• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • hal. 6
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Fakultas Pertanian UGM Gelar Sosialisasi Program Fast Track: Mendorong Mahasiswa Perikanan untuk Percepatan Studi

BeasiswaBerita Jumat, 8 Mei 2026

Yogyakarta — Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menggelar kegiatan Sosialisasi Program Fast Track pada Jumat, 8 Mei 2026 pukul 13.30 WIB secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa yang tertarik melanjutkan studi magister melalui jalur percepatan akademik.

Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai mekanisme, persyaratan, serta alur pendaftaran Program Fast Track Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027. Program ini menjadi salah satu skema strategis UGM dalam mendukung percepatan studi mahasiswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan dari jenjang sarjana ke magister secara lebih efisien.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai tahapan pendaftaran, proses seleksi, hingga mekanisme pengajuan dari departemen ke fakultas dan Direktorat Pendidikan dan Pengajaran (DPP). Berdasarkan materi sosialisasi, proses pembuatan akun calon mahasiswa dimulai sejak 16 Februari hingga 30 April 2026, dilanjutkan pendaftaran di tingkat fakultas pada 1 Mei–10 Juni 2026.

Selain itu, peserta juga mendapatkan informasi mengenai tahapan seleksi di departemen yang dijadwalkan pada 11–19 Juni 2026. Seleksi dapat mencakup wawancara bagi mahasiswa yang lolos administrasi. Hasil seleksi direncanakan diumumkan pada 1 Juli 2026 sebelum proses pendaftaran akhir ke tingkat universitas.

Melalui sosialisasi ini, Departemen Perikanan UGM mendorong mahasiswa untuk mulai merencanakan jenjang pendidikan lebih awal dan memanfaatkan peluang pengembangan akademik yang tersedia. Program Fast Track dinilai dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempercepat penguatan kompetensi akademik dan riset sejak masa studi sarjana.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan terkait persyaratan akademik, kesiapan penelitian, hingga peluang pengembangan karier setelah menempuh program percepatan tersebut. Kegiatan ini juga menjadi wadah diskusi antara mahasiswa dan pihak departemen mengenai strategi pengembangan studi lanjut di bidang perikanan dan kelautan.

Sebagai institusi pendidikan tinggi, Departemen Perikanan UGM terus berupaya menghadirkan lingkungan akademik yang mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa secara berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Akses terhadap pendidikan tinggi yang berkualitas dan inklusif menjadi bagian penting dalam mencetak sumber daya manusia unggul di bidang perikanan dan kelautan.

Departemen Perikanan UGM Turut Ambil Bagian dalam Kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” di Bantul

Berita Kamis, 7 Mei 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada turut berpartisipasi dalam kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis, 7 Mei 2026 di kawasan Rawa Kalibayem.

Dalam kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM diwakili oleh Prof. Alim Isnansetyo dan Dr. Riza Y. Setiawan. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari dukungan akademisi terhadap upaya pengendalian spesies ikan invasif di perairan umum.

Kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” merupakan aksi kolaboratif yang melibatkan berbagai instansi, akademisi, serta masyarakat lokal untuk mengurangi populasi ikan sapu-sapu di kawasan rawa. Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan, termasuk merusak habitat alami dan berkompetisi dengan ikan lokal.

Acara diawali dengan apel persiapan dan sambutan dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY sebelum peserta bersama-sama melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di area rawa. Selain menjadi kegiatan pengendalian ekologi, agenda ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perairan darat.

Partisipasi Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan berbasis kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Pendekatan semacam ini dinilai penting untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Melalui keterlibatan langsung di lapangan, sivitas akademika juga dapat memperkuat peran pengabdian kepada masyarakat sekaligus menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik pengelolaan lingkungan yang nyata.

Kegiatan ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water),  SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dan SDG 15 (Life on Land). Pengendalian spesies invasif menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan dan keberlanjutan keanekaragaman hayati lokal.

KMIP dan Selam Perikanan UGM Gelar Sekolah SEKBEN, Bekali Mahasiswa Keterampilan Administrasi Organisasi

Berita Kamis, 7 Mei 2026

Yogyakarta — Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan (KMIP) bersama Selam Perikanan Universitas Gadjah Mada menggelar kegiatan Sekolah SEKBEN sebagai upaya meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam bidang administrasi organisasi. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami tata kelola persuratan dan penyusunan proposal kegiatan secara profesional.

Kegiatan pembekalan ini menghadirkan Nahla Alfiatunnisa, S.Pi selaku narasumber. Dalam sesi pemaparan, peserta mendapatkan materi mengenai teknik penyusunan surat resmi, tata naskah organisasi, hingga penyusunan proposal kegiatan yang baik dan sistematis.

Sekolah SEKBEN dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan administratif yang menjadi bagian penting dalam organisasi kemahasiswaan. Tidak hanya memahami teori, peserta juga diajak berdiskusi mengenai praktik penyusunan dokumen organisasi yang efektif dan sesuai standar formal.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi organisasi, manajemen kegiatan, serta profesionalisme dalam menjalankan program kerja kemahasiswaan. Keterampilan administratif dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun organisasi mahasiswa yang aktif, tertib, dan adaptif terhadap berbagai tantangan.

Selain menjadi wadah pembelajaran teknis, kegiatan ini juga memperkuat budaya kolaborasi dan pengembangan kapasitas antaranggota organisasi mahasiswa di lingkungan Departemen Perikanan UGM. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi interaktif yang berlangsung selama kegiatan.

Sebagai organisasi kemahasiswaan di Departemen Perikanan, Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan terus berupaya menghadirkan berbagai program pengembangan diri yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga keterampilan organisasi dan kepemimpinan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Penguatan kapasitas mahasiswa melalui pendidikan organisasi menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi muda yang kolaboratif, profesional, dan siap berkontribusi di masyarakat.

Dosen Perikanan UGM Soroti Ancaman Mikroplastik terhadap Masa Depan Laut dalam Oceanology Talk Series BRIN

Berita Rabu, 6 Mei 2026

Yogyakarta — Isu pencemaran laut kembali menjadi perhatian serius dalam forum ilmiah nasional. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Sulistiowati, menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Oceanology Talk Series #4 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional pada Rabu, 6 Mei 2026.

Dalam forum bertajuk “Anthropogenic Footprints: Heavy Metal and Plastic Stress in Marine Environments”, Dr. Sulistiowati membawakan materi berjudul “How Marine Debris and Microplastics are Compromising the Future of Our Oceans”. Materi tersebut mengangkat ancaman serius sampah laut dan mikroplastik terhadap keberlanjutan ekosistem perairan global.

Diskusi menyoroti bagaimana limbah plastik yang terus meningkat di laut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga masuk ke rantai makanan melalui organisme laut. Mikroplastik kini ditemukan di berbagai ekosistem, mulai dari sedimen, plankton, ikan, hingga produk konsumsi manusia, sehingga menjadi isu lingkungan sekaligus kesehatan yang semakin mendesak.

Dalam paparannya, Dr. Sulistiowati menekankan bahwa pencemaran mikroplastik merupakan persoalan lintas sektor yang membutuhkan pendekatan kolaboratif antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Menurutnya, perubahan perilaku konsumsi serta pengelolaan limbah yang lebih baik menjadi langkah penting dalam mengurangi tekanan terhadap laut.

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini juga menghadirkan peneliti dari Pusat Riset Oseanologi BRIN, termasuk Triyoni Purbonegoro yang membahas akumulasi logam berat pada lingkungan perairan. Forum ini menjadi ruang diskusi ilmiah mengenai dampak aktivitas manusia terhadap kesehatan ekosistem laut.

Keterlibatan dosen Perikanan UGM dalam forum nasional ini menunjukkan komitmen institusi dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang responsif terhadap isu lingkungan global. Penelitian dan edukasi mengenai pencemaran laut dinilai semakin penting di tengah meningkatnya ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya perairan.

Selain memperkuat jejaring akademik dan riset, partisipasi ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga laut dari ancaman sampah plastik dan limbah berbahaya lainnya.

Topik yang diangkat dalam forum ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan 12 (Responsible Consumption and Production). Upaya mengurangi pencemaran laut menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perairan bagi generasi mendatang.

Dosen Perikanan UGM Inisiasi Kerja Sama Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Gunungkidul

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Gunungkidul — Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menginisiasi kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat di wilayah Gunungkidul sebagai bagian dari penguatan sinergi akademik dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Kegiatan ini dijalankan oleh tim dosen yang terdiri atas Dr. Endah Prihatiningtyastuti, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Anes Dwi Jayanti. Selain menjadi langkah awal kolaborasi penelitian dan pengabdian, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi bersama masyarakat dan pemangku kepentingan terkait pengembangan potensi wilayah pesisir dan perikanan.

Dalam diskusi tersebut, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari pengelolaan sumber daya perairan, pemberdayaan masyarakat pesisir, penguatan kapasitas kelompok perikanan, hingga peluang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Pendekatan kolaboratif menjadi salah satu fokus utama agar program yang dijalankan tidak hanya berbasis penelitian akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Tim dosen Perikanan UGM menekankan pentingnya integrasi antara penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam proses pengembangan dan pengambilan keputusan.

Selain membahas potensi pengembangan sektor perikanan, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog untuk memahami tantangan lokal yang dihadapi masyarakat, termasuk isu keberlanjutan sumber daya, perubahan lingkungan, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi komunitas pesisir.

Kerja sama ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi jangka panjang antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam pengembangan riset terapan serta program pemberdayaan berbasis kebutuhan lokal.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya berkembang di ruang akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.

Inisiatif ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan  SDG 14 (Life Below Water). Kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan dan inklusif.

Dari Laut ke Ruang Sosial: Dosen Perikanan UGM Bahas Ketahanan Masyarakat Pesisir di Kuliah Umum Undiksha

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Buleleng – Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han) menjadi narasumber dalam kegiatan Kuliah Umum Public Lecture Series #10 dan #11 yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sosiologi bersama Eurasia Foundation di Universitas Pendidikan Ganesha pada 5 Mei 2026.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Balingkang Confucius Institute Undiksha tersebut, Dr. Mukti Aprian akan menyampaikan materi bertajuk “Relasi antar Masyarakat Pesisir di Indonesia: Potensi Ketahanan Sosial dan Budaya Menuju Indonesia Emas”. Materi ini menyoroti pentingnya memahami masyarakat pesisir tidak hanya dari aspek ekonomi dan produksi, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, dan relasi antar komunitas.

Dalam berbagai publikasinya, Dr. Mukti Aprian dikenal aktif mengangkat isu-isu sosial dalam sektor perikanan, termasuk dinamika masyarakat pesisir, hubungan sipil-militer dalam pengelolaan sumber daya laut, hingga perubahan orientasi riset perikanan modern yang dinilai semakin mengesampingkan aspek sosial. Salah satu kajiannya bahkan menyoroti bagaimana penelitian fleet dynamics perikanan global mengalami kecenderungan dominasi pendekatan ekonomi dan teknis, sementara dimensi sosial masyarakat nelayan perlahan memudar.

Menurutnya, sektor perikanan tidak dapat dipahami hanya melalui angka produksi atau efisiensi ekonomi semata. Di balik aktivitas perikanan terdapat relasi sosial, nilai budaya, solidaritas komunitas, hingga mekanisme adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan dan kebijakan.

Dalam beberapa penelitiannya, ia juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dan partisipatif dalam tata kelola sumber daya pesisir. Ketahanan sektor perikanan, menurutnya, tidak hanya bergantung pada kondisi ekologi laut, tetapi juga pada kekuatan relasi sosial masyarakat yang hidup di dalamnya.

Kehadiran Dr. Mukti Aprian sebagai pembicara di forum lintas disiplin ini menunjukkan bahwa ilmu perikanan memiliki keterkaitan erat dengan ilmu sosial dan humaniora. Selain Dr. Mukti, pembicara lainnya adalah Dr. phil. Geger Riyanto dari Program studi Antropologi Universitas Indonesia yang membawakan paparan dengan tema, “Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir di Maluku.” Dengan hadirnya berbagai ahli di bidang yang berbeda, pendekatan multidisiplin dinilai semakin penting untuk menjawab tantangan kompleks di wilayah pesisir Indonesia.

Kegiatan kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai bidang ilmu, serta menghadirkan ruang diskusi mengenai masyarakat pesisir sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Sejalan dengan itu, gagasan yang diangkat dalam kuliah umum ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water),  SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi ,dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Penguatan ketahanan sosial masyarakat pesisir menjadi bagian penting dalam menciptakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Fakultas Pertanian UGM dan FisTx Indonesia Tandatangani MoU Penguatan Inovasi Akuakultur Berkelanjutan

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Yogyakarta — Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada resmi menjalin kerja sama strategis dengan FisTx Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam upaya memperkuat inovasi dan pengembangan akuakultur berkelanjutan di Indonesia.

Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam mempertemukan dunia akademik dengan industri berbasis teknologi perikanan. Kerja sama diarahkan pada pengembangan riset, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, implementasi teknologi budidaya modern, hingga penguatan ekosistem akuakultur yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Sebagai perusahaan rintisan berbasis teknologi akuakultur, FisTx Indonesia dikenal aktif mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung produktivitas budidaya, khususnya sektor tambak udang dan perikanan modern. Perusahaan ini mengembangkan solusi seperti teknologi UV tambak, sistem budidaya terukur, pendampingan petambak, hingga pengelolaan kualitas air berbasis teknologi.

Dalam beberapa tahun terakhir, FisTx juga aktif memperkenalkan inovasi teknologi budidaya berkelanjutan, termasuk teknologi elektrolisis untuk meningkatkan kualitas air tambak dan mengurangi penggunaan bahan kimia dalam budidaya udang.

Melalui kerja sama ini, Fakultas Pertanian UGM berharap mahasiswa dan dosen dapat memperoleh ruang kolaborasi yang lebih luas dengan dunia industri, baik dalam bentuk penelitian terapan, program magang, pengembangan inovasi, maupun hilirisasi teknologi perikanan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dinilai semakin penting di tengah tantangan sektor akuakultur modern yang membutuhkan pendekatan multidisiplin dan berbasis teknologi. Integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri diharapkan mampu melahirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat pembudidaya.

Selain mendukung pengembangan teknologi, kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi sektor perikanan menuju sistem budidaya yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sejalan dengan itu, penandatanganan MoU ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomidan SDG 14 (Life Below Water). Sinergi antara perguruan tinggi dan industri menjadi langkah strategis dalam memperkuat inovasi akuakultur sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

Generasi Muda Diajak Kenal Keamanan Pangan Perikanan dalam Sosialisasi di BPTPB Cangkringan

Berita Senin, 4 Mei 2026

Sleman — Upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya keamanan pangan produk perikanan terus dilakukan melalui kegiatan edukatif dan interaktif. Pada Selasa, 28 April 2026, UPTD Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya menggelar kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan Produk Perikanan Budidaya di kawasan Argomulyo, Cangkringan.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas anggota Saka Bahari Kota Yogyakarta serta siswa-siswi SMK Sanden. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami pentingnya penerapan keamanan pangan dalam budidaya ikan, mulai dari proses produksi hingga pengelolaan hasil perikanan yang memenuhi standar mutu dan aman dikonsumsi.

Acara diawali dengan sesi pematerian di dalam ruangan. Materi pertama disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta mengenai program KAWEDAR (Kaweruh Digital Mina lan Samudra). Program ini merupakan inisiatif edukasi digital yang bertujuan memperluas penyebaran informasi dan literasi sektor kelautan dan perikanan melalui media sosial dan platform digital agar lebih mudah diakses masyarakat.

Selanjutnya, Rifki Listianto selaku anggota Komisi B DPRD Kota Yogyakarta memaparkan pentingnya dukungan kebijakan terhadap jaminan mutu produk perikanan. Ia menjelaskan bahwa DPRD memiliki peran strategis melalui fungsi penganggaran, pengawasan, dan legislasi untuk mendukung pengembangan sektor perikanan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Materi utama mengenai Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) disampaikan oleh Desy Putri Handayani. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa keamanan pangan harus dimulai sejak proses budidaya. Peserta dikenalkan pada berbagai aspek penting, seperti kualitas air, manajemen pakan, desain kolam yang baik, sanitasi lingkungan, hingga pemilihan benih sehat.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep Feed Conversion Ratio (FCR), yaitu indikator efisiensi penggunaan pakan dalam budidaya ikan. Pemahaman mengenai FCR dinilai penting karena berkaitan langsung dengan produktivitas budidaya sekaligus efisiensi biaya produksi.

Tidak hanya berlangsung di dalam kelas, kegiatan juga dilanjutkan dengan sesi lapangan melalui kunjungan ke UKBAT Wonocatur. Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat secara langsung praktik budidaya ikan air tawar dan berbagai komoditas yang dikembangkan, seperti ikan lele, nila, tawes, hingga wader pari.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis mengenai sistem budidaya ikan yang baik dan aman. Pendekatan edukatif berbasis pengalaman lapangan diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor perikanan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 4 (Quality Education), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan tujuan ke-14 (Life Below Water). Edukasi mengenai keamanan pangan dan budidaya berkelanjutan menjadi langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan.

Hari Pendidikan Nasional 2026: Departemen Perikanan UGM Refleksikan Pendidikan untuk Masa Depan Laut dan Pangan

Berita Sabtu, 2 Mei 2026

Yogyakarta, 2 Mei 2026 — Peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum refleksi bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam melihat kembali peran pendidikan terhadap masa depan sektor perikanan dan keberlanjutan sumber daya perairan Indonesia.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi ekosistem laut, hingga ancaman ketahanan pangan, pendidikan dinilai memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan. Pendidikan perikanan tidak lagi sekadar berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang keberlanjutan, inovasi, dan keadilan sosial bagi masyarakat pesisir.

Departemen Perikanan UGM terus mendorong proses pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui penguatan riset, praktikum lapangan, kolaborasi internasional, hingga pengabdian masyarakat, mahasiswa didorong untuk memahami persoalan perikanan secara lebih holistik—mulai dari aspek ekologi, ekonomi, teknologi, hingga dinamika sosial masyarakat.

Momentum Hari Pendidikan Nasional juga menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan harus mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Berbagai penelitian yang dikembangkan di lingkungan Departemen Perikanan diarahkan untuk memberikan solusi terhadap isu strategis, seperti perikanan berkelanjutan, kesehatan ikan, adaptasi perubahan iklim, hingga pengembangan pangan berbasis sumber daya laut.

Selain itu, transformasi digital dan perkembangan teknologi turut menjadi tantangan sekaligus peluang dalam dunia pendidikan perikanan. Mahasiswa dituntut tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif dalam menghadapi perubahan global yang semakin cepat.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga masa depan laut Indonesia. Melalui pendidikan yang inklusif dan berkualitas, diharapkan lahir generasi perikanan yang mampu menjadi penggerak perubahan menuju pengelolaan sumber daya perairan yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan.

Refleksi Hari Pendidikan Nasional ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan yang berkualitas menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang mampu menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus mendukung ketahanan pangan masa depan.

Hari Buruh 2026: Departemen Perikanan UGM Refleksikan Masa Depan Pekerja Sektor Perikanan

Berita Jumat, 1 Mei 2026

Yogyakarta, 1 Mei 2026 — Peringatan Hari Buruh Internasional menjadi momentum refleksi bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada terhadap kondisi dan masa depan pekerja di sektor perikanan. Di tengah tantangan perubahan iklim, tekanan ekonomi, dan transformasi industri, pekerja perikanan dinilai menjadi kelompok yang memiliki peran vital namun sering kali menghadapi berbagai kerentanan.

Sektor perikanan selama ini tidak hanya menopang ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat pesisir, nelayan, pembudidaya, pengolah hasil perikanan, hingga pekerja rantai distribusi. Namun demikian, berbagai persoalan seperti ketidakpastian pendapatan, risiko kerja tinggi, akses perlindungan sosial yang terbatas, hingga tekanan terhadap sumber daya laut masih menjadi tantangan nyata.

Melalui momentum Hari Buruh, sivitas akademika Departemen Perikanan UGM menekankan pentingnya membangun sistem perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga adil bagi para pekerja di dalamnya. Pendekatan keberlanjutan dinilai harus mencakup aspek sosial, termasuk kesejahteraan tenaga kerja, keselamatan kerja, serta akses terhadap pendidikan dan teknologi.

Selain itu, perkembangan teknologi dan modernisasi sektor perikanan juga perlu diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Transformasi menuju perikanan modern tidak boleh meninggalkan masyarakat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi perikanan nasional.

Dalam konteks akademik, Departemen Perikanan UGM terus mendorong penelitian dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada penguatan ketahanan sosial-ekonomi komunitas perikanan. Berbagai kajian tentang dinamika nelayan, perikanan adaptif, hingga tata kelola sumber daya pesisir menjadi bagian dari upaya memahami realitas pekerja perikanan secara lebih utuh.

Hari Buruh juga menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sektor perikanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologi laut, tetapi juga oleh kesejahteraan manusia yang bergantung padanya. Laut yang sehat perlu diiringi dengan kehidupan pekerja yang layak dan bermartabat.

Sejalan dengan itu, refleksi ini juga berkaitan erat dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya  SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas dan SDG 14 (Life Below Water). Pengelolaan perikanan yang berkelanjutan harus berjalan beriringan dengan penciptaan pekerjaan yang layak, perlindungan pekerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

1…45678…16
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY