• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Arsip:

SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM Hadirkan Orasi Ilmiah tentang Transformasi Strategis Perikanan Budi Daya Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sekaligus membahas masa depan sektor perikanan Indonesia. Salah satu agenda utama dalam perayaan tersebut adalah Orasi Ilmiah bertajuk “Perikanan Budi Daya Indonesia Berkelanjutan, Inovatif, Mendunia: Transformasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045.”

Orasi ilmiah disampaikan oleh Rokhmad Mohammad Rofiq, S.Pi., M.App.Sc., Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Dalam paparannya, ia menempatkan perikanan budi daya sebagai sektor strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan agenda ekonomi biru Indonesia.

Rokhmad menekankan bahwa masa depan perikanan budi daya Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Transformasi perlu diarahkan pada sistem budi daya yang lebih produktif, berkelanjutan, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Menurut materi orasi, transformasi tersebut mencakup pergeseran dari ekspansi kawasan menuju produktivitas berbasis daya dukung ekosistem, dari ketergantungan input menuju penguatan kapabilitas domestik, serta dari sekadar adopsi teknologi menuju pembangunan ekosistem inovasi.

Teknologi dalam konteks tersebut tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pengungkit kemampuan pelaku perikanan dalam menghadapi perubahan. Pemanfaatan teknologi perlu didukung kemampuan untuk membaca perubahan, menangkap peluang, dan melakukan transformasi dalam sistem produksi.

Transformasi juga perlu terjadi pada cara melihat keberhasilan sektor perikanan. Pengembangan perikanan tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah produksi, tetapi juga berdasarkan nilai ekonomi, lapangan kerja, efisiensi, dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Karena itu, pengembangan budi daya perlu terhubung dengan keseluruhan rantai nilai, mulai dari pakan dan produksi, panen, pengolahan, rantai dingin, hingga pemasaran. Pendekatan value-chain-based development menjadi penting agar komoditas perikanan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan memiliki daya saing di pasar global.

Pada saat yang sama, orientasi menuju pasar dunia harus diikuti dengan peningkatan standar kualitas, keamanan pangan, traceability, keberlanjutan, serta konsistensi pasokan.

Salah satu pesan penting dalam orasi adalah bahwa peningkatan produktivitas tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem. Pengembangan perikanan budi daya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kualitas air, penyakit, limbah, serta keberadaan ekosistem pendukung.

Transformasi juga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, pembudidaya, perguruan tinggi, peneliti, lembaga pembiayaan, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang saling mendukung. Dalam pendekatan ini, pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai strategic orchestrator yang mempertemukan berbagai kepentingan dan sumber daya.

Bagi Departemen Perikanan UGM, gagasan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut menjadi relevan dengan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang adaptif dan inovatif.

Mahasiswa dan akademisi perikanan perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan secara lebih luas—tidak hanya mengenai produksi ikan, tetapi juga teknologi, ekonomi, lingkungan, rantai nilai, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat. Perspektif lintas bidang tersebut menjadi semakin penting untuk menghadapi kompleksitas sektor perikanan di masa depan.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM melalui orasi ilmiah ini sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen Departemen Perikanan dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Orasi ilmiah ini sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan perikanan budi daya yang produktif, inovatif, berkelanjutan, dan kolaboratif menuju Indonesia Emas 2045.

Puncak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Paparkan Capaian dan Arah Pengembangan Perikanan Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan, capaian, sekaligus arah pengembangan Departemen Perikanan dalam menjawab tantangan perikanan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Departemen Perikanan menyampaikan Laporan Tahunan 2026 yang merangkum perkembangan bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan institusi, kemitraan, publikasi, hingga prestasi mahasiswa. Laporan ini sekaligus memperlihatkan kontribusi Departemen Perikanan dalam mewujudkan tema HUT ke-63, “Perikanan Indonesia: Berkelanjutan, Inovatif, dan Mendunia.”

Pada tahun akademik 2026/2027, Departemen Perikanan UGM menaungi 1.020 mahasiswa aktif yang tersebar pada Program Studi Akuakultur, Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Teknologi Hasil Perikanan (THP), Magister Ilmu Perikanan (MIP), serta program doktor. Tahun ini juga tercatat 235 mahasiswa baru program sarjana, menunjukkan minat yang terus berkembang terhadap pendidikan tinggi di bidang perikanan.

Perkembangan akademik tersebut didukung oleh 38 dosen aktif pada tiga program studi sarjana, serta tenaga pendidik pada jenjang magister dan doktor. Departemen juga terus memperkuat kapasitas akademiknya melalui kehadiran dosen baru dan program tugas belajar di berbagai universitas internasional, termasuk di Jepang, Tiongkok, Australia, dan Turki.

Dari sisi sarana pembelajaran, Departemen Perikanan memiliki berbagai laboratorium yang mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian, antara lain Laboratorium Akuakultur, Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, Sosial Ekonomi dan Penangkapan Ikan, Manajemen Sumberdaya Perikanan, serta Teknologi Pengolahan Ikan. Fasilitas tersebut dilengkapi pula dengan Ruang Penelitian Ilmu Perairan Maju dan Teaching Farm Akuakultur.

Pada bidang penelitian, Departemen Perikanan mencatat 104 judul penelitian pada 2026 dengan total dana sekitar Rp10,75 miliar, yang terdiri atas Rp1,73 miliar dana internal dan Rp9,02 miliar dana eksternal. Dominasi pendanaan eksternal yang mencapai 83,9% menunjukkan semakin kuatnya kemampuan sivitas akademika dalam membangun jejaring dan memperoleh dukungan penelitian dari berbagai sumber.

Produktivitas ilmiah juga terus berkembang. Pada 2026 tercatat 73 publikasi terindeks Scopus dan 130 publikasi yang tercatat di Google Scholar, dengan jumlah sitasi masing-masing mencapai 1.578 dan 1.792.

Tidak berhenti pada publikasi, hasil penelitian juga diarahkan menuju hilirisasi. Sejumlah inovasi yang dikembangkan mencakup probiotik, nano-spirulina fermentasi, biofilter rumput laut, garam kosmetik dan terapi, aplikasi digital untuk perikanan tangkap dan budi daya, hingga sistem resirkulasi akuakultur dan teknologi pengolahan hasil perikanan. Departemen juga mencatat sejumlah kekayaan intelektual yang telah memperoleh maupun sedang dalam proses perlindungan.

Kontribusi Departemen Perikanan juga diwujudkan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Pada 2026 terdapat 104 judul kegiatan pengabdian dengan dukungan dana sekitar Rp956,5 juta, dengan 64,2% berasal dari sumber eksternal.

Berbagai kegiatan diarahkan pada persoalan nyata masyarakat, seperti pelepasliaran ikan, pemantauan perairan, pembersihan embung, pemanfaatan air tawar untuk produksi garam laut menggunakan teknologi SWRO, serta Grebek Ikan Sapu-Sapu di Rawa Kalibayem.

Jejaring kerja sama juga terus diperluas. Departemen memiliki mitra dalam negeri dan luar negeri yang mencakup institusi pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan sektor industri. Kemitraan internasional antara lain terbangun dengan University of Tasmania, Xiamen University, University of Stirling, Universiti Putra Malaysia, National Taiwan University, Pukyong National University, dan berbagai institusi lainnya.

Pengembangan mahasiswa menjadi bagian penting dari agenda Departemen Perikanan. Program magang berdampak telah melibatkan 135 mahasiswa dari 156 mahasiswa peserta magang pada tiga program studi sarjana, dengan dukungan 83 mitra magang berdampak.

Kesempatan internasional juga terus dibuka melalui berbagai skema student mobility dan credit transfer, seperti AIMS, ASEAN-FEN, IISMA, JASSO, MTCRC, dan kemitraan antaruniversitas.

Di bidang prestasi, pada 2026 tercatat 25 mahasiswa meraih prestasi melalui 27 kompetisi. Prestasi tersebut mencakup kompetisi nasional maupun internasional, mulai dari kompetisi Smart Ecosystem Engagement & Development, International Youth Innovation Summit, hingga berbagai kompetisi olahraga dan akademik.

Puncak HUT ke-63 juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi publik Departemen Perikanan. Melalui Media Perikanan, website, Instagram, YouTube, TikTok, dan layanan WhatsApp, Departemen terus menyebarluaskan informasi akademik, penelitian, kegiatan, serta berbagai perkembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Seluruh capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan Departemen Perikanan UGM untuk terus bergerak dari kekuatan akademik menuju kontribusi yang semakin nyata bagi masyarakat dan sektor perikanan. Pendidikan, penelitian, pengabdian, inovasi, kemitraan, dan pengembangan mahasiswa menjadi satu ekosistem yang saling menguatkan.

Laporan Tahunan 2026 yang disampaikan pada puncak HUT ke-63 sekaligus menjadi refleksi bahwa perjalanan Departemen Perikanan selama lebih dari enam dekade terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Dari penguatan pendidikan hingga inovasi yang dihilirkan, dari kerja sama lokal hingga jejaring internasional, Departemen Perikanan UGM terus mempersiapkan diri untuk berkontribusi pada masa depan perikanan Indonesia.

Sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), Departemen Perikanan UGM meneguhkan komitmennya untuk membangun perikanan Indonesia yang semakin berkelanjutan, inovatif, inklusif, dan berdaya saing global.

Kenal Perikanan UGM 2026: Membuka Perjalanan Mahasiswa Baru dari Kampus hingga Industri Perikanan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 30 Agustus 2026 — Sebanyak 270 peserta mengikuti rangkaian Kenal Perikanan UGM 2026, sebuah kegiatan pengenalan dan pembelajaran lapangan yang mempertemukan mahasiswa baru Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan lingkungan akademik sekaligus dunia nyata sektor perikanan.

Kegiatan yang berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 ini diikuti oleh 235 mahasiswa dari tiga program studi, yakni Akuakultur sebanyak 77 mahasiswa, Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA) sebanyak 79 mahasiswa, dan Teknologi Hasil Perikanan (THP) sebanyak 79 mahasiswa. Selain mahasiswa, kegiatan juga melibatkan 17 dosen, 8 tenaga kependidikan, 2 personel Media Perikanan, 7 pendamping, serta 1 perwakilan KKA Fakultas.

Kenal Perikanan 2026 tidak berhenti pada kegiatan pengenalan di lingkungan kampus. Setelah mengikuti Pra Kenal Perikanan pada 24 Agustus 2026, mahasiswa diajak melakukan perjalanan lapangan untuk melihat secara langsung berbagai aktivitas dalam rantai sektor perikanan.

Dalam kegiatan lapangan, peserta terbagi dalam tujuh bus dengan tujuan kunjungan yang berbeda. Lokasi yang dikunjungi meliputi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana, serta sejumlah perusahaan pengolahan hasil perikanan, yaitu PT Java Kayana Segara, PT Morenzo Abadi Perkasa, PT Guna Citra Kartika, PT Urchindize Indonesia, dan PT Cassanatama Naturindo.

Pemilihan berbagai lokasi tersebut memberikan gambaran mengenai luasnya ekosistem perikanan yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mahasiswa. Dari budidaya, pengolahan hasil perikanan, hingga aktivitas pelabuhan dan pelelangan ikan, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana ilmu perikanan diterapkan dalam berbagai konteks.

Pada kunjungan ke PT Java Kayana Segara di Semarang, misalnya, mahasiswa mendapatkan kesempatan melihat proses pengemasan crab meat serta proses pasteurisasi dalam kaleng. Sementara itu, kunjungan ke PT Morenzo Abadi Perkasa di Demak memperkenalkan mahasiswa pada proses pengalengan rajungan dan ikan serta pengolahan makanan laut beku. Mahasiswa juga mengunjungi PT Guna Citra Kartika di Jepara serta PT Urchindize Indonesia. Di PT Urchindize Indonesia, peserta diperkenalkan dengan proses produksi ikan teri nasi kering dan bubuk ikan kering. Sementara itu, kunjungan ke PT Cassanatama Naturindo di Semarang melengkapi rangkaian kunjungan industri yang menjadi bagian dari Kenal Perikanan 2026.

Selain sektor pengolahan, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman lapangan pada sektor budidaya perikanan melalui kunjungan ke BBPBAP Jepara. Dalam kunjungan tersebut, peserta mengikuti briefing pelayanan publik dan memperoleh penjelasan dari tim kelompok kerja mengenai pembesaran udang vaname di tambak.

Pengalaman kemudian dilanjutkan pada sektor perikanan tangkap melalui kunjungan ke PPP Juwana pada 30 Agustus 2026. Di lokasi tersebut, mahasiswa melihat secara langsung aktivitas pelelangan ikan di TPI Unit 2 Juwana serta tempat bersandarnya kapal-kapal penangkap ikan besar.

Rangkaian tersebut memberikan gambaran bahwa perikanan merupakan sebuah sistem yang luas. Ikan yang dikonsumsi masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi melewati berbagai tahapan, mulai dari produksi, penangkapan atau budidaya, penanganan, pengolahan, hingga distribusi dan pemasaran.

Salah satu karakter utama Kenal Perikanan 2026 adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pelaku dan institusi yang bergerak di sektor perikanan. Dalam beberapa kunjungan, mahasiswa juga diarahkan untuk mengisi lembar kerja sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran selama berada di lapangan.

Pengalaman tersebut menjadi pelengkap bagi proses pembelajaran di kampus. Mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan program studi masing-masing, tetapi sejak awal diajak memahami bahwa ilmu Akuakultur, MSA, dan THP memiliki keterkaitan erat dalam membangun sektor perikanan yang utuh.

Bagi mahasiswa Akuakultur, pengalaman di BBPBAP memberikan gambaran mengenai praktik budidaya. Mahasiswa THP dapat melihat secara langsung bagaimana komoditas perikanan diolah menjadi produk bernilai tambah, sementara mahasiswa MSA dapat melihat keterkaitan antara aktivitas perikanan, pelabuhan, dan pemanfaatan sumber daya. Ketiganya bertemu dalam satu sistem perikanan yang saling terhubung.

Lebih dari sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru, Kenal Perikanan UGM 2026 menjadi langkah awal untuk memperkenalkan luasnya ruang kontribusi lulusan perikanan. Mahasiswa diajak melihat bahwa masa depan perikanan tidak hanya berada di laut atau tambak, tetapi juga di industri pengolahan, teknologi, kewirausahaan, pengelolaan sumber daya, kebijakan, dan berbagai bidang lainnya.

Perjalanan selama dua hari tersebut juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan antarmahasiswa dari tiga program studi. Dengan tujuh bus yang masing-masing didampingi oleh dosen, tenaga kependidikan, dan pendamping, kegiatan dirancang sebagai perjalanan bersama untuk mengenal lebih dekat dunia perikanan sekaligus keluarga besar Departemen Perikanan.

Melalui Kenal Perikanan 2026, Departemen Perikanan UGM menanamkan pesan bahwa menjadi mahasiswa perikanan berarti mempersiapkan diri untuk memahami dan membangun sebuah sektor yang kompleks, strategis, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Pengalaman pertama di lapangan diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjalani perjalanan akademik dengan perspektif yang lebih luas mengenai peran mereka di masa depan.

Kegiatan Kenal Perikanan 2026 turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pembelajaran berbasis pengalaman, pengenalan dunia industri dan praktik perikanan, serta penguatan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

Dari ruang kuliah menuju tambak, industri pengolahan, hingga pelabuhan perikanan, Kenal Perikanan 2026 menjadi langkah pertama bagi mahasiswa baru UGM untuk mengenal lebih dekat dunia yang kelak mereka bangun: perikanan Indonesia yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Bazar GEMARIKAN 2026 Dorong Konsumsi dan Produk Olahan Ikan Lokal

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Bazar GEMARIKAN 2026 pada Jumat (28/8). Bertempat di Lapangan Gedung A4 Departemen Perikanan UGM, kegiatan ini menghadirkan beragam produk ikan dan olahan hasil perikanan sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk semakin gemar mengonsumsi ikan.

Bazar yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dislautkan DIY). Kegiatan menjadi salah satu bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperkenalkan produk perikanan sekaligus mengampanyekan pentingnya konsumsi ikan bagi masyarakat.

Mengusung semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Bazar GEMARIKAN tidak sekadar menjadi kegiatan perayaan ulang tahun, tetapi juga menjadi ruang untuk mendekatkan produk perikanan kepada konsumen serta menunjukkan bahwa ikan dapat diolah menjadi beragam produk pangan yang menarik, praktis, dan sesuai dengan selera masyarakat masa kini.

Sebanyak 13 tenant turut meramaikan Bazar GEMARIKAN 2026. Berbagai produk segar dan olahan ikan ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari fresh fish hingga produk siap santap dengan beragam inovasi.

Tenant yang berpartisipasi meliputi Zamida Food, Phinisi Burger, Siomay Dimsum Batagor Fareta, Fania Food, Eldinam’s Food, Iwakku Foods, Fresh Fish, Orange Food, Simbokke Bu Nur Sambal Ikan, Khanza Food, Pempek Paris, Bakwan Udang, dan Ashlan Food.

Keberagaman produk tersebut menunjukkan bahwa komoditas perikanan memiliki peluang pengembangan yang luas. Ikan tidak hanya dapat dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah yang lebih dekat dengan preferensi konsumen.

Mulai dari burger, siomay, dimsum, batagor, pempek, sambal ikan hingga bakwan udang menjadi contoh bagaimana kreativitas pengolahan mampu meningkatkan daya tarik produk perikanan. Inovasi semacam ini sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pengembangan usaha dan kewirausahaan berbasis hasil perikanan.

Bazar ini membawa semangat Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) dengan mengajak sivitas akademika dan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan sebagai bagian dari pola pangan yang beragam dan bergizi.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting serta menyediakan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, membangun kebiasaan mengonsumsi ikan juga menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Namun, GEMARIKAN tidak hanya berbicara mengenai konsumsi. Di balik setiap produk ikan terdapat rantai ekonomi yang melibatkan pembudidaya, nelayan, pengolah, pedagang, pelaku UMKM, hingga konsumen. Meningkatnya minat masyarakat terhadap produk perikanan pada akhirnya dapat turut membuka peluang ekonomi bagi para pelaku yang berada di sepanjang rantai nilai tersebut.

Melalui Bazar GEMARIKAN, Departemen Perikanan UGM ingin memperlihatkan bahwa upaya meningkatkan konsumsi ikan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan inovasi produk dan penguatan ekonomi pelaku usaha perikanan lokal.

Pelaksanaan Bazar GEMARIKAN juga mencerminkan peran Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan dan teknologi perikanan, tetapi juga berupaya mendekatkan hasil dan semangat pengembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Kolaborasi dengan Dislautkan DIY menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Sinergi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk membangun sektor perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas.

Momentum HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM pun menjadi kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan panjang Departemen Perikanan dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perayaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aktivitas yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat potensi perikanan.

Bazar GEMARIKAN 2026 sekaligus menjadi ajakan sederhana kepada masyarakat: datang, cicipi, konsumsi ikan, dan dukung produk perikanan lokal. Dari pilihan pangan sehari-hari, masyarakat dapat turut berkontribusi terhadap kesehatan keluarga sekaligus keberlanjutan ekonomi para pelaku usaha perikanan.

Kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui promosi pangan bergizi berbasis ikan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui dukungan terhadap usaha dan produk perikanan lokal; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan konsumsi produk perikanan bernilai tambah; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi Departemen Perikanan UGM, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Melalui semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Departemen Perikanan UGM berharap Bazar GEMARIKAN 2026 dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk perikanan sekaligus memperkuat peran ikan sebagai sumber pangan bergizi dan penggerak ekonomi lokal menuju pembangunan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Kuliah Perdana Departemen Perikanan UGM Hadirkan Sekjen KKP, Dorong Generasi Baru Perikanan Siap Wujudkan Blue Economy

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 24 Agustus 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Kuliah Perdana Tahun Akademik 2026/2027 dengan mengangkat tema “Generasi Baru Perikanan Indonesia: Membangun Talenta Unggul untuk Mendukung Blue Economy dan Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (24/8) di Auditorium Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Kuliah perdana tersebut menghadirkan Dr. Ir. Andy Artha Donny Oktopura, S.T., M.Sc., Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, sebagai narasumber. Kegiatan ini secara khusus ditujukan bagi mahasiswa baru Program Sarjana Departemen Perikanan Faperta UGM angkatan 2026 sebagai bagian dari pengenalan awal terhadap perkembangan, tantangan, dan peluang sektor perikanan Indonesia.

Mengawali perjalanan akademik mahasiswa baru, kuliah perdana menjadi ruang untuk mempertemukan mahasiswa dengan perspektif praktis mengenai arah pembangunan kelautan dan perikanan nasional. Kehadiran Sekretaris Jenderal KKP memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kebutuhan sumber daya manusia dan kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi transformasi sektor kelautan dan perikanan.

Tema “Generasi Baru Perikanan Indonesia” menegaskan bahwa pembangunan sektor perikanan pada masa mendatang membutuhkan talenta yang tidak hanya menguasai pengetahuan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, berinovasi, berkolaborasi, serta memahami keterkaitan antara aspek ekonomi, sosial, teknologi, dan lingkungan.

Konsep blue economy menjadi salah satu perspektif penting yang diperkenalkan kepada mahasiswa. Ekonomi biru menempatkan sumber daya laut dan perairan sebagai modal pembangunan yang perlu dimanfaatkan secara produktif sekaligus dijaga keberlanjutannya. Bagi generasi muda perikanan, pendekatan tersebut membuka ruang pengembangan berbagai inovasi, mulai dari perikanan tangkap berkelanjutan, akuakultur, teknologi digital, pengolahan hasil perikanan, hingga pengelolaan ekosistem dan sumber daya pesisir.

Kuliah perdana juga menjadi momentum bagi Departemen Perikanan UGM untuk menanamkan perspektif bahwa masa depan perikanan Indonesia sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Mahasiswa sebagai generasi baru diharapkan mampu melihat sektor perikanan bukan semata sebagai kegiatan produksi, tetapi sebagai bagian strategis dari ketahanan pangan, ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

Bagi mahasiswa baru, kegiatan ini sekaligus menjadi langkah awal untuk membangun orientasi akademik dan profesional selama menempuh pendidikan di Departemen Perikanan. Interaksi dengan pemangku kebijakan nasional diharapkan dapat memberikan inspirasi mengenai berbagai peluang kontribusi yang dapat dikembangkan setelah menyelesaikan pendidikan.

Melalui Kuliah Perdana 2026, Departemen Perikanan UGM terus meneguhkan komitmennya dalam mempersiapkan generasi perikanan yang unggul, adaptif, inovatif, dan berwawasan keberlanjutan untuk berkontribusi dalam mewujudkan ekonomi biru serta mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.

Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kapasitas generasi muda, pengembangan talenta perikanan, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

PelletQ-AI: Inovasi Mahasiswa UGM Integrasikan AI dan Mesin Otomatis untuk Wujudkan Kemandirian Pakan Ikan

BeritaUncategorized Senin, 7 September 2026

Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil merealisasikan PelletQ-AI, sebuah sistem produksi pakan ikan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan mesin produksi pelet otomatis. Inovasi ini dikembangkan untuk membantu pembudidaya menghasilkan pakan ikan secara mandiri melalui proses formulasi dan produksi yang terintegrasi, sehingga dapat menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengembangan PelletQ-AI berangkat dari permasalahan yang dihadapi mitra, yaitu Budidaya Lele Pak Nanang di Kalurahan Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam usaha budidaya lele, biaya pakan masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi, yakni mencapai lebih dari 60–70 persen. Kenaikan harga pakan komersial yang tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ikan menyebabkan keuntungan pembudidaya semakin tertekan. Kondisi tersebut membuat ketergantungan terhadap pakan komersial masih relatif tinggi.

Selain tingginya biaya pakan, mitra juga belum memiliki fasilitas untuk memproduksi pakan secara mandiri. Ketiadaan mesin produksi pakan serta sistem yang dapat membantu menyusun formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan menyebabkan mitra bergantung sepenuhnya pada pakan komersial. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-PI UGM mengembangkan PelletQ-AI sebagai solusi yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sistem produksi pakan dalam satu ekosistem.

Berbeda dengan mesin pencetak pelet konvensional, PelletQ-AI dilengkapi dengan platform web app.pelletqai.com yang terhubung langsung dengan sistem kecerdasan buatan. Melalui platform tersebut, pembudidaya hanya perlu memasukkan data budidaya serta informasi mengenai bahan baku yang tersedia dan harganya. Selanjutnya, sistem AI melakukan optimasi untuk menghasilkan formulasi pakan dengan biaya serendah mungkin tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan nutrisi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil optimasi tersebut kemudian dikirimkan secara otomatis ke mesin PelletQ-AI sebagai acuan dalam proses produksi.

Seluruh proses produksi dilakukan secara otomatis di dalam mesin, mulai dari pencampuran bahan baku, pemasakan menggunakan sistem pemanas (heater), ekstrusi, pencetakan, hingga pemotongan pelet dalam satu rangkaian kerja yang terintegrasi. Dengan demikian, pelet yang dihasilkan telah matang dan siap digunakan sebagai pakan ikan tanpa memerlukan proses lanjutan.

Ketua Tim PKM-PI UGM, R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata, menjelaskan bahwa PelletQ-AI dirancang untuk menjawab permasalahan pembudidaya secara menyeluruh.

“PelletQ-AI tidak hanya berfungsi sebagai mesin produksi pelet, tetapi merupakan sistem produksi pakan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan, dan proses manufaktur dalam satu kesatuan. Melalui sistem ini, pembudidaya dapat memperoleh formulasi pakan dengan biaya yang lebih efisien namun tetap memenuhi standar nutrisi, kemudian langsung memproduksinya secara mandiri.”

Dosen pembimbing PKM-PI, Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin mampu menghasilkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat.

“PelletQ-AI merupakan contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggabungkan aspek rekayasa mesin, kecerdasan buatan, teknologi informasi, dan akuakultur dalam satu sistem. Harapannya, inovasi ini dapat membantu meningkatkan efisiensi usaha budidaya serta mendorong pemanfaatan teknologi di sektor perikanan.”

Sebagai mitra program, Pak Nanang menyambut baik penerapan PelletQ-AI di lokasi budidayanya.

“Selama ini kami bergantung pada pakan komersial karena belum memiliki alat untuk memproduksi pakan sendiri. Dengan adanya PelletQ-AI, kami berharap dapat membuat pakan secara mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau. Sistem berbasis web juga memudahkan kami memperoleh formulasi pakan tanpa harus menghitung komposisi bahan baku secara manual.”

Pengembangan PelletQ-AI juga sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui peningkatan efisiensi produksi dan penguatan kemandirian pembudidaya dalam penyediaan pakan, inovasi ini berpotensi mendukung efisiensi usaha, penguatan ekonomi pembudidaya, serta penerapan teknologi dan inovasi dalam pembangunan sektor akuakultur yang lebih berkelanjutan.

PelletQ-AI merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas disiplin Universitas Gadjah Mada yang terdiri atas R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata (Teknik Industri), Muhammad Wafdan Taqiyya (Teknologi Informasi), Muhammad Zahir Ali (Teknik Elektro), Clarissa Cindy Marta Devany (Akuakultur), dan Farhan Dwi Prabowo (Teknologi Rekayasa Mesin), di bawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Setelah melalui tahapan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan sistem, pengembangan platform web app.pelletqai.com, pembuatan mesin, hingga pengujian, PelletQ-AI kini telah berhasil direalisasikan di lokasi mitra. Tahapan selanjutnya meliputi pelatihan penggunaan sistem, pendampingan operasional, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Melalui program PKM-PI ini, Tim UGM berharap PelletQ-AI tidak hanya menjadi solusi bagi Budidaya Lele Pak Nanang, tetapi juga menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang mampu mendukung kemandirian produksi pakan ikan di Indonesia. Ke depan, integrasi platform web, kecerdasan buatan, dan mesin produksi dalam PelletQ-AI diharapkan dapat membantu lebih banyak pembudidaya menghasilkan pakan berkualitas dengan biaya yang lebih efisien, sehingga turut meningkatkan daya saing sektor budidaya perikanan nasional.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Kerentanan Pendapatan Nelayan Jaring Hela Dasar di Tegal, Soroti Pentingnya Penguatan Kelembagaan Lokal

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Ketidakpastian pendapatan masih menjadi tantangan utama yang dihadapi nelayan skala kecil di Indonesia. Di balik besarnya hasil tangkapan pada musim tertentu, banyak nelayan harus menghadapi tekanan ekonomi yang tinggi ketika memasuki musim paceklik. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Muchammad Abdul Ghony An Nabalasiy, melakukan penelitian berjudul “Analisis Pendapatan Nelayan Jaring Hela Dasar di Desa Purwahamba, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal” di bawah bimbingan Candra Aryudiawan, S.Pi., M.Sc.

Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur dan besaran pendapatan nelayan jaring hela dasar (jaring arad), sekaligus mengidentifikasi berbagai permasalahan mendasar yang memengaruhi keberlanjutan usaha mereka serta merumuskan strategi pengembangan yang lebih adaptif. Lokasi penelitian dipilih di Desa Purwahamba, Kabupaten Tegal, yang dikenal sebagai salah satu sentra perikanan tangkap skala kecil di pesisir utara Pulau Jawa.

Menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif, penelitian dilakukan melalui metode sensus terhadap 33 nelayan aktif yang menjalankan sistem one-day fishing. Analisis pendapatan mengacu pada kerangka Panayotou (1985), sedangkan identifikasi akar permasalahan menggunakan pendekatan Root Cause Analysis (RCA). Pendekatan tersebut memungkinkan penelitian tidak hanya menggambarkan kondisi ekonomi nelayan, tetapi juga menjelaskan faktor-faktor kelembagaan yang memengaruhi keberlangsungan usaha perikanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total penerimaan nelayan mencapai Rp156,46 juta per tahun, dengan keuntungan bersih sekitar Rp87,81 juta per tahun. Namun demikian, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan tingkat kesejahteraan nelayan karena terdapat fluktuasi pendapatan yang sangat tajam antara musim panen dan musim paceklik. Kondisi ini menyebabkan nelayan tetap berada dalam siklus kerentanan ekonomi meskipun secara tahunan masih memperoleh keuntungan.

Penelitian juga menemukan bahwa biaya operasional didominasi oleh biaya variabel yang mencapai hampir 90 persen dari total biaya produksi. Ketergantungan yang tinggi terhadap solar bersubsidi menjadikan keberlangsungan usaha nelayan sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan energi maupun distribusi bahan bakar.

Melalui analisis akar masalah, penelitian berhasil mengidentifikasi empat persoalan utama yang dihadapi nelayan. Pertama, tingginya ketergantungan terhadap plele sebagai perantara pemasaran yang diperkuat dengan menurunnya fungsi Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Kedua, terbatasnya akses terhadap pembiayaan formal sehingga banyak nelayan terjebak dalam siklus utang berbasis hubungan patron-klien. Ketiga, pendangkalan muara yang menghambat aktivitas keluar masuk kapal dan meningkatkan biaya operasional. Keempat, rendahnya efektivitas berbagai program pemerintah yang belum diikuti oleh penguatan peran Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai kelembagaan ekonomi nelayan.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan sejumlah strategi pengembangan, antara lain memperkuat kelembagaan lokal nelayan, memperluas alternatif saluran pemasaran agar tidak bergantung pada satu aktor, mengembangkan skema pembiayaan berbasis tanggung renteng, mendorong advokasi pembangunan infrastruktur tambat kapal secara kolektif, serta memformalkan kesepakatan lokal antarnelayan untuk mengurangi ketergantungan struktural dalam hubungan patron-klien. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat daya tahan nelayan terhadap berbagai tekanan sosial maupun ekonomi.

Menurut Candra Aryudiawan, S.Pi., M.Sc., penelitian mengenai dinamika pendapatan nelayan skala kecil menjadi sangat penting karena persoalan kesejahteraan nelayan tidak dapat dinilai hanya dari besarnya keuntungan tahunan. Fluktuasi pendapatan musiman, akses terhadap pasar, kelembagaan, dan dukungan kebijakan menjadi faktor yang saling berkaitan dalam menentukan ketahanan ekonomi rumah tangga nelayan. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan perikanan perlu mempertimbangkan dimensi sosial, ekonomi, dan kelembagaan secara terpadu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan nelayan tidak cukup dilakukan melalui peningkatan produksi semata, tetapi juga memerlukan reformasi tata kelola kelembagaan dan kebijakan yang mampu mengurangi kerentanan ekonomi masyarakat pesisir. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan dalam menyusun program pemberdayaan nelayan skala kecil yang lebih efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian SDG 1 (No Poverty) melalui upaya pengurangan kerentanan ekonomi nelayan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong terciptanya usaha perikanan yang lebih produktif dan layak, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui penguatan akses terhadap pembiayaan, pasar, dan kelembagaan bagi nelayan skala kecil, serta SDG 14 (Life Below Water) yang menekankan pentingnya tata kelola perikanan yang berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat pesisir. Melalui penelitian-penelitian aplikatif seperti ini, Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada terus berupaya menghasilkan rekomendasi ilmiah yang mampu menjawab tantangan nyata pembangunan perikanan Indonesia sekaligus mendukung terwujudnya kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Teliti Perubahan Sosial Ekonomi Nelayan Pukat Cincin Dua Kapal di PPN Prigi

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Perubahan yang terjadi dalam sektor perikanan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi sumber daya ikan, tetapi juga oleh dinamika sosial dan ekonomi masyarakat nelayan. Berangkat dari isu tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prasasti Rektaning Soebekti, melaksanakan penelitian berjudul “Perubahan Sosial Ekonomi Nelayan Pukat Cincin Dua Kapal di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek” di bawah bimbingan Ir. Hery Saksono, M.A.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan usaha perikanan pukat cincin dua kapal (two-boat purse seine) di kawasan Prigi sekaligus menganalisis perubahan sosial ekonomi yang dialami oleh masyarakat nelayan di Desa Tasikmadu. Kawasan ini dipilih karena berada di sekitar Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, salah satu pusat aktivitas perikanan tangkap terbesar di Provinsi Jawa Timur yang memiliki peran strategis dalam perekonomian pesisir.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode sensus terhadap seluruh pemilik armada pukat cincin dua kapal yang berdomisili di Desa Tasikmadu. Sebanyak 32 nelayan menjadi responden penelitian sehingga mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ketenagakerjaan pada armada pukat cincin dua kapal di Desa Tasikmadu masih mempertahankan mekanisme tradisional berupa sistem upah esekan dan bagi hasil. Sistem esekan merupakan praktik unik yang telah lama berkembang di kalangan nelayan Prigi, di mana sebagian hasil tangkapan diambil secara langsung menggunakan kantong plastik (esek) segera setelah kapal bersandar. Praktik ini menjadi salah satu bentuk kompensasi bagi awak kapal sebelum hasil tangkapan dipasarkan.

Di sisi lain, penelitian juga mengungkap bahwa perubahan ekonomi semakin dirasakan oleh masyarakat nelayan, terutama akibat meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi komponen biaya operasional terbesar dalam usaha penangkapan ikan. Kondisi tersebut diperparah oleh distribusi subsidi BBM yang belum merata sehingga menimbulkan beban ekonomi yang berbeda antar pelaku usaha perikanan.

Selain tantangan ekonomi, penelitian ini menemukan adanya kesenjangan sosial ekonomi di antara nelayan. Perbedaan kemampuan modal, akses terhadap subsidi, serta kapasitas kepemilikan armada turut memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir. Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan sektor perikanan tidak hanya membutuhkan peningkatan produktivitas, tetapi juga kebijakan yang mampu menjamin pemerataan akses dan kesejahteraan bagi seluruh kelompok nelayan.

Menurut dosen pembimbing, Ir. Hery Saksono, M.A., penelitian-penelitian sosial ekonomi seperti ini memiliki peran penting dalam menyediakan dasar ilmiah bagi penyusunan kebijakan pembangunan perikanan yang lebih inklusif. Pemahaman mengenai dinamika kehidupan nelayan di tingkat lokal diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merancang program subsidi, perlindungan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir secara lebih tepat sasaran.

Melalui penelitian ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan riset yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan perikanan berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan Indonesia.

Penelitian ini juga sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) melalui upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong terciptanya sistem ekonomi perikanan yang lebih adil dan berkelanjutan, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui perhatian terhadap kesenjangan sosial ekonomi antar pelaku perikanan, serta SDG 14 (Life Below Water) yang menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Melalui riset-riset yang berorientasi pada penyelesaian permasalahan nyata di masyarakat, Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada terus berkontribusi dalam menghasilkan rekomendasi berbasis ilmiah yang mendukung pembangunan sektor perikanan Indonesia yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Dosen Departemen Perikanan UGM Ikuti Medical Check-Up, Wujud Komitmen Menjaga Kesehatan dan Kesejahteraan Sivitas Akademika

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti program Medical Check-Up (MCU) yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada melalui Gadjah Mada Medical Center (GMC) bekerja sama dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UGM dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan dosen sebagai aset utama dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Medical check-up dilaksanakan pada 25, 26, 29, dan 30 Juni 2026 di GMC UGM dengan jadwal khusus bagi dosen UGM. Program ini memberikan kesempatan kepada para dosen untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai langkah deteksi dini terhadap berbagai faktor risiko penyakit sekaligus mendukung terciptanya gaya hidup sehat di lingkungan kampus.

Bagi dosen Departemen Perikanan UGM, kesehatan merupakan fondasi penting dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi. Aktivitas mengajar, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat membutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima agar kualitas layanan akademik tetap terjaga. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala menjadi salah satu bentuk investasi jangka panjang dalam menjaga produktivitas dan profesionalisme tenaga pendidik.

Selain kesehatan fisik, kegiatan ini juga mencerminkan perhatian institusi terhadap kesejahteraan dan kesehatan mental dosen. Di tengah dinamika dunia pendidikan tinggi yang semakin kompleks—mulai dari tuntutan publikasi ilmiah, pengembangan inovasi, hingga tanggung jawab akademik lainnya—keseimbangan antara pekerjaan dan kesehatan menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi bagian dari budaya preventif untuk memastikan dosen tetap berada dalam kondisi optimal dalam menjalankan perannya sebagai pendidik, peneliti, dan pengabdi masyarakat.

Program Medical Check-Up juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya deteksi dini dan pencegahan penyakit. Melalui hasil pemeriksaan yang komprehensif, dosen memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatannya sehingga dapat mengambil langkah-langkah preventif maupun perubahan gaya hidup apabila diperlukan.

Departemen Perikanan UGM mengapresiasi inisiatif Universitas Gadjah Mada melalui GMC dan RSA UGM dalam menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses bagi dosen. Program ini menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas akademik, tetapi juga pada upaya menjaga kualitas hidup dan kesejahteraan tenaga pendidik secara menyeluruh.

Dengan dosen yang sehat, produktif, dan sejahtera, Departemen Perikanan UGM optimistis dapat terus memberikan layanan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas, sekaligus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan akses terhadap layanan kesehatan preventif dan promosi hidup sehat, SDG 4 (Quality Education) dengan mendukung terciptanya lingkungan akademik yang produktif melalui tenaga pendidik yang sehat, serta SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat, dan mendukung kesejahteraan sumber daya manusia di perguruan tinggi.

Belajar dari Pemuteran Bali, Prof. Suadi Dalami Inovasi Biorock untuk Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Berita Senin, 22 Juni 2026

Buleleng – Guru Besar Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Suadi, M.Agr.Sc., Ph.D., melakukan kunjungan pembelajaran ke kawasan konservasi terumbu karang Biorock di Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempelajari secara langsung salah satu model konservasi pesisir berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat yang telah mendapatkan pengakuan internasional.

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Suadi berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan Tasya Karissa, Co-Founder dan Executive Director Biorock Indonesia, yang selama lebih dari dua dekade mengembangkan berbagai inisiatif restorasi terumbu karang dan pemberdayaan masyarakat pesisir di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Biorock Indonesia berhasil menjadikan Desa Pemuteran sebagai salah satu contoh sukses konservasi laut berbasis masyarakat yang diakui secara internasional. Melalui pendekatan yang menggabungkan inovasi teknologi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, program tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap pemulihan ekosistem terumbu karang sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Yang paling menarik dari Pemuteran bukan hanya teknologinya, tetapi bagaimana konservasi mampu menjadi gerakan sosial yang mengubah wajah desa. Ketika masyarakat dilibatkan dan merasakan manfaatnya secara langsung, konservasi tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi investasi masa depan,” ujar Prof. Suadi.

Teknologi Biorock sendiri merupakan metode restorasi terumbu karang yang memanfaatkan arus listrik bertegangan rendah yang dialirkan ke struktur logam di bawah laut. Proses tersebut memungkinkan mineral alami dalam air laut mengendap dan membentuk lapisan yang mendukung pertumbuhan karang secara lebih cepat dan tahan terhadap berbagai tekanan lingkungan. Teknologi ini telah digunakan di Pemuteran sejak tahun 2000 dan berkembang menjadi salah satu proyek restorasi terumbu karang terbesar di dunia.

Selain memberikan dampak ekologis melalui pemulihan ekosistem terumbu karang, proyek Biorock di Pemuteran juga berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pengembangan wisata bahari, peningkatan kunjungan wisatawan, serta tumbuhnya berbagai usaha masyarakat berbasis lingkungan. Transformasi tersebut menjadikan Pemuteran sebagai contoh nyata bagaimana konservasi dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi masyarakat pesisir.

Prof. Suadi menilai pendekatan yang diterapkan di Pemuteran sangat relevan dengan berbagai tantangan pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia. Menurutnya, keberhasilan konservasi memerlukan integrasi antara aspek ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan masyarakat. Oleh karena itu, pengalaman dari Pemuteran dapat menjadi referensi penting dalam pengembangan berbagai program pengabdian masyarakat, riset, maupun pendidikan di lingkungan Departemen Perikanan UGM.

Kunjungan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat wawasan mengenai model-model pengelolaan sumber daya pesisir yang berhasil di tingkat global. Sebagai akademisi yang selama ini banyak berkecimpung dalam bidang pembangunan masyarakat pesisir dan tata kelola perikanan, Prof. Suadi menegaskan pentingnya membangun pendekatan konservasi yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

“Pemuteran menunjukkan bahwa ketika teknologi, masyarakat, dan komitmen bersama bertemu dalam satu tujuan, dampaknya bisa sangat luar biasa. Ini menjadi inspirasi penting bagi pengembangan kawasan pesisir di berbagai daerah Indonesia,” tambahnya.

Departemen Perikanan UGM berharap pengalaman dan pembelajaran dari Pemuteran dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi konservasi yang tidak hanya menjaga keberlanjutan ekosistem laut, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang nyata bagi masyarakat pesisir.

Kegiatan pembelajaran dan pertukaran pengalaman ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 14: Life Below Water melalui penguatan praktik restorasi terumbu karang dan pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan. Selain itu, keberhasilan model Biorock dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth, sementara pendekatan kolaboratif antara masyarakat, akademisi, pemerintah, dan organisasi konservasi mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals. Penguatan edukasi dan transfer pengetahuan mengenai konservasi pesisir juga berkontribusi terhadap SDG 4: Quality Education.

123…9
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY