• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • hal. 2
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dampak El Niño dan La Niña terhadap Waduk Panglima Besar Soedirman Banjarnegara

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Perubahan iklim global ternyata tidak hanya berdampak pada cuaca, tetapi juga memengaruhi kondisi sumber daya perairan yang menopang berbagai aktivitas manusia. Hal ini terungkap dalam penelitian skripsi yang dilakukan oleh Hapsari Ayu Sedaya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, mengenai dinamika luas badan air Waduk Panglima Besar Soedirman (Waduk Mrica) di Kabupaten Banjarnegara selama periode 2019–2024.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra satelit Sentinel-1 untuk memantau perubahan luas badan air waduk terbesar di Banjarnegara tersebut. Waduk Panglima Besar Soedirman memiliki peran strategis sebagai sumber energi bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica sekaligus mendukung sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah hubungan yang sangat jelas antara fenomena iklim global dengan kondisi waduk. Hapsari menemukan bahwa fenomena El Niño pada tahun 2019 dan 2023 menyebabkan penurunan curah hujan yang diikuti penyusutan luas badan air waduk. Sebaliknya, periode Triple Dip La Niña pada tahun 2020 hingga 2022 meningkatkan curah hujan sehingga luas badan air waduk tetap tinggi, bahkan pada musim kemarau.

Namun, penelitian ini juga mengungkap fakta menarik bahwa perubahan luas badan air tidak hanya ditentukan oleh faktor alam. Operasional waduk, khususnya aktivitas pembangkitan listrik PLTA, turut memengaruhi fluktuasi volume air. Dengan kata lain, kondisi waduk merupakan hasil interaksi antara faktor iklim dan aktivitas manusia dalam pengelolaan sumber daya air.

Selain itu, analisis batimetri menunjukkan adanya variasi kedalaman dan kontur dasar waduk yang diduga berkaitan dengan proses sedimentasi serta pola aliran sungai yang masuk ke waduk. Temuan ini memberikan informasi penting untuk mendukung pengelolaan waduk secara berkelanjutan di masa mendatang.

Menurut Hapsari, pemantauan luas badan air menggunakan teknologi satelit dapat menjadi alat yang efektif untuk memahami respons waduk terhadap perubahan iklim sekaligus membantu perencanaan pengelolaan sumber daya air yang lebih adaptif.

Penelitian ini menunjukkan bahwa waduk bukan sekadar tampungan air, melainkan sistem dinamis yang dipengaruhi oleh perubahan iklim global, kebutuhan energi, dan proses ekologis yang berlangsung secara bersamaan. Informasi tersebut menjadi penting dalam mendukung ketahanan air, energi, dan pangan di tengah meningkatnya ketidakpastian iklim.

Penelitian ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 7 (Affordable and Clean Energy), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan basis ilmiah dalam pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Departemen Perikanan UGM Sambut Asesor LAM-PTIP untuk Akreditasi THP dan Magister Ilmu Perikanan

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyambut kedatangan tim asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Perikanan (LAM-PTIP) dalam rangka pelaksanaan asesmen lapangan Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) dan Magister Ilmu Perikanan (MIP). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya memastikan dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi perikanan yang unggul, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.

Asesmen lapangan Program Studi Teknologi Hasil Perikanan dilaksanakan oleh dua asesor berpengalaman. Kedatangan para asesor disambut oleh pimpinan fakultas, pimpinan departemen, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta berbagai mitra pengguna lulusan yang turut berpartisipasi dalam rangkaian asesmen. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan di lingkungan Departemen Perikanan UGM.

Ketua Departemen Perikanan, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., menyampaikan bahwa proses akreditasi bukan sekadar penilaian administratif, melainkan kesempatan untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap berbagai capaian yang telah diraih. Menurutnya, asesmen lapangan menjadi ruang untuk menunjukkan bagaimana proses pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola program studi dijalankan secara konsisten untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Program Studi Teknologi Hasil Perikanan selama ini dikenal aktif mengembangkan pendidikan dan riset di bidang pengolahan hasil perikanan, keamanan pangan, bioteknologi hasil perairan, serta inovasi produk berbasis sumber daya akuatik. Sementara Program Studi Magister Ilmu Perikanan terus memperkuat kapasitas riset dan pengembangan ilmu perikanan melalui pendekatan multidisiplin yang mendukung pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan.

Dalam proses asesmen, para asesor melakukan peninjauan terhadap berbagai aspek, mulai dari kurikulum, sumber daya manusia, proses pembelajaran, luaran pendidikan, publikasi ilmiah, fasilitas pendukung, hingga keterlibatan alumni dan mitra kerja sama. Selain itu, asesmen juga menjadi sarana untuk berdiskusi mengenai peluang pengembangan program studi di masa depan agar semakin responsif terhadap tantangan global dan kebutuhan sektor perikanan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, asesmen lapangan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan menghasilkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia. Lebih dari sekadar proses penilaian, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa mutu pendidikan dibangun melalui kolaborasi seluruh sivitas akademika, alumni, mitra industri, pemerintah, dan masyarakat. Semangat tersebut diharapkan terus mendorong Program Studi Teknologi Hasil Perikanan dan Magister Ilmu Perikanan untuk berkembang sebagai pusat pendidikan dan inovasi yang unggul di tingkat nasional maupun internasional.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals terutama tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan mutu pendidikan tinggi, inovasi, dan kolaborasi dalam pengembangan sektor perikanan yang berkelanjutan.

 

Prof. Djumanto Buka Seminar Nasional Ikan XIII MII, Tegaskan Pentingnya Ekonomi Biru Berkelanjutan untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Bogor — Ketua Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII), Prof. Dr. Ir. Djumanto, M.Sc., secara resmi membuka Seminar Nasional Ikan XIII Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII) yang diselenggarakan secara hybrid di Bogor. Kegiatan ini menjadi momen istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun MII ke-26, sekaligus pelaksanaan Kongres VII MII yang akan menentukan arah organisasi pada periode mendatang.

Dalam sambutannya, Prof. Djumanto menyampaikan bahwa sejak berdiri pada tahun 2000, Masyarakat Iktiologi Indonesia telah berkomitmen menjadi wadah bagi para akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, dan pemerhati perikanan dalam mengembangkan ilmu iktiologi, yaitu ilmu yang mempelajari keanekaragaman ikan beserta berbagai aspek biologis, ekologis, dan pemanfaatannya.

Menurut Prof. Djumanto, keberadaan MII selama lebih dari dua dekade telah memberikan kontribusi penting dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi keanekaragaman hayati perairan, serta pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di Indonesia.

Pada penyelenggaraan Seminar Nasional Ikan XIII tahun ini, MII mengusung tema “Ekonomi Biru Berkelanjutan” yang dinilai sangat relevan dengan tantangan pembangunan sektor kelautan dan perikanan saat ini. Dalam sambutannya, Prof. Djumanto menegaskan bahwa ekonomi biru bukan hanya berbicara mengenai peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana pembangunan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya ikan dan ekosistem perairan.

“Tema ini menegaskan komitmen kita untuk menyeimbangkan konservasi sumber daya ikan dengan pembangunan sektor perikanan. Sinergi antara pelestarian keanekaragaman ikan dan pemanfaatan yang produktif menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki kekayaan ikan yang sangat besar, baik di perairan laut maupun perairan darat. Oleh karena itu, pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan menjadi fondasi penting untuk memastikan sumber daya tersebut tetap lestari dan mampu memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Seminar Nasional Ikan XIII juga menjadi forum strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam berbagi hasil penelitian, pengalaman lapangan, dan inovasi terbaru terkait ilmu perikanan dan konservasi sumber daya ikan. Selain memperluas wawasan ilmiah, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, sektor industri, dan mitra internasional.

Selain seminar, pelaksanaan Kongres VII MII menjadi agenda penting dalam rangka memperkuat organisasi. Prof. Djumanto berharap kongres dapat menghasilkan berbagai gagasan segar, kepemimpinan yang visioner, serta program kerja yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

“Melalui kongres ini, kita berharap MII dapat terus berkembang sebagai organisasi ilmiah yang relevan, progresif, dan menjadi rujukan utama dalam pengembangan ilmu iktiologi serta pengelolaan sumber daya perikanan Indonesia,” ujarnya.

Sebagai Guru Besar Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Djumanto dikenal sebagai akademisi yang telah lama berkontribusi dalam bidang sumber daya perikanan, ekologi perairan, dan konservasi ikan. Kepemimpinannya di MII memperkuat peran organisasi dalam menjembatani hasil-hasil penelitian dengan kebutuhan pengelolaan sumber daya perikanan nasional.

Penyelenggaraan Seminar Nasional Ikan XIII dan Kongres VII MII menunjukkan bahwa pengembangan ilmu iktiologi tidak hanya penting bagi kemajuan akademik, tetapi juga menjadi fondasi dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di era ekonomi biru.

Menariknya, Seminar Nasional Ikan XIII juga menjadi ajang pembelajaran dan aktualisasi bagi generasi muda peneliti perikanan. Prof. Djumanto secara khusus mendorong mahasiswa bimbingannya untuk berpartisipasi aktif dalam forum ilmiah nasional tersebut melalui presentasi hasil penelitian terbaru yang mereka lakukan. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam seminar ilmiah merupakan bagian penting dari proses pembentukan peneliti muda yang kritis, inovatif, dan mampu mengomunikasikan hasil riset kepada komunitas ilmiah yang lebih luas.

Prof. Djumanto menegaskan bahwa seminar ilmiah tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan hasil penelitian, tetapi juga sarana memperluas jejaring akademik, memperoleh masukan ilmiah, serta membuka peluang kolaborasi penelitian di masa mendatang. Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang berani tampil dan berkontribusi dalam forum-forum ilmiah nasional maupun internasional sehingga dapat memperkuat kapasitas akademik sekaligus meningkatkan daya saing lulusan Perikanan UGM di tingkat global.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals terutama SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis perikanan, SDG 14 (Life Below Water) melalui upaya pelestarian ekosistem perairan dan keanekaragaman ikan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi nasional dan internasional dalam pengembangan ilmu dan pengelolaan sumber daya perikanan.

Refleksi Hari Raya Waisak: Menumbuhkan Kebijaksanaan dan Harmoni untuk Masa Depan Perikanan Berkelanjutan

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Hari Raya Waisak merupakan momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai kebijaksanaan, kedamaian, kasih sayang, dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup. Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, semangat Waisak menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sumber daya perairan tidak hanya bergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan dan keharmonisan dalam berinteraksi dengan alam.

Perayaan Waisak mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Dalam konteks perikanan, nilai tersebut sangat relevan mengingat sumber daya perairan merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan secara bijaksana agar tetap mampu menopang kehidupan generasi masa kini maupun masa depan.

Di tengah berbagai tantangan seperti perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan perairan, serta tekanan terhadap sumber daya ikan, dunia perikanan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem. Kebijaksanaan yang diajarkan dalam Waisak mengingatkan bahwa setiap keputusan yang diambil hari ini akan memberikan dampak bagi masa depan.

Bagi lingkungan akademik, semangat Waisak juga dapat dimaknai sebagai dorongan untuk terus mencari pengetahuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan bentuk kontribusi nyata dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Nilai kasih sayang dan kepedulian yang terkandung dalam Waisak juga tercermin dalam berbagai upaya pelestarian sumber daya perikanan. Menjaga kualitas perairan, melindungi keanekaragaman hayati, mengembangkan teknologi budidaya yang ramah lingkungan, serta mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Selain itu, Waisak mengajarkan pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Sebagai institusi pendidikan yang dihuni oleh sivitas akademika dari berbagai latar belakang, Departemen Perikanan UGM memandang keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kolaborasi, saling menghormati, dan bersama-sama menghasilkan solusi bagi tantangan sektor perikanan.

Momentum Waisak juga menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari capaian akademik atau teknologi, tetapi juga dari kemampuan membangun kehidupan yang damai, adil, dan berkelanjutan. Dengan semangat tersebut, dunia perikanan dapat terus berkembang tanpa mengabaikan keseimbangan ekologis dan nilai-nilai kemanusiaan.

Keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak 2569 BE kepada seluruh umat Buddha yang merayakan. Semoga semangat kebijaksanaan, kedamaian, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan senantiasa menjadi inspirasi dalam berkarya dan mengabdi bagi masyarakat.

Refleksi ini sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan nilai-nilai keberlanjutan, harmoni sosial, dan kolaborasi dalam pengelolaan sumber daya perikanan.

Dosen Perikanan UGM Belajar dari Prof. Caleb Gardner: Bangun Budaya Riset, Perkuat Produktivitas Publikasi, dan Perluas Kolaborasi

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Produktivitas riset dan publikasi ilmiah tidak hanya dibangun dari kemampuan individu, tetapi juga ditentukan oleh budaya akademik yang tumbuh di lingkungan institusi. Gagasan tersebut menjadi sorotan dalam kegiatan Guest Lecture Prof. Caleb Gardner bertajuk “Boosting Writing Productivity and Organisational Culture” yang diselenggarakan di Ruang 2.02 Gedung A4 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan ini dihadiri dosen Departemen Perikanan UGM sebagai ruang refleksi dan penguatan budaya akademik.

Acara dibuka oleh Ketua Departemen Perikanan Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc. dan menjadi momentum berbagi pengalaman internasional mengenai bagaimana organisasi akademik dapat meningkatkan kualitas riset secara berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, peserta berkesempatan berdiskusi bersama Prof. Caleb Gardner, akademisi dan peneliti senior dari Institute for Marine and Antarctic Studies (IMAS), University of Tasmania, Australia, yang dikenal luas melalui kontribusinya pada bidang ilmu perikanan, manajemen sumber daya laut, akuakultur, serta kajian kebijakan perikanan berkelanjutan. Prof. Gardner telah terlibat dalam berbagai penelitian internasional terkait pengelolaan perikanan, stok sumber daya laut, hingga sistem pengambilan keputusan berbasis sains. Ia juga memimpin berbagai kolaborasi riset jangka panjang yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah, dan industri.

Pengalaman panjang tersebut membuat materi yang disampaikan tidak hanya berisi strategi menulis artikel ilmiah, tetapi juga membahas bagaimana membangun budaya organisasi yang mendukung produktivitas riset. Dalam paparannya, Prof. Gardner menekankan bahwa produktivitas publikasi tidak dapat bergantung pada motivasi personal semata. Menurutnya, lingkungan akademik perlu menciptakan budaya kerja yang mendorong kolaborasi, konsistensi, dan kebiasaan menulis yang berkelanjutan.

Salah satu poin yang banyak mendapat perhatian peserta adalah pentingnya membangun budaya riset yang sehat, di mana dosen dan peneliti saling mendukung, berbagi gagasan, dan bekerja dalam ekosistem akademik yang produktif. Ia menjelaskan bahwa institusi dengan budaya riset kuat umumnya tidak hanya menghasilkan publikasi lebih tinggi, tetapi juga memiliki dampak ilmiah yang lebih luas.

Prof. Gardner juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas bidang ilmu. Tantangan sektor perikanan dan kelautan saat ini dinilai semakin kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan disiplin saja. Permasalahan modern memerlukan keterlibatan berbagai perspektif, mulai dari ilmu hayati, teknologi, ekonomi, sosial, hingga kebijakan publik.

Menurutnya, kolaborasi multidisiplin membuka peluang lahirnya pertanyaan riset yang lebih relevan, memperluas jejaring akademik, dan meningkatkan kualitas luaran penelitian. Pengalaman riset internasional menunjukkan bahwa karya kolaboratif cenderung menghasilkan dampak ilmiah yang lebih besar dibanding penelitian yang berjalan secara terpisah.

Selain itu, Prof. Gardner menekankan bahwa publikasi ilmiah bukan sekadar target administratif, tetapi bagian dari proses menyebarluaskan pengetahuan dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat. Kegiatan kuliah tamu ini menjadi ruang penting bagi dosen Departemen Perikanan UGM untuk memperoleh perspektif global mengenai pengembangan budaya akademik dan penguatan produktivitas ilmiah. Diskusi tersebut sekaligus memperkuat semangat kolaborasi dan inovasi dalam mendukung pengembangan riset yang lebih berdampak di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan budaya riset dan jejaring kolaborasi akademik internasional.

SinnTech Webinar #37 UGM Angkat Ekonomi Sirkular: Dari Rumput Laut hingga Limbah Perikanan Bernilai Tinggi

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Isu pengelolaan limbah industri kini tidak lagi dipandang sekadar persoalan akhir produksi, melainkan peluang untuk menciptakan inovasi dan nilai tambah yang berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan SinnTech Webinar #37 dengan tema “Industrial Waste Management in the Circular Economy: A Marine and Fisheries Perspective.” Webinar ini akan diselenggarakan pada Selasa, 26 Mei 2026 pukul 13.00–15.30 WIB dan menjadi ruang diskusi mengenai transformasi limbah sektor kelautan dan perikanan menuju sistem ekonomi sirkular.

Melalui tema tersebut, SinnTech #37 mengangkat perspektif bahwa limbah perikanan dan sumber daya laut tidak lagi dipandang sebagai produk sisa, tetapi dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai tinggi yang mendukung keberlanjutan industri perikanan masa depan.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki kepakaran di bidang pemanfaatan sumber daya perairan dan bioekonomi biru. Narasumber pertama, Prof. Dr. Ir. Nurjanah, M.S., akan membawakan materi bertajuk “Innovation and Utilization of Indonesian Seaweed as Food and Non-Food Raw Materials.” Dalam paparannya, Prof. Nurjanah menyoroti besarnya potensi rumput laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga untuk berbagai produk nonpangan dan inovasi industri. Sejumlah inovasi bahkan telah dikembangkan menjadi produk berbasis kekayaan hayati laut serta menghasilkan berbagai pengembangan teknologi terapan.

Menariknya, berbagai inovasi yang dikembangkan juga mengarah pada pemanfaatan residu rumput laut menjadi produk turunan seperti pupuk berbasis biomassa laut. Beberapa inovasi tersebut telah didorong menuju perlindungan kekayaan intelektual, menunjukkan bahwa limbah hasil pengolahan sumber daya laut dapat diubah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si., akan membahas tema “The Blue Bioeconomy: Bioconverting Fisheries Waste into High-Value Commodities.” Materi ini mengajak peserta melihat bagaimana limbah hasil perikanan dapat dikonversi melalui pendekatan bioekonomi biru menjadi berbagai produk bernilai tambah, sekaligus mengurangi tekanan lingkungan akibat akumulasi limbah industri.

Kehadiran kedua narasumber tersebut memperkuat semangat SinnTech sebagai ruang berbagi ilmu yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, praktisi, hingga masyarakat umum dalam membahas isu-isu strategis perikanan dan kelautan.

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap keberlanjutan, webinar ini menjadi pengingat bahwa masa depan industri perikanan tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh kemampuan memanfaatkan sumber daya secara efisien dan bertanggung jawab.

Melalui SinnTech Webinar #37, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong inovasi dan diseminasi ilmu pengetahuan yang relevan dengan tantangan sektor perikanan modern.

Kegiatan ini juga mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-12 (Responsible Consumption and Production), tujuan ke-14 (Life Below Water), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan inovasi dan kolaborasi menuju ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Lawan Ancaman Penyakit Nila Terkini, Mahasiswa Akuakultur UGM Terlibat Pengembangan Strain Unggul Bersama DKP DIY

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta-Di balik upaya meningkatkan produksi perikanan budidaya, tantangan penyakit ikan masih menjadi persoalan serius yang dapat memengaruhi produktivitas dan keberlanjutan sektor akuakultur. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada turut mengambil peran dalam program pengembangan strain nila unggul Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan ikan nila unggul yang tidak hanya memiliki pertumbuhan yang baik, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap ancaman penyakit yang saat ini menjadi perhatian dalam budidaya ikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Fokus penelitian diarahkan pada uji ketahanan terhadap infeksi bakteri Aeromonas jandaei, patogen yang belakangan menjadi perhatian karena ditemukan pada kasus penyakit ikan nila terkini di DIY.

Yang menarik, program ini juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam terlibat pada riset berbasis permasalahan nyata di lapangan. Dua mahasiswa Akuakultur UGM yang terlibat aktif dalam kegiatan ini yaitu Nabil Ghifari Abdillah (angkatan 2022) dan Widi Nuraini (angkatan 2023). Keterlibatan mereka menjadi bukti bahwa mahasiswa sejak dini didorong untuk berkontribusi dalam penelitian aplikatif yang memiliki dampak nyata terhadap sektor perikanan. Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis laboratorium, tetapi juga belajar memahami pendekatan ilmiah untuk mengatasi permasalahan nyata di lapangan

Program kolaboratif ini  diimplementasi di Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB), Dinas Kelautan dan Perikanan, Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikoordinasi oleh dua staf BPTPB , yaitu  Pristia Yunik Praninda, S.Pi., M.Si. dan Iin Indriyani, S.K.H. dan disupervisi oleh satu dosen UGM, yaitu Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., yang aktif mengembangkan riset bidang mikrobiologi akuakultur.

Kasus penyakit pada ikan nila dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dinamika patogen di lapangan terus berkembang, ditandai dengan munculnya varian maupun agen penyakit baru yang berpotensi menurunkan produktivitas budidaya. Kondisi ini menegaskan bahwa pengembangan strain unggul ikan nila tidak dapat dilakukan secara statis, melainkan perlu dievaluasi dan diperbarui secara berkala melalui pendekatan berbasis sains, termasuk pemuliaan adaptif terhadap tekanan penyakit dan perubahan lingkungan budidaya, guna menjaga keberlanjutan dan ketahanan produksi akuakultur modern.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah ini menunjukkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menghadirkan solusi nyata bagi sektor perikanan. Tidak hanya menghasilkan data penelitian yang relevan dengan masalah dilapangan, program ini juga menjadi wahana pembentukan generasi muda perikanan yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan akuakultur Indonesia.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi riset dan inovasi sektor perikanan berkelanjutan.

Menuju Akreditasi Unggul: Departemen Perikanan UGM Perkuat Sinergi Hadapi Asesmen Lapangan LAM-PTIP

Berita Senin, 25 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen menjaga mutu pendidikan tinggi terus diperkuat oleh Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melalui penyelenggaraan Rapat Koordinasi Asesmen Lapangan LAM-PTIP untuk Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) dan Program Magister Ilmu Perikanan (MIP). Kegiatan ini diselenggarakan pada Senin, 25 Mei 2026 di Ruang 202 Departemen Perikanan UGM sebagai bagian dari persiapan menghadapi proses asesmen lapangan akreditasi.

Rapat koordinasi dibuka oleh Ketua Departemen Perikanan Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc. yang menekankan pentingnya kolaborasi dan kesiapan seluruh sivitas akademika dalam menghadapi tahapan asesmen. Menurutnya, proses akreditasi tidak sekadar menjadi evaluasi administratif, tetapi juga momentum refleksi untuk memastikan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang terus berkembang dan berdampak.

Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur dosen, pengelola program studi, tenaga kependidikan, serta tim pendukung yang akan terlibat dalam proses asesmen lapangan. Persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peninjauan dokumen, sinkronisasi data, penguatan narasi capaian program studi, hingga pembahasan berbagai aspek penilaian mutu akademik.

Sejumlah tokoh dan akademisi Departemen Perikanan UGM hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Sekretaris Departemen Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., Ketua Program Studi THP Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si. (Han), Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si., Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si., hingga Prof. Dr. Ir. Djumanto, M.Sc. serta sejumlah dosen dan tenaga kependidikan lainnya. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa proses peningkatan mutu merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh elemen departemen.

Asesmen lapangan menjadi salah satu tahapan penting dalam sistem penjaminan mutu perguruan tinggi karena tidak hanya menilai dokumen, tetapi juga melihat implementasi nyata proses pendidikan, tata kelola, luaran lulusan, budaya akademik, hingga dampak program studi terhadap masyarakat.

Bagi Program Studi Teknologi Hasil Perikanan dan Magister Ilmu Perikanan, asesmen ini juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan berbagai inovasi pembelajaran, aktivitas riset, jejaring kolaborasi, serta kontribusi yang telah dilakukan dalam pengembangan sektor perikanan Indonesia. Lebih dari sekadar proses akreditasi, kegiatan ini menjadi gambaran semangat kolektif Departemen Perikanan UGM dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Sinergi yang terbangun diharapkan tidak hanya menghasilkan capaian akreditasi terbaik, tetapi juga memperkuat kualitas pendidikan yang relevan, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi internal dalam mewujudkan sistem pendidikan yang unggul dan berkelanjutan.

Perkuat Jejaring Riset Nasional, Dosen Departemen Perikanan UGM Hadiri Koordinasi Kolaborasi PKR Alga Laut UHO–BRIN–UGM

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya memperkuat kolaborasi riset lintas institusi terus menjadi bagian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pada sektor kelautan dan perikanan. Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadiri kegiatan Koordinasi dan Jejaring Kolaborasi Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Alga Laut UHO–BRIN–UGM yang diselenggarakan pada Kamis, 21 Mei 2026 di Gedung A4 Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan tahun pertama program Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Alga Laut yang diinisiasi oleh Universitas Halu Oleo bekerja sama dengan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Universitas Gadjah Mada. Agenda utama pertemuan meliputi diskusi capaian luaran penelitian, berbagi hasil riset, hingga penguatan jejaring kolaborasi pengembangan alga laut di Indonesia.

Pertemuan ini dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai institusi. Dari Departemen Perikanan UGM hadir Ketua Departemen Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., Sekretaris Departemen Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., serta para ketua program studi dan kepala laboratorium. Turut hadir Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si. selaku Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si. Ketua Program Studi Akuakultur, Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc., Ph.D. Ketua Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, dan Prof. Dr. Ir. Leo Setyobudi, S.Pi., M.Si. Ketua Program Studi Magister Ilmu Perikanan.

Selain unsur Departemen Perikanan UGM, kegiatan juga melibatkan berbagai peneliti dan akademisi nasional. Hadir pula Ketua PKR Alga Laut UHO Wa Iba S.Pi., M.App.Sc., Ph.D., peneliti BRIN Dr. Nurrahmi Dewi Fajarningsih, Dr. Singgih Wibowo, serta Bakti Beryanto Sedayu, Ph.D. dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan penguatan ekosistem riset berbasis kolaborasi lintas institusi.

Alga laut saat ini menjadi salah satu komoditas strategis yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga potensi besar dalam pengembangan pangan, bioenergi, biomaterial, kesehatan, dan industri berbasis sumber daya hayati. Karena itu, penguatan kolaborasi penelitian dinilai menjadi langkah penting untuk mempercepat inovasi serta meningkatkan dampak riset bagi masyarakat.

Bagi Departemen Perikanan UGM, partisipasi dalam forum seperti ini membuka ruang lebih luas bagi pengembangan riset multidisiplin, memperkuat jaringan nasional, sekaligus memperluas peluang kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat di masa mendatang.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan riset, tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), serta tujuan ke-14 (Life Below Water) melalui pengembangan ilmu pengetahuan untuk mendukung pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Magang Berdampak Mahasiswa Perikanan UGM: Suara Nelayan Juwana Diangkat ke Ruang Akademik dan Kebijakan

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Program Magang Berdampak di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali melahirkan karya penelitian yang dekat dengan realitas masyarakat pesisir. Salah satu mahasiswa, berhasil mengangkat dinamika sosial-ekonomi nelayan melalui penelitian berjudul “Protes Nelayan terhadap Kebijakan Penerimaan Negara Bukan Pajak Pasca Produksi di Pelabuhan Perikanan Pantai Juwana.”

Penelitian ini lahir dari pengalaman lapangan yang diperoleh selama kegiatan magang dan observasi langsung di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana, Kabupaten Pati. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, Ia melakukan wawancara dengan pemilik kapal, pengurus kapal, ABK, hingga pihak pelabuhan untuk memahami dampak kebijakan PNBP pasca produksi terhadap kehidupan nelayan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem PNBP pasca produksi sejak 2023 memunculkan keresahan di kalangan nelayan Pantura. Bentuk protes yang dilakukan meliputi demonstrasi, audiensi langsung, pemasangan surat terbuka, hingga penundaan pembayaran PNBP. Nelayan menilai kebijakan tersebut memberatkan karena pendapatan mereka sangat bergantung pada cuaca, musim, dan hasil tangkapan yang fluktuatif. Selain itu, adanya ancaman suspend izin kapal, denda keterlambatan pembayaran, serta ketidaksesuaian harga acuan ikan dengan harga pasar menjadi persoalan utama yang dirasakan nelayan.

Menariknya, penelitian ini tidak hanya menyoroti konflik kebijakan, tetapi juga menunjukkan pentingnya dialog antara pemerintah dan masyarakat pesisir. Respons dari pihak pelabuhan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang membuka ruang diskusi menjadi indikasi bahwa pengelolaan perikanan membutuhkan pendekatan partisipatif dan adaptif.

Melalui pengalaman Magang Berdampak, Mahasiswa tersebut tidak hanya belajar metode penelitian, tetapi juga memahami secara langsung kompleksitas kehidupan nelayan dan tata kelola sektor perikanan nasional. Pengalaman ini memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan ilmu akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.

Program ini juga memiliki keterkaitan kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian mengenai kesejahteraan nelayan mendukung SDG 1 (No Poverty) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui perhatian terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas. Selain itu, kajian tata kelola perikanan yang lebih adil dan partisipatif turut mendukung SDG 14 (Life Below Water) dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan dialog antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui karya seperti ini, mahasiswa Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa riset bukan hanya tentang data dan teori, tetapi juga tentang menghadirkan suara masyarakat pesisir ke ruang akademik dan pengambilan kebijakan.

1234…15
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY