarak jauh, memantau penggunaan listrik, serta menerima notifikasi dan pengingat jadwal pengoperasian aerator. Fitur ini diharapkan dapat membantu pembudidaya mengelola penggunaan peralatan kolam secara lebih praktis. Fitur Kalkulator Budidaya membantu pengguna memperkirakan kebutuhan produksi sebelum memulai siklus budidaya. Melalui fitur ini, pembudidaya dapat melakukan estimasi kebutuhan pakan dan biaya benih, memproyeksikan volume panen serta harga jual, dan membandingkan total biaya dengan potensi pendapatan untuk memperkirakan keuntungan atau kerugian usaha. Sementara itu, fitur Mina Arta berfungsi sebagai buku kas digital untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran serta membantu memisahkan arus kas usaha. Fitur ini juga mencakup pencatatan utang-piutang, rekapitulasi keuangan bulanan, perhitungan keuntungan secara otomatis, indikator kebutuhan penghematan, dan penyusunan laporan dalam format PDF. Dengan pencatatan yang lebih terstruktur, pembudidaya diharapkan dapat mengevaluasi kondisi keuangan dan mengambil keputusan usaha berdasarkan informasi yang tercatat. Adapun fitur Mina Candika merupakan fasilitas penjurnalan budidaya ikan yang membantu pengguna mencatat dan memantau perkembangan kolam secara lebih spesifik. Melalui pencatatan aktivitas budidaya secara berkala, pembudidaya dapat membangun dokumentasi siklus produksi yang lebih sistematis sebagai bahan evaluasi pengelolaan kolam.

Pengenalan berbagai fitur tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pencatatan, perencanaan, dan pemantauan kegiatan budidaya ikan. Setelah penyampaian materi dan pengenalan aplikasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta menyampaikan pertanyaan serta berbagi pengalaman mengenai kondisi dan kebutuhan pencatatan yang dihadapi dalam praktik budidaya ikan di lapangan. Diskusi ini juga menjadi ruang bagi peserta untuk memberikan saran dan masukan terkait pengembangan aplikasi BanooTM agar fitur-fitur yang tersedia semakin sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata pelaku usaha perikanan. Masukan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan aplikasi sehingga pemanfaatannya dapat mendukung pengelolaan usaha budidaya ikan secara lebih efektif.

Sebagai penutup, peserta mengikuti post-test untuk mengetahui pemahaman setelah mengikuti sosialisasi dan pengenalan aplikasi. Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM turut mendorong penguatan kapasitas pelaku usaha perikanan dalam memanfaatkan teknologi digital, khususnya untuk mendukung pencatatan usaha dan pengelolaan budidaya ikan. Penerapan pencatatan yang lebih tertata diharapkan dapat membantu pembudidaya meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat pengelolaan keuangan, serta menyediakan informasi yang lebih baik untuk mendukung keberlanjutan usaha perikanan budidaya.

Kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui dukungan terhadap penguatan sektor perikanan budidaya sebagai salah satu sumber pangan berkelanjutan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha dalam mengelola kegiatan budidaya secara lebih efisien dan meningkatkan daya saing usaha; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi teknologi digital dan Internet of Things (IoT) dalam pengelolaan usaha perikanan; serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penguatan pencatatan, pemantauan, dan evaluasi proses produksi yang lebih terukur. Pemanfaatan aplikasi BanooTM diharapkan dapat mendorong transformasi digital sektor perikanan budidaya sekaligus mendukung praktik produksi yang lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan.

Faperta UGM dan SEAQIS Perkuat Kolaborasi, Dorong Integrasi Sains, Pendidikan, dan Perikanan Berkelanjutan

Berita Rabu, 7 Oktober 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM), melalui Departemen Perikanan, memperkuat jejaring kolaborasi dengan Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Quality Improvement of Teacher and Education Personnel in Science (SEAQIS). Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk mempertemukan kekuatan pendidikan tinggi, riset perikanan, dan pengembangan pendidikan sains dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun regional Asia Tenggara.

SEAQIS merupakan salah satu pusat regional SEAMEO yang memiliki mandat dalam meningkatkan kualitas pengembangan profesional guru dan tenaga kependidikan bidang sains di Asia Tenggara. Selain menyelenggarakan program pelatihan dan pengembangan kapasitas, SEAQIS juga mengembangkan kegiatan penelitian, pengembangan, serta penguatan jejaring dan pertukaran pengetahuan di bidang pendidikan sains.

Dalam konteks tersebut, Departemen Perikanan Faperta UGM memiliki peluang strategis untuk menghadirkan perspektif ilmu perikanan dan kelautan ke dalam pengembangan pendidikan sains. Perikanan merupakan bidang multidisiplin yang tidak hanya berkaitan dengan sumber daya ikan, tetapi juga mencakup ekologi, teknologi, pangan, ekonomi, masyarakat, hingga perubahan iklim. Kompleksitas tersebut membutuhkan pendekatan pembelajaran yang mampu menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Kolaborasi Faperta UGM dan SEAQIS diharapkan dapat berkembang dalam berbagai bentuk kegiatan, mulai dari pengembangan program pendidikan dan pelatihan, pertukaran pengetahuan, pengembangan materi pembelajaran berbasis isu perikanan dan kelautan, hingga penelitian kolaboratif. Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang bagi pengembangan pembelajaran berbasis STEM yang mengangkat persoalan nyata seperti keberlanjutan sumber daya perikanan, perubahan iklim, ketahanan pangan, akuakultur, pencemaran lingkungan, dan pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sumber daya perairan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, kerja sama ini juga menjadi peluang untuk memperluas dampak keilmuan dari lingkungan perguruan tinggi menuju ekosistem pendidikan yang lebih luas. Pengetahuan dan inovasi yang dikembangkan melalui riset perikanan dapat diterjemahkan menjadi materi, metode, dan pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual bagi generasi muda. Sebaliknya, jejaring SEAQIS di bidang pendidikan sains dapat menjadi ruang strategis bagi akademisi perikanan untuk memahami kebutuhan pengembangan literasi sains dan kapasitas sumber daya manusia di kawasan Asia Tenggara.

Kerja sama ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM untuk terus memperluas jejaring kemitraan nasional dan internasional. Departemen Perikanan UGM sendiri secara aktif membangun kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan, lembaga penelitian, pemerintah, dan sektor industri untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, dan teknologi di bidang perikanan dan kelautan.

Lebih jauh, sinergi Faperta UGM dan SEAQIS diharapkan tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang menghasilkan program nyata dan berkelanjutan. Integrasi antara keunggulan riset perguruan tinggi dengan pengalaman SEAQIS dalam pengembangan pendidikan sains dapat menciptakan model pembelajaran yang lebih inovatif, relevan, dan responsif terhadap tantangan sosial-ekologi di kawasan Asia Tenggara.

Kolaborasi tersebut juga memperkuat kontribusi kedua institusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan kualitas pendidikan dan pengembangan kapasitas; SDG 14: Ekosistem Lautan, melalui peningkatan literasi dan kesadaran mengenai keberlanjutan sumber daya perairan; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui pembangunan jejaring kolaborasi lintas institusi dan negara. Dengan demikian, kerja sama Faperta UGM dan SEAQIS tidak hanya memperkuat hubungan kelembagaan, tetapi juga membuka ruang baru bagi hadirnya pendidikan dan riset perikanan yang semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan berkelanjutan di Asia Tenggara.

Pusat Kolaborasi Riset Rekayasa Bioproduk Alga UGM Perkuat Kolaborasi Riset dan Hilirisasi Potensi Alga Indonesia

Berita Rabu, 7 Oktober 2026

Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Rekayasa Bioproduk Alga Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat jejaring kolaborasi riset dan pengembangan produk berbasis alga melalui rangkaian kunjungan dan diskusi dengan mitra akademik serta industri pada 5 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan dipimpin oleh Ketua PKR Rekayasa Bioproduk Alga UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., bersama tim UGM dan BRIN.

Kegiatan diawali dengan pertemuan bersama Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D. dari PKR Perancah Biomedis, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM. Pertemuan tersebut membahas peluang kolaborasi antara PKR Rekayasa Bioproduk Alga dan PKR Perancah Biomedis, khususnya dalam mengintegrasikan potensi bahan dan senyawa bioaktif yang berasal dari alga dengan pengembangan material untuk aplikasi biomedis. Setelah pertemuan di FKG UGM, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi PKR Rekayasa Bioproduk Alga di Departemen Perikanan UGM. Diskusi membahas arah pengembangan PKR ke depan, termasuk strategi penelitian, penguatan jejaring kolaborasi, pengembangan produk, serta peluang hilirisasi hasil riset. Dalam diskusi tersebut, pengembangan bioproduk berbasis alga diarahkan pada berbagai sektor potensial, terutama bidang medis dan biomedis.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan dan diskusi ke CV Indo Raya Internasional sebagai mitra industri. Pertemuan ini membahas peluang kerja sama dalam pengembangan dan hilirisasi produk kosmetik berbasis alga. Keterlibatan mitra industri dinilai penting untuk memastikan hasil riset dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan peluang pasar, sehingga tidak berhenti pada tahap publikasi ilmiah, tetapi dapat dilanjutkan menuju produk yang aplikatif dan memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi peluang penelitian bersama, pengembangan prototipe, serta penyusunan program kolaboratif yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pemanfaatan sumber daya alga sebagai bahan baku bioproduk inovatif. Kolaborasi ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan riset, inovasi, dan hilirisasi bioproduk berbasis alga; SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan pemanfaatan sumber daya alga yang bernilai tambah dan berkelanjutan; serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan sektor industri. Pengembangan bioproduk alga diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi berbasis pengetahuan, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan, menciptakan nilai ekonomi, dan memperkuat kontribusi riset Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan.

Mahasiswa Akuakultur UGM Raih Tiga Penghargaan di International Youth Innovation Summit Malaysia

Berita Jumat, 25 September 2026

Mahasiswa Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Vito Nathaniel Prabowo, berhasil menorehkan prestasi internasional melalui ajang International Youth Innovation Summit yang diselenggarakan di Malaysia. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Akuakultur angkatan 2024 ini berhasil meraih tiga penghargaan, yaitu Juara 1 Best Video Project, Juara 2 Best Project Innovation, dan Juara 3 Best Presentation.

Prestasi tersebut diraih Vito bersama tim INOVARTHA, sebuah tim lintas perguruan tinggi yang beranggotakan mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Universitas Brawijaya. Dalam tim tersebut, Vito Nathaniel Prabowo dari Fakultas Pertanian UGM berperan sebagai ketua kelompok. Ia berkolaborasi dengan Dinar Aulia Al-Ali dari Fakultas Peternakan UGM, Muhammad Ridho Syahputra dari Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, serta Nindya Karonawitri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.

Melalui INOVARTHA, tim mengembangkan gagasan PADI (Platform Agri-Desa Inovatif) sebagai sebuah platform yang dirancang untuk mendukung penguatan ekosistem pertanian dan meningkatkan keterhubungan antara produsen di tingkat desa dengan rantai pasar. Gagasan tersebut dikembangkan melalui sejumlah fitur inovatif, di antaranya Harvest Aggregator Hub, Dashboard PANTAU, sistem grading dan pendampingan kualitas, serta akses pasar business-to-business (B2B).

Konsep yang dikembangkan INOVARTHA tidak hanya menempatkan teknologi sebagai sarana digitalisasi, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat konektivitas antarpelaku dalam rantai nilai pertanian. Melalui integrasi informasi produksi, pengelolaan hasil panen, pengendalian kualitas, dan akses pasar, PADI diarahkan untuk membantu menciptakan ekosistem yang lebih terhubung antara petani, pendamping, pengelola hasil, dan pasar.

Keberhasilan Vito dan tim dalam ajang internasional tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas perguruan tinggi dalam menghasilkan gagasan inovatif. Latar belakang anggota tim yang berasal dari bidang pertanian, peternakan, teknik, dan ekonomi dan bisnis memungkinkan pengembangan PADI dilakukan dengan perspektif yang lebih beragam, mulai dari aspek produksi dan teknologi hingga pengelolaan serta akses pasar.

Bagi Departemen Perikanan UGM, prestasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan kapasitas mahasiswa untuk berinovasi dan berkolaborasi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan. Meskipun gagasan yang dikembangkan berfokus pada ekosistem pertanian, pengalaman Vito dalam membangun inovasi, bekerja dalam tim multidisiplin, serta berkompetisi pada tingkat internasional merupakan kompetensi yang relevan dengan pengembangan sektor perikanan dan akuakultur yang semakin membutuhkan integrasi teknologi, kewirausahaan, dan pendekatan lintas sektor.

Prestasi Vito dan tim juga sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Pengembangan PADI melalui pemanfaatan teknologi, penguatan rantai nilai, peningkatan akses pasar, dan kolaborasi lintas perguruan tinggi menunjukkan bagaimana inovasi mahasiswa dapat diarahkan untuk mendukung sistem pangan yang lebih terhubung, inklusif, dan berkelanjutan. Rangkaian prestasi ini sekaligus memperlihatkan peran generasi muda dalam membangun inovasi melalui kolaborasi dan pemanfaatan pengetahuan untuk menjawab tantangan pembangunan.

Magister Ilmu Perikanan UGM Perkuat Jejaring Akademik melalui Academic Travelling 2026

Berita Senin, 21 September 2026

Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) turut memperkuat jejaring akademik antarpascasarjana bidang perikanan dan kelautan melalui Academic Travelling 2026. Kegiatan yang memasuki penyelenggaraan kelima tersebut dilaksanakan di Gedung Kuliah Bersama Kampus C Universitas Airlangga (Unair), Minggu (20/9). Keikutsertaan Magister Ilmu Perikanan UGM dalam kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus berinteraksi dan bertukar pengalaman dengan mahasiswa dari berbagai program studi serumpun. Academic Travelling 2026 diikuti kurang lebih 50 mahasiswa pascasarjana dari sejumlah perguruan tinggi di Pulau Jawa, termasuk UGM, Universitas Diponegoro, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Trunojoyo Madura.

Dalam forum diseminasi hasil penelitian mahasiswa, Magister Ilmu Perikanan UGM diwakili oleh Rausan Fikri dan Ahmad Ahista Salam. Keduanya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian di hadapan peserta dari berbagai program studi magister bidang perikanan dan kelautan. Rausan Fikri mempresentasikan penelitian berjudul “Pemanfaatan Hasil Samping Spirulina (Arthrospira platensis) sebagai Sumber Antioksidan dengan Fermentasi Menggunakan Berbagai Konsentrasi Glukosa.” Penelitian tersebut mengangkat pemanfaatan hasil samping Spirulina sebagai sumber antioksidan melalui proses fermentasi dengan penggunaan berbagai konsentrasi glukosa. Sementara itu, Ahmad Ahista Salam memaparkan penelitian berjudul “Social Impact Assessment: Penilaian Dimensi Sosial Ekonomi di Pelabuhan Perikanan Untia, Kota Makassar.” Penelitian tersebut mengangkat dimensi sosial ekonomi dalam konteks aktivitas pelabuhan perikanan. Kedua topik yang dipresentasikan menunjukkan keragaman penelitian mahasiswa Magister Ilmu Perikanan UGM, baik pada aspek pemanfaatan sumber daya berbasis bioteknologi maupun aspek sosial ekonomi perikanan.

Selain diseminasi penelitian mahasiswa, Academic Travelling 2026 juga menjadi forum sharing session mengenai pengelolaan program studi. Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi para pengelola dan peserta dari program studi serumpun untuk saling berbagi pengalaman, memperluas komunikasi akademik, dan memperkuat jejaring kerja sama di bidang perikanan dan kelautan. Ketua Pelaksana Academic Travelling 2026, Prof. Dr. A. Shofy Mubarak, S.Pi., M.Si., menyampaikan apresiasi atas partisipasi seluruh program studi yang mengikuti kegiatan. Ia menyampaikan bahwa pertemuan tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan serta memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu dan pengetahuan bidang perikanan dan kelautan.

Bagi Magister Ilmu Perikanan UGM, keterlibatan dalam Academic Travelling menjadi bagian dari pengembangan pengalaman akademik mahasiswa di luar lingkungan kampus. Forum tersebut memungkinkan mahasiswa untuk menyampaikan hasil penelitian, memperoleh perspektif dari berbagai bidang kajian, sekaligus membangun komunikasi dengan mahasiswa dan akademisi dari perguruan tinggi lain. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Airlangga Maritime Week 2026 yang bersamaan dengan pelaksanaan Seminar Nasional Bioteknologi Perikanan dan Kelautan, yang menghadirkan Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., dari Departemen Perikanan UGM dan Falasifah, S.Si., Direktur/CEO PT Alga Bioteknologi Indonesia (Albitec), sebagai narasumber. Rangkaian Academic Travelling 2026 ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama. Pada kesempatan tersebut, Universitas Trunojoyo Madura ditetapkan sebagai penyelenggara Academic Travelling tahun 2027. Penyelenggaraan tahun kelima ini juga diharapkan dapat terus berkembang dengan melibatkan lebih banyak program studi magister bidang perikanan dan kelautan, khususnya dari perguruan tinggi di Jawa dan sekitarnya.

Kegiatan Academic Travelling 2026 turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui diseminasi hasil penelitian, pertukaran pengalaman akademik, dan sharing session antarpengelola program studi, kegiatan ini mendorong penguatan kualitas pembelajaran serta pengembangan jejaring kolaborasi antarperguruan tinggi. Interaksi antarmahasiswa pascasarjana dari berbagai institusi juga membuka peluang bagi pertukaran pengetahuan dan pengembangan kerja sama akademik yang berkelanjutan dalam mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi di bidang perikanan dan kelautan.

Seminar Selam Perikanan UGM Dorong Mahasiswa Kenali Dunia Bawah Air untuk Riset dan Konservasi

Berita Selasa, 15 September 2026

Yogyakarta, 11 September 2026 — Selam Perikanan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar Selam Perikanan 2026 pada Jumat (11/9). Mengangkat tema “Dive with Purpose: Menyelam untuk Riset, Konservasi dan Masa Depan Perikanan”, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai dunia bawah air sekaligus memahami peluang pemanfaatan keterampilan selam dalam bidang perikanan dan kelautan.

Seminar dibuka oleh Pembina Selam Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., IPU. Dalam sambutannya, Prof. Eko menyampaikan bahwa kegiatan selam memiliki relevansi yang kuat dengan bidang perikanan dan kelautan. Pengenalan terhadap dunia bawah air secara langsung dapat memberikan pengalaman dan wawasan yang tidak sepenuhnya diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas. “Kegiatan ini merupakan agenda untuk mengenalkan dan menambah wawasan tentang dunia bawah air yang sangat relevan dengan bidang perikanan dan kelautan. Banyak kesempatan yang bisa diperoleh dengan mengikuti kegiatan selam,” ujarnya.

Ketua Selam Perikanan UGM, Lhasa Aginza, menambahkan bahwa kegiatan selam tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan menyelam. Menurutnya, aktivitas tersebut juga menjadi sarana pembelajaran dan membangun kolaborasi. “Selam bukan hanya sekadar menyelam, tetapi belajar dan berkolaborasi,” kata Lhasa.

Seminar menghadirkan Ika Ristiyani Madyaningrum, S.Si., M.Sc. dari Sentra Selam Jogja sebagai pembicara. Ia mengajak peserta melihat laut sebagai ruang kehidupan yang perlu dijaga bersama. Menurutnya, laut tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dalam pengembangan bidang kelautan dan perikanan. “Laut adalah wadah kehidupan. Mari kita jaga bersama agar tetap lestari untuk generasi mendatang,” tuturnya. Melalui kegiatan selam, mahasiswa berkesempatan mengenal kondisi bawah air sekaligus memahami pentingnya konservasi dan menjaga ekosistem laut. Pengalaman tersebut juga dapat melengkapi pembelajaran akademik dengan keterampilan praktis yang diperoleh melalui organisasi, UKM, pelatihan, maupun kegiatan lapangan. Keterampilan yang diperoleh dari aktivitas selam juga memiliki keterkaitan dengan berbagai peluang di bidang perikanan dan kelautan, seperti penelitian, konservasi, jasa kelautan, dan wisata bahari. Kepemilikan lisensi selam dan sertifikasi kompetensi dapat menjadi nilai tambah bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Seminar diikuti lebih dari 50 peserta, terdiri atas dosen serta mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai angkatan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kegiatan selam dapat menjadi salah satu ruang pengembangan kompetensi mahasiswa di luar kegiatan akademik formal. Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan open recruitment anggota baru Selam Perikanan UGM. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk bergabung dan mengembangkan pengalaman, keterampilan, serta jejaring dalam dunia selam dan perikanan.

Kegiatan Seminar Selam Perikanan 2026 turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan pengetahuan dan keterampilan praktis mahasiswa, SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui peningkatan kesadaran terhadap konservasi dan keberlanjutan ekosistem laut, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, organisasi mahasiswa, dan praktisi di bidang selam, perikanan, dan kelautan. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki kompetensi, kepedulian, dan kemampuan kolaboratif untuk berkontribusi pada pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM Hadirkan Orasi Ilmiah tentang Transformasi Strategis Perikanan Budi Daya Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sekaligus membahas masa depan sektor perikanan Indonesia. Salah satu agenda utama dalam perayaan tersebut adalah Orasi Ilmiah bertajuk “Perikanan Budi Daya Indonesia Berkelanjutan, Inovatif, Mendunia: Transformasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045.”

Orasi ilmiah disampaikan oleh Rokhmad Mohammad Rofiq, S.Pi., M.App.Sc., Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Dalam paparannya, ia menempatkan perikanan budi daya sebagai sektor strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan agenda ekonomi biru Indonesia.

Rokhmad menekankan bahwa masa depan perikanan budi daya Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Transformasi perlu diarahkan pada sistem budi daya yang lebih produktif, berkelanjutan, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Menurut materi orasi, transformasi tersebut mencakup pergeseran dari ekspansi kawasan menuju produktivitas berbasis daya dukung ekosistem, dari ketergantungan input menuju penguatan kapabilitas domestik, serta dari sekadar adopsi teknologi menuju pembangunan ekosistem inovasi.

Teknologi dalam konteks tersebut tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pengungkit kemampuan pelaku perikanan dalam menghadapi perubahan. Pemanfaatan teknologi perlu didukung kemampuan untuk membaca perubahan, menangkap peluang, dan melakukan transformasi dalam sistem produksi.

Transformasi juga perlu terjadi pada cara melihat keberhasilan sektor perikanan. Pengembangan perikanan tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah produksi, tetapi juga berdasarkan nilai ekonomi, lapangan kerja, efisiensi, dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Karena itu, pengembangan budi daya perlu terhubung dengan keseluruhan rantai nilai, mulai dari pakan dan produksi, panen, pengolahan, rantai dingin, hingga pemasaran. Pendekatan value-chain-based development menjadi penting agar komoditas perikanan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan memiliki daya saing di pasar global.

Pada saat yang sama, orientasi menuju pasar dunia harus diikuti dengan peningkatan standar kualitas, keamanan pangan, traceability, keberlanjutan, serta konsistensi pasokan.

Salah satu pesan penting dalam orasi adalah bahwa peningkatan produktivitas tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem. Pengembangan perikanan budi daya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kualitas air, penyakit, limbah, serta keberadaan ekosistem pendukung.

Transformasi juga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, pembudidaya, perguruan tinggi, peneliti, lembaga pembiayaan, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang saling mendukung. Dalam pendekatan ini, pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai strategic orchestrator yang mempertemukan berbagai kepentingan dan sumber daya.

Bagi Departemen Perikanan UGM, gagasan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut menjadi relevan dengan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang adaptif dan inovatif.

Mahasiswa dan akademisi perikanan perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan secara lebih luas—tidak hanya mengenai produksi ikan, tetapi juga teknologi, ekonomi, lingkungan, rantai nilai, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat. Perspektif lintas bidang tersebut menjadi semakin penting untuk menghadapi kompleksitas sektor perikanan di masa depan.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM melalui orasi ilmiah ini sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen Departemen Perikanan dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Orasi ilmiah ini sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan perikanan budi daya yang produktif, inovatif, berkelanjutan, dan kolaboratif menuju Indonesia Emas 2045.

Puncak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Paparkan Capaian dan Arah Pengembangan Perikanan Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan, capaian, sekaligus arah pengembangan Departemen Perikanan dalam menjawab tantangan perikanan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Departemen Perikanan menyampaikan Laporan Tahunan 2026 yang merangkum perkembangan bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan institusi, kemitraan, publikasi, hingga prestasi mahasiswa. Laporan ini sekaligus memperlihatkan kontribusi Departemen Perikanan dalam mewujudkan tema HUT ke-63, “Perikanan Indonesia: Berkelanjutan, Inovatif, dan Mendunia.”

Pada tahun akademik 2026/2027, Departemen Perikanan UGM menaungi 1.020 mahasiswa aktif yang tersebar pada Program Studi Akuakultur, Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Teknologi Hasil Perikanan (THP), Magister Ilmu Perikanan (MIP), serta program doktor. Tahun ini juga tercatat 235 mahasiswa baru program sarjana, menunjukkan minat yang terus berkembang terhadap pendidikan tinggi di bidang perikanan.

Perkembangan akademik tersebut didukung oleh 38 dosen aktif pada tiga program studi sarjana, serta tenaga pendidik pada jenjang magister dan doktor. Departemen juga terus memperkuat kapasitas akademiknya melalui kehadiran dosen baru dan program tugas belajar di berbagai universitas internasional, termasuk di Jepang, Tiongkok, Australia, dan Turki.

Dari sisi sarana pembelajaran, Departemen Perikanan memiliki berbagai laboratorium yang mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian, antara lain Laboratorium Akuakultur, Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, Sosial Ekonomi dan Penangkapan Ikan, Manajemen Sumberdaya Perikanan, serta Teknologi Pengolahan Ikan. Fasilitas tersebut dilengkapi pula dengan Ruang Penelitian Ilmu Perairan Maju dan Teaching Farm Akuakultur.

Pada bidang penelitian, Departemen Perikanan mencatat 104 judul penelitian pada 2026 dengan total dana sekitar Rp10,75 miliar, yang terdiri atas Rp1,73 miliar dana internal dan Rp9,02 miliar dana eksternal. Dominasi pendanaan eksternal yang mencapai 83,9% menunjukkan semakin kuatnya kemampuan sivitas akademika dalam membangun jejaring dan memperoleh dukungan penelitian dari berbagai sumber.

Produktivitas ilmiah juga terus berkembang. Pada 2026 tercatat 73 publikasi terindeks Scopus dan 130 publikasi yang tercatat di Google Scholar, dengan jumlah sitasi masing-masing mencapai 1.578 dan 1.792.

Tidak berhenti pada publikasi, hasil penelitian juga diarahkan menuju hilirisasi. Sejumlah inovasi yang dikembangkan mencakup probiotik, nano-spirulina fermentasi, biofilter rumput laut, garam kosmetik dan terapi, aplikasi digital untuk perikanan tangkap dan budi daya, hingga sistem resirkulasi akuakultur dan teknologi pengolahan hasil perikanan. Departemen juga mencatat sejumlah kekayaan intelektual yang telah memperoleh maupun sedang dalam proses perlindungan.

Kontribusi Departemen Perikanan juga diwujudkan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Pada 2026 terdapat 104 judul kegiatan pengabdian dengan dukungan dana sekitar Rp956,5 juta, dengan 64,2% berasal dari sumber eksternal.

Berbagai kegiatan diarahkan pada persoalan nyata masyarakat, seperti pelepasliaran ikan, pemantauan perairan, pembersihan embung, pemanfaatan air tawar untuk produksi garam laut menggunakan teknologi SWRO, serta Grebek Ikan Sapu-Sapu di Rawa Kalibayem.

Jejaring kerja sama juga terus diperluas. Departemen memiliki mitra dalam negeri dan luar negeri yang mencakup institusi pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan sektor industri. Kemitraan internasional antara lain terbangun dengan University of Tasmania, Xiamen University, University of Stirling, Universiti Putra Malaysia, National Taiwan University, Pukyong National University, dan berbagai institusi lainnya.

Pengembangan mahasiswa menjadi bagian penting dari agenda Departemen Perikanan. Program magang berdampak telah melibatkan 135 mahasiswa dari 156 mahasiswa peserta magang pada tiga program studi sarjana, dengan dukungan 83 mitra magang berdampak.

Kesempatan internasional juga terus dibuka melalui berbagai skema student mobility dan credit transfer, seperti AIMS, ASEAN-FEN, IISMA, JASSO, MTCRC, dan kemitraan antaruniversitas.

Di bidang prestasi, pada 2026 tercatat 25 mahasiswa meraih prestasi melalui 27 kompetisi. Prestasi tersebut mencakup kompetisi nasional maupun internasional, mulai dari kompetisi Smart Ecosystem Engagement & Development, International Youth Innovation Summit, hingga berbagai kompetisi olahraga dan akademik.

Puncak HUT ke-63 juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi publik Departemen Perikanan. Melalui Media Perikanan, website, Instagram, YouTube, TikTok, dan layanan WhatsApp, Departemen terus menyebarluaskan informasi akademik, penelitian, kegiatan, serta berbagai perkembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Seluruh capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan Departemen Perikanan UGM untuk terus bergerak dari kekuatan akademik menuju kontribusi yang semakin nyata bagi masyarakat dan sektor perikanan. Pendidikan, penelitian, pengabdian, inovasi, kemitraan, dan pengembangan mahasiswa menjadi satu ekosistem yang saling menguatkan.

Laporan Tahunan 2026 yang disampaikan pada puncak HUT ke-63 sekaligus menjadi refleksi bahwa perjalanan Departemen Perikanan selama lebih dari enam dekade terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Dari penguatan pendidikan hingga inovasi yang dihilirkan, dari kerja sama lokal hingga jejaring internasional, Departemen Perikanan UGM terus mempersiapkan diri untuk berkontribusi pada masa depan perikanan Indonesia.

Sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), Departemen Perikanan UGM meneguhkan komitmennya untuk membangun perikanan Indonesia yang semakin berkelanjutan, inovatif, inklusif, dan berdaya saing global.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Bazar GEMARIKAN 2026 Dorong Konsumsi dan Produk Olahan Ikan Lokal

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Bazar GEMARIKAN 2026 pada Jumat (28/8). Bertempat di Lapangan Gedung A4 Departemen Perikanan UGM, kegiatan ini menghadirkan beragam produk ikan dan olahan hasil perikanan sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk semakin gemar mengonsumsi ikan.

Bazar yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dislautkan DIY). Kegiatan menjadi salah satu bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperkenalkan produk perikanan sekaligus mengampanyekan pentingnya konsumsi ikan bagi masyarakat.

Mengusung semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Bazar GEMARIKAN tidak sekadar menjadi kegiatan perayaan ulang tahun, tetapi juga menjadi ruang untuk mendekatkan produk perikanan kepada konsumen serta menunjukkan bahwa ikan dapat diolah menjadi beragam produk pangan yang menarik, praktis, dan sesuai dengan selera masyarakat masa kini.

Sebanyak 13 tenant turut meramaikan Bazar GEMARIKAN 2026. Berbagai produk segar dan olahan ikan ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari fresh fish hingga produk siap santap dengan beragam inovasi.

Tenant yang berpartisipasi meliputi Zamida Food, Phinisi Burger, Siomay Dimsum Batagor Fareta, Fania Food, Eldinam’s Food, Iwakku Foods, Fresh Fish, Orange Food, Simbokke Bu Nur Sambal Ikan, Khanza Food, Pempek Paris, Bakwan Udang, dan Ashlan Food.

Keberagaman produk tersebut menunjukkan bahwa komoditas perikanan memiliki peluang pengembangan yang luas. Ikan tidak hanya dapat dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah yang lebih dekat dengan preferensi konsumen.

Mulai dari burger, siomay, dimsum, batagor, pempek, sambal ikan hingga bakwan udang menjadi contoh bagaimana kreativitas pengolahan mampu meningkatkan daya tarik produk perikanan. Inovasi semacam ini sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pengembangan usaha dan kewirausahaan berbasis hasil perikanan.

Bazar ini membawa semangat Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) dengan mengajak sivitas akademika dan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan sebagai bagian dari pola pangan yang beragam dan bergizi.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting serta menyediakan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, membangun kebiasaan mengonsumsi ikan juga menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Namun, GEMARIKAN tidak hanya berbicara mengenai konsumsi. Di balik setiap produk ikan terdapat rantai ekonomi yang melibatkan pembudidaya, nelayan, pengolah, pedagang, pelaku UMKM, hingga konsumen. Meningkatnya minat masyarakat terhadap produk perikanan pada akhirnya dapat turut membuka peluang ekonomi bagi para pelaku yang berada di sepanjang rantai nilai tersebut.

Melalui Bazar GEMARIKAN, Departemen Perikanan UGM ingin memperlihatkan bahwa upaya meningkatkan konsumsi ikan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan inovasi produk dan penguatan ekonomi pelaku usaha perikanan lokal.

Pelaksanaan Bazar GEMARIKAN juga mencerminkan peran Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan dan teknologi perikanan, tetapi juga berupaya mendekatkan hasil dan semangat pengembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Kolaborasi dengan Dislautkan DIY menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Sinergi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk membangun sektor perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas.

Momentum HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM pun menjadi kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan panjang Departemen Perikanan dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perayaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aktivitas yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat potensi perikanan.

Bazar GEMARIKAN 2026 sekaligus menjadi ajakan sederhana kepada masyarakat: datang, cicipi, konsumsi ikan, dan dukung produk perikanan lokal. Dari pilihan pangan sehari-hari, masyarakat dapat turut berkontribusi terhadap kesehatan keluarga sekaligus keberlanjutan ekonomi para pelaku usaha perikanan.

Kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui promosi pangan bergizi berbasis ikan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui dukungan terhadap usaha dan produk perikanan lokal; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan konsumsi produk perikanan bernilai tambah; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi Departemen Perikanan UGM, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Melalui semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Departemen Perikanan UGM berharap Bazar GEMARIKAN 2026 dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk perikanan sekaligus memperkuat peran ikan sebagai sumber pangan bergizi dan penggerak ekonomi lokal menuju pembangunan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

123…18
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY