• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • Berita
  • Prof. Djumanto Buka Seminar Nasional Ikan XIII MII, Tegaskan Pentingnya Ekonomi Biru Berkelanjutan untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

Prof. Djumanto Buka Seminar Nasional Ikan XIII MII, Tegaskan Pentingnya Ekonomi Biru Berkelanjutan untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

  • Berita
  • 9 Juni 2026, 16.03
  • Oleh: mediaperikanan.faperta
  • 0

Bogor — Ketua Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII), Prof. Dr. Ir. Djumanto, M.Sc., secara resmi membuka Seminar Nasional Ikan XIII Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII) yang diselenggarakan secara hybrid di Bogor. Kegiatan ini menjadi momen istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun MII ke-26, sekaligus pelaksanaan Kongres VII MII yang akan menentukan arah organisasi pada periode mendatang.

Dalam sambutannya, Prof. Djumanto menyampaikan bahwa sejak berdiri pada tahun 2000, Masyarakat Iktiologi Indonesia telah berkomitmen menjadi wadah bagi para akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, dan pemerhati perikanan dalam mengembangkan ilmu iktiologi, yaitu ilmu yang mempelajari keanekaragaman ikan beserta berbagai aspek biologis, ekologis, dan pemanfaatannya.

Menurut Prof. Djumanto, keberadaan MII selama lebih dari dua dekade telah memberikan kontribusi penting dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi keanekaragaman hayati perairan, serta pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di Indonesia.

Pada penyelenggaraan Seminar Nasional Ikan XIII tahun ini, MII mengusung tema “Ekonomi Biru Berkelanjutan” yang dinilai sangat relevan dengan tantangan pembangunan sektor kelautan dan perikanan saat ini. Dalam sambutannya, Prof. Djumanto menegaskan bahwa ekonomi biru bukan hanya berbicara mengenai peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana pembangunan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya ikan dan ekosistem perairan.

“Tema ini menegaskan komitmen kita untuk menyeimbangkan konservasi sumber daya ikan dengan pembangunan sektor perikanan. Sinergi antara pelestarian keanekaragaman ikan dan pemanfaatan yang produktif menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki kekayaan ikan yang sangat besar, baik di perairan laut maupun perairan darat. Oleh karena itu, pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan menjadi fondasi penting untuk memastikan sumber daya tersebut tetap lestari dan mampu memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Seminar Nasional Ikan XIII juga menjadi forum strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam berbagi hasil penelitian, pengalaman lapangan, dan inovasi terbaru terkait ilmu perikanan dan konservasi sumber daya ikan. Selain memperluas wawasan ilmiah, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, sektor industri, dan mitra internasional.

Selain seminar, pelaksanaan Kongres VII MII menjadi agenda penting dalam rangka memperkuat organisasi. Prof. Djumanto berharap kongres dapat menghasilkan berbagai gagasan segar, kepemimpinan yang visioner, serta program kerja yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

“Melalui kongres ini, kita berharap MII dapat terus berkembang sebagai organisasi ilmiah yang relevan, progresif, dan menjadi rujukan utama dalam pengembangan ilmu iktiologi serta pengelolaan sumber daya perikanan Indonesia,” ujarnya.

Sebagai Guru Besar Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Djumanto dikenal sebagai akademisi yang telah lama berkontribusi dalam bidang sumber daya perikanan, ekologi perairan, dan konservasi ikan. Kepemimpinannya di MII memperkuat peran organisasi dalam menjembatani hasil-hasil penelitian dengan kebutuhan pengelolaan sumber daya perikanan nasional.

Penyelenggaraan Seminar Nasional Ikan XIII dan Kongres VII MII menunjukkan bahwa pengembangan ilmu iktiologi tidak hanya penting bagi kemajuan akademik, tetapi juga menjadi fondasi dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di era ekonomi biru.

Menariknya, Seminar Nasional Ikan XIII juga menjadi ajang pembelajaran dan aktualisasi bagi generasi muda peneliti perikanan. Prof. Djumanto secara khusus mendorong mahasiswa bimbingannya untuk berpartisipasi aktif dalam forum ilmiah nasional tersebut melalui presentasi hasil penelitian terbaru yang mereka lakukan. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam seminar ilmiah merupakan bagian penting dari proses pembentukan peneliti muda yang kritis, inovatif, dan mampu mengomunikasikan hasil riset kepada komunitas ilmiah yang lebih luas.

Prof. Djumanto menegaskan bahwa seminar ilmiah tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan hasil penelitian, tetapi juga sarana memperluas jejaring akademik, memperoleh masukan ilmiah, serta membuka peluang kolaborasi penelitian di masa mendatang. Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang berani tampil dan berkontribusi dalam forum-forum ilmiah nasional maupun internasional sehingga dapat memperkuat kapasitas akademik sekaligus meningkatkan daya saing lulusan Perikanan UGM di tingkat global.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals terutama SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis perikanan, SDG 14 (Life Below Water) melalui upaya pelestarian ekosistem perairan dan keanekaragaman ikan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi nasional dan internasional dalam pengembangan ilmu dan pengelolaan sumber daya perikanan.

Tags: Fakultas Pertanian UGM Perikanan UGM SDG 14: Ekosistem Lautan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 2: Tanpa Kelaparan Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY