• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
  • SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
Arsip:

SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dampak Triple-Dip La Niña terhadap Zona Upwelling di Laut Maluku

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Fenomena perubahan iklim global tidak hanya memengaruhi kondisi cuaca di daratan, tetapi juga mengubah dinamika laut yang menjadi penopang produktivitas perikanan Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rolland Darrent Evaro, melakukan penelitian berjudul “Dampak Triple-Dip La Niña 2020–2023 terhadap Zona Upwelling di Laut Maluku” di bawah bimbingan Dr. rer. nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc.

Penelitian ini mengkaji bagaimana fenomena triple-dip La Niña yang berlangsung selama tiga tahun berturut-turut (2020–2023) memengaruhi dinamika oseanografi di Laut Maluku. Sebagai salah satu wilayah perairan penting di Indonesia Timur, Laut Maluku dikenal memiliki produktivitas perikanan yang sangat dipengaruhi oleh proses upwelling, yaitu naiknya massa air dingin yang kaya unsur hara dari lapisan laut dalam menuju permukaan. Proses alami ini menjadi fondasi tingginya produktivitas fitoplankton yang kemudian menopang rantai makanan hingga sumber daya ikan.

Melalui analisis data oseanografi berbasis satelit, penelitian mengevaluasi perubahan kecepatan angin, suhu permukaan laut (SPL), konsentrasi klorofil-a, dan Sea Level Anomaly (SLA) selama periode terjadinya triple-dip La Niña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara klimatologis, puncak Monsun Tenggara terjadi pada bulan Agustus, ketika proses upwelling berkembang paling kuat di Laut Maluku. Sebaliknya, pada periode Monsun Barat, khususnya Desember hingga Februari, wilayah tersebut didominasi oleh proses downwelling, yaitu tenggelamnya massa air permukaan yang menyebabkan berkurangnya pasokan nutrien ke lapisan atas laut.

Temuan yang paling menarik dari penelitian ini adalah bahwa fenomena triple-dip La Niña justru menyebabkan melemahnya intensitas upwelling selama musim Monsun Tenggara. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh meningkatnya anomali suhu permukaan laut dan tinggi muka laut, yang disertai dengan penurunan kecepatan angin serta menurunnya konsentrasi klorofil-a. Dengan kata lain, meskipun La Niña sering dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di Indonesia, dampaknya terhadap dinamika laut tidak selalu meningkatkan produktivitas perairan. Pada kasus Laut Maluku, fenomena iklim ini justru mengurangi kekuatan mekanisme alami yang selama ini menjadi penunjang kesuburan perairan.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa perubahan iklim global dapat memengaruhi proses-proses oseanografi yang menjadi dasar produktivitas perikanan. Melemahnya upwelling berpotensi mengurangi ketersediaan nutrien di perairan permukaan, sehingga dalam jangka panjang dapat memengaruhi kelimpahan plankton, distribusi ikan pelagis, hingga hasil tangkapan nelayan. Oleh karena itu, pemantauan kondisi oseanografi menjadi semakin penting sebagai bagian dari sistem pengelolaan sumber daya perikanan yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Menurut Dr. rer. nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., penelitian mengenai hubungan antara variabilitas iklim global dan dinamika oseanografi sangat penting untuk memperkuat pengelolaan perikanan berbasis sains. Informasi mengenai perubahan pola upwelling dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam penyusunan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, termasuk dalam perencanaan musim penangkapan ikan dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Melalui penelitian ini, Departemen Perikanan UGM kembali menunjukkan kontribusinya dalam menghasilkan riset yang mendukung pengembangan ilmu oseanografi perikanan sekaligus menjawab tantangan pengelolaan sumber daya laut di era perubahan iklim. Hasil penelitian diharapkan menjadi referensi ilmiah bagi pemerintah, peneliti, maupun pengelola perikanan dalam menyusun kebijakan yang lebih adaptif terhadap variabilitas iklim di wilayah perairan Indonesia.

Penelitian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Climate Action) melalui peningkatan pemahaman mengenai dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut, serta SDG 14 (Life Below Water) dengan menyediakan dasar ilmiah bagi pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Selain itu, hasil penelitian turut berkontribusi pada SDG 2 (Zero Hunger) melalui dukungan terhadap keberlanjutan produksi perikanan sebagai sumber pangan, dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) dengan memperkuat pemanfaatan data satelit dan ilmu pengetahuan sebagai landasan pengambilan kebijakan berbasis bukti untuk menjaga ketahanan sumber daya perikanan Indonesia.

Dosen Perikanan UGM Berbagi Keahlian AMDAL dan ESIA dalam Pelatihan Lingkungan PSLH UGM

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta, 9 Juni 2026 — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan kembali ditunjukkan melalui kontribusi dosennya dalam kegiatan pelatihan profesional. Drs. Namastra Probosunu, M.Si., dosen Departemen Perikanan UGM, menjadi salah satu pemateri dalam pelatihan “Dasar-Dasar AMDAL dan ESIA” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan PSLH UGM tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang profesional yang ingin memperdalam pemahaman mengenai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) sebagai instrumen penting dalam pembangunan berkelanjutan. Drs. Probosunu memberikan materi pada Kelas A dan Kelas B yang diselenggarakan pada Selasa, 9 Juni 2026.

Dalam sesi yang disampaikan, Drs. Probosunu menekankan pentingnya pemahaman ekologi sebagai fondasi dalam proses penyusunan dan evaluasi dokumen AMDAL. Menurutnya, keputusan terkait kelayakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mengenai bagaimana suatu ekosistem bekerja serta bagaimana aktivitas pembangunan dapat memengaruhi keseimbangan lingkungan tersebut.

Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar ekosistem, mulai dari komponen penyusun ekosistem, interaksi antar populasi, hingga hubungan yang terbentuk dalam rantai dan jaring-jaring makanan. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut dinilai penting untuk mengidentifikasi potensi dampak lingkungan yang mungkin muncul akibat suatu kegiatan atau proyek pembangunan.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai tipologi ekosistem dan tingkat kerawanannya dalam konteks pengambilan keputusan lingkungan. Berbagai karakteristik ekosistem memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap gangguan, sehingga memerlukan pendekatan pengelolaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Dalam paparannya, Drs. Probosunu menjelaskan bahwa keberhasilan AMDAL tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen, tetapi juga oleh kualitas pemahaman terhadap sistem ekologis yang menjadi objek kajian. Dengan memahami kerentanan ekosistem sejak awal, berbagai risiko lingkungan dapat diidentifikasi dan diantisipasi secara lebih efektif.

Kehadiran Drs. Probosunu sebagai narasumber menunjukkan kontribusi aktif Departemen Perikanan UGM dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang lingkungan hidup. Keahlian yang dimiliki dosen-dosen Perikanan UGM tidak hanya bermanfaat bagi pengelolaan sumber daya perairan, tetapi juga mendukung berbagai aspek perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, UGM terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu menjembatani kebutuhan akademik dan praktik profesional. Transfer pengetahuan mengenai ekologi dan lingkungan menjadi bagian penting dalam menciptakan pembangunan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kapasitas profesional di bidang lingkungan, SDG 13 (Climate Action) melalui penguatan pemahaman dampak lingkungan dalam pembangunan, SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 15 (Life on Land) melalui penguatan perlindungan ekosistem sebagai dasar pengambilan keputusan yang berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Perubahan Bentang Pesisir Subang: Mangrove Menyusut, Tambak Terus Bertambah

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta — Wilayah pesisir merupakan kawasan yang terus mengalami perubahan akibat interaksi antara proses alam dan aktivitas manusia. Dinamika tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Zuhdi Ardi, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui skripsinya yang mengkaji perubahan luas lahan mangrove dan tambak di Kabupaten Subang, Jawa Barat, selama periode 2019–2025.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh berbasis citra satelit Sentinel-2 untuk memantau perubahan bentang pesisir secara lebih efisien dan akurat. Dengan dukungan platform Google Earth Engine dan algoritma random forest, penelitian mampu menghasilkan pemetaan penggunaan lahan yang memiliki tingkat akurasi sangat tinggi.

Kabupaten Subang dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu sentra perikanan budidaya penting di pesisir utara Jawa Barat. Seiring berkembangnya aktivitas budidaya, kawasan pesisir menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika yang menarik pada bentang pesisir Subang selama enam tahun terakhir. Kawasan mangrove mengalami perubahan luasan dari tahun ke tahun, sementara area tambak menunjukkan kecenderungan berkembang di sejumlah wilayah pesisir. Temuan ini memberikan gambaran bagaimana aktivitas pemanfaatan ruang pesisir terus membentuk lanskap kawasan pantai secara dinamis.

Menurut Zuhdi, pemantauan perubahan penggunaan lahan menjadi penting karena mangrove memiliki peran strategis sebagai pelindung pantai, habitat berbagai biota perairan, penyerap karbon, serta penyangga keberlanjutan ekosistem pesisir. Di sisi lain, sektor budidaya tambak juga berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat dan penyediaan pangan berbasis perikanan.

Melalui penelitian ini, Zuhdi menunjukkan bahwa teknologi satelit dapat menjadi alat yang efektif untuk memantau perubahan lingkungan pesisir dalam skala luas dan periode waktu yang panjang. Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi pengambil kebijakan dalam merencanakan pengelolaan wilayah pesisir yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Dr. Riza Yuliratno Setiawan menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi geospasial dalam bidang perikanan dan pengelolaan sumber daya perairan semakin penting di era saat ini. Data yang dihasilkan dari pemantauan satelit mampu membantu memahami perubahan lingkungan secara objektif dan mendukung proses pengambilan keputusan berbasis sains.

Penelitian Zuhdi menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa Perikanan UGM memanfaatkan teknologi mutakhir untuk menjawab berbagai tantangan pengelolaan sumber daya pesisir. Melalui pendekatan ilmiah yang inovatif, penelitian ini diharapkan dapat mendukung upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan sektor perikanan dan pelestarian ekosistem mangrove di Indonesia.

Kegiatan penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terutama SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan pengelolaan ekosistem pesisir, SDG 13 (Climate Action) melalui pemantauan ekosistem penyerap karbon biru, serta SDG 15 (Life on Land) melalui upaya pelestarian kawasan mangrove sebagai bagian penting dari bentang alam pesisir yang berkelanjutan.

Hari Laut Sedunia 2026: Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan Indonesia

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta — Setiap tanggal 8 Juni, dunia memperingati Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya laut bagi kehidupan manusia dan keberlanjutan planet bumi. Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, peringatan ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan peran laut sebagai sumber kehidupan, pangan, energi, dan kesejahteraan yang harus dijaga bersama.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan wilayah laut yang luas dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Laut Indonesia tidak hanya menyediakan sumber protein bagi jutaan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi nelayan, pembudidaya ikan, pelaku usaha perikanan, serta berbagai komunitas pesisir yang menggantungkan kehidupannya pada sumber daya perairan.

Namun demikian, laut saat ini menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, pencemaran, eksploitasi sumber daya yang berlebihan, kerusakan habitat pesisir, hingga hilangnya keanekaragaman hayati menjadi ancaman nyata yang memerlukan perhatian bersama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas pesisir, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Bagi dunia akademik, Hari Laut Sedunia menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan memiliki peran strategis dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Departemen Perikanan UGM terus berupaya menghasilkan inovasi dan solusi berbasis sains untuk menjawab berbagai tantangan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan.

Berbagai penelitian yang dilakukan dosen dan mahasiswa Departemen Perikanan UGM menunjukkan bahwa keberlanjutan laut tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologis, tetapi juga oleh aspek sosial, ekonomi, budaya, dan tata kelola. Oleh karena itu, pendekatan multidisiplin dan kolaboratif menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan kelestarian ekosistem.

Momentum Hari Laut Sedunia juga mengingatkan pentingnya membangun generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap laut. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan global yang cepat, sektor perikanan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan dan komitmen terhadap keberlanjutan.

Tema global Hari Laut Sedunia tahun 2026 kembali menegaskan bahwa masa depan manusia sangat bergantung pada kesehatan laut. Setiap tindakan kecil, mulai dari mengurangi sampah plastik, mendukung konsumsi hasil perikanan yang bertanggung jawab, hingga berpartisipasi dalam kegiatan konservasi, merupakan kontribusi nyata dalam menjaga ekosistem laut.

Bagi Departemen Perikanan UGM, laut bukan sekadar objek kajian ilmiah, melainkan warisan bangsa yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Laut yang sehat akan mendukung ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat pesisir, stabilitas ekonomi, serta keberlanjutan pembangunan nasional.

Pada peringatan Hari Laut Sedunia 2026, keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengajak seluruh masyarakat untuk semakin peduli terhadap laut dan sumber daya perikanan Indonesia. Karena pada akhirnya, menjaga laut berarti menjaga kehidupan, menjaga ketahanan pangan, dan menjaga masa depan bangsa.

Peringatan Hari Laut Sedunia ini sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water) melalui upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan, SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis perikanan, SDG 13 (Climate Action) melalui peningkatan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan laut Indonesia.

Dari Satelit ke Tambak: Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dinamika Tambak Rembang dan Jejak Perubahan Iklim di Pesisir Jawa

Berita Senin, 25 Mei 2026

Yogyakarta — Perubahan iklim global ternyata tidak hanya dirasakan melalui peningkatan suhu atau perubahan musim. Di wilayah pesisir, dampaknya juga dapat terlihat dari perubahan pola penggunaan lahan yang memengaruhi aktivitas masyarakat. Hal inilah yang menjadi fokus penelitian skripsi Fauziah Dian Anindya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, melalui kajian berjudul “Dinamika Luas Penggunaan Lahan Tambak di Wilayah Pesisir Kabupaten Rembang Periode 2017–2025.”

Penelitian tersebut mengangkat isu menarik mengenai bagaimana lahan tambak di kawasan pesisir Kabupaten Rembang mengalami perubahan dari waktu ke waktu akibat kombinasi faktor lingkungan, iklim, hingga aktivitas manusia. Dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui citra Sentinel-2 dan analisis menggunakan Google Earth Engine, penelitian ini menunjukkan bagaimana data satelit dapat digunakan untuk membaca perubahan lanskap pesisir secara lebih cepat dan akurat.

Melalui pendekatan klasifikasi terbimbing (supervised classification), Fauziah menelusuri dinamika penggunaan lahan tambak garam dan tambak budidaya selama periode 2017–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan luas tambak tidak terjadi secara acak, tetapi sangat dipengaruhi kondisi iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Salah satu temuan menarik muncul pada tahun 2022 ketika luas tambak garam mengalami penurunan. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi meningkatnya curah hujan akibat fenomena La Niña, yang menyebabkan proses produksi garam menjadi kurang optimal. Sebaliknya, ketika curah hujan menurun pada tahun 2023, luas tambak garam kembali meningkat.

Menariknya, pola berbeda justru terjadi pada tambak budidaya. Ketika tambak garam menurun, tambak budidaya menunjukkan kecenderungan meningkat. Temuan tersebut mengindikasikan adanya dinamika alih fungsi lahan yang dipengaruhi strategi adaptasi masyarakat pesisir terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan ekonomi.

Penelitian juga menemukan bahwa pada tahun 2019, luas tambak garam mengalami peningkatan yang diduga dipengaruhi fenomena IOD positif, yang berkaitan dengan kondisi curah hujan lebih rendah dan mendukung aktivitas produksi garam.

Menurut Fauziah, perubahan penggunaan lahan di wilayah pesisir tidak dapat dilepaskan dari interaksi kompleks antara faktor sosial-ekonomi, kebijakan, dan kondisi iklim global. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir memerlukan pendekatan yang adaptif dan berbasis data.

Kajian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana ilmu perikanan saat ini berkembang jauh melampaui aktivitas budidaya dan penangkapan ikan. Teknologi satelit, analisis spasial, dan pemodelan iklim kini menjadi bagian penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan yang lebih berkelanjutan.

Penelitian Fauziah diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi perencanaan wilayah pesisir dan pengambilan kebijakan terkait pemanfaatan lahan tambak di masa mendatang, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.

Penelitian ini juga mendukung agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-15 (Life on Land) melalui penguatan basis data ilmiah untuk mendukung pengelolaan wilayah pesisir yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Teliti Dinamika Waduk Gajah Mungkur, Data Satelit Ungkap Pengaruh Iklim terhadap Keberlanjutan Perikanan

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Isu perubahan iklim semakin menunjukkan dampaknya terhadap berbagai ekosistem perairan, termasuk waduk yang menjadi sumber penting bagi kegiatan perikanan dan kehidupan masyarakat. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yumna Niwangsa, melakukan penelitian skripsi berjudul “Pemantauan Luas Badan Air Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri Periode 2017–2024 untuk Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan”. Penelitian ini menyoroti bagaimana perubahan iklim global memengaruhi dinamika luas badan air dan implikasinya terhadap pengelolaan sumber daya perikanan.

Penelitian berfokus pada Waduk Gajah Mungkur, waduk buatan yang dibangun sejak tahun 1974 hingga 1981 dan memiliki fungsi strategis sebagai pengendali banjir, penyedia air, pembangkit listrik, hingga penopang aktivitas perikanan di wilayah sekitarnya. Namun, kondisi waduk sangat dipengaruhi oleh dinamika iklim yang terjadi secara global maupun regional. Melalui pemanfaatan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra Sentinel-1, penelitian ini mengungkap bahwa fenomena iklim seperti Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño Southern Oscillation (ENSO) berperan penting terhadap perubahan luas badan air waduk.
 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena La Niña pada periode 2020–2021 serta IOD negatif tahun 2022 menyebabkan peningkatan curah hujan harian yang kemudian diikuti peningkatan luas badan air Waduk Gajah Mungkur, baik saat musim hujan maupun musim kemarau. Sebaliknya, ketika El Niño dan IOD positif terjadi pada tahun 2023, curah hujan mengalami penurunan sehingga luas badan air waduk ikut menyusut.

Menariknya, penelitian juga menemukan anomali pada tahun 2023. Meskipun kondisi iklim cenderung menurunkan volume air, luas badan air justru mengalami peningkatan pada musim hujan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pengerukan waduk yang dilakukan untuk mengatasi sedimentasi. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan kondisi waduk tidak hanya dipengaruhi faktor iklim, tetapi juga aktivitas manusia. Penelitian mengindikasikan adanya perbedaan kedalaman dan topografi dasar waduk yang tidak merata akibat proses sedimentasi dan pengerukan yang terjadi selama bertahun-tahun.

Menurut hasil penelitian, pemantauan dinamika badan air menggunakan data satelit menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan secara berkelanjutan. Data tersebut dapat menjadi landasan ilmiah dalam perencanaan strategis pengelolaan waduk, termasuk untuk mendukung aktivitas perikanan, konservasi lingkungan, serta pengambilan kebijakan berbasis data.

Penelitian skripsi ini menunjukkan bagaimana teknologi dan ilmu perikanan dapat berjalan beriringan dalam menjawab tantangan pengelolaan sumber daya akuatik di tengah perubahan iklim. Kajian seperti ini juga menjadi bukti bahwa penelitian mahasiswa memiliki potensi besar dalam menghasilkan informasi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat. Penelitian ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pemanfaatan teknologi untuk pemantauan sumber daya perairan menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan perikanan yang adaptif dan berkelanjutan di masa depan.

Dosen Perikanan UGM: Melupakan Laut Berarti Mengabaikan Masa Depan Sosial Indonesia

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Wacana mengenai memudarnya orientasi pembangunan maritim Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah muncul opini berjudul “Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan” yang dimuat media nasional. Tulisan tersebut menyoroti bagaimana laut perlahan kehilangan posisi strategis dalam arah pembangunan Indonesia, padahal laut merupakan fondasi penting bagi identitas dan masa depan bangsa.
RMOL – Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan

Menanggapi isu tersebut, dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, menilai bahwa persoalan terbesar Indonesia hari ini bukan semata-mata eksploitasi laut, melainkan cara pandang pembangunan yang mulai menjauh dari identitas maritim bangsa.

Menurut Dr. Mukti, laut selama ini terlalu sering diposisikan hanya sebagai sumber ekonomi dan ruang produksi. Padahal, laut memiliki dimensi sosial, budaya, ekologis, hingga politik yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama komunitas pesisir dan nelayan kecil.

“Ketika laut hanya dipahami sebagai komoditas ekonomi, maka yang hilang bukan hanya ekosistemnya, tetapi juga ruang hidup masyarakat pesisir, pengetahuan lokal, dan identitas maritim Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan sektor kelautan seharusnya tidak berhenti pada peningkatan produksi atau investasi semata. Menurutnya, kebijakan maritim perlu melihat laut sebagai ruang kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan, budaya lokal, hingga keberlanjutan sosial masyarakat.

Dr. Mukti juga menyoroti bagaimana masyarakat pesisir sering menjadi kelompok yang paling terdampak ketika pembangunan tidak memperhatikan aspek sosial dan ekologis. Perubahan iklim, abrasi, pencemaran laut, hingga penurunan sumber daya ikan secara langsung memengaruhi kehidupan nelayan dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidup dari laut.

Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan paradigma pembangunan maritim yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Ia menilai pendekatan sosial dalam ilmu perikanan menjadi semakin penting untuk memahami bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, tekanan ekonomi, dan transformasi kebijakan di sektor kelautan.

“Laut bukan sekadar ruang geografis. Laut adalah ruang sosial. Di sana ada relasi budaya, ekonomi keluarga, solidaritas masyarakat, bahkan identitas komunitas yang terbentuk selama puluhan tahun,” jelasnya.

Sebagai akademisi yang menaruh perhatian pada kajian sosial perikanan dan masyarakat pesisir, Dr. Mukti Aprian juga menilai bahwa riset-riset sosial di bidang perikanan masih perlu diperkuat. Menurutnya, selama ini kajian kelautan lebih banyak didominasi pendekatan teknis dan produksi, sementara dinamika sosial masyarakat pesisir sering kurang mendapat perhatian.

Ia menekankan bahwa masa depan sektor kelautan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan memahami manusia yang hidup di dalam sistem tersebut.

Selain itu, Dr. Mukti menilai generasi muda perlu mulai membangun kembali kesadaran maritim. Kampus, menurutnya, memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk cara pandang baru terhadap laut, bukan sekadar sebagai sumber daya, tetapi sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan bangsa.

“Kalau laut rusak, dampaknya bukan hanya pada ikan atau ekosistem, tetapi juga pada ketahanan pangan, migrasi masyarakat pesisir, kemiskinan, hingga konflik sosial. Karena itu, menjaga laut sebenarnya adalah menjaga masa depan Indonesia,” tambahnya.

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, Departemen Perikanan UGM terus mendorong pengembangan ilmu perikanan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat pesisir.

Refleksi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-1 (No Poverty). Penguatan pembangunan maritim berbasis keberlanjutan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga ekologi laut sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Podcast Fisheries Talks Bahas Pentingnya Menjaga Ekosistem Laut Sejak Dini

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Kesadaran menjaga laut dan lingkungan pesisir perlu ditanamkan sejak usia dini. Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam episode terbaru Fisheries Talks by Media Perikanan UGM yang menghadirkan dua duta muda maritim Bali, yaitu Ni Putu Devika Wulandari dan Ni Putu Khenzie Dena Defika.

Dipandu oleh host Alya Putri Mezzaluna, podcast ini membahas berbagai isu terkait keberlanjutan ekosistem laut Indonesia serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan bahari.

Dalam perbincangan tersebut, kedua narasumber menyoroti bahwa laut Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar sekaligus menghadapi berbagai ancaman seperti sampah plastik, pencemaran, hingga kerusakan ekosistem pesisir. Kesadaran masyarakat, terutama anak muda, dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga masa depan laut Indonesia.

Podcast ini juga mengangkat bagaimana peran duta maritim tidak hanya sebatas ajang representasi, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap laut dan lingkungan pesisir. Melalui media sosial, kampanye edukasi, hingga kegiatan lingkungan, generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk menyebarkan kesadaran konservasi laut secara lebih luas.

Diskusi berlangsung hangat dan inspiratif dengan berbagai cerita pengalaman narasumber selama terlibat dalam kegiatan edukasi kemaritiman di Bali. Mereka juga berbagi pandangan mengenai pentingnya membangun kebiasaan sederhana seperti mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan pantai, dan lebih mengenal kekayaan laut Indonesia.

Isu keberlanjutan ekosistem laut sendiri menjadi perhatian global mengingat laut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan manusia. Berbagai tantangan seperti pencemaran laut, kerusakan terumbu karang, dan eksploitasi sumber daya laut berlebihan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem bahari.

Melalui podcast ini, Media Perikanan UGM berupaya menghadirkan ruang diskusi yang ringan namun edukatif agar isu kelautan semakin dekat dengan generasi muda. Kehadiran figur muda seperti Duta Maritim Bali diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap laut Indonesia.

Video podcast dapat disaksikan melalui kanal YouTube berikut:
Fisheries Talks – Menjaga Keberlanjutan Ekosistem Laut Indonesia

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Edukasi dan keterlibatan generasi muda menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia untuk masa depan.

Prodi Manajemen Sumberdaya Akuatik Departemen Perikanan Tampil di Media Resmi Universitas, Tunjukkan Peran Strategis Menjaga Ekosistem Perairan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Yogyakarta — Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali mendapat sorotan melalui liputan media resmi universitas yang tayang pada kanal Instagram UGM. Melalui tayangan video singkat tersebut, Prodi MSA diperkenalkan sebagai program studi yang berfokus pada pengelolaan sumber daya perairan dan keberlanjutan ekosistem akuatik di Indonesia.

Liputan ini menampilkan berbagai aktivitas akademik dan praktik lapangan mahasiswa dalam mempelajari pengelolaan lingkungan perairan, konservasi, hingga pemanfaatan sumber daya akuatik secara berkelanjutan. Kehadiran Prodi MSA dalam media resmi universitas menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dunia perikanan dan lingkungan perairan kepada masyarakat luas, khususnya calon mahasiswa.

Sebagai salah satu program studi di Departemen Perikanan UGM, MSA memiliki fokus pembelajaran yang tidak hanya berkaitan dengan ikan dan perairan, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan ekosistem di tengah tantangan perubahan lingkungan, pencemaran, dan eksploitasi sumber daya alam.

Mahasiswa MSA dibekali dengan berbagai kompetensi, mulai dari pengelolaan habitat perairan, konservasi sumber daya akuatik, pengendalian pencemaran, hingga pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan lingkungan perairan. Pembelajaran juga didukung dengan kegiatan praktikum dan observasi lapangan agar mahasiswa memahami kondisi nyata ekosistem perairan di Indonesia.

Dalam tayangan tersebut, suasana pembelajaran yang aktif dan kolaboratif turut menjadi sorotan. Mahasiswa terlihat terlibat dalam berbagai kegiatan akademik yang mendorong kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan pengelolaan sumber daya berbasis keberlanjutan.

Liputan media resmi universitas ini menjadi momentum penting bagi Prodi MSA untuk menunjukkan bahwa bidang perikanan modern tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan lingkungan dan masa depan sumber daya air.

Keberadaan program studi ini juga semakin relevan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap isu perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan keberlanjutan sumber daya alam. Lulusan MSA memiliki peluang berkarier di bidang konservasi, pengelolaan lingkungan, penelitian, pemerintahan, hingga sektor industri berbasis lingkungan.

Video liputan resmi tersebut dapat disaksikan melalui akun Instagram resmi UGM berikut:
Instagram Reels Prodi Manajemen Sumberdaya Akuatik UGM

Kehadiran Prodi MSA dalam media resmi universitas juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan berbasis keberlanjutan menjadi langkah penting dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menjaga masa depan ekosistem perairan Indonesia.

Belajar Menjaga Masa Depan Perairan Indonesia Lewat Mata Kuliah Manajemen Sumberdaya Perairan UGM

Berita Jumat, 8 Mei 2026

Yogyakarta — Perubahan lingkungan, penurunan kualitas air, hingga ancaman terhadap ekosistem perairan menjadi tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadirkan mata kuliah Manajemen Sumberdaya Perairan sebagai ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami pengelolaan ekosistem perairan secara berkelanjutan.

Mata kuliah wajib berbobot 2 SKS ini diampu dosen-dosen kompeten seperti Prof. Djumanto dan Prof. Eko Setyobudi. Perkuliahan dirancang tidak hanya membahas teori pengelolaan sumber daya perairan, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami berbagai persoalan nyata yang terjadi di lapangan.

Mahasiswa akan mempelajari berbagai topik menarik, mulai dari karakter habitat perairan air tawar, payau, dan laut, pengelolaan kualitas air, pengendalian tumbuhan air, restorasi ekosistem, hingga pemanfaatan sumber daya perairan untuk ekowisata dan konservasi.

Yang membuat mata kuliah ini menarik adalah pendekatan pembelajarannya yang berbasis studi kasus (case-based learning). Mahasiswa tidak hanya mendengarkan kuliah di kelas, tetapi juga aktif berdiskusi, menganalisis permasalahan lingkungan perairan, serta mencari solusi pengelolaan yang berkelanjutan.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diajak berpikir layaknya pengelola sumber daya perairan profesional. Mereka belajar bagaimana mengidentifikasi kondisi habitat, memahami hubungan antara kualitas lingkungan dan biota perairan, hingga menyusun alternatif solusi terhadap berbagai persoalan ekosistem perairan.

Selain memperkuat pemahaman ekologis, mahasiswa juga dikenalkan pada pentingnya pendekatan sosial dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam. Pengelolaan perairan modern tidak lagi hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya, tetapi juga pada upaya menjaga keseimbangan ekologi dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Suasana pembelajaran dibuat interaktif melalui diskusi kelompok, presentasi, penugasan proyek, hingga analisis kasus nyata yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan di Indonesia. Pendekatan ini membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu lingkungan, konservasi, dan keberlanjutan sumber daya alam, mata kuliah ini menjadi salah satu gambaran menarik tentang bagaimana dunia perikanan modern tidak hanya berbicara soal ikan, tetapi juga tentang menjaga ekosistem dan masa depan lingkungan perairan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan mengenai pengelolaan sumber daya perairan menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekosistem perairan.

123
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY