• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • hal. 3
Arsip:

SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Dosen Perikanan UGM Inisiasi Kerja Sama Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Gunungkidul

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Gunungkidul — Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menginisiasi kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat di wilayah Gunungkidul sebagai bagian dari penguatan sinergi akademik dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Kegiatan ini dijalankan oleh tim dosen yang terdiri atas Dr. Endah Prihatiningtyastuti, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Anes Dwi Jayanti. Selain menjadi langkah awal kolaborasi penelitian dan pengabdian, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi bersama masyarakat dan pemangku kepentingan terkait pengembangan potensi wilayah pesisir dan perikanan.

Dalam diskusi tersebut, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari pengelolaan sumber daya perairan, pemberdayaan masyarakat pesisir, penguatan kapasitas kelompok perikanan, hingga peluang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Pendekatan kolaboratif menjadi salah satu fokus utama agar program yang dijalankan tidak hanya berbasis penelitian akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Tim dosen Perikanan UGM menekankan pentingnya integrasi antara penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam proses pengembangan dan pengambilan keputusan.

Selain membahas potensi pengembangan sektor perikanan, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog untuk memahami tantangan lokal yang dihadapi masyarakat, termasuk isu keberlanjutan sumber daya, perubahan lingkungan, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi komunitas pesisir.

Kerja sama ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi jangka panjang antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam pengembangan riset terapan serta program pemberdayaan berbasis kebutuhan lokal.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya berkembang di ruang akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.

Inisiatif ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan  SDG 14 (Life Below Water). Kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan dan inklusif.

Dari Laut ke Ruang Sosial: Dosen Perikanan UGM Bahas Ketahanan Masyarakat Pesisir di Kuliah Umum Undiksha

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Buleleng – Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han) menjadi narasumber dalam kegiatan Kuliah Umum Public Lecture Series #10 dan #11 yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sosiologi bersama Eurasia Foundation di Universitas Pendidikan Ganesha pada 5 Mei 2026.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Balingkang Confucius Institute Undiksha tersebut, Dr. Mukti Aprian akan menyampaikan materi bertajuk “Relasi antar Masyarakat Pesisir di Indonesia: Potensi Ketahanan Sosial dan Budaya Menuju Indonesia Emas”. Materi ini menyoroti pentingnya memahami masyarakat pesisir tidak hanya dari aspek ekonomi dan produksi, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, dan relasi antar komunitas.

Dalam berbagai publikasinya, Dr. Mukti Aprian dikenal aktif mengangkat isu-isu sosial dalam sektor perikanan, termasuk dinamika masyarakat pesisir, hubungan sipil-militer dalam pengelolaan sumber daya laut, hingga perubahan orientasi riset perikanan modern yang dinilai semakin mengesampingkan aspek sosial. Salah satu kajiannya bahkan menyoroti bagaimana penelitian fleet dynamics perikanan global mengalami kecenderungan dominasi pendekatan ekonomi dan teknis, sementara dimensi sosial masyarakat nelayan perlahan memudar.

Menurutnya, sektor perikanan tidak dapat dipahami hanya melalui angka produksi atau efisiensi ekonomi semata. Di balik aktivitas perikanan terdapat relasi sosial, nilai budaya, solidaritas komunitas, hingga mekanisme adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan dan kebijakan.

Dalam beberapa penelitiannya, ia juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dan partisipatif dalam tata kelola sumber daya pesisir. Ketahanan sektor perikanan, menurutnya, tidak hanya bergantung pada kondisi ekologi laut, tetapi juga pada kekuatan relasi sosial masyarakat yang hidup di dalamnya.

Kehadiran Dr. Mukti Aprian sebagai pembicara di forum lintas disiplin ini menunjukkan bahwa ilmu perikanan memiliki keterkaitan erat dengan ilmu sosial dan humaniora. Selain Dr. Mukti, pembicara lainnya adalah Dr. phil. Geger Riyanto dari Program studi Antropologi Universitas Indonesia yang membawakan paparan dengan tema, “Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir di Maluku.” Dengan hadirnya berbagai ahli di bidang yang berbeda, pendekatan multidisiplin dinilai semakin penting untuk menjawab tantangan kompleks di wilayah pesisir Indonesia.

Kegiatan kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai bidang ilmu, serta menghadirkan ruang diskusi mengenai masyarakat pesisir sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Sejalan dengan itu, gagasan yang diangkat dalam kuliah umum ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water),  SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi ,dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Penguatan ketahanan sosial masyarakat pesisir menjadi bagian penting dalam menciptakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Fakultas Pertanian UGM dan FisTx Indonesia Tandatangani MoU Penguatan Inovasi Akuakultur Berkelanjutan

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Yogyakarta — Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada resmi menjalin kerja sama strategis dengan FisTx Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam upaya memperkuat inovasi dan pengembangan akuakultur berkelanjutan di Indonesia.

Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam mempertemukan dunia akademik dengan industri berbasis teknologi perikanan. Kerja sama diarahkan pada pengembangan riset, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, implementasi teknologi budidaya modern, hingga penguatan ekosistem akuakultur yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Sebagai perusahaan rintisan berbasis teknologi akuakultur, FisTx Indonesia dikenal aktif mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung produktivitas budidaya, khususnya sektor tambak udang dan perikanan modern. Perusahaan ini mengembangkan solusi seperti teknologi UV tambak, sistem budidaya terukur, pendampingan petambak, hingga pengelolaan kualitas air berbasis teknologi.

Dalam beberapa tahun terakhir, FisTx juga aktif memperkenalkan inovasi teknologi budidaya berkelanjutan, termasuk teknologi elektrolisis untuk meningkatkan kualitas air tambak dan mengurangi penggunaan bahan kimia dalam budidaya udang.

Melalui kerja sama ini, Fakultas Pertanian UGM berharap mahasiswa dan dosen dapat memperoleh ruang kolaborasi yang lebih luas dengan dunia industri, baik dalam bentuk penelitian terapan, program magang, pengembangan inovasi, maupun hilirisasi teknologi perikanan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dinilai semakin penting di tengah tantangan sektor akuakultur modern yang membutuhkan pendekatan multidisiplin dan berbasis teknologi. Integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri diharapkan mampu melahirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat pembudidaya.

Selain mendukung pengembangan teknologi, kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi sektor perikanan menuju sistem budidaya yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sejalan dengan itu, penandatanganan MoU ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomidan SDG 14 (Life Below Water). Sinergi antara perguruan tinggi dan industri menjadi langkah strategis dalam memperkuat inovasi akuakultur sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

Generasi Muda Diajak Kenal Keamanan Pangan Perikanan dalam Sosialisasi di BPTPB Cangkringan

Berita Senin, 4 Mei 2026

Sleman — Upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya keamanan pangan produk perikanan terus dilakukan melalui kegiatan edukatif dan interaktif. Pada Selasa, 28 April 2026, UPTD Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya menggelar kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan Produk Perikanan Budidaya di kawasan Argomulyo, Cangkringan.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas anggota Saka Bahari Kota Yogyakarta serta siswa-siswi SMK Sanden. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami pentingnya penerapan keamanan pangan dalam budidaya ikan, mulai dari proses produksi hingga pengelolaan hasil perikanan yang memenuhi standar mutu dan aman dikonsumsi.

Acara diawali dengan sesi pematerian di dalam ruangan. Materi pertama disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta mengenai program KAWEDAR (Kaweruh Digital Mina lan Samudra). Program ini merupakan inisiatif edukasi digital yang bertujuan memperluas penyebaran informasi dan literasi sektor kelautan dan perikanan melalui media sosial dan platform digital agar lebih mudah diakses masyarakat.

Selanjutnya, Rifki Listianto selaku anggota Komisi B DPRD Kota Yogyakarta memaparkan pentingnya dukungan kebijakan terhadap jaminan mutu produk perikanan. Ia menjelaskan bahwa DPRD memiliki peran strategis melalui fungsi penganggaran, pengawasan, dan legislasi untuk mendukung pengembangan sektor perikanan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Materi utama mengenai Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) disampaikan oleh Desy Putri Handayani. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa keamanan pangan harus dimulai sejak proses budidaya. Peserta dikenalkan pada berbagai aspek penting, seperti kualitas air, manajemen pakan, desain kolam yang baik, sanitasi lingkungan, hingga pemilihan benih sehat.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep Feed Conversion Ratio (FCR), yaitu indikator efisiensi penggunaan pakan dalam budidaya ikan. Pemahaman mengenai FCR dinilai penting karena berkaitan langsung dengan produktivitas budidaya sekaligus efisiensi biaya produksi.

Tidak hanya berlangsung di dalam kelas, kegiatan juga dilanjutkan dengan sesi lapangan melalui kunjungan ke UKBAT Wonocatur. Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat secara langsung praktik budidaya ikan air tawar dan berbagai komoditas yang dikembangkan, seperti ikan lele, nila, tawes, hingga wader pari.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis mengenai sistem budidaya ikan yang baik dan aman. Pendekatan edukatif berbasis pengalaman lapangan diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor perikanan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 4 (Quality Education), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan tujuan ke-14 (Life Below Water). Edukasi mengenai keamanan pangan dan budidaya berkelanjutan menjadi langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan.

Hari Buruh 2026: Departemen Perikanan UGM Refleksikan Masa Depan Pekerja Sektor Perikanan

Berita Jumat, 1 Mei 2026

Yogyakarta, 1 Mei 2026 — Peringatan Hari Buruh Internasional menjadi momentum refleksi bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada terhadap kondisi dan masa depan pekerja di sektor perikanan. Di tengah tantangan perubahan iklim, tekanan ekonomi, dan transformasi industri, pekerja perikanan dinilai menjadi kelompok yang memiliki peran vital namun sering kali menghadapi berbagai kerentanan.

Sektor perikanan selama ini tidak hanya menopang ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat pesisir, nelayan, pembudidaya, pengolah hasil perikanan, hingga pekerja rantai distribusi. Namun demikian, berbagai persoalan seperti ketidakpastian pendapatan, risiko kerja tinggi, akses perlindungan sosial yang terbatas, hingga tekanan terhadap sumber daya laut masih menjadi tantangan nyata.

Melalui momentum Hari Buruh, sivitas akademika Departemen Perikanan UGM menekankan pentingnya membangun sistem perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga adil bagi para pekerja di dalamnya. Pendekatan keberlanjutan dinilai harus mencakup aspek sosial, termasuk kesejahteraan tenaga kerja, keselamatan kerja, serta akses terhadap pendidikan dan teknologi.

Selain itu, perkembangan teknologi dan modernisasi sektor perikanan juga perlu diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Transformasi menuju perikanan modern tidak boleh meninggalkan masyarakat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi perikanan nasional.

Dalam konteks akademik, Departemen Perikanan UGM terus mendorong penelitian dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada penguatan ketahanan sosial-ekonomi komunitas perikanan. Berbagai kajian tentang dinamika nelayan, perikanan adaptif, hingga tata kelola sumber daya pesisir menjadi bagian dari upaya memahami realitas pekerja perikanan secara lebih utuh.

Hari Buruh juga menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sektor perikanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologi laut, tetapi juga oleh kesejahteraan manusia yang bergantung padanya. Laut yang sehat perlu diiringi dengan kehidupan pekerja yang layak dan bermartabat.

Sejalan dengan itu, refleksi ini juga berkaitan erat dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya  SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas dan SDG 14 (Life Below Water). Pengelolaan perikanan yang berkelanjutan harus berjalan beriringan dengan penciptaan pekerjaan yang layak, perlindungan pekerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Departemen Perikanan UGM Gelar FGD dan Kegiatan Lapangan Pengembangan Perikanan Adaptif di Kulon Progo

Berita Rabu, 29 April 2026

Yogyakarta, 29 April 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada akan menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan kegiatan lapangan bertajuk “Pengembangan Model Perikanan Adaptif untuk Meningkatkan Ketahanan Sosial, Ekonomi, dan Ekologi” di wilayah Kulon Progo.

Kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk merespons tantangan sektor perikanan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, tekanan terhadap sumber daya, hingga dinamika sosial-ekonomi masyarakat pesisir dan pembudidaya. Pendekatan perikanan adaptif dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sistem yang tangguh dan berkelanjutan.

FGD akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, praktisi, pemerintah daerah, serta pelaku usaha perikanan. Diskusi ini bertujuan untuk menggali perspektif bersama dalam merumuskan model pengelolaan perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga resilien terhadap perubahan lingkungan dan sosial. Kegiatan ini rencananya akan dihadiri oleh lebih dari 45 peserta dari berbagai latar belakang, mencerminkan tingginya antusiasme terhadap isu perikanan adaptif.

Sebagai narasumber utama, Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. memaparkan konsep dan implementasi perikanan adaptif, termasuk pentingnya integrasi antara aspek ekologi, ekonomi, dan sosial dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Ia menekankan bahwa pendekatan adaptif harus berbasis pada kondisi lokal serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen-dosen perikanan yaitu Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si., dan Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han).

Selain diskusi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan di kawasan perikanan Kulon Progo. Peserta akan melihat langsung praktik-praktik pengelolaan perikanan yang telah berjalan, sekaligus mengidentifikasi tantangan dan peluang pengembangan di tingkat lokal.

Kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan dan model implementatif yang dapat diterapkan secara lebih luas. Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah dan pengalaman lapangan, Departemen Perikanan UGM berupaya mendorong transformasi sektor perikanan menuju sistem yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Lebih jauh, inisiatif ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 13 (Climate Action), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan SDG 14 (Life Below Water). Pengembangan perikanan adaptif menjadi langkah penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem perairan dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung padanya.

Kisah Karier Auditor Sustainable Aquaculture dari Lulusan Perikanan UGM

Berita Senin, 27 April 2026

Yogyakarta — Perjalanan karier lulusan perikanan tidak selalu berakhir di tambak atau laboratorium. Hal ini tergambar dalam episode podcast bertajuk “Kisah Karier Auditor Sustainable Aquaculture dari Lulusan Perikanan UGM” yang menghadirkan Cindy Silvia Hadi sebagai narasumber, dengan Dr. Anes Dwi Jayanti sebagai host.

Dalam perbincangan tersebut, Cindy membagikan kisah perjalanannya meniti karier sebagai auditor di bidang sustainable aquaculture—sebuah profesi yang berperan penting dalam memastikan praktik budidaya perikanan berjalan sesuai standar keberlanjutan global. Profesi ini menuntut pemahaman mendalam tidak hanya pada aspek teknis budidaya, tetapi juga pada regulasi, lingkungan, hingga tata kelola industri.

Cindy menjelaskan bahwa latar belakang pendidikan di bidang perikanan, khususnya pemahaman tentang kualitas air, manajemen pakan, dan kesehatan ikan, menjadi fondasi penting dalam pekerjaannya saat ini. Kompetensi tersebut diperkuat dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang dibutuhkan dalam proses audit, termasuk saat berinteraksi dengan pelaku industri.

“Perikanan itu luas, dan peluangnya tidak hanya di produksi, tetapi juga di aspek keberlanjutan,” menjadi salah satu pesan kunci yang disampaikan dalam diskusi tersebut.

Sebagai auditor, Cindy terlibat dalam proses evaluasi praktik budidaya di berbagai perusahaan untuk memastikan kesesuaian dengan standar internasional yang berorientasi pada lingkungan dan keberlanjutan. Peran ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap produk perikanan yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

Sementara itu, host Dr. Anes Dwi Jayanti menekankan bahwa perkembangan sektor akuakultur saat ini memang membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif dan memiliki perspektif multidisiplin. Dunia perikanan tidak lagi hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang keberlanjutan, sertifikasi, dan tata kelola global.

Podcast ini juga menjadi refleksi bahwa lulusan perikanan memiliki spektrum karier yang luas, mulai dari praktisi budidaya, peneliti, hingga profesional di bidang audit dan sertifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan perikanan mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.

Secara lebih luas, peran auditor dalam akuakultur berkelanjutan juga berkaitan erat dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Melalui pengawasan dan evaluasi praktik budidaya, auditor membantu memastikan bahwa produksi perikanan tetap menjaga keseimbangan ekosistem serta memenuhi standar keberlanjutan global.

Link Youtube: Kisah Karier Auditor Sustainable Aquaculture dari Lulusan Perikanan UGM

Refleksi Perikanan UGM di Hari Bumi 2026: Saatnya Kembali Mendengar Laut

Berita Rabu, 22 April 2026

Yogyakarta, 22 April 2026 — Momentum Hari Bumi tahun ini menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan di lingkungan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada. Di tengah meningkatnya krisis lingkungan global, kalangan akademisi perikanan UGM memanfaatkan momen ini untuk merefleksikan kembali arah pembangunan sektor perikanan—yang dinilai semakin menjauh dari akar persoalan sebenarnya.

Isu perikanan hari ini tidak lagi sesederhana soal produksi dan peningkatan hasil tangkapan. Kerusakan ekosistem laut, praktik penangkapan berlebih, hingga pencemaran menjadi tantangan nyata yang berdampak langsung pada keberlanjutan sumber daya dan kehidupan masyarakat pesisir.

Di sisi lain, perubahan iklim memperparah situasi. Pola musim yang tidak menentu dan kondisi laut yang semakin sulit diprediksi membuat nelayan berada dalam posisi rentan. Namun, dalam banyak kasus, suara mereka justru belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan.

Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. menilai bahwa pendekatan perikanan modern perlu dikaji ulang. Menurutnya, selama ini fokus yang terlalu besar pada aspek teknis dan produksi membuat dimensi sosial cenderung terpinggirkan.

“Perikanan bukan hanya soal sumber daya, tetapi juga tentang manusia dan relasi sosial di dalamnya. Ketika aspek ini diabaikan, maka solusi yang dihasilkan seringkali tidak menyentuh akar masalah,” ujarnya.

Refleksi ini mengarah pada satu kesadaran penting: keberlanjutan perikanan tidak bisa dicapai tanpa keseimbangan antara ekologi dan sosial. Pendekatan berbasis ekosistem perlu berjalan seiring dengan penguatan partisipasi masyarakat, khususnya nelayan sebagai aktor utama di lapangan.

Di lingkungan kampus, gagasan ini mulai diterjemahkan ke dalam berbagai aktivitas. Mahasiswa didorong untuk lebih dekat dengan realitas pesisir, tidak hanya melalui penelitian, tetapi juga melalui pengabdian masyarakat dan kolaborasi lintas sektor. Harapannya, ilmu yang dihasilkan tidak berhenti pada publikasi, tetapi mampu memberi dampak nyata.

Sejalan dengan itu, refleksi ini juga berkaitan erat dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 14 tentang kehidupan bawah laut (Life Below Water). Pengelolaan perikanan yang berkelanjutan menjadi bagian penting dalam upaya menjaga ekosistem laut, sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dalam konteks ini, kontribusi akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan secara menyeluruh.

Pada akhirnya, Hari Bumi 2026 menjadi pengingat bahwa laut bukan sekadar ruang eksploitasi, melainkan sistem kehidupan yang harus dijaga bersama. Dari ruang-ruang diskusi di kampus hingga kehidupan sehari-hari nelayan di pesisir, refleksi ini menegaskan satu hal: masa depan perikanan bergantung pada kemampuan semua pihak untuk kembali mendengar—dan merawat—laut dengan lebih bijak.

Memaknai Hari Kartini di Departemen Perikanan UGM: Memperluas Akses, Menguatkan Peran Perempuan

Berita Selasa, 21 April 2026

Yogyakarta – Peringatan Hari Kartini menjadi momentum refleksi bagi sivitas akademika Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada untuk meneguhkan komitmen terhadap kesetaraan, pendidikan, dan peran perempuan dalam dunia sains serta pengelolaan sumber daya perikanan. Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini dinilai tetap relevan dalam mendorong perempuan berkontribusi aktif di bidang akademik, laboratorium, hingga lapangan.

Dalam refleksi Hari Kartini tahun ini, dosen Departemen Perikanan, Dr. drh. Nur Laila Fitrotun Nikmah, menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi pemberdayaan. Ia menyampaikan, “Pendidikan adalah kunci, dan Kartini yang membuka pintunya. Tugas kita? Jangan cuma masuk, tapi bagaimana membuat pintunya makin lebar buat yang lain.” Pesan tersebut menegaskan bahwa perjuangan Kartini harus dilanjutkan dengan membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi perempuan berikutnya untuk berkembang di dunia akademik dan profesional.

Semangat emansipasi juga dirasakan dalam perubahan nyata di lingkungan kerja. Al’ Ain Shoufi Rahmah Arifin, A.Md., laboran Departemen Perikanan, mengungkapkan bahwa peran perempuan kini semakin terlihat di berbagai bidang yang sebelumnya didominasi laki-laki. Ia menyampaikan bahwa pekerjaan laboran, termasuk yang berkaitan dengan kegiatan lapangan, kini semakin banyak diisi oleh perempuan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kesempatan dan kepercayaan terhadap kompetensi perempuan semakin terbuka.

Pandangan mahasiswa juga menegaskan makna peringatan ini. Mahasiswa Departemen Perikanan, Evora Arda Kirana, menyampaikan bahwa Hari Kartini merupakan pengingat penting bagi generasi muda untuk terus melampaui batas stigma gender. Ia menuturkan, “Bagi saya, Hari Kartini bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi sebagai pengingat kita semua bahwa gender bukanlah suatu penghalang untuk terus maju dan berkarya. Dengan meneruskan semangat Kartini, berarti kita berkomitmen untuk menghapus stigma lama demi menciptakan tata kelola perikanan yang adil dan berkelanjutan. Laut saja tidak pernah membedakan siapa yang menebar jaring, begitu pula seharusnya sektor ini.”

Bagi Departemen Perikanan UGM, memaknai Hari Kartini bukan sekadar peringatan simbolis, melainkan komitmen berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan akademik yang inklusif, mendukung kepemimpinan perempuan, serta memperkuat kontribusi perempuan dalam riset, pengabdian masyarakat, dan pembangunan sektor perikanan berkelanjutan.

Melalui semangat Kartini, Departemen Perikanan UGM berharap perempuan terus hadir sebagai agen perubahan—tidak hanya memanfaatkan pintu kesempatan yang telah dibuka, tetapi juga memperluasnya agar semakin banyak perempuan dapat melangkah maju dan memberi dampak bagi masyarakat. Peringatan Hari Kartini ini juga selaras dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, tujuan ke-4 (Pendidikan Berkualitas), tujuan ke-5 (Kesetaraan Gender), serta tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Melalui penguatan akses pendidikan, peningkatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi, serta perluasan kesempatan kerja yang setara, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mendorong lingkungan akademik yang inklusif dan berkelanjutan.

Menuju Pesisir Tangguh: FGD Perikanan UGM Rumuskan Model Pengelolaan Perikanan Adaptif di Pantai Depok Kabupaten Bantul

Berita Senin, 20 April 2026

Suasana pesisir Pantai Depok, Bantul, menjadi latar unik penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) Penelitian IJRA–Equity yang diinisiasi oleh Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada pada 20 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, peneliti, serta pelaku perikanan dalam satu ruang dialog terbuka untuk membahas masa depan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Berbeda dari forum ilmiah pada umumnya, FGD ini sengaja dilaksanakan di kawasan pesisir untuk menghadirkan konteks nyata antara teori dan praktik. Pantai Depok yang dikenal sebagai sentra aktivitas nelayan di Kabupaten Bantul menjadi lokasi strategis untuk menggali langsung dinamika ketahanan perikanan.

Diskusi yang dipimpin oleh Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. ini menyoroti keterkaitan erat antara perubahan lingkungan laut, dinamika sosial masyarakat pesisir, serta sistem kelembagaan yang mengatur aktivitas perikanan. Para peserta menekankan bahwa pengelolaan sumber daya laut tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan ekologis semata, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat nelayan.

Dalam forum tersebut, isu perubahan iklim menjadi salah satu perhatian utama. Perubahan pola musim, gelombang, hingga ketidakpastian hasil tangkapan dirasakan langsung oleh nelayan di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan adaptif berbasis data ilmiah yang mampu menjembatani kebutuhan kebijakan dengan kondisi riil di masyarakat.

FGD ini juga membuka ruang dialog antara peneliti dan nelayan, sehingga pengalaman lokal dapat diintegrasikan ke dalam pengembangan riset. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan IJRA–Equity ini, UGM kembali menegaskan perannya sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan riset akademik, tetapi juga mendorong solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perikanan di era perubahan global.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut), sekaligus memperkuat upaya mewujudkan pengelolaan perikanan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

12345…9
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY