• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 12: Responsible Consumption and Production
  • SDG 12: Responsible Consumption and Production
Arsip:

SDG 12: Responsible Consumption and Production

Dosen THP UGM Dorong Diversifikasi Produk Olahan Tuna Bernilai Tambah

Berita Selasa, 15 September 2026

Semarang, 9 September 2026 — Dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Dr. Latif Sahubawa, turut berpartisipasi dalam The 9th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2026 di Semarang. Pada konferensi yang diselenggarakan 9 September 2026 tersebut, Dr. Latif mempresentasikan penelitian berjudul “Diversification, Quality Analysis, and Consumer Preference Level of Commercial Processed Tuna Products as a Leading Commodity in the Marine and Fisheries Sector.”

Penelitian ini membahas diversifikasi produk olahan tuna yang beredar secara komersial, analisis mutu produk, serta tingkat preferensi konsumen terhadap berbagai produk olahan berbahan baku tuna. Kajian tersebut menempatkan aspek mutu dan penerimaan konsumen sebagai bagian penting dalam pengembangan produk hasil perikanan bernilai tambah.

Tuna merupakan salah satu komoditas strategis dalam sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang dapat memenuhi kebutuhan dan selera konsumen. Diversifikasi menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas pemanfaatan tuna sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Melalui analisis mutu dan preferensi konsumen, penelitian ini memberikan gambaran mengenai karakteristik produk yang dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan produk olahan tuna. Pendekatan tersebut penting agar inovasi pengolahan hasil perikanan tidak hanya berorientasi pada aspek teknis produksi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan, penerimaan, dan kecenderungan konsumen.

Keikutsertaan Dr. Latif Sahubawa dalam ICTCRED 2026 menjadi bagian dari upaya dosen THP UGM untuk memperkenalkan hasil penelitian pada forum akademik internasional sekaligus memperkuat pertukaran pengetahuan mengenai pengembangan produk hasil perikanan. Kajian diversifikasi dan preferensi konsumen diharapkan dapat mendukung pengembangan industri pengolahan tuna yang lebih inovatif, kompetitif, dan mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan nilai tambah komoditas perikanan, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi produk olahan, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan produk perikanan yang lebih berorientasi pada kebutuhan dan preferensi konsumen.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM Hadirkan Orasi Ilmiah tentang Transformasi Strategis Perikanan Budi Daya Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sekaligus membahas masa depan sektor perikanan Indonesia. Salah satu agenda utama dalam perayaan tersebut adalah Orasi Ilmiah bertajuk “Perikanan Budi Daya Indonesia Berkelanjutan, Inovatif, Mendunia: Transformasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045.”

Orasi ilmiah disampaikan oleh Rokhmad Mohammad Rofiq, S.Pi., M.App.Sc., Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Dalam paparannya, ia menempatkan perikanan budi daya sebagai sektor strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan agenda ekonomi biru Indonesia.

Rokhmad menekankan bahwa masa depan perikanan budi daya Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Transformasi perlu diarahkan pada sistem budi daya yang lebih produktif, berkelanjutan, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Menurut materi orasi, transformasi tersebut mencakup pergeseran dari ekspansi kawasan menuju produktivitas berbasis daya dukung ekosistem, dari ketergantungan input menuju penguatan kapabilitas domestik, serta dari sekadar adopsi teknologi menuju pembangunan ekosistem inovasi.

Teknologi dalam konteks tersebut tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pengungkit kemampuan pelaku perikanan dalam menghadapi perubahan. Pemanfaatan teknologi perlu didukung kemampuan untuk membaca perubahan, menangkap peluang, dan melakukan transformasi dalam sistem produksi.

Transformasi juga perlu terjadi pada cara melihat keberhasilan sektor perikanan. Pengembangan perikanan tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah produksi, tetapi juga berdasarkan nilai ekonomi, lapangan kerja, efisiensi, dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Karena itu, pengembangan budi daya perlu terhubung dengan keseluruhan rantai nilai, mulai dari pakan dan produksi, panen, pengolahan, rantai dingin, hingga pemasaran. Pendekatan value-chain-based development menjadi penting agar komoditas perikanan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan memiliki daya saing di pasar global.

Pada saat yang sama, orientasi menuju pasar dunia harus diikuti dengan peningkatan standar kualitas, keamanan pangan, traceability, keberlanjutan, serta konsistensi pasokan.

Salah satu pesan penting dalam orasi adalah bahwa peningkatan produktivitas tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem. Pengembangan perikanan budi daya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kualitas air, penyakit, limbah, serta keberadaan ekosistem pendukung.

Transformasi juga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, pembudidaya, perguruan tinggi, peneliti, lembaga pembiayaan, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang saling mendukung. Dalam pendekatan ini, pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai strategic orchestrator yang mempertemukan berbagai kepentingan dan sumber daya.

Bagi Departemen Perikanan UGM, gagasan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut menjadi relevan dengan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang adaptif dan inovatif.

Mahasiswa dan akademisi perikanan perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan secara lebih luas—tidak hanya mengenai produksi ikan, tetapi juga teknologi, ekonomi, lingkungan, rantai nilai, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat. Perspektif lintas bidang tersebut menjadi semakin penting untuk menghadapi kompleksitas sektor perikanan di masa depan.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM melalui orasi ilmiah ini sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen Departemen Perikanan dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Orasi ilmiah ini sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan perikanan budi daya yang produktif, inovatif, berkelanjutan, dan kolaboratif menuju Indonesia Emas 2045.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Lomba Mewarnai untuk Anak TK

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak hanya dirasakan oleh sivitas akademika dan masyarakat umum. Keceriaan juga hadir dari anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) yang mengikuti Lomba Mewarnai sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT Departemen Perikanan UGM.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang menghadirkan suasana berbeda dalam perayaan HUT ke-63. Dengan melibatkan anak-anak usia dini, Departemen Perikanan UGM berupaya memperkenalkan dunia perikanan dan lingkungan perairan melalui pendekatan yang menyenangkan, kreatif, dan sesuai dengan dunia anak.

Lomba mewarnai memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dan imajinasi mereka melalui gambar bertema perikanan. Dengan pensil warna dan berbagai pilihan warna, peserta menuangkan ide dan kreativitas masing-masing untuk menghasilkan karya yang menarik.

Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan ikan dan kehidupan perairan kepada anak sejak usia dini. Dunia perikanan yang sering kali dipahami sebagai bidang produksi dan pemanfaatan sumber daya, diperkenalkan melalui cara sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Melalui gambar ikan, lingkungan perairan, dan berbagai elemen yang berkaitan dengan dunia perikanan, anak-anak diajak untuk mengenal sekaligus membangun kedekatan dengan sumber daya perairan yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pelibatan anak-anak dalam rangkaian HUT menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa keberlanjutan perikanan merupakan tanggung jawab lintas generasi.

Pengenalan mengenai ikan dan lingkungan perairan sejak dini diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu serta kepedulian anak terhadap lingkungan. Pesan mengenai menjaga kebersihan perairan, mengenal keanekaragaman ikan, dan menghargai sumber daya alam dapat disampaikan melalui kegiatan yang sederhana namun menyenangkan.

Pada saat yang sama, lomba mewarnai juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas, keberanian berekspresi, ketelitian, dan rasa percaya diri. Setiap karya menjadi representasi imajinasi dan cara pandang anak terhadap dunia di sekitarnya.

Kehadiran peserta usia TK memberikan warna tersendiri dalam rangkaian HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM. Suasana kompetisi yang penuh semangat berpadu dengan kegembiraan anak-anak, menjadikan kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang mencari pemenang, tetapi juga sebagai ruang kebersamaan antara anak, orang tua, dan keluarga besar Departemen Perikanan.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perayaan ulang tahun Departemen Perikanan dapat menjadi momentum untuk membangun kedekatan dengan masyarakat dari berbagai kelompok usia. Pendidikan mengenai perikanan dan lingkungan tidak harus selalu disampaikan melalui ruang kelas atau forum akademik, tetapi dapat dimulai melalui kegiatan kreatif yang menyenangkan.

Melalui lomba mewarnai, Departemen Perikanan UGM turut menanamkan pesan bahwa generasi masa depan perlu mengenal, mencintai, dan menjaga sumber daya perairan sejak dini. Anak-anak yang hari ini menuangkan warna pada gambar ikan diharapkan kelak tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan memahami pentingnya sumber daya perikanan bagi kehidupan.

Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pendidikan lingkungan sejak usia dini dan pengenalan pentingnya menjaga sumber daya perairan.

Dari goresan warna anak-anak hari ini, Departemen Perikanan UGM menanamkan harapan untuk lahirnya generasi masa depan yang mengenal, mencintai, dan menjaga perairan Indonesia.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Bazar GEMARIKAN 2026 Dorong Konsumsi dan Produk Olahan Ikan Lokal

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Bazar GEMARIKAN 2026 pada Jumat (28/8). Bertempat di Lapangan Gedung A4 Departemen Perikanan UGM, kegiatan ini menghadirkan beragam produk ikan dan olahan hasil perikanan sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk semakin gemar mengonsumsi ikan.

Bazar yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dislautkan DIY). Kegiatan menjadi salah satu bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperkenalkan produk perikanan sekaligus mengampanyekan pentingnya konsumsi ikan bagi masyarakat.

Mengusung semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Bazar GEMARIKAN tidak sekadar menjadi kegiatan perayaan ulang tahun, tetapi juga menjadi ruang untuk mendekatkan produk perikanan kepada konsumen serta menunjukkan bahwa ikan dapat diolah menjadi beragam produk pangan yang menarik, praktis, dan sesuai dengan selera masyarakat masa kini.

Sebanyak 13 tenant turut meramaikan Bazar GEMARIKAN 2026. Berbagai produk segar dan olahan ikan ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari fresh fish hingga produk siap santap dengan beragam inovasi.

Tenant yang berpartisipasi meliputi Zamida Food, Phinisi Burger, Siomay Dimsum Batagor Fareta, Fania Food, Eldinam’s Food, Iwakku Foods, Fresh Fish, Orange Food, Simbokke Bu Nur Sambal Ikan, Khanza Food, Pempek Paris, Bakwan Udang, dan Ashlan Food.

Keberagaman produk tersebut menunjukkan bahwa komoditas perikanan memiliki peluang pengembangan yang luas. Ikan tidak hanya dapat dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah yang lebih dekat dengan preferensi konsumen.

Mulai dari burger, siomay, dimsum, batagor, pempek, sambal ikan hingga bakwan udang menjadi contoh bagaimana kreativitas pengolahan mampu meningkatkan daya tarik produk perikanan. Inovasi semacam ini sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pengembangan usaha dan kewirausahaan berbasis hasil perikanan.

Bazar ini membawa semangat Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) dengan mengajak sivitas akademika dan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan sebagai bagian dari pola pangan yang beragam dan bergizi.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting serta menyediakan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, membangun kebiasaan mengonsumsi ikan juga menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Namun, GEMARIKAN tidak hanya berbicara mengenai konsumsi. Di balik setiap produk ikan terdapat rantai ekonomi yang melibatkan pembudidaya, nelayan, pengolah, pedagang, pelaku UMKM, hingga konsumen. Meningkatnya minat masyarakat terhadap produk perikanan pada akhirnya dapat turut membuka peluang ekonomi bagi para pelaku yang berada di sepanjang rantai nilai tersebut.

Melalui Bazar GEMARIKAN, Departemen Perikanan UGM ingin memperlihatkan bahwa upaya meningkatkan konsumsi ikan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan inovasi produk dan penguatan ekonomi pelaku usaha perikanan lokal.

Pelaksanaan Bazar GEMARIKAN juga mencerminkan peran Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan dan teknologi perikanan, tetapi juga berupaya mendekatkan hasil dan semangat pengembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Kolaborasi dengan Dislautkan DIY menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Sinergi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk membangun sektor perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas.

Momentum HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM pun menjadi kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan panjang Departemen Perikanan dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perayaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aktivitas yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat potensi perikanan.

Bazar GEMARIKAN 2026 sekaligus menjadi ajakan sederhana kepada masyarakat: datang, cicipi, konsumsi ikan, dan dukung produk perikanan lokal. Dari pilihan pangan sehari-hari, masyarakat dapat turut berkontribusi terhadap kesehatan keluarga sekaligus keberlanjutan ekonomi para pelaku usaha perikanan.

Kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui promosi pangan bergizi berbasis ikan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui dukungan terhadap usaha dan produk perikanan lokal; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan konsumsi produk perikanan bernilai tambah; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi Departemen Perikanan UGM, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Melalui semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Departemen Perikanan UGM berharap Bazar GEMARIKAN 2026 dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk perikanan sekaligus memperkuat peran ikan sebagai sumber pangan bergizi dan penggerak ekonomi lokal menuju pembangunan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Teknologi Hasil Perikanan UGM Raih Akreditasi Unggul, Teguhkan Komitmen Pendidikan dan Inovasi Perikanan Berkelanjutan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026 — Kabar membanggakan kembali hadir dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) berhasil memperoleh status akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP).

Berdasarkan Keputusan Nomor 001/SK/LAMPTIP/Ak.U/S/VIII/2026, status akreditasi Unggul tersebut berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen 365,68. Keputusan tersebut ditetapkan di Surakarta pada 24 Agustus 2026 oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng.

Predikat Unggul menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan di Program Studi THP UGM. Bagi Departemen Perikanan, capaian ini tidak hanya menjadi pengakuan formal, tetapi juga mencerminkan komitmen sivitas akademika dalam membangun pendidikan perikanan yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia industri.

Bidang Teknologi Hasil Perikanan memiliki posisi strategis dalam rantai nilai perikanan. Sumber daya ikan tidak cukup hanya ditangkap atau dibudidayakan, tetapi perlu ditangani dan diolah secara tepat agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, aman dikonsumsi, memiliki daya saing, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan kompetensi lulusan THP tidak hanya mencakup teknologi pengolahan, tetapi juga mencakup kemampuan memahami keamanan pangan, pengembangan produk, bioteknologi, inovasi, hingga pengelolaan industri hasil perikanan. Profil lulusan yang dikembangkan juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja, mulai dari wirausaha dan profesional hingga ASN dan asisten peneliti.

Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar. Namun, tantangan sektor ini tidak berhenti pada produksi. Kehilangan hasil, keterbatasan teknologi pascapanen, rendahnya diversifikasi produk, serta kebutuhan terhadap pangan yang aman dan berkualitas menjadi tantangan yang membutuhkan inovasi.

Dalam konteks tersebut, THP UGM berperan penting dalam mengembangkan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan. Pengembangan teknologi pengolahan, inovasi produk, bioteknologi hasil perairan, serta pemanfaatan hasil samping dapat menjadi bagian dari upaya membangun industri perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan visi THP UGM untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi hasil perikanan serta mampu berkontribusi dalam pemanfaatan sumber daya ikan dan kelautan secara optimal, lestari, dan bermanfaat.

Capaian akreditasi ini juga tidak terlepas dari proses panjang peningkatan mutu yang melibatkan berbagai unsur Departemen Perikanan UGM. Sebelumnya, Departemen Perikanan telah melakukan berbagai persiapan dan koordinasi untuk menghadapi asesmen lapangan LAM-PTIP, yang melibatkan dosen, pengelola program studi, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta mitra pengguna lulusan.

Proses tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan, mulai dari kurikulum, sumber daya manusia, proses pembelajaran, penelitian, luaran lulusan, fasilitas, hingga jejaring kerja sama.

Dengan diraihnya akreditasi Unggul, Departemen Perikanan UGM menempatkan capaian tersebut bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai landasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, inovasi, dan kontribusi THP bagi pembangunan perikanan Indonesia.

Ke depan, tantangan sektor perikanan akan semakin kompleks. Perubahan iklim, tuntutan keamanan pangan, perkembangan teknologi, kebutuhan industri terhadap produk inovatif, serta tuntutan keberlanjutan menuntut sumber daya manusia yang mampu berpikir lintas disiplin.

Dalam konteks ekonomi biru, teknologi hasil perikanan memiliki peran penting untuk memastikan bahwa sumber daya akuatik yang telah dimanfaatkan dapat memberikan nilai ekonomi maksimal dengan tetap memperhatikan efisiensi sumber daya dan dampak lingkungan.

Lulusan THP diharapkan mampu menjadi bagian dari transformasi tersebut, baik melalui pengembangan industri pengolahan, kewirausahaan, penelitian dan inovasi, maupun pengembangan kebijakan dan pelayanan publik.

Capaian akreditasi Unggul Program Studi Teknologi Hasil Perikanan UGM sekaligus memperkuat kontribusi Departemen Perikanan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Pendidikan berkualitas mendukung SDG 4, sementara pengembangan teknologi dan inovasi hasil perikanan berkontribusi pada SDG 9. Pengembangan produk pangan berbasis ikan juga mendukung SDG 2, sedangkan efisiensi proses pengolahan, pemanfaatan hasil samping, dan pengurangan limbah mendukung SDG 12.

Pada akhirnya, penguatan teknologi pascapanen dan pengolahan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi sumber daya perikanan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya akuatik secara lebih bertanggung jawab, sejalan dengan SDG 14.

Akreditasi Unggul THP UGM menjadi bukti bahwa pendidikan perikanan tidak hanya mempersiapkan lulusan untuk bekerja, tetapi juga menyiapkan talenta yang mampu mengubah potensi sumber daya perikanan menjadi inovasi, nilai tambah, dan solusi bagi masa depan ekonomi biru Indonesia yang berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Gelar Pengabdian di Embung Tambakboyo, Dorong Kepedulian Lingkungan dan Gemar Makan Ikan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 21 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Departemen Perikanan UGM melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Embung Tambakboyo pada Jumat (21/8). Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–10.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian terhadap lingkungan perairan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan.

Mengusung semangat “Bersama menjaga embung, bersama membangun masa depan perikanan!”, kegiatan pengabdian ini menghadirkan rangkaian aktivitas yang menggabungkan aksi lingkungan dan edukasi masyarakat. Tiga kegiatan utama yang dilaksanakan meliputi bersih embung, pemasangan papan anjuran kebersihan, serta sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Kegiatan diawali dengan aksi bersih-bersih di kawasan Embung Tambakboyo. Civitas akademika dan peserta kegiatan bersama-sama melakukan pengumpulan sampah di sekitar kawasan embung sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan perairan. Kebersihan kawasan embung memiliki arti penting, tidak hanya dari aspek estetika, tetapi juga dalam menjaga kualitas lingkungan perairan. Sampah yang masuk ke badan air berpotensi mengganggu kualitas perairan dan ekosistem di dalamnya. Karena itu, kegiatan bersih embung diharapkan dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan perairan merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana bagi Departemen Perikanan UGM untuk memperkenalkan perspektif perikanan yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya, tetapi juga pada pemeliharaan ekosistem sebagai fondasi keberlanjutan perikanan.

 

Pemasangan Papan Anjuran untuk Mendorong Perilaku Ramah Lingkungan

Selain aksi bersih embung, kegiatan pengabdian juga diisi dengan pemasangan papan anjuran menjaga kebersihan di kawasan Embung Tambakboyo. Papan tersebut mengajak pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.

Keberadaan papan anjuran diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk turut menjaga kebersihan kawasan embung, terutama karena ruang publik seperti Embung Tambakboyo dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai aktivitas.

Pendekatan edukatif ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan fisik, tetapi juga perlu diikuti dengan perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Kegiatan juga dilengkapi dengan sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Melalui kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM turut mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan sebagai bagian dari pola makan yang sehat dan bergizi.

Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya perikanan yang besar, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan ikan sebagai bagian penting dari sistem pangan masyarakat. Karena itu, peningkatan konsumsi ikan perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan dan ekosistem perairan.

Kegiatan Gemarikan juga menjadi bentuk nyata kontribusi Departemen Perikanan UGM dalam menghubungkan ilmu perikanan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan. Kegiatan pengabdian di Embung Tambakboyo memperlihatkan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan di ruang kelas dan laboratorium. Pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Melalui kegiatan sederhana seperti membersihkan embung, memasang papan edukasi, dan mengampanyekan konsumsi ikan, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ekosistem perairan dan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 14 (Ekosistem Lautan), serta SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), melalui upaya menjaga lingkungan perairan, mendorong perilaku konsumsi yang bertanggung jawab, dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat konsumsi ikan.

PelletQ-AI: Inovasi Mahasiswa UGM Integrasikan AI dan Mesin Otomatis untuk Wujudkan Kemandirian Pakan Ikan

BeritaUncategorized Senin, 7 September 2026

Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil merealisasikan PelletQ-AI, sebuah sistem produksi pakan ikan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan mesin produksi pelet otomatis. Inovasi ini dikembangkan untuk membantu pembudidaya menghasilkan pakan ikan secara mandiri melalui proses formulasi dan produksi yang terintegrasi, sehingga dapat menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengembangan PelletQ-AI berangkat dari permasalahan yang dihadapi mitra, yaitu Budidaya Lele Pak Nanang di Kalurahan Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam usaha budidaya lele, biaya pakan masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi, yakni mencapai lebih dari 60–70 persen. Kenaikan harga pakan komersial yang tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ikan menyebabkan keuntungan pembudidaya semakin tertekan. Kondisi tersebut membuat ketergantungan terhadap pakan komersial masih relatif tinggi.

Selain tingginya biaya pakan, mitra juga belum memiliki fasilitas untuk memproduksi pakan secara mandiri. Ketiadaan mesin produksi pakan serta sistem yang dapat membantu menyusun formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan menyebabkan mitra bergantung sepenuhnya pada pakan komersial. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-PI UGM mengembangkan PelletQ-AI sebagai solusi yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sistem produksi pakan dalam satu ekosistem.

Berbeda dengan mesin pencetak pelet konvensional, PelletQ-AI dilengkapi dengan platform web app.pelletqai.com yang terhubung langsung dengan sistem kecerdasan buatan. Melalui platform tersebut, pembudidaya hanya perlu memasukkan data budidaya serta informasi mengenai bahan baku yang tersedia dan harganya. Selanjutnya, sistem AI melakukan optimasi untuk menghasilkan formulasi pakan dengan biaya serendah mungkin tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan nutrisi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil optimasi tersebut kemudian dikirimkan secara otomatis ke mesin PelletQ-AI sebagai acuan dalam proses produksi.

Seluruh proses produksi dilakukan secara otomatis di dalam mesin, mulai dari pencampuran bahan baku, pemasakan menggunakan sistem pemanas (heater), ekstrusi, pencetakan, hingga pemotongan pelet dalam satu rangkaian kerja yang terintegrasi. Dengan demikian, pelet yang dihasilkan telah matang dan siap digunakan sebagai pakan ikan tanpa memerlukan proses lanjutan.

Ketua Tim PKM-PI UGM, R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata, menjelaskan bahwa PelletQ-AI dirancang untuk menjawab permasalahan pembudidaya secara menyeluruh.

“PelletQ-AI tidak hanya berfungsi sebagai mesin produksi pelet, tetapi merupakan sistem produksi pakan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan, dan proses manufaktur dalam satu kesatuan. Melalui sistem ini, pembudidaya dapat memperoleh formulasi pakan dengan biaya yang lebih efisien namun tetap memenuhi standar nutrisi, kemudian langsung memproduksinya secara mandiri.”

Dosen pembimbing PKM-PI, Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin mampu menghasilkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat.

“PelletQ-AI merupakan contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggabungkan aspek rekayasa mesin, kecerdasan buatan, teknologi informasi, dan akuakultur dalam satu sistem. Harapannya, inovasi ini dapat membantu meningkatkan efisiensi usaha budidaya serta mendorong pemanfaatan teknologi di sektor perikanan.”

Sebagai mitra program, Pak Nanang menyambut baik penerapan PelletQ-AI di lokasi budidayanya.

“Selama ini kami bergantung pada pakan komersial karena belum memiliki alat untuk memproduksi pakan sendiri. Dengan adanya PelletQ-AI, kami berharap dapat membuat pakan secara mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau. Sistem berbasis web juga memudahkan kami memperoleh formulasi pakan tanpa harus menghitung komposisi bahan baku secara manual.”

Pengembangan PelletQ-AI juga sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui peningkatan efisiensi produksi dan penguatan kemandirian pembudidaya dalam penyediaan pakan, inovasi ini berpotensi mendukung efisiensi usaha, penguatan ekonomi pembudidaya, serta penerapan teknologi dan inovasi dalam pembangunan sektor akuakultur yang lebih berkelanjutan.

PelletQ-AI merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas disiplin Universitas Gadjah Mada yang terdiri atas R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata (Teknik Industri), Muhammad Wafdan Taqiyya (Teknologi Informasi), Muhammad Zahir Ali (Teknik Elektro), Clarissa Cindy Marta Devany (Akuakultur), dan Farhan Dwi Prabowo (Teknologi Rekayasa Mesin), di bawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Setelah melalui tahapan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan sistem, pengembangan platform web app.pelletqai.com, pembuatan mesin, hingga pengujian, PelletQ-AI kini telah berhasil direalisasikan di lokasi mitra. Tahapan selanjutnya meliputi pelatihan penggunaan sistem, pendampingan operasional, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Melalui program PKM-PI ini, Tim UGM berharap PelletQ-AI tidak hanya menjadi solusi bagi Budidaya Lele Pak Nanang, tetapi juga menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang mampu mendukung kemandirian produksi pakan ikan di Indonesia. Ke depan, integrasi platform web, kecerdasan buatan, dan mesin produksi dalam PelletQ-AI diharapkan dapat membantu lebih banyak pembudidaya menghasilkan pakan berkualitas dengan biaya yang lebih efisien, sehingga turut meningkatkan daya saing sektor budidaya perikanan nasional.

Departemen Perikanan UGM Dorong Inovasi Blue Food untuk Membangun Ketahanan Pangan Masa Depan

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Potensi pangan Indonesia tidak hanya tumbuh dari daratan, tetapi juga dari laut, sungai, dan danau yang menyimpan sumber protein berkualitas tinggi. Melihat besarnya peluang tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), terus memperkuat pengembangan konsep blue food sebagai salah satu solusi ilmiah untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, peningkatan gizi masyarakat, dan keberlanjutan sumber daya perairan.

Komitmen tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) yang mengangkat tema “Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal.” Forum ilmiah ini menjadi ruang bertemunya akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah, dan praktisi untuk mendiskusikan berbagai inovasi yang mampu memperkuat sistem pangan berbasis sumber daya akuatik.

Ketua panitia, Dr. Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa seminar ini tidak sekadar menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, tetapi juga membangun kolaborasi lintas disiplin dalam merancang masa depan sektor perikanan Indonesia. Sebanyak 109 makalah ilmiah dipresentasikan oleh peneliti dari 15 institusi, mencerminkan semakin besarnya perhatian terhadap pengembangan ilmu perikanan dan kelautan yang berdampak bagi masyarakat.

Dalam berbagai sesi seminar, peserta membahas bagaimana blue food perlu dipandang sebagai sebuah sistem yang mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan akuatik. Pendekatan ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan protein, pertumbuhan jumlah penduduk, perubahan iklim, serta tekanan terhadap sistem pangan berbasis daratan.

Salah satu kontribusi ilmiah yang mendapat perhatian berasal dari dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., yang memperkenalkan hasil penelitiannya mengenai pemanfaatan mikroalga dan makroalga sebagai bahan baku pangan masa depan. Menurutnya, tantangan terbesar pengembangan blue food bukan hanya menghasilkan pangan yang bergizi, tetapi juga menghadirkan produk yang memiliki cita rasa, tekstur, dan karakteristik yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Pendekatan tersebut membuka peluang lahirnya berbagai inovasi pangan, seperti mi, makanan penutup, hingga produk pangan fungsional berbasis sumber daya perairan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pengembangan blue food merupakan bagian dari transformasi ilmu perikanan yang tidak lagi berfokus pada peningkatan produksi semata, tetapi juga pada pembangunan sistem pangan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan. Melalui riset, inovasi teknologi, serta kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat, Departemen Perikanan terus berupaya menghasilkan solusi yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Seminar ini juga memperlihatkan semakin pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam menjawab berbagai tantangan sektor perikanan. Isu keamanan pangan, hilirisasi produk, konservasi sumber daya, hingga penguatan ekonomi masyarakat pesisir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan sistem pangan biru di Indonesia. Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, Departemen Perikanan UGM berharap lahir lebih banyak inovasi dan kerja sama yang mampu mempercepat transformasi sektor perikanan menuju sistem pangan yang berdaya saing global.

Melalui penyelenggaraan SEMNASKAN-UGM XXIII, Departemen Perikanan UGM kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di bidang perikanan dan kelautan. Berbagai hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan dan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 2: Zero Hunger melalui penguatan sistem pangan berbasis sumber daya perairan yang bergizi dan berkelanjutan. Berbagai inovasi yang dipresentasikan juga berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui pengembangan pangan akuatik yang aman dan bernilai gizi tinggi, serta SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui pemanfaatan sumber daya perairan secara efisien dan bernilai tambah. Selain itu, penguatan riset dan kolaborasi yang dibangun dalam seminar ini mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals dalam mendorong inovasi dan pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.

Dr. Senny Helmiati Raih Jabatan Fungsional Lektor, Perkuat Pengembangan Keilmuan Nutrisi dan Pakan Ikan di Departemen Perikanan UGM

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. resmi memperoleh kenaikan jabatan fungsional ke jenjang Lektor dalam bidang ilmu Nutrisi dan Pakan Ikan. Pencapaian ini menjadi pengakuan atas dedikasi dan kontribusi beliau dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada bidang akuakultur yang berfokus pada pengembangan nutrisi dan manajemen pakan ikan.

Kenaikan jabatan fungsional ini tidak hanya menjadi capaian akademik secara personal, tetapi juga memperkuat kapasitas Departemen Perikanan UGM dalam mengembangkan riset, pendidikan, dan inovasi di bidang budidaya perikanan. Bidang nutrisi dan pakan ikan memegang peranan penting dalam mendukung peningkatan produktivitas akuakultur yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Sebagai akademisi di Departemen Perikanan UGM, Dr. Senny menekuni bidang nutrisi ikan, manajemen pakan ikan, pakan alami, dan akuakultur. Fokus keilmuan tersebut diwujudkan melalui berbagai penelitian yang mengembangkan bahan baku pakan alternatif, peningkatan kualitas nutrisi pakan, hingga optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal sebagai bahan penyusun pakan ikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Dr. Senny aktif mengembangkan penelitian mengenai pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai sumber protein alternatif dalam formulasi pakan ikan, evaluasi mikrobiota maggot, pemanfaatan tanaman lokal seperti daun kelor, Lemna, kulit singkong, serta berbagai bahan baku nonkonvensional yang berpotensi menggantikan tepung ikan dan tepung kedelai. Penelitian-penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan formulasi pakan yang lebih ekonomis tanpa mengurangi performa pertumbuhan maupun kesehatan ikan budidaya.

Selain aktif melakukan penelitian, Dr. Senny juga berkontribusi dalam membimbing mahasiswa sarjana maupun pascasarjana, melaksanakan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, serta menjalin kolaborasi penelitian dengan berbagai institusi di dalam dan luar negeri. Rekam jejak publikasinya menunjukkan kontribusi yang konsisten dalam pengembangan ilmu nutrisi ikan, teknologi pakan, mikrobiologi akuakultur, hingga pemanfaatan serangga sebagai sumber protein alternatif bagi industri budidaya perikanan.

Berbagai inovasi yang dikembangkan juga memiliki relevansi yang tinggi terhadap tantangan akuakultur modern. Meningkatnya harga bahan baku pakan konvensional mendorong perlunya sumber protein alternatif yang lebih berkelanjutan. Melalui pendekatan ilmiah, Dr. Senny bersama tim peneliti terus mengeksplorasi berbagai sumber daya lokal yang mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pencapaian ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia akademik. Bertambahnya dosen pada jenjang Lektor diharapkan semakin memperkuat atmosfer akademik, memperluas jejaring penelitian, meningkatkan kualitas publikasi internasional, serta menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Departemen Perikanan UGM mengucapkan selamat kepada Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. atas capaian jabatan fungsional Lektor. Semoga pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya-karya ilmiah yang inovatif, memperkuat kolaborasi akademik, serta memberikan kontribusi yang semakin besar bagi pengembangan ilmu akuakultur dan kemajuan perikanan Indonesia.

Pencapaian ini juga mendukung komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kapasitas akademisi dan kualitas pendidikan tinggi, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan inovasi pakan dan teknologi budidaya, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan bahan baku alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan, serta SDG 14 (Life Below Water) dengan mendukung sistem akuakultur yang produktif, sehat, dan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan.

Dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Susana Endah Ratnawati Raih Kenaikan Jabatan Akademik Lektor

Berita Senin, 22 Juni 2026

Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mencatatkan capaian membanggakan melalui kenaikan jabatan akademik salah satu dosennya. Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., Ph.D. resmi memperoleh kenaikan jabatan akademik sebagai Lektor, sebuah pencapaian yang mencerminkan dedikasi dan kontribusinya dalam bidang pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Kenaikan jabatan ini menjadi pengakuan atas kiprah Dr. Susana dalam mengembangkan ilmu dan teknologi hasil perikanan, khususnya pada bidang pengolahan hasil perikanan, keamanan pangan hasil perikanan, dan pemantauan mutu produk perikanan. Sebagai dosen di Program Studi THP UGM, beliau aktif mengembangkan berbagai inovasi yang mendukung peningkatan kualitas dan keamanan produk perikanan Indonesia.

Dr. Susana menempuh pendidikan Sarjana Teknologi Hasil Perikanan di Universitas Diponegoro, kemudian melanjutkan studi Magister pada bidang Pengelolaan Sumber Daya Pantai. Gelar doktor diperolehnya dari Ghent University pada bidang Bioscience Engineering. Latar belakang akademik yang kuat tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan riset-riset inovatif yang menghubungkan aspek mutu, keamanan, dan keberlanjutan produk perikanan.

Dalam aktivitas penelitiannya, Dr. Susana berfokus pada pengembangan teknologi untuk meningkatkan mutu dan keamanan produk perikanan. Beberapa topik yang menjadi perhatian utamanya meliputi mekanisme penurunan mutu udang selama penyimpanan, pengembangan sistem pengemasan untuk produk perikanan segar dan hidup, pemanfaatan limbah tulang ikan lele menjadi nano-kalsium bernilai tambah, serta penguatan aspek keamanan mikrobiologi produk perikanan. Hasil penelitiannya telah dipublikasikan pada berbagai jurnal internasional bereputasi di bidang ilmu pangan dan perikanan.

Selain aktif dalam penelitian, Dr. Susana juga dikenal sebagai pendidik yang berkomitmen dalam membimbing mahasiswa dan membangun atmosfer akademik yang produktif. Berbagai kegiatan pembelajaran, kolaborasi riset, serta pengabdian kepada masyarakat yang dijalankannya menunjukkan komitmen kuat dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan industri perikanan modern.

Keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengucapkan selamat atas capaian jabatan akademik Lektor yang diraih oleh Dr. Susana Endah Ratnawati. Diharapkan pencapaian ini semakin memotivasi pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi di bidang teknologi hasil perikanan, sekaligus memperkuat kontribusi UGM dalam mendukung pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan di Indonesia.

Kenaikan jabatan akademik ini juga sejalan dengan upaya pencapaian SDG 4: Quality Education melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pendidikan tinggi, serta SDG 14: Life Below Water dan SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui pengembangan riset mengenai keamanan pangan, peningkatan mutu hasil perikanan, dan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

1234
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY