Temuan penting di bidang kesehatan ikan datang dari tim peneliti Indonesia yang berhasil mengidentifikasi kemungkinan spesies baru virus pada ikan gabus (Channa striata) di Kalimantan Selatan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Aquaculture ini dilakukan oleh Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah bersama tim peneliti, termasuk Dr. Indah Istiqomah dan Prof. Murwantoko.
Penelitian ini berawal dari laporan wabah penyakit dengan gejala menyerupai kutil pada ikan gabus, salah satu komoditas penting di Kalimantan Selatan. Gejala tersebut memicu investigasi mendalam untuk mengidentifikasi agen penyebab penyakit.
Melalui analisis histologi, peneliti menemukan adanya pembesaran sel limfosit yang mengandung inklusi basofilik di dalam jaringan kutil. Selain itu, ditemukan pula indikasi kerusakan jaringan seperti perdarahan, nekrosis, dan akumulasi sel inflamasi pada organ dalam ikan. Temuan ini mengarah pada dugaan infeksi virus.
Untuk memastikan hal tersebut, tim melakukan analisis molekuler menggunakan teknik PCR dan sekuensing terhadap enam gen utama virus, termasuk MCP dan MMP. Hasilnya menunjukkan bahwa ikan gabus tersebut terinfeksi Lymphocystis Disease Virus (LCDV) yang kemudian diberi nama LCDV Cs-SK.
Menariknya, hasil analisis genetik menunjukkan bahwa virus ini memiliki kemiripan tinggi dengan beberapa strain LCDV yang telah ditemukan sebelumnya, namun juga menunjukkan perbedaan signifikan pada tingkat nukleotida. Analisis filogenetik lebih lanjut mengindikasikan bahwa virus ini paling dekat dengan kelompok LCDV-3, tetapi memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari spesies yang telah teridentifikasi.
Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa LCDV Cs-SK berpotensi sebagai kandidat spesies baru dalam kelompok virus LCDV. Penemuan ini menjadi langkah penting dalam memahami dinamika penyakit ikan di Indonesia, khususnya dalam mendukung pengelolaan kesehatan ikan budidaya.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit ikan, sekaligus memperkuat ketahanan sektor akuakultur nasional. Temuan ini juga berkontribusi pada SDG 14 (Ekosistem Laut) dan SDG 2 (Ketahanan Pangan) melalui upaya menjaga kesehatan sumber daya perikanan.
Sumber gambar: Aquaculture, Volume 588, 15 July 2024, 740897