• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Arsip:

SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Departemen Perikanan UGM Sambut Kunjungan PT Anugerah Bahari Pasifik, Bahas Peluang Karier Internasional Bidang Akuakultur

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta, 12 Juni 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan dan audiensi dari PT Anugerah Bahari Pasifik dalam rangka penjajakan kerja sama terkait program penempatan tenaga profesional sektor akuakultur ke luar negeri melalui skema Visa E-7-3 Teknisi Akuakultur. Kegiatan ini disambut langsung oleh Ketua Departemen Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., bersama jajaran dosen dan pengelola program studi.

Kunjungan yang berlangsung di lingkungan Departemen Perikanan UGM tersebut menjadi wadah diskusi strategis mengenai peluang pengembangan karier internasional bagi lulusan dan tenaga profesional bidang perikanan dan akuakultur. Selain memperkenalkan program Visa E-7-3, audiensi juga membahas potensi kolaborasi yang dapat mendukung peningkatan daya saing lulusan Perikanan UGM di tingkat global.

Dalam sambutannya, Prof. Alim Isnansetyo menyampaikan bahwa perkembangan industri akuakultur global membuka peluang yang semakin luas bagi lulusan perikanan Indonesia. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu terus memperkuat jejaring dengan berbagai mitra industri dan dunia kerja agar mahasiswa memiliki akses terhadap informasi, pengalaman, dan peluang karier yang lebih beragam.

Sementara itu, perwakilan PT Anugerah Bahari Pasifik menjelaskan bahwa program Visa E-7-3 Teknisi Akuakultur dirancang untuk mendukung kebutuhan tenaga profesional di sektor akuakultur internasional. Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif jalur pengembangan karier bagi lulusan perikanan yang memiliki kompetensi teknis dan kesiapan bekerja di lingkungan global.

Diskusi berlangsung secara konstruktif dengan membahas berbagai aspek, mulai dari kebutuhan kompetensi tenaga kerja akuakultur, peluang kerja internasional, hingga kemungkinan pengembangan program kolaboratif yang dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan alumni Departemen Perikanan UGM.

Bagi Departemen Perikanan UGM, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring kemitraan sekaligus memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri perikanan yang terus berkembang. Melalui kerja sama yang baik antara perguruan tinggi dan dunia usaha, lulusan diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik untuk berkontribusi pada sektor perikanan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Audiensi ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki Departemen Perikanan UGM, mulai dari kualitas pendidikan, aktivitas penelitian, hingga pengembangan sumber daya manusia perikanan yang selama ini menjadi salah satu kekuatan institusi.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan akses informasi dan peluang karier bagi mahasiswa, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan konektivitas lulusan dengan dunia kerja profesional, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sektor industri dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia perikanan yang unggul.

Departemen Perikanan UGM Tarik Mahasiswa Magang Berdampak Semester Genap 2025/2026

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta, 6 Juni 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Upacara Penarikan Mahasiswa Magang Berdampak Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan magang yang telah dilaksanakan mahasiswa di berbagai instansi mitra. Kegiatan yang berlangsung secara daring ini dihadiri oleh dosen pembimbing, perwakilan mitra, serta mahasiswa peserta program Magang Berdampak.

Program Magang Berdampak merupakan salah satu bentuk implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat secara langsung dalam dunia kerja, sekaligus menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam konteks nyata sektor perikanan dan kelautan.

Dalam upacara tersebut, Departemen Perikanan secara resmi menarik kembali mahasiswa yang telah menyelesaikan masa penugasannya di berbagai instansi mitra, mulai dari lembaga pemerintah, pelabuhan perikanan, balai riset, hingga institusi pengelolaan sumber daya perikanan di berbagai wilayah Indonesia. Selama menjalani magang, mahasiswa memperoleh pengalaman berharga terkait pengelolaan perikanan tangkap, budidaya perikanan, konservasi sumber daya perairan, pengolahan hasil perikanan, hingga tata kelola sektor perikanan yang berkelanjutan.

Kegiatan penarikan tidak hanya menjadi agenda administratif, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas berbagai pengalaman, tantangan, dan pembelajaran yang diperoleh mahasiswa selama berada di lapangan. Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk mengembangkan kemampuan teknis, komunikasi profesional, kerja tim, serta keterampilan pemecahan masalah yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja.

Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi terhadap capaian pembelajaran mahasiswa sekaligus mengidentifikasi berbagai peluang pengembangan program magang pada periode mendatang. Masukan dari mitra menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa kurikulum dan proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan sektor perikanan yang terus berkembang.

Departemen Perikanan UGM juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh instansi mitra yang telah memberikan pendampingan dan kesempatan belajar bagi mahasiswa selama program berlangsung. Kemitraan yang terjalin diharapkan dapat terus diperkuat untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia perikanan yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan pembangunan sektor perikanan di masa depan.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman profesional, tetapi juga memahami secara langsung dinamika pengelolaan sumber daya perikanan dan peran strategis ilmu perikanan dalam mendukung pembangunan nasional. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal penting dalam membentuk lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan pembelajaran berbasis pengalaman, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan kesiapan kerja mahasiswa, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan berbagai mitra dalam pengembangan pendidikan tinggi yang berdampak bagi masyarakat.

Departemen Perikanan UGM Perluas Implementasi MAYA ke Berbagai Wilayah Pesisir Indonesia

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Sebagai tindak lanjut dari pilot project Pengenalan Pencatatan Digital Usaha Perikanan Tangkap Berbasis WhatsApp yang telah dilaksanakan di Sadeng, Gunungkidul, DIY pada Sabtu, 6 Juni 2026, Departemen Perikanan UGM melakukan diskusi yang membahas perencanaan memperluas implementasi program ke berbagai wilayah pesisir di Indonesia. Program yang diinisiasi oleh Endah Prihatiningtyastuti, S.P., M.Si., M.Phil., Ph.D. saat ini direncanakan akan memperluas ekspansi implementasinya ke wilayah pesisir lain di Padang, Sumatera Barat; Kaur Selatan, Bengkulu; Sumbawa, Nusa Tenggara Barat; Manggarai, Nusa Tenggara Timur; Halmahera Tengah, Maluku Utara. Perluasan ini dilakukan melalui kolaborasi dengan enam mahasiswa Departemen Perikanan yang akan menjalankan program KKN-PPM UGM sebagai bagian dari mata kuliah wajib pengabdian masyarakat berbasis riset dan ilmu pengetahuan.

Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa membawa inovasi pencatatan hasil tangkapan dan keuangan usaha berbasis WhatsApp dengan dukungan AI (Artificial Intelligence) bernama MAYA (Manajemen Aktivitas Nelayan). MAYA dirancang sebagai asisten digital bagi perempuan pesisir untuk membantu pencatatan keuangan usaha perikanan secara sederhana, praktis, dan lebih presisi. Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat mempermudah ibu-ibu pesisir dalam memahami kondisi keuangan usahanya, memantau perkembangan usaha dari waktu ke waktu, serta mendukung pengambilan keputusan ekonomi yang lebih tepat.

Selain membantu pencatatan pemasukan dan pengeluaran, sistem ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha perikanan untuk memiliki riwayat keuangan yang lebih tertata. Catatan tersebut dapat menjadi modal penting ketika mengakses bantuan usaha maupun pengajuan kredit. Dengan demikian, digitalisasi pencatatan keuangan tidak hanya berfungsi sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga perempuan pesisir.

Meski teknologi MAYA masih terus disempurnakan, proses implementasi di berbagai daerah menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem. Melalui keterlibatan mahasiswa Departemen Perikanan yang akan menjalankan kegiatan KKN-PPM UGM, tim peneliti dapat melakukan pengujian langsung di lapangan, mengumpulkan data penggunaan, sekaligus memahami kebutuhan nyata masyarakat pesisir melalui pendekatan bottom-up. Pendekatan ini memungkinkan teknologi dikembangkan secara lebih adaptif sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan kapasitas pengguna di tingkat akar rumput. Inisiatif ini sekali lagi menjadi wujud komitmen Departemen Perikanan UGM, dalam menghadirkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Inisiatif pengembangan dan perluasan implementasi MAYA juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) melalui penguatan ekonomi rumah tangga nelayan, SDG 5 (Gender Equality) dengan meningkatkan kapasitas dan peran perempuan pesisir dalam pengelolaan usaha perikanan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui dukungan terhadap usaha mikro perikanan yang lebih produktif dan berkelanjutan, serta SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk mendukung transformasi sektor perikanan. Selain itu, program ini juga mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, masyarakat pesisir, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun inovasi yang berdampak nyata bagi pembangunan pesisir Indonesia. Dengan demikian, MAYA tidak hanya menjadi inovasi teknologi pencatatan usaha, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat yang mendorong terciptanya pembangunan perikanan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Limbah Jadi Peluang: SinnTech Webinar #37 UGM Soroti Masa Depan Blue Bioeconomy dari Sektor Perikanan

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Di tengah meningkatnya tantangan lingkungan dan tuntutan industri yang lebih berkelanjutan, konsep blue bioeconomy mulai menjadi perhatian dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan. Melalui SinnTech Webinar #37 yang diselenggarakan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, salah satu sesi menarik disampaikan oleh Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si. melalui materi bertajuk “The Blue Bioeconomy: Bioconverting Fisheries Waste into High-Value Commodities.”

Dalam paparannya, Dr. Latif mengajak peserta melihat limbah perikanan dari perspektif berbeda. Selama ini, limbah hasil perikanan kerap dipandang sebagai sisa produksi yang menimbulkan persoalan lingkungan. Namun melalui pendekatan blue bioeconomy, limbah justru dapat menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Konsep bioekonomi biru menempatkan sumber daya perairan sebagai bagian dari sistem yang saling terhubung, di mana hasil samping dan limbah industri tidak berhenti sebagai produk buangan, tetapi dapat dikonversi menjadi berbagai produk bernilai tambah. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang menekankan efisiensi penggunaan sumber daya dan minimisasi limbah.

Dalam sesi webinar tersebut, Dr. Latif menyoroti pentingnya inovasi biokonversi limbah perikanan, yaitu proses mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi baru. Limbah hasil pengolahan ikan dapat dimanfaatkan menjadi berbagai komoditas seperti bahan baku pakan, produk bioaktif, pupuk organik, kolagen, gelatin, hingga produk industri lainnya.

Menurutnya, sektor perikanan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan pendekatan ini mengingat tingginya produksi hasil perikanan nasional yang juga menghasilkan volume limbah cukup besar. Apabila dikelola secara tepat, limbah tersebut dapat menjadi sumber ekonomi baru sekaligus mengurangi tekanan lingkungan.

Materi yang disampaikan juga memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah modern tidak lagi hanya berbicara tentang pembuangan akhir, tetapi tentang bagaimana mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya melalui inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain aktif sebagai dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Latif memiliki pengalaman panjang dalam bidang pengelolaan dan pemanfaatan limbah industri perikanan. Beliau mengampu berbagai mata kuliah seperti Manajemen Limbah Industri Perikanan, Teknologi Pemanfaatan Limbah Perikanan, hingga Biokonversi dan Bioekonomi Limbah Perikanan.

Pengalaman tersebut memperkuat pesan bahwa pengembangan bioekonomi biru membutuhkan kolaborasi lintas bidang, mulai dari riset, teknologi, industri, hingga pendidikan tinggi.

SinnTech Webinar #37 menjadi ruang penting untuk mempertemukan mahasiswa, akademisi, peneliti, dan praktisi dalam mendiskusikan masa depan industri perikanan yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pengelolaan sumber daya yang semakin kompleks, gagasan tentang mengubah limbah menjadi peluang menjadi salah satu langkah strategis menuju masa depan perikanan Indonesia.

Kegiatan ini mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-12 (Responsible Consumption and Production), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan inovasi ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

 

Sambut UM UGM 2026, Departemen Perikanan Siapkan Generasi Pemimpin Masa Depan Sektor Perikanan Indonesia

Berita Senin, 25 Mei 2026

Yogyakarta — Momentum penerimaan mahasiswa baru melalui Ujian Mandiri (UM) UGM 2-8 Juni 2026 menjadi lebih dari sekadar proses seleksi masuk perguruan tinggi. Bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, kehadiran calon mahasiswa baru merupakan langkah awal dalam menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi pemimpin di sektor perikanan Indonesia.

Departemen Perikanan UGM menyambut pelaksanaan UM UGM 2026 dengan semangat membangun ruang belajar yang melahirkan sumber daya manusia berkualitas, adaptif, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya perairan. Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan, Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta muda yang siap menjadi penggerak perubahan.

Perikanan saat ini bukan lagi sekadar berbicara mengenai menangkap ikan atau kegiatan budidaya semata. Dunia perikanan telah berkembang menjadi bidang multidisiplin yang menggabungkan sains, teknologi, ekonomi, sosial, lingkungan, hingga kebijakan publik. Karena itu, Departemen Perikanan UGM berkomitmen membentuk lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, keterampilan lapangan, kapasitas riset, serta jiwa kepemimpinan yang kuat.

Melalui berbagai program studi yang dimiliki, mahasiswa dibekali pengalaman belajar yang luas mulai dari kegiatan praktikum, riset, magang industri, program internasional, pengabdian masyarakat, hingga keterlibatan dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menjadi inovator, peneliti, akademisi, pengambil kebijakan, maupun wirausahawan sektor perikanan.

Departemen Perikanan UGM percaya bahwa pemimpin masa depan sektor perikanan lahir dari individu yang memiliki kemampuan ilmu pengetahuan sekaligus kepekaan sosial. Laut, pesisir, dan sumber daya perikanan Indonesia membutuhkan generasi yang mampu melihat tantangan bukan sebagai hambatan, tetapi peluang untuk menghadirkan solusi.

Penerimaan mahasiswa baru melalui UM UGM menjadi pintu masuk bagi calon-calon talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk tumbuh dan berkembang bersama lingkungan akademik yang kolaboratif dan dinamis. Selamat berjuang kepada seluruh peserta UM UGM 2026. Semoga perjalanan ini menjadi langkah awal untuk menorehkan kontribusi nyata bagi masa depan perikanan Indonesia.

Semangat ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan pendidikan tinggi yang menghasilkan generasi unggul dan berdampak bagi masyarakat.

Magang Berdampak Mahasiswa Perikanan UGM: Suara Nelayan Juwana Diangkat ke Ruang Akademik dan Kebijakan

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Program Magang Berdampak di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali melahirkan karya penelitian yang dekat dengan realitas masyarakat pesisir. Salah satu mahasiswa, berhasil mengangkat dinamika sosial-ekonomi nelayan melalui penelitian berjudul “Protes Nelayan terhadap Kebijakan Penerimaan Negara Bukan Pajak Pasca Produksi di Pelabuhan Perikanan Pantai Juwana.”

Penelitian ini lahir dari pengalaman lapangan yang diperoleh selama kegiatan magang dan observasi langsung di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana, Kabupaten Pati. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, Ia melakukan wawancara dengan pemilik kapal, pengurus kapal, ABK, hingga pihak pelabuhan untuk memahami dampak kebijakan PNBP pasca produksi terhadap kehidupan nelayan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem PNBP pasca produksi sejak 2023 memunculkan keresahan di kalangan nelayan Pantura. Bentuk protes yang dilakukan meliputi demonstrasi, audiensi langsung, pemasangan surat terbuka, hingga penundaan pembayaran PNBP. Nelayan menilai kebijakan tersebut memberatkan karena pendapatan mereka sangat bergantung pada cuaca, musim, dan hasil tangkapan yang fluktuatif. Selain itu, adanya ancaman suspend izin kapal, denda keterlambatan pembayaran, serta ketidaksesuaian harga acuan ikan dengan harga pasar menjadi persoalan utama yang dirasakan nelayan.

Menariknya, penelitian ini tidak hanya menyoroti konflik kebijakan, tetapi juga menunjukkan pentingnya dialog antara pemerintah dan masyarakat pesisir. Respons dari pihak pelabuhan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang membuka ruang diskusi menjadi indikasi bahwa pengelolaan perikanan membutuhkan pendekatan partisipatif dan adaptif.

Melalui pengalaman Magang Berdampak, Mahasiswa tersebut tidak hanya belajar metode penelitian, tetapi juga memahami secara langsung kompleksitas kehidupan nelayan dan tata kelola sektor perikanan nasional. Pengalaman ini memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan ilmu akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.

Program ini juga memiliki keterkaitan kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian mengenai kesejahteraan nelayan mendukung SDG 1 (No Poverty) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui perhatian terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas. Selain itu, kajian tata kelola perikanan yang lebih adil dan partisipatif turut mendukung SDG 14 (Life Below Water) dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan dialog antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui karya seperti ini, mahasiswa Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa riset bukan hanya tentang data dan teori, tetapi juga tentang menghadirkan suara masyarakat pesisir ke ruang akademik dan pengambilan kebijakan.

Mahasiswa Perikanan UGM Dipersiapkan Menjadi Pemimpin Masa Depan melalui Mata Kuliah Kepemimpinan

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada terus memperkuat komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan, integritas, dan kemampuan kolaboratif. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Mata Kuliah Kepemimpinan yang dirancang untuk membentuk mahasiswa menjadi calon pemimpin muda di sektor perikanan dan kelautan.

Dalam mata kuliah ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh teori mengenai kepemimpinan, tetapi juga dibekali sistem penilaian berbasis karakter dan keterampilan umum melalui rubrik evaluasi yang komprehensif. Penilaian mencakup kesadaran terhadap kepentingan bangsa, sikap profesional, tanggung jawab, kemampuan menghargai sesama, kerja tim, hingga kemampuan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan nyata di lapangan.

Sebelum memasuki tahap evaluasi, mahasiswa juga mendapatkan pembelajaran inspiratif melalui kuliah umum yang menghadirkan berbagai tokoh prominent dari dunia akademik, industri, pemerintahan, hingga praktisi perikanan. Kehadiran para tokoh tersebut memberikan wawasan mengenai tantangan kepemimpinan, inovasi, serta pentingnya kolaborasi dalam membangun sektor perikanan yang berkelanjutan.

Salah satu mahasiswa yang menunjukkan perkembangan positif dalam proses pembelajaran ini adalah Muhammad Jibril Syahid. Dalam berbagai aktivitas akademik dan praktik lapangan, Jibril dikenal aktif membangun komunikasi, mampu bekerja sama dalam tim, serta menunjukkan tanggung jawab tinggi dalam menyelesaikan tugas. Kemampuannya dalam memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan lapangan menjadi salah satu indikator penting dalam pembentukan karakter kepemimpinan mahasiswa.

Melalui pendekatan pembelajaran ini, mahasiswa didorong untuk memahami bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga empati, integritas, kemampuan bekerja sama, dan keberanian mengambil keputusan.

Program ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Quality Education melalui penguatan pendidikan berkualitas berbasis kompetensi dan karakter. Selain itu, pengembangan kepemimpinan, kolaborasi, dan kemampuan problem solving turut mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) serta SDG 14 (Life Below Water) melalui pembentukan sumber daya manusia perikanan yang profesional dan berorientasi pada keberlanjutan sumber daya perairan.

Melalui Mata Kuliah Kepemimpinan ini, Departemen Perikanan UGM berharap dapat melahirkan generasi muda yang adaptif, inovatif, dan siap menjadi pemimpin masa depan bagi kemajuan sektor perikanan Indonesia.

Antara Yogyakarta dan Rwanda: Alumni Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Posisi Assistant Lecturer dan Bawa Semangat Kolaborasi Global

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan kembali datang dari alumni internasional Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Joas Iradukunda, alumni Program Magister Ilmu Perikanan UGM asal Rwanda, resmi diterima untuk posisi Assistant Lecturer bidang Aquaculture and/or Fishery Management di University of Rwanda.

Berdasarkan pengumuman resmi hasil seleksi yang diterbitkan pada 9 Mei 2026 oleh College of Veterinary Medicine and Animal Sciences, University of Rwanda, Joas memperoleh nilai 90,3, menjadi peserta dengan skor tertinggi pada kategori Assistant Lecturer (Aquaculture and/or Fishery Management) dan dinyatakan Passed (Recommended for Recruitment). Pencapaian tersebut menempatkannya sebagai kandidat utama untuk bergabung dalam pengembangan pendidikan tinggi dan riset perikanan di Rwanda.

Perjalanan Joas menuju capaian tersebut bukanlah perjalanan singkat. Ia merupakan mahasiswa internasional penerima Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship, program beasiswa pemerintah Indonesia yang membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai negara berkembang untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia sekaligus memperkuat kerja sama internasional melalui pendidikan dan diplomasi akademik.

Selama menempuh pendidikan di Magister Ilmu Perikanan UGM, Joas mendapatkan pendampingan akademik dari dua dosen Departemen Perikanan UGM, yaitu Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dan Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. Keduanya tidak hanya berperan sebagai pembimbing akademik, tetapi juga menjadi sosok penting dalam perjalanan studi Joas selama berada jauh dari negara asalnya.

Bagi Joas, proses pendidikan yang ia jalani di UGM bukan sekadar hubungan formal antara mahasiswa dan dosen. Di balik proses penelitian, diskusi, dan bimbingan akademik, terdapat dukungan personal yang membentuk pengalaman belajarnya selama menempuh studi.

Dalam ungkapan rasa syukurnya, Joas menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pembimbingnya:

“Thank you very much for your supervision, guidance, and continuous support. I truly appreciate everything you have done for me, not only as a supervisor but also like a parent. I am sincerely grateful.”

Ungkapan tersebut menggambarkan hubungan yang terbangun tidak hanya sebatas proses akademik, tetapi juga kedekatan dan dukungan kemanusiaan yang sering menjadi kekuatan tersendiri dalam perjalanan mahasiswa internasional. Menempuh studi di negara baru dengan lingkungan budaya yang berbeda tentu menghadirkan tantangan, sehingga kehadiran pembimbing yang suportif menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Selama belajar di Yogyakarta, Joas tidak hanya memperdalam ilmu tentang akuakultur dan manajemen perikanan, tetapi juga membangun jejaring internasional serta pengalaman akademik lintas budaya. Lingkungan pendidikan di UGM mempertemukannya dengan berbagai perspektif mengenai keberlanjutan sumber daya perikanan, pembangunan masyarakat, hingga tantangan pangan global.

Kini, setelah kembali ke Rwanda dan berhasil meraih posisi Assistant Lecturer, Joas membawa lebih dari sekadar gelar akademik. Ia membawa pengalaman, pengetahuan, serta semangat kolaborasi global yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Indonesia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, capaian Joas menjadi bukti bahwa pendidikan memiliki dampak lintas batas negara. Alumni internasional tidak hanya kembali sebagai lulusan, tetapi juga menjadi jembatan pengetahuan dan agen perubahan yang memperluas kontribusi UGM di tingkat global.

Kisah Joas juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Pendidikan berkualitas dan kolaborasi internasional menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang mampu memberikan dampak nyata lintas negara dan budaya.

Belajar di Tengah Ombak: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Pentingnya Keselamatan Kerja Awak Kapal Perikanan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Bagi Azzahra Qanita Rafifah, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Program Magang Berdampak menjadi kesempatan untuk melihat langsung dinamika kehidupan di atas kapal perikanan sekaligus memahami pentingnya aspek keselamatan kerja bagi awak kapal.

Selama menjalani kegiatan magang, Azzahra melakukan pengamatan dan pembelajaran mengenai keselamatan kerja pada kapal perikanan jala jatuh berkapal (cast net). Pengalaman lapangan tersebut membawanya pada satu kesimpulan penting: aktivitas penangkapan ikan bukan hanya soal hasil tangkapan, tetapi juga menyangkut keselamatan para pekerja di laut.

Menurut Azzahra, kehidupan di atas kapal menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan pekerjaan pada umumnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu, gelombang tinggi, serta aktivitas kerja yang berlangsung di ruang terbatas menciptakan risiko yang harus dihadapi setiap awak kapal.

“Magang membuat saya memahami bahwa nelayan dan awak kapal bekerja dalam situasi yang penuh tantangan. Ada risiko yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat, tetapi sangat nyata dirasakan di lapangan,” ungkap Azzahra.

Dari hasil wawancara selama kegiatan magang, ditemukan bahwa cuaca ekstrem dan human error menjadi faktor utama yang memengaruhi kecelakaan kerja di kapal perikanan. Ombak tinggi dan kondisi cuaca buruk disebut sebagai tantangan terbesar selama proses penangkapan ikan berlangsung.

Selain faktor alam, berbagai kecelakaan kerja juga pernah dialami awak kapal, mulai dari terkena garda, terjepit tali tambang, hingga kerusakan mesin kapal ketika beroperasi di laut.

Menariknya, Azzahra juga menemukan bahwa meskipun sebagian besar awak kapal telah mengikuti pelatihan keselamatan, penerapan penggunaan alat pelindung diri masih belum sepenuhnya optimal. Beberapa awak kapal menganggap penggunaan life jacket dapat menghambat mobilitas dan aktivitas kerja saat proses penangkapan berlangsung.

Namun dari sisi fasilitas, kapal-kapal yang diamati telah menunjukkan kesiapan alat komunikasi keselamatan. Ketersediaan radio VHF dan radio MF pada kapal perikanan yang diamati telah memenuhi kriteria sesuai ketentuan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian mencapai 100 persen.

Pengalaman tersebut membuka pandangan Azzahra bahwa keselamatan kerja perlu dipandang sebagai bagian penting dalam sistem perikanan berkelanjutan. Menurutnya, teknologi dan perlengkapan keselamatan harus diiringi dengan budaya disiplin dan kesadaran bersama.

“Keselamatan bukan sekadar aturan, tetapi kebiasaan yang perlu dibangun. Karena keberhasilan melaut tidak hanya soal kembali membawa hasil tangkapan, tetapi juga pulang dengan selamat,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami berbagai aspek sosial, keselamatan, dan tantangan nyata yang dihadapi sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Life Below Water). Penguatan budaya keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menciptakan sektor perikanan yang produktif, aman, dan berkelanjutan.

Mahasiswa Magang Berdampak UGM di Bali: Pengalaman Lapangan Membuka Realitas Penangkapan Ikan Tradisional

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman terjun langsung ke lapangan sering kali menghadirkan pelajaran yang tidak ditemukan di ruang kelas. Hal tersebut dirasakan oleh Dias Aditya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, saat mengikuti Program Magang Berdampak di Bali. Selama menjalani kegiatan magang di kawasan perikanan Pengambengan, Bali, Dias mempelajari praktik penentuan daerah penangkapan ikan oleh nelayan, khususnya peran juru panggung dalam menemukan gerombolan ikan di laut. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses penangkapan ikan tidak hanya bergantung pada teknologi modern, tetapi juga pengetahuan lokal dan pengalaman panjang nelayan di lapangan.

Dias mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman paling menarik selama magang adalah melihat secara langsung bagaimana nelayan membaca kondisi laut sebelum menentukan lokasi penangkapan.

“Selama magang saya menyadari bahwa nelayan memiliki pengetahuan lapangan yang sangat kuat. Mereka membaca arus, gelombang, arah angin, bahkan tanda-tanda keberadaan ikan dari kondisi perairan,” ungkap Dias.

Berdasarkan hasil pengamatannya, juru panggung menentukan daerah penangkapan ikan dengan mempertimbangkan berbagai informasi yang diperoleh dari nelayan lain yang telah lebih dahulu melaut. Informasi tersebut umumnya berasal dari nelayan kapal fiber yang memberikan petunjuk mengenai keberadaan gerombolan ikan.

Dias menjelaskan bahwa terdapat dua mekanisme utama yang digunakan nelayan untuk mencari ikan. Cara pertama adalah sistem kejar, yaitu pencarian secara manual dengan terus bergerak mengikuti indikasi keberadaan ikan. Cara kedua adalah sistem nangko pelak, yang dilakukan dengan bantuan informasi dari nelayan lain di laut.

Selain itu, nelayan juga mengenali keberadaan gerombolan ikan melalui pantulan cahaya di permukaan laut dengan mempertimbangkan kekuatan arus, gelombang, angin, jarak tempuh, serta kedalaman perairan. Pengalaman tersebut juga membuka pandangan Dias mengenai tantangan penggunaan teknologi modern di lapangan. Ia menemukan bahwa alat fish finder yang secara umum digunakan untuk mendeteksi keberadaan ikan ternyata belum sepenuhnya diterapkan dalam praktik penangkapan tertentu.

Salah satu kendala yang ditemukan adalah cahaya dari layar fish finder yang dianggap mengganggu penglihatan juru panggung saat kondisi operasi penangkapan dilakukan tanpa penerangan agar gerombolan ikan lebih mudah diamati. Menurut Dias, pengalaman ini memberinya pelajaran penting bahwa inovasi teknologi dalam sektor perikanan perlu mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan kebiasaan nelayan di lapangan.

“Teknologi memang penting, tetapi harus bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Pengalaman di lapangan membuat saya memahami bahwa solusi perikanan tidak hanya soal alat yang canggih, tetapi juga memahami manusia yang menggunakannya,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga belajar memahami dinamika sektor perikanan secara langsung dari masyarakat pelaku utama di lapangan. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan pengalaman lapangan dan pemahaman praktik perikanan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mencetak generasi perikanan masa depan.

123…8
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY