• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh
  • SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh
Arsip:

SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh

Peneliti UGM Ungkap Kunci Ketahanan Wilayah Pesisir: Kolaborasi Lebih Efektif daripada Dominasi Satu Aktor

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta — Pengelolaan wilayah pesisir dan sumber daya perikanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologi dan ekonomi, tetapi juga oleh bagaimana berbagai pihak membangun kerja sama dalam tata kelola. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah Journal of Fisheries Science oleh tim peneliti yang terdiri dari Haposan Simatupang, Margaretha Hanita, Mukti Aprian dari Departemen Perikanan UGM, serta Akhmad Nurhijayat.

Penelitian berjudul “Navigating the Waters of Authority: Civil-Military Relations in the Securitization of Coastal and Fisheries Resources in Cilacap Regency” menyoroti dinamika tata kelola pesisir di Kabupaten Cilacap, salah satu wilayah pesisir Indonesia yang memiliki karakteristik unik karena adanya tumpang tindih kewenangan antara aktor sipil dan militer dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan perikanan.

Melalui pendekatan social-ecological systems, penelitian ini berupaya memahami bagaimana hubungan antaraktor dapat memengaruhi ketahanan sistem pesisir dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari aktivitas penangkapan ikan ilegal, tekanan ekonomi, hingga konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber daya.

Yang menarik, penelitian ini tidak hanya melihat aspek kelembagaan secara konvensional, tetapi juga memanfaatkan pendekatan Social Network Analysis (SNA) dan Qualitative Network Modelling and Simulation (QNMS) untuk memetakan hubungan antaraktor dan mengevaluasi berbagai skenario tata kelola yang mungkin terjadi.

Kolaborasi Menjadi Faktor Penentu Ketahanan

Salah satu temuan penting penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sumber daya pesisir tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan penegakan hukum. Sistem yang terlalu bergantung pada satu aktor justru berpotensi mengurangi kualitas koordinasi, partisipasi, dan kepercayaan antar pemangku kepentingan.

Sebaliknya, tata kelola yang dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, akademisi, masyarakat pesisir, pelaku usaha, dan berbagai aktor lainnya cenderung menghasilkan kondisi yang lebih stabil dan seimbang dalam jangka panjang.

Menurut Mukti Aprian, dosen Departemen Perikanan UGM yang terlibat dalam penelitian ini, tantangan pengelolaan perikanan modern semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan lintas sektor.

“Pengelolaan sumber daya perikanan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Ketahanan pesisir lahir dari kemampuan berbagai pihak untuk bekerja sama, membangun kepercayaan, dan menyelaraskan tujuan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya yang menjadi penopang kehidupan masyarakat,” jelas Mukti.

Perspektif Baru dalam Pengelolaan Perikanan

Penelitian ini memberikan perspektif baru bahwa ketahanan wilayah pesisir tidak hanya bergantung pada kondisi sumber daya alam, tetapi juga pada kualitas hubungan sosial dan kelembagaan yang mengelolanya. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, hasil penelitian ini menjadi relevan untuk mendukung pengembangan kebijakan yang lebih adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Selain memperkaya kajian mengenai tata kelola perikanan dan keamanan lingkungan, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi antara kapasitas penegakan hukum dengan mekanisme partisipatif yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi.

Hasil penelitian tersebut memperkuat pandangan bahwa masa depan pengelolaan perikanan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan berbagai aktor untuk membangun kolaborasi yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan ekologi.

Penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals khususnya SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan tata kelola sumber daya pesisir dan perikanan yang berkelanjutan, SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui peningkatan kualitas kelembagaan dan koordinasi antaraktor, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi dalam pengelolaan sumber daya alam yang kompleks.

link Paper:

Simatupang, et al. (2026)

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Nilai-Nilai Pancasila sebagai Fondasi Pengelolaan Perikanan Indonesia yang Berkelanjutan

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila, momentum penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Pancasila bukan hanya ideologi negara, tetapi juga pedoman dalam membangun sektor perikanan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya perairan yang luar biasa. Namun, keberlimpahan tersebut juga menghadirkan tanggung jawab besar untuk mengelolanya secara bijaksana. Dalam konteks ini, nilai-nilai Pancasila memiliki relevansi yang sangat kuat bagi pembangunan perikanan nasional. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan bahwa sumber daya alam merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Laut, sungai, dan danau bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi juga amanah yang perlu dijaga keberlanjutannya untuk generasi mendatang.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan bahwa pembangunan perikanan harus memberikan manfaat yang merata bagi masyarakat, terutama nelayan, pembudidaya ikan, pengolah hasil perikanan, dan masyarakat pesisir yang selama ini menjadi bagian penting dari sistem perikanan Indonesia. Sementara itu, sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi fondasi penting dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang melibatkan berbagai daerah, budaya, dan kepentingan. Laut Indonesia menghubungkan ribuan pulau dan jutaan masyarakat yang memiliki keterikatan kuat dengan sumber daya perairan. Oleh karena itu, pengelolaan perikanan memerlukan semangat kebersamaan dan kolaborasi.

Dalam dunia akademik, sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, tercermin melalui pentingnya pengambilan keputusan berbasis ilmu pengetahuan, data, dan dialog yang konstruktif. Penelitian, inovasi, dan pendidikan menjadi instrumen penting untuk menghasilkan kebijakan perikanan yang tepat dan berkelanjutan.

Adapun sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menjadi tujuan utama pembangunan perikanan. Keberhasilan sektor perikanan tidak hanya diukur dari meningkatnya produksi, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat, terjaganya ekosistem perairan, dan tersedianya sumber pangan yang sehat bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, semangat Pancasila juga tercermin dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dosen dan mahasiswa terus berupaya menghasilkan inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan sektor perikanan, mulai dari ketahanan pangan, perubahan iklim, konservasi sumber daya ikan, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.

Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa kemajuan sektor perikanan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kebangsaan. Ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan seiring dengan etika, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengucapkan Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026. Semoga nilai-nilai Pancasila terus menjadi inspirasi dalam membangun sektor perikanan Indonesia yang maju, berdaulat, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakat.

Refleksi ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals terutama tujuan ke-2 (Zero Hunger), tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan tata kelola sumber daya perikanan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.

Refleksi Hari Raya Waisak: Menumbuhkan Kebijaksanaan dan Harmoni untuk Masa Depan Perikanan Berkelanjutan

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Hari Raya Waisak merupakan momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai kebijaksanaan, kedamaian, kasih sayang, dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup. Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, semangat Waisak menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sumber daya perairan tidak hanya bergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan dan keharmonisan dalam berinteraksi dengan alam.

Perayaan Waisak mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Dalam konteks perikanan, nilai tersebut sangat relevan mengingat sumber daya perairan merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan secara bijaksana agar tetap mampu menopang kehidupan generasi masa kini maupun masa depan.

Di tengah berbagai tantangan seperti perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan perairan, serta tekanan terhadap sumber daya ikan, dunia perikanan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem. Kebijaksanaan yang diajarkan dalam Waisak mengingatkan bahwa setiap keputusan yang diambil hari ini akan memberikan dampak bagi masa depan.

Bagi lingkungan akademik, semangat Waisak juga dapat dimaknai sebagai dorongan untuk terus mencari pengetahuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan bentuk kontribusi nyata dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Nilai kasih sayang dan kepedulian yang terkandung dalam Waisak juga tercermin dalam berbagai upaya pelestarian sumber daya perikanan. Menjaga kualitas perairan, melindungi keanekaragaman hayati, mengembangkan teknologi budidaya yang ramah lingkungan, serta mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Selain itu, Waisak mengajarkan pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Sebagai institusi pendidikan yang dihuni oleh sivitas akademika dari berbagai latar belakang, Departemen Perikanan UGM memandang keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kolaborasi, saling menghormati, dan bersama-sama menghasilkan solusi bagi tantangan sektor perikanan.

Momentum Waisak juga menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari capaian akademik atau teknologi, tetapi juga dari kemampuan membangun kehidupan yang damai, adil, dan berkelanjutan. Dengan semangat tersebut, dunia perikanan dapat terus berkembang tanpa mengabaikan keseimbangan ekologis dan nilai-nilai kemanusiaan.

Keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak 2569 BE kepada seluruh umat Buddha yang merayakan. Semoga semangat kebijaksanaan, kedamaian, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan senantiasa menjadi inspirasi dalam berkarya dan mengabdi bagi masyarakat.

Refleksi ini sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan nilai-nilai keberlanjutan, harmoni sosial, dan kolaborasi dalam pengelolaan sumber daya perikanan.

Refleksi Idul Adha: Semangat Pengorbanan dan Kepedulian dalam Membangun Masa Depan Perikanan Berkelanjutan

Berita Jumat, 29 Mei 2026

Yogyakarta — Hari Raya Idul adha tidak hanya menjadi momentum ibadah dan perayaan keagamaan, tetapi juga ruang refleksi mengenai makna pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, semangat Idul adha menjadi pengingat penting bahwa pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan juga memerlukan dedikasi, kerja keras, dan pengorbanan bersama.

Makna pengorbanan dalam Idul adha tercermin dari keteladanan Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan kepatuhan, ketulusan, dan kesediaan menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi. Nilai tersebut relevan dengan dunia pendidikan dan pengembangan perikanan saat ini, di mana kemajuan ilmu pengetahuan, keberlanjutan sumber daya, dan kesejahteraan masyarakat pesisir tidak dapat dicapai secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan komitmen bersama.

Dalam konteks Departemen Perikanan, semangat pengorbanan dapat dimaknai melalui berbagai bentuk kontribusi. Dosen dan peneliti terus berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan serta inovasi untuk mendukung pengelolaan sumber daya perairan yang lebih baik. Mahasiswa belajar dan berproses untuk menjadi generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan. Sementara tenaga kependidikan turut menjaga ekosistem akademik agar tetap berjalan dengan baik.

Iduladha juga mengajarkan pentingnya berbagi dan memperkuat solidaritas sosial. Nilai tersebut sangat dekat dengan kehidupan masyarakat perikanan yang selama ini hidup berdampingan dengan budaya gotong royong dan kerja kolektif. Dalam banyak komunitas pesisir, keberhasilan tidak lahir dari kerja individu semata, tetapi dari kemampuan saling mendukung dan menjaga keberlanjutan bersama.

Selain itu, pengorbanan dalam sektor perikanan juga dapat dimaknai sebagai keberanian untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan keberlanjutannya. Upaya menjaga laut, sungai, pesisir, dan ekosistem perairan membutuhkan kesadaran untuk tidak hanya mengambil manfaat hari ini, tetapi juga memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati sumber daya yang sama.

Momentum Idul adha menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan pendidikan sejatinya harus memberi manfaat luas bagi masyarakat. Semangat berbagi, kepedulian, dan pengabdian menjadi bagian penting dalam perjalanan membangun sektor perikanan Indonesia yang lebih adil, tangguh, dan berkelanjutan.

Keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengucapkan Selamat Hari Raya Idul adha 1447 H. Semoga semangat pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian senantiasa menjadi inspirasi dalam berkarya, belajar, dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat serta masa depan sumber daya perikanan Indonesia.

Refleksi ini juga sejalan dengan nilai-nilai Sustainable Development Goals terutama tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan nilai kepedulian, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial dalam dunia pendidikan dan pengelolaan sumber daya perairan.

Magang Berdampak Mahasiswa Perikanan UGM: Suara Nelayan Juwana Diangkat ke Ruang Akademik dan Kebijakan

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Program Magang Berdampak di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali melahirkan karya penelitian yang dekat dengan realitas masyarakat pesisir. Salah satu mahasiswa, berhasil mengangkat dinamika sosial-ekonomi nelayan melalui penelitian berjudul “Protes Nelayan terhadap Kebijakan Penerimaan Negara Bukan Pajak Pasca Produksi di Pelabuhan Perikanan Pantai Juwana.”

Penelitian ini lahir dari pengalaman lapangan yang diperoleh selama kegiatan magang dan observasi langsung di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana, Kabupaten Pati. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, Ia melakukan wawancara dengan pemilik kapal, pengurus kapal, ABK, hingga pihak pelabuhan untuk memahami dampak kebijakan PNBP pasca produksi terhadap kehidupan nelayan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem PNBP pasca produksi sejak 2023 memunculkan keresahan di kalangan nelayan Pantura. Bentuk protes yang dilakukan meliputi demonstrasi, audiensi langsung, pemasangan surat terbuka, hingga penundaan pembayaran PNBP. Nelayan menilai kebijakan tersebut memberatkan karena pendapatan mereka sangat bergantung pada cuaca, musim, dan hasil tangkapan yang fluktuatif. Selain itu, adanya ancaman suspend izin kapal, denda keterlambatan pembayaran, serta ketidaksesuaian harga acuan ikan dengan harga pasar menjadi persoalan utama yang dirasakan nelayan.

Menariknya, penelitian ini tidak hanya menyoroti konflik kebijakan, tetapi juga menunjukkan pentingnya dialog antara pemerintah dan masyarakat pesisir. Respons dari pihak pelabuhan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang membuka ruang diskusi menjadi indikasi bahwa pengelolaan perikanan membutuhkan pendekatan partisipatif dan adaptif.

Melalui pengalaman Magang Berdampak, Mahasiswa tersebut tidak hanya belajar metode penelitian, tetapi juga memahami secara langsung kompleksitas kehidupan nelayan dan tata kelola sektor perikanan nasional. Pengalaman ini memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan ilmu akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.

Program ini juga memiliki keterkaitan kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian mengenai kesejahteraan nelayan mendukung SDG 1 (No Poverty) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui perhatian terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas. Selain itu, kajian tata kelola perikanan yang lebih adil dan partisipatif turut mendukung SDG 14 (Life Below Water) dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan dialog antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui karya seperti ini, mahasiswa Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa riset bukan hanya tentang data dan teori, tetapi juga tentang menghadirkan suara masyarakat pesisir ke ruang akademik dan pengambilan kebijakan.

Prof. Djumanto Resmi Menjadi Sekretaris Senat Fakultas Pertanian UGM Periode 2026–2031

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Guru Besar Departemen Perikanan, Prof. Djumanto, resmi mendapat amanah sebagai Sekretaris Senat Fakultas Pertanian UGM periode 2026–2031, bersama dengan Ketua Senat Prof. Dr. Ir. Y. Andi Trisyono, M.Sc.

Penetapan kepengurusan Senat Fakultas Pertanian UGM periode baru menjadi bagian penting dalam melanjutkan arah pengembangan akademik dan tata kelola kelembagaan fakultas selama lima tahun ke depan. Kehadiran figur-figur akademisi dalam kepemimpinan Senat diharapkan mampu memperkuat pengambilan kebijakan strategis serta mendorong pengembangan Fakultas Pertanian yang semakin unggul, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat.

Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, amanah yang diterima Prof. Djumanto menjadi kebanggaan tersendiri. Selama ini beliau dikenal aktif dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, khususnya pada kajian sumber daya perairan dan perikanan. Kiprah akademiknya tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam penguatan tata kelola dan pengembangan institusi pendidikan tinggi.

Sebagai akademisi sekaligus guru besar, Prof. Djumanto memiliki pengalaman panjang dalam mendampingi pengembangan pendidikan dan riset di lingkungan UGM. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi modal penting dalam mendukung pelaksanaan tugas Senat Fakultas yang memiliki peran strategis dalam memberikan pertimbangan akademik dan penguatan arah kebijakan fakultas.

Momentum ini sekaligus menjadi penanda estafet kepemimpinan baru di lingkungan Senat Fakultas Pertanian. Harapan besar disampaikan agar Ketua dan Sekretaris Senat Fakultas Pertanian UGM periode 2026–2031 dapat menjalankan amanah dengan baik, penuh kebijaksanaan, dan membawa semangat kolaborasi dalam memajukan fakultas.

Di saat yang sama, penghargaan juga diberikan kepada Ketua dan Sekretaris Senat Fakultas Pertanian periode 2021–2026 atas dedikasi, pengabdian, dan kontribusi yang telah diberikan selama masa kepemimpinan. Berbagai upaya dan capaian yang telah dilakukan menjadi bagian penting dari perjalanan pengembangan Fakultas Pertanian hingga saat ini.

Departemen Perikanan UGM turut menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Prof. Djumanto atas amanah baru yang diemban. Semoga kepercayaan tersebut dapat dijalankan dengan baik dan menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan Fakultas Pertanian UGM yang semakin maju dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Semangat penguatan tata kelola pendidikan tinggi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Kepemimpinan akademik yang kuat menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan institusi pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

 
Sumber Foto: Tim Media Fakultas Pertanian UGM

Belajar Kebijakan Laut hingga Strategi Pembangunan Perikanan, Ini Serunya Mata Kuliah Fisheries and Marine Policy di Perikanan UGM

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Sektor perikanan dan kelautan tidak hanya membutuhkan teknologi dan kemampuan produksi, tetapi juga kebijakan yang tepat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam mata kuliah Fisheries and Marine Policy di Magister Ilmu Perikanan (MIP), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

Mata kuliah wajib yang diajarkan pada semester pertama ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana kebijakan perikanan dan kelautan dibentuk, diterapkan, hingga dievaluasi dalam konteks pembangunan nasional maupun global. Mata kuliah ini diampu oleh Prof. Djumanto dan Prof. Suadi.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa belajar berbagai teori pembangunan perikanan, posisi sektor perikanan dalam ekonomi nasional dan internasional, hingga strategi kebijakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Tidak hanya membahas Indonesia, mahasiswa juga diajak melihat berbagai contoh pembangunan perikanan di negara-negara berbasis maritim seperti Jepang, Amerika, Eropa, dan negara-negara Asia lainnya.

Yang menarik, pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui kuliah di kelas. Mahasiswa aktif mengikuti diskusi kelompok, presentasi, studi kasus, kuis, hingga analisis berbagai persoalan nyata di sektor perikanan dan kelautan. Pendekatan ini membuat mahasiswa belajar berpikir kritis terhadap isu-isu strategis seperti konflik sumber daya, tata kelola pesisir, pembangunan ekonomi maritim, hingga peran negara dan swasta dalam sektor perikanan.

Mahasiswa juga dikenalkan pada konsep kebijakan publik modern dan tata kelola laut internasional. Topik-topik seperti konservasi lintas batas laut, hukum laut internasional, hingga marine governance menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dunia perikanan modern sangat erat kaitannya dengan aspek sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan secara global.

Selain memperkuat wawasan akademik, mata kuliah ini dirancang untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam merumuskan, menerapkan, dan mengevaluasi kebijakan perikanan secara logis, kritis, dan inovatif. Mahasiswa juga didorong untuk mampu bekerja dalam tim, membangun jejaring, serta berkontribusi dalam pengembangan masyarakat dan sektor perikanan Indonesia.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu pembangunan pesisir, kebijakan publik, ekonomi kelautan, maupun tata kelola sumber daya laut, mata kuliah ini memberikan gambaran bahwa kuliah di Perikanan UGM tidak hanya belajar tentang ikan, tetapi juga memahami bagaimana kebijakan memengaruhi masa depan laut dan masyarakat pesisir.

Melalui pembelajaran ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mencetak lulusan yang mampu berpikir strategis, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan sektor perikanan dan kelautan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Penguatan tata kelola dan kebijakan perikanan menjadi bagian penting dalam menciptakan pembangunan kelautan yang adil dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Ikuti Sosialisasi dan Simulasi Kenaikan Jabatan Akademik Melalui SISTER

Berita Senin, 11 Mei 2026

Yogyakarta — Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Kenaikan Jabatan Dosen melalui SISTER yang diselenggarakan pada Senin, 11 Mei 2026 di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan pemahaman dosen terkait mekanisme pengajuan kenaikan jabatan akademik melalui platform SISTER (Sistem Informasi Sumberdaya Terintegrasi). Sosialisasi diikuti oleh dosen di lingkungan Fakultas Pertanian UGM, termasuk sivitas akademika Departemen Perikanan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai alur administrasi, kelengkapan dokumen, hingga simulasi teknis pengajuan jabatan akademik dosen melalui sistem digital. Proses digitalisasi layanan akademik dinilai penting untuk mendukung tata kelola perguruan tinggi yang lebih efektif, transparan, dan terintegrasi.

Selain membahas aspek administratif, kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi mengenai pengembangan karier akademik dosen, mulai dari strategi penyusunan portofolio akademik, penguatan publikasi ilmiah, hingga pemenuhan indikator kinerja tridarma perguruan tinggi.

Bagi dosen Departemen Perikanan UGM, kegiatan semacam ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas akademik dan profesionalisme di tengah tuntutan pendidikan tinggi yang semakin dinamis dan kompetitif. Jabatan akademik tidak hanya menjadi bentuk pengakuan profesional, tetapi juga mencerminkan kontribusi dosen dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab dan simulasi langsung penggunaan sistem SISTER. Peserta aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan administrasi maupun teknis yang sering dihadapi dalam proses pengajuan kenaikan jabatan akademik.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Pertanian UGM terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia akademik agar mampu berkontribusi lebih luas dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Penguatan tata kelola akademik dan pengembangan kapasitas dosen menjadi bagian penting dalam menciptakan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berkelanjutan.

Pererat Silaturahmi, Dharma Wanita Departemen Perikanan Gelar Halal Bihalal dan Susun Agenda Tahunan

Berita Jumat, 10 April 2026

Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada pada Jumat, 10 April 2026. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang sekaligus dirangkaikan dengan momen halal bihalal, sebagai ajang mempererat tali silaturahmi antaranggota setelah bulan Ramadan.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh para anggota Dharma Wanita dengan suasana kekeluargaan yang kental. Selain saling bermaafan, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi serta kebersamaan dalam mendukung berbagai aktivitas di lingkungan Departemen Perikanan.

Tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk membahas rencana kegiatan selama satu tahun ke depan. Berbagai agenda strategis dirancang untuk mendukung peran Dharma Wanita, baik dalam kegiatan sosial, pemberdayaan anggota, maupun kontribusi terhadap lingkungan akademik.

Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai masukan dari anggota, mencerminkan semangat kolaboratif dalam menyusun program kerja yang lebih terarah dan bermanfaat. Agenda tahunan yang dirancang diharapkan dapat memperkuat peran Dharma Wanita sebagai bagian penting dalam mendukung kegiatan di Departemen Perikanan.

Melalui kegiatan ini, Dharma Wanita tidak hanya menjaga tradisi silaturahmi, tetapi juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui pemberdayaan perempuan, SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan hubungan sosial, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antaranggota dalam berbagai kegiatan organisasi.

Studi Banding Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan (KMIP) UGM bersama Himpunan Mahasiswa Akuakultur Universitas Airlangga: Berkolaborasi Satukan Misi

Berita Jumat, 14 November 2025

KMIP Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM telah menerima kunjungan studi banding dari HIMAKUA Universitas Airlangga, yang dilaksanakan pada hari Jum’at, 14 November 2025 di Auditorium Harjono Danoesastro Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Kegiatan studi banding ini diikuti kurang lebih sebanyak 60 orang dari pihak Himpunan Mahasiswa Akuakultur Universitas Airlangga dan 45 orang dari pihak KMIP Universitas Gadjah Mada.

Kegiatan berlangsung mulai pukul 07.00–12.00 WIB, diawali dengan Tour de Faculty yakni mengelilingi Fakultas Pertanian UGM seperti Inkubator Minat Bisnis (Resto IMB), area Fakultas Pertanian UGM, laboratorium dan Area Gedung Departemen Perikanan UGM. Selanjutnya, kegiatan dilakukan di Auditorium Hardjono Danoesastro Fakultas Pertanian, diawali dengan pembukaan oleh MC, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan hymne dari masing-masing universitas. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua KMIP UGM, Ketua HIMAKUA Universitas Airlangga, dan Pembina KMIP UGM. “Kegiatan studi banding KMIP UGM dan HIMAKUA Universitas Airlangga adalah ruang kolaborasi lintas universitas untuk saling bertukar ide, pengalaman, serta pengetahuan yang dimana dapat dijadikan bekal untuk kepengurusan selanjutnya” ujar Ketua Himpunan KMIP UGM, Bintang Listyan Ramadhan.

Selama kegiatan, kedua organisasi memaparkan struktur serta program kerja yang sedang dijalankan, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama yang membahas pengembangan organisasi dan peluang kerja sama ke depan. Suasana kekeluargaan semakin terasa melalui sesi ice breaking dan penyerahan kenang-kenangan dari masing-masing pihak. Setelah sesi penutupan dan dokumentasi, kegiatan diakhiri dengan dokumentasi di balairung yang merupakan tempat ikonik dari UGM.

Salah satu hasil penting dari studi banding ini adalah terbentuknya gambaran awal rancangan pengembangan organisasi untuk lima tahun mendatang, termasuk penguatan program kerja, peningkatan kualitas kegiatan akademik, dan perluasan relasi antar-organisasi. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi awal mula kerja sama jangka panjang yang bermanfaat bagi KMIP UGM maupun HIMAKUA UNAIR, serta memberi dampak positif bagi perkembangan mahasiswa di bidang perikanan.

Kegiatan ini mendukung poin-poin dalam Sustainable Development Goals yakni poin 16 Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh serta poin 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: KMIP UGM

Editor: Nahla Alfiatunnisa, S.Pi.

12
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY