• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • hal. 3
Arsip:

SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Antara Yogyakarta dan Rwanda: Alumni Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Posisi Assistant Lecturer dan Bawa Semangat Kolaborasi Global

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan kembali datang dari alumni internasional Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Joas Iradukunda, alumni Program Magister Ilmu Perikanan UGM asal Rwanda, resmi diterima untuk posisi Assistant Lecturer bidang Aquaculture and/or Fishery Management di University of Rwanda.

Berdasarkan pengumuman resmi hasil seleksi yang diterbitkan pada 9 Mei 2026 oleh College of Veterinary Medicine and Animal Sciences, University of Rwanda, Joas memperoleh nilai 90,3, menjadi peserta dengan skor tertinggi pada kategori Assistant Lecturer (Aquaculture and/or Fishery Management) dan dinyatakan Passed (Recommended for Recruitment). Pencapaian tersebut menempatkannya sebagai kandidat utama untuk bergabung dalam pengembangan pendidikan tinggi dan riset perikanan di Rwanda.

Perjalanan Joas menuju capaian tersebut bukanlah perjalanan singkat. Ia merupakan mahasiswa internasional penerima Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship, program beasiswa pemerintah Indonesia yang membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai negara berkembang untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia sekaligus memperkuat kerja sama internasional melalui pendidikan dan diplomasi akademik.

Selama menempuh pendidikan di Magister Ilmu Perikanan UGM, Joas mendapatkan pendampingan akademik dari dua dosen Departemen Perikanan UGM, yaitu Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dan Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. Keduanya tidak hanya berperan sebagai pembimbing akademik, tetapi juga menjadi sosok penting dalam perjalanan studi Joas selama berada jauh dari negara asalnya.

Bagi Joas, proses pendidikan yang ia jalani di UGM bukan sekadar hubungan formal antara mahasiswa dan dosen. Di balik proses penelitian, diskusi, dan bimbingan akademik, terdapat dukungan personal yang membentuk pengalaman belajarnya selama menempuh studi.

Dalam ungkapan rasa syukurnya, Joas menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pembimbingnya:

“Thank you very much for your supervision, guidance, and continuous support. I truly appreciate everything you have done for me, not only as a supervisor but also like a parent. I am sincerely grateful.”

Ungkapan tersebut menggambarkan hubungan yang terbangun tidak hanya sebatas proses akademik, tetapi juga kedekatan dan dukungan kemanusiaan yang sering menjadi kekuatan tersendiri dalam perjalanan mahasiswa internasional. Menempuh studi di negara baru dengan lingkungan budaya yang berbeda tentu menghadirkan tantangan, sehingga kehadiran pembimbing yang suportif menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Selama belajar di Yogyakarta, Joas tidak hanya memperdalam ilmu tentang akuakultur dan manajemen perikanan, tetapi juga membangun jejaring internasional serta pengalaman akademik lintas budaya. Lingkungan pendidikan di UGM mempertemukannya dengan berbagai perspektif mengenai keberlanjutan sumber daya perikanan, pembangunan masyarakat, hingga tantangan pangan global.

Kini, setelah kembali ke Rwanda dan berhasil meraih posisi Assistant Lecturer, Joas membawa lebih dari sekadar gelar akademik. Ia membawa pengalaman, pengetahuan, serta semangat kolaborasi global yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Indonesia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, capaian Joas menjadi bukti bahwa pendidikan memiliki dampak lintas batas negara. Alumni internasional tidak hanya kembali sebagai lulusan, tetapi juga menjadi jembatan pengetahuan dan agen perubahan yang memperluas kontribusi UGM di tingkat global.

Kisah Joas juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Pendidikan berkualitas dan kolaborasi internasional menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang mampu memberikan dampak nyata lintas negara dan budaya.

Belajar di Tengah Ombak: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Pentingnya Keselamatan Kerja Awak Kapal Perikanan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Bagi Azzahra Qanita Rafifah, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Program Magang Berdampak menjadi kesempatan untuk melihat langsung dinamika kehidupan di atas kapal perikanan sekaligus memahami pentingnya aspek keselamatan kerja bagi awak kapal.

Selama menjalani kegiatan magang, Azzahra melakukan pengamatan dan pembelajaran mengenai keselamatan kerja pada kapal perikanan jala jatuh berkapal (cast net). Pengalaman lapangan tersebut membawanya pada satu kesimpulan penting: aktivitas penangkapan ikan bukan hanya soal hasil tangkapan, tetapi juga menyangkut keselamatan para pekerja di laut.

Menurut Azzahra, kehidupan di atas kapal menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan pekerjaan pada umumnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu, gelombang tinggi, serta aktivitas kerja yang berlangsung di ruang terbatas menciptakan risiko yang harus dihadapi setiap awak kapal.

“Magang membuat saya memahami bahwa nelayan dan awak kapal bekerja dalam situasi yang penuh tantangan. Ada risiko yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat, tetapi sangat nyata dirasakan di lapangan,” ungkap Azzahra.

Dari hasil wawancara selama kegiatan magang, ditemukan bahwa cuaca ekstrem dan human error menjadi faktor utama yang memengaruhi kecelakaan kerja di kapal perikanan. Ombak tinggi dan kondisi cuaca buruk disebut sebagai tantangan terbesar selama proses penangkapan ikan berlangsung.

Selain faktor alam, berbagai kecelakaan kerja juga pernah dialami awak kapal, mulai dari terkena garda, terjepit tali tambang, hingga kerusakan mesin kapal ketika beroperasi di laut.

Menariknya, Azzahra juga menemukan bahwa meskipun sebagian besar awak kapal telah mengikuti pelatihan keselamatan, penerapan penggunaan alat pelindung diri masih belum sepenuhnya optimal. Beberapa awak kapal menganggap penggunaan life jacket dapat menghambat mobilitas dan aktivitas kerja saat proses penangkapan berlangsung.

Namun dari sisi fasilitas, kapal-kapal yang diamati telah menunjukkan kesiapan alat komunikasi keselamatan. Ketersediaan radio VHF dan radio MF pada kapal perikanan yang diamati telah memenuhi kriteria sesuai ketentuan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian mencapai 100 persen.

Pengalaman tersebut membuka pandangan Azzahra bahwa keselamatan kerja perlu dipandang sebagai bagian penting dalam sistem perikanan berkelanjutan. Menurutnya, teknologi dan perlengkapan keselamatan harus diiringi dengan budaya disiplin dan kesadaran bersama.

“Keselamatan bukan sekadar aturan, tetapi kebiasaan yang perlu dibangun. Karena keberhasilan melaut tidak hanya soal kembali membawa hasil tangkapan, tetapi juga pulang dengan selamat,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami berbagai aspek sosial, keselamatan, dan tantangan nyata yang dihadapi sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Life Below Water). Penguatan budaya keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menciptakan sektor perikanan yang produktif, aman, dan berkelanjutan.

Mahasiswa Magang Berdampak UGM di Bali: Pengalaman Lapangan Membuka Realitas Penangkapan Ikan Tradisional

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman terjun langsung ke lapangan sering kali menghadirkan pelajaran yang tidak ditemukan di ruang kelas. Hal tersebut dirasakan oleh Dias Aditya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, saat mengikuti Program Magang Berdampak di Bali. Selama menjalani kegiatan magang di kawasan perikanan Pengambengan, Bali, Dias mempelajari praktik penentuan daerah penangkapan ikan oleh nelayan, khususnya peran juru panggung dalam menemukan gerombolan ikan di laut. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses penangkapan ikan tidak hanya bergantung pada teknologi modern, tetapi juga pengetahuan lokal dan pengalaman panjang nelayan di lapangan.

Dias mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman paling menarik selama magang adalah melihat secara langsung bagaimana nelayan membaca kondisi laut sebelum menentukan lokasi penangkapan.

“Selama magang saya menyadari bahwa nelayan memiliki pengetahuan lapangan yang sangat kuat. Mereka membaca arus, gelombang, arah angin, bahkan tanda-tanda keberadaan ikan dari kondisi perairan,” ungkap Dias.

Berdasarkan hasil pengamatannya, juru panggung menentukan daerah penangkapan ikan dengan mempertimbangkan berbagai informasi yang diperoleh dari nelayan lain yang telah lebih dahulu melaut. Informasi tersebut umumnya berasal dari nelayan kapal fiber yang memberikan petunjuk mengenai keberadaan gerombolan ikan.

Dias menjelaskan bahwa terdapat dua mekanisme utama yang digunakan nelayan untuk mencari ikan. Cara pertama adalah sistem kejar, yaitu pencarian secara manual dengan terus bergerak mengikuti indikasi keberadaan ikan. Cara kedua adalah sistem nangko pelak, yang dilakukan dengan bantuan informasi dari nelayan lain di laut.

Selain itu, nelayan juga mengenali keberadaan gerombolan ikan melalui pantulan cahaya di permukaan laut dengan mempertimbangkan kekuatan arus, gelombang, angin, jarak tempuh, serta kedalaman perairan. Pengalaman tersebut juga membuka pandangan Dias mengenai tantangan penggunaan teknologi modern di lapangan. Ia menemukan bahwa alat fish finder yang secara umum digunakan untuk mendeteksi keberadaan ikan ternyata belum sepenuhnya diterapkan dalam praktik penangkapan tertentu.

Salah satu kendala yang ditemukan adalah cahaya dari layar fish finder yang dianggap mengganggu penglihatan juru panggung saat kondisi operasi penangkapan dilakukan tanpa penerangan agar gerombolan ikan lebih mudah diamati. Menurut Dias, pengalaman ini memberinya pelajaran penting bahwa inovasi teknologi dalam sektor perikanan perlu mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan kebiasaan nelayan di lapangan.

“Teknologi memang penting, tetapi harus bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Pengalaman di lapangan membuat saya memahami bahwa solusi perikanan tidak hanya soal alat yang canggih, tetapi juga memahami manusia yang menggunakannya,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga belajar memahami dinamika sektor perikanan secara langsung dari masyarakat pelaku utama di lapangan. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan pengalaman lapangan dan pemahaman praktik perikanan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mencetak generasi perikanan masa depan.

IMB Perikanan UGM: Tempat Mahasiswa Belajar Bisnis, Kepemimpinan, dan Industri Perikanan Secara Nyata

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Kuliah di Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada tidak hanya tentang belajar di ruang kelas atau praktikum laboratorium. Mahasiswa juga mendapat kesempatan belajar langsung mengelola bisnis melalui Inkubator Mina Bisnis (IMB), sebuah wadah pengembangan kewirausahaan yang menjadi salah satu ciri khas Departemen Perikanan UGM.

IMB hadir sebagai sarana pembelajaran praktis yang dirancang untuk membentuk jiwa entrepreneur mahasiswa di bidang perikanan dan kelautan. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori bisnis, tetapi juga terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, pelayanan konsumen, hingga pengembangan produk berbasis hasil perikanan.

Salah satu unit yang paling dikenal adalah Resto IMB, yang menjadi ruang belajar sekaligus praktik bisnis mahasiswa. Di tempat ini, mahasiswa belajar mengelola usaha secara nyata mulai dari produksi, pemasaran, manajemen operasional, hingga pelayanan pelanggan. Konsep pembelajaran ini membuat mahasiswa memiliki pengalaman profesional bahkan sebelum lulus kuliah.

Menariknya, IMB juga terhubung dengan pengembangan produk inovatif perikanan seperti delifiZ, produk olahan ikan yang diinisiasi Departemen Perikanan UGM. Produk-produk tersebut menjadi contoh bagaimana hasil riset dan inovasi mahasiswa maupun dosen dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Keberadaan IMB menunjukkan bahwa pendidikan perikanan modern tidak hanya fokus pada aspek produksi dan budidaya, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan bisnis dan manajemen. Mahasiswa diajak memahami rantai industri perikanan secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga pemasaran produk kepada masyarakat.

Selain meningkatkan keterampilan kewirausahaan, IMB juga menjadi ruang pengembangan soft skills mahasiswa seperti kepemimpinan, komunikasi, kerja tim, dan kemampuan problem solving. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi lulusan untuk menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha mandiri di sektor perikanan.

Departemen Perikanan UGM sendiri telah berdiri sejak tahun 1963 dan terus berkembang sebagai institusi pendidikan perikanan yang unggul di Indonesia. Saat ini Departemen Perikanan memiliki berbagai program studi yang telah terakreditasi unggul dan memperoleh akreditasi internasional.

Melalui IMB, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi sarjana yang kuat secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan mampu menciptakan inovasi berbasis sumber daya perikanan.

Informasi lengkap mengenai Departemen Perikanan UGM dan IMB dapat diakses melalui:
Departemen Perikanan UGM

Program IMB ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-8 (Decent Work and Economic Growth), dan tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Pengembangan kewirausahaan mahasiswa menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi muda yang inovatif dan mampu membangun sektor perikanan berkelanjutan di masa depan.

Dosen Perikanan UGM Tinjau Mahasiswa Magang Berdampak di PPN Prigi

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Trenggalek — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman lapangan kembali diwujudkan melalui kunjungan dosen pembimbing ke lokasi Magang Berdampak mahasiswa di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Kunjungan dilakukan oleh Prof. Djumanto sebagai bentuk monitoring dan pendampingan terhadap mahasiswa peserta program magang yang sedang menjalani praktik profesional di salah satu pelabuhan perikanan strategis di pesisir selatan Jawa Timur tersebut.

Dalam kunjungan ini, Prof. Djumanto meninjau langsung berbagai aktivitas mahasiswa, mulai dari pengamatan proses pendaratan ikan, pengelolaan pelabuhan perikanan, tata niaga hasil tangkapan, hingga sistem operasional perikanan tangkap yang berlangsung di kawasan PPN Prigi.

Sebagai salah satu pusat aktivitas perikanan tangkap di Jawa Timur, PPN Prigi menjadi ruang belajar yang penting bagi mahasiswa untuk memahami dinamika dunia perikanan secara nyata. Mahasiswa tidak hanya mempelajari aspek teknis penangkapan ikan, tetapi juga melihat hubungan antara aktivitas pelabuhan, ekonomi nelayan, rantai distribusi hasil perikanan, dan pengelolaan sumber daya laut.

Program Magang Berdampak sendiri dirancang untuk memperkuat kompetensi mahasiswa melalui pengalaman langsung di dunia kerja. Melalui keterlibatan di instansi dan kawasan perikanan strategis, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik profesional di lapangan.

Selain melakukan monitoring, kunjungan ini juga menjadi ruang diskusi antara dosen pembimbing, mahasiswa, dan pihak pelabuhan terkait tantangan sektor perikanan tangkap modern, termasuk isu keberlanjutan sumber daya ikan, efisiensi pelabuhan, serta penguatan tata kelola perikanan. Mahasiswa peserta magang juga memperoleh kesempatan untuk memahami berbagai aspek manajemen pelabuhan perikanan, mulai dari layanan kapal, penanganan hasil tangkapan, pengawasan mutu ikan, hingga sistem logistik dan distribusi hasil perikanan. Bagi Departemen Perikanan UGM, pembelajaran berbasis praktik lapangan menjadi bagian penting dalam mencetak lulusan yang adaptif, profesional, dan memahami kondisi nyata sektor perikanan Indonesia.

Informasi mengenai PPN Prigi dapat diakses melalui:
Profil PPN Prigi

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pengalaman belajar berbasis lapangan menjadi langkah penting dalam membangun sumber daya manusia perikanan yang kompeten dan berorientasi pada keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Mahasiswa Perikanan UGM Angkatan 2024 Laksanakan Praktikum Lapangan di Juwana Pati

Berita Senin, 11 Mei 2026

Pati — Mahasiswa angkatan 2024 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan praktikum lapangan di kawasan perikanan Juwana sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Teknik Penangkapan Ikan dan Pengkajian Sosial Ekonomi Perikanan.

Kegiatan ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung dinamika sektor perikanan tangkap dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Selama praktikum, mahasiswa melakukan observasi lapangan, pengumpulan data, hingga interaksi langsung dengan nelayan dan pelaku usaha perikanan di kawasan Juwana yang dikenal sebagai salah satu sentra perikanan tangkap di pesisir utara Jawa.

Pada praktikum Teknik Penangkapan Ikan, mahasiswa mempelajari berbagai jenis alat tangkap, teknik operasi penangkapan, sistem kerja kapal perikanan, hingga proses penanganan hasil tangkapan di pelabuhan. Mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai tantangan sektor perikanan tangkap modern, termasuk efisiensi alat tangkap dan keberlanjutan sumber daya ikan.

Sementara itu, melalui mata kuliah Pengkajian Sosial Ekonomi Perikanan, mahasiswa diajak melihat sisi lain dunia perikanan yang berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat nelayan, rantai distribusi hasil perikanan, pola ekonomi rumah tangga nelayan, serta dinamika kehidupan komunitas pesisir.

Pendekatan pembelajaran lapangan ini menjadi salah satu ciri khas pendidikan di Departemen Perikanan UGM yang mengintegrasikan aspek teknis dan sosial dalam memahami sektor perikanan secara utuh. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang produksi dan sumber daya ikan, tetapi juga memahami relasi sosial dan ekonomi yang ada di dalamnya.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa aktif melakukan wawancara, pengamatan, dan diskusi dengan pelaku perikanan setempat. Pengalaman tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan analisis, komunikasi, dan pemecahan masalah mahasiswa terhadap isu-isu nyata di lapangan.

Praktikum lapangan di Juwana juga menjadi ruang pembelajaran mengenai pentingnya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat. Mahasiswa diajak memahami bahwa keberhasilan sektor perikanan tidak hanya ditentukan oleh hasil tangkapan, tetapi juga oleh kesejahteraan masyarakat pesisir dan keberlanjutan ekosistem laut.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mencetak lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus pengalaman lapangan yang kuat dalam menghadapi tantangan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pembelajaran berbasis praktik lapangan menjadi langkah penting dalam membangun sumber daya manusia perikanan yang kompeten dan berorientasi pada keberlanjutan.

Dosen Perikanan UGM Tinjau Mahasiswa Magang Berdampak di UPT P2SKP Tamperan Pacitan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Pacitan — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pembelajaran berbasis pengalaman lapangan kembali diwujudkan melalui kunjungan dosen pembimbing ke lokasi Magang Berdampak mahasiswa di UPT Pengembangan Pelabuhan Perikanan Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Tamperan.

Kunjungan dilakukan oleh Prof. Djumanto sebagai bagian dari monitoring dan pendampingan mahasiswa peserta program magang yang tengah menjalani praktik langsung di kawasan pelabuhan perikanan Tamperan, Pacitan.

Dalam kegiatan tersebut, Prof. Djumanto meninjau berbagai aktivitas mahasiswa selama mengikuti program magang, mulai dari pengelolaan pelabuhan perikanan, aktivitas pendaratan ikan, tata kelola hasil perikanan, hingga dinamika pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di tingkat lapangan.

Program Magang Berdampak menjadi salah satu upaya Departemen Perikanan UGM dalam memperkuat pengalaman praktis mahasiswa agar mampu memahami kondisi nyata sektor perikanan. Melalui keterlibatan langsung di instansi dan unit kerja perikanan, mahasiswa diharapkan dapat menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik profesional di lapangan.

Selain melakukan monitoring, kunjungan ini juga menjadi ruang diskusi antara dosen pembimbing, mahasiswa, dan pihak UPT terkait pengembangan kompetensi mahasiswa serta tantangan sektor perikanan tangkap dan pengelolaan pelabuhan perikanan saat ini.

UPT P2SKP Tamperan Pacitan sendiri merupakan salah satu kawasan strategis perikanan tangkap di pesisir selatan Jawa Timur yang memiliki aktivitas perikanan cukup dinamis. Lingkungan ini menjadi tempat belajar yang penting bagi mahasiswa untuk memahami sistem pengelolaan pelabuhan, distribusi hasil tangkapan, hingga interaksi sosial-ekonomi masyarakat nelayan.

Melalui program magang ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar mengenai komunikasi profesional, adaptasi lingkungan kerja, serta pentingnya kolaborasi dalam pengelolaan sektor perikanan dan kelautan.

Departemen Perikanan UGM terus mendorong pembelajaran yang adaptif dan kontekstual agar lulusan memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Informasi mengenai UPT P2SKP Tamperan Pacitan dapat diakses melalui:
UPT P2SKP Tamperan Pacitan

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pembelajaran berbasis pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam menciptakan sumber daya manusia unggul di bidang perikanan dan kelautan yang berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Inisiasi Kerja Sama Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Gunungkidul

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Gunungkidul — Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menginisiasi kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat di wilayah Gunungkidul sebagai bagian dari penguatan sinergi akademik dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Kegiatan ini dijalankan oleh tim dosen yang terdiri atas Dr. Endah Prihatiningtyastuti, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Anes Dwi Jayanti. Selain menjadi langkah awal kolaborasi penelitian dan pengabdian, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi bersama masyarakat dan pemangku kepentingan terkait pengembangan potensi wilayah pesisir dan perikanan.

Dalam diskusi tersebut, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari pengelolaan sumber daya perairan, pemberdayaan masyarakat pesisir, penguatan kapasitas kelompok perikanan, hingga peluang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Pendekatan kolaboratif menjadi salah satu fokus utama agar program yang dijalankan tidak hanya berbasis penelitian akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Tim dosen Perikanan UGM menekankan pentingnya integrasi antara penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam proses pengembangan dan pengambilan keputusan.

Selain membahas potensi pengembangan sektor perikanan, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog untuk memahami tantangan lokal yang dihadapi masyarakat, termasuk isu keberlanjutan sumber daya, perubahan lingkungan, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi komunitas pesisir.

Kerja sama ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi jangka panjang antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam pengembangan riset terapan serta program pemberdayaan berbasis kebutuhan lokal.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya berkembang di ruang akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.

Inisiatif ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan  SDG 14 (Life Below Water). Kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan dan inklusif.

Dari Laut ke Ruang Sosial: Dosen Perikanan UGM Bahas Ketahanan Masyarakat Pesisir di Kuliah Umum Undiksha

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Buleleng – Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han) menjadi narasumber dalam kegiatan Kuliah Umum Public Lecture Series #10 dan #11 yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sosiologi bersama Eurasia Foundation di Universitas Pendidikan Ganesha pada 5 Mei 2026.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Balingkang Confucius Institute Undiksha tersebut, Dr. Mukti Aprian akan menyampaikan materi bertajuk “Relasi antar Masyarakat Pesisir di Indonesia: Potensi Ketahanan Sosial dan Budaya Menuju Indonesia Emas”. Materi ini menyoroti pentingnya memahami masyarakat pesisir tidak hanya dari aspek ekonomi dan produksi, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, dan relasi antar komunitas.

Dalam berbagai publikasinya, Dr. Mukti Aprian dikenal aktif mengangkat isu-isu sosial dalam sektor perikanan, termasuk dinamika masyarakat pesisir, hubungan sipil-militer dalam pengelolaan sumber daya laut, hingga perubahan orientasi riset perikanan modern yang dinilai semakin mengesampingkan aspek sosial. Salah satu kajiannya bahkan menyoroti bagaimana penelitian fleet dynamics perikanan global mengalami kecenderungan dominasi pendekatan ekonomi dan teknis, sementara dimensi sosial masyarakat nelayan perlahan memudar.

Menurutnya, sektor perikanan tidak dapat dipahami hanya melalui angka produksi atau efisiensi ekonomi semata. Di balik aktivitas perikanan terdapat relasi sosial, nilai budaya, solidaritas komunitas, hingga mekanisme adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan dan kebijakan.

Dalam beberapa penelitiannya, ia juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dan partisipatif dalam tata kelola sumber daya pesisir. Ketahanan sektor perikanan, menurutnya, tidak hanya bergantung pada kondisi ekologi laut, tetapi juga pada kekuatan relasi sosial masyarakat yang hidup di dalamnya.

Kehadiran Dr. Mukti Aprian sebagai pembicara di forum lintas disiplin ini menunjukkan bahwa ilmu perikanan memiliki keterkaitan erat dengan ilmu sosial dan humaniora. Selain Dr. Mukti, pembicara lainnya adalah Dr. phil. Geger Riyanto dari Program studi Antropologi Universitas Indonesia yang membawakan paparan dengan tema, “Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir di Maluku.” Dengan hadirnya berbagai ahli di bidang yang berbeda, pendekatan multidisiplin dinilai semakin penting untuk menjawab tantangan kompleks di wilayah pesisir Indonesia.

Kegiatan kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai bidang ilmu, serta menghadirkan ruang diskusi mengenai masyarakat pesisir sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Sejalan dengan itu, gagasan yang diangkat dalam kuliah umum ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water),  SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi ,dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Penguatan ketahanan sosial masyarakat pesisir menjadi bagian penting dalam menciptakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Fakultas Pertanian UGM dan FisTx Indonesia Tandatangani MoU Penguatan Inovasi Akuakultur Berkelanjutan

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Yogyakarta — Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada resmi menjalin kerja sama strategis dengan FisTx Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam upaya memperkuat inovasi dan pengembangan akuakultur berkelanjutan di Indonesia.

Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam mempertemukan dunia akademik dengan industri berbasis teknologi perikanan. Kerja sama diarahkan pada pengembangan riset, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, implementasi teknologi budidaya modern, hingga penguatan ekosistem akuakultur yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Sebagai perusahaan rintisan berbasis teknologi akuakultur, FisTx Indonesia dikenal aktif mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung produktivitas budidaya, khususnya sektor tambak udang dan perikanan modern. Perusahaan ini mengembangkan solusi seperti teknologi UV tambak, sistem budidaya terukur, pendampingan petambak, hingga pengelolaan kualitas air berbasis teknologi.

Dalam beberapa tahun terakhir, FisTx juga aktif memperkenalkan inovasi teknologi budidaya berkelanjutan, termasuk teknologi elektrolisis untuk meningkatkan kualitas air tambak dan mengurangi penggunaan bahan kimia dalam budidaya udang.

Melalui kerja sama ini, Fakultas Pertanian UGM berharap mahasiswa dan dosen dapat memperoleh ruang kolaborasi yang lebih luas dengan dunia industri, baik dalam bentuk penelitian terapan, program magang, pengembangan inovasi, maupun hilirisasi teknologi perikanan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dinilai semakin penting di tengah tantangan sektor akuakultur modern yang membutuhkan pendekatan multidisiplin dan berbasis teknologi. Integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri diharapkan mampu melahirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat pembudidaya.

Selain mendukung pengembangan teknologi, kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi sektor perikanan menuju sistem budidaya yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sejalan dengan itu, penandatanganan MoU ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomidan SDG 14 (Life Below Water). Sinergi antara perguruan tinggi dan industri menjadi langkah strategis dalam memperkuat inovasi akuakultur sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

12345…9
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY