• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • Kerja Sama
    • Laporan Kinerja UPPS
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • hal. 3
Arsip:

SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Dosen Perikanan UGM Publikasikan Riset Genetika Populasi Kerang Darah untuk Strategi Konservasi Sumber Daya Perikanan

Berita Jumat, 6 Maret 2026

Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada. Dosen perikanan Eko Hardianto, Ph.D berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Population Genetics of the Blood Cockle, Tegillarca granosa (Linnaeus, 1758): A Study of Spatial Genetic Structure Across the Indonesian Archipelago (DOI: 10.1111/maec.70017). Publikasi ini disusun bersama dosen UGM lainnya yaitu, Prof. Eko Setyobudi, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Susanti Mugi Lestari. Publikasi ini menjadi kontribusi penting bagi pengelolaan sumber daya kerang darah di Indonesia.

Kerang darah (Tegillarca granosa) merupakan komoditas kerang yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan penting dalam ekosistem pesisir Asia. Melalui penelitian ini, tim peneliti menelusuri keragaman genetik, sejarah biogeografi, serta struktur populasi spesies tersebut di wilayah kepulauan Indonesia.

Penelitian dilakukan pada lima lokasi berbeda di Indonesia dengan menganalisis variasi sekuens DNA mitokondria dari 200 individu. Hasilnya menunjukkan tingkat keragaman genetik yang tinggi, yang mengindikasikan potensi adaptasi dan ketahanan spesies terhadap perubahan lingkungan. Namun demikian, analisis varians molekuler mengungkap adanya perbedaan genetik yang signifikan antar populasi di berbagai lokasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa penyebaran dan aliran gen antar populasi kerang darah relatif terbatas. Kondisi tersebut diduga mendorong terjadinya adaptasi lokal yang dipengaruhi oleh faktor biologis, oseanografi, dan kondisi geografis masing-masing wilayah.

Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bagi perumusan strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya kerang darah secara berkelanjutan. Informasi mengenai struktur genetik populasi dinilai krusial untuk mendukung kebijakan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem serta menjaga keberlanjutan komoditas perikanan pesisir di masa depan.

Publikasi ini sekaligus menegaskan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam menghasilkan riset berkualitas yang berdampak nyata bagi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia.

Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Inovasi Anak Bangsa: Solusi Biosekuriti Tambak Udang Berbasis Mikroorganisme Laut

Berita Kamis, 26 Februari 2026

Yogyakarta – Inovasi bioteknologi kelautan kembali menjadi sorotan dalam SINTECH Webinar “Integrated Blue Innovation of Shrimp Production UGM” yang digelar pada 26 Februari 2026. Dalam kegiatan ini, startup blue biotech AQUBETA memaparkan terobosan teknologi probiotik alami untuk meningkatkan produktivitas sekaligus biosekuriti budidaya udang di Indonesia.

Industri akuakultur, khususnya budidaya udang vaname, masih menghadapi tantangan besar akibat penyakit mematikan seperti Vibriosis dan AHPND. Penyakit tersebut dapat menurunkan hasil panen hingga 30% bahkan menyebabkan kematian massal dalam semalam. Kondisi ini berdampak pada kerugian miliaran dolar secara global serta menjadi salah satu penyebab utama kegagalan budidaya udang.

Founder & CEO PT. AQUBETA DIPO JAYA, Muhammad Syaifudien Bahry, menjelaskan bahwa perusahaannya menghadirkan pendekatan berbasis mikroorganisme laut sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti antibiotik dan bahan kimia berbahaya. Startup ini telah menjangkau lebih dari 5.000 petambak ikan dan udang di lebih dari 30 wilayah Indonesia, dengan area tambak mencapai 150 hektare dan lebih dari 15 kemitraan B2B sejak produk mulai dipasarkan pada 2023.

Teknologi unggulan AQUBETA memanfaatkan fungi laut Trichoderma reesei dan konsorsium bakteri Bacillus untuk menekan populasi bakteri Vibrio, meningkatkan kualitas air, serta memperkuat sistem imun udang. Uji coba pada tambak terdampak AHPND menunjukkan populasi Vibrio dapat ditekan hanya dalam satu minggu, dengan tingkat kelangsungan hidup panen meningkat hingga 60%.

Produk yang dikembangkan meliputi ANTI V-PRO, AQU PROFEED, dan AQU BACILLUS yang diklaim efektif membunuh patogen, meningkatkan biomassa, memperbaiki pencernaan, serta menjaga kesehatan ekosistem tambak. Selain menawarkan produk, AQUBETA juga membuka kolaborasi riset, distribusi, hingga konsultasi teknis bagi mitra B2B dan B2G.

Inovasi ini diharapkan menjadi langkah penting menuju revolusi blue biotechnology di Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan sektor perikanan melalui teknologi berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Riset Perikanan UGM Ungkap Waktu Terbaik Pemantauan Kualitas Air Sistem Budidaya Nila Merah

Berita Rabu, 18 Februari 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan publikasi ilmiah internasional melalui penelitian berjudul The Diurnal Trend of Water Quality in the Semi-Outdoor Recirculating Aquaculture System for the Red Tilapia (Oreochromis sp.) Production yang dimuat dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Ega Adhi Wicaksono bersama tim peneliti.

Seiring pertumbuhan populasi global, kebutuhan protein terus meningkat sehingga akuakultur menjadi solusi penting untuk ketahanan pangan. Namun, sistem budidaya konvensional membutuhkan air dalam jumlah besar, sementara ketersediaan air di banyak wilayah semakin terbatas. Sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) hadir sebagai alternatif hemat air, tetapi standar operasional pemantauan kualitas air di sistem ini masih terbatas.

Penelitian ini bertujuan mengkaji pola harian (diurnal) kualitas air pada sistem RAS semi-outdoor untuk budidaya nila merah. Pengukuran dilakukan setiap tiga jam selama 24 jam untuk memantau berbagai parameter penting seperti total ammonia nitrogen (TAN), amonia tak terionisasi (NH3), oksigen terlarut, defisit oksigen, pH, dan suhu.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pola perubahan kualitas air yang jelas sepanjang hari. Nilai TAN, oksigen terlarut, dan pH cenderung lebih tinggi pada pagi hari (06.00–09.00), sedangkan suhu dan defisit oksigen meningkat pada sore hingga malam hari (18.00–21.00).

Berdasarkan temuan tersebut, waktu terbaik untuk melakukan pemantauan kualitas air pada RAS semi-outdoor diperkirakan pada pukul 09.00 dan 18.00. Rekomendasi ini menjadi langkah penting dalam penyusunan standar operasional pemantauan kualitas air untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan produksi akuakultur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan teknologi budidaya ikan yang lebih hemat air, produktif, dan berkelanjutan di masa depan.

Penelitian ini sekaligus menegaskan kontribusi riset Departemen Perikanan UGM dalam penguatan pengelolaan sumber daya laut berbasis sains di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Tenaga Kependidikan Departemen Perikanan UGM Ikuti Pelatihan Budidaya Maggot untuk Pengolahan Limbah Organik

Berita Selasa, 10 Februari 2026

Yogyakarta – Upaya penguatan kompetensi tenaga kependidikan terus dilakukan Departemen Perikanan UGM melalui pelatihan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengolahan limbah organik dan pengembangan pakan alternatif berkelanjutan. Kegiatan ini memanfaatkan materi handbook workshop budidaya BSF yang aplikatif dan berbasis praktik lapangan.

Pelatihan ini menekankan pentingnya pengelolaan sampah organik, mengingat lebih dari 50% sampah di Indonesia merupakan limbah mudah busuk seperti sisa makanan rumah tangga, kantin, dan restoran. Tanpa pengolahan yang tepat, limbah tersebut berisiko menularkan penyakit. Budidaya maggot BSF menjadi solusi melalui proses biokonversi, yaitu pemanfaatan larva serangga untuk mengubah limbah organik menjadi biomassa bernilai tinggi sebagai sumber protein dan lemak pakan hewan.

 

Kegiatan pelatihan juga memperkenalkan praktik budidaya BSF yang telah dikembangkan di Teaching Farm PIAT UGM sejak 2018. Farm ini memanfaatkan sisa makanan dari Rumah Sakit Akademik UGM, rumah sakit, kantin fakultas, hingga laboratorium sebagai bahan baku pakan maggot. Program ini bertujuan menciptakan pembelajaran inovatif sekaligus mendukung pengelolaan limbah kampus secara berkelanjutan.

Peserta pelatihan mempelajari siklus hidup BSF mulai dari fase telur, larva, prepupa, pupa, hingga lalat dewasa, serta teknik operasional farm seperti penetasan telur, pemeliharaan, hingga pemanenan maggot. Dalam praktiknya, 1 gram telur BSF dapat menghasilkan minimal 1 kg maggot dalam waktu sekitar 16–18 hari. Maggot segar dapat dijual Rp5.000–8.000/kg, sedangkan maggot kering mencapai Rp40.000–50.000/kg, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Selain meningkatkan kapasitas teknis tenaga kependidikan, pelatihan ini diharapkan memperkuat peran kampus sebagai pusat inovasi pengelolaan limbah, ketahanan pakan, dan kewirausahaan berbasis lingkungan. Budidaya maggot BSF dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung sistem pertanian dan peternakan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Inovasi Riset Perikanan Antar wilayah, Dosen Perikanan UGM Diganjar Best Dissertation PKSPL IPB University

Berita Senin, 9 Februari 2026

Dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Mukti Aprian, kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Ia menerima penghargaan dari PKSPL IPB University, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi akademik dan pengembangan ilmu perikanan.

Penghargaan ini menjadi bukti pengakuan institusi pendidikan tinggi terhadap kiprah Mukti Aprian dalam bidang riset dan pengembangan tata kelola perikanan. Selama ini, ia dikenal aktif menghasilkan karya ilmiah yang berfokus pada pengelolaan perikanan berbasis data, teknologi pemantauan kapal, serta kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Penghargaan tersebut diberikan atas disertasi berjudul “Indeks Pergerakan Perikanan sebagai Transformasi Spasial Lintas Wilayah Pengelolaan Perikanan”. Capaian ini menjadi pengakuan atas kontribusi ilmiah Mukti Aprian dalam pengembangan riset tata kelola perikanan berbasis pendekatan spasial dan data.

Disertasi tersebut mengangkat konsep indeks pergerakan perikanan sebagai pendekatan baru untuk memahami dinamika aktivitas perikanan lintas wilayah pengelolaan. Pendekatan ini dinilai penting untuk mendukung perumusan kebijakan perikanan yang lebih adaptif, terintegrasi, dan berbasis bukti ilmiah.

Prestasi tersebut juga mempertegas peran Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak luas bagi sektor kelautan dan perikanan nasional. Kolaborasi lintas perguruan tinggi, termasuk dengan IPB, menjadi bagian penting dalam memperkuat jejaring riset dan inovasi di bidang perikanan.

Mukti Aprian menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak yang terlibat dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pengembangan ilmu perikanan membutuhkan kolaborasi kuat antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar kebijakan yang dihasilkan berbasis bukti ilmiah.

Prestasi ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi penguatan kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Riset UGM Ungkap Potensi Rumput Laut sebagai Bahan Alami Anti-Jerawat

Berita Kamis, 5 Februari 2026

Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada melalui publikasi terbaru mengenai pemanfaatan rumput laut sebagai bahan alami perawatan kulit. Penelitian berjudul In Vitro Anti-Acne Activity and Bioactive Compound Analysis of Sargassum cristaefolium Ethanolic Extract from Teluk Awur Jepara dipublikasikan dalam Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science Vol. 5 No. 2 (2025) oleh Theresia Adven Dea Kristiani bersama Prof. Amir Husni dan Prof. Alim Isnansetyo.

Jerawat merupakan salah satu gangguan kulit yang paling umum terjadi, terutama pada remaja, dan sering menimbulkan dampak fisik maupun psikologis. Penelitian ini berfokus pada potensi rumput laut Sargassum cristaefolium dari Teluk Awur, Jepara, sebagai kandidat bahan aktif anti-jerawat berbasis alam yang lebih aman dan minim efek samping.

Hasil uji in vitro menunjukkan ekstrak etanol rumput laut tersebut efektif menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat, yaitu Cutibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Selain itu, ekstrak juga mampu melisis sebagian sel bakteri, menandakan aktivitas antibakteri yang menjanjikan.

Tak hanya itu, penelitian juga menemukan aktivitas antioksidan yang signifikan melalui uji DPPH dan ABTS. Analisis kimia menunjukkan kandungan fenol total sebesar 14,17 mg GAE/g serta kandungan sulfat 10,99%. Uji LC-MS mengidentifikasi berbagai senyawa bioaktif penting, seperti karotenoid, terpenoid, steroid, flavonoid, chromenol, dan asam lemak yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri.

Temuan ini membuka peluang pengembangan bahan baku kosmetik dan farmasi berbasis sumber daya laut Indonesia. Penelitian tersebut menegaskan potensi besar rumput laut sebagai inovasi produk perawatan kulit alami sekaligus memperkuat kontribusi riset perikanan UGM dalam bidang bioteknologi kelautan. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mangrove Asia Tenggara Terancam Aktivitas Manusia: Temuan Riset Global Dibahas di SINNTECH Webinar #33 UGM

Berita Rabu, 28 Januari 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui SINNTECH Webinar #33. Webinar yang digelar pada 28 Januari 2026 ini menghadirkan peneliti dari Xiamen University, Ngo Thuy Hao, yang memaparkan riset terbaru mengenai dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove di Asia Tenggara.

Dalam pemaparannya, Hao menjelaskan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan luas mangrove terbesar di dunia. Namun, ekosistem penting ini kini menghadapi tekanan besar akibat berbagai aktivitas manusia seperti ekspansi tambak, pertanian, pembangunan infrastruktur, serta pencemaran nutrien dari daratan.

Melalui pendekatan pemetaan spasial dan model analisis Cumulative Human Impact (CHI), penelitian ini memetakan tingkat tekanan manusia terhadap mangrove di berbagai negara Asia Tenggara. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya sekitar 18,6% kawasan mangrove yang masih tergolong utuh, sementara sebagian besar lainnya telah terpapar berbagai tekanan aktivitas manusia.

Menariknya, beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Myanmar, Kamboja, dan Timor Leste masih menunjukkan tingkat tekanan kumulatif yang relatif rendah. Hal ini memberikan peluang besar untuk upaya konservasi dan restorasi sebelum ekosistem tersebut mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa ekspansi tambak akuakultur menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi degradasi mangrove di kawasan ini, diikuti oleh konversi lahan pertanian, pembangunan jalan, dan polusi nutrien.

Melalui SINNTECH Webinar #33, mahasiswa dan peserta mendapatkan wawasan penting tentang bagaimana pendekatan sains data, pemodelan spasial, dan kolaborasi internasional dapat digunakan untuk memahami sekaligus melindungi ekosistem pesisir yang vital bagi keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan global. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Peneliti UGM Ungkap Identitas Gurita Bernilai Ekonomi Tinggi di Perairan Bengkulu

Berita Kamis, 22 Januari 2026

Kolaborasi dosen dan mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghasilkan publikasi ilmiah internasional. Penelitian berjudul Morphological, Morphometric, and Molecular Identification of Octopus cyanea in the Waters of Kaur District, Bengkulu Province, Indonesia dipublikasikan dalam jurnal Biodiversitas Volume 26 Nomor 6 (Juni 2025) oleh Ahmad Pariansyah, M.Sc., Dr. Ratih Ida Adharini, Dr. Dini Wahyu Kartika Sari, dan Dr. Eko Hardianto.

Gurita merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang melimpah di perairan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Penelitian ini bertujuan memastikan identitas spesies gurita melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan analisis morfologi, morfometrik, dan molekuler.

Sebanyak 68 sampel gurita berhasil dikumpulkan dari perairan Kaur, terdiri atas 20 jantan dan 48 betina. Identifikasi lapangan menunjukkan seluruh sampel merupakan Octopus cyanea, yang memiliki ciri khas mantel berbentuk oval, corong berbentuk huruf W, dua baris pengisap pada setiap lengan, serta pola warna cokelat-putih dengan bintik mata semu (ocelli). Analisis morfometrik juga mengungkap bahwa gurita betina memiliki rasio ukuran tubuh relatif lebih besar dibandingkan jantan pada beberapa parameter penting.

Validasi molekuler menggunakan gen Cytochrome c Oxidase Subunit I (COI) menunjukkan kecocokan 100% dengan data GenBank, memperkuat kepastian identitas spesies. Analisis filogenetik dan jarak genetik menunjukkan populasi gurita dari Kaur memiliki kekerabatan erat dengan populasi dari Jayapura, Buton, Wakatobi, Madagaskar, India, hingga Jepang, menandakan distribusi geografis yang luas.

Temuan ini menjadi dasar ilmiah penting untuk mendukung strategi konservasi dan pengelolaan perikanan gurita secara berkelanjutan. Penelitian ini sekaligus menegaskan kontribusi riset Departemen Perikanan UGM dalam penguatan pengelolaan sumber daya laut berbasis sains di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dari Data Kapal ke Kebijakan: Temuan Baru untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

Berita Jumat, 16 Januari 2026

Salah satu dosen Departemen Perikanan, Mukti Aprian bersama tim peneliti berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Institutionalizing Indonesia’s Commercial Fisheries: Insights From Fleet Dynamics and Vessel Monitoring Systems. Penelitian ini ditulis bersama Luky Adrianto, Mennofatria Boer, Fery Kurniawan, dan Riza Y. Setiawan.

Riset ini menyoroti tantangan besar dalam tata kelola perikanan komersial Indonesia, khususnya terkait lemahnya integrasi hasil monitoring, control, and surveillance (MCS) ke dalam proses kebijakan. Selama beberapa dekade, investasi pada sistem pemantauan perikanan terus meningkat, namun ekspansi armada komersial—baik di perairan nasional maupun lintas batas—masih berlangsung tanpa pengawasan strategis yang memadai.

Penelitian ini menggunakan pendekatan rapid assessment yang menggabungkan pengetahuan berbasis komunitas, teknologi vessel monitoring system (VMS), serta data sekunder. Analisis dilakukan dengan berbagai metode mutakhir, seperti social–ecological network analysis, principal component analysis, self-organizing maps, hingga geographic information systems (GIS). Pendekatan integratif ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi peluang pengambilan keputusan berbasis data secara lebih komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara perikanan berorientasi industri dan perikanan berbasis komunitas. Selain itu, terjadi pergeseran bertahap nelayan tradisional menuju operasi komersial tanpa regulasi yang memadai. Riset juga menyoroti masih rendahnya pemanfaatan hasil penelitian ilmiah dalam kebijakan, serta kesenjangan sosial-ekonomi antara pemilik modal dan awak kapal.

Temuan penting lainnya menunjukkan bahwa kebijakan saat ini cenderung berfokus pada perikanan skala kecil, sementara sektor industri-komersial belum memiliki pengawasan strategis yang kuat. Regulasi yang seragam untuk berbagai tipe perikanan dinilai menghambat respons adaptif terhadap dinamika sektor.

Melalui penelitian ini, tim penulis mengusulkan pembentukan otoritas tata kelola khusus yang mampu mengelola perikanan komersial dan komunitas secara terintegrasi, adaptif, berbasis bukti, serta inklusif secara sosial. Publikasi ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi penguatan kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, publikasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Teknologi Vaksin Ikan Jadi Sorotan di SinnTech #31 UGM, Mahasiswa Diajak Kenal Inovasi Akuakultur

Berita Selasa, 6 Januari 2026

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan kegiatan ilmiah populer SinnTech Webinar #31 yang menghadirkan diskusi menarik mengenai inovasi di bidang perikanan dan akuakultur. Webinar yang dilaksanakan pada 28 November 2025 ini mengangkat tema “Fish Vaccine Development for Sustainable Aquaculture” dan menghadirkan peneliti Desy Sugiani sebagai narasumber utama.

Kegiatan SinnTech kali ini menarik perhatian mahasiswa dan calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia perikanan modern. Dalam pemaparannya, Desy menjelaskan bahwa vaksin ikan menjadi salah satu inovasi penting dalam mendukung sistem budidaya perikanan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan. Vaksin berperan memberikan kekebalan pada ikan sebelum terpapar penyakit, sehingga mampu mencegah infeksi dan wabah yang sering terjadi pada sistem budidaya dengan kepadatan tinggi.

Selain meningkatkan kesehatan ikan, penggunaan vaksin juga memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Dengan adanya vaksin, penggunaan antibiotik dalam budidaya dapat dikurangi secara signifikan, sehingga dapat membantu menekan risiko antimicrobial resistance (AMR) yang menjadi isu global dalam kesehatan manusia dan hewan. Vaksin juga mendukung peningkatan kesejahteraan ikan serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dalam proses pembenihan dan budidaya.

 

Dalam sesi diskusi, peserta juga diajak mengenal perkembangan teknologi vaksin ikan yang terus berkembang, mulai dari vaksin inaktif, vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin subunit, vaksin DNA, hingga live vector vaccines. Masing-masing jenis vaksin memiliki keunggulan dan tantangan tersendiri dalam penerapannya pada berbagai spesies ikan budidaya.

Tak hanya membahas teknologi, webinar ini juga menyoroti kondisi pengembangan vaksin ikan di Indonesia. Saat ini beberapa vaksin telah terdaftar dan digunakan untuk melindungi ikan dari penyakit bakteri seperti Streptococcus dan Aeromonas, yang sering menjadi penyebab kerugian dalam industri budidaya. Proses registrasi vaksin sendiri berada di bawah pengawasan pemerintah melalui mekanisme pengujian dan sertifikasi sebelum dapat digunakan secara luas.

Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa yang tertarik menekuni bidang perikanan, kegiatan SinnTech menjadi ruang belajar yang inspiratif untuk mengenal berbagai inovasi terbaru di dunia akuakultur. Melalui forum ini, Departemen Perikanan UGM berharap dapat mendorong generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi perikanan yang mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

12345
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY