• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Berita
Arsip:

Berita

Belajar dari Laut Jawa: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Dinamika Penangkapan Ikan dan Tantangan Keberlanjutan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Program Magang Berdampak tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi mahasiswa, tetapi juga menghadirkan ruang belajar langsung mengenai realitas sektor perikanan Indonesia. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Gondoyoni David Ananto Putro, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, selama menjalani kegiatan magang yang berfokus pada aktivitas penangkapan ikan dan analisis hasil tangkapan Jaring Tarik Berkantong (JTB) di kawasan Laut Jawa.

Selama kegiatan magang, David berkesempatan mempelajari secara langsung pola produksi hasil tangkapan kapal JTB, dinamika musim penangkapan, hingga tantangan pengelolaan sumber daya perikanan yang semakin kompleks. Pengalaman lapangan tersebut membawanya memahami bahwa aktivitas penangkapan ikan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan stok sumber daya ikan di masa depan.

“Ketika melihat data dan kondisi lapangan secara langsung, saya menyadari bahwa sektor perikanan memiliki dinamika yang sangat kompleks. Di balik tingginya hasil tangkapan, ada tantangan besar terkait bagaimana sumber daya tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ungkap David.

Selama pengamatan, David menemukan bahwa hasil tangkapan kapal JTB sepanjang periode 2025–2026 menunjukkan pola produksi yang berfluktuasi mengikuti musim penangkapan. Puncak produksi tercatat terjadi pada beberapa periode tertentu seperti Februari, Agustus–September, dan awal tahun 2026. Menariknya, komposisi hasil tangkapan didominasi oleh ikan swanggi (Priacanthus tayenus) dengan proporsi mencapai sekitar 45% dari total tangkapan. Sementara jenis ikan lain seperti kapas-kapas, pasir-pasir, kuniran, dan kurisi memberikan kontribusi lebih kecil terhadap total produksi.

David menjelaskan bahwa dominasi ikan swanggi menunjukkan tingginya aktivitas penangkapan ikan demersal sekaligus tingginya permintaan pasar terhadap komoditas tersebut. Namun, hasil ini juga memunculkan pertanyaan penting mengenai tekanan penangkapan yang terjadi pada sumber daya perikanan. Ia juga mempelajari indikator Catch Per Unit Effort (CPUE), yang menggambarkan efisiensi hasil tangkapan dibandingkan upaya penangkapan. Dari hasil analisis, nilai CPUE swanggi menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi dan dipengaruhi oleh musim penangkapan. Puncak produktivitas terjadi pada bulan Maret, mengalami penurunan pada Mei, kemudian kembali meningkat pada Agustus hingga September.

Pengalaman tersebut semakin membuka pandangan David mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya berbasis data. Ia menemukan bahwa beberapa wilayah penangkapan telah menghadapi tekanan eksploitasi yang tinggi, ditandai dengan penurunan stok ikan, ukuran ikan yang semakin kecil, hingga lokasi penangkapan yang semakin jauh dari pantai. Menurut David, pengalaman lapangan menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan sektor perikanan tidak hanya diukur dari besarnya hasil tangkapan, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan sumber daya.

“Kami belajar bahwa pengelolaan perikanan membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Nelayan, pemerintah, pelabuhan, dan akademisi memiliki peran yang sama pentingnya untuk menjaga sumber daya tetap tersedia bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa memperoleh kesempatan melihat bagaimana teori di ruang kelas bertemu dengan realitas lapangan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk membentuk lulusan yang tidak hanya memahami ilmu perikanan secara akademik, tetapi juga peka terhadap tantangan nyata sektor perikanan Indonesia. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Penguatan pengalaman lapangan dan pemahaman pengelolaan perikanan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mencetak generasi masa depan yang adaptif dan berdampak.

Belajar di Tengah Ombak: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Pentingnya Keselamatan Kerja Awak Kapal Perikanan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Bagi Azzahra Qanita Rafifah, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Program Magang Berdampak menjadi kesempatan untuk melihat langsung dinamika kehidupan di atas kapal perikanan sekaligus memahami pentingnya aspek keselamatan kerja bagi awak kapal.

Selama menjalani kegiatan magang, Azzahra melakukan pengamatan dan pembelajaran mengenai keselamatan kerja pada kapal perikanan jala jatuh berkapal (cast net). Pengalaman lapangan tersebut membawanya pada satu kesimpulan penting: aktivitas penangkapan ikan bukan hanya soal hasil tangkapan, tetapi juga menyangkut keselamatan para pekerja di laut.

Menurut Azzahra, kehidupan di atas kapal menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan pekerjaan pada umumnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu, gelombang tinggi, serta aktivitas kerja yang berlangsung di ruang terbatas menciptakan risiko yang harus dihadapi setiap awak kapal.

“Magang membuat saya memahami bahwa nelayan dan awak kapal bekerja dalam situasi yang penuh tantangan. Ada risiko yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat, tetapi sangat nyata dirasakan di lapangan,” ungkap Azzahra.

Dari hasil wawancara selama kegiatan magang, ditemukan bahwa cuaca ekstrem dan human error menjadi faktor utama yang memengaruhi kecelakaan kerja di kapal perikanan. Ombak tinggi dan kondisi cuaca buruk disebut sebagai tantangan terbesar selama proses penangkapan ikan berlangsung.

Selain faktor alam, berbagai kecelakaan kerja juga pernah dialami awak kapal, mulai dari terkena garda, terjepit tali tambang, hingga kerusakan mesin kapal ketika beroperasi di laut.

Menariknya, Azzahra juga menemukan bahwa meskipun sebagian besar awak kapal telah mengikuti pelatihan keselamatan, penerapan penggunaan alat pelindung diri masih belum sepenuhnya optimal. Beberapa awak kapal menganggap penggunaan life jacket dapat menghambat mobilitas dan aktivitas kerja saat proses penangkapan berlangsung.

Namun dari sisi fasilitas, kapal-kapal yang diamati telah menunjukkan kesiapan alat komunikasi keselamatan. Ketersediaan radio VHF dan radio MF pada kapal perikanan yang diamati telah memenuhi kriteria sesuai ketentuan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian mencapai 100 persen.

Pengalaman tersebut membuka pandangan Azzahra bahwa keselamatan kerja perlu dipandang sebagai bagian penting dalam sistem perikanan berkelanjutan. Menurutnya, teknologi dan perlengkapan keselamatan harus diiringi dengan budaya disiplin dan kesadaran bersama.

“Keselamatan bukan sekadar aturan, tetapi kebiasaan yang perlu dibangun. Karena keberhasilan melaut tidak hanya soal kembali membawa hasil tangkapan, tetapi juga pulang dengan selamat,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami berbagai aspek sosial, keselamatan, dan tantangan nyata yang dihadapi sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Life Below Water). Penguatan budaya keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menciptakan sektor perikanan yang produktif, aman, dan berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Matangkan Persiapan SEMNASKAN XXIII, Perkuat Ruang Kolaborasi Riset Perikanan Nasional

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen memperkuat diseminasi ilmu pengetahuan dan kolaborasi riset bidang perikanan dan kelautan terus dilakukan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan rapat review pemakalah persiapan Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) yang diselenggarakan pada Selasa, 19 Mei 2026 di Ruang 202 Departemen Perikanan UGM.

Rapat ini dipimpin oleh Ketua Panitia kegiatan dan Ketua Sesi Naskah Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., Ph.D. dan Dr. Ega Adhi Wicaksono, S.Pi, dihadiri dosen, guru besar, panitia, serta sivitas akademika yang terlibat dalam penyelenggaraan seminar tahunan tersebut. Forum ini menjadi momentum penting untuk memastikan berbagai aspek pelaksanaan SEMNASKAN XXIII dapat berjalan optimal.

SEMNASKAN sendiri telah menjadi agenda ilmiah tahunan Departemen Perikanan UGM sejak tahun 2003 dan berkembang sebagai ruang strategis untuk mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah, hingga praktisi perikanan dalam mendiseminasikan hasil penelitian dan memperkuat jejaring kolaborasi.

Tahun 2026, SEMNASKAN XXIII mengangkat tema besar mengenai Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal. Tema ini menyoroti besarnya potensi pangan akuatik Indonesia sekaligus pentingnya pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya laut dan perikanan yang sangat besar, Indonesia dinilai memiliki peluang strategis dalam pengembangan blue food berbasis inovasi, teknologi, dan keberlanjutan. Konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi, kesehatan, industri, hingga pengembangan masyarakat pesisir.

Menariknya, SEMNASKAN XXIII juga akan menghadirkan berbagai kelas dan bidang kajian yang mencakup akuakultur, manajemen sumber daya akuatik, penangkapan ikan, sosial ekonomi perikanan, mikrobiologi, mutu dan keamanan produk perikanan, hingga pangan fungsional berbasis sumber daya akuatik. Pendekatan multidisiplin ini diharapkan mampu memperkaya diskusi dan memperluas peluang kolaborasi antarpeneliti.

Melalui rapat ini, Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa seminar ilmiah bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang penting dalam membangun ekosistem riset yang hidup dan berdampak. Persiapan yang matang diharapkan dapat menghadirkan forum ilmiah yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga solusi nyata bagi pengembangan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Penguatan jejaring riset dan diseminasi ilmu pengetahuan menjadi langkah penting dalam membangun sektor perikanan yang inovatif dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Berbagi Keahlian Vaksinasi Ikan, Dorong Penguatan Kesehatan Ikan Air Tawar di Sleman

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Sleman — Upaya meningkatkan kesehatan ikan budidaya dan memperkuat kapasitas pelaku sektor perikanan terus dilakukan melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan di lapangan. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, menjadi narasumber dalam Pelatihan Vaksinasi Pada Ikan Air Tawar yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman pada 23 April 2026.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua jam pelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor budidaya perikanan, khususnya dalam pengendalian penyakit dan peningkatan kesehatan ikan air tawar. Dalam pemaparannya, Dr. Laila menekankan bahwa kesehatan ikan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya. Meningkatnya intensitas budidaya sering kali diikuti dengan meningkatnya risiko munculnya penyakit yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya.

Menurutnya, vaksinasi merupakan salah satu pendekatan preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan ikan terhadap penyakit tertentu. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang karena membantu menekan potensi serangan penyakit sebelum wabah terjadi.

“Pencegahan selalu lebih baik dibandingkan penanganan ketika penyakit sudah menyebar. Dalam budidaya modern, kesehatan ikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang,” jelasnya dalam sesi pelatihan.

Selain menjelaskan konsep dasar vaksinasi, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai prinsip penerapan vaksin pada ikan air tawar, strategi pengendalian penyakit, serta pentingnya menjaga kualitas lingkungan budidaya sebagai bagian dari sistem kesehatan ikan secara menyeluruh. Dr. Laila juga menyoroti bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya bergantung pada metode pemberian vaksin, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain seperti kondisi ikan, kualitas air, manajemen pemeliharaan, hingga ketepatan waktu pemberian perlakuan.

Pelatihan ini menjadi ruang diskusi yang interaktif antara narasumber dan peserta. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan penyakit pada budidaya ikan, hingga praktik pengelolaan kesehatan ikan menjadi topik yang banyak dibahas selama kegiatan berlangsung. Keterlibatan dosen Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan sektor perikanan melalui pendidikan dan transfer pengetahuan kepada masyarakat serta pemangku kepentingan di lapangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan kesehatan ikan dan peningkatan kapasitas pembudidaya menjadi bagian penting dalam mendukung sistem perikanan yang produktif dan berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Diajak Turun Langsung Jaga Ikan Lokal Melalui Aksi Penebaran Benih di Embung Lembah UGM

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya menjaga keberlanjutan sumber daya ikan lokal tidak hanya dilakukan melalui riset dan kebijakan, tetapi juga melalui aksi nyata di lapangan. Dalam semangat konservasi dan kepedulian terhadap ekosistem perairan darat, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada diajak berpartisipasi dalam kegiatan Penebaran Ikan dalam Rangka Konservasi In Situ Ikan Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin, 18 Mei 2026. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian dari Dies Natalis ke-63 Departemen Perikanan.

Kegiatan yang berlangsung di Embung Lembah UGM tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian dan pemulihan sumber daya ikan lokal di perairan umum daratan melalui pendekatan konservasi in situ, yaitu pelestarian spesies langsung di habitat alaminya. Sejak pagi hari, mahasiswa Perikanan UGM dijadwalkan terlibat dalam kegiatan penebaran benih ikan sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung praktik konservasi sumber daya perikanan di lapangan.

Penebaran benih ikan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan populasi spesies asli perairan. Berbagai tekanan seperti perubahan lingkungan, degradasi habitat, hingga aktivitas manusia dapat memengaruhi keberadaan ikan lokal di perairan umum. Melalui kegiatan konservasi seperti ini, upaya pemulihan populasi dan pelestarian keanekaragaman hayati perairan dapat diperkuat.

Bagi mahasiswa Perikanan UGM, kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga karena mempertemukan aspek akademik dengan praktik nyata konservasi. Pembelajaran mengenai ekologi, pengelolaan sumber daya perairan, hingga keberlanjutan lingkungan tidak hanya dipahami secara teoritis di kelas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan langsung di lapangan.

Selain menjadi bentuk aksi konservasi, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menjaga sumber daya perikanan lokal. Keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga ekosistem perairan sebagai bagian dari masa depan lingkungan Indonesia. Semangat menjaga ikan lokal bukan sekadar tentang menambah populasi ikan di perairan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan warisan biodiversitas yang dimiliki Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water) SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 15 (Life on Land). Pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya perairan berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem untuk generasi mendatang.

Departemen Perikanan UGM Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum, Tekankan Pentingnya Evaluasi yang Dinamis

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Dinamika dunia pendidikan tinggi yang terus berkembang menuntut perguruan tinggi untuk selalu adaptif terhadap perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan industri, serta tantangan global. Menjawab kebutuhan tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum pada Senin, 18 Mei 2026 di Ruang 202 Departemen Perikanan UGM. Kegiatan ini dihadiri dosen, guru besar, pimpinan program studi, serta perwakilan Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM sebagai Narasumber utama, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D..

Workshop dibuka oleh Sekretaris Departemen Perikanan, Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. yang menegaskan bahwa kurikulum merupakan fondasi utama dalam menjaga kualitas pendidikan dan relevansi lulusan di masa depan. Kegiatan ini diikuti puluhan dosen lintas bidang, termasuk jajaran guru besar dan pengelola program studi di lingkungan Departemen Perikanan. Kehadiran berbagai unsur akademik menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum bukan sekadar proses administratif, tetapi bagian dari upaya bersama untuk merancang masa depan pendidikan perikanan yang lebih adaptif dan berdampak.

Salah satu penekanan penting yang mengemuka dalam diskusi adalah perlunya kurikulum ditinjau dan diperbarui secara berkala. Prof. dr. Gandes menegaskan bahwa kurikulum tidak dapat dipandang sebagai dokumen statis, melainkan instrumen hidup yang harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Dalam forum tersebut disampaikan bahwa evaluasi dan perbaikan kurikulum idealnya dilakukan minimal setiap lima tahun. Langkah tersebut dipandang penting untuk memastikan materi pembelajaran tetap relevan, responsif terhadap perkembangan keilmuan, serta mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan tantangan sektor perikanan di masa depan.

“Perubahan terjadi sangat cepat. Jika kurikulum tidak dievaluasi secara berkala, perguruan tinggi berisiko menghasilkan lulusan yang tertinggal dari perkembangan kebutuhan masyarakat dan industri,” menjadi salah satu semangat utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Selain membahas arah pengembangan kurikulum, workshop juga menjadi ruang diskusi mengenai penyesuaian terhadap kebijakan pendidikan tinggi terbaru, pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel, penguatan kompetensi lulusan, serta integrasi kebutuhan industri dan perkembangan teknologi ke dalam proses pembelajaran.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pembaruan kurikulum tidak hanya bertujuan mengikuti perubahan regulasi, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, kemampuan adaptasi, serta kesiapan menghadapi tantangan sektor perikanan dan kelautan yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM menunjukkan komitmennya untuk terus menjaga kualitas pendidikan melalui proses evaluasi dan pengembangan berkelanjutan. Kurikulum dipandang bukan hanya daftar mata kuliah, tetapi peta perjalanan yang akan membentuk karakter, kompetensi, dan masa depan lulusan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Pengembangan kurikulum yang adaptif dan berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang relevan, berkualitas, dan mampu menjawab tantangan masa depan.

Prof. Djumanto Resmi Menjadi Sekretaris Senat Fakultas Pertanian UGM Periode 2026–2031

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Guru Besar Departemen Perikanan, Prof. Djumanto, resmi mendapat amanah sebagai Sekretaris Senat Fakultas Pertanian UGM periode 2026–2031, bersama dengan Ketua Senat Prof. Dr. Ir. Y. Andi Trisyono, M.Sc.

Penetapan kepengurusan Senat Fakultas Pertanian UGM periode baru menjadi bagian penting dalam melanjutkan arah pengembangan akademik dan tata kelola kelembagaan fakultas selama lima tahun ke depan. Kehadiran figur-figur akademisi dalam kepemimpinan Senat diharapkan mampu memperkuat pengambilan kebijakan strategis serta mendorong pengembangan Fakultas Pertanian yang semakin unggul, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat.

Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, amanah yang diterima Prof. Djumanto menjadi kebanggaan tersendiri. Selama ini beliau dikenal aktif dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, khususnya pada kajian sumber daya perairan dan perikanan. Kiprah akademiknya tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam penguatan tata kelola dan pengembangan institusi pendidikan tinggi.

Sebagai akademisi sekaligus guru besar, Prof. Djumanto memiliki pengalaman panjang dalam mendampingi pengembangan pendidikan dan riset di lingkungan UGM. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi modal penting dalam mendukung pelaksanaan tugas Senat Fakultas yang memiliki peran strategis dalam memberikan pertimbangan akademik dan penguatan arah kebijakan fakultas.

Momentum ini sekaligus menjadi penanda estafet kepemimpinan baru di lingkungan Senat Fakultas Pertanian. Harapan besar disampaikan agar Ketua dan Sekretaris Senat Fakultas Pertanian UGM periode 2026–2031 dapat menjalankan amanah dengan baik, penuh kebijaksanaan, dan membawa semangat kolaborasi dalam memajukan fakultas.

Di saat yang sama, penghargaan juga diberikan kepada Ketua dan Sekretaris Senat Fakultas Pertanian periode 2021–2026 atas dedikasi, pengabdian, dan kontribusi yang telah diberikan selama masa kepemimpinan. Berbagai upaya dan capaian yang telah dilakukan menjadi bagian penting dari perjalanan pengembangan Fakultas Pertanian hingga saat ini.

Departemen Perikanan UGM turut menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Prof. Djumanto atas amanah baru yang diemban. Semoga kepercayaan tersebut dapat dijalankan dengan baik dan menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan Fakultas Pertanian UGM yang semakin maju dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Semangat penguatan tata kelola pendidikan tinggi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Kepemimpinan akademik yang kuat menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan institusi pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

 
Sumber Foto: Tim Media Fakultas Pertanian UGM

Mahasiswa Magang Berdampak UGM di Bali: Pengalaman Lapangan Membuka Realitas Penangkapan Ikan Tradisional

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman terjun langsung ke lapangan sering kali menghadirkan pelajaran yang tidak ditemukan di ruang kelas. Hal tersebut dirasakan oleh Dias Aditya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, saat mengikuti Program Magang Berdampak di Bali. Selama menjalani kegiatan magang di kawasan perikanan Pengambengan, Bali, Dias mempelajari praktik penentuan daerah penangkapan ikan oleh nelayan, khususnya peran juru panggung dalam menemukan gerombolan ikan di laut. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses penangkapan ikan tidak hanya bergantung pada teknologi modern, tetapi juga pengetahuan lokal dan pengalaman panjang nelayan di lapangan.

Dias mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman paling menarik selama magang adalah melihat secara langsung bagaimana nelayan membaca kondisi laut sebelum menentukan lokasi penangkapan.

“Selama magang saya menyadari bahwa nelayan memiliki pengetahuan lapangan yang sangat kuat. Mereka membaca arus, gelombang, arah angin, bahkan tanda-tanda keberadaan ikan dari kondisi perairan,” ungkap Dias.

Berdasarkan hasil pengamatannya, juru panggung menentukan daerah penangkapan ikan dengan mempertimbangkan berbagai informasi yang diperoleh dari nelayan lain yang telah lebih dahulu melaut. Informasi tersebut umumnya berasal dari nelayan kapal fiber yang memberikan petunjuk mengenai keberadaan gerombolan ikan.

Dias menjelaskan bahwa terdapat dua mekanisme utama yang digunakan nelayan untuk mencari ikan. Cara pertama adalah sistem kejar, yaitu pencarian secara manual dengan terus bergerak mengikuti indikasi keberadaan ikan. Cara kedua adalah sistem nangko pelak, yang dilakukan dengan bantuan informasi dari nelayan lain di laut.

Selain itu, nelayan juga mengenali keberadaan gerombolan ikan melalui pantulan cahaya di permukaan laut dengan mempertimbangkan kekuatan arus, gelombang, angin, jarak tempuh, serta kedalaman perairan. Pengalaman tersebut juga membuka pandangan Dias mengenai tantangan penggunaan teknologi modern di lapangan. Ia menemukan bahwa alat fish finder yang secara umum digunakan untuk mendeteksi keberadaan ikan ternyata belum sepenuhnya diterapkan dalam praktik penangkapan tertentu.

Salah satu kendala yang ditemukan adalah cahaya dari layar fish finder yang dianggap mengganggu penglihatan juru panggung saat kondisi operasi penangkapan dilakukan tanpa penerangan agar gerombolan ikan lebih mudah diamati. Menurut Dias, pengalaman ini memberinya pelajaran penting bahwa inovasi teknologi dalam sektor perikanan perlu mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan kebiasaan nelayan di lapangan.

“Teknologi memang penting, tetapi harus bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Pengalaman di lapangan membuat saya memahami bahwa solusi perikanan tidak hanya soal alat yang canggih, tetapi juga memahami manusia yang menggunakannya,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga belajar memahami dinamika sektor perikanan secara langsung dari masyarakat pelaku utama di lapangan. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan pengalaman lapangan dan pemahaman praktik perikanan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mencetak generasi perikanan masa depan.

KMIP Perikanan UGM Gelar Pelepasliaran Tukik di Pantai Goa Cemara, Wujud Kepedulian Mahasiswa terhadap Ekosistem Laut

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen mahasiswa terhadap pelestarian lingkungan kembali diwujudkan melalui aksi nyata. Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan (KMIP) menggelar kegiatan pelepasliaran tukik di Pantai Goa Cemara pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang menggabungkan semangat konservasi, edukasi, dan kebersamaan mahasiswa Perikanan UGM.

Kegiatan pelepasliaran tukik berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Sejak pagi hari, mahasiswa terlibat dalam rangkaian kegiatan yang tidak hanya menghadirkan pengalaman lapangan, tetapi juga mengajak peserta memahami pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Sebagai organisasi mahasiswa di lingkungan Departemen Perikanan, KMIP terus mendorong berbagai kegiatan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik dan organisasi, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan lingkungan. Pelepasliaran tukik dipilih karena memiliki makna penting dalam mendukung konservasi satwa laut yang kini menghadapi berbagai ancaman.

Penyu merupakan salah satu spesies yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Namun keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan habitat, sampah laut, perubahan iklim, hingga aktivitas manusia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat secara langsung bahwa menjaga keberlanjutan laut dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama.

Momen pelepasan tukik menuju laut juga menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi peserta. Di tengah suasana Pantai Goa Cemara, mahasiswa tidak hanya menyaksikan proses pelepasliaran, tetapi juga merefleksikan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya konservasi lingkungan.

Bagi KMIP, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang aktif, peduli, dan berdampak. Mahasiswa tidak hanya belajar melalui ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenai isu-isu lingkungan dan konservasi sumber daya perikanan.

Melalui kegiatan seperti ini, KMIP menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 15 (Life on Land). Keterlibatan mahasiswa dalam aksi konservasi menjadi langkah penting dalam menjaga ekosistem laut dan keanekaragaman hayati bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Belajar Kebijakan Laut hingga Strategi Pembangunan Perikanan, Ini Serunya Mata Kuliah Fisheries and Marine Policy di Perikanan UGM

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Sektor perikanan dan kelautan tidak hanya membutuhkan teknologi dan kemampuan produksi, tetapi juga kebijakan yang tepat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam mata kuliah Fisheries and Marine Policy di Magister Ilmu Perikanan (MIP), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

Mata kuliah wajib yang diajarkan pada semester pertama ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana kebijakan perikanan dan kelautan dibentuk, diterapkan, hingga dievaluasi dalam konteks pembangunan nasional maupun global. Mata kuliah ini diampu oleh Prof. Djumanto dan Prof. Suadi.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa belajar berbagai teori pembangunan perikanan, posisi sektor perikanan dalam ekonomi nasional dan internasional, hingga strategi kebijakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Tidak hanya membahas Indonesia, mahasiswa juga diajak melihat berbagai contoh pembangunan perikanan di negara-negara berbasis maritim seperti Jepang, Amerika, Eropa, dan negara-negara Asia lainnya.

Yang menarik, pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui kuliah di kelas. Mahasiswa aktif mengikuti diskusi kelompok, presentasi, studi kasus, kuis, hingga analisis berbagai persoalan nyata di sektor perikanan dan kelautan. Pendekatan ini membuat mahasiswa belajar berpikir kritis terhadap isu-isu strategis seperti konflik sumber daya, tata kelola pesisir, pembangunan ekonomi maritim, hingga peran negara dan swasta dalam sektor perikanan.

Mahasiswa juga dikenalkan pada konsep kebijakan publik modern dan tata kelola laut internasional. Topik-topik seperti konservasi lintas batas laut, hukum laut internasional, hingga marine governance menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dunia perikanan modern sangat erat kaitannya dengan aspek sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan secara global.

Selain memperkuat wawasan akademik, mata kuliah ini dirancang untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam merumuskan, menerapkan, dan mengevaluasi kebijakan perikanan secara logis, kritis, dan inovatif. Mahasiswa juga didorong untuk mampu bekerja dalam tim, membangun jejaring, serta berkontribusi dalam pengembangan masyarakat dan sektor perikanan Indonesia.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu pembangunan pesisir, kebijakan publik, ekonomi kelautan, maupun tata kelola sumber daya laut, mata kuliah ini memberikan gambaran bahwa kuliah di Perikanan UGM tidak hanya belajar tentang ikan, tetapi juga memahami bagaimana kebijakan memengaruhi masa depan laut dan masyarakat pesisir.

Melalui pembelajaran ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mencetak lulusan yang mampu berpikir strategis, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan sektor perikanan dan kelautan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Penguatan tata kelola dan kebijakan perikanan menjadi bagian penting dalam menciptakan pembangunan kelautan yang adil dan berkelanjutan.

123…27
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY