• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
Arsip:

SDG 2: Tanpa Kelaparan

Dosen THP UGM Bahas Pemanfaatan Lactiplantibacillus plantarum untuk Peningkatan Mutu Terasi

Berita Selasa, 15 September 2026

Semarang, 9 September 2026 — Dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Mgs. Muhammad Prima Putra, turut mempresentasikan hasil penelitian pada The 9th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2026 yang berlangsung di Semarang pada 9 September 2026. Dalam forum tersebut, ia mempresentasikan penelitian berjudul “Application of Lactiplantibacillus plantarum GMP 1 to Improve Quality, Safety, and Functional Properties of Rebon Shrimp Paste.”

Penelitian ini mengkaji pemanfaatan Lactiplantibacillus plantarum GMP 1 dalam proses pengolahan terasi berbahan dasar udang rebon. Kajian diarahkan untuk melihat potensi penggunaan mikroorganisme tersebut dalam meningkatkan mutu, keamanan, serta sifat fungsional produk hasil fermentasi.

Terasi merupakan salah satu produk olahan hasil perikanan yang telah lama menjadi bagian dari pangan masyarakat Indonesia. Namun, pengembangan kualitas produk dan pengendalian keamanan menjadi aspek penting untuk meningkatkan daya saingnya. Melalui pendekatan teknologi fermentasi, penelitian ini mengeksplorasi peluang untuk menghasilkan produk terasi dengan karakteristik yang lebih baik sekaligus memberikan nilai tambah terhadap komoditas udang rebon.

Pemanfaatan Lactiplantibacillus plantarum juga menunjukkan bagaimana teknologi fermentasi dapat dikembangkan tidak hanya untuk menghasilkan karakteristik produk yang diinginkan, tetapi juga sebagai pendekatan dalam pengembangan pangan fungsional dan peningkatan keamanan pangan. Kajian semacam ini menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan yang inovatif dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.

Keikutsertaan Muhammad Prima Putra dalam ICTCRED 2026 menjadi kesempatan untuk mendiseminasikan hasil penelitian sekaligus memperluas pertukaran pengetahuan mengenai inovasi pengolahan hasil perikanan. Penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan produk perikanan bernilai tambah yang aman, berkualitas, dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut pada skala industri.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan pangan berbasis sumber daya perikanan, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan keamanan dan sifat fungsional pangan, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi teknologi fermentasi dalam pengolahan hasil perikanan.

Dosen THP UGM Raih Best Oral Presenter pada The 9th ICTCRED 2026

Berita Selasa, 15 September 2026

Semarang, 9 September 2026 — Dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Indun Dewi Puspita, M.Sc., Ph.D berpartisipasi dalam The 9th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2026 yang diselenggarakan di Semarang pada 9 September 2026. Dalam konferensi internasional tersebut, Dr. Indun mempresentasikan hasil penelitiannya berjudul “Effect of Temperature on Growth and Histamine Formation of Klebsiella aerogenes E.1 in Yellowfin Tuna Flesh Model.”

Penelitian tersebut mengkaji pengaruh suhu terhadap pertumbuhan Klebsiella aerogenes E.1 serta pembentukan histamin pada model daging tuna sirip kuning (yellowfin tuna). Kajian ini menjadi penting dalam konteks mutu dan keamanan hasil perikanan, mengingat pengendalian suhu merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas ikan dan meminimalkan risiko pembentukan histamin selama penanganan dan penyimpanan.

Melalui penelitian tersebut, Dr. Indun menyoroti pentingnya pemahaman terhadap hubungan antara kondisi penyimpanan, pertumbuhan mikroorganisme, dan pembentukan senyawa yang berpotensi membahayakan konsumen. Hasil penelitian diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi pengendalian mutu dan keamanan produk perikanan, khususnya komoditas tuna yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Keikutsertaan dalam ICTCRED 2026 juga menjadi ruang bagi dosen THP UGM untuk memperluas jejaring akademik dan mendiseminasikan hasil penelitian pada forum internasional. Prestasi tersebut semakin istimewa dengan diraihnya penghargaan Best Oral Presenter oleh Dr. Indun Dewi Puspita. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kualitas penyampaian dan substansi penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi.

Partisipasi dan prestasi tersebut menunjukkan kontribusi riset THP UGM dalam menjawab tantangan keamanan pangan serta peningkatan mutu hasil perikanan. Kegiatan ini juga mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan keamanan pangan, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pengembangan pangan hasil perikanan yang aman dikonsumsi, serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM Hadirkan Orasi Ilmiah tentang Transformasi Strategis Perikanan Budi Daya Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sekaligus membahas masa depan sektor perikanan Indonesia. Salah satu agenda utama dalam perayaan tersebut adalah Orasi Ilmiah bertajuk “Perikanan Budi Daya Indonesia Berkelanjutan, Inovatif, Mendunia: Transformasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045.”

Orasi ilmiah disampaikan oleh Rokhmad Mohammad Rofiq, S.Pi., M.App.Sc., Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Dalam paparannya, ia menempatkan perikanan budi daya sebagai sektor strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan agenda ekonomi biru Indonesia.

Rokhmad menekankan bahwa masa depan perikanan budi daya Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Transformasi perlu diarahkan pada sistem budi daya yang lebih produktif, berkelanjutan, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Menurut materi orasi, transformasi tersebut mencakup pergeseran dari ekspansi kawasan menuju produktivitas berbasis daya dukung ekosistem, dari ketergantungan input menuju penguatan kapabilitas domestik, serta dari sekadar adopsi teknologi menuju pembangunan ekosistem inovasi.

Teknologi dalam konteks tersebut tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pengungkit kemampuan pelaku perikanan dalam menghadapi perubahan. Pemanfaatan teknologi perlu didukung kemampuan untuk membaca perubahan, menangkap peluang, dan melakukan transformasi dalam sistem produksi.

Transformasi juga perlu terjadi pada cara melihat keberhasilan sektor perikanan. Pengembangan perikanan tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah produksi, tetapi juga berdasarkan nilai ekonomi, lapangan kerja, efisiensi, dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Karena itu, pengembangan budi daya perlu terhubung dengan keseluruhan rantai nilai, mulai dari pakan dan produksi, panen, pengolahan, rantai dingin, hingga pemasaran. Pendekatan value-chain-based development menjadi penting agar komoditas perikanan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan memiliki daya saing di pasar global.

Pada saat yang sama, orientasi menuju pasar dunia harus diikuti dengan peningkatan standar kualitas, keamanan pangan, traceability, keberlanjutan, serta konsistensi pasokan.

Salah satu pesan penting dalam orasi adalah bahwa peningkatan produktivitas tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem. Pengembangan perikanan budi daya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kualitas air, penyakit, limbah, serta keberadaan ekosistem pendukung.

Transformasi juga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, pembudidaya, perguruan tinggi, peneliti, lembaga pembiayaan, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang saling mendukung. Dalam pendekatan ini, pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai strategic orchestrator yang mempertemukan berbagai kepentingan dan sumber daya.

Bagi Departemen Perikanan UGM, gagasan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut menjadi relevan dengan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang adaptif dan inovatif.

Mahasiswa dan akademisi perikanan perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan secara lebih luas—tidak hanya mengenai produksi ikan, tetapi juga teknologi, ekonomi, lingkungan, rantai nilai, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat. Perspektif lintas bidang tersebut menjadi semakin penting untuk menghadapi kompleksitas sektor perikanan di masa depan.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM melalui orasi ilmiah ini sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen Departemen Perikanan dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Orasi ilmiah ini sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan perikanan budi daya yang produktif, inovatif, berkelanjutan, dan kolaboratif menuju Indonesia Emas 2045.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Bazar GEMARIKAN 2026 Dorong Konsumsi dan Produk Olahan Ikan Lokal

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Bazar GEMARIKAN 2026 pada Jumat (28/8). Bertempat di Lapangan Gedung A4 Departemen Perikanan UGM, kegiatan ini menghadirkan beragam produk ikan dan olahan hasil perikanan sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk semakin gemar mengonsumsi ikan.

Bazar yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dislautkan DIY). Kegiatan menjadi salah satu bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperkenalkan produk perikanan sekaligus mengampanyekan pentingnya konsumsi ikan bagi masyarakat.

Mengusung semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Bazar GEMARIKAN tidak sekadar menjadi kegiatan perayaan ulang tahun, tetapi juga menjadi ruang untuk mendekatkan produk perikanan kepada konsumen serta menunjukkan bahwa ikan dapat diolah menjadi beragam produk pangan yang menarik, praktis, dan sesuai dengan selera masyarakat masa kini.

Sebanyak 13 tenant turut meramaikan Bazar GEMARIKAN 2026. Berbagai produk segar dan olahan ikan ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari fresh fish hingga produk siap santap dengan beragam inovasi.

Tenant yang berpartisipasi meliputi Zamida Food, Phinisi Burger, Siomay Dimsum Batagor Fareta, Fania Food, Eldinam’s Food, Iwakku Foods, Fresh Fish, Orange Food, Simbokke Bu Nur Sambal Ikan, Khanza Food, Pempek Paris, Bakwan Udang, dan Ashlan Food.

Keberagaman produk tersebut menunjukkan bahwa komoditas perikanan memiliki peluang pengembangan yang luas. Ikan tidak hanya dapat dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah yang lebih dekat dengan preferensi konsumen.

Mulai dari burger, siomay, dimsum, batagor, pempek, sambal ikan hingga bakwan udang menjadi contoh bagaimana kreativitas pengolahan mampu meningkatkan daya tarik produk perikanan. Inovasi semacam ini sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pengembangan usaha dan kewirausahaan berbasis hasil perikanan.

Bazar ini membawa semangat Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) dengan mengajak sivitas akademika dan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan sebagai bagian dari pola pangan yang beragam dan bergizi.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting serta menyediakan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, membangun kebiasaan mengonsumsi ikan juga menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Namun, GEMARIKAN tidak hanya berbicara mengenai konsumsi. Di balik setiap produk ikan terdapat rantai ekonomi yang melibatkan pembudidaya, nelayan, pengolah, pedagang, pelaku UMKM, hingga konsumen. Meningkatnya minat masyarakat terhadap produk perikanan pada akhirnya dapat turut membuka peluang ekonomi bagi para pelaku yang berada di sepanjang rantai nilai tersebut.

Melalui Bazar GEMARIKAN, Departemen Perikanan UGM ingin memperlihatkan bahwa upaya meningkatkan konsumsi ikan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan inovasi produk dan penguatan ekonomi pelaku usaha perikanan lokal.

Pelaksanaan Bazar GEMARIKAN juga mencerminkan peran Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan dan teknologi perikanan, tetapi juga berupaya mendekatkan hasil dan semangat pengembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Kolaborasi dengan Dislautkan DIY menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Sinergi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk membangun sektor perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas.

Momentum HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM pun menjadi kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan panjang Departemen Perikanan dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perayaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aktivitas yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat potensi perikanan.

Bazar GEMARIKAN 2026 sekaligus menjadi ajakan sederhana kepada masyarakat: datang, cicipi, konsumsi ikan, dan dukung produk perikanan lokal. Dari pilihan pangan sehari-hari, masyarakat dapat turut berkontribusi terhadap kesehatan keluarga sekaligus keberlanjutan ekonomi para pelaku usaha perikanan.

Kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui promosi pangan bergizi berbasis ikan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui dukungan terhadap usaha dan produk perikanan lokal; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan konsumsi produk perikanan bernilai tambah; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi Departemen Perikanan UGM, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Melalui semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Departemen Perikanan UGM berharap Bazar GEMARIKAN 2026 dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk perikanan sekaligus memperkuat peran ikan sebagai sumber pangan bergizi dan penggerak ekonomi lokal menuju pembangunan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Teknologi Hasil Perikanan UGM Raih Akreditasi Unggul, Teguhkan Komitmen Pendidikan dan Inovasi Perikanan Berkelanjutan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026 — Kabar membanggakan kembali hadir dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) berhasil memperoleh status akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP).

Berdasarkan Keputusan Nomor 001/SK/LAMPTIP/Ak.U/S/VIII/2026, status akreditasi Unggul tersebut berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen 365,68. Keputusan tersebut ditetapkan di Surakarta pada 24 Agustus 2026 oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng.

Predikat Unggul menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan di Program Studi THP UGM. Bagi Departemen Perikanan, capaian ini tidak hanya menjadi pengakuan formal, tetapi juga mencerminkan komitmen sivitas akademika dalam membangun pendidikan perikanan yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia industri.

Bidang Teknologi Hasil Perikanan memiliki posisi strategis dalam rantai nilai perikanan. Sumber daya ikan tidak cukup hanya ditangkap atau dibudidayakan, tetapi perlu ditangani dan diolah secara tepat agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, aman dikonsumsi, memiliki daya saing, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan kompetensi lulusan THP tidak hanya mencakup teknologi pengolahan, tetapi juga mencakup kemampuan memahami keamanan pangan, pengembangan produk, bioteknologi, inovasi, hingga pengelolaan industri hasil perikanan. Profil lulusan yang dikembangkan juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja, mulai dari wirausaha dan profesional hingga ASN dan asisten peneliti.

Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar. Namun, tantangan sektor ini tidak berhenti pada produksi. Kehilangan hasil, keterbatasan teknologi pascapanen, rendahnya diversifikasi produk, serta kebutuhan terhadap pangan yang aman dan berkualitas menjadi tantangan yang membutuhkan inovasi.

Dalam konteks tersebut, THP UGM berperan penting dalam mengembangkan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan. Pengembangan teknologi pengolahan, inovasi produk, bioteknologi hasil perairan, serta pemanfaatan hasil samping dapat menjadi bagian dari upaya membangun industri perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan visi THP UGM untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi hasil perikanan serta mampu berkontribusi dalam pemanfaatan sumber daya ikan dan kelautan secara optimal, lestari, dan bermanfaat.

Capaian akreditasi ini juga tidak terlepas dari proses panjang peningkatan mutu yang melibatkan berbagai unsur Departemen Perikanan UGM. Sebelumnya, Departemen Perikanan telah melakukan berbagai persiapan dan koordinasi untuk menghadapi asesmen lapangan LAM-PTIP, yang melibatkan dosen, pengelola program studi, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta mitra pengguna lulusan.

Proses tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan, mulai dari kurikulum, sumber daya manusia, proses pembelajaran, penelitian, luaran lulusan, fasilitas, hingga jejaring kerja sama.

Dengan diraihnya akreditasi Unggul, Departemen Perikanan UGM menempatkan capaian tersebut bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai landasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, inovasi, dan kontribusi THP bagi pembangunan perikanan Indonesia.

Ke depan, tantangan sektor perikanan akan semakin kompleks. Perubahan iklim, tuntutan keamanan pangan, perkembangan teknologi, kebutuhan industri terhadap produk inovatif, serta tuntutan keberlanjutan menuntut sumber daya manusia yang mampu berpikir lintas disiplin.

Dalam konteks ekonomi biru, teknologi hasil perikanan memiliki peran penting untuk memastikan bahwa sumber daya akuatik yang telah dimanfaatkan dapat memberikan nilai ekonomi maksimal dengan tetap memperhatikan efisiensi sumber daya dan dampak lingkungan.

Lulusan THP diharapkan mampu menjadi bagian dari transformasi tersebut, baik melalui pengembangan industri pengolahan, kewirausahaan, penelitian dan inovasi, maupun pengembangan kebijakan dan pelayanan publik.

Capaian akreditasi Unggul Program Studi Teknologi Hasil Perikanan UGM sekaligus memperkuat kontribusi Departemen Perikanan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Pendidikan berkualitas mendukung SDG 4, sementara pengembangan teknologi dan inovasi hasil perikanan berkontribusi pada SDG 9. Pengembangan produk pangan berbasis ikan juga mendukung SDG 2, sedangkan efisiensi proses pengolahan, pemanfaatan hasil samping, dan pengurangan limbah mendukung SDG 12.

Pada akhirnya, penguatan teknologi pascapanen dan pengolahan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi sumber daya perikanan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya akuatik secara lebih bertanggung jawab, sejalan dengan SDG 14.

Akreditasi Unggul THP UGM menjadi bukti bahwa pendidikan perikanan tidak hanya mempersiapkan lulusan untuk bekerja, tetapi juga menyiapkan talenta yang mampu mengubah potensi sumber daya perikanan menjadi inovasi, nilai tambah, dan solusi bagi masa depan ekonomi biru Indonesia yang berkelanjutan.

PelletQ-AI: Inovasi Mahasiswa UGM Integrasikan AI dan Mesin Otomatis untuk Wujudkan Kemandirian Pakan Ikan

BeritaUncategorized Senin, 7 September 2026

Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil merealisasikan PelletQ-AI, sebuah sistem produksi pakan ikan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan mesin produksi pelet otomatis. Inovasi ini dikembangkan untuk membantu pembudidaya menghasilkan pakan ikan secara mandiri melalui proses formulasi dan produksi yang terintegrasi, sehingga dapat menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengembangan PelletQ-AI berangkat dari permasalahan yang dihadapi mitra, yaitu Budidaya Lele Pak Nanang di Kalurahan Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam usaha budidaya lele, biaya pakan masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi, yakni mencapai lebih dari 60–70 persen. Kenaikan harga pakan komersial yang tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ikan menyebabkan keuntungan pembudidaya semakin tertekan. Kondisi tersebut membuat ketergantungan terhadap pakan komersial masih relatif tinggi.

Selain tingginya biaya pakan, mitra juga belum memiliki fasilitas untuk memproduksi pakan secara mandiri. Ketiadaan mesin produksi pakan serta sistem yang dapat membantu menyusun formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan menyebabkan mitra bergantung sepenuhnya pada pakan komersial. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-PI UGM mengembangkan PelletQ-AI sebagai solusi yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sistem produksi pakan dalam satu ekosistem.

Berbeda dengan mesin pencetak pelet konvensional, PelletQ-AI dilengkapi dengan platform web app.pelletqai.com yang terhubung langsung dengan sistem kecerdasan buatan. Melalui platform tersebut, pembudidaya hanya perlu memasukkan data budidaya serta informasi mengenai bahan baku yang tersedia dan harganya. Selanjutnya, sistem AI melakukan optimasi untuk menghasilkan formulasi pakan dengan biaya serendah mungkin tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan nutrisi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil optimasi tersebut kemudian dikirimkan secara otomatis ke mesin PelletQ-AI sebagai acuan dalam proses produksi.

Seluruh proses produksi dilakukan secara otomatis di dalam mesin, mulai dari pencampuran bahan baku, pemasakan menggunakan sistem pemanas (heater), ekstrusi, pencetakan, hingga pemotongan pelet dalam satu rangkaian kerja yang terintegrasi. Dengan demikian, pelet yang dihasilkan telah matang dan siap digunakan sebagai pakan ikan tanpa memerlukan proses lanjutan.

Ketua Tim PKM-PI UGM, R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata, menjelaskan bahwa PelletQ-AI dirancang untuk menjawab permasalahan pembudidaya secara menyeluruh.

“PelletQ-AI tidak hanya berfungsi sebagai mesin produksi pelet, tetapi merupakan sistem produksi pakan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan, dan proses manufaktur dalam satu kesatuan. Melalui sistem ini, pembudidaya dapat memperoleh formulasi pakan dengan biaya yang lebih efisien namun tetap memenuhi standar nutrisi, kemudian langsung memproduksinya secara mandiri.”

Dosen pembimbing PKM-PI, Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin mampu menghasilkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat.

“PelletQ-AI merupakan contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggabungkan aspek rekayasa mesin, kecerdasan buatan, teknologi informasi, dan akuakultur dalam satu sistem. Harapannya, inovasi ini dapat membantu meningkatkan efisiensi usaha budidaya serta mendorong pemanfaatan teknologi di sektor perikanan.”

Sebagai mitra program, Pak Nanang menyambut baik penerapan PelletQ-AI di lokasi budidayanya.

“Selama ini kami bergantung pada pakan komersial karena belum memiliki alat untuk memproduksi pakan sendiri. Dengan adanya PelletQ-AI, kami berharap dapat membuat pakan secara mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau. Sistem berbasis web juga memudahkan kami memperoleh formulasi pakan tanpa harus menghitung komposisi bahan baku secara manual.”

Pengembangan PelletQ-AI juga sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui peningkatan efisiensi produksi dan penguatan kemandirian pembudidaya dalam penyediaan pakan, inovasi ini berpotensi mendukung efisiensi usaha, penguatan ekonomi pembudidaya, serta penerapan teknologi dan inovasi dalam pembangunan sektor akuakultur yang lebih berkelanjutan.

PelletQ-AI merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas disiplin Universitas Gadjah Mada yang terdiri atas R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata (Teknik Industri), Muhammad Wafdan Taqiyya (Teknologi Informasi), Muhammad Zahir Ali (Teknik Elektro), Clarissa Cindy Marta Devany (Akuakultur), dan Farhan Dwi Prabowo (Teknologi Rekayasa Mesin), di bawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Setelah melalui tahapan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan sistem, pengembangan platform web app.pelletqai.com, pembuatan mesin, hingga pengujian, PelletQ-AI kini telah berhasil direalisasikan di lokasi mitra. Tahapan selanjutnya meliputi pelatihan penggunaan sistem, pendampingan operasional, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Melalui program PKM-PI ini, Tim UGM berharap PelletQ-AI tidak hanya menjadi solusi bagi Budidaya Lele Pak Nanang, tetapi juga menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang mampu mendukung kemandirian produksi pakan ikan di Indonesia. Ke depan, integrasi platform web, kecerdasan buatan, dan mesin produksi dalam PelletQ-AI diharapkan dapat membantu lebih banyak pembudidaya menghasilkan pakan berkualitas dengan biaya yang lebih efisien, sehingga turut meningkatkan daya saing sektor budidaya perikanan nasional.

Departemen Perikanan UGM Dorong Inovasi Blue Food untuk Membangun Ketahanan Pangan Masa Depan

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Potensi pangan Indonesia tidak hanya tumbuh dari daratan, tetapi juga dari laut, sungai, dan danau yang menyimpan sumber protein berkualitas tinggi. Melihat besarnya peluang tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), terus memperkuat pengembangan konsep blue food sebagai salah satu solusi ilmiah untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, peningkatan gizi masyarakat, dan keberlanjutan sumber daya perairan.

Komitmen tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) yang mengangkat tema “Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal.” Forum ilmiah ini menjadi ruang bertemunya akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah, dan praktisi untuk mendiskusikan berbagai inovasi yang mampu memperkuat sistem pangan berbasis sumber daya akuatik.

Ketua panitia, Dr. Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa seminar ini tidak sekadar menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, tetapi juga membangun kolaborasi lintas disiplin dalam merancang masa depan sektor perikanan Indonesia. Sebanyak 109 makalah ilmiah dipresentasikan oleh peneliti dari 15 institusi, mencerminkan semakin besarnya perhatian terhadap pengembangan ilmu perikanan dan kelautan yang berdampak bagi masyarakat.

Dalam berbagai sesi seminar, peserta membahas bagaimana blue food perlu dipandang sebagai sebuah sistem yang mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan akuatik. Pendekatan ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan protein, pertumbuhan jumlah penduduk, perubahan iklim, serta tekanan terhadap sistem pangan berbasis daratan.

Salah satu kontribusi ilmiah yang mendapat perhatian berasal dari dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., yang memperkenalkan hasil penelitiannya mengenai pemanfaatan mikroalga dan makroalga sebagai bahan baku pangan masa depan. Menurutnya, tantangan terbesar pengembangan blue food bukan hanya menghasilkan pangan yang bergizi, tetapi juga menghadirkan produk yang memiliki cita rasa, tekstur, dan karakteristik yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Pendekatan tersebut membuka peluang lahirnya berbagai inovasi pangan, seperti mi, makanan penutup, hingga produk pangan fungsional berbasis sumber daya perairan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pengembangan blue food merupakan bagian dari transformasi ilmu perikanan yang tidak lagi berfokus pada peningkatan produksi semata, tetapi juga pada pembangunan sistem pangan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan. Melalui riset, inovasi teknologi, serta kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat, Departemen Perikanan terus berupaya menghasilkan solusi yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Seminar ini juga memperlihatkan semakin pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam menjawab berbagai tantangan sektor perikanan. Isu keamanan pangan, hilirisasi produk, konservasi sumber daya, hingga penguatan ekonomi masyarakat pesisir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan sistem pangan biru di Indonesia. Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, Departemen Perikanan UGM berharap lahir lebih banyak inovasi dan kerja sama yang mampu mempercepat transformasi sektor perikanan menuju sistem pangan yang berdaya saing global.

Melalui penyelenggaraan SEMNASKAN-UGM XXIII, Departemen Perikanan UGM kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di bidang perikanan dan kelautan. Berbagai hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan dan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 2: Zero Hunger melalui penguatan sistem pangan berbasis sumber daya perairan yang bergizi dan berkelanjutan. Berbagai inovasi yang dipresentasikan juga berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui pengembangan pangan akuatik yang aman dan bernilai gizi tinggi, serta SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui pemanfaatan sumber daya perairan secara efisien dan bernilai tambah. Selain itu, penguatan riset dan kolaborasi yang dibangun dalam seminar ini mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals dalam mendorong inovasi dan pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dampak Triple-Dip La Niña terhadap Zona Upwelling di Laut Maluku

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Fenomena perubahan iklim global tidak hanya memengaruhi kondisi cuaca di daratan, tetapi juga mengubah dinamika laut yang menjadi penopang produktivitas perikanan Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rolland Darrent Evaro, melakukan penelitian berjudul “Dampak Triple-Dip La Niña 2020–2023 terhadap Zona Upwelling di Laut Maluku” di bawah bimbingan Dr. rer. nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc.

Penelitian ini mengkaji bagaimana fenomena triple-dip La Niña yang berlangsung selama tiga tahun berturut-turut (2020–2023) memengaruhi dinamika oseanografi di Laut Maluku. Sebagai salah satu wilayah perairan penting di Indonesia Timur, Laut Maluku dikenal memiliki produktivitas perikanan yang sangat dipengaruhi oleh proses upwelling, yaitu naiknya massa air dingin yang kaya unsur hara dari lapisan laut dalam menuju permukaan. Proses alami ini menjadi fondasi tingginya produktivitas fitoplankton yang kemudian menopang rantai makanan hingga sumber daya ikan.

Melalui analisis data oseanografi berbasis satelit, penelitian mengevaluasi perubahan kecepatan angin, suhu permukaan laut (SPL), konsentrasi klorofil-a, dan Sea Level Anomaly (SLA) selama periode terjadinya triple-dip La Niña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara klimatologis, puncak Monsun Tenggara terjadi pada bulan Agustus, ketika proses upwelling berkembang paling kuat di Laut Maluku. Sebaliknya, pada periode Monsun Barat, khususnya Desember hingga Februari, wilayah tersebut didominasi oleh proses downwelling, yaitu tenggelamnya massa air permukaan yang menyebabkan berkurangnya pasokan nutrien ke lapisan atas laut.

Temuan yang paling menarik dari penelitian ini adalah bahwa fenomena triple-dip La Niña justru menyebabkan melemahnya intensitas upwelling selama musim Monsun Tenggara. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh meningkatnya anomali suhu permukaan laut dan tinggi muka laut, yang disertai dengan penurunan kecepatan angin serta menurunnya konsentrasi klorofil-a. Dengan kata lain, meskipun La Niña sering dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di Indonesia, dampaknya terhadap dinamika laut tidak selalu meningkatkan produktivitas perairan. Pada kasus Laut Maluku, fenomena iklim ini justru mengurangi kekuatan mekanisme alami yang selama ini menjadi penunjang kesuburan perairan.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa perubahan iklim global dapat memengaruhi proses-proses oseanografi yang menjadi dasar produktivitas perikanan. Melemahnya upwelling berpotensi mengurangi ketersediaan nutrien di perairan permukaan, sehingga dalam jangka panjang dapat memengaruhi kelimpahan plankton, distribusi ikan pelagis, hingga hasil tangkapan nelayan. Oleh karena itu, pemantauan kondisi oseanografi menjadi semakin penting sebagai bagian dari sistem pengelolaan sumber daya perikanan yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Menurut Dr. rer. nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., penelitian mengenai hubungan antara variabilitas iklim global dan dinamika oseanografi sangat penting untuk memperkuat pengelolaan perikanan berbasis sains. Informasi mengenai perubahan pola upwelling dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam penyusunan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, termasuk dalam perencanaan musim penangkapan ikan dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Melalui penelitian ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan kontribusinya dalam menghasilkan riset yang mendukung pengembangan ilmu oseanografi perikanan sekaligus menjawab tantangan pengelolaan sumber daya laut di era perubahan iklim. Hasil penelitian diharapkan menjadi referensi ilmiah bagi pemerintah, peneliti, maupun pengelola perikanan dalam menyusun kebijakan yang lebih adaptif terhadap variabilitas iklim di wilayah perairan Indonesia.

Penelitian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Climate Action) melalui peningkatan pemahaman mengenai dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut, serta SDG 14 (Life Below Water) dengan menyediakan dasar ilmiah bagi pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Selain itu, hasil penelitian turut berkontribusi pada SDG 2 (Zero Hunger) melalui dukungan terhadap keberlanjutan produksi perikanan sebagai sumber pangan, dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) dengan memperkuat pemanfaatan data satelit dan ilmu pengetahuan sebagai landasan pengambilan kebijakan berbasis bukti untuk menjaga ketahanan sumber daya perikanan Indonesia.

UGM dan DKP Kulon Progo Lakukan Monitoring Kesehatan Ikan hingga Akhir Tahun untuk Antisipasi Wabah Penyakit Budidaya

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Kulon Progo, 11 Juni 2026 — Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo memulai program monitoring kesehatan ikan budidaya yang akan dilaksanakan secara berkala hingga akhir tahun 2026. Program ini bertujuan meningkatkan sistem deteksi dini penyakit ikan sekaligus memperkuat kesiapsiagaan pembudidaya dalam menghadapi ancaman penyakit yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi.

Kegiatan monitoring dipimpin oleh Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen bidang Mikrobiologi Akuakultur Departemen Perikanan UGM. Fokus utama pemantauan saat ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan kerentanan ikan budidaya, khususnya ikan lele dan gurame, terhadap serangan penyakit bakterial seperti aeromoniasis yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila.

Dalam pelaksanaannya, Dr. Indah didampingi oleh tim dari Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Departemen Perikanan UGM, yaitu Hafidz Nursadewa Alif, S.Gz., serta Faiz Mahasin, S.Pi., M.Sc. sebagai asisten dosen. Tim melakukan pengamatan lapangan, pengambilan sampel, serta evaluasi kondisi lingkungan budidaya untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kesehatan ikan di berbagai lokasi budidaya di Kabupaten Kulon Progo.

Kegiatan ini juga dilaksanakan bersama Kepala Bidang Budidaya Ikan DKP Kabupaten Kulon Progo, Ghufron Said Priyono, S.Pi., beserta tim bidang budidaya yang terdiri dari Ade Saepudin, S.Pi., M.M., Mega Dissa Afpriyaningrum, S.Pi., dan Sagiyo. Kolaborasi tersebut memungkinkan proses monitoring berjalan lebih efektif karena menggabungkan keahlian akademik dengan pengalaman teknis lapangan.

Menurut Dr. Indah, pendekatan monitoring jangka panjang sangat penting karena penyakit ikan sering kali dipengaruhi oleh kombinasi faktor lingkungan, manajemen budidaya, dan kondisi biologis ikan. Dengan pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan, potensi permasalahan dapat diidentifikasi lebih awal sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi wabah yang lebih luas.

Selain menghasilkan data kesehatan ikan, program ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis bagi pembudidaya dan pemerintah daerah dalam meningkatkan sistem manajemen kesehatan ikan yang lebih adaptif dan berbasis sains.

Program monitoring kesehatan ikan ini menjadi contoh nyata sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan akuakultur berkelanjutan. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan produktivitas budidaya ikan di Kulon Progo dapat terus meningkat dengan tetap menjaga kesehatan ikan dan kualitas lingkungan budidaya.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan produksi pangan perikanan, SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pengendalian penyakit ikan, SDG 14 (Life Below Water) melalui praktik budidaya yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara akademisi dan pemerintah dalam pengelolaan kesehatan ikan budidaya.

Dr. Indah Istiqomah UGM Berikan Pelatihan Penyediaan Obat Ikan Legal untuk Pembudidaya di Kulon Progo

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Kulon Progo, 11 Juni 2026 — Upaya meningkatkan kesehatan ikan dan keberlanjutan usaha budidaya terus dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Penyediaan Obat Ikan Legal yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo dalam rangka subkegiatan Pengelolaan Kesehatan Ikan dan Lingkungan Budidaya dalam Satu Daerah Kabupaten/Kota. Kegiatan ini menghadirkan Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen bidang Mikrobiologi Akuakultur Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Dr. Indah menjelaskan berbagai aspek penting terkait penyakit ikan budidaya serta strategi pencegahannya. Materi yang disampaikan mencakup penerapan biosekuriti, pengelolaan kualitas lingkungan budidaya, penggunaan obat ikan yang legal dan bertanggung jawab, serta pentingnya deteksi dini penyakit untuk meminimalkan risiko kerugian pada usaha budidaya.

Menurut Dr. Indah, pendekatan preventif merupakan langkah yang paling efektif dalam menjaga kesehatan ikan budidaya. Pembudidaya perlu memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh kualitas benih dan pakan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga lingkungan budidaya agar tetap stabil dan sehat.

Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai instansi, antara lain Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran berbagai pihak tersebut memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai keamanan penggunaan obat ikan, kesehatan lingkungan, dan keberlanjutan sistem budidaya.

Kepala Bidang Budidaya Ikan DKP Kabupaten Kulon Progo menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM dalam mendukung peningkatan kapasitas pembudidaya. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dinilai penting untuk memperkuat transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat perikanan.

Kegiatan ini menunjukkan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan akuakultur yang sehat, produktif, dan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia sektor perikanan.

Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kesehatan ikan, ketahanan pangan, dan kolaborasi multipihak dalam pembangunan perikanan budidaya.

1234
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY