• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Arsip:

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

UGM dan DKP Kulon Progo Lakukan Monitoring Kesehatan Ikan hingga Akhir Tahun untuk Antisipasi Wabah Penyakit Budidaya

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Kulon Progo, 11 Juni 2026 — Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo memulai program monitoring kesehatan ikan budidaya yang akan dilaksanakan secara berkala hingga akhir tahun 2026. Program ini bertujuan meningkatkan sistem deteksi dini penyakit ikan sekaligus memperkuat kesiapsiagaan pembudidaya dalam menghadapi ancaman penyakit yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi.

Kegiatan monitoring dipimpin oleh Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen bidang Mikrobiologi Akuakultur Departemen Perikanan UGM. Fokus utama pemantauan saat ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan kerentanan ikan budidaya, khususnya ikan lele dan gurame, terhadap serangan penyakit bakterial seperti aeromoniasis yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila.

Dalam pelaksanaannya, Dr. Indah didampingi oleh tim dari Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Departemen Perikanan UGM, yaitu Hafidz Nursadewa Alif, S.Gz., serta Faiz Mahasin, S.Pi., M.Sc. sebagai asisten dosen. Tim melakukan pengamatan lapangan, pengambilan sampel, serta evaluasi kondisi lingkungan budidaya untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kesehatan ikan di berbagai lokasi budidaya di Kabupaten Kulon Progo.

Kegiatan ini juga dilaksanakan bersama Kepala Bidang Budidaya Ikan DKP Kabupaten Kulon Progo, Ghufron Said Priyono, S.Pi., beserta tim bidang budidaya yang terdiri dari Ade Saepudin, S.Pi., M.M., Mega Dissa Afpriyaningrum, S.Pi., dan Sagiyo. Kolaborasi tersebut memungkinkan proses monitoring berjalan lebih efektif karena menggabungkan keahlian akademik dengan pengalaman teknis lapangan.

Menurut Dr. Indah, pendekatan monitoring jangka panjang sangat penting karena penyakit ikan sering kali dipengaruhi oleh kombinasi faktor lingkungan, manajemen budidaya, dan kondisi biologis ikan. Dengan pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan, potensi permasalahan dapat diidentifikasi lebih awal sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi wabah yang lebih luas.

Selain menghasilkan data kesehatan ikan, program ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis bagi pembudidaya dan pemerintah daerah dalam meningkatkan sistem manajemen kesehatan ikan yang lebih adaptif dan berbasis sains.

Program monitoring kesehatan ikan ini menjadi contoh nyata sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan akuakultur berkelanjutan. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan produktivitas budidaya ikan di Kulon Progo dapat terus meningkat dengan tetap menjaga kesehatan ikan dan kualitas lingkungan budidaya.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan produksi pangan perikanan, SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pengendalian penyakit ikan, SDG 14 (Life Below Water) melalui praktik budidaya yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara akademisi dan pemerintah dalam pengelolaan kesehatan ikan budidaya.

Dr. Indah Istiqomah UGM Berikan Pelatihan Penyediaan Obat Ikan Legal untuk Pembudidaya di Kulon Progo

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Kulon Progo, 11 Juni 2026 — Upaya meningkatkan kesehatan ikan dan keberlanjutan usaha budidaya terus dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Penyediaan Obat Ikan Legal yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo dalam rangka subkegiatan Pengelolaan Kesehatan Ikan dan Lingkungan Budidaya dalam Satu Daerah Kabupaten/Kota. Kegiatan ini menghadirkan Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen bidang Mikrobiologi Akuakultur Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Dr. Indah menjelaskan berbagai aspek penting terkait penyakit ikan budidaya serta strategi pencegahannya. Materi yang disampaikan mencakup penerapan biosekuriti, pengelolaan kualitas lingkungan budidaya, penggunaan obat ikan yang legal dan bertanggung jawab, serta pentingnya deteksi dini penyakit untuk meminimalkan risiko kerugian pada usaha budidaya.

Menurut Dr. Indah, pendekatan preventif merupakan langkah yang paling efektif dalam menjaga kesehatan ikan budidaya. Pembudidaya perlu memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh kualitas benih dan pakan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga lingkungan budidaya agar tetap stabil dan sehat.

Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai instansi, antara lain Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran berbagai pihak tersebut memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai keamanan penggunaan obat ikan, kesehatan lingkungan, dan keberlanjutan sistem budidaya.

Kepala Bidang Budidaya Ikan DKP Kabupaten Kulon Progo menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM dalam mendukung peningkatan kapasitas pembudidaya. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dinilai penting untuk memperkuat transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat perikanan.

Kegiatan ini menunjukkan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan akuakultur yang sehat, produktif, dan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia sektor perikanan.

Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kesehatan ikan, ketahanan pangan, dan kolaborasi multipihak dalam pembangunan perikanan budidaya.

Mahasiswa Akuakultur UGM Temukan Bakteriofag dari Tambak Kulon Progo, Berpotensi Jadi Senjata Alami Lawan Penyakit Udang Vaname

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Di tengah meningkatnya tantangan penyakit bakterial pada budidaya udang vaname, inovasi pengendalian penyakit yang ramah lingkungan menjadi semakin dibutuhkan. Kabar menggembirakan datang dari mahasiswa Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Lu’lu’ Putri El Maslifah, mahasiswa angkatan 2022, berhasil mengisolasi bakteriofag dari lingkungan tambak udang di Kabupaten Kulon Progo yang berpotensi dimanfaatkan sebagai agen pengendali alami penyakit bakterial pada budidaya udang vaname.

Penelitian yang dilakukan Lu’lu’ berangkat dari persoalan nyata di sektor akuakultur, yaitu tingginya ancaman penyakit vibriosis yang disebabkan bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan kerugian besar dalam industri budidaya udang karena memengaruhi kesehatan, pertumbuhan, hingga tingkat kelangsungan hidup udang.

Penelitian tersebut berhasil mengisolasi dan mengarakterisasi bakteri patogen serta bakteriofag dari lingkungan tambak budidaya udang vaname (Penaeus vannamei), termasuk identifikasi Vibrio parahaemolyticus yang membawa gen terkait patogenisitas penyakit udang. Selain itu, berhasil ditemukan bakteriofag litik yang mampu menginfeksi dan menghancurkan bakteri target, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen biokontrol alami untuk mendukung pengendalian penyakit pada budidaya udang.

Penelitian ini dibimbing oleh Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen Departemen Perikanan UGM yang aktif mengembangkan penelitian pada bidang kesehatan ikan dan akuakultur. Di bawah pendampingannya, mahasiswa didorong untuk mengembangkan pendekatan inovatif dalam menghadapi tantangan penyakit akuatik melalui solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Pemanfaatan bakteriofag saat ini semakin banyak mendapat perhatian karena dinilai sebagai alternatif pengendalian penyakit yang lebih spesifik dan berkelanjutan dibanding penggunaan antibiotik secara berlebihan. Pendekatan ini dinilai berpotensi mengurangi risiko resistensi antimikroba serta mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Bagi Lu’lu’, penelitian tersebut bukan hanya menjadi pengalaman akademik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana penelitian mahasiswa dapat berkontribusi terhadap persoalan nyata di sektor perikanan nasional. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan tambak lokal tidak hanya menjadi tempat produksi budidaya, tetapi juga menyimpan potensi sumber daya biologis yang dapat dikembangkan menjadi inovasi masa depan bagi kesehatan udang Indonesia. Penelitian ini mendukung agenda Sustainable Development Goals terutama SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan inovasi pengendalian penyakit yang lebih berkelanjutan di sektor akuakultur.

Bahaya penggunaan formalin dalam produk Pangan Olahan Hasil Perikanan

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Sleman, 19 Mei 2026 – Ir. Mgs. Muhammad Prima Putra, S.Pi., M.Sc., Ph.D., IPM., memberikan penyuluhan terkait keamanan pangan olahan hasil perikanan selama distribusi, dengan fokus pada bahaya penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak tepat, khususnya formalin pada produk perikanan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DIY bekerja sama dengan PSDKP Cilacap, dan diikuti oleh pedagang serta pengolah hasil perikanan di Sleman. Acara berlangsung di Ruang Pertemuan Pasar Gentan, Sleman, Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Muhammad Prima Putra memberikan pemahaman terkait cara penanganan ikan yang baik, terutama melalui penggunaan es dan sistem rantai dingin (cold chain) untuk menjaga kualitas ikan segar tetap optimal. Beliau juga menjelaskan secara rinci risiko kesehatan akibat penggunaan BTP yang tidak sesuai, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

Formalin, jika dikonsumsi, dapat menimbulkan berbagai bahaya bagi kesehatan tubuh, antara lain iritasi pada saluran pencernaan, mual, muntah, gangguan fungsi hati dan ginjal, hingga risiko kanker jangka panjang. Paparan formalin yang berulang atau dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan serius dan bahkan kematian, sehingga sangat penting untuk menghindari penggunaan zat ini dalam produk perikanan.

Narasumber dari PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) kemudian menambahkan bahasan terkait peraturan-peraturan terkait keamanan pangan dan larangan penggunaan BTP berbahaya pada produk perikanan. PSDKP mengharapkan kerja sama aktif dari pedagang untuk dapat mendeteksi produsen yang masih menggunakan formalin, sehingga ke depan diharapkan peredaran produk perikanan berformalin dapat ditekan sampai habis.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pedagang dan pengolah ikan akan pentingnya keamanan pangan, sehingga konsumen menerima produk perikanan yang segar, sehat, dan aman dikonsumsi. Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya  SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Edukasi mengenai keamanan pangan, penanganan hasil perikanan yang baik, serta pencegahan penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya menjadi langkah penting dalam menjamin masyarakat memperoleh pangan yang aman dan sehat. Selain itu, penguatan kesadaran pelaku usaha perikanan juga mendukung sistem distribusi dan konsumsi produk perikanan yang lebih bertanggung jawab, berkualitas, dan berkelanjutan.

Belajar di Tengah Ombak: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Pentingnya Keselamatan Kerja Awak Kapal Perikanan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Bagi Azzahra Qanita Rafifah, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Program Magang Berdampak menjadi kesempatan untuk melihat langsung dinamika kehidupan di atas kapal perikanan sekaligus memahami pentingnya aspek keselamatan kerja bagi awak kapal.

Selama menjalani kegiatan magang, Azzahra melakukan pengamatan dan pembelajaran mengenai keselamatan kerja pada kapal perikanan jala jatuh berkapal (cast net). Pengalaman lapangan tersebut membawanya pada satu kesimpulan penting: aktivitas penangkapan ikan bukan hanya soal hasil tangkapan, tetapi juga menyangkut keselamatan para pekerja di laut.

Menurut Azzahra, kehidupan di atas kapal menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan pekerjaan pada umumnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu, gelombang tinggi, serta aktivitas kerja yang berlangsung di ruang terbatas menciptakan risiko yang harus dihadapi setiap awak kapal.

“Magang membuat saya memahami bahwa nelayan dan awak kapal bekerja dalam situasi yang penuh tantangan. Ada risiko yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat, tetapi sangat nyata dirasakan di lapangan,” ungkap Azzahra.

Dari hasil wawancara selama kegiatan magang, ditemukan bahwa cuaca ekstrem dan human error menjadi faktor utama yang memengaruhi kecelakaan kerja di kapal perikanan. Ombak tinggi dan kondisi cuaca buruk disebut sebagai tantangan terbesar selama proses penangkapan ikan berlangsung.

Selain faktor alam, berbagai kecelakaan kerja juga pernah dialami awak kapal, mulai dari terkena garda, terjepit tali tambang, hingga kerusakan mesin kapal ketika beroperasi di laut.

Menariknya, Azzahra juga menemukan bahwa meskipun sebagian besar awak kapal telah mengikuti pelatihan keselamatan, penerapan penggunaan alat pelindung diri masih belum sepenuhnya optimal. Beberapa awak kapal menganggap penggunaan life jacket dapat menghambat mobilitas dan aktivitas kerja saat proses penangkapan berlangsung.

Namun dari sisi fasilitas, kapal-kapal yang diamati telah menunjukkan kesiapan alat komunikasi keselamatan. Ketersediaan radio VHF dan radio MF pada kapal perikanan yang diamati telah memenuhi kriteria sesuai ketentuan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian mencapai 100 persen.

Pengalaman tersebut membuka pandangan Azzahra bahwa keselamatan kerja perlu dipandang sebagai bagian penting dalam sistem perikanan berkelanjutan. Menurutnya, teknologi dan perlengkapan keselamatan harus diiringi dengan budaya disiplin dan kesadaran bersama.

“Keselamatan bukan sekadar aturan, tetapi kebiasaan yang perlu dibangun. Karena keberhasilan melaut tidak hanya soal kembali membawa hasil tangkapan, tetapi juga pulang dengan selamat,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami berbagai aspek sosial, keselamatan, dan tantangan nyata yang dihadapi sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Life Below Water). Penguatan budaya keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menciptakan sektor perikanan yang produktif, aman, dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Berbagi Keahlian Vaksinasi Ikan, Dorong Penguatan Kesehatan Ikan Air Tawar di Sleman

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Sleman — Upaya meningkatkan kesehatan ikan budidaya dan memperkuat kapasitas pelaku sektor perikanan terus dilakukan melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan di lapangan. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, menjadi narasumber dalam Pelatihan Vaksinasi Pada Ikan Air Tawar yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman pada 23 April 2026.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua jam pelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor budidaya perikanan, khususnya dalam pengendalian penyakit dan peningkatan kesehatan ikan air tawar. Dalam pemaparannya, Dr. Laila menekankan bahwa kesehatan ikan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya. Meningkatnya intensitas budidaya sering kali diikuti dengan meningkatnya risiko munculnya penyakit yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya.

Menurutnya, vaksinasi merupakan salah satu pendekatan preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan ikan terhadap penyakit tertentu. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang karena membantu menekan potensi serangan penyakit sebelum wabah terjadi.

“Pencegahan selalu lebih baik dibandingkan penanganan ketika penyakit sudah menyebar. Dalam budidaya modern, kesehatan ikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang,” jelasnya dalam sesi pelatihan.

Selain menjelaskan konsep dasar vaksinasi, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai prinsip penerapan vaksin pada ikan air tawar, strategi pengendalian penyakit, serta pentingnya menjaga kualitas lingkungan budidaya sebagai bagian dari sistem kesehatan ikan secara menyeluruh. Dr. Laila juga menyoroti bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya bergantung pada metode pemberian vaksin, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain seperti kondisi ikan, kualitas air, manajemen pemeliharaan, hingga ketepatan waktu pemberian perlakuan.

Pelatihan ini menjadi ruang diskusi yang interaktif antara narasumber dan peserta. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan penyakit pada budidaya ikan, hingga praktik pengelolaan kesehatan ikan menjadi topik yang banyak dibahas selama kegiatan berlangsung. Keterlibatan dosen Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan sektor perikanan melalui pendidikan dan transfer pengetahuan kepada masyarakat serta pemangku kepentingan di lapangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan kesehatan ikan dan peningkatan kapasitas pembudidaya menjadi bagian penting dalam mendukung sistem perikanan yang produktif dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Perkuat Kompetensi Petugas Karantina Yogyakarta dalam Deteksi Penyakit Ikan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya memperkuat sistem pengawasan kesehatan ikan terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang karantina perikanan. Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan In House Training (IHT) Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Penyakit Ikan pada Kamis, 30 April 2026.

Kegiatan ini menghadirkan dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, sebagai narasumber utama dalam pelatihan teknik pengambilan dan penanganan sampel penyakit ikan.

Pelatihan dibuka langsung oleh Kepala Karantina Yogyakarta, Obing Hobir As’ari, yang menekankan pentingnya peningkatan kompetensi petugas di tengah semakin dinamisnya lalu lintas media pembawa penyakit ikan. Kemampuan melakukan pengambilan sampel secara tepat dinilai menjadi fondasi utama dalam menghasilkan pengujian laboratorium yang akurat dan dapat dipercaya.

Dalam sesi materi, Dr. Laila membahas berbagai teknik sampling untuk pemeriksaan penyakit ikan, mulai dari metode pengambilan sampel representatif, prosedur penanganan sampel, hingga cara menjaga kualitas sampel agar tetap layak diuji di laboratorium kesehatan ikan.

Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik langsung pengambilan dan preparasi sampel untuk pengujian penyakit yang disebabkan oleh parasit, bakteri, dan virus. Simulasi laboratorium dilakukan secara interaktif dengan pendampingan langsung dari narasumber dan tim teknis.

Peserta pelatihan terlihat aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan di lapangan, termasuk risiko kontaminasi sampel, teknik preparasi organ target, hingga prosedur pengiriman sampel yang sesuai standar laboratorium kesehatan ikan.

Keterlibatan dosen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen akademisi dalam mendukung penguatan sistem biosekuriti dan pengawasan kesehatan ikan di Indonesia. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga karantina dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pengawasan penyakit ikan yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan pelatihan ini, Karantina Yogyakarta berharap kompetensi petugas semakin meningkat sehingga mampu mendukung sistem pengawasan kesehatan ikan yang profesional, responsif, dan berbasis standar ilmiah.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan sistem kesehatan ikan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan, keberlanjutan perikanan, dan keamanan sumber daya hayati perairan Indonesia.

 

Sumber Foto: Karantina DIY

Dosen Departemen Perikanan UGM Berikan Pelatihan Keamanan Pangan Hasil Perikanan di PPP Gesing

Berita Senin, 11 Mei 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali berkontribusi dalam peningkatan kapasitas masyarakat pesisir melalui kegiatan pelatihan keamanan pangan hasil perikanan yang dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Gesing, Gunungkidul, pada 7 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ir. Mgs. Muhammad Prima Putra, S.Pi., M.Sc., Ph.D. sebagai narasumber utama yang memberikan materi terkait pentingnya menjaga mutu dan keamanan hasil perikanan sejak proses penangkapan hingga distribusi.

Dalam pemaparannya, Dr. Prima menekankan bahwa mutu ikan sangat ditentukan oleh cara penanganan sejak awal. Ia menjelaskan pentingnya penerapan metode penangkapan ikan yang benar agar kualitas ikan tetap terjaga dan tidak mengalami kerusakan fisik maupun penurunan mutu. Selain itu, penanganan ikan di atas kapal juga menjadi perhatian utama, termasuk kebersihan wadah, sanitasi alat, serta penanganan yang cepat dan tepat setelah ikan ditangkap.

Tidak hanya itu, penggunaan rantai dingin (cold chain) dari atas kapal hingga proses pelelangan ikan turut menjadi poin penting yang disampaikan dalam pelatihan tersebut. Menurutnya, penerapan suhu dingin secara konsisten mampu memperlambat kerusakan ikan dan menjaga kesegaran bahan baku sehingga aman untuk dikonsumsi masyarakat. “Mutu ikan tidak dapat ditingkatkan, tetapi hanya bisa dipertahankan. Oleh karena itu, penanganan yang baik menjadi kunci utama,” tegasnya kepada peserta.

Dr. Prima juga mengingatkan peserta terkait potensi bahaya pangan yang khas pada produk perikanan, seperti keberadaan alergen dan toksin tertentu yang dapat membahayakan kesehatan apabila tidak ditangani dengan baik. Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan semakin waspada dan memiliki kepedulian untuk menjaga kualitas bahan baku ikan agar tetap aman dan bermutu tinggi.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Komisi D DPRD Kabupaten Gunungkidul. Pelatihan dihadiri oleh nelayan serta istri nelayan di kawasan PPP Gesing yang antusias mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab selama kegiatan berlangsung.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat pesisir terhadap keamanan pangan hasil perikanan semakin meningkat sehingga mampu mendukung penyediaan produk perikanan yang aman, bermutu, dan berdaya saing. Kegiatan pelatihan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Peningkatan kapasitas masyarakat pesisir dalam menjaga mutu dan keamanan pangan hasil perikanan menjadi langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Jumat Sehat Perikanan UGM: Bangun Semangat Kerja Lewat Olahraga Pagi Bersama

Berita Jumat, 8 Mei 2026

Yogyakarta — Suasana hangat dan penuh semangat terlihat di lingkungan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada setiap Jumat pagi. Melalui kegiatan olahraga bersama, dosen dan tenaga kependidikan diajak menjaga kesehatan sekaligus mempererat kebersamaan di lingkungan kerja.

Kegiatan olahraga pagi ini menjadi bagian dari upaya Departemen Perikanan UGM dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan bahagia. Berbagai aktivitas ringan seperti senam bersama, jalan santai, hingga olahraga rekreasional dilakukan secara rutin dengan suasana santai namun penuh antusiasme.

Tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik, kegiatan ini juga menjadi ruang interaksi informal antar dosen dan karyawan di tengah aktivitas akademik yang padat. Momen olahraga bersama dinilai mampu membangun komunikasi yang lebih cair dan memperkuat rasa kekeluargaan di lingkungan departemen.

Bagi Departemen Perikanan UGM, kesehatan sumber daya manusia merupakan bagian penting dalam mendukung kualitas pendidikan, penelitian, dan pelayanan akademik. Lingkungan kerja yang sehat diyakini dapat meningkatkan semangat kerja, kreativitas, serta produktivitas sivitas akademika.

Kegiatan Jumat sehat ini juga mencerminkan komitmen departemen dalam membangun budaya kerja yang seimbang antara profesionalisme dan kesejahteraan individu. Di tengah tuntutan akademik dan administrasi yang tinggi, menjaga kesehatan mental dan fisik menjadi hal yang semakin penting.

Selain menjadi rutinitas olahraga, kegiatan ini sering kali diwarnai dengan suasana kebersamaan dan canda ringan antarpegawai yang membuat atmosfer kerja menjadi lebih positif dan harmonis.

Melalui kegiatan sederhana namun bermakna ini, Departemen Perikanan UGM terus mendorong terciptanya budaya kerja sehat dan kolaboratif di lingkungan kampus.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) dan SDG 4 Pendidikan Berkualitas. Lingkungan kerja yang sehat dan mendukung kesejahteraan menjadi bagian penting dalam menciptakan institusi pendidikan yang produktif dan berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Turut Ambil Bagian dalam Kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” di Bantul

Berita Kamis, 7 Mei 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada turut berpartisipasi dalam kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis, 7 Mei 2026 di kawasan Rawa Kalibayem.

Dalam kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM diwakili oleh Prof. Alim Isnansetyo dan Dr. Riza Y. Setiawan. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari dukungan akademisi terhadap upaya pengendalian spesies ikan invasif di perairan umum.

Kegiatan “Grebeg Ikan Sapu-Sapu” merupakan aksi kolaboratif yang melibatkan berbagai instansi, akademisi, serta masyarakat lokal untuk mengurangi populasi ikan sapu-sapu di kawasan rawa. Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan, termasuk merusak habitat alami dan berkompetisi dengan ikan lokal.

Acara diawali dengan apel persiapan dan sambutan dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY sebelum peserta bersama-sama melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di area rawa. Selain menjadi kegiatan pengendalian ekologi, agenda ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perairan darat.

Partisipasi Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan berbasis kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Pendekatan semacam ini dinilai penting untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Melalui keterlibatan langsung di lapangan, sivitas akademika juga dapat memperkuat peran pengabdian kepada masyarakat sekaligus menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik pengelolaan lingkungan yang nyata.

Kegiatan ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water),  SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dan SDG 15 (Life on Land). Pengendalian spesies invasif menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan dan keberlanjutan keanekaragaman hayati lokal.

123…8
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY