• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
  • SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
Arsip:

SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim

Dosen Perikanan UGM: Melupakan Laut Berarti Mengabaikan Masa Depan Sosial Indonesia

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Wacana mengenai memudarnya orientasi pembangunan maritim Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah muncul opini berjudul “Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan” yang dimuat media nasional. Tulisan tersebut menyoroti bagaimana laut perlahan kehilangan posisi strategis dalam arah pembangunan Indonesia, padahal laut merupakan fondasi penting bagi identitas dan masa depan bangsa.
RMOL – Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan

Menanggapi isu tersebut, dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, menilai bahwa persoalan terbesar Indonesia hari ini bukan semata-mata eksploitasi laut, melainkan cara pandang pembangunan yang mulai menjauh dari identitas maritim bangsa.

Menurut Dr. Mukti, laut selama ini terlalu sering diposisikan hanya sebagai sumber ekonomi dan ruang produksi. Padahal, laut memiliki dimensi sosial, budaya, ekologis, hingga politik yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama komunitas pesisir dan nelayan kecil.

“Ketika laut hanya dipahami sebagai komoditas ekonomi, maka yang hilang bukan hanya ekosistemnya, tetapi juga ruang hidup masyarakat pesisir, pengetahuan lokal, dan identitas maritim Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan sektor kelautan seharusnya tidak berhenti pada peningkatan produksi atau investasi semata. Menurutnya, kebijakan maritim perlu melihat laut sebagai ruang kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan, budaya lokal, hingga keberlanjutan sosial masyarakat.

Dr. Mukti juga menyoroti bagaimana masyarakat pesisir sering menjadi kelompok yang paling terdampak ketika pembangunan tidak memperhatikan aspek sosial dan ekologis. Perubahan iklim, abrasi, pencemaran laut, hingga penurunan sumber daya ikan secara langsung memengaruhi kehidupan nelayan dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidup dari laut.

Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan paradigma pembangunan maritim yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Ia menilai pendekatan sosial dalam ilmu perikanan menjadi semakin penting untuk memahami bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, tekanan ekonomi, dan transformasi kebijakan di sektor kelautan.

“Laut bukan sekadar ruang geografis. Laut adalah ruang sosial. Di sana ada relasi budaya, ekonomi keluarga, solidaritas masyarakat, bahkan identitas komunitas yang terbentuk selama puluhan tahun,” jelasnya.

Sebagai akademisi yang menaruh perhatian pada kajian sosial perikanan dan masyarakat pesisir, Dr. Mukti Aprian juga menilai bahwa riset-riset sosial di bidang perikanan masih perlu diperkuat. Menurutnya, selama ini kajian kelautan lebih banyak didominasi pendekatan teknis dan produksi, sementara dinamika sosial masyarakat pesisir sering kurang mendapat perhatian.

Ia menekankan bahwa masa depan sektor kelautan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan memahami manusia yang hidup di dalam sistem tersebut.

Selain itu, Dr. Mukti menilai generasi muda perlu mulai membangun kembali kesadaran maritim. Kampus, menurutnya, memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk cara pandang baru terhadap laut, bukan sekadar sebagai sumber daya, tetapi sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan bangsa.

“Kalau laut rusak, dampaknya bukan hanya pada ikan atau ekosistem, tetapi juga pada ketahanan pangan, migrasi masyarakat pesisir, kemiskinan, hingga konflik sosial. Karena itu, menjaga laut sebenarnya adalah menjaga masa depan Indonesia,” tambahnya.

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, Departemen Perikanan UGM terus mendorong pengembangan ilmu perikanan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat pesisir.

Refleksi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-1 (No Poverty). Penguatan pembangunan maritim berbasis keberlanjutan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga ekologi laut sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Podcast Fisheries Talks Bahas Pentingnya Menjaga Ekosistem Laut Sejak Dini

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Kesadaran menjaga laut dan lingkungan pesisir perlu ditanamkan sejak usia dini. Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam episode terbaru Fisheries Talks by Media Perikanan UGM yang menghadirkan dua duta muda maritim Bali, yaitu Ni Putu Devika Wulandari dan Ni Putu Khenzie Dena Defika.

Dipandu oleh host Alya Putri Mezzaluna, podcast ini membahas berbagai isu terkait keberlanjutan ekosistem laut Indonesia serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan bahari.

Dalam perbincangan tersebut, kedua narasumber menyoroti bahwa laut Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar sekaligus menghadapi berbagai ancaman seperti sampah plastik, pencemaran, hingga kerusakan ekosistem pesisir. Kesadaran masyarakat, terutama anak muda, dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga masa depan laut Indonesia.

Podcast ini juga mengangkat bagaimana peran duta maritim tidak hanya sebatas ajang representasi, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap laut dan lingkungan pesisir. Melalui media sosial, kampanye edukasi, hingga kegiatan lingkungan, generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk menyebarkan kesadaran konservasi laut secara lebih luas.

Diskusi berlangsung hangat dan inspiratif dengan berbagai cerita pengalaman narasumber selama terlibat dalam kegiatan edukasi kemaritiman di Bali. Mereka juga berbagi pandangan mengenai pentingnya membangun kebiasaan sederhana seperti mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan pantai, dan lebih mengenal kekayaan laut Indonesia.

Isu keberlanjutan ekosistem laut sendiri menjadi perhatian global mengingat laut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan manusia. Berbagai tantangan seperti pencemaran laut, kerusakan terumbu karang, dan eksploitasi sumber daya laut berlebihan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem bahari.

Melalui podcast ini, Media Perikanan UGM berupaya menghadirkan ruang diskusi yang ringan namun edukatif agar isu kelautan semakin dekat dengan generasi muda. Kehadiran figur muda seperti Duta Maritim Bali diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap laut Indonesia.

Video podcast dapat disaksikan melalui kanal YouTube berikut:
Fisheries Talks – Menjaga Keberlanjutan Ekosistem Laut Indonesia

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Edukasi dan keterlibatan generasi muda menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia untuk masa depan.

Prodi Manajemen Sumberdaya Akuatik Departemen Perikanan Tampil di Media Resmi Universitas, Tunjukkan Peran Strategis Menjaga Ekosistem Perairan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Yogyakarta — Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali mendapat sorotan melalui liputan media resmi universitas yang tayang pada kanal Instagram UGM. Melalui tayangan video singkat tersebut, Prodi MSA diperkenalkan sebagai program studi yang berfokus pada pengelolaan sumber daya perairan dan keberlanjutan ekosistem akuatik di Indonesia.

Liputan ini menampilkan berbagai aktivitas akademik dan praktik lapangan mahasiswa dalam mempelajari pengelolaan lingkungan perairan, konservasi, hingga pemanfaatan sumber daya akuatik secara berkelanjutan. Kehadiran Prodi MSA dalam media resmi universitas menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dunia perikanan dan lingkungan perairan kepada masyarakat luas, khususnya calon mahasiswa.

Sebagai salah satu program studi di Departemen Perikanan UGM, MSA memiliki fokus pembelajaran yang tidak hanya berkaitan dengan ikan dan perairan, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan ekosistem di tengah tantangan perubahan lingkungan, pencemaran, dan eksploitasi sumber daya alam.

Mahasiswa MSA dibekali dengan berbagai kompetensi, mulai dari pengelolaan habitat perairan, konservasi sumber daya akuatik, pengendalian pencemaran, hingga pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan lingkungan perairan. Pembelajaran juga didukung dengan kegiatan praktikum dan observasi lapangan agar mahasiswa memahami kondisi nyata ekosistem perairan di Indonesia.

Dalam tayangan tersebut, suasana pembelajaran yang aktif dan kolaboratif turut menjadi sorotan. Mahasiswa terlihat terlibat dalam berbagai kegiatan akademik yang mendorong kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan pengelolaan sumber daya berbasis keberlanjutan.

Liputan media resmi universitas ini menjadi momentum penting bagi Prodi MSA untuk menunjukkan bahwa bidang perikanan modern tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan lingkungan dan masa depan sumber daya air.

Keberadaan program studi ini juga semakin relevan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap isu perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan keberlanjutan sumber daya alam. Lulusan MSA memiliki peluang berkarier di bidang konservasi, pengelolaan lingkungan, penelitian, pemerintahan, hingga sektor industri berbasis lingkungan.

Video liputan resmi tersebut dapat disaksikan melalui akun Instagram resmi UGM berikut:
Instagram Reels Prodi Manajemen Sumberdaya Akuatik UGM

Kehadiran Prodi MSA dalam media resmi universitas juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan berbasis keberlanjutan menjadi langkah penting dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menjaga masa depan ekosistem perairan Indonesia.

Belajar Menjaga Masa Depan Perairan Indonesia Lewat Mata Kuliah Manajemen Sumberdaya Perairan UGM

Berita Jumat, 8 Mei 2026

Yogyakarta — Perubahan lingkungan, penurunan kualitas air, hingga ancaman terhadap ekosistem perairan menjadi tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadirkan mata kuliah Manajemen Sumberdaya Perairan sebagai ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami pengelolaan ekosistem perairan secara berkelanjutan.

Mata kuliah wajib berbobot 2 SKS ini diampu dosen-dosen kompeten seperti Prof. Djumanto dan Prof. Eko Setyobudi. Perkuliahan dirancang tidak hanya membahas teori pengelolaan sumber daya perairan, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami berbagai persoalan nyata yang terjadi di lapangan.

Mahasiswa akan mempelajari berbagai topik menarik, mulai dari karakter habitat perairan air tawar, payau, dan laut, pengelolaan kualitas air, pengendalian tumbuhan air, restorasi ekosistem, hingga pemanfaatan sumber daya perairan untuk ekowisata dan konservasi.

Yang membuat mata kuliah ini menarik adalah pendekatan pembelajarannya yang berbasis studi kasus (case-based learning). Mahasiswa tidak hanya mendengarkan kuliah di kelas, tetapi juga aktif berdiskusi, menganalisis permasalahan lingkungan perairan, serta mencari solusi pengelolaan yang berkelanjutan.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diajak berpikir layaknya pengelola sumber daya perairan profesional. Mereka belajar bagaimana mengidentifikasi kondisi habitat, memahami hubungan antara kualitas lingkungan dan biota perairan, hingga menyusun alternatif solusi terhadap berbagai persoalan ekosistem perairan.

Selain memperkuat pemahaman ekologis, mahasiswa juga dikenalkan pada pentingnya pendekatan sosial dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam. Pengelolaan perairan modern tidak lagi hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya, tetapi juga pada upaya menjaga keseimbangan ekologi dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Suasana pembelajaran dibuat interaktif melalui diskusi kelompok, presentasi, penugasan proyek, hingga analisis kasus nyata yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan di Indonesia. Pendekatan ini membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu lingkungan, konservasi, dan keberlanjutan sumber daya alam, mata kuliah ini menjadi salah satu gambaran menarik tentang bagaimana dunia perikanan modern tidak hanya berbicara soal ikan, tetapi juga tentang menjaga ekosistem dan masa depan lingkungan perairan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan mengenai pengelolaan sumber daya perairan menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekosistem perairan.

Departemen Perikanan UGM Gelar FGD dan Kegiatan Lapangan Pengembangan Perikanan Adaptif di Kulon Progo

Berita Rabu, 29 April 2026

Yogyakarta, 29 April 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada akan menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan kegiatan lapangan bertajuk “Pengembangan Model Perikanan Adaptif untuk Meningkatkan Ketahanan Sosial, Ekonomi, dan Ekologi” di wilayah Kulon Progo.

Kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk merespons tantangan sektor perikanan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, tekanan terhadap sumber daya, hingga dinamika sosial-ekonomi masyarakat pesisir dan pembudidaya. Pendekatan perikanan adaptif dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sistem yang tangguh dan berkelanjutan.

FGD akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, praktisi, pemerintah daerah, serta pelaku usaha perikanan. Diskusi ini bertujuan untuk menggali perspektif bersama dalam merumuskan model pengelolaan perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga resilien terhadap perubahan lingkungan dan sosial. Kegiatan ini rencananya akan dihadiri oleh lebih dari 45 peserta dari berbagai latar belakang, mencerminkan tingginya antusiasme terhadap isu perikanan adaptif.

Sebagai narasumber utama, Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. memaparkan konsep dan implementasi perikanan adaptif, termasuk pentingnya integrasi antara aspek ekologi, ekonomi, dan sosial dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Ia menekankan bahwa pendekatan adaptif harus berbasis pada kondisi lokal serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen-dosen perikanan yaitu Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si., dan Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han).

Selain diskusi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan di kawasan perikanan Kulon Progo. Peserta akan melihat langsung praktik-praktik pengelolaan perikanan yang telah berjalan, sekaligus mengidentifikasi tantangan dan peluang pengembangan di tingkat lokal.

Kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan dan model implementatif yang dapat diterapkan secara lebih luas. Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah dan pengalaman lapangan, Departemen Perikanan UGM berupaya mendorong transformasi sektor perikanan menuju sistem yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Lebih jauh, inisiatif ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 13 (Climate Action), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan SDG 14 (Life Below Water). Pengembangan perikanan adaptif menjadi langkah penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem perairan dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung padanya.

Menuju Pesisir Tangguh: FGD Perikanan UGM Rumuskan Model Pengelolaan Perikanan Adaptif di Pantai Depok Kabupaten Bantul

Berita Senin, 20 April 2026

Suasana pesisir Pantai Depok, Bantul, menjadi latar unik penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) Penelitian IJRA–Equity yang diinisiasi oleh Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada pada 20 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, peneliti, serta pelaku perikanan dalam satu ruang dialog terbuka untuk membahas masa depan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Berbeda dari forum ilmiah pada umumnya, FGD ini sengaja dilaksanakan di kawasan pesisir untuk menghadirkan konteks nyata antara teori dan praktik. Pantai Depok yang dikenal sebagai sentra aktivitas nelayan di Kabupaten Bantul menjadi lokasi strategis untuk menggali langsung dinamika ketahanan perikanan.

Diskusi yang dipimpin oleh Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. ini menyoroti keterkaitan erat antara perubahan lingkungan laut, dinamika sosial masyarakat pesisir, serta sistem kelembagaan yang mengatur aktivitas perikanan. Para peserta menekankan bahwa pengelolaan sumber daya laut tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan ekologis semata, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat nelayan.

Dalam forum tersebut, isu perubahan iklim menjadi salah satu perhatian utama. Perubahan pola musim, gelombang, hingga ketidakpastian hasil tangkapan dirasakan langsung oleh nelayan di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan adaptif berbasis data ilmiah yang mampu menjembatani kebutuhan kebijakan dengan kondisi riil di masyarakat.

FGD ini juga membuka ruang dialog antara peneliti dan nelayan, sehingga pengalaman lokal dapat diintegrasikan ke dalam pengembangan riset. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan IJRA–Equity ini, UGM kembali menegaskan perannya sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan riset akademik, tetapi juga mendorong solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perikanan di era perubahan global.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut), sekaligus memperkuat upaya mewujudkan pengelolaan perikanan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

Sosialisasi Restocking Ikan Lokal DIY Perkuat Upaya Pelestarian Perairan Umum

Berita Senin, 20 April 2026

Yogyakarta – Dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya ikan lokal di perairan umum Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), telah diselenggarakan kegiatan Sosialisasi Restocking Sumberdaya Ikan Lokal di Perairan Umum pada Senin, 13 April 2026 mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Gurami dan Ruang Rapat Nila III, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Jalan Sagan No. III/4, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dosen Departemen Perikanan UGM Dr. Sulistiowati, S.Si., M.Si yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam pelestarian sumber daya ikan lokal. Penyampaian Materi ini dimaksud guna memberikan pemahaman komprehensif kepada para pemangku kepentingan terkait pentingnya restocking sebagai bagian dari strategi konservasi perairan darat. Dalam pemaparan materi, dijelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman ikan yang sangat tinggi, dengan ribuan spesies ikan air tawar dan laut, termasuk ratusan spesies endemik yang tersebar di berbagai wilayah perairan. Di Pulau Jawa sendiri tercatat terdapat 132 jenis ikan asli dan endemik yang memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan budaya penting bagi masyarakat.

Namun, keberadaan ikan lokal menghadapi berbagai ancaman serius seperti degradasi habitat, pencemaran, perubahan iklim, introduksi spesies invasif, hingga eksploitasi berlebihan. Rendahnya kesadaran masyarakat serta keterbatasan sumber daya juga menjadi tantangan dalam upaya konservasi. Kondisi ini menuntut langkah strategis yang melibatkan berbagai pihak untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian sumber daya ikan.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, restocking atau penebaran ikan kembali ke habitat alaminya diperkenalkan sebagai salah satu upaya penting untuk meningkatkan keragaman dan produksi ikan di perairan umum. Selain itu, strategi konservasi lain yang disampaikan meliputi pembentukan suaka perikanan, rehabilitasi habitat, pengendalian spesies invasif, regulasi penangkapan, hingga domestikasi dan budidaya ikan lokal yang terancam punah.

Kegiatan ini juga menekankan pentingnya dukungan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat, dalam pelaksanaan program pelestarian ikan lokal. Upaya konservasi diharapkan tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem, tetapi juga menjamin keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada perikanan perairan umum.

Melalui sosialisasi ini, diharapkan terbangun sinergi dan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan sumber daya ikan lokal DIY sebagai warisan alam yang bernilai bagi generasi mendatang. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan tujuan ke -17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, tujuan ke-4 Pendidikan Berkualitas, tujuan ke-8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomike-14 (Ekosistem Laut), tujuan ke-15 (Ekosistem Daratan), serta tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim). Upaya restocking dan konservasi ikan lokal menjadi bagian penting dalam menjaga keanekaragaman hayati perairan, memperkuat ketahanan ekosistem, serta memastikan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.

Belajar ‘Aturan Main’ Laut: Mata Kuliah Kelembagaan Perikanan UGM Siapkan Mahasiswa Jadi Pengambil Kebijakan Masa Depan

Berita Senin, 20 April 2026

Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia perikanan, memahami laut tidak cukup hanya dari sisi biologi atau teknologi. Di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, mahasiswa juga diajak memahami “aturan main” di balik pengelolaan sumber daya laut melalui mata kuliah Kelembagaan Perikanan.

Mata kuliah ini menjadi salah satu fondasi penting dalam Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik. Di sini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajak menganalisis bagaimana kebijakan, institusi, dan masyarakat berinteraksi dalam mengelola perikanan secara berkelanjutan.

Materi yang dipelajari sangat beragam dan kontekstual. Mahasiswa akan mengenal konsep dasar kelembagaan, perubahan institusi, hingga penerapannya dalam pengelolaan perikanan di berbagai skala—lokal, nasional, hingga internasional. Contohnya, mahasiswa mempelajari praktik lokal seperti sasi di Maluku dan awig-awig di Bali, yang terbukti efektif dalam menjaga kelestarian sumber daya perikanan berbasis kearifan lokal.

Tidak berhenti di situ, pembelajaran juga mengangkat isu-isu aktual seperti kebijakan penangkapan ikan terukur, pembangunan kawasan minapolitan, hingga rantai pasok hasil perikanan modern. Pendekatan yang digunakan berbasis case-based learning (CBL) dan project-based learning (PBL), sehingga mahasiswa aktif berdiskusi, menganalisis kasus nyata, hingga mempresentasikan solusi.

Menariknya, mahasiswa juga diajak melihat bagaimana kelembagaan berperan dalam pembangunan sektor perikanan, baik di bidang budidaya, penangkapan, maupun pengolahan hasil. Hal ini membuat lulusan tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja dan kebijakan.

Dengan sistem pembelajaran yang interaktif dan berbasis analisis kasus, mata kuliah ini melatih kemampuan berpikir kritis (high order thinking skills) yang sangat dibutuhkan di era kompleks saat ini.

Melalui mata kuliah Kelembagaan Perikanan, UGM membekali mahasiswa untuk menjadi pengelola sumber daya laut, analis kebijakan, hingga pemimpin masa depan di sektor perikanan. Cocok bagi kamu yang ingin berkontribusi nyata dalam menjaga laut sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat pesisir. Pembelajaran ini sejalan dengan SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, SDG 14 (Ekosistem Laut), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), menjadikan mahasiswa siap berkontribusi dalam pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan di Indonesia maupun global.

FGD Equity UGM Soroti Perikanan dalam Perspektif Sosial-Ekologi: Dari Perubahan Iklim hingga Dinamika Sumber Daya Pesisir dan Lautan

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026 di Ruang 2.02, Gedung A4. Kegiatan ini menjadi forum strategis lintas sektor yang mengangkat isu perubahan iklim dan dinamika oseanografi dalam konteks sosial-ekologi perikanan dan kelautan.

FGD menghadirkan berbagai pakar nasional dan internasional, di antaranya Prof. Widodo Setiyo Pranowo dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. R. Dwi Susanto dari University of Maryland, serta Prof. Ocky Karna Radjasa. Diskusi juga melibatkan perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan pelaku perikanan dari Kelompok Mina Samodera Pantai Baron, sehingga menghadirkan perspektif ilmiah sekaligus pengalaman lapangan.

Dalam diskusi, para narasumber menekankan bahwa perubahan iklim global telah memengaruhi parameter oseanografi seperti suhu permukaan laut, arus, dan produktivitas primer. Fenomena ini secara langsung berdampak pada distribusi ikan, musim penangkapan, hingga ketidakpastian hasil tangkapan nelayan.

Lebih jauh, pendekatan sosial-ekologi menjadi kunci dalam memahami sistem perikanan secara utuh. Tidak hanya aspek lingkungan, tetapi juga dimensi sosial seperti adaptasi nelayan, kelembagaan, dan strategi penghidupan menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan.

Paparan juga menyoroti bagaimana fenomena iklim ekstrem, seperti siklon tropis, dapat memicu perubahan produktivitas laut melalui peningkatan nutrien dan klorofil-a. Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika laut bersifat kompleks dan memerlukan pendekatan berbasis data serta teknologi, termasuk pemanfaatan penginderaan jauh dan pemodelan spasial.

Diskusi berlangsung interaktif dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, peneliti, pemerintah, dan masyarakat pesisir. Integrasi pengetahuan ilmiah dan lokal dinilai menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Melalui FGD ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan perannya dalam mengembangkan riset yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan secara sosial. Kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut), serta memperkuat upaya pengelolaan perikanan yang tangguh dan berkelanjutan di Indonesia.

Dari Satelit NASA ke Laut Indonesia: FGD Equity UGM Bahas Teknologi PACE untuk Pantau Ekosistem Laut

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan diskusi ilmiah strategis melalui Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri yang digelar pada Jumat, 17 April 2026 di Gedung A4. Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah pemaparan teknologi satelit mutakhir untuk pemantauan ekosistem laut.

Materi disampaikan oleh Prof. Riset R. Dwi Susanto, Ph.D., peneliti senior dari University of Maryland, yang membahas pemanfaatan satelit terbaru milik NASA, yaitu PACE (Plankton, Aerosol, Clouds, Ocean Ecosystem).

Dalam paparannya, Dwi Susanto menjelaskan bahwa satelit PACE membawa teknologi hiperspektral yang mampu mendeteksi kondisi perairan laut secara lebih detail dibandingkan satelit sebelumnya. Teknologi ini memungkinkan ilmuwan untuk mengidentifikasi jenis-jenis fitoplankton, termasuk membedakan antara alga yang berbahaya (harmful algal blooms) dan yang bermanfaat bagi ekosistem.

Lebih lanjut, satelit PACE menghasilkan berbagai data penting seperti konsentrasi klorofil-a, struktur komunitas plankton, karbon laut, hingga kualitas air. Data ini sangat krusial untuk memahami dinamika ekosistem laut, termasuk responsnya terhadap perubahan iklim global.

Paparan ini juga menekankan pentingnya integrasi antara data satelit dan pengukuran lapangan. Validasi data menjadi langkah penting agar hasil pemantauan dapat digunakan secara akurat dalam skala lokal maupun regional, termasuk di perairan Indonesia yang memiliki kompleksitas tinggi.

Diskusi dalam FGD ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi satelit modern dapat menjadi solusi dalam meningkatkan akurasi pemantauan sumber daya laut, sekaligus mendukung pengambilan kebijakan berbasis data. Hal ini sangat relevan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi ekosistem laut.

Kegiatan ini menegaskan peran UGM sebagai pusat pengembangan ilmu kelautan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global. Selain itu, hasil diskusi ini turut berkontribusi pada SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui penguatan riset berbasis inovasi teknologi untuk keberlanjutan laut Indonesia.

123
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY