• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • Kerja Sama
    • Laporan Kinerja UPPS
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Berita
  • hal. 15
Arsip:

Berita

Lele Makaroni dalam Kaleng Sebagai Alternatif Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masyarakat

Berita Senin, 11 Juli 2011

Konsumsi yang dibutuhkan oleh korban bencana biasanya berupa makanan yang tahan lama jika disimpan, proses penyajiannya pun cukup cepat, sederhana dan dapat disajikan secara massal. Merasa tertantang untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Nur Hasanah bersama dengan Harry Indra Permana, Budi Mulyara, Annisa Lutfi Alwi dan Nuri Muahiddah yang sesama mahasiswa Perikanan UGM membuat inovasi dengan mengembangkan kombinasi makaroni dan lele fillet yang dikemas dalam kaleng. Inovasi ini juga lolos sebagai peserta Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXIV yang tahun ini diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan dengan judul karya “Kombinasi Ikan Lele (Clarias sp.) dengan Makaroni Bersaus Tomat dalam Kaleng Sebagai Alternatif Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masyarakat“. Pengembangan ini diharapkan dapat menjadi sebuah alternatif produk makanan yang relatif lebih tahan lama masa simpannya, bahan baku murah dan mudah cara pembuatannya.

Tujuan yang ingin dicapai yaitu meningkatkan nilai ekonomis lele (Clarias sp.) dengan inovasi makaroni dan saos tomat dan memenuhi kebutuhan protein masyarakat dengan produk olahan inovatif yang bergizi dan aman bagi kesehatan. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi atau AKG BPOM NO. HK.00.05.5.1142 tanggal 25 Maret 2003, hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa produk Lele Makaroni memberikan persentase kebutuhan gizi terutama protein sebesar 20 % dari per sajian satu Produk Lele Makaroni, artinya Lele Makaroni dapat dijadikan alternatif baru dalam upaya pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat dengan kandungan protein tinggi. Keterkaitan secara lebih jelas dirumuskan dalam pengertian ketahanan pangan (food security) yaitu tersedianya pangan dalam jumlah dan mutu yang memadai dan dapat dijangkau oleh semua orang untuk hidup sehat, aktif dan produktif. Selain itu, dengan bahan baku berupa ikan lele yang mengandung 20% protein. Protein baik untuk sistem pencernaan, memperkuat sistem daya tahan tubuh, membantu sistem pernapasan, menghasilkan hormon dan enzim. Selain itu, ikan lele mengandung Omega-3 dan Omega-6 yang bermanfaat untuk perkembangan fungsi saraf, menurunkan kadar kolesterol darah, mengatasi beban penderita penyakit asma, rematik dan ibu hamil sangat dianjurkan mengonsumsi omega 3 untuk proses tumbuh kembang otak janin.

Produk Lele Makaroni (fish canned) merupakan kombinasi antara makaroni dan ikan lele yang dikemas dengan teknologi pengalengan agar produk makanan menjadi relatif lebih tahan lama masa simpannya, tanpa bahan pengawet dan siap saji. Selain itu, dengan bahan baku berupa ikan lele yang mengandung 20% protein. Protein baik untuk sistem pencernaan, memperkuat sistem daya tahan tubuh, membantu sistem pernapasan, menghasilkan hormon dan enzim. Selain itu, ikan lele mengandung Omega-3 dan Omega-6 yang bermanfaat untuk perkembangan fungsi saraf, menurunkan kadar kolesterol darah, mengatasi beban penderita penyakit asma, rematik dan ibu hamil sangat dianjurkan mengonsumsi omega 3 untuk proses tumbuh kembang otak janin.

Produk Lele Makaroni merupakan produk yang mengalengkan ikan air tawar di mana selama ini budidaya air tawar terus digencarkan dalam program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pusat yaitu mencapai target 300 %, hal ini merupakan keunggulan produk Lele Makaroni yang diproduksi tidak hanya memandang profit atau keuntungan semata tetapi juga membantu serta mengoptimalkan program pemerintah dalam hal mencapai kesejahteraan pangan masyarakat. Tahapan yang dilakukan dalam memulai produksi dan pemasaran produk Lele Makaroni ini adalah koordinasi dan negosiasi, perbaikan mutu produk, produksi, analisis proksimat, labeling dan pemasaran. Pemasaran didukung oleh promosi dengan penyebaran leaflet dan kartu nama.

Produk ini memperoleh tanggapan yang baik dari konsumen. Baik dari segi rasa ikan, makaroni, serta inovasi pengalengan sendiri. Sifatnya yang siap saji membuat konsumen tertarik untuk membeli. Seperti salah satu konsumen kami seorang pendaki gunung, memilih lele macaroni sebagai bekal perjalanannya karena produk ini selain praktis dan siap saji juga mengandung gizi yang seimbang sehinggga baik untuk kesehatan. Rasa ikan yang gurih dengan saus asam manis sangat sesuai untuk lidah masyarakat Yogyakarta yang tidak terlalu suka pedas. Berbagai dukungan positif kami terima dari berbagai pihak terutama dalam hal memotivasi untuk terus berjuang. Bahkan banyak pihak yang mendukung untuk keberlanjutan usaha pengalengan ini setelah masa hibah dana PKM ini selesai. Pengembangan kualitas produk akan terus kami lakuakan dengan berinovasi yang lebih bagus lagi. Untuk ke depannya kami berharap produk ini bisa bersaing dengan produk-produk pengalengan yang sudah ada sebelumnya sehingga meningkatkan daya saing produk pengalengan local di Industri Indonesia yang dimana produk pengalengannya masih didominasi oleh produk impor. Sehingga dapat mendukung program pemerintah yaitu peningkatan 300% produk perikanan dan gemar makan ikan.

Fakultas Baru Bagi Jurusan Perikanan

Berita Minggu, 10 Juli 2011

Akhir-akhir ini beredar rumor bahwa Jurusan Perikanan ingin berdiri sendiri menjadi fakultas baru dengan nama Fakultas Perikanan dan Kelautan. Sebelumnya, Jurusan Perikanan termasuk salah satu jurusan yang berada dalam Fakultas Pertanian. Sebenarnya gagasan ini sudah lama ada di jurusan yang berdiri pada tahun 1963/1964 tersebut.

Menurut Dr. Ir. Triyanto M.Si selaku Kepala Jurusan Perikanan, gagasan mengubah jurusan menjadi fakultas sudah pernah diusahakan dengan mengajukannya ke Senat Fakultas dilanjutkan ke Universitas sampai ke Dikti. Hanya saja pada tahapan Dikti program tersebut ditolak dengan alasan belum terlalu penting mengingat dulunya keadaan studi Jurusan Perikanan UGM masih minim fasilitas. Berbeda dengan fasilitas sekarang yang sudah lengkap, dulu studi Jurusan Perikanan mempunyai gedung yang kurang memadai serta menggunakan gedung-gedung kecil yang letaknya di sebelah utara Fakultas Hukum UGM.

Dengan dibukanya Fakultas Perikanan dan Kelautan, diharapkan akan memberi banyak manfaat bagi civitas jurusan ini. Menurut Triyanto apabila hal tersebut terealisasi, akan berdampak pada tatanan penjurusan ilmu perikanan yang lebih fokus sesuai dengan tata urutan ilmunya dan berdiri sendiri.

Mahasiswa juga akan banyak diuntungkan. “Keuntungan mahasiswa misal administrasinya jadi lebih mudah, fasilitas bertambah. Tentunya lebih fokus, kurikulum lebih menjurus,” komentar Langga Pratama (Perikanan/08). Mahasiswa juga dituntut untuk siap jiwa raga karena akan lebih banyak aktivitas dan organisasi baru.

Triyanto percaya bahwa faktor-faktor pendukung program tersebut sudah dimiliki oleh Jurusan Perikanan. Kelengkapan dari segi keilmuan dan infrastruktur Jurusan Perikanan UGM sudah tidak perlu diragukan lagi. Hanya saja untuk tahun ini kemungkinan program membuka fakultas baru ini belum dapat terealisasikan. “Pengajuan permohonan program ini untuk sampai di pusat memerlukan waktu yang lama, harapannya program ini terealisasi untuk tahun depan,” pungkas Triyanto.

sumber

Lagi, Mahasiswa Perikanan UGM Meriahkan PIMNAS

Berita Jumat, 24 Juni 2011

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang ke-24 tahun ini akan diselenggarakan di Universitas Hasanuddin, Makassar pada tanggal 18-23 Juli 2011 dengan tema utama PIMNAS tahun ini adalah “Inovasi Untuk Membangun Karakter Bangsa Maritim”.

PIMNAS adalah kegiatan ilmiah mahasiswa berskala nasional, yang acara puncaknya berlangsung setiap bulan Juli. Kegiatan yang diselengarakan bulan Juli 2011 ini akan memperebutkan piala bergilir Menteri Pendidikan Nasional “Adikarta Kertawidya”. Ajang ini berfungsi sebagai forum diskusi dan dialog tentang masalah pembangunan nasional dan masalah aktual lainnya.

Selain kegiatan Seminar dan Presentase PKM sebagai kegiatan utama PIMNAS XXIV terdapat juga kegiatan penunjang yaitu Lomba Karya Tulis yaitu
1. Lomba Karya Tulis Wirausaha Mahasiswa
2. Lomba Karya Tulis Bidang Lingkungan
3. Lomba Karya Tulis Bidang Kemaritiman

Seperti tahun-tahun sebelumnya, mahasiswa Perikanan UGM tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan turut ambil bagian dalam PIMNAS XXIV tahun ini. Informasi lengkap bisa diunduh disini

KKP Respon UGM Buka Fakultas Perikanan dan Kelautan

Berita Selasa, 21 Juni 2011

Fadel Muhammad
Fadel Muhammad

Menteri Kelautan dan Perikanan, Dr. Fadel Muhammad, mengatakan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan tetap menjadi prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan. Berbagai upaya yang dilaksanakan, di antaranya mengintensifkan program nasional Minapolitan. Selain itu, untuk mempercepat pencapaian kesejahteraan masyarakat, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan perubahan berpikir dan orientasi dari daratan ke maritim, melaksanakan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan, dan peningkatan pendapatan rakyat yang adil, merata, dan pantas. “Ini merupakan empat pilar Revolusi Biru dari KKP sebagai bentuk visi misi di tahun 2010-2014 untuk menyejahterakan masyarakat,” tutur Fadel di Ruang Seminar Sekolah Pascasarjana UGM, Senin (20/6), saat menjadi keynote speaker Seminar Nasional “Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Kelautan Indonesia Berwawasan Lingkungan”.

Dikatakan Fadel bahwa saat ini telah dikembangkan Program Usaha Mina Pedesaan (PUMP) berbasis perikanan budidaya di 300 kabupaten/kota. Di samping itu, PUMP berbasis perikanan tangkap di 110 kabupaten/kota dan PUMP berbasis usaha pengolahan dan pemasaran di kabupaten/kota, serta Program Pemberdayaan Garam Rakyat (PUGAR) di 40 kabupaten/kota. Dengan demikian, diharapkan tingkat kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan cepat meningkat yang akhirnya memberikan rasa keadilan bagi mereka karena pemerintah memberikan perhatian.

Oleh karena itu, KKP dengan antusias menyambut baik keinginan UGM untuk membuka Fakultas Perikanan dan Kelautan. Dengan fakultas ini diharapkan mampu dihasilkan SDM profesional di bidang sumber daya pesisir, kelautan, dan perikanan. Fadel berharap para tenaga profesional nantinya merupakan tenaga-tenaga yang bersedia terjun di daerah-daerah. “Indonesia timur menyimpan potensi perikanan dan kelautan yang sangat besar, Kupang, dan lain-lain sangat membutuhkan perhatian. Sayang, banyak orang enggan ke sana. Inilah yang menjadi kendala pembangunan perikanan dan ke lautan di sana,” tambah Fadel.

Terkait dengan pembukaan fakultas baru, Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., berharap tidak lama lagi rencana itu akan terwujud. Dikatakannya, laut merupakan area yang sangat luas. Bila sumber daya ini dikelola dengan baik tentu akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. “Itulah yang menjadi latar belakang kenapa kita berkeinginan mendirikan fakultas baru. Untuk menuju pengelolaan yang baik tentu saja membutuhkan akar teori dan ilmu-ilmu sebab di samping menyejahterakan, faktor keamanan juga akan terjamin,” tutur Rektor. (Humas UGM/ Agung)

Dikutip sesuai aslinya dari sini sebelum diedit.

WWF Luncurkan Panduan “Seafood” Baru

Berita Rabu, 8 Juni 2011

Oleh: Masayu Yulien Vinanda

SeafoodSeafood

© WWF-Indonesia/Irza Rinaldi

 

Jakarta (01/06) – Sebagai upaya untuk meningkatkan permintaan nasional terhadap sustainable seafood, WWF mendorong konsumen untuk lebih selektif memilih hidangan laut. Salah satunya adalah melalui sosialisasi seafood guide, buku saku yang berisi panduan memilih hidangan laut yang berkelanjutan.

Panduan tersebut dibuat bukan untuk melarang atau membatasi konsumsi hidangan laut. Akan tetapi, Seafood Guide merupakan salah satu acuan untuk menikmati hidangan laut dengan lebih bertanggung jawab. Produk hidangan laut di Indonesia, juga di negara lain, terancam ketahanan, keamanan, dan keberlanjutannya akibat rusaknya ekosistem perikanan laut.  Ancaman tersebut berasal dari praktik perikanan destruktif, penangkapan berlebih (overfishing), dan tangkapan sampingan (by-catch). Bahkan jika kondisi ini masih terus berlangsung, sejumlah ahli perikanan dunia memperkirakan bahwa di tahun 2048, warga dunia hanya hanya dapat mengkonsumsi ubur-ubur dan plankton karena habisnya stok ikan.

Permintaan tinggi terhadap berbagai jenis ikan karang seperti kakap, tuna, baronang, kepiting, udang hingga lobster membuat para nelayan melakukan segala cara untuk mendapatkan sumber daya laut tersebut dalam jumlah besar. Praktik perikanan destruktif pun dilakukan misalnya dengan menggunakan bom atau racun sianida. Cara penangkapan yang seperti ini merusak ekosistem perikanan, termasuk terumbu karang, yang berujung pada berkurangnya populasi ikan karang.

Melalui kampanye “Choose your seafood right” yang menggunakan seafood guide sebagai instrumen utama kampanye, WWF berusaha untuk mengenalkan gagasan “sustainable seafood” kepada konsumen dan mendorong mereka untuk memilih hidangan laut secara bijak. Dengan meningkatnya permintaan hidangan laut lestari, maka diharapkan pera pelaku industri perikanan akan berproduksi secara lebih efisien dan ramah lingkungan.

Mari kita lestarikan sumber daya laut..demi generasi yang akan datang dan laut lestari!

Unduh Seafood Guide terbaru…

Sumber

1…131415
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY