Yogyakarta — Kabar membanggakan kembali datang dari alumni internasional Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Joas Iradukunda, alumni Program Magister Ilmu Perikanan UGM asal Rwanda, resmi diterima untuk posisi Assistant Lecturer bidang Aquaculture and/or Fishery Management di University of Rwanda.
Berdasarkan pengumuman resmi hasil seleksi yang diterbitkan pada 9 Mei 2026 oleh College of Veterinary Medicine and Animal Sciences, University of Rwanda, Joas memperoleh nilai 90,3, menjadi peserta dengan skor tertinggi pada kategori Assistant Lecturer (Aquaculture and/or Fishery Management) dan dinyatakan Passed (Recommended for Recruitment). Pencapaian tersebut menempatkannya sebagai kandidat utama untuk bergabung dalam pengembangan pendidikan tinggi dan riset perikanan di Rwanda.
Perjalanan Joas menuju capaian tersebut bukanlah perjalanan singkat. Ia merupakan mahasiswa internasional penerima Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship, program beasiswa pemerintah Indonesia yang membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai negara berkembang untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia sekaligus memperkuat kerja sama internasional melalui pendidikan dan diplomasi akademik.
Selama menempuh pendidikan di Magister Ilmu Perikanan UGM, Joas mendapatkan pendampingan akademik dari dua dosen Departemen Perikanan UGM, yaitu Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dan Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. Keduanya tidak hanya berperan sebagai pembimbing akademik, tetapi juga menjadi sosok penting dalam perjalanan studi Joas selama berada jauh dari negara asalnya.
Bagi Joas, proses pendidikan yang ia jalani di UGM bukan sekadar hubungan formal antara mahasiswa dan dosen. Di balik proses penelitian, diskusi, dan bimbingan akademik, terdapat dukungan personal yang membentuk pengalaman belajarnya selama menempuh studi.
Dalam ungkapan rasa syukurnya, Joas menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pembimbingnya:
“Thank you very much for your supervision, guidance, and continuous support. I truly appreciate everything you have done for me, not only as a supervisor but also like a parent. I am sincerely grateful.”
Ungkapan tersebut menggambarkan hubungan yang terbangun tidak hanya sebatas proses akademik, tetapi juga kedekatan dan dukungan kemanusiaan yang sering menjadi kekuatan tersendiri dalam perjalanan mahasiswa internasional. Menempuh studi di negara baru dengan lingkungan budaya yang berbeda tentu menghadirkan tantangan, sehingga kehadiran pembimbing yang suportif menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Selama belajar di Yogyakarta, Joas tidak hanya memperdalam ilmu tentang akuakultur dan manajemen perikanan, tetapi juga membangun jejaring internasional serta pengalaman akademik lintas budaya. Lingkungan pendidikan di UGM mempertemukannya dengan berbagai perspektif mengenai keberlanjutan sumber daya perikanan, pembangunan masyarakat, hingga tantangan pangan global.
Kini, setelah kembali ke Rwanda dan berhasil meraih posisi Assistant Lecturer, Joas membawa lebih dari sekadar gelar akademik. Ia membawa pengalaman, pengetahuan, serta semangat kolaborasi global yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Indonesia.
Bagi Departemen Perikanan UGM, capaian Joas menjadi bukti bahwa pendidikan memiliki dampak lintas batas negara. Alumni internasional tidak hanya kembali sebagai lulusan, tetapi juga menjadi jembatan pengetahuan dan agen perubahan yang memperluas kontribusi UGM di tingkat global.
Kisah Joas juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Pendidikan berkualitas dan kolaborasi internasional menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang mampu memberikan dampak nyata lintas negara dan budaya.