• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • hal. 4
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Menuju Akreditasi Unggul: Departemen Perikanan UGM Perkuat Sinergi Hadapi Asesmen Lapangan LAM-PTIP

Berita Senin, 25 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen menjaga mutu pendidikan tinggi terus diperkuat oleh Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melalui penyelenggaraan Rapat Koordinasi Asesmen Lapangan LAM-PTIP untuk Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) dan Program Magister Ilmu Perikanan (MIP). Kegiatan ini diselenggarakan pada Senin, 25 Mei 2026 di Ruang 202 Departemen Perikanan UGM sebagai bagian dari persiapan menghadapi proses asesmen lapangan akreditasi.

Rapat koordinasi dibuka oleh Ketua Departemen Perikanan Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc. yang menekankan pentingnya kolaborasi dan kesiapan seluruh sivitas akademika dalam menghadapi tahapan asesmen. Menurutnya, proses akreditasi tidak sekadar menjadi evaluasi administratif, tetapi juga momentum refleksi untuk memastikan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang terus berkembang dan berdampak.

Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur dosen, pengelola program studi, tenaga kependidikan, serta tim pendukung yang akan terlibat dalam proses asesmen lapangan. Persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peninjauan dokumen, sinkronisasi data, penguatan narasi capaian program studi, hingga pembahasan berbagai aspek penilaian mutu akademik.

Sejumlah tokoh dan akademisi Departemen Perikanan UGM hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Sekretaris Departemen Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., Ketua Program Studi THP Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si. (Han), Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si., Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si., hingga Prof. Dr. Ir. Djumanto, M.Sc. serta sejumlah dosen dan tenaga kependidikan lainnya. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa proses peningkatan mutu merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh elemen departemen.

Asesmen lapangan menjadi salah satu tahapan penting dalam sistem penjaminan mutu perguruan tinggi karena tidak hanya menilai dokumen, tetapi juga melihat implementasi nyata proses pendidikan, tata kelola, luaran lulusan, budaya akademik, hingga dampak program studi terhadap masyarakat.

Bagi Program Studi Teknologi Hasil Perikanan dan Magister Ilmu Perikanan, asesmen ini juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan berbagai inovasi pembelajaran, aktivitas riset, jejaring kolaborasi, serta kontribusi yang telah dilakukan dalam pengembangan sektor perikanan Indonesia. Lebih dari sekadar proses akreditasi, kegiatan ini menjadi gambaran semangat kolektif Departemen Perikanan UGM dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Sinergi yang terbangun diharapkan tidak hanya menghasilkan capaian akreditasi terbaik, tetapi juga memperkuat kualitas pendidikan yang relevan, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi internal dalam mewujudkan sistem pendidikan yang unggul dan berkelanjutan.

Perkuat Jejaring Riset Nasional, Dosen Departemen Perikanan UGM Hadiri Koordinasi Kolaborasi PKR Alga Laut UHO–BRIN–UGM

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya memperkuat kolaborasi riset lintas institusi terus menjadi bagian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pada sektor kelautan dan perikanan. Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadiri kegiatan Koordinasi dan Jejaring Kolaborasi Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Alga Laut UHO–BRIN–UGM yang diselenggarakan pada Kamis, 21 Mei 2026 di Gedung A4 Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan tahun pertama program Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Alga Laut yang diinisiasi oleh Universitas Halu Oleo bekerja sama dengan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Universitas Gadjah Mada. Agenda utama pertemuan meliputi diskusi capaian luaran penelitian, berbagi hasil riset, hingga penguatan jejaring kolaborasi pengembangan alga laut di Indonesia.

Pertemuan ini dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai institusi. Dari Departemen Perikanan UGM hadir Ketua Departemen Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., Sekretaris Departemen Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., serta para ketua program studi dan kepala laboratorium. Turut hadir Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si. selaku Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si. Ketua Program Studi Akuakultur, Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc., Ph.D. Ketua Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, dan Prof. Dr. Ir. Leo Setyobudi, S.Pi., M.Si. Ketua Program Studi Magister Ilmu Perikanan.

Selain unsur Departemen Perikanan UGM, kegiatan juga melibatkan berbagai peneliti dan akademisi nasional. Hadir pula Ketua PKR Alga Laut UHO Wa Iba S.Pi., M.App.Sc., Ph.D., peneliti BRIN Dr. Nurrahmi Dewi Fajarningsih, Dr. Singgih Wibowo, serta Bakti Beryanto Sedayu, Ph.D. dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan penguatan ekosistem riset berbasis kolaborasi lintas institusi.

Alga laut saat ini menjadi salah satu komoditas strategis yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga potensi besar dalam pengembangan pangan, bioenergi, biomaterial, kesehatan, dan industri berbasis sumber daya hayati. Karena itu, penguatan kolaborasi penelitian dinilai menjadi langkah penting untuk mempercepat inovasi serta meningkatkan dampak riset bagi masyarakat.

Bagi Departemen Perikanan UGM, partisipasi dalam forum seperti ini membuka ruang lebih luas bagi pengembangan riset multidisiplin, memperkuat jaringan nasional, sekaligus memperluas peluang kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat di masa mendatang.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan riset, tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), serta tujuan ke-14 (Life Below Water) melalui pengembangan ilmu pengetahuan untuk mendukung pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Magang Berdampak Mahasiswa Perikanan UGM: Suara Nelayan Juwana Diangkat ke Ruang Akademik dan Kebijakan

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Program Magang Berdampak di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali melahirkan karya penelitian yang dekat dengan realitas masyarakat pesisir. Salah satu mahasiswa, berhasil mengangkat dinamika sosial-ekonomi nelayan melalui penelitian berjudul “Protes Nelayan terhadap Kebijakan Penerimaan Negara Bukan Pajak Pasca Produksi di Pelabuhan Perikanan Pantai Juwana.”

Penelitian ini lahir dari pengalaman lapangan yang diperoleh selama kegiatan magang dan observasi langsung di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana, Kabupaten Pati. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, Ia melakukan wawancara dengan pemilik kapal, pengurus kapal, ABK, hingga pihak pelabuhan untuk memahami dampak kebijakan PNBP pasca produksi terhadap kehidupan nelayan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem PNBP pasca produksi sejak 2023 memunculkan keresahan di kalangan nelayan Pantura. Bentuk protes yang dilakukan meliputi demonstrasi, audiensi langsung, pemasangan surat terbuka, hingga penundaan pembayaran PNBP. Nelayan menilai kebijakan tersebut memberatkan karena pendapatan mereka sangat bergantung pada cuaca, musim, dan hasil tangkapan yang fluktuatif. Selain itu, adanya ancaman suspend izin kapal, denda keterlambatan pembayaran, serta ketidaksesuaian harga acuan ikan dengan harga pasar menjadi persoalan utama yang dirasakan nelayan.

Menariknya, penelitian ini tidak hanya menyoroti konflik kebijakan, tetapi juga menunjukkan pentingnya dialog antara pemerintah dan masyarakat pesisir. Respons dari pihak pelabuhan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang membuka ruang diskusi menjadi indikasi bahwa pengelolaan perikanan membutuhkan pendekatan partisipatif dan adaptif.

Melalui pengalaman Magang Berdampak, Mahasiswa tersebut tidak hanya belajar metode penelitian, tetapi juga memahami secara langsung kompleksitas kehidupan nelayan dan tata kelola sektor perikanan nasional. Pengalaman ini memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan ilmu akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.

Program ini juga memiliki keterkaitan kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian mengenai kesejahteraan nelayan mendukung SDG 1 (No Poverty) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui perhatian terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas. Selain itu, kajian tata kelola perikanan yang lebih adil dan partisipatif turut mendukung SDG 14 (Life Below Water) dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan dialog antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui karya seperti ini, mahasiswa Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa riset bukan hanya tentang data dan teori, tetapi juga tentang menghadirkan suara masyarakat pesisir ke ruang akademik dan pengambilan kebijakan.

Antara Yogyakarta dan Rwanda: Alumni Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Posisi Assistant Lecturer dan Bawa Semangat Kolaborasi Global

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan kembali datang dari alumni internasional Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Joas Iradukunda, alumni Program Magister Ilmu Perikanan UGM asal Rwanda, resmi diterima untuk posisi Assistant Lecturer bidang Aquaculture and/or Fishery Management di University of Rwanda.

Berdasarkan pengumuman resmi hasil seleksi yang diterbitkan pada 9 Mei 2026 oleh College of Veterinary Medicine and Animal Sciences, University of Rwanda, Joas memperoleh nilai 90,3, menjadi peserta dengan skor tertinggi pada kategori Assistant Lecturer (Aquaculture and/or Fishery Management) dan dinyatakan Passed (Recommended for Recruitment). Pencapaian tersebut menempatkannya sebagai kandidat utama untuk bergabung dalam pengembangan pendidikan tinggi dan riset perikanan di Rwanda.

Perjalanan Joas menuju capaian tersebut bukanlah perjalanan singkat. Ia merupakan mahasiswa internasional penerima Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship, program beasiswa pemerintah Indonesia yang membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai negara berkembang untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia sekaligus memperkuat kerja sama internasional melalui pendidikan dan diplomasi akademik.

Selama menempuh pendidikan di Magister Ilmu Perikanan UGM, Joas mendapatkan pendampingan akademik dari dua dosen Departemen Perikanan UGM, yaitu Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dan Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. Keduanya tidak hanya berperan sebagai pembimbing akademik, tetapi juga menjadi sosok penting dalam perjalanan studi Joas selama berada jauh dari negara asalnya.

Bagi Joas, proses pendidikan yang ia jalani di UGM bukan sekadar hubungan formal antara mahasiswa dan dosen. Di balik proses penelitian, diskusi, dan bimbingan akademik, terdapat dukungan personal yang membentuk pengalaman belajarnya selama menempuh studi.

Dalam ungkapan rasa syukurnya, Joas menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pembimbingnya:

“Thank you very much for your supervision, guidance, and continuous support. I truly appreciate everything you have done for me, not only as a supervisor but also like a parent. I am sincerely grateful.”

Ungkapan tersebut menggambarkan hubungan yang terbangun tidak hanya sebatas proses akademik, tetapi juga kedekatan dan dukungan kemanusiaan yang sering menjadi kekuatan tersendiri dalam perjalanan mahasiswa internasional. Menempuh studi di negara baru dengan lingkungan budaya yang berbeda tentu menghadirkan tantangan, sehingga kehadiran pembimbing yang suportif menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Selama belajar di Yogyakarta, Joas tidak hanya memperdalam ilmu tentang akuakultur dan manajemen perikanan, tetapi juga membangun jejaring internasional serta pengalaman akademik lintas budaya. Lingkungan pendidikan di UGM mempertemukannya dengan berbagai perspektif mengenai keberlanjutan sumber daya perikanan, pembangunan masyarakat, hingga tantangan pangan global.

Kini, setelah kembali ke Rwanda dan berhasil meraih posisi Assistant Lecturer, Joas membawa lebih dari sekadar gelar akademik. Ia membawa pengalaman, pengetahuan, serta semangat kolaborasi global yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Indonesia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, capaian Joas menjadi bukti bahwa pendidikan memiliki dampak lintas batas negara. Alumni internasional tidak hanya kembali sebagai lulusan, tetapi juga menjadi jembatan pengetahuan dan agen perubahan yang memperluas kontribusi UGM di tingkat global.

Kisah Joas juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Pendidikan berkualitas dan kolaborasi internasional menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang mampu memberikan dampak nyata lintas negara dan budaya.

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Kebangkitan Perikanan Dimulai dari Ilmu, Inovasi, dan Kepedulian

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai momentum refleksi perjalanan bangsa dalam membangun persatuan, semangat perubahan, dan cita-cita menuju masa depan yang lebih baik. Bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi momen untuk merefleksikan peran sektor perikanan dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Kebangkitan hari ini tidak lagi dimaknai sebatas perjuangan fisik atau sejarah masa lalu. Di tengah perubahan iklim, tekanan terhadap sumber daya laut, perkembangan teknologi, hingga dinamika kebutuhan pangan global, kebangkitan sektor perikanan justru hadir melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi.

Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi luar biasa. Laut bukan hanya ruang geografis, tetapi juga sumber kehidupan, ruang ekonomi, sumber pangan, dan masa depan bangsa. Namun potensi besar tersebut menghadapi tantangan yang tidak ringan: penurunan kualitas lingkungan, eksploitasi sumber daya, sampah laut, perubahan ekosistem, serta ketimpangan pembangunan masyarakat pesisir.

Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa membangun masa depan sektor perikanan memerlukan semangat baru. Kebangkitan sektor perikanan tidak cukup hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya dikelola secara bijaksana dan berkelanjutan.

Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan UGM, kebangkitan diwujudkan melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan generasi muda yang siap menjawab tantangan masa depan. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan memahami teori di ruang kelas, tetapi juga diajak hadir di lapangan, mendengarkan masyarakat, memecahkan persoalan nyata, dan menciptakan inovasi yang berdampak.

Di berbagai ruang pembelajaran, laboratorium, kawasan pesisir, hingga lokasi penelitian dan pengabdian, semangat kebangkitan tersebut terus tumbuh. Setiap penelitian, pengembangan teknologi, kerja sama, serta kegiatan mahasiswa menjadi bagian kecil dari upaya besar membangun masa depan laut Indonesia.

Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa kebangkitan bangsa tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari kesadaran, kepedulian, dan kerja bersama. Di sektor perikanan, kebangkitan dimulai dari keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, dan menjaga laut agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.

Refleksi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Semangat kebangkitan di bidang perikanan bukan hanya tentang masa kini, tetapi juga tentang membangun masa depan yang berkelanjutan melalui ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan kepedulian terhadap sumber daya akuatik.

Bahaya penggunaan formalin dalam produk Pangan Olahan Hasil Perikanan

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Sleman, 19 Mei 2026 – Ir. Mgs. Muhammad Prima Putra, S.Pi., M.Sc., Ph.D., IPM., memberikan penyuluhan terkait keamanan pangan olahan hasil perikanan selama distribusi, dengan fokus pada bahaya penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak tepat, khususnya formalin pada produk perikanan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DIY bekerja sama dengan PSDKP Cilacap, dan diikuti oleh pedagang serta pengolah hasil perikanan di Sleman. Acara berlangsung di Ruang Pertemuan Pasar Gentan, Sleman, Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Muhammad Prima Putra memberikan pemahaman terkait cara penanganan ikan yang baik, terutama melalui penggunaan es dan sistem rantai dingin (cold chain) untuk menjaga kualitas ikan segar tetap optimal. Beliau juga menjelaskan secara rinci risiko kesehatan akibat penggunaan BTP yang tidak sesuai, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

Formalin, jika dikonsumsi, dapat menimbulkan berbagai bahaya bagi kesehatan tubuh, antara lain iritasi pada saluran pencernaan, mual, muntah, gangguan fungsi hati dan ginjal, hingga risiko kanker jangka panjang. Paparan formalin yang berulang atau dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan serius dan bahkan kematian, sehingga sangat penting untuk menghindari penggunaan zat ini dalam produk perikanan.

Narasumber dari PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) kemudian menambahkan bahasan terkait peraturan-peraturan terkait keamanan pangan dan larangan penggunaan BTP berbahaya pada produk perikanan. PSDKP mengharapkan kerja sama aktif dari pedagang untuk dapat mendeteksi produsen yang masih menggunakan formalin, sehingga ke depan diharapkan peredaran produk perikanan berformalin dapat ditekan sampai habis.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pedagang dan pengolah ikan akan pentingnya keamanan pangan, sehingga konsumen menerima produk perikanan yang segar, sehat, dan aman dikonsumsi. Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya  SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Edukasi mengenai keamanan pangan, penanganan hasil perikanan yang baik, serta pencegahan penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya menjadi langkah penting dalam menjamin masyarakat memperoleh pangan yang aman dan sehat. Selain itu, penguatan kesadaran pelaku usaha perikanan juga mendukung sistem distribusi dan konsumsi produk perikanan yang lebih bertanggung jawab, berkualitas, dan berkelanjutan.

Belajar dari Laut Jawa: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Dinamika Penangkapan Ikan dan Tantangan Keberlanjutan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Program Magang Berdampak tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi mahasiswa, tetapi juga menghadirkan ruang belajar langsung mengenai realitas sektor perikanan Indonesia. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Gondoyoni David Ananto Putro, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, selama menjalani kegiatan magang yang berfokus pada aktivitas penangkapan ikan dan analisis hasil tangkapan Jaring Tarik Berkantong (JTB) di kawasan Laut Jawa.

Selama kegiatan magang, David berkesempatan mempelajari secara langsung pola produksi hasil tangkapan kapal JTB, dinamika musim penangkapan, hingga tantangan pengelolaan sumber daya perikanan yang semakin kompleks. Pengalaman lapangan tersebut membawanya memahami bahwa aktivitas penangkapan ikan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan stok sumber daya ikan di masa depan.

“Ketika melihat data dan kondisi lapangan secara langsung, saya menyadari bahwa sektor perikanan memiliki dinamika yang sangat kompleks. Di balik tingginya hasil tangkapan, ada tantangan besar terkait bagaimana sumber daya tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ungkap David.

Selama pengamatan, David menemukan bahwa hasil tangkapan kapal JTB sepanjang periode 2025–2026 menunjukkan pola produksi yang berfluktuasi mengikuti musim penangkapan. Puncak produksi tercatat terjadi pada beberapa periode tertentu seperti Februari, Agustus–September, dan awal tahun 2026. Menariknya, komposisi hasil tangkapan didominasi oleh ikan swanggi (Priacanthus tayenus) dengan proporsi mencapai sekitar 45% dari total tangkapan. Sementara jenis ikan lain seperti kapas-kapas, pasir-pasir, kuniran, dan kurisi memberikan kontribusi lebih kecil terhadap total produksi.

David menjelaskan bahwa dominasi ikan swanggi menunjukkan tingginya aktivitas penangkapan ikan demersal sekaligus tingginya permintaan pasar terhadap komoditas tersebut. Namun, hasil ini juga memunculkan pertanyaan penting mengenai tekanan penangkapan yang terjadi pada sumber daya perikanan. Ia juga mempelajari indikator Catch Per Unit Effort (CPUE), yang menggambarkan efisiensi hasil tangkapan dibandingkan upaya penangkapan. Dari hasil analisis, nilai CPUE swanggi menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi dan dipengaruhi oleh musim penangkapan. Puncak produktivitas terjadi pada bulan Maret, mengalami penurunan pada Mei, kemudian kembali meningkat pada Agustus hingga September.

Pengalaman tersebut semakin membuka pandangan David mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya berbasis data. Ia menemukan bahwa beberapa wilayah penangkapan telah menghadapi tekanan eksploitasi yang tinggi, ditandai dengan penurunan stok ikan, ukuran ikan yang semakin kecil, hingga lokasi penangkapan yang semakin jauh dari pantai. Menurut David, pengalaman lapangan menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan sektor perikanan tidak hanya diukur dari besarnya hasil tangkapan, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan sumber daya.

“Kami belajar bahwa pengelolaan perikanan membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Nelayan, pemerintah, pelabuhan, dan akademisi memiliki peran yang sama pentingnya untuk menjaga sumber daya tetap tersedia bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa memperoleh kesempatan melihat bagaimana teori di ruang kelas bertemu dengan realitas lapangan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk membentuk lulusan yang tidak hanya memahami ilmu perikanan secara akademik, tetapi juga peka terhadap tantangan nyata sektor perikanan Indonesia. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Penguatan pengalaman lapangan dan pemahaman pengelolaan perikanan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mencetak generasi masa depan yang adaptif dan berdampak.

Belajar di Tengah Ombak: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Pentingnya Keselamatan Kerja Awak Kapal Perikanan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Bagi Azzahra Qanita Rafifah, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Program Magang Berdampak menjadi kesempatan untuk melihat langsung dinamika kehidupan di atas kapal perikanan sekaligus memahami pentingnya aspek keselamatan kerja bagi awak kapal.

Selama menjalani kegiatan magang, Azzahra melakukan pengamatan dan pembelajaran mengenai keselamatan kerja pada kapal perikanan jala jatuh berkapal (cast net). Pengalaman lapangan tersebut membawanya pada satu kesimpulan penting: aktivitas penangkapan ikan bukan hanya soal hasil tangkapan, tetapi juga menyangkut keselamatan para pekerja di laut.

Menurut Azzahra, kehidupan di atas kapal menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan pekerjaan pada umumnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu, gelombang tinggi, serta aktivitas kerja yang berlangsung di ruang terbatas menciptakan risiko yang harus dihadapi setiap awak kapal.

“Magang membuat saya memahami bahwa nelayan dan awak kapal bekerja dalam situasi yang penuh tantangan. Ada risiko yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat, tetapi sangat nyata dirasakan di lapangan,” ungkap Azzahra.

Dari hasil wawancara selama kegiatan magang, ditemukan bahwa cuaca ekstrem dan human error menjadi faktor utama yang memengaruhi kecelakaan kerja di kapal perikanan. Ombak tinggi dan kondisi cuaca buruk disebut sebagai tantangan terbesar selama proses penangkapan ikan berlangsung.

Selain faktor alam, berbagai kecelakaan kerja juga pernah dialami awak kapal, mulai dari terkena garda, terjepit tali tambang, hingga kerusakan mesin kapal ketika beroperasi di laut.

Menariknya, Azzahra juga menemukan bahwa meskipun sebagian besar awak kapal telah mengikuti pelatihan keselamatan, penerapan penggunaan alat pelindung diri masih belum sepenuhnya optimal. Beberapa awak kapal menganggap penggunaan life jacket dapat menghambat mobilitas dan aktivitas kerja saat proses penangkapan berlangsung.

Namun dari sisi fasilitas, kapal-kapal yang diamati telah menunjukkan kesiapan alat komunikasi keselamatan. Ketersediaan radio VHF dan radio MF pada kapal perikanan yang diamati telah memenuhi kriteria sesuai ketentuan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian mencapai 100 persen.

Pengalaman tersebut membuka pandangan Azzahra bahwa keselamatan kerja perlu dipandang sebagai bagian penting dalam sistem perikanan berkelanjutan. Menurutnya, teknologi dan perlengkapan keselamatan harus diiringi dengan budaya disiplin dan kesadaran bersama.

“Keselamatan bukan sekadar aturan, tetapi kebiasaan yang perlu dibangun. Karena keberhasilan melaut tidak hanya soal kembali membawa hasil tangkapan, tetapi juga pulang dengan selamat,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami berbagai aspek sosial, keselamatan, dan tantangan nyata yang dihadapi sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Life Below Water). Penguatan budaya keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menciptakan sektor perikanan yang produktif, aman, dan berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Matangkan Persiapan SEMNASKAN XXIII, Perkuat Ruang Kolaborasi Riset Perikanan Nasional

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen memperkuat diseminasi ilmu pengetahuan dan kolaborasi riset bidang perikanan dan kelautan terus dilakukan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan rapat review pemakalah persiapan Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) yang diselenggarakan pada Selasa, 19 Mei 2026 di Ruang 202 Departemen Perikanan UGM.

Rapat ini dipimpin oleh Ketua Panitia kegiatan dan Ketua Sesi Naskah Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., Ph.D. dan Dr. Ega Adhi Wicaksono, S.Pi, dihadiri dosen, guru besar, panitia, serta sivitas akademika yang terlibat dalam penyelenggaraan seminar tahunan tersebut. Forum ini menjadi momentum penting untuk memastikan berbagai aspek pelaksanaan SEMNASKAN XXIII dapat berjalan optimal.

SEMNASKAN sendiri telah menjadi agenda ilmiah tahunan Departemen Perikanan UGM sejak tahun 2003 dan berkembang sebagai ruang strategis untuk mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah, hingga praktisi perikanan dalam mendiseminasikan hasil penelitian dan memperkuat jejaring kolaborasi.

Tahun 2026, SEMNASKAN XXIII mengangkat tema besar mengenai Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal. Tema ini menyoroti besarnya potensi pangan akuatik Indonesia sekaligus pentingnya pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya laut dan perikanan yang sangat besar, Indonesia dinilai memiliki peluang strategis dalam pengembangan blue food berbasis inovasi, teknologi, dan keberlanjutan. Konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi, kesehatan, industri, hingga pengembangan masyarakat pesisir.

Menariknya, SEMNASKAN XXIII juga akan menghadirkan berbagai kelas dan bidang kajian yang mencakup akuakultur, manajemen sumber daya akuatik, penangkapan ikan, sosial ekonomi perikanan, mikrobiologi, mutu dan keamanan produk perikanan, hingga pangan fungsional berbasis sumber daya akuatik. Pendekatan multidisiplin ini diharapkan mampu memperkaya diskusi dan memperluas peluang kolaborasi antarpeneliti.

Melalui rapat ini, Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa seminar ilmiah bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang penting dalam membangun ekosistem riset yang hidup dan berdampak. Persiapan yang matang diharapkan dapat menghadirkan forum ilmiah yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga solusi nyata bagi pengembangan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Penguatan jejaring riset dan diseminasi ilmu pengetahuan menjadi langkah penting dalam membangun sektor perikanan yang inovatif dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Berbagi Keahlian Vaksinasi Ikan, Dorong Penguatan Kesehatan Ikan Air Tawar di Sleman

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Sleman — Upaya meningkatkan kesehatan ikan budidaya dan memperkuat kapasitas pelaku sektor perikanan terus dilakukan melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan di lapangan. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, menjadi narasumber dalam Pelatihan Vaksinasi Pada Ikan Air Tawar yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman pada 23 April 2026.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua jam pelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor budidaya perikanan, khususnya dalam pengendalian penyakit dan peningkatan kesehatan ikan air tawar. Dalam pemaparannya, Dr. Laila menekankan bahwa kesehatan ikan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya. Meningkatnya intensitas budidaya sering kali diikuti dengan meningkatnya risiko munculnya penyakit yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya.

Menurutnya, vaksinasi merupakan salah satu pendekatan preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan ikan terhadap penyakit tertentu. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang karena membantu menekan potensi serangan penyakit sebelum wabah terjadi.

“Pencegahan selalu lebih baik dibandingkan penanganan ketika penyakit sudah menyebar. Dalam budidaya modern, kesehatan ikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang,” jelasnya dalam sesi pelatihan.

Selain menjelaskan konsep dasar vaksinasi, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai prinsip penerapan vaksin pada ikan air tawar, strategi pengendalian penyakit, serta pentingnya menjaga kualitas lingkungan budidaya sebagai bagian dari sistem kesehatan ikan secara menyeluruh. Dr. Laila juga menyoroti bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya bergantung pada metode pemberian vaksin, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain seperti kondisi ikan, kualitas air, manajemen pemeliharaan, hingga ketepatan waktu pemberian perlakuan.

Pelatihan ini menjadi ruang diskusi yang interaktif antara narasumber dan peserta. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan penyakit pada budidaya ikan, hingga praktik pengelolaan kesehatan ikan menjadi topik yang banyak dibahas selama kegiatan berlangsung. Keterlibatan dosen Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan sektor perikanan melalui pendidikan dan transfer pengetahuan kepada masyarakat serta pemangku kepentingan di lapangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan kesehatan ikan dan peningkatan kapasitas pembudidaya menjadi bagian penting dalam mendukung sistem perikanan yang produktif dan berkelanjutan.

123456…16
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY