• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Arsip:

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Dosen Departemen Perikanan UGM Ikuti Medical Check-Up, Wujud Komitmen Menjaga Kesehatan dan Kesejahteraan Sivitas Akademika

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti program Medical Check-Up (MCU) yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada melalui Gadjah Mada Medical Center (GMC) bekerja sama dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UGM dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan dosen sebagai aset utama dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Medical check-up dilaksanakan pada 25, 26, 29, dan 30 Juni 2026 di GMC UGM dengan jadwal khusus bagi dosen UGM. Program ini memberikan kesempatan kepada para dosen untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai langkah deteksi dini terhadap berbagai faktor risiko penyakit sekaligus mendukung terciptanya gaya hidup sehat di lingkungan kampus.

Bagi dosen Departemen Perikanan UGM, kesehatan merupakan fondasi penting dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi. Aktivitas mengajar, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat membutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima agar kualitas layanan akademik tetap terjaga. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala menjadi salah satu bentuk investasi jangka panjang dalam menjaga produktivitas dan profesionalisme tenaga pendidik.

Selain kesehatan fisik, kegiatan ini juga mencerminkan perhatian institusi terhadap kesejahteraan dan kesehatan mental dosen. Di tengah dinamika dunia pendidikan tinggi yang semakin kompleks—mulai dari tuntutan publikasi ilmiah, pengembangan inovasi, hingga tanggung jawab akademik lainnya—keseimbangan antara pekerjaan dan kesehatan menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi bagian dari budaya preventif untuk memastikan dosen tetap berada dalam kondisi optimal dalam menjalankan perannya sebagai pendidik, peneliti, dan pengabdi masyarakat.

Program Medical Check-Up juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya deteksi dini dan pencegahan penyakit. Melalui hasil pemeriksaan yang komprehensif, dosen memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatannya sehingga dapat mengambil langkah-langkah preventif maupun perubahan gaya hidup apabila diperlukan.

Departemen Perikanan UGM mengapresiasi inisiatif Universitas Gadjah Mada melalui GMC dan RSA UGM dalam menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses bagi dosen. Program ini menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas akademik, tetapi juga pada upaya menjaga kualitas hidup dan kesejahteraan tenaga pendidik secara menyeluruh.

Dengan dosen yang sehat, produktif, dan sejahtera, Departemen Perikanan UGM optimistis dapat terus memberikan layanan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas, sekaligus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan akses terhadap layanan kesehatan preventif dan promosi hidup sehat, SDG 4 (Quality Education) dengan mendukung terciptanya lingkungan akademik yang produktif melalui tenaga pendidik yang sehat, serta SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat, dan mendukung kesejahteraan sumber daya manusia di perguruan tinggi.

Dosen Departemen Perikanan UGM Ikuti Rekreasi Fakultas Pertanian 2026, Perkuat Kebersamaan dan Pentingnya Kesehatan Mental

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) turut berpartisipasi dalam Kegiatan Rekreasi Dosen Fakultas Pertanian Tahun 2026 yang diselenggarakan pada 26–27 Juni 2026 di Salatiga, Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan antardosen sekaligus memberikan ruang untuk menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah tingginya tuntutan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Rekreasi diikuti oleh dosen dari berbagai departemen di lingkungan Fakultas Pertanian UGM. Dari Departemen Perikanan, sejumlah dosen turut ambil bagian dalam kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap terciptanya lingkungan kerja yang sehat, harmonis, dan kolaboratif. Selama dua hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan rekreasi, diskusi informal, dan aktivitas kebersamaan di beberapa destinasi di Salatiga. Agenda meliputi kunjungan ke Fertindo Farm, kegiatan kebersamaan pada malam hari di Laras Asri Resort, serta kunjungan ke Mesastilas Resort and Coffee Plantation sebelum kembali ke Yogyakarta.

Di tengah kesibukan dosen dalam menjalankan tridarma—mulai dari mengajar, melakukan penelitian, membimbing mahasiswa, hingga melaksanakan pengabdian kepada masyarakat—kegiatan seperti ini memiliki makna yang lebih dari sekadar rekreasi. Kesempatan untuk berinteraksi di luar lingkungan kerja formal mampu memperkuat komunikasi, membangun keakraban, serta membuka ruang lahirnya ide-ide kolaboratif lintas bidang ilmu.

Dalam dunia akademik modern, kesehatan mental menjadi salah satu aspek penting yang semakin mendapat perhatian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance) berkontribusi terhadap meningkatnya kreativitas, produktivitas, kualitas pengambilan keputusan, hingga kepuasan kerja. Bagi dosen, menjaga kesehatan mental juga berdampak pada kualitas proses pembelajaran, penelitian, serta pendampingan mahasiswa.

Melalui suasana yang lebih santai dan penuh kekeluargaan, para dosen memiliki kesempatan untuk melepas penat dari rutinitas akademik, mempererat hubungan antarsejawat, sekaligus membangun semangat baru dalam menjalankan berbagai aktivitas di kampus. Interaksi informal semacam ini juga menjadi modal penting dalam memperkuat budaya organisasi yang saling mendukung dan kolaboratif.

Bagi Departemen Perikanan UGM, kualitas sumber daya manusia tidak hanya diukur dari capaian akademik, publikasi ilmiah, maupun prestasi penelitian, tetapi juga dari terciptanya lingkungan kerja yang sehat, inklusif, dan mendukung kesejahteraan seluruh sivitas akademika. Rekreasi dosen menjadi salah satu bentuk investasi institusi dalam membangun kebersamaan yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap kualitas pendidikan, penelitian, dan pelayanan kepada masyarakat.

Departemen Perikanan UGM mengapresiasi penyelenggaraan Rekreasi Dosen Fakultas Pertanian 2026 sebagai wadah untuk memperkuat solidaritas, menjaga kesehatan mental, serta membangun semangat kolaborasi di antara para dosen. Dengan semangat kebersamaan yang terus terpelihara, diharapkan sivitas akademika mampu menghadapi berbagai tantangan pendidikan tinggi dan menghasilkan inovasi yang semakin bermanfaat bagi pembangunan sektor pertanian dan perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya menjaga kesehatan fisik dan mental tenaga pendidik, SDG 4 (Quality Education) dengan mendukung terciptanya lingkungan akademik yang produktif dan berkualitas, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan jejaring, kolaborasi, dan kebersamaan antar sivitas akademika Fakultas Pertanian UGM.

Fokus pada Keamanan Pangan, Prodi THP UGM Hadirkan Pakar Dunia dalam Kuliah Tamu Mikrobiologi Hasil Perikanan

Berita Senin, 22 Juni 2026

Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat jejaring akademik globalnya dengan menyelenggarakan rangkaian Guest Lecture (Kuliah Tamu) internasional. Kali ini, materi kuliah tamu diintegrasikan ke dalam mata kuliah Mikrobiologi Hasil Perikanan (PIT20241201) guna memberikan pemahaman mendalam bagi mahasiswa mengenai penanganan kontaminasi bakteri pada produk pangan asal laut.

Rangkaian kuliah tamu seri ke-3 dan ke-5 ini menghadirkan para ahli mikrobiologi dari dua universitas terkemuka dunia, yaitu Shanghai Jiao Tong University (Cina) dan University of Copenhagen (Denmark). Acara ini diselenggarakan secara bauran (hybrid) melalui platform daring Zoom Meeting dan ruang kelas fisik di Gedung Perikanan UGM.

Seri #3: Mengantisipasi Patogen Pangan bersama Prof. Dr. Chunlei Shi (Shanghai Jiao Tong University)
Seri ke-3 telah sukses dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026. Kuliah tamu ini menghadirkan Prof. Dr. Chunlei Shi, seorang profesor dari Department of Food Science and Engineering, Shanghai Jiao Tong University.

Membawakan materi bertajuk “Foodborne Pathogens in Fisheries Products”, Prof. Shi memaparkan bahaya bakteri patogen yang sering mengontaminasi komoditas perikanan dan potensi dampaknya terhadap kesehatan konsumen melalui keracunan makanan. Ia menekankan pentingnya sistem deteksi dini serta penerapan rantai dingin (cold chain) yang ketat guna menekan pertumbuhan patogen berbahaya di sepanjang rantai pasok produk perikanan. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Kuliah 302, Lantai 3 Gedung A4 Perikanan UGM dan dimulai pada pagi hari pukul 07.30 WIB.

Seri #5: Strategi Pengendalian Bakteri Pembusuk bersama Dr. Linyun Chen (University of Copenhagen)
Berlanjut pada seri ke-5, kuliah tamu dilaksanakan pada Senin, 1 Juni 2026. Narasumber yang dihadirkan adalah Dr. Linyun Chen dari Department of Food Science, University of Copenhagen, Denmark.

Dr. Linyun Chen menyampaikan topik menarik berjudul “Smelly Invaders: Characteristics and Control of Spoilage Bacteria in Seafood Products”. Dalam presentasinya, ia mengupas karakteristik bakteri spesifik pembusuk pangan (spoilage bacteria) yang sering menjadi penyebab utama timbulnya bau tidak sedap serta kerusakan fisik pada produk seafood. Tidak hanya menjelaskan karakteristiknya, Dr. Chen juga membagikan berbagai strategi kontrol terkini untuk menghambat aktivitas mikroorganisme pembusuk tersebut demi memperpanjang masa simpan (shelf-life) produk. Kuliah tamu ini disiarkan secara daring langsung dari Denmark pada pukul 15.30 – 16.30 WIB.

Hal ini juga menjadi perwujudan nyata komitmen program studi dalam mencetak lulusan yang siap berdaya saing global di industri perikanan dan pengelolaan pangan terpadu. Kegiatan Guest Lecture internasional ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui penyediaan akses pembelajaran berbasis ilmu pengetahuan mutakhir dan jejaring akademik internasional bagi mahasiswa. Materi mengenai deteksi patogen pangan, pengendalian bakteri pembusuk, serta penerapan sistem keamanan pangan juga berkontribusi terhadap SDG 3: Good Health and Well-being dengan mendukung upaya pencegahan penyakit bawaan pangan (foodborne diseases) dan peningkatan keamanan konsumsi produk perikanan. Selain itu, pembahasan strategi pengendalian kerusakan produk dan perpanjangan masa simpan hasil perikanan sejalan dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui pengurangan kehilangan pangan (food loss) serta peningkatan efisiensi pemanfaatan sumber daya perikanan. Kolaborasi antara UGM, Shanghai Jiao Tong University, dan University of Copenhagen juga mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals dalam memperkuat kerja sama internasional di bidang pendidikan, riset, dan inovasi untuk mendukung sistem pangan yang lebih aman dan berkelanjutan.

UGM dan DKP Kulon Progo Lakukan Monitoring Kesehatan Ikan hingga Akhir Tahun untuk Antisipasi Wabah Penyakit Budidaya

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Kulon Progo, 11 Juni 2026 — Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo memulai program monitoring kesehatan ikan budidaya yang akan dilaksanakan secara berkala hingga akhir tahun 2026. Program ini bertujuan meningkatkan sistem deteksi dini penyakit ikan sekaligus memperkuat kesiapsiagaan pembudidaya dalam menghadapi ancaman penyakit yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi.

Kegiatan monitoring dipimpin oleh Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen bidang Mikrobiologi Akuakultur Departemen Perikanan UGM. Fokus utama pemantauan saat ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan kerentanan ikan budidaya, khususnya ikan lele dan gurame, terhadap serangan penyakit bakterial seperti aeromoniasis yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila.

Dalam pelaksanaannya, Dr. Indah didampingi oleh tim dari Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Departemen Perikanan UGM, yaitu Hafidz Nursadewa Alif, S.Gz., serta Faiz Mahasin, S.Pi., M.Sc. sebagai asisten dosen. Tim melakukan pengamatan lapangan, pengambilan sampel, serta evaluasi kondisi lingkungan budidaya untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kesehatan ikan di berbagai lokasi budidaya di Kabupaten Kulon Progo.

Kegiatan ini juga dilaksanakan bersama Kepala Bidang Budidaya Ikan DKP Kabupaten Kulon Progo, Ghufron Said Priyono, S.Pi., beserta tim bidang budidaya yang terdiri dari Ade Saepudin, S.Pi., M.M., Mega Dissa Afpriyaningrum, S.Pi., dan Sagiyo. Kolaborasi tersebut memungkinkan proses monitoring berjalan lebih efektif karena menggabungkan keahlian akademik dengan pengalaman teknis lapangan.

Menurut Dr. Indah, pendekatan monitoring jangka panjang sangat penting karena penyakit ikan sering kali dipengaruhi oleh kombinasi faktor lingkungan, manajemen budidaya, dan kondisi biologis ikan. Dengan pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan, potensi permasalahan dapat diidentifikasi lebih awal sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi wabah yang lebih luas.

Selain menghasilkan data kesehatan ikan, program ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis bagi pembudidaya dan pemerintah daerah dalam meningkatkan sistem manajemen kesehatan ikan yang lebih adaptif dan berbasis sains.

Program monitoring kesehatan ikan ini menjadi contoh nyata sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan akuakultur berkelanjutan. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan produktivitas budidaya ikan di Kulon Progo dapat terus meningkat dengan tetap menjaga kesehatan ikan dan kualitas lingkungan budidaya.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan produksi pangan perikanan, SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pengendalian penyakit ikan, SDG 14 (Life Below Water) melalui praktik budidaya yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara akademisi dan pemerintah dalam pengelolaan kesehatan ikan budidaya.

Dr. Indah Istiqomah UGM Berikan Pelatihan Penyediaan Obat Ikan Legal untuk Pembudidaya di Kulon Progo

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Kulon Progo, 11 Juni 2026 — Upaya meningkatkan kesehatan ikan dan keberlanjutan usaha budidaya terus dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Penyediaan Obat Ikan Legal yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo dalam rangka subkegiatan Pengelolaan Kesehatan Ikan dan Lingkungan Budidaya dalam Satu Daerah Kabupaten/Kota. Kegiatan ini menghadirkan Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen bidang Mikrobiologi Akuakultur Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Dr. Indah menjelaskan berbagai aspek penting terkait penyakit ikan budidaya serta strategi pencegahannya. Materi yang disampaikan mencakup penerapan biosekuriti, pengelolaan kualitas lingkungan budidaya, penggunaan obat ikan yang legal dan bertanggung jawab, serta pentingnya deteksi dini penyakit untuk meminimalkan risiko kerugian pada usaha budidaya.

Menurut Dr. Indah, pendekatan preventif merupakan langkah yang paling efektif dalam menjaga kesehatan ikan budidaya. Pembudidaya perlu memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh kualitas benih dan pakan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga lingkungan budidaya agar tetap stabil dan sehat.

Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai instansi, antara lain Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran berbagai pihak tersebut memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai keamanan penggunaan obat ikan, kesehatan lingkungan, dan keberlanjutan sistem budidaya.

Kepala Bidang Budidaya Ikan DKP Kabupaten Kulon Progo menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM dalam mendukung peningkatan kapasitas pembudidaya. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dinilai penting untuk memperkuat transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat perikanan.

Kegiatan ini menunjukkan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan akuakultur yang sehat, produktif, dan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia sektor perikanan.

Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kesehatan ikan, ketahanan pangan, dan kolaborasi multipihak dalam pembangunan perikanan budidaya.

Mahasiswa Akuakultur UGM Temukan Bakteriofag dari Tambak Kulon Progo, Berpotensi Jadi Senjata Alami Lawan Penyakit Udang Vaname

Berita Selasa, 26 Mei 2026

Yogyakarta — Di tengah meningkatnya tantangan penyakit bakterial pada budidaya udang vaname, inovasi pengendalian penyakit yang ramah lingkungan menjadi semakin dibutuhkan. Kabar menggembirakan datang dari mahasiswa Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Lu’lu’ Putri El Maslifah, mahasiswa angkatan 2022, berhasil mengisolasi bakteriofag dari lingkungan tambak udang di Kabupaten Kulon Progo yang berpotensi dimanfaatkan sebagai agen pengendali alami penyakit bakterial pada budidaya udang vaname.

Penelitian yang dilakukan Lu’lu’ berangkat dari persoalan nyata di sektor akuakultur, yaitu tingginya ancaman penyakit vibriosis yang disebabkan bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan kerugian besar dalam industri budidaya udang karena memengaruhi kesehatan, pertumbuhan, hingga tingkat kelangsungan hidup udang.

Penelitian tersebut berhasil mengisolasi dan mengarakterisasi bakteri patogen serta bakteriofag dari lingkungan tambak budidaya udang vaname (Penaeus vannamei), termasuk identifikasi Vibrio parahaemolyticus yang membawa gen terkait patogenisitas penyakit udang. Selain itu, berhasil ditemukan bakteriofag litik yang mampu menginfeksi dan menghancurkan bakteri target, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen biokontrol alami untuk mendukung pengendalian penyakit pada budidaya udang.

Penelitian ini dibimbing oleh Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dosen Departemen Perikanan UGM yang aktif mengembangkan penelitian pada bidang kesehatan ikan dan akuakultur. Di bawah pendampingannya, mahasiswa didorong untuk mengembangkan pendekatan inovatif dalam menghadapi tantangan penyakit akuatik melalui solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Pemanfaatan bakteriofag saat ini semakin banyak mendapat perhatian karena dinilai sebagai alternatif pengendalian penyakit yang lebih spesifik dan berkelanjutan dibanding penggunaan antibiotik secara berlebihan. Pendekatan ini dinilai berpotensi mengurangi risiko resistensi antimikroba serta mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Bagi Lu’lu’, penelitian tersebut bukan hanya menjadi pengalaman akademik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana penelitian mahasiswa dapat berkontribusi terhadap persoalan nyata di sektor perikanan nasional. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan tambak lokal tidak hanya menjadi tempat produksi budidaya, tetapi juga menyimpan potensi sumber daya biologis yang dapat dikembangkan menjadi inovasi masa depan bagi kesehatan udang Indonesia. Penelitian ini mendukung agenda Sustainable Development Goals terutama SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan inovasi pengendalian penyakit yang lebih berkelanjutan di sektor akuakultur.

Bahaya penggunaan formalin dalam produk Pangan Olahan Hasil Perikanan

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Sleman, 19 Mei 2026 – Ir. Mgs. Muhammad Prima Putra, S.Pi., M.Sc., Ph.D., IPM., memberikan penyuluhan terkait keamanan pangan olahan hasil perikanan selama distribusi, dengan fokus pada bahaya penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak tepat, khususnya formalin pada produk perikanan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DIY bekerja sama dengan PSDKP Cilacap, dan diikuti oleh pedagang serta pengolah hasil perikanan di Sleman. Acara berlangsung di Ruang Pertemuan Pasar Gentan, Sleman, Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Muhammad Prima Putra memberikan pemahaman terkait cara penanganan ikan yang baik, terutama melalui penggunaan es dan sistem rantai dingin (cold chain) untuk menjaga kualitas ikan segar tetap optimal. Beliau juga menjelaskan secara rinci risiko kesehatan akibat penggunaan BTP yang tidak sesuai, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

Formalin, jika dikonsumsi, dapat menimbulkan berbagai bahaya bagi kesehatan tubuh, antara lain iritasi pada saluran pencernaan, mual, muntah, gangguan fungsi hati dan ginjal, hingga risiko kanker jangka panjang. Paparan formalin yang berulang atau dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan serius dan bahkan kematian, sehingga sangat penting untuk menghindari penggunaan zat ini dalam produk perikanan.

Narasumber dari PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) kemudian menambahkan bahasan terkait peraturan-peraturan terkait keamanan pangan dan larangan penggunaan BTP berbahaya pada produk perikanan. PSDKP mengharapkan kerja sama aktif dari pedagang untuk dapat mendeteksi produsen yang masih menggunakan formalin, sehingga ke depan diharapkan peredaran produk perikanan berformalin dapat ditekan sampai habis.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pedagang dan pengolah ikan akan pentingnya keamanan pangan, sehingga konsumen menerima produk perikanan yang segar, sehat, dan aman dikonsumsi. Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya  SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Edukasi mengenai keamanan pangan, penanganan hasil perikanan yang baik, serta pencegahan penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya menjadi langkah penting dalam menjamin masyarakat memperoleh pangan yang aman dan sehat. Selain itu, penguatan kesadaran pelaku usaha perikanan juga mendukung sistem distribusi dan konsumsi produk perikanan yang lebih bertanggung jawab, berkualitas, dan berkelanjutan.

Belajar di Tengah Ombak: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Pentingnya Keselamatan Kerja Awak Kapal Perikanan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Bagi Azzahra Qanita Rafifah, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Program Magang Berdampak menjadi kesempatan untuk melihat langsung dinamika kehidupan di atas kapal perikanan sekaligus memahami pentingnya aspek keselamatan kerja bagi awak kapal.

Selama menjalani kegiatan magang, Azzahra melakukan pengamatan dan pembelajaran mengenai keselamatan kerja pada kapal perikanan jala jatuh berkapal (cast net). Pengalaman lapangan tersebut membawanya pada satu kesimpulan penting: aktivitas penangkapan ikan bukan hanya soal hasil tangkapan, tetapi juga menyangkut keselamatan para pekerja di laut.

Menurut Azzahra, kehidupan di atas kapal menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan pekerjaan pada umumnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu, gelombang tinggi, serta aktivitas kerja yang berlangsung di ruang terbatas menciptakan risiko yang harus dihadapi setiap awak kapal.

“Magang membuat saya memahami bahwa nelayan dan awak kapal bekerja dalam situasi yang penuh tantangan. Ada risiko yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat, tetapi sangat nyata dirasakan di lapangan,” ungkap Azzahra.

Dari hasil wawancara selama kegiatan magang, ditemukan bahwa cuaca ekstrem dan human error menjadi faktor utama yang memengaruhi kecelakaan kerja di kapal perikanan. Ombak tinggi dan kondisi cuaca buruk disebut sebagai tantangan terbesar selama proses penangkapan ikan berlangsung.

Selain faktor alam, berbagai kecelakaan kerja juga pernah dialami awak kapal, mulai dari terkena garda, terjepit tali tambang, hingga kerusakan mesin kapal ketika beroperasi di laut.

Menariknya, Azzahra juga menemukan bahwa meskipun sebagian besar awak kapal telah mengikuti pelatihan keselamatan, penerapan penggunaan alat pelindung diri masih belum sepenuhnya optimal. Beberapa awak kapal menganggap penggunaan life jacket dapat menghambat mobilitas dan aktivitas kerja saat proses penangkapan berlangsung.

Namun dari sisi fasilitas, kapal-kapal yang diamati telah menunjukkan kesiapan alat komunikasi keselamatan. Ketersediaan radio VHF dan radio MF pada kapal perikanan yang diamati telah memenuhi kriteria sesuai ketentuan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian mencapai 100 persen.

Pengalaman tersebut membuka pandangan Azzahra bahwa keselamatan kerja perlu dipandang sebagai bagian penting dalam sistem perikanan berkelanjutan. Menurutnya, teknologi dan perlengkapan keselamatan harus diiringi dengan budaya disiplin dan kesadaran bersama.

“Keselamatan bukan sekadar aturan, tetapi kebiasaan yang perlu dibangun. Karena keberhasilan melaut tidak hanya soal kembali membawa hasil tangkapan, tetapi juga pulang dengan selamat,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami berbagai aspek sosial, keselamatan, dan tantangan nyata yang dihadapi sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Life Below Water). Penguatan budaya keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menciptakan sektor perikanan yang produktif, aman, dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Berbagi Keahlian Vaksinasi Ikan, Dorong Penguatan Kesehatan Ikan Air Tawar di Sleman

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Sleman — Upaya meningkatkan kesehatan ikan budidaya dan memperkuat kapasitas pelaku sektor perikanan terus dilakukan melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan di lapangan. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, menjadi narasumber dalam Pelatihan Vaksinasi Pada Ikan Air Tawar yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman pada 23 April 2026.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua jam pelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor budidaya perikanan, khususnya dalam pengendalian penyakit dan peningkatan kesehatan ikan air tawar. Dalam pemaparannya, Dr. Laila menekankan bahwa kesehatan ikan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya. Meningkatnya intensitas budidaya sering kali diikuti dengan meningkatnya risiko munculnya penyakit yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya.

Menurutnya, vaksinasi merupakan salah satu pendekatan preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan ikan terhadap penyakit tertentu. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang karena membantu menekan potensi serangan penyakit sebelum wabah terjadi.

“Pencegahan selalu lebih baik dibandingkan penanganan ketika penyakit sudah menyebar. Dalam budidaya modern, kesehatan ikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang,” jelasnya dalam sesi pelatihan.

Selain menjelaskan konsep dasar vaksinasi, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai prinsip penerapan vaksin pada ikan air tawar, strategi pengendalian penyakit, serta pentingnya menjaga kualitas lingkungan budidaya sebagai bagian dari sistem kesehatan ikan secara menyeluruh. Dr. Laila juga menyoroti bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya bergantung pada metode pemberian vaksin, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain seperti kondisi ikan, kualitas air, manajemen pemeliharaan, hingga ketepatan waktu pemberian perlakuan.

Pelatihan ini menjadi ruang diskusi yang interaktif antara narasumber dan peserta. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan penyakit pada budidaya ikan, hingga praktik pengelolaan kesehatan ikan menjadi topik yang banyak dibahas selama kegiatan berlangsung. Keterlibatan dosen Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan sektor perikanan melalui pendidikan dan transfer pengetahuan kepada masyarakat serta pemangku kepentingan di lapangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan kesehatan ikan dan peningkatan kapasitas pembudidaya menjadi bagian penting dalam mendukung sistem perikanan yang produktif dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Perkuat Kompetensi Petugas Karantina Yogyakarta dalam Deteksi Penyakit Ikan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya memperkuat sistem pengawasan kesehatan ikan terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang karantina perikanan. Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan In House Training (IHT) Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Penyakit Ikan pada Kamis, 30 April 2026.

Kegiatan ini menghadirkan dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, sebagai narasumber utama dalam pelatihan teknik pengambilan dan penanganan sampel penyakit ikan.

Pelatihan dibuka langsung oleh Kepala Karantina Yogyakarta, Obing Hobir As’ari, yang menekankan pentingnya peningkatan kompetensi petugas di tengah semakin dinamisnya lalu lintas media pembawa penyakit ikan. Kemampuan melakukan pengambilan sampel secara tepat dinilai menjadi fondasi utama dalam menghasilkan pengujian laboratorium yang akurat dan dapat dipercaya.

Dalam sesi materi, Dr. Laila membahas berbagai teknik sampling untuk pemeriksaan penyakit ikan, mulai dari metode pengambilan sampel representatif, prosedur penanganan sampel, hingga cara menjaga kualitas sampel agar tetap layak diuji di laboratorium kesehatan ikan.

Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik langsung pengambilan dan preparasi sampel untuk pengujian penyakit yang disebabkan oleh parasit, bakteri, dan virus. Simulasi laboratorium dilakukan secara interaktif dengan pendampingan langsung dari narasumber dan tim teknis.

Peserta pelatihan terlihat aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan di lapangan, termasuk risiko kontaminasi sampel, teknik preparasi organ target, hingga prosedur pengiriman sampel yang sesuai standar laboratorium kesehatan ikan.

Keterlibatan dosen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen akademisi dalam mendukung penguatan sistem biosekuriti dan pengawasan kesehatan ikan di Indonesia. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga karantina dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pengawasan penyakit ikan yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan pelatihan ini, Karantina Yogyakarta berharap kompetensi petugas semakin meningkat sehingga mampu mendukung sistem pengawasan kesehatan ikan yang profesional, responsif, dan berbasis standar ilmiah.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan sistem kesehatan ikan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan, keberlanjutan perikanan, dan keamanan sumber daya hayati perairan Indonesia.

 

Sumber Foto: Karantina DIY

123…8
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY