• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • SDG 12: Responsible Consumption and Production
  • SDG 12: Responsible Consumption and Production
Arsip:

SDG 12: Responsible Consumption and Production

Mahasiswa Akuakultur UGM Temukan Bakteriofag dari Tambak Kulon Progo, Berpotensi Jadi Senjata Alami Lawan Penyakit Udang Vaname

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Di tengah meningkatnya tantangan penyakit bakterial pada budidaya udang vaname, inovasi pengendalian penyakit yang ramah lingkungan menjadi semakin dibutuhkan. Kabar menggembirakan datang dari mahasiswa Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Lu’lu’ Putri El Maslifah, mahasiswa angkatan 2022, berhasil mengisolasi bakteriofag dari lingkungan tambak udang di Kabupaten Kulon Progo yang berpotensi dimanfaatkan sebagai agen pengendali alami penyakit bakterial pada budidaya udang vaname.

Penelitian yang dilakukan Lu’lu’ berangkat dari persoalan nyata di sektor akuakultur, yaitu tingginya ancaman penyakit vibriosis yang disebabkan bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan kerugian besar dalam industri budidaya udang karena memengaruhi kesehatan, pertumbuhan, hingga tingkat kelangsungan hidup udang.

Dalam penelitian tersebut, Lu’lu’ melakukan isolasi dan karakterisasi bakteri patogen serta bakteriofag dari lingkungan tambak budidaya udang vaname (Penaeus vannamei) di Kabupaten Kulon Progo. Menariknya, penelitian berhasil mengidentifikasi isolat Vibrio parahaemolyticus yang membawa gen pirA dan pirB, gen yang sering dikaitkan dengan patogenisitas pada kasus penyakit udang.

Tidak berhenti pada identifikasi patogen, penelitian juga menghasilkan temuan penting berupa isolasi bakteriofag CTPL 3.2, virus alami yang secara spesifik mampu menginfeksi dan menghancurkan bakteri target. Isolat bakteriofag tersebut menunjukkan karakteristik aktivitas litik melalui pembentukan clear plaque, yang mengindikasikan kemampuan menghancurkan sel bakteri secara efektif.

Hasil karakterisasi lebih lanjut menunjukkan bakteriofag CTPL 3.2 memiliki struktur kepala berbentuk ikosahedral dengan ekor pendek dan kontraktil yang mengarah pada klasifikasi kelompok Myoviridae. Pengujian juga memperlihatkan bakteriofag tersebut mampu menginfeksi beberapa strain Vibrio parahaemolyticus, memperlihatkan potensinya sebagai kandidat agen biokontrol penyakit pada budidaya udang.

Penelitian ini dibimbing oleh Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen Departemen Perikanan UGM yang aktif mengembangkan penelitian pada bidang kesehatan ikan dan akuakultur. Di bawah pendampingannya, mahasiswa didorong untuk mengembangkan pendekatan inovatif dalam menghadapi tantangan penyakit akuatik melalui solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Pemanfaatan bakteriofag saat ini semakin banyak mendapat perhatian karena dinilai sebagai alternatif pengendalian penyakit yang lebih spesifik dan berkelanjutan dibanding penggunaan antibiotik secara berlebihan. Pendekatan ini dinilai berpotensi mengurangi risiko resistensi antimikroba serta mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Bagi Lu’lu’, penelitian tersebut bukan hanya menjadi pengalaman akademik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana penelitian mahasiswa dapat berkontribusi terhadap persoalan nyata di sektor perikanan nasional. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan tambak lokal tidak hanya menjadi tempat produksi budidaya, tetapi juga menyimpan potensi sumber daya biologis yang dapat dikembangkan menjadi inovasi masa depan bagi kesehatan udang Indonesia. Penelitian ini mendukung agenda Sustainable Development Goals terutama SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan inovasi pengendalian penyakit yang lebih berkelanjutan di sektor akuakultur.

Limbah Jadi Peluang: SinnTech Webinar #37 UGM Soroti Masa Depan Blue Bioeconomy dari Sektor Perikanan

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Di tengah meningkatnya tantangan lingkungan dan tuntutan industri yang lebih berkelanjutan, konsep blue bioeconomy mulai menjadi perhatian dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan. Melalui SinnTech Webinar #37 yang diselenggarakan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, salah satu sesi menarik disampaikan oleh Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si. melalui materi bertajuk “The Blue Bioeconomy: Bioconverting Fisheries Waste into High-Value Commodities.”

Dalam paparannya, Dr. Latif mengajak peserta melihat limbah perikanan dari perspektif berbeda. Selama ini, limbah hasil perikanan kerap dipandang sebagai sisa produksi yang menimbulkan persoalan lingkungan. Namun melalui pendekatan blue bioeconomy, limbah justru dapat menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Konsep bioekonomi biru menempatkan sumber daya perairan sebagai bagian dari sistem yang saling terhubung, di mana hasil samping dan limbah industri tidak berhenti sebagai produk buangan, tetapi dapat dikonversi menjadi berbagai produk bernilai tambah. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang menekankan efisiensi penggunaan sumber daya dan minimisasi limbah.

Dalam sesi webinar tersebut, Dr. Latif menyoroti pentingnya inovasi biokonversi limbah perikanan, yaitu proses mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi baru. Limbah hasil pengolahan ikan dapat dimanfaatkan menjadi berbagai komoditas seperti bahan baku pakan, produk bioaktif, pupuk organik, kolagen, gelatin, hingga produk industri lainnya.

Menurutnya, sektor perikanan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan pendekatan ini mengingat tingginya produksi hasil perikanan nasional yang juga menghasilkan volume limbah cukup besar. Apabila dikelola secara tepat, limbah tersebut dapat menjadi sumber ekonomi baru sekaligus mengurangi tekanan lingkungan.

Materi yang disampaikan juga memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah modern tidak lagi hanya berbicara tentang pembuangan akhir, tetapi tentang bagaimana mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya melalui inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain aktif sebagai dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Latif memiliki pengalaman panjang dalam bidang pengelolaan dan pemanfaatan limbah industri perikanan. Beliau mengampu berbagai mata kuliah seperti Manajemen Limbah Industri Perikanan, Teknologi Pemanfaatan Limbah Perikanan, hingga Biokonversi dan Bioekonomi Limbah Perikanan.

Pengalaman tersebut memperkuat pesan bahwa pengembangan bioekonomi biru membutuhkan kolaborasi lintas bidang, mulai dari riset, teknologi, industri, hingga pendidikan tinggi.

SinnTech Webinar #37 menjadi ruang penting untuk mempertemukan mahasiswa, akademisi, peneliti, dan praktisi dalam mendiskusikan masa depan industri perikanan yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pengelolaan sumber daya yang semakin kompleks, gagasan tentang mengubah limbah menjadi peluang menjadi salah satu langkah strategis menuju masa depan perikanan Indonesia.

Kegiatan ini mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-12 (Responsible Consumption and Production), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan inovasi ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

 

SinnTech Webinar #37 UGM Angkat Ekonomi Sirkular: Dari Rumput Laut hingga Limbah Perikanan Bernilai Tinggi

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Isu pengelolaan limbah industri kini tidak lagi dipandang sekadar persoalan akhir produksi, melainkan peluang untuk menciptakan inovasi dan nilai tambah yang berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan SinnTech Webinar #37 dengan tema “Industrial Waste Management in the Circular Economy: A Marine and Fisheries Perspective.” Webinar ini akan diselenggarakan pada Selasa, 26 Mei 2026 pukul 13.00–15.30 WIB dan menjadi ruang diskusi mengenai transformasi limbah sektor kelautan dan perikanan menuju sistem ekonomi sirkular.

Melalui tema tersebut, SinnTech #37 mengangkat perspektif bahwa limbah perikanan dan sumber daya laut tidak lagi dipandang sebagai produk sisa, tetapi dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai tinggi yang mendukung keberlanjutan industri perikanan masa depan.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki kepakaran di bidang pemanfaatan sumber daya perairan dan bioekonomi biru. Narasumber pertama, Prof. Dr. Ir. Nurjanah, M.S., akan membawakan materi bertajuk “Innovation and Utilization of Indonesian Seaweed as Food and Non-Food Raw Materials.” Dalam paparannya, Prof. Nurjanah menyoroti besarnya potensi rumput laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga untuk berbagai produk nonpangan dan inovasi industri. Sejumlah inovasi bahkan telah dikembangkan menjadi produk berbasis kekayaan hayati laut serta menghasilkan berbagai pengembangan teknologi terapan.

Menariknya, berbagai inovasi yang dikembangkan juga mengarah pada pemanfaatan residu rumput laut menjadi produk turunan seperti pupuk berbasis biomassa laut. Beberapa inovasi tersebut telah didorong menuju perlindungan kekayaan intelektual, menunjukkan bahwa limbah hasil pengolahan sumber daya laut dapat diubah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si., akan membahas tema “The Blue Bioeconomy: Bioconverting Fisheries Waste into High-Value Commodities.” Materi ini mengajak peserta melihat bagaimana limbah hasil perikanan dapat dikonversi melalui pendekatan bioekonomi biru menjadi berbagai produk bernilai tambah, sekaligus mengurangi tekanan lingkungan akibat akumulasi limbah industri.

Kehadiran kedua narasumber tersebut memperkuat semangat SinnTech sebagai ruang berbagi ilmu yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, praktisi, hingga masyarakat umum dalam membahas isu-isu strategis perikanan dan kelautan.

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap keberlanjutan, webinar ini menjadi pengingat bahwa masa depan industri perikanan tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh kemampuan memanfaatkan sumber daya secara efisien dan bertanggung jawab.

Melalui SinnTech Webinar #37, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong inovasi dan diseminasi ilmu pengetahuan yang relevan dengan tantangan sektor perikanan modern.

Kegiatan ini juga mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-12 (Responsible Consumption and Production), tujuan ke-14 (Life Below Water), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan inovasi dan kolaborasi menuju ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Belajar dari PPN Prigi: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Dinamika Ekspor Ikan Indonesia dan Tantangan Keberlanjutan

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Program Magang Berdampak bukan sekadar menjadi pengalaman kerja lapangan bagi mahasiswa, tetapi juga ruang pembelajaran untuk memahami bagaimana sektor perikanan Indonesia bekerja secara nyata dari hulu hingga hilir. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Nanda Putri Nur Rohmah, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, saat menjalani kegiatan magang di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Selama kegiatan berlangsung, Nanda mendalami dinamika ekspor hasil perikanan melalui kajian komposisi jenis ikan berdasarkan data Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan (SHTI).

Di balik aktivitas bongkar muat kapal dan lalu lintas hasil tangkapan di pelabuhan, Nanda menemukan bahwa dokumen perikanan ternyata menyimpan banyak cerita mengenai kondisi sumber daya ikan, pola perdagangan, hingga keberlanjutan sektor perikanan Indonesia. Menurutnya, pengalaman tersebut membuka perspektif baru bahwa pengelolaan perikanan tidak hanya berbicara mengenai ikan yang ditangkap, tetapi juga bagaimana setiap hasil tangkapan dapat ditelusuri secara legal dan berkelanjutan.

“Saya belajar bahwa dokumen perikanan ternyata memiliki peran yang sangat penting. Dari data SHTI kita dapat melihat tren ekspor, tekanan terhadap sumber daya, bahkan memahami pola perdagangan internasional,” ungkap Nanda.

Kajian yang dilakukan Nanda menunjukkan bahwa komoditas ekspor di PPN Prigi masih didominasi kelompok tuna, khususnya Skipjack Tuna dan Yellowfin Tuna. Pada tahun 2023, kedua komoditas tersebut menyumbang sekitar 47% dan 44% dari total ekspor. Data juga menunjukkan tren peningkatan volume ekspor dari tahun ke tahun. Volume ekspor yang semula mencapai sekitar 4,2 juta kilogram pada 2023 meningkat menjadi lebih dari 6,1 juta kilogram pada 2024 dan kembali naik menjadi sekitar 6,7 juta kilogram pada 2025. Selama pengamatan, Nanda juga menemukan perubahan menarik dalam sistem administrasi ekspor perikanan. Penerapan skema SHTI baru meningkatkan efisiensi pencatatan hasil tangkapan, termasuk penggabungan data dari beberapa kapal dalam satu dokumen administrasi.

Namun di balik peningkatan ekspor tersebut, Nanda menilai terdapat tantangan penting yang perlu diperhatikan. Munculnya komoditas baru seperti hiu dan spesies non-tuna lain menjadi sinyal bahwa diversifikasi sumber daya terus berkembang, namun memerlukan pengawasan agar tidak menimbulkan tekanan eksploitasi berlebih terhadap spesies rentan.

Temuan lain yang menarik perhatian adalah dominasi pasar ekspor ke Inggris Raya yang mengalami peningkatan sangat signifikan. Pada tahun 2025, kontribusinya bahkan mencapai sekitar 73% dari total pasar ekspor PPN Prigi. Menurut Nanda, ketergantungan pada satu pasar utama dapat menjadi tantangan tersendiri bagi sektor perikanan nasional.

“Kalau hanya bergantung pada satu pasar besar, tentu ada risiko. Diversifikasi pasar dan penguatan daya saing produk menjadi penting untuk masa depan perikanan Indonesia,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami keterkaitan antara sumber daya alam, kebijakan, perdagangan internasional, dan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelabuhan perikanan bukan hanya tempat pendaratan ikan, tetapi juga ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana data dapat menjadi dasar pengambilan keputusan di sektor perikanan.Kegiatan ini turut mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Penguatan pengalaman lapangan berbasis data menjadi langkah penting dalam menciptakan generasi muda perikanan yang adaptif dan mampu menjawab tantangan pengelolaan sumber daya masa depan.

Mahasiswa Magang Berdampak UGM: Terdapat Ancaman Eksploitasi Tuna Sirip Kuning di PPS Cilacap

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Program Magang Berdampak menjadi ruang belajar yang membuka wawasan mahasiswa terhadap dinamika nyata sektor perikanan Indonesia. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Dzulfana Noer Syailadina, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, selama menjalani kegiatan magang di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Melalui pengalaman lapangan, Dzulfana mempelajari lebih dalam mengenai tren pemanfaatan ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) dan tantangan keberlanjutan sumber daya tersebut.

Selama kegiatan magang, Dzulfana melakukan pengamatan terhadap perkembangan produksi, upaya penangkapan, serta tingkat pemanfaatan Tuna Sirip Kuning yang menjadi salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Tuna Sirip Kuning diketahui merupakan ikan pelagis besar yang tersebar luas di perairan tropis dunia, termasuk perairan Indonesia.Baginya, pengalaman magang memberikan pelajaran bahwa tingginya nilai ekonomi suatu komoditas sering kali diikuti oleh tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan stok sumber daya.

“Ketika melihat data langsung, saya menyadari bahwa peningkatan produksi tidak selalu menjadi kabar baik apabila tidak dibarengi pengelolaan yang tepat. Sumber daya ikan tetap memiliki batas yang perlu dijaga,” ungkap Dzulfana.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa produksi Tuna Sirip Kuning yang didaratkan di PPS Cilacap selama periode 2020–2024 mengalami peningkatan signifikan setiap tahun. Total produksi mencapai lebih dari 8,3 juta kilogram, dengan hasil tangkapan tertinggi terjadi pada tahun 2024 sebesar 3.439.300 kilogram. Peningkatan ini diduga dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas armada penangkapan dan intensitas penggunaan alat tangkap.

Selain produksi, peningkatan juga terlihat pada upaya penangkapan. Selama periode yang sama, jumlah trip penangkapan terus bertambah seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap komoditas tuna, terutama Tuna Sirip Kuning. Namun temuan yang paling menarik perhatian Dzulfana justru muncul dari analisis Catch Per Unit Effort (CPUE). Berdasarkan hasil penghitungan, pemanfaatan Tuna Sirip Kuning menunjukkan kategori over exploited, yang berarti tingkat tangkapan dan upaya penangkapan telah melampaui batas optimum lestari.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan hasil produksi tidak dapat dipandang semata sebagai indikator keberhasilan. Menurut Dzulfana, pengelolaan sumber daya yang baik perlu dilakukan agar stok ikan tetap tersedia untuk masa depan. Ia menilai langkah pengendalian seperti pembatasan jumlah kapal, pengaturan trip penangkapan, penerapan kuota, serta penggunaan alat tangkap yang lebih selektif menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya Tuna Sirip Kuning.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk tidak hanya memahami teori pengelolaan perikanan di ruang kelas, tetapi juga melihat bagaimana data, kebijakan, dan kondisi lapangan saling terhubung dalam praktik pengelolaan sumber daya. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Penguatan pembelajaran lapangan dan pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menjaga masa depan laut Indonesia.

Bahaya penggunaan formalin dalam produk Pangan Olahan Hasil Perikanan

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Sleman, 19 Mei 2026 – Ir. Mgs. Muhammad Prima Putra, S.Pi., M.Sc., Ph.D., IPM., memberikan penyuluhan terkait keamanan pangan olahan hasil perikanan selama distribusi, dengan fokus pada bahaya penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak tepat, khususnya formalin pada produk perikanan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DIY bekerja sama dengan PSDKP Cilacap, dan diikuti oleh pedagang serta pengolah hasil perikanan di Sleman. Acara berlangsung di Ruang Pertemuan Pasar Gentan, Sleman, Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Muhammad Prima Putra memberikan pemahaman terkait cara penanganan ikan yang baik, terutama melalui penggunaan es dan sistem rantai dingin (cold chain) untuk menjaga kualitas ikan segar tetap optimal. Beliau juga menjelaskan secara rinci risiko kesehatan akibat penggunaan BTP yang tidak sesuai, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

Formalin, jika dikonsumsi, dapat menimbulkan berbagai bahaya bagi kesehatan tubuh, antara lain iritasi pada saluran pencernaan, mual, muntah, gangguan fungsi hati dan ginjal, hingga risiko kanker jangka panjang. Paparan formalin yang berulang atau dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan serius dan bahkan kematian, sehingga sangat penting untuk menghindari penggunaan zat ini dalam produk perikanan.

Narasumber dari PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) kemudian menambahkan bahasan terkait peraturan-peraturan terkait keamanan pangan dan larangan penggunaan BTP berbahaya pada produk perikanan. PSDKP mengharapkan kerja sama aktif dari pedagang untuk dapat mendeteksi produsen yang masih menggunakan formalin, sehingga ke depan diharapkan peredaran produk perikanan berformalin dapat ditekan sampai habis.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pedagang dan pengolah ikan akan pentingnya keamanan pangan, sehingga konsumen menerima produk perikanan yang segar, sehat, dan aman dikonsumsi. Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya  SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Edukasi mengenai keamanan pangan, penanganan hasil perikanan yang baik, serta pencegahan penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya menjadi langkah penting dalam menjamin masyarakat memperoleh pangan yang aman dan sehat. Selain itu, penguatan kesadaran pelaku usaha perikanan juga mendukung sistem distribusi dan konsumsi produk perikanan yang lebih bertanggung jawab, berkualitas, dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Soroti Ancaman Mikroplastik terhadap Masa Depan Laut dalam Oceanology Talk Series BRIN

Berita Rabu, 6 Mei 2026

Yogyakarta — Isu pencemaran laut kembali menjadi perhatian serius dalam forum ilmiah nasional. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Sulistiowati, menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Oceanology Talk Series #4 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional pada Rabu, 6 Mei 2026.

Dalam forum bertajuk “Anthropogenic Footprints: Heavy Metal and Plastic Stress in Marine Environments”, Dr. Sulistiowati membawakan materi berjudul “How Marine Debris and Microplastics are Compromising the Future of Our Oceans”. Materi tersebut mengangkat ancaman serius sampah laut dan mikroplastik terhadap keberlanjutan ekosistem perairan global.

Diskusi menyoroti bagaimana limbah plastik yang terus meningkat di laut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga masuk ke rantai makanan melalui organisme laut. Mikroplastik kini ditemukan di berbagai ekosistem, mulai dari sedimen, plankton, ikan, hingga produk konsumsi manusia, sehingga menjadi isu lingkungan sekaligus kesehatan yang semakin mendesak.

Dalam paparannya, Dr. Sulistiowati menekankan bahwa pencemaran mikroplastik merupakan persoalan lintas sektor yang membutuhkan pendekatan kolaboratif antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Menurutnya, perubahan perilaku konsumsi serta pengelolaan limbah yang lebih baik menjadi langkah penting dalam mengurangi tekanan terhadap laut.

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini juga menghadirkan peneliti dari Pusat Riset Oseanologi BRIN, termasuk Triyoni Purbonegoro yang membahas akumulasi logam berat pada lingkungan perairan. Forum ini menjadi ruang diskusi ilmiah mengenai dampak aktivitas manusia terhadap kesehatan ekosistem laut.

Keterlibatan dosen Perikanan UGM dalam forum nasional ini menunjukkan komitmen institusi dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang responsif terhadap isu lingkungan global. Penelitian dan edukasi mengenai pencemaran laut dinilai semakin penting di tengah meningkatnya ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya perairan.

Selain memperkuat jejaring akademik dan riset, partisipasi ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga laut dari ancaman sampah plastik dan limbah berbahaya lainnya.

Topik yang diangkat dalam forum ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan 12 (Responsible Consumption and Production). Upaya mengurangi pencemaran laut menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perairan bagi generasi mendatang.

Kisah Karier Auditor Sustainable Aquaculture dari Lulusan Perikanan UGM

Berita Senin, 27 April 2026

Yogyakarta — Perjalanan karier lulusan perikanan tidak selalu berakhir di tambak atau laboratorium. Hal ini tergambar dalam episode podcast bertajuk “Kisah Karier Auditor Sustainable Aquaculture dari Lulusan Perikanan UGM” yang menghadirkan Cindy Silvia Hadi sebagai narasumber, dengan Dr. Anes Dwi Jayanti sebagai host.

Dalam perbincangan tersebut, Cindy membagikan kisah perjalanannya meniti karier sebagai auditor di bidang sustainable aquaculture—sebuah profesi yang berperan penting dalam memastikan praktik budidaya perikanan berjalan sesuai standar keberlanjutan global. Profesi ini menuntut pemahaman mendalam tidak hanya pada aspek teknis budidaya, tetapi juga pada regulasi, lingkungan, hingga tata kelola industri.

Cindy menjelaskan bahwa latar belakang pendidikan di bidang perikanan, khususnya pemahaman tentang kualitas air, manajemen pakan, dan kesehatan ikan, menjadi fondasi penting dalam pekerjaannya saat ini. Kompetensi tersebut diperkuat dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang dibutuhkan dalam proses audit, termasuk saat berinteraksi dengan pelaku industri.

“Perikanan itu luas, dan peluangnya tidak hanya di produksi, tetapi juga di aspek keberlanjutan,” menjadi salah satu pesan kunci yang disampaikan dalam diskusi tersebut.

Sebagai auditor, Cindy terlibat dalam proses evaluasi praktik budidaya di berbagai perusahaan untuk memastikan kesesuaian dengan standar internasional yang berorientasi pada lingkungan dan keberlanjutan. Peran ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap produk perikanan yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

Sementara itu, host Dr. Anes Dwi Jayanti menekankan bahwa perkembangan sektor akuakultur saat ini memang membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif dan memiliki perspektif multidisiplin. Dunia perikanan tidak lagi hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang keberlanjutan, sertifikasi, dan tata kelola global.

Podcast ini juga menjadi refleksi bahwa lulusan perikanan memiliki spektrum karier yang luas, mulai dari praktisi budidaya, peneliti, hingga profesional di bidang audit dan sertifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan perikanan mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.

Secara lebih luas, peran auditor dalam akuakultur berkelanjutan juga berkaitan erat dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Melalui pengawasan dan evaluasi praktik budidaya, auditor membantu memastikan bahwa produksi perikanan tetap menjaga keseimbangan ekosistem serta memenuhi standar keberlanjutan global.

Link Youtube: Kisah Karier Auditor Sustainable Aquaculture dari Lulusan Perikanan UGM

Publikasi Internasional Perikanan UGM: Limbah Spirulina Disulap Jadi Bahan Pakan Bernilai Tinggi

Berita Senin, 27 April 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan kontribusi ilmiah di tingkat global melalui publikasi terbaru di jurnal internasional Discover Food.

Penelitian berjudul “Nutritional improvement of Spirulina (Arthrospira platensis) by-product through simultaneous fermentation with Bacillus subtilis (T2A) & (T3P1), and Lactococcus formosensis (JAL 11)” ini ditulis oleh Dr. Rani Yuwanita, Prof. Alim Isnansetyo, Dr. Siti Ari Budhiyanti, serta Dr. Indah Istiqomah. Dr Rani sendiri merupakan dosen Universitas Brawijaya yang baru saja menyelesaikan pendidikan Doktor di Departemen Perikanan UGM.

Riset ini mengangkat potensi besar limbah mikroalga Spirulina (Arthrospira platensis), khususnya hasil samping ekstraksi fikosianin, sebagai bahan baku pakan berkelanjutan. Selama ini, limbah Spirulina diketahui kaya akan protein, asam amino, asam lemak, mineral, dan senyawa fenolik, namun masih memiliki kendala pada aspek aroma, tekstur, dan kualitas nutrisi yang belum optimal.

Untuk mengatasi hal tersebut, tim peneliti mengembangkan pendekatan fermentasi simultan menggunakan bakteri Bacillus subtilis (T2A dan T3P1) serta Lactococcus formosensis (JAL 11). Ketiga mikroorganisme ini merupakan koleksi dari Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Departemen Perikanan UGM, yang dikenal mampu menghasilkan enzim ekstraseluler seperti protease untuk meningkatkan kualitas bahan pangan dan pakan.

Dalam eksperimennya, limbah Spirulina difermentasi pada suhu 30°C selama 2, 4, dan 6 hari dalam kondisi mikroanaerob. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi memberikan dampak signifikan terhadap kualitas produk, baik dari sisi nutrisi maupun karakteristik sensorik.

Pertumbuhan bakteri mencapai titik optimal pada hari keempat dengan jumlah lebih dari 2,9 × 10⁹ CFU per gram. Pada fase ini, terjadi peningkatan nyata pada aroma, warna, dan tekstur limbah Spirulina, yang sebelumnya dikenal memiliki bau khas yang kurang disukai.

Dari sisi nutrisi, fermentasi selama empat hari terbukti paling efektif. Kandungan protein meningkat hingga 67,61 persen bobot kering, atau naik sekitar 5,42 persen dibandingkan sebelum fermentasi. Selain itu, terjadi peningkatan signifikan pada berbagai asam amino penting seperti arginin, glisin, isoleusin, metionin, valin, fenilalanin, prolin, dan serin.

Tak hanya itu, profil asam lemak esensial juga mengalami perbaikan, termasuk peningkatan senyawa seperti linoleat, palmitoleat, hingga docosahexaenoate (DHA) yang penting bagi pertumbuhan dan kesehatan organisme akuatik.

Menariknya, proses fermentasi ini tidak memberikan perubahan signifikan terhadap kadar lemak dan kadar air, sehingga kualitas dasar bahan tetap terjaga. Di saat yang sama, fermentasi berhasil mengurangi aroma tidak sedap (off-flavour) yang selama ini menjadi kendala utama pemanfaatan limbah Spirulina.

Sejalan dengan itu, penelitian ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dan SDG 14 (Life Below Water). Pemanfaatan limbah Spirulina menjadi produk bernilai tambah mencerminkan prinsip efisiensi sumber daya dan ekonomi sirkular, sekaligus mendukung pengembangan sistem perikanan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa fermentasi simultan mampu meningkatkan nilai gizi, memperbaiki profil asam amino dan asam lemak, serta menghasilkan tekstur dan aroma yang lebih baik.

Temuan ini membuka peluang besar bagi pemanfaatan limbah industri mikroalga sebagai bahan baku pakan alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain mendukung prinsip ekonomi sirkular, inovasi ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan pakan konvensional.

Publikasi ini sekaligus menegaskan peran aktif akademisi UGM dalam mengembangkan solusi berbasis bioteknologi untuk menjawab tantangan keberlanjutan di sektor perikanan dan pangan global.

 

Dari Daun Kelor hingga Limbah Bulu Ayam: SinnTech #36 UGM Kupas Inovasi Pakan Ikan Masa Depan

Berita Jumat, 24 April 2026

Berita (±380 kata):

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan diskusi ilmiah yang segar dan relevan melalui SinnTech Webinar #36 bertema “Fish Feed Innovation: Variation of Fish Feed From Nutritional Sources” pada Jumat, 24 April 2026. Webinar ini menjadi ruang inspiratif bagi mahasiswa dan praktisi untuk memahami masa depan industri akuakultur melalui inovasi pakan ikan.

Menghadirkan dua narasumber internasional dan nasional, yakni Ts. Dr. Sairatul Dahlianis Ishak dan Dr. Desy Putri Handayani, S.Pi. webinar ini menyoroti bagaimana dunia akuakultur sedang mengalami transformasi besar, khususnya dalam pemanfaatan bahan baku alternatif pengganti tepung ikan (fish meal).

Dalam pemaparannya, Dr. Desy Putri Handayani menjelaskan bahwa tren global saat ini bergerak menuju penggunaan bahan berbasis nabati dan limbah organik sebagai sumber protein pakan. Contohnya, daun kelor (Moringa) yang difermentasi terbukti mampu meningkatkan sistem imun ikan serta kualitas darah, menjadikannya alternatif yang murah dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, inovasi lain yang tak kalah menarik adalah pemanfaatan limbah bulu ayam yang diolah secara bioteknologi menjadi sumber asam amino bernilai tinggi. Teknologi enzimatik seperti keratinase mampu mengubah limbah ini menjadi bahan pakan potensial, membuka peluang ekonomi sekaligus mengurangi limbah industri.

Diskusi juga menyoroti peran rumput laut sebagai bahan tambahan pakan fungsional. Senyawa seperti alginat dari alga coklat terbukti mampu meningkatkan sistem imun ikan dan udang, sekaligus meningkatkan efisiensi pakan.

Sementara itu, Ts. Dr. Sairatul Dahlianis Ishak menekankan pentingnya inovasi formulasi pakan yang tidak hanya berfokus pada nutrisi, tetapi juga keberlanjutan dan efisiensi biaya produksi. Pergeseran menuju protein alternatif dinilai menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya laut yang terbatas.

Webinar ini menunjukkan bahwa masa depan akuakultur tidak lagi bergantung pada sumber konvensional, tetapi pada kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Kegiatan ini sejalan dengan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produksi pangan berkelanjutan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan limbah dan bahan alternatif, serta SDG 14 (Life Below Water) dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Bagi mahasiswa, SinnTech #36 bukan sekadar webinar—tetapi jendela menuju masa depan industri perikanan yang inovatif, ramah lingkungan, dan penuh peluang.

12
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY