• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • hal. 2
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Kuliah Perdana Departemen Perikanan UGM Hadirkan Sekjen KKP, Dorong Generasi Baru Perikanan Siap Wujudkan Blue Economy

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 24 Agustus 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Kuliah Perdana Tahun Akademik 2026/2027 dengan mengangkat tema “Generasi Baru Perikanan Indonesia: Membangun Talenta Unggul untuk Mendukung Blue Economy dan Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (24/8) di Auditorium Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Kuliah perdana tersebut menghadirkan Dr. Ir. Andy Artha Donny Oktopura, S.T., M.Sc., Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, sebagai narasumber. Kegiatan ini secara khusus ditujukan bagi mahasiswa baru Program Sarjana Departemen Perikanan Faperta UGM angkatan 2026 sebagai bagian dari pengenalan awal terhadap perkembangan, tantangan, dan peluang sektor perikanan Indonesia.

Mengawali perjalanan akademik mahasiswa baru, kuliah perdana menjadi ruang untuk mempertemukan mahasiswa dengan perspektif praktis mengenai arah pembangunan kelautan dan perikanan nasional. Kehadiran Sekretaris Jenderal KKP memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kebutuhan sumber daya manusia dan kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi transformasi sektor kelautan dan perikanan.

Tema “Generasi Baru Perikanan Indonesia” menegaskan bahwa pembangunan sektor perikanan pada masa mendatang membutuhkan talenta yang tidak hanya menguasai pengetahuan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, berinovasi, berkolaborasi, serta memahami keterkaitan antara aspek ekonomi, sosial, teknologi, dan lingkungan.

Konsep blue economy menjadi salah satu perspektif penting yang diperkenalkan kepada mahasiswa. Ekonomi biru menempatkan sumber daya laut dan perairan sebagai modal pembangunan yang perlu dimanfaatkan secara produktif sekaligus dijaga keberlanjutannya. Bagi generasi muda perikanan, pendekatan tersebut membuka ruang pengembangan berbagai inovasi, mulai dari perikanan tangkap berkelanjutan, akuakultur, teknologi digital, pengolahan hasil perikanan, hingga pengelolaan ekosistem dan sumber daya pesisir.

Kuliah perdana juga menjadi momentum bagi Departemen Perikanan UGM untuk menanamkan perspektif bahwa masa depan perikanan Indonesia sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Mahasiswa sebagai generasi baru diharapkan mampu melihat sektor perikanan bukan semata sebagai kegiatan produksi, tetapi sebagai bagian strategis dari ketahanan pangan, ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

Bagi mahasiswa baru, kegiatan ini sekaligus menjadi langkah awal untuk membangun orientasi akademik dan profesional selama menempuh pendidikan di Departemen Perikanan. Interaksi dengan pemangku kebijakan nasional diharapkan dapat memberikan inspirasi mengenai berbagai peluang kontribusi yang dapat dikembangkan setelah menyelesaikan pendidikan.

Melalui Kuliah Perdana 2026, Departemen Perikanan UGM terus meneguhkan komitmennya dalam mempersiapkan generasi perikanan yang unggul, adaptif, inovatif, dan berwawasan keberlanjutan untuk berkontribusi dalam mewujudkan ekonomi biru serta mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.

Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kapasitas generasi muda, pengembangan talenta perikanan, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

PelletQ-AI: Inovasi Mahasiswa UGM Integrasikan AI dan Mesin Otomatis untuk Wujudkan Kemandirian Pakan Ikan

BeritaUncategorized Senin, 7 September 2026

Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil merealisasikan PelletQ-AI, sebuah sistem produksi pakan ikan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan mesin produksi pelet otomatis. Inovasi ini dikembangkan untuk membantu pembudidaya menghasilkan pakan ikan secara mandiri melalui proses formulasi dan produksi yang terintegrasi, sehingga dapat menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengembangan PelletQ-AI berangkat dari permasalahan yang dihadapi mitra, yaitu Budidaya Lele Pak Nanang di Kalurahan Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam usaha budidaya lele, biaya pakan masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi, yakni mencapai lebih dari 60–70 persen. Kenaikan harga pakan komersial yang tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ikan menyebabkan keuntungan pembudidaya semakin tertekan. Kondisi tersebut membuat ketergantungan terhadap pakan komersial masih relatif tinggi.

Selain tingginya biaya pakan, mitra juga belum memiliki fasilitas untuk memproduksi pakan secara mandiri. Ketiadaan mesin produksi pakan serta sistem yang dapat membantu menyusun formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan menyebabkan mitra bergantung sepenuhnya pada pakan komersial. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-PI UGM mengembangkan PelletQ-AI sebagai solusi yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sistem produksi pakan dalam satu ekosistem.

Berbeda dengan mesin pencetak pelet konvensional, PelletQ-AI dilengkapi dengan platform web app.pelletqai.com yang terhubung langsung dengan sistem kecerdasan buatan. Melalui platform tersebut, pembudidaya hanya perlu memasukkan data budidaya serta informasi mengenai bahan baku yang tersedia dan harganya. Selanjutnya, sistem AI melakukan optimasi untuk menghasilkan formulasi pakan dengan biaya serendah mungkin tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan nutrisi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil optimasi tersebut kemudian dikirimkan secara otomatis ke mesin PelletQ-AI sebagai acuan dalam proses produksi.

Seluruh proses produksi dilakukan secara otomatis di dalam mesin, mulai dari pencampuran bahan baku, pemasakan menggunakan sistem pemanas (heater), ekstrusi, pencetakan, hingga pemotongan pelet dalam satu rangkaian kerja yang terintegrasi. Dengan demikian, pelet yang dihasilkan telah matang dan siap digunakan sebagai pakan ikan tanpa memerlukan proses lanjutan.

Ketua Tim PKM-PI UGM, R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata, menjelaskan bahwa PelletQ-AI dirancang untuk menjawab permasalahan pembudidaya secara menyeluruh.

“PelletQ-AI tidak hanya berfungsi sebagai mesin produksi pelet, tetapi merupakan sistem produksi pakan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan, dan proses manufaktur dalam satu kesatuan. Melalui sistem ini, pembudidaya dapat memperoleh formulasi pakan dengan biaya yang lebih efisien namun tetap memenuhi standar nutrisi, kemudian langsung memproduksinya secara mandiri.”

Dosen pembimbing PKM-PI, Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin mampu menghasilkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat.

“PelletQ-AI merupakan contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggabungkan aspek rekayasa mesin, kecerdasan buatan, teknologi informasi, dan akuakultur dalam satu sistem. Harapannya, inovasi ini dapat membantu meningkatkan efisiensi usaha budidaya serta mendorong pemanfaatan teknologi di sektor perikanan.”

Sebagai mitra program, Pak Nanang menyambut baik penerapan PelletQ-AI di lokasi budidayanya.

“Selama ini kami bergantung pada pakan komersial karena belum memiliki alat untuk memproduksi pakan sendiri. Dengan adanya PelletQ-AI, kami berharap dapat membuat pakan secara mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau. Sistem berbasis web juga memudahkan kami memperoleh formulasi pakan tanpa harus menghitung komposisi bahan baku secara manual.”

Pengembangan PelletQ-AI juga sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui peningkatan efisiensi produksi dan penguatan kemandirian pembudidaya dalam penyediaan pakan, inovasi ini berpotensi mendukung efisiensi usaha, penguatan ekonomi pembudidaya, serta penerapan teknologi dan inovasi dalam pembangunan sektor akuakultur yang lebih berkelanjutan.

PelletQ-AI merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas disiplin Universitas Gadjah Mada yang terdiri atas R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata (Teknik Industri), Muhammad Wafdan Taqiyya (Teknologi Informasi), Muhammad Zahir Ali (Teknik Elektro), Clarissa Cindy Marta Devany (Akuakultur), dan Farhan Dwi Prabowo (Teknologi Rekayasa Mesin), di bawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Setelah melalui tahapan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan sistem, pengembangan platform web app.pelletqai.com, pembuatan mesin, hingga pengujian, PelletQ-AI kini telah berhasil direalisasikan di lokasi mitra. Tahapan selanjutnya meliputi pelatihan penggunaan sistem, pendampingan operasional, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Melalui program PKM-PI ini, Tim UGM berharap PelletQ-AI tidak hanya menjadi solusi bagi Budidaya Lele Pak Nanang, tetapi juga menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang mampu mendukung kemandirian produksi pakan ikan di Indonesia. Ke depan, integrasi platform web, kecerdasan buatan, dan mesin produksi dalam PelletQ-AI diharapkan dapat membantu lebih banyak pembudidaya menghasilkan pakan berkualitas dengan biaya yang lebih efisien, sehingga turut meningkatkan daya saing sektor budidaya perikanan nasional.

Dosen Muda Departemen Perikanan UGM Raih Gelar Doktor dari Jepang, Kembangkan Inovasi Keamanan Pangan Perikanan Berbasis Biologi Molekuler

Berita Senin, 7 September 2026

Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satu dosen muda, Grace Margareta, S.Pi., M.Sc., berhasil menyelesaikan studi doktoralnya di Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT), Jepang. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan kapasitas akademik Departemen Perikanan UGM, khususnya di bidang keamanan pangan hasil perikanan dan mikrobiologi pangan.

Sebelum menyelesaikan studi doktoralnya, Grace menjalani penelitian di Laboratory of Food Microbiology, Tokyo University of Marine Science and Technology, salah satu pusat unggulan dunia dalam bidang ilmu pangan dan teknologi hasil perikanan. Selain mengembangkan riset, selama menempuh studi ia juga aktif menjembatani kolaborasi penelitian antara Indonesia dan Jepang melalui kerja sama yang melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan TUMSAT.

Pada 3 Agustus 2026, Grace berhasil menyelesaikan presentasi akhir disertasinya. Penelitian Grace mengangkat isu yang sangat penting namun masih sering luput dari perhatian industri perikanan dunia, yaitu keamanan pangan terkait pembentukan histamin pada ikan scombroid, khususnya ikan makerel.

Histamin merupakan salah satu penyebab utama keracunan pangan pada produk perikanan yang dapat terbentuk meskipun ikan disimpan dalam rantai dingin. Selama ini, penyimpanan pada suhu sekitar 4°C dianggap telah memadai untuk menjaga keamanan produk. Namun, melalui penelitiannya, Grace menunjukkan bahwa asumsi tersebut belum sepenuhnya tepat.

Penelitian disertasinya mengungkap bahwa Photobacterium phosphoreum, bakteri psikrofilik penyebab utama pembentukan histamin, masih mampu tumbuh dan tetap aktif menghasilkan enzim pembentuk histamin meskipun berada pada suhu penyimpanan dingin. Bahkan, peningkatan suhu yang relatif kecil, dari 4°C menjadi 10°C, dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri secara signifikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian suhu yang lebih ketat, yakni ≤2°C, menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan ikan makerel selama distribusi dan penyimpanan.

Tidak berhenti pada aspek ekologi bakteri, Grace juga mengembangkan inovasi dalam metode deteksi. Ia berhasil merancang probe-based quantitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) assay yang secara spesifik menargetkan gen hdc2, yaitu gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan histamin. Metode ini memungkinkan deteksi bakteri meskipun berada pada fase Viable But Non-Culturable (VBNC), yaitu kondisi ketika bakteri masih hidup tetapi tidak dapat dideteksi menggunakan metode kultur konvensional.

Menurut Grace, keberadaan bakteri dalam fase VBNC merupakan salah satu tantangan terbesar dalam sistem pengawasan keamanan pangan karena berpotensi menghasilkan histamin meskipun tidak terdeteksi melalui penghitungan koloni pada media kultur. Oleh karena itu, pendekatan berbasis biologi molekuler memberikan tingkat sensitivitas yang jauh lebih tinggi dalam mengidentifikasi potensi risiko keamanan pangan.

Sebagai bagian dari penelitian, Grace juga mengevaluasi efektivitas Modified Atmosphere Packaging (MAP) melalui berbagai kombinasi gas karbon dioksida, oksigen, dan nitrogen selama penyimpanan dingin. Evaluasi dilakukan tidak hanya terhadap pertumbuhan bakteri dan akumulasi histamin, tetapi juga terhadap kualitas sensori ikan serta ekspresi gen yang berkaitan dengan pembentukan histamin. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam menentukan sistem pengemasan yang paling efektif untuk memperpanjang umur simpan sekaligus menjaga keamanan produk perikanan.

Lebih jauh, penelitian ini memberikan perspektif baru bagi industri perikanan global. Grace menegaskan bahwa menghitung jumlah bakteri semata tidak lagi cukup untuk menilai keamanan produk terhadap risiko histamin. Integrasi pendekatan ekologi mikroba, biologi molekuler, dan teknologi pengemasan menawarkan paradigma baru dalam penyusunan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) dan manajemen rantai dingin yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Pencapaian Grace Margareta menjadi kebanggaan bagi Departemen Perikanan UGM sekaligus memperkuat posisi institusi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional. Keahlian yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Jepang diharapkan dapat memperkuat kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan sistem keamanan pangan hasil perikanan yang lebih modern, berbasis sains, dan menjawab tantangan industri perikanan masa depan.

Kegiatan studi lanjut dan keberhasilan penelitian ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penelitian Grace berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui penguatan sistem keamanan pangan untuk melindungi kesehatan konsumen dari risiko keracunan histamin. Inovasi di bidang teknologi deteksi dan pengemasan pangan turut mendukung SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, sementara penguatan kapasitas akademik dosen melalui pendidikan doktoral internasional merupakan implementasi SDG 4: Quality Education. Selain itu, kolaborasi riset antara UGM, BRIN, dan Tokyo University of Marine Science and Technology mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals dalam memperkuat jejaring penelitian global guna menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi industri perikanan dan masyarakat dunia.

Program Studi Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Akreditasi Internasional ASIIN hingga 2031

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Prestasi membanggakan kembali diraih Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program Studi Magister Ilmu Perikanan resmi memperoleh akreditasi internasional dari ASIIN (Accreditation Agency for Study Programmes in Engineering, Informatics, Natural Sciences and Mathematics). Pencapaian ini menjadi pengakuan internasional atas kualitas penyelenggaraan pendidikan, proses pembelajaran, dan capaian lulusan yang memenuhi standar akademik global.

Berdasarkan sertifikat akreditasi yang diterbitkan ASIIN, akreditasi untuk Program Studi Master of Science in Fisheries Science di Universitas Gadjah Mada berlaku mulai 26 September 2025 hingga 30 September 2031. Program studi ini juga dinyatakan memenuhi standar Level 7 European Qualifications Framework for Lifelong Learning (EQF LLL), yang menunjukkan kesetaraan kompetensi lulusan dengan jenjang magister pada kerangka kualifikasi pendidikan tinggi di Eropa.

ASIIN merupakan lembaga akreditasi internasional yang berbasis di Jerman dan dikenal luas dalam melakukan penjaminan mutu pendidikan tinggi di bidang teknik, ilmu alam, matematika, informatika, serta ilmu-ilmu terapan. Proses akreditasi dilakukan melalui evaluasi yang komprehensif terhadap kurikulum, capaian pembelajaran, kualitas dosen, tata kelola program studi, fasilitas pembelajaran, hingga sistem penjaminan mutu yang diterapkan oleh institusi.

Dalam sertifikat akreditasi disebutkan bahwa pemberian ASIIN Seal merupakan pengakuan bahwa program studi telah memenuhi tuntutan dunia akademik dan dunia profesi pada tingkat yang tinggi. Selain itu, ASIIN juga menilai bahwa program studi menyediakan lingkungan pembelajaran yang mendukung proses pendidikan yang berkualitas serta keberhasilan mahasiswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Penilaian tersebut didasarkan pada standar pembelajaran berbasis capaian (learning outcomes) yang selaras dengan European Qualifications Framework dan European Standards and Guidelines.

Ketua Departemen Perikanan UGM menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Akreditasi internasional bukan hanya menjadi bentuk pengakuan atas kualitas pendidikan yang telah dicapai, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus meningkatkan standar akademik, memperkuat internasionalisasi, dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global.

Bagi mahasiswa, akreditasi ASIIN memberikan nilai tambah karena menunjukkan bahwa proses pendidikan yang dijalani telah memenuhi standar internasional. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing lulusan, memperluas peluang studi lanjut maupun karier profesional, serta memperkuat jejaring akademik dan penelitian dengan berbagai institusi di luar negeri.

Ke depan, Departemen Perikanan UGM akan terus memperkuat kualitas pendidikan melalui inovasi kurikulum, pengembangan riset yang relevan dengan tantangan global, peningkatan kolaborasi internasional, serta penguatan kemitraan dengan pemerintah, industri, dan berbagai lembaga penelitian. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi bagi pembangunan sektor perikanan dan kelautan yang berkelanjutan.

Pencapaian akreditasi internasional ini juga mendukung komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pengakuan terhadap mutu pendidikan tinggi berkontribusi pada SDG 4: Quality Education melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan berstandar internasional. Penguatan jejaring akademik global dan harmonisasi standar pendidikan dengan kerangka kualifikasi internasional juga mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals, sementara pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidang perikanan diharapkan mampu mendukung SDG 14: Life Below Water melalui pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan.

Satu Langkah, Satu Semangat: Sivitas Akademika Perikanan UGM Meriahkan HUT ke-63 Lewat Jalan Sehat

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui penyelenggaraan kegiatan Jalan Sehat pada Jumat, 24 Juli 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Gedung A4 Departemen Perikanan UGM ini diikuti oleh sivitas akademika Departemen Perikanan, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Jalan sehat menjadi salah satu rangkaian kegiatan HUT yang bertujuan mempererat tali silaturahmi sekaligus membangun budaya hidup sehat di lingkungan kampus. Sejak pagi hari, para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan yang diawali dengan berkumpul di halaman Gedung A4 sebelum bersama-sama menempuh rute yang telah disiapkan panitia.

Momentum ini tidak hanya menjadi ajang berolahraga, tetapi juga menjadi ruang interaksi yang hangat antarsivitas akademika. Dalam suasana yang santai, dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan dapat saling bertegur sapa, berbagi cerita, serta memperkuat rasa kebersamaan yang menjadi bagian penting dari kehidupan akademik di Departemen Perikanan UGM.

Peringatan HUT ke-63 juga menjadi refleksi atas perjalanan panjang Departemen Perikanan UGM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi selama lebih dari enam dekade. Berbagai capaian di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama internasional menjadi fondasi yang terus diperkuat untuk menjawab tantangan pembangunan sektor perikanan dan kelautan di masa depan.

Melalui kegiatan jalan sehat, Departemen Perikanan UGM ingin menegaskan bahwa kesehatan dan kebugaran merupakan modal penting dalam mendukung produktivitas, kreativitas, dan kualitas kinerja sivitas akademika. Lingkungan akademik yang sehat diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi, kolaborasi, dan semangat pengabdian yang lebih besar bagi masyarakat.

Selain sebagai ajang kebersamaan, kegiatan ini juga menjadi wujud apresiasi kepada seluruh keluarga besar Departemen Perikanan UGM yang telah berkontribusi dalam perkembangan institusi. Semangat kekeluargaan yang terbangun diharapkan terus menjadi energi positif untuk menghadapi berbagai tantangan dan peluang di masa mendatang.

Mengusung semangat “Bersama Melangkah, Bersama Berkarya”, peringatan HUT ke-63 diharapkan semakin memperkuat solidaritas seluruh sivitas akademika dalam mewujudkan Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global, sekaligus tetap dekat dengan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang berdampak.

Kegiatan jalan sehat ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui aktivitas fisik yang melibatkan seluruh sivitas akademika, kegiatan ini mendukung SDG 3: Good Health and Well-being dengan mendorong pola hidup sehat dan meningkatkan kesejahteraan fisik. Semangat kebersamaan dan inklusivitas yang terbangun juga mencerminkan implementasi SDG 4: Quality Education, melalui penguatan lingkungan akademik yang kondusif bagi pembelajaran dan kolaborasi. Di samping itu, partisipasi aktif seluruh warga Departemen Perikanan menjadi wujud penguatan kemitraan internal yang selaras dengan SDG 17: Partnerships for the Goals, dalam membangun institusi yang semakin solid, kolaboratif, dan berdaya saing.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Aksi Donor Darah Bersama RSA UGM

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Departemen Perikanan bekerja sama dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM menyelenggarakan kegiatan Aksi Donor Darah pada Selasa, 28 Juli 2026 di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta masyarakat umum yang ingin berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan. Donor darah menjadi salah satu rangkaian kegiatan HUT Departemen Perikanan yang tidak hanya mempererat kebersamaan sivitas akademika, tetapi juga menjadi wujud nyata kepedulian terhadap sesama.

Mengusung semangat berbagi kehidupan, kegiatan ini bertujuan membantu memenuhi kebutuhan stok darah bagi pasien yang membutuhkan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya donor darah secara rutin. Setiap kantong darah yang terkumpul diharapkan dapat memberikan harapan baru bagi mereka yang sedang menjalani perawatan medis.

Ketua Departemen Perikanan UGM menyampaikan bahwa peringatan hari jadi departemen tidak hanya dimaknai sebagai momentum refleksi perjalanan institusi selama lebih dari enam dekade, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperluas kontribusi kepada masyarakat. Melalui kegiatan donor darah, sivitas akademika diajak untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai kepedulian, solidaritas, dan pengabdian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya akademik Departemen Perikanan.

Kerja sama dengan RSA UGM memastikan seluruh proses donor darah berlangsung sesuai standar medis, mulai dari pemeriksaan kesehatan awal, skrining calon pendonor, proses pengambilan darah, hingga pemantauan kondisi pendonor setelah kegiatan selesai. Selain memberikan manfaat bagi penerima donor, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan gaya hidup sehat agar dapat menjadi pendonor darah secara berkelanjutan.

Antusiasme peserta terlihat sejak pagi hari. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga alumni secara bergantian mengikuti proses donor darah dengan penuh semangat. Kehadiran berbagai elemen sivitas akademika menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial tetap menjadi nilai yang hidup di lingkungan Departemen Perikanan UGM.

Melalui penyelenggaraan aksi donor darah ini, Departemen Perikanan berharap dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup berbagi kepada sesama. Setetes darah yang didonorkan bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan solidaritas kemanusiaan yang mampu memberikan dampak besar bagi kehidupan orang lain.

Peringatan HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM diharapkan tidak hanya menjadi perayaan perjalanan institusi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat pengabdian kepada masyarakat. Dengan mengusung nilai kemanusiaan, kolaborasi, dan kepedulian sosial, Departemen Perikanan terus berkomitmen memberikan kontribusi nyata, baik melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, maupun aksi sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Aksi donor darah berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui dukungan terhadap ketersediaan darah yang aman dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Kolaborasi antara Departemen Perikanan dan RSA UGM mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals dalam membangun sinergi antarunit untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Selain itu, keterlibatan aktif dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan masyarakat menunjukkan semangat kebersamaan dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari penguatan budaya kampus yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar.

Departemen Perikanan UGM Dorong Inovasi Blue Food untuk Membangun Ketahanan Pangan Masa Depan

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Potensi pangan Indonesia tidak hanya tumbuh dari daratan, tetapi juga dari laut, sungai, dan danau yang menyimpan sumber protein berkualitas tinggi. Melihat besarnya peluang tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), terus memperkuat pengembangan konsep blue food sebagai salah satu solusi ilmiah untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, peningkatan gizi masyarakat, dan keberlanjutan sumber daya perairan.

Komitmen tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) yang mengangkat tema “Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal.” Forum ilmiah ini menjadi ruang bertemunya akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah, dan praktisi untuk mendiskusikan berbagai inovasi yang mampu memperkuat sistem pangan berbasis sumber daya akuatik.

Ketua panitia, Dr. Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa seminar ini tidak sekadar menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, tetapi juga membangun kolaborasi lintas disiplin dalam merancang masa depan sektor perikanan Indonesia. Sebanyak 109 makalah ilmiah dipresentasikan oleh peneliti dari 15 institusi, mencerminkan semakin besarnya perhatian terhadap pengembangan ilmu perikanan dan kelautan yang berdampak bagi masyarakat.

Dalam berbagai sesi seminar, peserta membahas bagaimana blue food perlu dipandang sebagai sebuah sistem yang mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan akuatik. Pendekatan ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan protein, pertumbuhan jumlah penduduk, perubahan iklim, serta tekanan terhadap sistem pangan berbasis daratan.

Salah satu kontribusi ilmiah yang mendapat perhatian berasal dari dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., yang memperkenalkan hasil penelitiannya mengenai pemanfaatan mikroalga dan makroalga sebagai bahan baku pangan masa depan. Menurutnya, tantangan terbesar pengembangan blue food bukan hanya menghasilkan pangan yang bergizi, tetapi juga menghadirkan produk yang memiliki cita rasa, tekstur, dan karakteristik yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Pendekatan tersebut membuka peluang lahirnya berbagai inovasi pangan, seperti mi, makanan penutup, hingga produk pangan fungsional berbasis sumber daya perairan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pengembangan blue food merupakan bagian dari transformasi ilmu perikanan yang tidak lagi berfokus pada peningkatan produksi semata, tetapi juga pada pembangunan sistem pangan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan. Melalui riset, inovasi teknologi, serta kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat, Departemen Perikanan terus berupaya menghasilkan solusi yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Seminar ini juga memperlihatkan semakin pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam menjawab berbagai tantangan sektor perikanan. Isu keamanan pangan, hilirisasi produk, konservasi sumber daya, hingga penguatan ekonomi masyarakat pesisir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan sistem pangan biru di Indonesia. Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, Departemen Perikanan UGM berharap lahir lebih banyak inovasi dan kerja sama yang mampu mempercepat transformasi sektor perikanan menuju sistem pangan yang berdaya saing global.

Melalui penyelenggaraan SEMNASKAN-UGM XXIII, Departemen Perikanan UGM kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di bidang perikanan dan kelautan. Berbagai hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan dan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 2: Zero Hunger melalui penguatan sistem pangan berbasis sumber daya perairan yang bergizi dan berkelanjutan. Berbagai inovasi yang dipresentasikan juga berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui pengembangan pangan akuatik yang aman dan bernilai gizi tinggi, serta SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui pemanfaatan sumber daya perairan secara efisien dan bernilai tambah. Selain itu, penguatan riset dan kolaborasi yang dibangun dalam seminar ini mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals dalam mendorong inovasi dan pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.

Guru Besar Departemen Perikanan UGM Dikukuhkan, Prof. Eko Setyobudi Tegaskan Pentingnya Data dalam Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan capaian akademik melalui pengukuhan Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. sebagai Guru Besar dalam bidang Biologi Perikanan dan Kelautan. Pengukuhan ini menjadi tonggak penting bagi Departemen Perikanan UGM dalam memperkuat kontribusi ilmu pengetahuan terhadap pengelolaan sumber daya perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Data sebagai Fondasi Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berkelanjutan”, Prof. Eko menegaskan bahwa pengambilan keputusan dalam sektor perikanan harus didasarkan pada data ilmiah yang akurat, berkelanjutan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, tantangan pengelolaan perikanan saat ini semakin kompleks akibat meningkatnya tekanan terhadap sumber daya ikan, perubahan iklim, serta tingginya kebutuhan pangan bagi masyarakat.

Prof. Eko menjelaskan bahwa ketersediaan data yang berkualitas merupakan prasyarat utama dalam menyusun kebijakan pengelolaan perikanan yang adaptif. Data mengenai stok ikan, dinamika populasi, kondisi habitat, hingga aktivitas penangkapan menjadi dasar penting dalam menentukan strategi pengelolaan yang mampu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan keberlanjutan ekosistem.

Sebagai akademisi yang menekuni bidang biologi perikanan dan kelautan, Prof. Eko juga menyoroti pentingnya integrasi berbagai sumber data, mulai dari hasil survei lapangan, pemantauan oseanografi, teknologi penginderaan jauh, hingga sistem informasi digital. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas analisis ilmiah sekaligus mendukung pengambilan kebijakan yang lebih cepat, tepat, dan berbasis bukti (evidence-based policy).

Bagi Departemen Perikanan UGM, pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian individu, tetapi juga memperkuat komitmen departemen dalam menghasilkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan sektor perikanan. Berbagai penelitian yang dikembangkan oleh sivitas akademika Departemen Perikanan UGM selama ini telah berkontribusi dalam penyediaan data ilmiah untuk pengelolaan perikanan, konservasi sumber daya akuatik, pengembangan akuakultur, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.

Keberadaan guru besar juga diharapkan semakin memperkuat atmosfer akademik di lingkungan Departemen Perikanan UGM melalui pengembangan riset multidisiplin, peningkatan kualitas publikasi internasional, serta kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan berbagai institusi akademik di tingkat nasional maupun global. Penguatan kapasitas keilmuan tersebut menjadi modal penting dalam mencetak lulusan yang mampu menjawab tantangan sektor perikanan di masa depan.

Momentum pengukuhan Prof. Eko Setyobudi sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan dosen muda untuk terus mengembangkan inovasi serta menghasilkan penelitian yang berdampak nyata bagi masyarakat. Departemen Perikanan UGM meyakini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan akan memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan tata kelola sumber daya perikanan yang lebih produktif, tangguh, dan berkelanjutan.

Pencapaian ini juga sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi dan pengembangan sumber daya manusia, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan riset dan inovasi berbasis data, SDG 14 (Life Below Water) dengan mendorong pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menghasilkan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.

Departemen Perikanan UGM Buka Beasiswa Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa S1 melalui Kolaborasi dengan CV. Karya Rasa Indonesia

BeasiswaBerita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung keberlangsungan studi mahasiswa melalui pembukaan Program Beasiswa Bantuan Pendidikan hasil kolaborasi dengan CV. Karya Rasa Indonesia. Program ini ditujukan khusus bagi mahasiswa Program Sarjana (S1) Departemen Perikanan UGM dari seluruh angkatan yang membutuhkan dukungan pembiayaan pendidikan.

Beasiswa ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap mahasiswa yang memiliki semangat belajar tinggi, namun menghadapi keterbatasan ekonomi. Melalui program ini, Departemen Perikanan UGM bersama mitra berupaya memberikan kesempatan yang lebih luas agar mahasiswa dapat menyelesaikan studinya tanpa terkendala biaya pendidikan.

Ketua Departemen Perikanan UGM menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kualitas akademik, tetapi juga oleh kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, kolaborasi dengan dunia usaha menjadi langkah strategis dalam memperluas akses terhadap bantuan pendidikan sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sektor industri.

Program Beasiswa Bantuan Pendidikan ini terbuka bagi mahasiswa yang tidak sedang menerima beasiswa lain dan berasal dari keluarga kurang mampu. Sebagai bagian dari proses seleksi, calon penerima diwajibkan melampirkan curriculum vitae (CV), transkrip nilai terbaru, serta slip gaji orang tua atau surat keterangan penghasilan dari kelurahan sebagai bukti kondisi ekonomi keluarga.

Pada periode tahun ini, tersedia kuota bagi enam mahasiswa yang akan menerima bantuan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Seleksi dilakukan secara administratif dengan mempertimbangkan kelengkapan dokumen serta kesesuaian persyaratan yang telah ditetapkan.

Mahasiswa yang memenuhi kriteria dapat mengajukan pendaftaran secara daring melalui tautan http://ugm.id/BeasiswaKRI. Pendaftaran dibuka hingga 1 Juli 2026, sehingga mahasiswa diimbau untuk segera melengkapi seluruh persyaratan sebelum batas waktu yang telah ditentukan.

Melalui penyelenggaraan program ini, Departemen Perikanan UGM berharap semakin banyak mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikan tinggi dengan baik tanpa harus terbebani oleh kendala finansial. Program ini juga menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra industri mampu memberikan dampak positif bagi pengembangan sumber daya manusia di sektor perikanan.

Program Beasiswa Bantuan Pendidikan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan akses terhadap pendidikan tinggi yang inklusif dan berkualitas, SDG 1 (No Poverty) dengan membantu meringankan beban ekonomi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui penyediaan kesempatan pendidikan yang lebih setara, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara Departemen Perikanan UGM dan CV. Karya Rasa Indonesia dalam mendukung pengembangan generasi muda yang unggul dan berdaya saing.

Departemen Perikanan UGM Jajaki Peluang Kerja Sama Internasional Bersama Gyeongsang National University

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan delegasi dari Gyeongsang National University dalam rangka menjajaki peluang kerja sama akademik dan penelitian di bidang perikanan dan kelautan. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan produktif, menjadi langkah awal untuk memperkuat jejaring internasional serta mendorong kolaborasi yang saling menguntungkan bagi kedua institusi.

Diskusi difokuskan pada berbagai peluang kerja sama yang dapat dikembangkan di masa mendatang, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, kolaborasi penelitian, publikasi ilmiah bersama, hingga pengembangan program akademik yang mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi. Kedua institusi juga membahas potensi penyelenggaraan seminar bersama, kuliah tamu, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan akademik lintas negara.

Dalam pertemuan tersebut, Departemen Perikanan UGM memperkenalkan berbagai bidang unggulan yang dimiliki, meliputi pengelolaan sumber daya perikanan, akuakultur, oseanografi perikanan, teknologi hasil perikanan, konservasi ekosistem perairan, hingga kajian sosial-ekonomi dan kebijakan perikanan. Beragam aktivitas penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta jejaring kolaborasi nasional dan internasional yang telah berjalan juga menjadi bagian dari pembahasan.

Sementara itu, delegasi Gyeongsang National University memaparkan keunggulan institusinya dalam pengembangan ilmu kelautan dan perikanan serta menyampaikan ketertarikan untuk membangun kemitraan jangka panjang dengan Departemen Perikanan UGM. Kesamaan fokus penelitian dan tantangan yang dihadapi sektor perikanan di kawasan Asia menjadi landasan yang kuat untuk mengembangkan kolaborasi strategis di masa depan.

Melalui pertemuan ini, kedua belah pihak sepakat bahwa kerja sama internasional tidak hanya akan memperluas kesempatan penelitian dan publikasi, tetapi juga memberikan pengalaman akademik yang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi dan solusi ilmiah dalam menjawab berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya perairan, dan pembangunan perikanan berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM terus berkomitmen memperluas jejaring internasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kemitraan dengan berbagai universitas dunia diharapkan semakin memperkuat posisi Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan tinggi yang berdaya saing global dan berkontribusi nyata terhadap pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.

Kolaborasi ini juga sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan riset dan inovasi, SDG 14 (Life Below Water) dengan mendorong pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan internasional dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

1234…18
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY