• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • hal. 2
Arsip:

SDG 2: Tanpa Kelaparan

Profil Program Studi Akuakultur UGM Tampil di Media Sosial Kampus

Berita Senin, 27 April 2026

Yogyakarta — Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali mendapat sorotan melalui konten media sosial kampus. Melalui unggahan video pendek di Instagram Reels, UGM menampilkan profil program studi ini sebagai salah satu pusat pendidikan dan riset unggulan di bidang budidaya perikanan.

Dalam tayangan tersebut, Prodi Akuakultur diperkenalkan sebagai program studi yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga menekankan praktik langsung di lapangan. Mahasiswa diperlihatkan aktif dalam kegiatan budidaya ikan, pengelolaan kualitas air, hingga eksplorasi teknologi akuakultur modern.

Salah satu kekuatan utama program ini adalah keberadaan fasilitas teaching farm, yang menjadi laboratorium lapangan bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan teknis secara langsung. Fasilitas ini memungkinkan integrasi antara pembelajaran di kelas dengan praktik nyata, sehingga lulusan memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi dunia kerja maupun riset .

Selain aspek praktis, Prodi Akuakultur UGM juga dikenal memiliki kualitas akademik yang kuat. Hal ini tercermin dari capaian akreditasi “Unggul” yang diberikan oleh BAN-PT, sebagai bentuk pengakuan atas mutu pendidikan, penelitian, serta kontribusi terhadap pengembangan sektor akuakultur berkelanjutan .

Konten reels tersebut juga menyoroti suasana pembelajaran yang dinamis dan kolaboratif, memperlihatkan interaksi antara mahasiswa, dosen, dan lingkungan sekitar. Pendekatan ini mencerminkan visi program studi dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap tantangan global, termasuk isu keberlanjutan dan ketahanan pangan.

Melalui publikasi di media sosial, UGM berupaya mendekatkan dunia akademik kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda yang menjadi target utama pendidikan tinggi. Strategi ini dinilai efektif, mengingat tingginya popularitas platform digital kampus dalam menjangkau audiens nasional maupun internasional .

Dengan kombinasi antara kualitas akademik, fasilitas pendukung, serta pendekatan pembelajaran berbasis praktik, Program Studi Akuakultur UGM terus menunjukkan perannya sebagai salah satu institusi pendidikan yang berkontribusi dalam pengembangan perikanan budidaya yang inovatif dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari kontribusi global, pengembangan Program Studi Akuakultur di Universitas Gadjah Mada juga selaras dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya  SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 2 (Zero Hunger) dan SDG 14 (Life Below Water). Melalui pendidikan, riset, dan inovasi di bidang budidaya perikanan, prodi ini berperan dalam mendukung ketahanan pangan berbasis protein akuatik sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem perairan. Upaya ini diperkuat dengan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan teknologi, yang mendorong lahirnya solusi akuakultur yang efisien, ramah lingkungan, dan berdampak luas bagi masyarakat.

Untuk melihat langsung profil Program Studi Akuakultur UGM dalam tayangan media sosial, kunjungi video berikut:

Reel Akuakultur

Dari Daun Kelor hingga Limbah Bulu Ayam: SinnTech #36 UGM Kupas Inovasi Pakan Ikan Masa Depan

Berita Jumat, 24 April 2026

Berita (±380 kata):

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan diskusi ilmiah yang segar dan relevan melalui SinnTech Webinar #36 bertema “Fish Feed Innovation: Variation of Fish Feed From Nutritional Sources” pada Jumat, 24 April 2026. Webinar ini menjadi ruang inspiratif bagi mahasiswa dan praktisi untuk memahami masa depan industri akuakultur melalui inovasi pakan ikan.

Menghadirkan dua narasumber internasional dan nasional, yakni Ts. Dr. Sairatul Dahlianis Ishak dan Dr. Desy Putri Handayani, S.Pi. webinar ini menyoroti bagaimana dunia akuakultur sedang mengalami transformasi besar, khususnya dalam pemanfaatan bahan baku alternatif pengganti tepung ikan (fish meal).

Dalam pemaparannya, Dr. Desy Putri Handayani menjelaskan bahwa tren global saat ini bergerak menuju penggunaan bahan berbasis nabati dan limbah organik sebagai sumber protein pakan. Contohnya, daun kelor (Moringa) yang difermentasi terbukti mampu meningkatkan sistem imun ikan serta kualitas darah, menjadikannya alternatif yang murah dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, inovasi lain yang tak kalah menarik adalah pemanfaatan limbah bulu ayam yang diolah secara bioteknologi menjadi sumber asam amino bernilai tinggi. Teknologi enzimatik seperti keratinase mampu mengubah limbah ini menjadi bahan pakan potensial, membuka peluang ekonomi sekaligus mengurangi limbah industri.

Diskusi juga menyoroti peran rumput laut sebagai bahan tambahan pakan fungsional. Senyawa seperti alginat dari alga coklat terbukti mampu meningkatkan sistem imun ikan dan udang, sekaligus meningkatkan efisiensi pakan.

Sementara itu, Ts. Dr. Sairatul Dahlianis Ishak menekankan pentingnya inovasi formulasi pakan yang tidak hanya berfokus pada nutrisi, tetapi juga keberlanjutan dan efisiensi biaya produksi. Pergeseran menuju protein alternatif dinilai menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya laut yang terbatas.

Webinar ini menunjukkan bahwa masa depan akuakultur tidak lagi bergantung pada sumber konvensional, tetapi pada kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Kegiatan ini sejalan dengan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produksi pangan berkelanjutan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan limbah dan bahan alternatif, serta SDG 14 (Life Below Water) dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Bagi mahasiswa, SinnTech #36 bukan sekadar webinar—tetapi jendela menuju masa depan industri perikanan yang inovatif, ramah lingkungan, dan penuh peluang.

Dua Dosen Muda Perikanan UGM Resmi Raih Jabatan Lektor, Perkuat Kiprah Akademik dan Riset

Berita Jumat, 24 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan capaian membanggakan melalui peningkatan karier akademik dosen muda. Dua dosen, yakni Dr. Olivia Yofananda, S.TP. dan Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, resmi memperoleh jabatan fungsional Lektor sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi mereka dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dr. Olivia Yofananda merupakan dosen dengan latar belakang teknologi pangan yang berfokus pada pengolahan hasil perikanan. Risetnya banyak menyoroti inovasi produk berbasis sumber daya laut, termasuk pengembangan pangan fungsional yang memiliki nilai tambah bagi kesehatan dan industri. Kontribusinya tidak hanya dalam publikasi ilmiah, tetapi juga dalam mendorong hilirisasi hasil riset agar lebih aplikatif.

Sementara itu, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, yang memiliki latar belakang kedokteran hewan, dikenal aktif dalam bidang kesehatan ikan dan penyakit akuatik. Penelitiannya mencakup identifikasi patogen, termasuk studi molekuler penyakit ikan yang berdampak pada sektor budidaya perikanan. Kiprahnya turut berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan sektor akuakultur melalui pendekatan ilmiah berbasis kesehatan ikan.

Pencapaian jabatan fungsional Lektor ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan karier akademik keduanya. Selain menunjukkan kualitas dan produktivitas sebagai dosen, capaian ini juga memperkuat posisi Departemen Perikanan UGM sebagai pusat pengembangan ilmu yang unggul dan inovatif.

Lebih jauh, kontribusi keilmuan yang dikembangkan oleh kedua dosen ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis perikanan, SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui riset kesehatan ikan dan keamanan pangan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, serta SDG 14 (Life Below Water) dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Dengan demikian, capaian ini tidak hanya berdampak pada institusi, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi pembangunan global.

Dari Rumput Laut ke Produk Masa Depan: Mata Kuliah Ini Ubah Cara Pandang Mahasiswa Perikanan UGM

Berita Kamis, 23 April 2026

Siapa sangka, “rumput laut” yang sering dianggap bahan sederhana ternyata menjadi kunci industri masa depan? Di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, hal ini dikupas secara mendalam melalui mata kuliah Teknologi Industri Tumbuhan Laut. Mata kuliah ini yang tidak hanya mengajarkan pengolahan, tetapi juga membuka wawasan tentang potensi besar sumber daya laut.

Mata kuliah ini mengajak mahasiswa melihat tumbuhan laut dari perspektif yang berbeda: bukan sekadar komoditas, melainkan bahan baku inovasi global. Mahasiswa diajak memahami bagaimana rumput laut dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari pangan, bahan kesehatan (nutraceutical), hingga potensi energi terbarukan.

Yang membuat mata kuliah ini unik adalah pendekatan pembelajarannya. Tidak hanya teori, mahasiswa aktif terlibat dalam diskusi kasus, proyek kelompok, hingga adu argumentasi ilmiah. Metode Student-Centered Learning berbasis proyek membuat mahasiswa benar-benar “berpikir seperti industri”, bukan sekadar menghafal konsep.

Dalam perkuliahan, mahasiswa juga mempelajari komposisi kimia rumput laut, seperti protein, peptida, asam amino, dan karbohidrat yang menjadi dasar pengembangan produk. Mereka kemudian diajak masuk ke tahap lebih lanjut: ekstraksi biomolekul dan analisis senyawa bioaktif yang berpotensi untuk industri pangan dan kesehatan.

Menariknya lagi, mata kuliah ini mengaitkan rumput laut dengan isu global seperti ketahanan pangan dan keberlanjutan. Rumput laut diposisikan sebagai solusi masa depan karena sifatnya yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dengan pengampu seperti Prof. Amir Husni dan Dr. R.A. Siti Ari Budhiyanti, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang kuat secara akademik sekaligus relevan dengan kebutuhan industri.

Bagi calon mahasiswa, mata kuliah ini menunjukkan bahwa kuliah perikanan bukan hanya tentang ikan—tetapi juga tentang inovasi, industri, dan solusi global berbasis laut. Jika kamu ingin belajar hal yang aplikatif, berdampak, dan punya peluang karier luas, kelas ini bisa jadi salah satu alasan kuat memilih Perikanan UGM. 

Lebih jauh, pembelajaran dalam mata kuliah ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan sumber pangan alternatif bergizi, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan sumber daya laut secara efisien dan bernilai tambah, serta SDG 14 (Life Below Water) dalam mendorong pengelolaan ekosistem laut yang berkelanjutan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar untuk industri, tetapi juga berkontribusi pada solusi global bagi masa depan bumi.

Puluhan Dosen Perikanan UGM Raih Hibah Penelitian dan PKM Fakultas Pertanian 2026

Berita Kamis, 23 April 2026

Yogyakarta – Prestasi membanggakan diraih sivitas akademika Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Sebanyak 32 dosen berhasil memperoleh pendanaan Hibah Kolaborasi Dosen–Mahasiswa, sementara 4 dosen lainnya menerima Hibah Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dalam skema Hibah Penelitian dan PKM Fakultas Pertanian Tahun 2026.

Pendanaan ini menjadi bukti komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendorong riset kolaboratif berbasis mahasiswa sekaligus memperkuat kontribusi nyata perguruan tinggi bagi masyarakat. Skema hibah kolaborasi dosen-mahasiswa dirancang untuk memperkuat budaya riset sejak dini melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam penelitian yang aplikatif dan inovatif.

Salah satu judul penelitian yang berhasil memperoleh pendanaan adalah riset yang dipimpin oleh Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc., berjudul “Evaluasi Nilai Nutrien Kulit Buah Naga Merah sebagai Imbuhan Pakan Ikan Molly Balloon Sunkist (Poecilia latipinna)”. Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan pakan alternatif yang bernilai tambah, sekaligus mendukung pengembangan budidaya ikan hias yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Sementara itu, pada skema Hibah Pengabdian kepada Masyarakat, salah satu program yang memperoleh pendanaan adalah kegiatan yang dipimpin oleh Muhammad Prima Putra, S.Pi., M.Sc., Ph.D. dengan judul “Strategi Akselerasi Ketahanan Pangan melalui Training of Trainer (TOT) Fasilitator Pertanian Milenial Berbasis Smart Ecobioproduction di P4S Aradana Garden Kabupaten Sleman.” Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas generasi muda dalam sektor pertanian dan perikanan melalui pendekatan teknologi dan ekologi yang berkelanjutan.

Keberhasilan perolehan hibah ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam menghasilkan riset inovatif, sekaligus memperluas dampak pengabdian kepada masyarakat. Selain mendorong publikasi ilmiah dan inovasi teknologi, program ini juga berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan serta pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan.

Capaian ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya  SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui riset dan pengabdian, Departemen Perikanan UGM terus berkomitmen menghadirkan solusi nyata bagi pembangunan perikanan dan pertanian berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Ucapkan Selamat: Pengukuhan Prof. Jaka Widada Tandai Lompatan Baru Mikrobiologi Terapan

Berita Selasa, 21 April 2026

Yogyakarta – Civitas akademika Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas pengukuhan Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D sebagai Guru Besar dalam Bidang Mikrobiologi Terapan. Pengukuhan ini menjadi momen penting yang menegaskan kontribusi keilmuan beliau dalam pengembangan mikrobiologi untuk ketahanan pangan dan kesehatan global.

Dalam pidato pengukuhan berjudul “Holobiont sebagai Driver Revolusi Mikrobiologi Terapan untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan Global,” Prof. Jaka Widada menyoroti bahwa revolusi mikrobiologi terapan kini memasuki era baru. Konsep holobiont—yakni kesatuan antara organisme dengan mikroorganisme yang hidup bersamanya—kini bersinggungan erat dengan kemajuan rekayasa genetik tingkat lanjut seperti biologi sintetik (synthetic biology) dan biomanufaktur. Perkembangan ini membuka peluang besar dalam menghadirkan solusi inovatif bagi tantangan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam pemaparannya, Prof. Jaka juga menekankan potensi “raksasa mikroskopis” seperti bakteri dari kelompok Streptomyces dan Bacillus yang memiliki peran strategis dalam produksi senyawa bioaktif, peningkatan produktivitas pangan, hingga pengembangan teknologi kesehatan. Beliau dikenal aktif meneliti berbagai galur Streptomyces indigenos dari beragam habitat, termasuk isolat dari lingkungan laut Nusantara seperti Streptomyces sp. GMY01, yang menjadi salah satu sumber potensial pengembangan inovasi berbasis mikroba.

Civitas akademika Departemen Perikanan menyambut pencapaian ini sebagai inspirasi bagi penguatan kolaborasi lintas disiplin, khususnya dalam pemanfaatan mikrobiologi untuk mendukung sektor perikanan, kelautan, dan ketahanan pangan nasional. Pengukuhan ini diharapkan semakin mendorong lahirnya riset unggulan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Pencapaian ini juga selaras dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan), tujuan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), tujuan ke-4 Pendidikan  Berkualitas, tujuan ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), tujuan ke-15 Life on Land, serta tujuan ke-14 (Ekosistem Laut). Inovasi mikrobiologi terapan diharapkan dapat berkontribusi pada sistem pangan berkelanjutan, kesehatan global, serta pemanfaatan sumber daya hayati secara bertanggung jawab.

Sekali lagi, Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM mengucapkan selamat atas pengukuhan Guru Besar Prof. Jaka Widada. Semoga capaian ini terus menginspirasi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi bagi Indonesia dan dunia.

 

 

sumber foto: Prof. Nuryani dan Prof. Suadi

Menuju Pesisir Tangguh: FGD Perikanan UGM Rumuskan Model Pengelolaan Perikanan Adaptif di Pantai Depok Kabupaten Bantul

Berita Senin, 20 April 2026

Suasana pesisir Pantai Depok, Bantul, menjadi latar unik penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) Penelitian IJRA–Equity yang diinisiasi oleh Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada pada 20 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, peneliti, serta pelaku perikanan dalam satu ruang dialog terbuka untuk membahas masa depan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Berbeda dari forum ilmiah pada umumnya, FGD ini sengaja dilaksanakan di kawasan pesisir untuk menghadirkan konteks nyata antara teori dan praktik. Pantai Depok yang dikenal sebagai sentra aktivitas nelayan di Kabupaten Bantul menjadi lokasi strategis untuk menggali langsung dinamika ketahanan perikanan.

Diskusi yang dipimpin oleh Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. ini menyoroti keterkaitan erat antara perubahan lingkungan laut, dinamika sosial masyarakat pesisir, serta sistem kelembagaan yang mengatur aktivitas perikanan. Para peserta menekankan bahwa pengelolaan sumber daya laut tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan ekologis semata, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat nelayan.

Dalam forum tersebut, isu perubahan iklim menjadi salah satu perhatian utama. Perubahan pola musim, gelombang, hingga ketidakpastian hasil tangkapan dirasakan langsung oleh nelayan di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan adaptif berbasis data ilmiah yang mampu menjembatani kebutuhan kebijakan dengan kondisi riil di masyarakat.

FGD ini juga membuka ruang dialog antara peneliti dan nelayan, sehingga pengalaman lokal dapat diintegrasikan ke dalam pengembangan riset. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan IJRA–Equity ini, UGM kembali menegaskan perannya sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan riset akademik, tetapi juga mendorong solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perikanan di era perubahan global.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut), sekaligus memperkuat upaya mewujudkan pengelolaan perikanan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

FGD Equity UGM Soroti Perikanan dalam Perspektif Sosial-Ekologi: Dari Perubahan Iklim hingga Dinamika Sumber Daya Pesisir dan Lautan

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026 di Ruang 2.02, Gedung A4. Kegiatan ini menjadi forum strategis lintas sektor yang mengangkat isu perubahan iklim dan dinamika oseanografi dalam konteks sosial-ekologi perikanan dan kelautan.

FGD menghadirkan berbagai pakar nasional dan internasional, di antaranya Prof. Widodo Setiyo Pranowo dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. R. Dwi Susanto dari University of Maryland, serta Prof. Ocky Karna Radjasa. Diskusi juga melibatkan perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan pelaku perikanan dari Kelompok Mina Samodera Pantai Baron, sehingga menghadirkan perspektif ilmiah sekaligus pengalaman lapangan.

Dalam diskusi, para narasumber menekankan bahwa perubahan iklim global telah memengaruhi parameter oseanografi seperti suhu permukaan laut, arus, dan produktivitas primer. Fenomena ini secara langsung berdampak pada distribusi ikan, musim penangkapan, hingga ketidakpastian hasil tangkapan nelayan.

Lebih jauh, pendekatan sosial-ekologi menjadi kunci dalam memahami sistem perikanan secara utuh. Tidak hanya aspek lingkungan, tetapi juga dimensi sosial seperti adaptasi nelayan, kelembagaan, dan strategi penghidupan menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan.

Paparan juga menyoroti bagaimana fenomena iklim ekstrem, seperti siklon tropis, dapat memicu perubahan produktivitas laut melalui peningkatan nutrien dan klorofil-a. Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika laut bersifat kompleks dan memerlukan pendekatan berbasis data serta teknologi, termasuk pemanfaatan penginderaan jauh dan pemodelan spasial.

Diskusi berlangsung interaktif dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, peneliti, pemerintah, dan masyarakat pesisir. Integrasi pengetahuan ilmiah dan lokal dinilai menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Melalui FGD ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan perannya dalam mengembangkan riset yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan secara sosial. Kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut), serta memperkuat upaya pengelolaan perikanan yang tangguh dan berkelanjutan di Indonesia.

FGD Hibah Equity UGM 2026: Riset Lobster hingga Zona Ikan Perkuat Kolaborasi dan Publikasi Global

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat riset unggulan melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang 2.02, Gedung A4 ini menjadi ruang strategis bagi para peneliti untuk mempresentasikan capaian riset sekaligus membangun kolaborasi ilmiah.

Salah satu paparan utama disampaikan oleh Dr. Eko Hardianto, yang mengangkat topik “Molecular Ecology of the Spiny Lobster (Panulirus homarus)”. Penelitian ini menyoroti konektivitas genetik lobster di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Bengkulu, Cilacap, Prigi, hingga Sumbawa dan Pulau Buru.

Melalui pendekatan genetika populasi, penelitian ini mengungkap pola keragaman genetik dan struktur populasi lobster di Indonesia yang sangat penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perikanan berbasis sains. Selain itu, studi ini juga mengkaji pengaruh batas biogeografi seperti Wallace’s Line terhadap aliran gen antar populasi lobster.

Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi menghadapi berbagai tekanan, mulai dari eksploitasi hingga perubahan lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan molekuler seperti yang dilakukan dalam penelitian ini menjadi kunci dalam memahami dinamika populasi spesies penting secara lebih mendalam.

Selain riset genetika, FGD ini juga menampilkan kajian lain terkait dinamika oseanografi dan zona penangkapan ikan berbasis perubahan iklim. Diskusi yang berlangsung interaktif menekankan pentingnya integrasi data lintas disiplin, mulai dari penginderaan jauh, analisis statistik, hingga pemodelan prediktif.

Program hibah Equity by Subject sendiri dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas publikasi internasional dan reputasi akademik UGM di tingkat global. Sementara itu, skema Post-Doctoral Dalam Negeri menjadi wadah bagi peneliti untuk mengembangkan riset inovatif yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM tidak hanya memperkuat budaya riset, tetapi juga mendorong lahirnya kolaborasi lintas institusi dan negara. Kegiatan ini turut berkontribusi pada SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 14 (Ekosistem Laut), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), sebagai upaya membangun pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan.

Bukan Obat, Tapi Pencegahan: Kunci Sukses Budidaya Lele dan Gurame ala Dr. Indah

Berita Kamis, 16 April 2026

Kegiatan Pelatihan Pokdakan Wanita yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo pada Kamis, 16 April 2026, membekali peserta dengan informasi pentingnya kesehatan ikan. Materi terkait kesehatan ikan ini disampaikan oleh dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D.

Dalam materinya yang berjudul “Penyakit, Pencegahan, dan Pengobatan Ikan Lele dan Gurame”, Dr. Indah menekankan bahwa penyakit ikan merupakan salah satu faktor utama yang dapat menurunkan produktivitas budidaya. Ia menjelaskan berbagai jenis penyakit yang umum menyerang ikan budidaya, mulai dari parasit seperti Trichodina dan Henneguya, hingga penyakit bakteri seperti Aeromoniasis, Edwardsiellosis, dan Pseudomoniasis.

Selain itu, peserta juga dikenalkan pada penyakit yang disebabkan oleh virus dan jamur, termasuk infeksi Aphanomycosis serta iridovirus pada ikan gurami. Pengetahuan ini penting untuk membantu pembudidaya mengenali gejala awal penyakit sehingga dapat melakukan tindakan cepat dan tepat.

Namun, poin utama yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan. Dr. Indah menegaskan bahwa penggunaan obat, terutama antibiotik, tidak selalu direkomendasikan karena berkaitan dengan keamanan pangan. Sebagai alternatif, ia mendorong penerapan manajemen kesehatan ikan yang baik, seperti pengapuran kolam secara rutin, menjaga kualitas pakan, serta memastikan kebersihan alat dan lingkungan budidaya.

Selain itu, ikan yang terinfeksi atau mati harus segera ditangani dengan benar agar tidak menjadi sumber penularan. Praktik desinfeksi alat dan pengelolaan limbah budidaya juga menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran penyakit.

Melalui pelatihan ini, para anggota Pokdakan Wanita diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dalam menjaga kesehatan ikan secara berkelanjutan. Kegiatan ini turut mendukung SDG 2 (Ketahanan Pangan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui praktik budidaya ikan yang sehat, aman, dan ramah lingkungan.

1234
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY