• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • hal. 5
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Mahasiswa Perikanan UGM Diajak Turun Langsung Jaga Ikan Lokal Melalui Aksi Penebaran Benih di Embung Lembah UGM

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya menjaga keberlanjutan sumber daya ikan lokal tidak hanya dilakukan melalui riset dan kebijakan, tetapi juga melalui aksi nyata di lapangan. Dalam semangat konservasi dan kepedulian terhadap ekosistem perairan darat, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada diajak berpartisipasi dalam kegiatan Penebaran Ikan dalam Rangka Konservasi In Situ Ikan Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin, 18 Mei 2026. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian dari Dies Natalis ke-63 Departemen Perikanan.

Kegiatan yang berlangsung di Embung Lembah UGM tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian dan pemulihan sumber daya ikan lokal di perairan umum daratan melalui pendekatan konservasi in situ, yaitu pelestarian spesies langsung di habitat alaminya. Sejak pagi hari, mahasiswa Perikanan UGM dijadwalkan terlibat dalam kegiatan penebaran benih ikan sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung praktik konservasi sumber daya perikanan di lapangan.

Penebaran benih ikan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan populasi spesies asli perairan. Berbagai tekanan seperti perubahan lingkungan, degradasi habitat, hingga aktivitas manusia dapat memengaruhi keberadaan ikan lokal di perairan umum. Melalui kegiatan konservasi seperti ini, upaya pemulihan populasi dan pelestarian keanekaragaman hayati perairan dapat diperkuat.

Bagi mahasiswa Perikanan UGM, kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga karena mempertemukan aspek akademik dengan praktik nyata konservasi. Pembelajaran mengenai ekologi, pengelolaan sumber daya perairan, hingga keberlanjutan lingkungan tidak hanya dipahami secara teoritis di kelas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan langsung di lapangan.

Selain menjadi bentuk aksi konservasi, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menjaga sumber daya perikanan lokal. Keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga ekosistem perairan sebagai bagian dari masa depan lingkungan Indonesia. Semangat menjaga ikan lokal bukan sekadar tentang menambah populasi ikan di perairan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan warisan biodiversitas yang dimiliki Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water) SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 15 (Life on Land). Pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya perairan berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem untuk generasi mendatang.

Departemen Perikanan UGM Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum, Tekankan Pentingnya Evaluasi yang Dinamis

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Dinamika dunia pendidikan tinggi yang terus berkembang menuntut perguruan tinggi untuk selalu adaptif terhadap perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan industri, serta tantangan global. Menjawab kebutuhan tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum pada Senin, 18 Mei 2026 di Ruang 202 Departemen Perikanan UGM. Kegiatan ini dihadiri dosen, guru besar, pimpinan program studi, serta perwakilan Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM sebagai Narasumber utama, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D..

Workshop dibuka oleh Sekretaris Departemen Perikanan, Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. yang menegaskan bahwa kurikulum merupakan fondasi utama dalam menjaga kualitas pendidikan dan relevansi lulusan di masa depan. Kegiatan ini diikuti puluhan dosen lintas bidang, termasuk jajaran guru besar dan pengelola program studi di lingkungan Departemen Perikanan. Kehadiran berbagai unsur akademik menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum bukan sekadar proses administratif, tetapi bagian dari upaya bersama untuk merancang masa depan pendidikan perikanan yang lebih adaptif dan berdampak.

Salah satu penekanan penting yang mengemuka dalam diskusi adalah perlunya kurikulum ditinjau dan diperbarui secara berkala. Prof. dr. Gandes menegaskan bahwa kurikulum tidak dapat dipandang sebagai dokumen statis, melainkan instrumen hidup yang harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Dalam forum tersebut disampaikan bahwa evaluasi dan perbaikan kurikulum idealnya dilakukan minimal setiap lima tahun. Langkah tersebut dipandang penting untuk memastikan materi pembelajaran tetap relevan, responsif terhadap perkembangan keilmuan, serta mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan tantangan sektor perikanan di masa depan.

“Perubahan terjadi sangat cepat. Jika kurikulum tidak dievaluasi secara berkala, perguruan tinggi berisiko menghasilkan lulusan yang tertinggal dari perkembangan kebutuhan masyarakat dan industri,” menjadi salah satu semangat utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Selain membahas arah pengembangan kurikulum, workshop juga menjadi ruang diskusi mengenai penyesuaian terhadap kebijakan pendidikan tinggi terbaru, pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel, penguatan kompetensi lulusan, serta integrasi kebutuhan industri dan perkembangan teknologi ke dalam proses pembelajaran.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pembaruan kurikulum tidak hanya bertujuan mengikuti perubahan regulasi, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, kemampuan adaptasi, serta kesiapan menghadapi tantangan sektor perikanan dan kelautan yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM menunjukkan komitmennya untuk terus menjaga kualitas pendidikan melalui proses evaluasi dan pengembangan berkelanjutan. Kurikulum dipandang bukan hanya daftar mata kuliah, tetapi peta perjalanan yang akan membentuk karakter, kompetensi, dan masa depan lulusan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Pengembangan kurikulum yang adaptif dan berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang relevan, berkualitas, dan mampu menjawab tantangan masa depan.

Mahasiswa Magang Berdampak UGM di Bali: Pengalaman Lapangan Membuka Realitas Penangkapan Ikan Tradisional

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman terjun langsung ke lapangan sering kali menghadirkan pelajaran yang tidak ditemukan di ruang kelas. Hal tersebut dirasakan oleh Dias Aditya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, saat mengikuti Program Magang Berdampak di Bali. Selama menjalani kegiatan magang di kawasan perikanan Pengambengan, Bali, Dias mempelajari praktik penentuan daerah penangkapan ikan oleh nelayan, khususnya peran juru panggung dalam menemukan gerombolan ikan di laut. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses penangkapan ikan tidak hanya bergantung pada teknologi modern, tetapi juga pengetahuan lokal dan pengalaman panjang nelayan di lapangan.

Dias mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman paling menarik selama magang adalah melihat secara langsung bagaimana nelayan membaca kondisi laut sebelum menentukan lokasi penangkapan.

“Selama magang saya menyadari bahwa nelayan memiliki pengetahuan lapangan yang sangat kuat. Mereka membaca arus, gelombang, arah angin, bahkan tanda-tanda keberadaan ikan dari kondisi perairan,” ungkap Dias.

Berdasarkan hasil pengamatannya, juru panggung menentukan daerah penangkapan ikan dengan mempertimbangkan berbagai informasi yang diperoleh dari nelayan lain yang telah lebih dahulu melaut. Informasi tersebut umumnya berasal dari nelayan kapal fiber yang memberikan petunjuk mengenai keberadaan gerombolan ikan.

Dias menjelaskan bahwa terdapat dua mekanisme utama yang digunakan nelayan untuk mencari ikan. Cara pertama adalah sistem kejar, yaitu pencarian secara manual dengan terus bergerak mengikuti indikasi keberadaan ikan. Cara kedua adalah sistem nangko pelak, yang dilakukan dengan bantuan informasi dari nelayan lain di laut.

Selain itu, nelayan juga mengenali keberadaan gerombolan ikan melalui pantulan cahaya di permukaan laut dengan mempertimbangkan kekuatan arus, gelombang, angin, jarak tempuh, serta kedalaman perairan. Pengalaman tersebut juga membuka pandangan Dias mengenai tantangan penggunaan teknologi modern di lapangan. Ia menemukan bahwa alat fish finder yang secara umum digunakan untuk mendeteksi keberadaan ikan ternyata belum sepenuhnya diterapkan dalam praktik penangkapan tertentu.

Salah satu kendala yang ditemukan adalah cahaya dari layar fish finder yang dianggap mengganggu penglihatan juru panggung saat kondisi operasi penangkapan dilakukan tanpa penerangan agar gerombolan ikan lebih mudah diamati. Menurut Dias, pengalaman ini memberinya pelajaran penting bahwa inovasi teknologi dalam sektor perikanan perlu mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan kebiasaan nelayan di lapangan.

“Teknologi memang penting, tetapi harus bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Pengalaman di lapangan membuat saya memahami bahwa solusi perikanan tidak hanya soal alat yang canggih, tetapi juga memahami manusia yang menggunakannya,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga belajar memahami dinamika sektor perikanan secara langsung dari masyarakat pelaku utama di lapangan. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan pengalaman lapangan dan pemahaman praktik perikanan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mencetak generasi perikanan masa depan.

KMIP Perikanan UGM Gelar Pelepasliaran Tukik di Pantai Goa Cemara, Wujud Kepedulian Mahasiswa terhadap Ekosistem Laut

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen mahasiswa terhadap pelestarian lingkungan kembali diwujudkan melalui aksi nyata. Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan (KMIP) menggelar kegiatan pelepasliaran tukik di Pantai Goa Cemara pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang menggabungkan semangat konservasi, edukasi, dan kebersamaan mahasiswa Perikanan UGM.

Kegiatan pelepasliaran tukik berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Sejak pagi hari, mahasiswa terlibat dalam rangkaian kegiatan yang tidak hanya menghadirkan pengalaman lapangan, tetapi juga mengajak peserta memahami pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Sebagai organisasi mahasiswa di lingkungan Departemen Perikanan, KMIP terus mendorong berbagai kegiatan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik dan organisasi, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan lingkungan. Pelepasliaran tukik dipilih karena memiliki makna penting dalam mendukung konservasi satwa laut yang kini menghadapi berbagai ancaman.

Penyu merupakan salah satu spesies yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Namun keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan habitat, sampah laut, perubahan iklim, hingga aktivitas manusia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat secara langsung bahwa menjaga keberlanjutan laut dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama.

Momen pelepasan tukik menuju laut juga menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi peserta. Di tengah suasana Pantai Goa Cemara, mahasiswa tidak hanya menyaksikan proses pelepasliaran, tetapi juga merefleksikan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya konservasi lingkungan.

Bagi KMIP, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang aktif, peduli, dan berdampak. Mahasiswa tidak hanya belajar melalui ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenai isu-isu lingkungan dan konservasi sumber daya perikanan.

Melalui kegiatan seperti ini, KMIP menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 15 (Life on Land). Keterlibatan mahasiswa dalam aksi konservasi menjadi langkah penting dalam menjaga ekosistem laut dan keanekaragaman hayati bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Tinjau Mahasiswa Magang Berdampak di PPN Prigi

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Trenggalek — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman lapangan kembali diwujudkan melalui kunjungan dosen pembimbing ke lokasi Magang Berdampak mahasiswa di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Kunjungan dilakukan oleh Prof. Djumanto sebagai bentuk monitoring dan pendampingan terhadap mahasiswa peserta program magang yang sedang menjalani praktik profesional di salah satu pelabuhan perikanan strategis di pesisir selatan Jawa Timur tersebut.

Dalam kunjungan ini, Prof. Djumanto meninjau langsung berbagai aktivitas mahasiswa, mulai dari pengamatan proses pendaratan ikan, pengelolaan pelabuhan perikanan, tata niaga hasil tangkapan, hingga sistem operasional perikanan tangkap yang berlangsung di kawasan PPN Prigi.

Sebagai salah satu pusat aktivitas perikanan tangkap di Jawa Timur, PPN Prigi menjadi ruang belajar yang penting bagi mahasiswa untuk memahami dinamika dunia perikanan secara nyata. Mahasiswa tidak hanya mempelajari aspek teknis penangkapan ikan, tetapi juga melihat hubungan antara aktivitas pelabuhan, ekonomi nelayan, rantai distribusi hasil perikanan, dan pengelolaan sumber daya laut.

Program Magang Berdampak sendiri dirancang untuk memperkuat kompetensi mahasiswa melalui pengalaman langsung di dunia kerja. Melalui keterlibatan di instansi dan kawasan perikanan strategis, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik profesional di lapangan.

Selain melakukan monitoring, kunjungan ini juga menjadi ruang diskusi antara dosen pembimbing, mahasiswa, dan pihak pelabuhan terkait tantangan sektor perikanan tangkap modern, termasuk isu keberlanjutan sumber daya ikan, efisiensi pelabuhan, serta penguatan tata kelola perikanan. Mahasiswa peserta magang juga memperoleh kesempatan untuk memahami berbagai aspek manajemen pelabuhan perikanan, mulai dari layanan kapal, penanganan hasil tangkapan, pengawasan mutu ikan, hingga sistem logistik dan distribusi hasil perikanan. Bagi Departemen Perikanan UGM, pembelajaran berbasis praktik lapangan menjadi bagian penting dalam mencetak lulusan yang adaptif, profesional, dan memahami kondisi nyata sektor perikanan Indonesia.

Informasi mengenai PPN Prigi dapat diakses melalui:
Profil PPN Prigi

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pengalaman belajar berbasis lapangan menjadi langkah penting dalam membangun sumber daya manusia perikanan yang kompeten dan berorientasi pada keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Dosen Perikanan UGM Perkuat Kompetensi Petugas Karantina Yogyakarta dalam Deteksi Penyakit Ikan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya memperkuat sistem pengawasan kesehatan ikan terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang karantina perikanan. Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan In House Training (IHT) Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Penyakit Ikan pada Kamis, 30 April 2026.

Kegiatan ini menghadirkan dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, sebagai narasumber utama dalam pelatihan teknik pengambilan dan penanganan sampel penyakit ikan.

Pelatihan dibuka langsung oleh Kepala Karantina Yogyakarta, Obing Hobir As’ari, yang menekankan pentingnya peningkatan kompetensi petugas di tengah semakin dinamisnya lalu lintas media pembawa penyakit ikan. Kemampuan melakukan pengambilan sampel secara tepat dinilai menjadi fondasi utama dalam menghasilkan pengujian laboratorium yang akurat dan dapat dipercaya.

Dalam sesi materi, Dr. Laila membahas berbagai teknik sampling untuk pemeriksaan penyakit ikan, mulai dari metode pengambilan sampel representatif, prosedur penanganan sampel, hingga cara menjaga kualitas sampel agar tetap layak diuji di laboratorium kesehatan ikan.

Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik langsung pengambilan dan preparasi sampel untuk pengujian penyakit yang disebabkan oleh parasit, bakteri, dan virus. Simulasi laboratorium dilakukan secara interaktif dengan pendampingan langsung dari narasumber dan tim teknis.

Peserta pelatihan terlihat aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan di lapangan, termasuk risiko kontaminasi sampel, teknik preparasi organ target, hingga prosedur pengiriman sampel yang sesuai standar laboratorium kesehatan ikan.

Keterlibatan dosen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen akademisi dalam mendukung penguatan sistem biosekuriti dan pengawasan kesehatan ikan di Indonesia. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga karantina dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pengawasan penyakit ikan yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan pelatihan ini, Karantina Yogyakarta berharap kompetensi petugas semakin meningkat sehingga mampu mendukung sistem pengawasan kesehatan ikan yang profesional, responsif, dan berbasis standar ilmiah.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan sistem kesehatan ikan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan, keberlanjutan perikanan, dan keamanan sumber daya hayati perairan Indonesia.

 

Sumber Foto: Karantina DIY

Mahasiswa Perikanan UGM Angkatan 2024 Laksanakan Praktikum Lapangan di Juwana Pati

Berita Senin, 11 Mei 2026

Pati — Mahasiswa angkatan 2024 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan praktikum lapangan di kawasan perikanan Juwana sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Teknik Penangkapan Ikan dan Pengkajian Sosial Ekonomi Perikanan.

Kegiatan ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung dinamika sektor perikanan tangkap dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Selama praktikum, mahasiswa melakukan observasi lapangan, pengumpulan data, hingga interaksi langsung dengan nelayan dan pelaku usaha perikanan di kawasan Juwana yang dikenal sebagai salah satu sentra perikanan tangkap di pesisir utara Jawa.

Pada praktikum Teknik Penangkapan Ikan, mahasiswa mempelajari berbagai jenis alat tangkap, teknik operasi penangkapan, sistem kerja kapal perikanan, hingga proses penanganan hasil tangkapan di pelabuhan. Mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai tantangan sektor perikanan tangkap modern, termasuk efisiensi alat tangkap dan keberlanjutan sumber daya ikan.

Sementara itu, melalui mata kuliah Pengkajian Sosial Ekonomi Perikanan, mahasiswa diajak melihat sisi lain dunia perikanan yang berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat nelayan, rantai distribusi hasil perikanan, pola ekonomi rumah tangga nelayan, serta dinamika kehidupan komunitas pesisir.

Pendekatan pembelajaran lapangan ini menjadi salah satu ciri khas pendidikan di Departemen Perikanan UGM yang mengintegrasikan aspek teknis dan sosial dalam memahami sektor perikanan secara utuh. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang produksi dan sumber daya ikan, tetapi juga memahami relasi sosial dan ekonomi yang ada di dalamnya.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa aktif melakukan wawancara, pengamatan, dan diskusi dengan pelaku perikanan setempat. Pengalaman tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan analisis, komunikasi, dan pemecahan masalah mahasiswa terhadap isu-isu nyata di lapangan.

Praktikum lapangan di Juwana juga menjadi ruang pembelajaran mengenai pentingnya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat. Mahasiswa diajak memahami bahwa keberhasilan sektor perikanan tidak hanya ditentukan oleh hasil tangkapan, tetapi juga oleh kesejahteraan masyarakat pesisir dan keberlanjutan ekosistem laut.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mencetak lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus pengalaman lapangan yang kuat dalam menghadapi tantangan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pembelajaran berbasis praktik lapangan menjadi langkah penting dalam membangun sumber daya manusia perikanan yang kompeten dan berorientasi pada keberlanjutan.

Dosen Perikanan UGM Tinjau Mahasiswa Magang Berdampak di UPT P2SKP Tamperan Pacitan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Pacitan — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pembelajaran berbasis pengalaman lapangan kembali diwujudkan melalui kunjungan dosen pembimbing ke lokasi Magang Berdampak mahasiswa di UPT Pengembangan Pelabuhan Perikanan Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Tamperan.

Kunjungan dilakukan oleh Prof. Djumanto sebagai bagian dari monitoring dan pendampingan mahasiswa peserta program magang yang tengah menjalani praktik langsung di kawasan pelabuhan perikanan Tamperan, Pacitan.

Dalam kegiatan tersebut, Prof. Djumanto meninjau berbagai aktivitas mahasiswa selama mengikuti program magang, mulai dari pengelolaan pelabuhan perikanan, aktivitas pendaratan ikan, tata kelola hasil perikanan, hingga dinamika pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di tingkat lapangan.

Program Magang Berdampak menjadi salah satu upaya Departemen Perikanan UGM dalam memperkuat pengalaman praktis mahasiswa agar mampu memahami kondisi nyata sektor perikanan. Melalui keterlibatan langsung di instansi dan unit kerja perikanan, mahasiswa diharapkan dapat menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik profesional di lapangan.

Selain melakukan monitoring, kunjungan ini juga menjadi ruang diskusi antara dosen pembimbing, mahasiswa, dan pihak UPT terkait pengembangan kompetensi mahasiswa serta tantangan sektor perikanan tangkap dan pengelolaan pelabuhan perikanan saat ini.

UPT P2SKP Tamperan Pacitan sendiri merupakan salah satu kawasan strategis perikanan tangkap di pesisir selatan Jawa Timur yang memiliki aktivitas perikanan cukup dinamis. Lingkungan ini menjadi tempat belajar yang penting bagi mahasiswa untuk memahami sistem pengelolaan pelabuhan, distribusi hasil tangkapan, hingga interaksi sosial-ekonomi masyarakat nelayan.

Melalui program magang ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar mengenai komunikasi profesional, adaptasi lingkungan kerja, serta pentingnya kolaborasi dalam pengelolaan sektor perikanan dan kelautan.

Departemen Perikanan UGM terus mendorong pembelajaran yang adaptif dan kontekstual agar lulusan memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Informasi mengenai UPT P2SKP Tamperan Pacitan dapat diakses melalui:
UPT P2SKP Tamperan Pacitan

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pembelajaran berbasis pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam menciptakan sumber daya manusia unggul di bidang perikanan dan kelautan yang berkelanjutan.

Dosen Departemen Perikanan UGM Berikan Pelatihan Keamanan Pangan Hasil Perikanan di PPP Gesing

Berita Senin, 11 Mei 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali berkontribusi dalam peningkatan kapasitas masyarakat pesisir melalui kegiatan pelatihan keamanan pangan hasil perikanan yang dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Gesing, Gunungkidul, pada 7 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ir. Mgs. Muhammad Prima Putra, S.Pi., M.Sc., Ph.D. sebagai narasumber utama yang memberikan materi terkait pentingnya menjaga mutu dan keamanan hasil perikanan sejak proses penangkapan hingga distribusi.

Dalam pemaparannya, Dr. Prima menekankan bahwa mutu ikan sangat ditentukan oleh cara penanganan sejak awal. Ia menjelaskan pentingnya penerapan metode penangkapan ikan yang benar agar kualitas ikan tetap terjaga dan tidak mengalami kerusakan fisik maupun penurunan mutu. Selain itu, penanganan ikan di atas kapal juga menjadi perhatian utama, termasuk kebersihan wadah, sanitasi alat, serta penanganan yang cepat dan tepat setelah ikan ditangkap.

Tidak hanya itu, penggunaan rantai dingin (cold chain) dari atas kapal hingga proses pelelangan ikan turut menjadi poin penting yang disampaikan dalam pelatihan tersebut. Menurutnya, penerapan suhu dingin secara konsisten mampu memperlambat kerusakan ikan dan menjaga kesegaran bahan baku sehingga aman untuk dikonsumsi masyarakat. “Mutu ikan tidak dapat ditingkatkan, tetapi hanya bisa dipertahankan. Oleh karena itu, penanganan yang baik menjadi kunci utama,” tegasnya kepada peserta.

Dr. Prima juga mengingatkan peserta terkait potensi bahaya pangan yang khas pada produk perikanan, seperti keberadaan alergen dan toksin tertentu yang dapat membahayakan kesehatan apabila tidak ditangani dengan baik. Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan semakin waspada dan memiliki kepedulian untuk menjaga kualitas bahan baku ikan agar tetap aman dan bermutu tinggi.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Komisi D DPRD Kabupaten Gunungkidul. Pelatihan dihadiri oleh nelayan serta istri nelayan di kawasan PPP Gesing yang antusias mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab selama kegiatan berlangsung.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat pesisir terhadap keamanan pangan hasil perikanan semakin meningkat sehingga mampu mendukung penyediaan produk perikanan yang aman, bermutu, dan berdaya saing. Kegiatan pelatihan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Peningkatan kapasitas masyarakat pesisir dalam menjaga mutu dan keamanan pangan hasil perikanan menjadi langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

LPDP UGM dan Magister Ilmu Perikanan UGM Gelar Seminar VICTORY, Dorong Mahasiswa Tembus Rekognisi Global

Berita Jumat, 8 Mei 2026

Yogyakarta — Program Studi Magister Ilmu Perikanan (MIP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dengan komunitas LPDP UGM menyelenggarakan Seminar VICTORY: From Research to Global Recognition pada 7 Mei 2026 di Ruang 202 Departemen Perikanan UGM.

Kegiatan ini menjadi wadah pembekalan bagi mahasiswa pascasarjana dan peneliti muda untuk memahami strategi publikasi internasional, kompetisi global, hingga pengembangan jejaring akademik lintas negara. Seminar dirancang untuk mendorong mahasiswa agar mampu membawa hasil riset mereka menuju pengakuan internasional.

Mengusung tema “From Research to Global Recognition”, seminar ini menyoroti tantangan akademik modern yang menuntut mahasiswa tidak hanya menghasilkan penelitian berkualitas, tetapi juga mampu menembus jurnal internasional bereputasi dan forum ilmiah global.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Pelaksana, Aldy Sanjaya, dilanjutkan sambutan dari perwakilan LPDP UGM serta pembukaan resmi oleh Ketua Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Prof. Eko Setyobudi.

Pada sesi utama, peserta mendapatkan materi dan diskusi interaktif bersama Mukhlis Ibrahim, mahasiswa Program Doktoral Ilmu Pertanian UGM angkatan Genap 2023. Materi yang disampaikan mencakup strategi publikasi pada jurnal internasional terindeks Scopus dan Web of Science, pengalaman mengikuti konferensi internasional, hingga tips membangun portofolio akademik yang kompetitif.

Selain membahas publikasi ilmiah, seminar ini juga menghadirkan diskusi mengenai peluang lomba dan penghargaan internasional yang dapat meningkatkan daya saing mahasiswa di tingkat global. Peserta diberikan ruang untuk berdiskusi langsung mengenai tantangan yang dihadapi dalam proses riset dan publikasi.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi talkshow dan diskusi panel yang mendorong pertukaran pengalaman antar peserta dan narasumber. Seminar ini juga menjadi sarana membangun jejaring akademik antara mahasiswa Magister Ilmu Perikanan, awardee LPDP, dan mahasiswa lintas program studi di lingkungan UGM.

Melalui kegiatan ini, MIP UGM menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ekosistem akademik yang mendukung pengembangan riset berkualitas dan berdaya saing internasional. Seminar VICTORY diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk lebih percaya diri membawa hasil penelitiannya ke panggung dunia.

Kegiatan ini turut mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education),  SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Penguatan kapasitas riset dan publikasi internasional menjadi bagian penting dalam membangun inovasi dan sumber daya manusia unggul di bidang perikanan dan ilmu pengetahuan.

1…34567…16
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY