Departemen Perikanan UGM Dorong Inovasi Blue Food untuk Membangun Ketahanan Pangan Masa Depan
Berita Jumat, 7 Agustus 2026
Yogyakarta – Potensi pangan Indonesia tidak hanya tumbuh dari daratan, tetapi juga dari laut, sungai, dan danau yang menyimpan sumber protein berkualitas tinggi. Melihat besarnya peluang tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), terus memperkuat pengembangan konsep blue food sebagai salah satu solusi ilmiah untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, peningkatan gizi masyarakat, dan keberlanjutan sumber daya perairan.
Komitmen tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) yang mengangkat tema “Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal.” Forum ilmiah ini menjadi ruang bertemunya akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah, dan praktisi untuk mendiskusikan berbagai inovasi yang mampu memperkuat sistem pangan berbasis sumber daya akuatik.
Ketua panitia, Dr. Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa seminar ini tidak sekadar menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, tetapi juga membangun kolaborasi lintas disiplin dalam merancang masa depan sektor perikanan Indonesia. Sebanyak 109 makalah ilmiah dipresentasikan oleh peneliti dari 15 institusi, mencerminkan semakin besarnya perhatian terhadap pengembangan ilmu perikanan dan kelautan yang berdampak bagi masyarakat.
Dalam berbagai sesi seminar, peserta membahas bagaimana blue food perlu dipandang sebagai sebuah sistem yang mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan akuatik. Pendekatan ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan protein, pertumbuhan jumlah penduduk, perubahan iklim, serta tekanan terhadap sistem pangan berbasis daratan.
Salah satu kontribusi ilmiah yang mendapat perhatian berasal dari dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., yang memperkenalkan hasil penelitiannya mengenai pemanfaatan mikroalga dan makroalga sebagai bahan baku pangan masa depan. Menurutnya, tantangan terbesar pengembangan blue food bukan hanya menghasilkan pangan yang bergizi, tetapi juga menghadirkan produk yang memiliki cita rasa, tekstur, dan karakteristik yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Pendekatan tersebut membuka peluang lahirnya berbagai inovasi pangan, seperti mi, makanan penutup, hingga produk pangan fungsional berbasis sumber daya perairan.
Bagi Departemen Perikanan UGM, pengembangan blue food merupakan bagian dari transformasi ilmu perikanan yang tidak lagi berfokus pada peningkatan produksi semata, tetapi juga pada pembangunan sistem pangan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan. Melalui riset, inovasi teknologi, serta kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat, Departemen Perikanan terus berupaya menghasilkan solusi yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Seminar ini juga memperlihatkan semakin pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam menjawab berbagai tantangan sektor perikanan. Isu keamanan pangan, hilirisasi produk, konservasi sumber daya, hingga penguatan ekonomi masyarakat pesisir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan sistem pangan biru di Indonesia. Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, Departemen Perikanan UGM berharap lahir lebih banyak inovasi dan kerja sama yang mampu mempercepat transformasi sektor perikanan menuju sistem pangan yang berdaya saing global.
Melalui penyelenggaraan SEMNASKAN-UGM XXIII, Departemen Perikanan UGM kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di bidang perikanan dan kelautan. Berbagai hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan dan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 2: Zero Hunger melalui penguatan sistem pangan berbasis sumber daya perairan yang bergizi dan berkelanjutan. Berbagai inovasi yang dipresentasikan juga berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui pengembangan pangan akuatik yang aman dan bernilai gizi tinggi, serta SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui pemanfaatan sumber daya perairan secara efisien dan bernilai tambah. Selain itu, penguatan riset dan kolaborasi yang dibangun dalam seminar ini mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals dalam mendorong inovasi dan pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.