• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • hal. 3
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Peneliti UGM Ungkap Kunci Ketahanan Wilayah Pesisir: Kolaborasi Lebih Efektif daripada Dominasi Satu Aktor

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta — Pengelolaan wilayah pesisir dan sumber daya perikanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologi dan ekonomi, tetapi juga oleh bagaimana berbagai pihak membangun kerja sama dalam tata kelola. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah Journal of Fisheries Science oleh tim peneliti yang terdiri dari Haposan Simatupang, Margaretha Hanita, Mukti Aprian dari Departemen Perikanan UGM, serta Akhmad Nurhijayat.

Penelitian berjudul “Navigating the Waters of Authority: Civil-Military Relations in the Securitization of Coastal and Fisheries Resources in Cilacap Regency” menyoroti dinamika tata kelola pesisir di Kabupaten Cilacap, salah satu wilayah pesisir Indonesia yang memiliki karakteristik unik karena adanya tumpang tindih kewenangan antara aktor sipil dan militer dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan perikanan.

Melalui pendekatan social-ecological systems, penelitian ini berupaya memahami bagaimana hubungan antaraktor dapat memengaruhi ketahanan sistem pesisir dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari aktivitas penangkapan ikan ilegal, tekanan ekonomi, hingga konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber daya.

Yang menarik, penelitian ini tidak hanya melihat aspek kelembagaan secara konvensional, tetapi juga memanfaatkan pendekatan Social Network Analysis (SNA) dan Qualitative Network Modelling and Simulation (QNMS) untuk memetakan hubungan antaraktor dan mengevaluasi berbagai skenario tata kelola yang mungkin terjadi.

Kolaborasi Menjadi Faktor Penentu Ketahanan

Salah satu temuan penting penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sumber daya pesisir tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan penegakan hukum. Sistem yang terlalu bergantung pada satu aktor justru berpotensi mengurangi kualitas koordinasi, partisipasi, dan kepercayaan antar pemangku kepentingan.

Sebaliknya, tata kelola yang dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, akademisi, masyarakat pesisir, pelaku usaha, dan berbagai aktor lainnya cenderung menghasilkan kondisi yang lebih stabil dan seimbang dalam jangka panjang.

Menurut Mukti Aprian, dosen Departemen Perikanan UGM yang terlibat dalam penelitian ini, tantangan pengelolaan perikanan modern semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan lintas sektor.

“Pengelolaan sumber daya perikanan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Ketahanan pesisir lahir dari kemampuan berbagai pihak untuk bekerja sama, membangun kepercayaan, dan menyelaraskan tujuan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya yang menjadi penopang kehidupan masyarakat,” jelas Mukti.

Perspektif Baru dalam Pengelolaan Perikanan

Penelitian ini memberikan perspektif baru bahwa ketahanan wilayah pesisir tidak hanya bergantung pada kondisi sumber daya alam, tetapi juga pada kualitas hubungan sosial dan kelembagaan yang mengelolanya. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, hasil penelitian ini menjadi relevan untuk mendukung pengembangan kebijakan yang lebih adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Selain memperkaya kajian mengenai tata kelola perikanan dan keamanan lingkungan, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi antara kapasitas penegakan hukum dengan mekanisme partisipatif yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi.

Hasil penelitian tersebut memperkuat pandangan bahwa masa depan pengelolaan perikanan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan berbagai aktor untuk membangun kolaborasi yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan ekologi.

Penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals khususnya SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan tata kelola sumber daya pesisir dan perikanan yang berkelanjutan, SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui peningkatan kualitas kelembagaan dan koordinasi antaraktor, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi dalam pengelolaan sumber daya alam yang kompleks.

link Paper:

Simatupang, et al. (2026)

Departemen Perikanan UGM Perluas Implementasi MAYA ke Berbagai Wilayah Pesisir Indonesia

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Sebagai tindak lanjut dari pilot project Pengenalan Pencatatan Digital Usaha Perikanan Tangkap Berbasis WhatsApp yang telah dilaksanakan di Sadeng, Gunungkidul, DIY pada Sabtu, 6 Juni 2026, Departemen Perikanan UGM melakukan diskusi yang membahas perencanaan memperluas implementasi program ke berbagai wilayah pesisir di Indonesia. Program yang diinisiasi oleh Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D. saat ini direncanakan akan memperluas ekspansi implementasinya ke wilayah pesisir lain di Padang, Sumatera Barat; Kaur Selatan, Bengkulu; Sumbawa, Nusa Tenggara Barat; Manggarai, Nusa Tenggara Timur; Halmahera Tengah, Maluku Utara. Perluasan ini dilakukan melalui kolaborasi dengan enam mahasiswa Departemen Perikanan yang akan menjalankan program KKN-PPM UGM sebagai bagian dari mata kuliah wajib pengabdian masyarakat berbasis riset dan ilmu pengetahuan.

Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa membawa inovasi pencatatan hasil tangkapan dan keuangan usaha berbasis WhatsApp dengan dukungan AI (Artificial Intelligence) bernama MAYA (Manajemen Aktivitas Nelayan). MAYA dirancang sebagai asisten digital bagi perempuan pesisir untuk membantu pencatatan keuangan usaha perikanan secara sederhana, praktis, dan lebih presisi. Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat mempermudah ibu-ibu pesisir dalam memahami kondisi keuangan usahanya, memantau perkembangan usaha dari waktu ke waktu, serta mendukung pengambilan keputusan ekonomi yang lebih tepat.

Selain membantu pencatatan pemasukan dan pengeluaran, sistem ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha perikanan untuk memiliki riwayat keuangan yang lebih tertata. Catatan tersebut dapat menjadi modal penting ketika mengakses bantuan usaha maupun pengajuan kredit. Dengan demikian, digitalisasi pencatatan keuangan tidak hanya berfungsi sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga perempuan pesisir.

Meski teknologi MAYA masih terus disempurnakan, proses implementasi di berbagai daerah menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem. Melalui keterlibatan mahasiswa Departemen Perikanan yang akan menjalankan kegiatan KKN-PPM UGM, tim peneliti dapat melakukan pengujian langsung di lapangan, mengumpulkan data penggunaan, sekaligus memahami kebutuhan nyata masyarakat pesisir melalui pendekatan bottom-up. Pendekatan ini memungkinkan teknologi dikembangkan secara lebih adaptif sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan kapasitas pengguna di tingkat akar rumput. Inisiatif ini sekali lagi menjadi wujud komitmen Departemen Perikanan UGM, dalam menghadirkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Inisiatif pengembangan dan perluasan implementasi MAYA juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) melalui penguatan ekonomi rumah tangga nelayan, SDG 5 (Gender Equality) dengan meningkatkan kapasitas dan peran perempuan pesisir dalam pengelolaan usaha perikanan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui dukungan terhadap usaha mikro perikanan yang lebih produktif dan berkelanjutan, serta SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk mendukung transformasi sektor perikanan. Selain itu, program ini juga mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, masyarakat pesisir, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun inovasi yang berdampak nyata bagi pembangunan pesisir Indonesia. Dengan demikian, MAYA tidak hanya menjadi inovasi teknologi pencatatan usaha, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat yang mendorong terciptanya pembangunan perikanan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Fisheries Talks UGM: Prof. Madya Dr. Ching Fui Fui Ungkap Pesona Ikan Napoleon dan Kecintaannya pada Yogyakarta

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Media Perikanan UGM kembali menghadirkan wawasan internasional melalui program Fisheries Talks. Pada episode kali ini, narasumber yang hadir adalah Prof. Madya Dr. Ching Fui Fui (Faihana Ching Abdullah), akademisi dan peneliti dari Institut Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah (UMS), yang membahas pentingnya konservasi ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) serta berbagi pengalamannya selama berada di Yogyakarta.

Dalam perbincangan yang berlangsung hangat dan inspiratif, Prof. Ching menjelaskan bahwa ikan Napoleon merupakan salah satu spesies ikan karang terbesar dan paling ikonik di kawasan Indo-Pasifik. Spesies ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang, namun populasinya menghadapi berbagai tekanan akibat eksploitasi berlebih dan degradasi habitat. Oleh karena itu, upaya konservasi berbasis riset menjadi sangat penting untuk memastikan keberlangsungan spesies tersebut di masa depan.

Menariknya, topik ikan Napoleon merupakan salah satu bidang yang juga menjadi perhatian penelitian Prof. Ching. Melalui berbagai publikasi ilmiahnya, beliau aktif mengkaji aspek pertumbuhan, konservasi, dan ketahanan genetik ikan Napoleon di wilayah perairan Malaysia.

Selain membahas ikan Napoleon, Prof. Ching juga menceritakan ketertarikannya terhadap Yogyakarta. Menurutnya, Yogyakarta memiliki kombinasi yang unik antara kekayaan budaya, suasana akademik yang dinamis, dan masyarakat yang ramah. Lingkungan tersebut menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu kota yang sangat mendukung pertukaran pengetahuan dan kolaborasi internasional.

Akademisi Internasional dengan Rekam Jejak Kuat di Bidang Akuakultur

Prof. Ching merupakan salah satu peneliti terkemuka di bidang perikanan dan akuakultur di Malaysia. Beliau berkiprah di Institut Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah, dengan fokus penelitian pada reproduksi ikan, fisiologi ikan, produksi benih ikan bernilai ekonomi tinggi, serta pengembangan akuakultur berkelanjutan. Penelitiannya mencakup berbagai spesies penting seperti kerapu, sidat, kakap putih, gobi, hingga ikan Napoleon.

Selain aktif melakukan penelitian, Prof. Ching juga terlibat dalam berbagai proyek strategis terkait ketahanan pangan laut, pengembangan teknologi akuakultur, kesehatan ikan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Hingga saat ini, beliau telah menghasilkan lebih dari seratus publikasi ilmiah dan memimpin maupun berpartisipasi dalam puluhan proyek penelitian yang didanai secara nasional maupun internasional.

Sebagai Direktur di Institut Penyelidikan Marin Borneo (IPMB), beliau juga berperan dalam pengembangan teknologi produksi benih ikan laut bernilai tinggi yang mendukung ketahanan pangan dan industri akuakultur Malaysia. Di bawah kepemimpinannya, IPMB memperoleh pengakuan sebagai Pusat Kecemerlangan Pendidikan Tinggi (HiCoE) di bidang produksi benih ikan laut bernilai tinggi.

Memperkuat Kolaborasi dan Perspektif Global

Kehadiran Prof. Ching dalam Fisheries Talks menunjukkan komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada untuk menghadirkan perspektif global kepada mahasiswa dan masyarakat. Melalui forum seperti ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan ilmiah mengenai keanekaragaman hayati laut, tetapi juga memahami bagaimana kolaborasi lintas negara dapat memperkuat upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya perikanan.

Episode ini menjadi bukti bahwa ilmu perikanan tidak mengenal batas geografis. Dari terumbu karang yang menjadi habitat ikan Napoleon hingga ruang-ruang diskusi akademik di Yogyakarta, kolaborasi dan pertukaran pengetahuan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perairan dunia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan pendidikan, konservasi sumber daya laut, dan kerja sama akademik internasional.

link video:

Napoleon Researcher Gets Real About Aquaculture, Jogja & Sheila On 7

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dampak El Niño dan La Niña terhadap Waduk Panglima Besar Soedirman Banjarnegara

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Perubahan iklim global ternyata tidak hanya berdampak pada cuaca, tetapi juga memengaruhi kondisi sumber daya perairan yang menopang berbagai aktivitas manusia. Hal ini terungkap dalam penelitian skripsi yang dilakukan oleh Hapsari Ayu Sedaya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, mengenai dinamika luas badan air Waduk Panglima Besar Soedirman (Waduk Mrica) di Kabupaten Banjarnegara selama periode 2019–2024.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra satelit Sentinel-1 untuk memantau perubahan luas badan air waduk terbesar di Banjarnegara tersebut. Waduk Panglima Besar Soedirman memiliki peran strategis sebagai sumber energi bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica sekaligus mendukung sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah hubungan yang sangat jelas antara fenomena iklim global dengan kondisi waduk. Hapsari menemukan bahwa fenomena El Niño pada tahun 2019 dan 2023 menyebabkan penurunan curah hujan yang diikuti penyusutan luas badan air waduk. Sebaliknya, periode Triple Dip La Niña pada tahun 2020 hingga 2022 meningkatkan curah hujan sehingga luas badan air waduk tetap tinggi, bahkan pada musim kemarau.

Namun, penelitian ini juga mengungkap fakta menarik bahwa perubahan luas badan air tidak hanya ditentukan oleh faktor alam. Operasional waduk, khususnya aktivitas pembangkitan listrik PLTA, turut memengaruhi fluktuasi volume air. Dengan kata lain, kondisi waduk merupakan hasil interaksi antara faktor iklim dan aktivitas manusia dalam pengelolaan sumber daya air.

Selain itu, analisis batimetri menunjukkan adanya variasi kedalaman dan kontur dasar waduk yang diduga berkaitan dengan proses sedimentasi serta pola aliran sungai yang masuk ke waduk. Temuan ini memberikan informasi penting untuk mendukung pengelolaan waduk secara berkelanjutan di masa mendatang.

Menurut Hapsari, pemantauan luas badan air menggunakan teknologi satelit dapat menjadi alat yang efektif untuk memahami respons waduk terhadap perubahan iklim sekaligus membantu perencanaan pengelolaan sumber daya air yang lebih adaptif.

Penelitian ini menunjukkan bahwa waduk bukan sekadar tampungan air, melainkan sistem dinamis yang dipengaruhi oleh perubahan iklim global, kebutuhan energi, dan proses ekologis yang berlangsung secara bersamaan. Informasi tersebut menjadi penting dalam mendukung ketahanan air, energi, dan pangan di tengah meningkatnya ketidakpastian iklim.

Penelitian ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 7 (Affordable and Clean Energy), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan basis ilmiah dalam pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Departemen Perikanan UGM Sambut Asesor LAM-PTIP untuk Akreditasi THP dan Magister Ilmu Perikanan

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyambut kedatangan tim asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Perikanan (LAM-PTIP) dalam rangka pelaksanaan asesmen lapangan Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) dan Magister Ilmu Perikanan (MIP). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya memastikan dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi perikanan yang unggul, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.

Asesmen lapangan Program Studi Teknologi Hasil Perikanan dilaksanakan oleh dua asesor berpengalaman. Kedatangan para asesor disambut oleh pimpinan fakultas, pimpinan departemen, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta berbagai mitra pengguna lulusan yang turut berpartisipasi dalam rangkaian asesmen. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan di lingkungan Departemen Perikanan UGM.

Ketua Departemen Perikanan, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., menyampaikan bahwa proses akreditasi bukan sekadar penilaian administratif, melainkan kesempatan untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap berbagai capaian yang telah diraih. Menurutnya, asesmen lapangan menjadi ruang untuk menunjukkan bagaimana proses pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola program studi dijalankan secara konsisten untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Program Studi Teknologi Hasil Perikanan selama ini dikenal aktif mengembangkan pendidikan dan riset di bidang pengolahan hasil perikanan, keamanan pangan, bioteknologi hasil perairan, serta inovasi produk berbasis sumber daya akuatik. Sementara Program Studi Magister Ilmu Perikanan terus memperkuat kapasitas riset dan pengembangan ilmu perikanan melalui pendekatan multidisiplin yang mendukung pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan.

Dalam proses asesmen, para asesor melakukan peninjauan terhadap berbagai aspek, mulai dari kurikulum, sumber daya manusia, proses pembelajaran, luaran pendidikan, publikasi ilmiah, fasilitas pendukung, hingga keterlibatan alumni dan mitra kerja sama. Selain itu, asesmen juga menjadi sarana untuk berdiskusi mengenai peluang pengembangan program studi di masa depan agar semakin responsif terhadap tantangan global dan kebutuhan sektor perikanan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, asesmen lapangan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan menghasilkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia. Lebih dari sekadar proses penilaian, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa mutu pendidikan dibangun melalui kolaborasi seluruh sivitas akademika, alumni, mitra industri, pemerintah, dan masyarakat. Semangat tersebut diharapkan terus mendorong Program Studi Teknologi Hasil Perikanan dan Magister Ilmu Perikanan untuk berkembang sebagai pusat pendidikan dan inovasi yang unggul di tingkat nasional maupun internasional.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals terutama tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan mutu pendidikan tinggi, inovasi, dan kolaborasi dalam pengembangan sektor perikanan yang berkelanjutan.

 

Prof. Djumanto Buka Seminar Nasional Ikan XIII MII, Tegaskan Pentingnya Ekonomi Biru Berkelanjutan untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Bogor — Ketua Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII), Prof. Dr. Ir. Djumanto, M.Sc., secara resmi membuka Seminar Nasional Ikan XIII Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII) yang diselenggarakan secara hybrid di Bogor. Kegiatan ini menjadi momen istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun MII ke-26, sekaligus pelaksanaan Kongres VII MII yang akan menentukan arah organisasi pada periode mendatang.

Dalam sambutannya, Prof. Djumanto menyampaikan bahwa sejak berdiri pada tahun 2000, Masyarakat Iktiologi Indonesia telah berkomitmen menjadi wadah bagi para akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, dan pemerhati perikanan dalam mengembangkan ilmu iktiologi, yaitu ilmu yang mempelajari keanekaragaman ikan beserta berbagai aspek biologis, ekologis, dan pemanfaatannya.

Menurut Prof. Djumanto, keberadaan MII selama lebih dari dua dekade telah memberikan kontribusi penting dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi keanekaragaman hayati perairan, serta pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di Indonesia.

Pada penyelenggaraan Seminar Nasional Ikan XIII tahun ini, MII mengusung tema “Ekonomi Biru Berkelanjutan” yang dinilai sangat relevan dengan tantangan pembangunan sektor kelautan dan perikanan saat ini. Dalam sambutannya, Prof. Djumanto menegaskan bahwa ekonomi biru bukan hanya berbicara mengenai peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana pembangunan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya ikan dan ekosistem perairan.

“Tema ini menegaskan komitmen kita untuk menyeimbangkan konservasi sumber daya ikan dengan pembangunan sektor perikanan. Sinergi antara pelestarian keanekaragaman ikan dan pemanfaatan yang produktif menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki kekayaan ikan yang sangat besar, baik di perairan laut maupun perairan darat. Oleh karena itu, pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan menjadi fondasi penting untuk memastikan sumber daya tersebut tetap lestari dan mampu memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Seminar Nasional Ikan XIII juga menjadi forum strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam berbagi hasil penelitian, pengalaman lapangan, dan inovasi terbaru terkait ilmu perikanan dan konservasi sumber daya ikan. Selain memperluas wawasan ilmiah, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, sektor industri, dan mitra internasional.

Selain seminar, pelaksanaan Kongres VII MII menjadi agenda penting dalam rangka memperkuat organisasi. Prof. Djumanto berharap kongres dapat menghasilkan berbagai gagasan segar, kepemimpinan yang visioner, serta program kerja yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

“Melalui kongres ini, kita berharap MII dapat terus berkembang sebagai organisasi ilmiah yang relevan, progresif, dan menjadi rujukan utama dalam pengembangan ilmu iktiologi serta pengelolaan sumber daya perikanan Indonesia,” ujarnya.

Sebagai Guru Besar Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Djumanto dikenal sebagai akademisi yang telah lama berkontribusi dalam bidang sumber daya perikanan, ekologi perairan, dan konservasi ikan. Kepemimpinannya di MII memperkuat peran organisasi dalam menjembatani hasil-hasil penelitian dengan kebutuhan pengelolaan sumber daya perikanan nasional.

Penyelenggaraan Seminar Nasional Ikan XIII dan Kongres VII MII menunjukkan bahwa pengembangan ilmu iktiologi tidak hanya penting bagi kemajuan akademik, tetapi juga menjadi fondasi dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di era ekonomi biru.

Menariknya, Seminar Nasional Ikan XIII juga menjadi ajang pembelajaran dan aktualisasi bagi generasi muda peneliti perikanan. Prof. Djumanto secara khusus mendorong mahasiswa bimbingannya untuk berpartisipasi aktif dalam forum ilmiah nasional tersebut melalui presentasi hasil penelitian terbaru yang mereka lakukan. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam seminar ilmiah merupakan bagian penting dari proses pembentukan peneliti muda yang kritis, inovatif, dan mampu mengomunikasikan hasil riset kepada komunitas ilmiah yang lebih luas.

Prof. Djumanto menegaskan bahwa seminar ilmiah tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan hasil penelitian, tetapi juga sarana memperluas jejaring akademik, memperoleh masukan ilmiah, serta membuka peluang kolaborasi penelitian di masa mendatang. Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang berani tampil dan berkontribusi dalam forum-forum ilmiah nasional maupun internasional sehingga dapat memperkuat kapasitas akademik sekaligus meningkatkan daya saing lulusan Perikanan UGM di tingkat global.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals terutama SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis perikanan, SDG 14 (Life Below Water) melalui upaya pelestarian ekosistem perairan dan keanekaragaman ikan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi nasional dan internasional dalam pengembangan ilmu dan pengelolaan sumber daya perikanan.

Refleksi Hari Raya Waisak: Menumbuhkan Kebijaksanaan dan Harmoni untuk Masa Depan Perikanan Berkelanjutan

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Hari Raya Waisak merupakan momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai kebijaksanaan, kedamaian, kasih sayang, dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup. Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, semangat Waisak menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sumber daya perairan tidak hanya bergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan dan keharmonisan dalam berinteraksi dengan alam.

Perayaan Waisak mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Dalam konteks perikanan, nilai tersebut sangat relevan mengingat sumber daya perairan merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan secara bijaksana agar tetap mampu menopang kehidupan generasi masa kini maupun masa depan.

Di tengah berbagai tantangan seperti perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan perairan, serta tekanan terhadap sumber daya ikan, dunia perikanan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem. Kebijaksanaan yang diajarkan dalam Waisak mengingatkan bahwa setiap keputusan yang diambil hari ini akan memberikan dampak bagi masa depan.

Bagi lingkungan akademik, semangat Waisak juga dapat dimaknai sebagai dorongan untuk terus mencari pengetahuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan bentuk kontribusi nyata dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Nilai kasih sayang dan kepedulian yang terkandung dalam Waisak juga tercermin dalam berbagai upaya pelestarian sumber daya perikanan. Menjaga kualitas perairan, melindungi keanekaragaman hayati, mengembangkan teknologi budidaya yang ramah lingkungan, serta mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Selain itu, Waisak mengajarkan pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Sebagai institusi pendidikan yang dihuni oleh sivitas akademika dari berbagai latar belakang, Departemen Perikanan UGM memandang keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kolaborasi, saling menghormati, dan bersama-sama menghasilkan solusi bagi tantangan sektor perikanan.

Momentum Waisak juga menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari capaian akademik atau teknologi, tetapi juga dari kemampuan membangun kehidupan yang damai, adil, dan berkelanjutan. Dengan semangat tersebut, dunia perikanan dapat terus berkembang tanpa mengabaikan keseimbangan ekologis dan nilai-nilai kemanusiaan.

Keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak 2569 BE kepada seluruh umat Buddha yang merayakan. Semoga semangat kebijaksanaan, kedamaian, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan senantiasa menjadi inspirasi dalam berkarya dan mengabdi bagi masyarakat.

Refleksi ini sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan nilai-nilai keberlanjutan, harmoni sosial, dan kolaborasi dalam pengelolaan sumber daya perikanan.

Dosen Perikanan UGM Belajar dari Prof. Caleb Gardner: Bangun Budaya Riset, Perkuat Produktivitas Publikasi, dan Perluas Kolaborasi

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Produktivitas riset dan publikasi ilmiah tidak hanya dibangun dari kemampuan individu, tetapi juga ditentukan oleh budaya akademik yang tumbuh di lingkungan institusi. Gagasan tersebut menjadi sorotan dalam kegiatan Guest Lecture Prof. Caleb Gardner bertajuk “Boosting Writing Productivity and Organisational Culture” yang diselenggarakan di Ruang 2.02 Gedung A4 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan ini dihadiri dosen Departemen Perikanan UGM sebagai ruang refleksi dan penguatan budaya akademik.

Acara dibuka oleh Ketua Departemen Perikanan Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc. dan menjadi momentum berbagi pengalaman internasional mengenai bagaimana organisasi akademik dapat meningkatkan kualitas riset secara berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, peserta berkesempatan berdiskusi bersama Prof. Caleb Gardner, akademisi dan peneliti senior dari Institute for Marine and Antarctic Studies (IMAS), University of Tasmania, Australia, yang dikenal luas melalui kontribusinya pada bidang ilmu perikanan, manajemen sumber daya laut, akuakultur, serta kajian kebijakan perikanan berkelanjutan. Prof. Gardner telah terlibat dalam berbagai penelitian internasional terkait pengelolaan perikanan, stok sumber daya laut, hingga sistem pengambilan keputusan berbasis sains. Ia juga memimpin berbagai kolaborasi riset jangka panjang yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah, dan industri.

Pengalaman panjang tersebut membuat materi yang disampaikan tidak hanya berisi strategi menulis artikel ilmiah, tetapi juga membahas bagaimana membangun budaya organisasi yang mendukung produktivitas riset. Dalam paparannya, Prof. Gardner menekankan bahwa produktivitas publikasi tidak dapat bergantung pada motivasi personal semata. Menurutnya, lingkungan akademik perlu menciptakan budaya kerja yang mendorong kolaborasi, konsistensi, dan kebiasaan menulis yang berkelanjutan.

Salah satu poin yang banyak mendapat perhatian peserta adalah pentingnya membangun budaya riset yang sehat, di mana dosen dan peneliti saling mendukung, berbagi gagasan, dan bekerja dalam ekosistem akademik yang produktif. Ia menjelaskan bahwa institusi dengan budaya riset kuat umumnya tidak hanya menghasilkan publikasi lebih tinggi, tetapi juga memiliki dampak ilmiah yang lebih luas.

Prof. Gardner juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas bidang ilmu. Tantangan sektor perikanan dan kelautan saat ini dinilai semakin kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan disiplin saja. Permasalahan modern memerlukan keterlibatan berbagai perspektif, mulai dari ilmu hayati, teknologi, ekonomi, sosial, hingga kebijakan publik.

Menurutnya, kolaborasi multidisiplin membuka peluang lahirnya pertanyaan riset yang lebih relevan, memperluas jejaring akademik, dan meningkatkan kualitas luaran penelitian. Pengalaman riset internasional menunjukkan bahwa karya kolaboratif cenderung menghasilkan dampak ilmiah yang lebih besar dibanding penelitian yang berjalan secara terpisah.

Selain itu, Prof. Gardner menekankan bahwa publikasi ilmiah bukan sekadar target administratif, tetapi bagian dari proses menyebarluaskan pengetahuan dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat. Kegiatan kuliah tamu ini menjadi ruang penting bagi dosen Departemen Perikanan UGM untuk memperoleh perspektif global mengenai pengembangan budaya akademik dan penguatan produktivitas ilmiah. Diskusi tersebut sekaligus memperkuat semangat kolaborasi dan inovasi dalam mendukung pengembangan riset yang lebih berdampak di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan budaya riset dan jejaring kolaborasi akademik internasional.

SinnTech Webinar #37 UGM Angkat Ekonomi Sirkular: Dari Rumput Laut hingga Limbah Perikanan Bernilai Tinggi

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Isu pengelolaan limbah industri kini tidak lagi dipandang sekadar persoalan akhir produksi, melainkan peluang untuk menciptakan inovasi dan nilai tambah yang berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan SinnTech Webinar #37 dengan tema “Industrial Waste Management in the Circular Economy: A Marine and Fisheries Perspective.” Webinar ini akan diselenggarakan pada Selasa, 26 Mei 2026 pukul 13.00–15.30 WIB dan menjadi ruang diskusi mengenai transformasi limbah sektor kelautan dan perikanan menuju sistem ekonomi sirkular.

Melalui tema tersebut, SinnTech #37 mengangkat perspektif bahwa limbah perikanan dan sumber daya laut tidak lagi dipandang sebagai produk sisa, tetapi dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai tinggi yang mendukung keberlanjutan industri perikanan masa depan.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki kepakaran di bidang pemanfaatan sumber daya perairan dan bioekonomi biru. Narasumber pertama, Prof. Dr. Ir. Nurjanah, M.S., akan membawakan materi bertajuk “Innovation and Utilization of Indonesian Seaweed as Food and Non-Food Raw Materials.” Dalam paparannya, Prof. Nurjanah menyoroti besarnya potensi rumput laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga untuk berbagai produk nonpangan dan inovasi industri. Sejumlah inovasi bahkan telah dikembangkan menjadi produk berbasis kekayaan hayati laut serta menghasilkan berbagai pengembangan teknologi terapan.

Menariknya, berbagai inovasi yang dikembangkan juga mengarah pada pemanfaatan residu rumput laut menjadi produk turunan seperti pupuk berbasis biomassa laut. Beberapa inovasi tersebut telah didorong menuju perlindungan kekayaan intelektual, menunjukkan bahwa limbah hasil pengolahan sumber daya laut dapat diubah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si., akan membahas tema “The Blue Bioeconomy: Bioconverting Fisheries Waste into High-Value Commodities.” Materi ini mengajak peserta melihat bagaimana limbah hasil perikanan dapat dikonversi melalui pendekatan bioekonomi biru menjadi berbagai produk bernilai tambah, sekaligus mengurangi tekanan lingkungan akibat akumulasi limbah industri.

Kehadiran kedua narasumber tersebut memperkuat semangat SinnTech sebagai ruang berbagi ilmu yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, praktisi, hingga masyarakat umum dalam membahas isu-isu strategis perikanan dan kelautan.

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap keberlanjutan, webinar ini menjadi pengingat bahwa masa depan industri perikanan tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh kemampuan memanfaatkan sumber daya secara efisien dan bertanggung jawab.

Melalui SinnTech Webinar #37, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong inovasi dan diseminasi ilmu pengetahuan yang relevan dengan tantangan sektor perikanan modern.

Kegiatan ini juga mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-12 (Responsible Consumption and Production), tujuan ke-14 (Life Below Water), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan inovasi dan kolaborasi menuju ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Lawan Ancaman Penyakit Nila Terkini, Mahasiswa Akuakultur UGM Terlibat Pengembangan Strain Unggul Bersama DKP DIY

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta-Di balik upaya meningkatkan produksi perikanan budidaya, tantangan penyakit ikan masih menjadi persoalan serius yang dapat memengaruhi produktivitas dan keberlanjutan sektor akuakultur. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada turut mengambil peran dalam program pengembangan strain nila unggul Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan ikan nila unggul yang tidak hanya memiliki pertumbuhan yang baik, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap ancaman penyakit yang saat ini menjadi perhatian dalam budidaya ikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Fokus penelitian diarahkan pada uji ketahanan terhadap infeksi bakteri Aeromonas jandaei, patogen yang belakangan menjadi perhatian karena ditemukan pada kasus penyakit ikan nila terkini di DIY.

Yang menarik, program ini juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam terlibat pada riset berbasis permasalahan nyata di lapangan. Dua mahasiswa Akuakultur UGM yang terlibat aktif dalam kegiatan ini yaitu Nabil Ghifari Abdillah (angkatan 2022) dan Widi Nuraini (angkatan 2023). Keterlibatan mereka menjadi bukti bahwa mahasiswa sejak dini didorong untuk berkontribusi dalam penelitian aplikatif yang memiliki dampak nyata terhadap sektor perikanan. Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis laboratorium, tetapi juga belajar memahami pendekatan ilmiah untuk mengatasi permasalahan nyata di lapangan

Program kolaboratif ini  diimplementasi di Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB), Dinas Kelautan dan Perikanan, Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikoordinasi oleh dua staf BPTPB , yaitu  Pristia Yunik Praninda, S.Pi., M.Si. dan Iin Indriyani, S.K.H. dan disupervisi oleh satu dosen UGM, yaitu Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., yang aktif mengembangkan riset bidang mikrobiologi akuakultur.

Kasus penyakit pada ikan nila dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dinamika patogen di lapangan terus berkembang, ditandai dengan munculnya varian maupun agen penyakit baru yang berpotensi menurunkan produktivitas budidaya. Kondisi ini menegaskan bahwa pengembangan strain unggul ikan nila tidak dapat dilakukan secara statis, melainkan perlu dievaluasi dan diperbarui secara berkala melalui pendekatan berbasis sains, termasuk pemuliaan adaptif terhadap tekanan penyakit dan perubahan lingkungan budidaya, guna menjaga keberlanjutan dan ketahanan produksi akuakultur modern.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah ini menunjukkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menghadirkan solusi nyata bagi sektor perikanan. Tidak hanya menghasilkan data penelitian yang relevan dengan masalah dilapangan, program ini juga menjadi wahana pembentukan generasi muda perikanan yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan akuakultur Indonesia.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi riset dan inovasi sektor perikanan berkelanjutan.

12345…16
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY