• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • hal. 3
Arsip:

SDG 2: Tanpa Kelaparan

Bukan Obat, Tapi Pencegahan: Kunci Sukses Budidaya Lele dan Gurame ala Dr. Indah

Berita Kamis, 16 April 2026

Kegiatan Pelatihan Pokdakan Wanita yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo pada Kamis, 16 April 2026, membekali peserta dengan informasi pentingnya kesehatan ikan. Materi terkait kesehatan ikan ini disampaikan oleh dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D.

Dalam materinya yang berjudul “Penyakit, Pencegahan, dan Pengobatan Ikan Lele dan Gurame”, Dr. Indah menekankan bahwa penyakit ikan merupakan salah satu faktor utama yang dapat menurunkan produktivitas budidaya. Ia menjelaskan berbagai jenis penyakit yang umum menyerang ikan budidaya, mulai dari parasit seperti Trichodina dan Henneguya, hingga penyakit bakteri seperti Aeromoniasis, Edwardsiellosis, dan Pseudomoniasis.

Selain itu, peserta juga dikenalkan pada penyakit yang disebabkan oleh virus dan jamur, termasuk infeksi Aphanomycosis serta iridovirus pada ikan gurami. Pengetahuan ini penting untuk membantu pembudidaya mengenali gejala awal penyakit sehingga dapat melakukan tindakan cepat dan tepat.

Namun, poin utama yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan. Dr. Indah menegaskan bahwa penggunaan obat, terutama antibiotik, tidak selalu direkomendasikan karena berkaitan dengan keamanan pangan. Sebagai alternatif, ia mendorong penerapan manajemen kesehatan ikan yang baik, seperti pengapuran kolam secara rutin, menjaga kualitas pakan, serta memastikan kebersihan alat dan lingkungan budidaya.

Selain itu, ikan yang terinfeksi atau mati harus segera ditangani dengan benar agar tidak menjadi sumber penularan. Praktik desinfeksi alat dan pengelolaan limbah budidaya juga menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran penyakit.

Melalui pelatihan ini, para anggota Pokdakan Wanita diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dalam menjaga kesehatan ikan secara berkelanjutan. Kegiatan ini turut mendukung SDG 2 (Ketahanan Pangan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui praktik budidaya ikan yang sehat, aman, dan ramah lingkungan.

Wabah Kutil pada Ikan Gabus Ungkap Virus Baru? Peneliti Indonesia Temukan Kandidat Spesies LCDV

Berita Kamis, 16 April 2026

Temuan penting di bidang kesehatan ikan datang dari tim peneliti Indonesia yang berhasil mengidentifikasi kemungkinan spesies baru virus pada ikan gabus (Channa striata) di Kalimantan Selatan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Aquaculture ini dilakukan oleh Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah bersama tim peneliti, termasuk Dr. Indah Istiqomah dan Prof. Murwantoko.

Penelitian ini berawal dari laporan wabah penyakit dengan gejala menyerupai kutil pada ikan gabus, salah satu komoditas penting di Kalimantan Selatan. Gejala tersebut memicu investigasi mendalam untuk mengidentifikasi agen penyebab penyakit.

Melalui analisis histologi, peneliti menemukan adanya pembesaran sel limfosit yang mengandung inklusi basofilik di dalam jaringan kutil. Selain itu, ditemukan pula indikasi kerusakan jaringan seperti perdarahan, nekrosis, dan akumulasi sel inflamasi pada organ dalam ikan. Temuan ini mengarah pada dugaan infeksi virus.

Untuk memastikan hal tersebut, tim melakukan analisis molekuler menggunakan teknik PCR dan sekuensing terhadap enam gen utama virus, termasuk MCP dan MMP. Hasilnya menunjukkan bahwa ikan gabus tersebut terinfeksi Lymphocystis Disease Virus (LCDV) yang kemudian diberi nama LCDV Cs-SK.

Menariknya, hasil analisis genetik menunjukkan bahwa virus ini memiliki kemiripan tinggi dengan beberapa strain LCDV yang telah ditemukan sebelumnya, namun juga menunjukkan perbedaan signifikan pada tingkat nukleotida. Analisis filogenetik lebih lanjut mengindikasikan bahwa virus ini paling dekat dengan kelompok LCDV-3, tetapi memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari spesies yang telah teridentifikasi.

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa LCDV Cs-SK berpotensi sebagai kandidat spesies baru dalam kelompok virus LCDV. Penemuan ini menjadi langkah penting dalam memahami dinamika penyakit ikan di Indonesia, khususnya dalam mendukung pengelolaan kesehatan ikan budidaya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit ikan, sekaligus memperkuat ketahanan sektor akuakultur nasional. Temuan ini juga berkontribusi pada SDG 14 (Ekosistem Laut) dan SDG 2 (Ketahanan Pangan) melalui upaya menjaga kesehatan sumber daya perikanan.

 

Sumber gambar: Aquaculture, Volume 588, 15 July 2024, 740897

Dr. Senny Helmiati Latih Pokdakan Wanita tentang Pakan dan Teknik Budidaya Gurami-Lele

Berita Kamis, 16 April 2026

Upaya pemberdayaan perempuan di sektor perikanan terus diperkuat melalui kegiatan Pelatihan untuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Wanita yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo pada Kamis, 16 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas ini menghadirkan dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Dr. Senny Helmiati, sebagai narasumber utama.

Dalam pelatihan tersebut, Dr. Senny menyampaikan materi bertajuk “Pakan dan Perawatan Ikan Gurami dan Lele”, yang menekankan pentingnya manajemen pakan dan pemeliharaan dalam meningkatkan produktivitas budidaya. Beliau menjelaskan bahwa pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi, bahkan dapat mencapai 60–70% dari total biaya, sehingga efisiensi dalam pemberian pakan menjadi kunci keberhasilan usaha budidaya.

Peserta pelatihan juga diberikan pemahaman tentang jenis pakan, baik alami maupun buatan, serta kriteria pakan yang baik, seperti kandungan nutrien yang seimbang, mudah dicerna, dan sesuai dengan kebutuhan ikan. Selain itu, Dr. Senny menjelaskan teknik pemberian pakan yang efektif, mulai dari dosis, frekuensi, hingga waktu pemberian, yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ikan dan kualitas air.

Tidak hanya teori, pelatihan ini juga membahas tahapan budidaya ikan, mulai dari pembenihan, pendederan, hingga pembesaran. Peserta dibekali pengetahuan praktis tentang manajemen kualitas air, kepadatan tebar, serta teknik panen yang optimal untuk ikan gurami dan lele.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas perempuan pembudidaya ikan agar lebih mandiri dan produktif. Selain itu, pelatihan ini juga berkontribusi pada SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui pemberdayaan perempuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan produksi pangan, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan ekonomi berbasis budidaya perikanan.

Sumber Photo: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo

Inovasi Sehat dari Laut: Teh Sargassum Karya Prof. Amir Husni Raih Hibah BIMA dan Hilirisasi Riset Prioritas 2026

Berita Rabu, 15 April 2026

Kabar membanggakan datang dari Universitas Gadjah Mada. Dosen Departemen Perikanan, Prof. Dr. Amir Husni, S.Pi., M.P., berhasil meraih pendanaan Hibah BIMA skema Penelitian Tesis Magister (https://bima.kemdiktisaintek.go.id) dan Program Hilirisasi Riset Prioritas – Sinergi (https://hiliriset.kemdiktisaintek.go.id). Penelitian yang diusung mengangkat inovasi minuman fungsional berbasis rumput laut dengan judul “Aktivitas Antioksidan, Antidiabetes dan Tingkat Penerimaan Konsumen Teh Rumput Laut Sargassum sp. yang Ditambah Jahe.” dan “Pemanfaatan Rumput Laut Cokelat Sargassum sebagai Minuman Fungsional.”

Penelitian ini berangkat dari meningkatnya kasus diabetes melitus serta kebutuhan akan alternatif terapi berbasis bahan alami. Dalam penelitiannya, Prof. Amir dan tim akan mengembangkan formulasi teh herbal dengan berbagai komposisi, kemudian menguji bioaktivitasnya meliputi aktivitas antioksidan dan anti-diabetes serta uji penerimaan konsumen. Selain itu juga akan dilakukan validasi praklinis secara komprehensif untuk keamanan dan kemanfaatan, serta implementasi sistem jaminan mutu.

Luaran penelitian yang ditargetkan dari skema PTM berupa publikasi pada jurnal internasional bereputasi serta peningkatan Tingkat Kesiap-terapan Teknologi (TKT) dari level 2 ke level 3. Inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya hilirisasi riset untuk menghasilkan produk minuman fungsional berbasis sumber daya laut Indonesia. Dari skema Hilirisasi Riset diharapkan dapat mencapai TKT 9.

Tak hanya berbagi capaian, Prof. Amir juga membagikan tips bagi peneliti yang ingin lolos pendanaan hibah. Ia menekankan pentingnya memahami panduan secara detail dan menyusun proposal sesuai panduan yang ada, kemudian sebelum proposal diajukan perlu melakukan evaluasi mandiri terhadap proposal sesuai kriteria penilaian, serta tidak melupakan ikhtiar spiritual melalui doa dan tawakal.

Keberhasilan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi berbasis kelautan yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi kesehatan masyarakat. Keberhasilan penelitian ini juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pengembangan produk kesehatan berbasis pangan alami, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi produk berbasis riset, serta SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Inisiatif ini menunjukkan bahwa riset perikanan tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Keamanan Pangan Jadi Kunci! Pakar UGM Ungkap Risiko Tersembunyi Produk Perikanan di Bimtek #6

Berita Senin, 13 April 2026

Kesadaran akan pentingnya keamanan pangan dalam produk perikanan menjadi fokus utama dalam Bimbingan Teknis Budidaya dan Pengolahan Ikan #6 yang diselenggarakan pada 13 April 2026. Dalam kesempatan ini, dosen Universitas Gadjah Mada, Dr. Mgs. M. Prima Putra, menyampaikan materi bertajuk “Keamanan Pangan Produk Olahan Hasil Perikanan” yang membuka wawasan peserta tentang berbagai risiko tersembunyi dalam rantai produksi perikanan. Kegiatan yang merupakan kerjasama Departemen Perikanan UGM dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pangkal Pinang ini, dihadiri sekitar 100 peserta via online.

Dalam paparannya, Dr. Prima menegaskan bahwa produk pangan yang baik tidak hanya harus bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi dan bebas dari bahaya fisik, kimia, maupun biologis. Ia menjelaskan bahwa produk perikanan memiliki risiko tinggi terhadap kontaminasi karena karakteristiknya yang memiliki kadar air tinggi dan mudah rusak.

Berbagai potensi bahaya turut diuraikan, mulai dari cemaran mikroorganisme, toksin alami seperti pada ikan buntal, hingga risiko alergi seperti histamin pada kelompok ikan tertentu. Selain itu, bahaya fisik seperti serpihan logam, plastik, hingga kontaminasi dari manusia juga menjadi perhatian serius dalam proses pengolahan.

Dr. Prima juga menekankan pentingnya penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan secara menyeluruh, mulai dari bahan baku hingga distribusi. Pendekatan seperti GMP, HACCP, serta sistem manajemen mutu internasional dinilai krusial untuk mencegah risiko sejak awal proses produksi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penerapan sistem ini tidak hanya melindungi konsumen, tetapi juga meningkatkan kepercayaan pasar, efisiensi produksi, serta daya saing produk perikanan di tingkat global.

Kegiatan ini sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penyediaan pangan aman, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui keamanan konsumsi pangan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Perikanan UGM Menerima Kunjungan Pemerintah Kabupaten Paser Terkait Pengelolaan Riset Perencanaan Kawasan Pertanian Terpadu

Berita Senin, 8 Desember 2025

Pemerintah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, melakukan kunjungan studi tiru ke Kolam Riset Terpadu Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sebagai bagian dari upaya pengembangan balai benih ikan dalam perencanaan kawasan pertanian terpadu di Kabupaten Paser. Kunjungan yang dilaksanakan pada hari Senin, 8 Desember 2025 dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Paser, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kabupaten Paser, serta Kepala Bidang Perikanan. Rombongan diterima langsung oleh Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. sebagai perwakilan Departemen Perikanan UGM.

Dalam sesi diskusi, Dr. Faizal menjelaskan konsep perikanan berkelanjutan yang menjadi dasar pengelolaan fasilitas riset dan budidaya di UGM. Beliau memaparkan pentingnya penerapan hatchery terintegrasi, yaitu sistem pemijahan, penetasan, dan pembesaran benih ikan yang dikelola secara terpadu sehingga meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi benih. Selain itu, ia menekankan penggunaan teknologi budidaya inklusif yang dapat dengan mudah diadaptasi oleh masyarakat, baik di tingkat pembudidaya kecil maupun skala komunitas, dengan mempertimbangkan kesesuaian lingkungan dan ketersediaan sumber daya lokal.

Rombongan Pemerintah Kabupaten Paser memberikan perhatian besar terhadap model pengelolaan riset dan produksi benih yang ditunjukkan UGM, karena dinilai relevan dengan kebutuhan daerah dalam menyiapkan balai benih ikan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga sebagai pusat pelatihan, edukasi, dan pengembangan kapasitas masyarakat. Harapannya, hasil studi tiru ini dapat menjadi rujukan dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan balai benih ikan serta mendukung integrasi subsektor pertanian, peternakan, dan perikanan dalam kawasan terpadu di Kabupaten Paser. Pemerintah Kabupaten Paser juga membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dengan Departemen Perikanan UGM, baik dalam bentuk pelatihan teknis, pendampingan, maupun penelitian terapan yang dapat mendukung ketahanan pangan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kunjungan ini menjadi langkah strategis bagi Pemerintah Kabupaten Paser dalam memperkuat fondasi pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan dan inklusif, sekaligus memperkokoh sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Poin 2 Tanpa Kelaparan; Poin 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera; Poin 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; dan Poin 17 yakni Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc., Nahla Alfiatunnisa, S.Pi.

Perikanan UGM dan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang Jalin Kerja Sama dalam Identifikasi dan Pelestarian Sumber Daya Ikan di Perairan Umum

Berita Rabu, 29 Oktober 2025

Yogyakarta, 29 Oktober 2025 – Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menjalin kerja sama strategis dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang dalam kegiatan identifikasi serta pelestarian sumber daya ikan di perairan umum Kabupaten Magelang. Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam mendukung pengelolaan berkelanjutan keanekaragaman hayati perairan tawar di wilayah tersebut.

Tim ahli dari Departemen Perikanan UGM, yang terdiri dari pakar konservasi, biologi perikanan, ekologi perairan, serta teknik penangkapan ikan, berkolaborasi langsung di lapangan bersama tim dari Dinas Peternakan dan Perikanan. Kegiatan ini mencakup survei dan pengambilan sampel ikan dari beberapa sungai utama di Kabupaten Magelang, antara lain Sungai Elo, Progo, Pabelan, Ndaru, serta beberapa anak sungainya. Pada tahap awal kegiatan, tim melakukan identifikasi jenis ikan yang tertangkap melalui proses sampling. Analisis meliputi pengamatan morfologi dan karakter genetik guna mengetahui keanekaragaman spesies ikan yang terdapat di lokasi sampling. Hasil identifikasi ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam upaya pelestarian dan pengelolaan sumber daya ikan di perairan umum secara berkelanjutan.

Kerja sama ini juga menjadi wujud nyata peran Universitas Gadjah Mada, melalui Departemen Perikanan, dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang perikanan. Departemen Perikanan UGM merupakan salah satu lembaga akademik yang secara konsisten fokus pada pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang perikanan, baik perairan laut maupun perairan darat. Dengan dukungan tenaga ahli multidisiplin, departemen ini berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan dan berbasis ilmiah.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan akan terjalin sinergi antara pemerintah daerah dan institusi akademik dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perairan dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perikanan. Kegiatan ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kolaborasi ini mendukung pencapaian SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal, SDG 14 (Ekosistem Laut) dengan menjaga kelestarian ikan endemik, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Dengan demikian, inisiatif ini bukan hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada kelestarian ekosistem dan pembangunan berkelanjutan.

Penulis: Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc., Ph.D. dan Nahla Alfiatunnisa, S.Pi.

SinnTech Webinar 28: Menggagas Sistem Produksi Akuakultur Berkelanjutan

Berita Rabu, 27 Agustus 2025

Yogyakarta, 27 Agustus 2025 – Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM kembali menyelenggarakan SinnTech Webinar ke-28 dengan tema “Sustainable Aquaculture Production System.” Acara ini menghadirkan 62 partisipan yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, hingga perwakilan instansi, dengan antusiasme tinggi dalam membahas masa depan akuakultur yang ramah lingkungan dan efisien.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber ahli yang berkompeten di bidang akuakultur berkelanjutan. Dr. Norhidayah Abdul Manan dari Higher Institution Centre of Excellence (HICoE), Institute of Tropical Aquaculture and Fisheries (AKUATROP), Universiti Malaysia Terengganu, membawakan materi bertajuk “Aquaponic System for Sustainable Aquaculture Production.” Dr. Norhidayah menjelaskan bagaimana sistem akuaponik, kombinasi budidaya ikan dan tanaman, dapat menjadi solusi inovatif dalam menghadapi keterbatasan lahan, air, serta kebutuhan pangan yang terus meningkat. Tiga jenis sistem akuaponik seperti NFT (Nutrient Film Technique), Media Bed, dan DWC/Raft System diperkenalkan sebagai alternatif yang masing-masing memiliki kelebihan dan tantangan.

Narasumber selanjutnya adalah Dr. Ega Adhi Wicaksono, S.Pi. dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, melanjutkan dengan topik “Recirculating Aquaculture System (RAS) for Sustainable Aquaculture Production.” Dalam paparannya, Dr. Ega menekankan pentingnya sistem resirkulasi yang mampu mengolah kembali air budidaya melalui proses filtrasi mekanis dan biologis, sehingga limbah dapat diminimalisir, kualitas air tetap terjaga, serta produksi ikan menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Teknologi ini disebut sangat potensial diterapkan di skala industri modern. Diskusi berjalan interaktif dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta, mulai dari teknis penerapan biofilter, risiko kegagalan sistem pompa pada akuaponik, hingga tantangan biaya investasi awal untuk sistem RAS.

Melalui webinar ini, peserta tidak hanya memperoleh wawasan teknis, tetapi juga kesadaran bahwa inovasi sistem budidaya tertutup seperti Akuaponik dan RAS merupakan bagian penting dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produksi pangan sehat dan berkelanjutan, SDG 6 (Clean Water and Sanitation) lewat efisiensi dan pengolahan ulang air, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dengan pengelolaan sumber daya yang lebih bijak, dan SDG 14 (Life Below Water) melalui perlindungan ekosistem perairan dari pencemaran limbah budidaya. Dengan terselenggaranya SinnTech Webinar 28, semakin jelas bahwa masa depan akuakultur tidak hanya berbicara tentang produktivitas, tetapi juga tentang resiliensi, inovasi, dan keberlanjutan.

Penulis: Galuh Wulanuari

Editor: Nahla Alfiatunnisa, S.Pi.

Program Pengabdian Masyarakat Departemen Perikanan UGM: Inovasi Pakan Ikan Berbasis Bahan Lokal untuk Ekonomi Berkelanjutan Desa Argomulyo

Berita Rabu, 20 Agustus 2025

Program pengabdian masyarakat terkait pengembangan produksi pakan Ikan resmi dilaksanakan di Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY pada tahun 2025. Kegiatan ini diketuai oleh salah satu Dosen Departemen Perikanan UGM yaitu Dr. Desy Putri Handayani, S.Pi. dan melibatkan mahasiswa S1 maupun S2. Kegiatan pengabdian ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat skema terapan dari Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM) UGM. Tujuan utama dari program ini adalah untuk mengembangkan pakan ikan yang mampu menyediakan pakan berkualitas dengan harga kompetitif, sehingga dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor perikanan.

Pelaksanaan kegiatan dirancang dalam beberapa tahapan. Pada bulan Maret dilakukan survei lapangan untuk memetakan potensi, kebutuhan, serta permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tahap berikutnya dilaksanakan pemantauan pada bulan Juni guna mengevaluasi kesiapan masyarakat, sarana, dan potensi bahan baku lokal. Adapun pada bulan Agustus, kegiatan difokuskan pada pelatihan teknis intensif yang mencakup transfer teknologi formulasi pakan, manajemen usaha, hingga praktik produksi langsung.

Program ini dijadwalkan berlangsung selama tiga tahun dengan melibatkan akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas desa untuk menjamin keberlanjutan. Selain pembangunan fasilitas produksi, kegiatan ini juga menitikberatkan pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui pengenalan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Para pembudidaya diberikan pemahaman mengenai persiapan kolam yang sesuai standar, penggunaan obat ikan secara tepat, serta pengelolaan budidaya yang berkelanjutan. Materi pelatihan juga mencakup aspek penting nutrisi pakan, mulai dari pemilihan bahan baku, cara pemberian yang tepat, frekuensi pakan, hingga pengaturan padat tebar dan formulasi pakan sesuai kebutuhan ikan. Metode pelatihan dirancang secara interaktif melalui workshop, praktik berkelompok, serta pencatatan logbook. Hal ini bertujuan agar para peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan langsung dalam kegiatan budidaya. Dengan keterampilan tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih mandiri dalam mengelola usaha perikanan, sekaligus meningkatkan produktivitas secara efisien.

Program ini juga memperkenalkan pemanfaatan bahan lokal seperti pakan umum dan limbah tahu yang dapat digunakan sebagai bahan alternatif pembuatan pakan ikan. Pendekatan ini menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial yang relatif mahal, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan limbah yang tersedia di sekitar masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada efisiensi biaya produksi, tetapi juga mendukung prinsip ekonomi sirkular yang ramah lingkungan. Respon masyarakat Desa Argomulyo terhadap kegiatan ini sangat positif. Para pembudidaya merasa terbantu dengan pengetahuan baru yang diberikan, bahkan mereka mengusulkan agar diadakan pelatihan lanjutan, khususnya terkait penggunaan bahan pakan alternatif lainnya.

Antusiasme ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif untuk mengembangkan usaha perikanan yang lebih mandiri dan berdaya saing. Ketua pelaksana, Dr. Desy Putri Handayani, menyampaikan pesan bahwa kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkesinambungan agar masyarakat semakin terampil memproduksi pakan ikan secara mandiri. Dengan keterampilan tersebut, masyarakat dapat menekan biaya produksi, meningkatkan keuntungan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Ia berharap model usaha pakan ikan berbasis masyarakat yang dirintis di Argomulyo dapat menjadi contoh yang berkelanjutan dan direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi perikanan. Kegiatan ini sejlan dengan tujuan global atau SDGs pada poin ke-2 : Mengakhiri Kelaparan, poin ke-8 : Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan poin ke-12 : Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan.

Penulis : Rafi Sukma Aulia

Editor : Nahla Alfiatunnisa, S.Pi.

All 1 2

Penerimaan Kunjungan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang di Departemen Perikanan UGM

Berita Kamis, 7 Agustus 2025

Yogyakarta, 7 Agustus 2025 – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), telah menerima kunjungan dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang. Pertemuan ini bertujuan memperkuat kerja sama dan membangun sinergi dalam pengembangan sektor perikanan, khususnya terkait domestikasi ikan endemik dan ikan asli daerah, dengan fokus utama pada ikan Beong, salah satu komoditas khas perairan Kabupaten Magelang. Dalam diskusi yang berlangsung, kedua belah pihak membahas berbagai strategi pembenihan yang efektif untuk meningkatkan survival rate ikan Beong, sekaligus menjamin pertumbuhan ikan yang optimal. Topik yang didalami antara lain meliputi pengaturan stocking, teknik pembesaran, hingga proses pengolahan hasil perikanan. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan inovasi teknologi budidaya yang mampu menjaga kelestarian ikan asli daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hasil perikanan yang bernilai tambah.

Kegiatan ini juga menandai bentuk kolaborasi nyata antara institusi pendidikan tinggi dengan pemerintah daerah. Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan hubungan kerja sama dalam riset, pendidikan, serta pendampingan masyarakat dapat semakin diperkuat sehingga mendukung keberlanjutan pembangunan sektor perikanan di Kabupaten Magelang dan wilayah sekitarnya. Selain berorientasi pada peningkatan produksi perikanan, kegiatan ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kolaborasi ini mendukung pencapaian SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal, SDG 14 (Ekosistem Laut) dengan menjaga kelestarian ikan endemik, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Dengan demikian, inisiatif ini bukan hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada kelestarian ekosistem dan pembangunan berkelanjutan.

Penulis: Galuh Wulanuari

Editor: Nahla Alfiatunnisa

1234
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY