• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  • hal. 2
Arsip:

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Inovasi Teh Rumput Laut Antidiabetes dari Peneliti Perikanan UGM Tembus Jurnal Internasional

Berita Selasa, 28 April 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Tim mahasiswa dan dosen berhasil mempublikasikan riset terbaru tentang pengembangan pangan fungsional berbasis rumput laut dalam jurnal internasional AIMS Agriculture and Food.

Penelitian berjudul “In vitro antidiabetic activity and consumer acceptance level of fermented brown seaweed Sargassum hystrix tea using Lactobacillus plantarum” ini ditulis oleh Khalishah Jasmine Putri Abdillah bersama Prof. Amir Husni, Dr. Mgs Muhammad Prima Putra, dan Dr. Siti Ari Budhiyanti.

Riset ini mengangkat potensi rumput laut cokelat Sargassum hystrix sebagai bahan baku teh fungsional dengan aktivitas antidiabetes. Kandungan senyawa bioaktif seperti fenol dan florotanin diketahui memiliki kemampuan menghambat enzim yang berperan dalam peningkatan kadar gula darah. Namun, pemanfaatannya selama ini terkendala oleh stabilitas senyawa aktif serta aroma amis yang menurunkan tingkat penerimaan konsumen.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti menerapkan metode fermentasi menggunakan bakteri asam laktat Lactobacillus plantarum. Proses fermentasi dilakukan selama 0 hingga 4 hari pada kondisi mikroaerofilik dengan suhu 37°C, guna mengkaji pengaruh lama fermentasi terhadap kualitas fungsional dan sensorik produk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi selama tiga hari menjadi kondisi optimal. Pada tahap ini, kandungan fenol mencapai 12,94 mg GAE/g dan florotanin sebesar 14,60 mg PGE/g. Aktivitas antidiabetes juga meningkat signifikan, ditunjukkan dengan kemampuan penghambatan enzim α-amilase sebesar 82,80 persen dan α-glukosidase hingga 91,26 persen.

Selain peningkatan aktivitas biologis, fermentasi juga memberikan dampak positif terhadap karakteristik sensorik. Aroma amis khas rumput laut berkurang secara signifikan, sementara rasa menjadi lebih dapat diterima. Uji konsumen menunjukkan bahwa perlakuan fermentasi tiga hari memperoleh tingkat penerimaan tertinggi, baik dari segi aroma, rasa, maupun penilaian keseluruhan produk.

Temuan ini menunjukkan bahwa fermentasi tidak hanya berfungsi sebagai metode pengolahan, tetapi juga sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah produk berbasis sumber daya laut. Teh rumput laut fermentasi berpotensi dikembangkan sebagai alternatif minuman kesehatan yang inovatif dan berbasis bahan alami.

Lebih jauh, penelitian ini mempertegas potensi besar sumber daya laut Indonesia dalam mendukung pengembangan pangan fungsional yang berdaya saing tinggi di pasar global. Dengan pendekatan ilmiah yang tepat, bahan sederhana seperti rumput laut dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi dengan manfaat kesehatan yang signifikan.

Sejalan dengan itu, inovasi ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being),  SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, dan SDG 14 (Life Below Water). Pengembangan pangan fungsional berbasis rumput laut tidak hanya mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

sumber foto: AIMS Agriculture and Food 2026, Volume 11, Issue 1: 274-289. doi: 10.3934/agrfood.2026014

 

DWP Departemen Perikanan UGM Gelar Kegiatan Keakraban melalui VW Tour Nanggulan

Berita Sabtu, 25 April 2026

Yogyakarta, 25 April 2026 — Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan rekreasi yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Kegiatan outing bertajuk VW Tour Nanggulan ini menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Sejak pagi hari, peserta telah berkumpul di area Utara Departemern Perikanan UGM sebelum memulai perjalanan menuju kawasan Nanggulan. Perjalanan dilanjutkan dengan pengalaman unik menggunakan mobil VW klasik, yang menjadi daya tarik utama kegiatan ini.

Memasuki rangkaian acara inti, peserta mengikuti VW Tour menyusuri pedesaan dengan panorama alam yang asri. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman rekreasi, tetapi juga menghadirkan suasana kebersamaan yang santai dan penuh keceriaan di antara anggota.

Setelah kegiatan tur, rombongan melaksanakan istirahat, sholat, dan makan (ISHOMA) di kawasan Kopi Ingkar Janji (KIJ), sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu Desa Wisata Gamplong. Di lokasi ini, peserta menikmati suasana wisata budaya sekaligus berkesempatan melihat berbagai spot menarik yang kerap digunakan sebagai lokasi produksi film.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke sentra oleh-oleh, termasuk produk khas seperti gudeg manggar dan kain lurik. Rangkaian perjalanan ditutup dengan menikmati suasana senja di kawasan Sakeca, sebelum akhirnya kembali ke Departemen Perikanan UGM pada sore hari.

Ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa outing ini tidak hanya bertujuan sebagai rekreasi, tetapi juga sebagai sarana memperkuat solidaritas dan kebersamaan antaranggota DWP. “Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap hubungan kekeluargaan semakin erat dan memberikan energi positif bagi seluruh anggota,” ujarnya.

Selain itu, peserta juga diimbau untuk mempersiapkan perlengkapan pribadi seperti kacamata hitam, topi, payung atau jas hujan, obat-obatan pribadi, serta perlengkapan ibadah guna mendukung kenyamanan selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kebersamaan di lingkungan Dharma Wanita Persatuan tidak hanya terbangun melalui aktivitas formal, tetapi juga melalui momen santai yang penuh makna. Dengan semangat kebersamaan, DWP Departemen Perikanan UGM terus berupaya menciptakan lingkungan yang harmonis, solid, dan saling mendukung.

Sejalan dengan itu, kegiatan ini juga mencerminkan nilai-nilai dalam Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 5 Gender Equality, SDG 3 (Good Health and Well-being) dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Melalui aktivitas rekreasi yang sehat dan penguatan jejaring sosial antaranggota, kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan serta memperkuat kolaborasi dalam komunitas.

Dua Dosen Muda Perikanan UGM Resmi Raih Jabatan Lektor, Perkuat Kiprah Akademik dan Riset

Berita Jumat, 24 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan capaian membanggakan melalui peningkatan karier akademik dosen muda. Dua dosen, yakni Dr. Olivia Yofananda, S.TP. dan Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, resmi memperoleh jabatan fungsional Lektor sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi mereka dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dr. Olivia Yofananda merupakan dosen dengan latar belakang teknologi pangan yang berfokus pada pengolahan hasil perikanan. Risetnya banyak menyoroti inovasi produk berbasis sumber daya laut, termasuk pengembangan pangan fungsional yang memiliki nilai tambah bagi kesehatan dan industri. Kontribusinya tidak hanya dalam publikasi ilmiah, tetapi juga dalam mendorong hilirisasi hasil riset agar lebih aplikatif.

Sementara itu, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, yang memiliki latar belakang kedokteran hewan, dikenal aktif dalam bidang kesehatan ikan dan penyakit akuatik. Penelitiannya mencakup identifikasi patogen, termasuk studi molekuler penyakit ikan yang berdampak pada sektor budidaya perikanan. Kiprahnya turut berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan sektor akuakultur melalui pendekatan ilmiah berbasis kesehatan ikan.

Pencapaian jabatan fungsional Lektor ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan karier akademik keduanya. Selain menunjukkan kualitas dan produktivitas sebagai dosen, capaian ini juga memperkuat posisi Departemen Perikanan UGM sebagai pusat pengembangan ilmu yang unggul dan inovatif.

Lebih jauh, kontribusi keilmuan yang dikembangkan oleh kedua dosen ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan berbasis perikanan, SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui riset kesehatan ikan dan keamanan pangan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, serta SDG 14 (Life Below Water) dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Dengan demikian, capaian ini tidak hanya berdampak pada institusi, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi pembangunan global.

Departemen Perikanan UGM Ucapkan Selamat: Pengukuhan Prof. Jaka Widada Tandai Lompatan Baru Mikrobiologi Terapan

Berita Selasa, 21 April 2026

Yogyakarta – Civitas akademika Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas pengukuhan Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D sebagai Guru Besar dalam Bidang Mikrobiologi Terapan. Pengukuhan ini menjadi momen penting yang menegaskan kontribusi keilmuan beliau dalam pengembangan mikrobiologi untuk ketahanan pangan dan kesehatan global.

Dalam pidato pengukuhan berjudul “Holobiont sebagai Driver Revolusi Mikrobiologi Terapan untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan Global,” Prof. Jaka Widada menyoroti bahwa revolusi mikrobiologi terapan kini memasuki era baru. Konsep holobiont—yakni kesatuan antara organisme dengan mikroorganisme yang hidup bersamanya—kini bersinggungan erat dengan kemajuan rekayasa genetik tingkat lanjut seperti biologi sintetik (synthetic biology) dan biomanufaktur. Perkembangan ini membuka peluang besar dalam menghadirkan solusi inovatif bagi tantangan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam pemaparannya, Prof. Jaka juga menekankan potensi “raksasa mikroskopis” seperti bakteri dari kelompok Streptomyces dan Bacillus yang memiliki peran strategis dalam produksi senyawa bioaktif, peningkatan produktivitas pangan, hingga pengembangan teknologi kesehatan. Beliau dikenal aktif meneliti berbagai galur Streptomyces indigenos dari beragam habitat, termasuk isolat dari lingkungan laut Nusantara seperti Streptomyces sp. GMY01, yang menjadi salah satu sumber potensial pengembangan inovasi berbasis mikroba.

Civitas akademika Departemen Perikanan menyambut pencapaian ini sebagai inspirasi bagi penguatan kolaborasi lintas disiplin, khususnya dalam pemanfaatan mikrobiologi untuk mendukung sektor perikanan, kelautan, dan ketahanan pangan nasional. Pengukuhan ini diharapkan semakin mendorong lahirnya riset unggulan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Pencapaian ini juga selaras dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan), tujuan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), tujuan ke-4 Pendidikan  Berkualitas, tujuan ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), tujuan ke-15 Life on Land, serta tujuan ke-14 (Ekosistem Laut). Inovasi mikrobiologi terapan diharapkan dapat berkontribusi pada sistem pangan berkelanjutan, kesehatan global, serta pemanfaatan sumber daya hayati secara bertanggung jawab.

Sekali lagi, Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM mengucapkan selamat atas pengukuhan Guru Besar Prof. Jaka Widada. Semoga capaian ini terus menginspirasi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi bagi Indonesia dan dunia.

 

 

sumber foto: Prof. Nuryani dan Prof. Suadi

Memaknai Hari Kartini di Departemen Perikanan UGM: Memperluas Akses, Menguatkan Peran Perempuan

Berita Selasa, 21 April 2026

Yogyakarta – Peringatan Hari Kartini menjadi momentum refleksi bagi sivitas akademika Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada untuk meneguhkan komitmen terhadap kesetaraan, pendidikan, dan peran perempuan dalam dunia sains serta pengelolaan sumber daya perikanan. Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini dinilai tetap relevan dalam mendorong perempuan berkontribusi aktif di bidang akademik, laboratorium, hingga lapangan.

Dalam refleksi Hari Kartini tahun ini, dosen Departemen Perikanan, Dr. drh. Nur Laila Fitrotun Nikmah, menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi pemberdayaan. Ia menyampaikan, “Pendidikan adalah kunci, dan Kartini yang membuka pintunya. Tugas kita? Jangan cuma masuk, tapi bagaimana membuat pintunya makin lebar buat yang lain.” Pesan tersebut menegaskan bahwa perjuangan Kartini harus dilanjutkan dengan membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi perempuan berikutnya untuk berkembang di dunia akademik dan profesional.

Semangat emansipasi juga dirasakan dalam perubahan nyata di lingkungan kerja. Al’ Ain Shoufi Rahmah Arifin, A.Md., laboran Departemen Perikanan, mengungkapkan bahwa peran perempuan kini semakin terlihat di berbagai bidang yang sebelumnya didominasi laki-laki. Ia menyampaikan bahwa pekerjaan laboran, termasuk yang berkaitan dengan kegiatan lapangan, kini semakin banyak diisi oleh perempuan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kesempatan dan kepercayaan terhadap kompetensi perempuan semakin terbuka.

Pandangan mahasiswa juga menegaskan makna peringatan ini. Mahasiswa Departemen Perikanan, Evora Arda Kirana, menyampaikan bahwa Hari Kartini merupakan pengingat penting bagi generasi muda untuk terus melampaui batas stigma gender. Ia menuturkan, “Bagi saya, Hari Kartini bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi sebagai pengingat kita semua bahwa gender bukanlah suatu penghalang untuk terus maju dan berkarya. Dengan meneruskan semangat Kartini, berarti kita berkomitmen untuk menghapus stigma lama demi menciptakan tata kelola perikanan yang adil dan berkelanjutan. Laut saja tidak pernah membedakan siapa yang menebar jaring, begitu pula seharusnya sektor ini.”

Bagi Departemen Perikanan UGM, memaknai Hari Kartini bukan sekadar peringatan simbolis, melainkan komitmen berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan akademik yang inklusif, mendukung kepemimpinan perempuan, serta memperkuat kontribusi perempuan dalam riset, pengabdian masyarakat, dan pembangunan sektor perikanan berkelanjutan.

Melalui semangat Kartini, Departemen Perikanan UGM berharap perempuan terus hadir sebagai agen perubahan—tidak hanya memanfaatkan pintu kesempatan yang telah dibuka, tetapi juga memperluasnya agar semakin banyak perempuan dapat melangkah maju dan memberi dampak bagi masyarakat. Peringatan Hari Kartini ini juga selaras dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, tujuan ke-4 (Pendidikan Berkualitas), tujuan ke-5 (Kesetaraan Gender), serta tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Melalui penguatan akses pendidikan, peningkatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi, serta perluasan kesempatan kerja yang setara, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mendorong lingkungan akademik yang inklusif dan berkelanjutan.

Menuju Pesisir Tangguh: FGD Perikanan UGM Rumuskan Model Pengelolaan Perikanan Adaptif di Pantai Depok Kabupaten Bantul

Berita Senin, 20 April 2026

Suasana pesisir Pantai Depok, Bantul, menjadi latar unik penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) Penelitian IJRA–Equity yang diinisiasi oleh Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada pada 20 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, peneliti, serta pelaku perikanan dalam satu ruang dialog terbuka untuk membahas masa depan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Berbeda dari forum ilmiah pada umumnya, FGD ini sengaja dilaksanakan di kawasan pesisir untuk menghadirkan konteks nyata antara teori dan praktik. Pantai Depok yang dikenal sebagai sentra aktivitas nelayan di Kabupaten Bantul menjadi lokasi strategis untuk menggali langsung dinamika ketahanan perikanan.

Diskusi yang dipimpin oleh Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. ini menyoroti keterkaitan erat antara perubahan lingkungan laut, dinamika sosial masyarakat pesisir, serta sistem kelembagaan yang mengatur aktivitas perikanan. Para peserta menekankan bahwa pengelolaan sumber daya laut tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan ekologis semata, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat nelayan.

Dalam forum tersebut, isu perubahan iklim menjadi salah satu perhatian utama. Perubahan pola musim, gelombang, hingga ketidakpastian hasil tangkapan dirasakan langsung oleh nelayan di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan adaptif berbasis data ilmiah yang mampu menjembatani kebutuhan kebijakan dengan kondisi riil di masyarakat.

FGD ini juga membuka ruang dialog antara peneliti dan nelayan, sehingga pengalaman lokal dapat diintegrasikan ke dalam pengembangan riset. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan IJRA–Equity ini, UGM kembali menegaskan perannya sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan riset akademik, tetapi juga mendorong solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perikanan di era perubahan global.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut), sekaligus memperkuat upaya mewujudkan pengelolaan perikanan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

Belajar ‘Aturan Main’ Laut: Mata Kuliah Kelembagaan Perikanan UGM Siapkan Mahasiswa Jadi Pengambil Kebijakan Masa Depan

Berita Senin, 20 April 2026

Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia perikanan, memahami laut tidak cukup hanya dari sisi biologi atau teknologi. Di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, mahasiswa juga diajak memahami “aturan main” di balik pengelolaan sumber daya laut melalui mata kuliah Kelembagaan Perikanan.

Mata kuliah ini menjadi salah satu fondasi penting dalam Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik. Di sini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajak menganalisis bagaimana kebijakan, institusi, dan masyarakat berinteraksi dalam mengelola perikanan secara berkelanjutan.

Materi yang dipelajari sangat beragam dan kontekstual. Mahasiswa akan mengenal konsep dasar kelembagaan, perubahan institusi, hingga penerapannya dalam pengelolaan perikanan di berbagai skala—lokal, nasional, hingga internasional. Contohnya, mahasiswa mempelajari praktik lokal seperti sasi di Maluku dan awig-awig di Bali, yang terbukti efektif dalam menjaga kelestarian sumber daya perikanan berbasis kearifan lokal.

Tidak berhenti di situ, pembelajaran juga mengangkat isu-isu aktual seperti kebijakan penangkapan ikan terukur, pembangunan kawasan minapolitan, hingga rantai pasok hasil perikanan modern. Pendekatan yang digunakan berbasis case-based learning (CBL) dan project-based learning (PBL), sehingga mahasiswa aktif berdiskusi, menganalisis kasus nyata, hingga mempresentasikan solusi.

Menariknya, mahasiswa juga diajak melihat bagaimana kelembagaan berperan dalam pembangunan sektor perikanan, baik di bidang budidaya, penangkapan, maupun pengolahan hasil. Hal ini membuat lulusan tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja dan kebijakan.

Dengan sistem pembelajaran yang interaktif dan berbasis analisis kasus, mata kuliah ini melatih kemampuan berpikir kritis (high order thinking skills) yang sangat dibutuhkan di era kompleks saat ini.

Melalui mata kuliah Kelembagaan Perikanan, UGM membekali mahasiswa untuk menjadi pengelola sumber daya laut, analis kebijakan, hingga pemimpin masa depan di sektor perikanan. Cocok bagi kamu yang ingin berkontribusi nyata dalam menjaga laut sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat pesisir. Pembelajaran ini sejalan dengan SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, SDG 14 (Ekosistem Laut), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), menjadikan mahasiswa siap berkontribusi dalam pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan di Indonesia maupun global.

FGD Equity UGM Soroti Perikanan dalam Perspektif Sosial-Ekologi: Dari Perubahan Iklim hingga Dinamika Sumber Daya Pesisir dan Lautan

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026 di Ruang 2.02, Gedung A4. Kegiatan ini menjadi forum strategis lintas sektor yang mengangkat isu perubahan iklim dan dinamika oseanografi dalam konteks sosial-ekologi perikanan dan kelautan.

FGD menghadirkan berbagai pakar nasional dan internasional, di antaranya Prof. Widodo Setiyo Pranowo dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. R. Dwi Susanto dari University of Maryland, serta Prof. Ocky Karna Radjasa. Diskusi juga melibatkan perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan pelaku perikanan dari Kelompok Mina Samodera Pantai Baron, sehingga menghadirkan perspektif ilmiah sekaligus pengalaman lapangan.

Dalam diskusi, para narasumber menekankan bahwa perubahan iklim global telah memengaruhi parameter oseanografi seperti suhu permukaan laut, arus, dan produktivitas primer. Fenomena ini secara langsung berdampak pada distribusi ikan, musim penangkapan, hingga ketidakpastian hasil tangkapan nelayan.

Lebih jauh, pendekatan sosial-ekologi menjadi kunci dalam memahami sistem perikanan secara utuh. Tidak hanya aspek lingkungan, tetapi juga dimensi sosial seperti adaptasi nelayan, kelembagaan, dan strategi penghidupan menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan.

Paparan juga menyoroti bagaimana fenomena iklim ekstrem, seperti siklon tropis, dapat memicu perubahan produktivitas laut melalui peningkatan nutrien dan klorofil-a. Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika laut bersifat kompleks dan memerlukan pendekatan berbasis data serta teknologi, termasuk pemanfaatan penginderaan jauh dan pemodelan spasial.

Diskusi berlangsung interaktif dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, peneliti, pemerintah, dan masyarakat pesisir. Integrasi pengetahuan ilmiah dan lokal dinilai menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Melalui FGD ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan perannya dalam mengembangkan riset yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan secara sosial. Kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut), serta memperkuat upaya pengelolaan perikanan yang tangguh dan berkelanjutan di Indonesia.

FGD Hibah Equity UGM 2026: Inovasi AI untuk Pemberdayaan Perempuan Pesisir dan Ketahanan Ekonomi di Era Perubahan Iklim

Berita Jumat, 17 April 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian UGM Program Equity by Subject dan Program Equity Post Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026 pukul 09.00–11.00 WIB di Ruang 2.02 Gedung A4 Departemen Perikanan UGM. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik untuk memaparkan, menelaah, serta memperoleh masukan terhadap pengembangan riset yang didanai melalui skema hibah UGM.

FGD menghadirkan pemaparan penelitian oleh Dr. Endah Prihatiningtyastuti yang mengangkat tema pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai sarana transformasi perempuan pesisir menjadi agen ekonomi tangguh terhadap perubahan iklim. Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan dosen, peneliti, serta sivitas akademika yang memberikan masukan strategis terkait arah pengembangan penelitian dan implementasinya di masyarakat.

Dalam pemaparan, disampaikan bahwa sektor perikanan tangkap menghadapi tekanan signifikan akibat perubahan iklim, seperti cuaca ekstrem, kenaikan suhu laut, hingga pergeseran stok ikan yang menyebabkan pendapatan nelayan semakin tidak stabil. Kondisi ini berdampak langsung pada kerentanan ekonomi rumah tangga pesisir. Di tengah situasi tersebut, perempuan pesisir memiliki peran kunci sebagai pengelola keuangan keluarga, penjaga konsumsi rumah tangga, sekaligus penggerak strategi bertahan hidup melalui berbagai aktivitas ekonomi tambahan. Namun, kontribusi tersebut masih sering bersifat informal, tidak terdokumentasi, dan belum memiliki rekam jejak data yang kuat.

FGD juga membahas berbagai kendala yang dihadapi perempuan pesisir, seperti keterbatasan literasi finansial digital, akses teknologi, infrastruktur internet, serta hambatan budaya dan norma gender. Temuan lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan pesisir belum memiliki kebiasaan pencatatan keuangan yang sistematis, meskipun terdapat minat tinggi terhadap solusi pencatatan digital sederhana berbasis telepon seluler.

Sebagai solusi, penelitian ini memperkenalkan konsep pencatatan berbasis AI melalui platform WhatsApp dengan asisten digital bernama “MAYA”. Sistem ini dirancang untuk memudahkan pencatatan biaya melaut, hasil tangkapan, hingga penjualan secara otomatis melalui percakapan sederhana. Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan pencatatan berbasis ingatan menjadi sistem berbasis data yang terstruktur, sekaligus meningkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga.

Melalui FGD ini, peserta memberikan berbagai masukan terkait penguatan metodologi, peluang kolaborasi lintas disiplin, serta potensi pengembangan riset lanjutan yang berkontribusi pada ketahanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan penelitian hibah UGM berjalan secara berkualitas, relevan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

FGD diakhiri dengan komitmen bersama untuk mendorong riset yang inklusif gender, berbasis teknologi, serta berorientasi pada solusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di wilayah pesisir. Kegiatan ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-5 (Kesetaraan Gender), tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), tujuan ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 14, Ekosistem Lautan, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitasserta, SDG ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim). Pemanfaatan kecerdasan buatan untuk pemberdayaan perempuan pesisir dinilai mampu memperkuat inklusi ekonomi berbasis data, meningkatkan ketahanan rumah tangga terhadap guncangan iklim, sekaligus mendorong transformasi digital yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Bukan Obat, Tapi Pencegahan: Kunci Sukses Budidaya Lele dan Gurame ala Dr. Indah

Berita Kamis, 16 April 2026

Kegiatan Pelatihan Pokdakan Wanita yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo pada Kamis, 16 April 2026, membekali peserta dengan informasi pentingnya kesehatan ikan. Materi terkait kesehatan ikan ini disampaikan oleh dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D.

Dalam materinya yang berjudul “Penyakit, Pencegahan, dan Pengobatan Ikan Lele dan Gurame”, Dr. Indah menekankan bahwa penyakit ikan merupakan salah satu faktor utama yang dapat menurunkan produktivitas budidaya. Ia menjelaskan berbagai jenis penyakit yang umum menyerang ikan budidaya, mulai dari parasit seperti Trichodina dan Henneguya, hingga penyakit bakteri seperti Aeromoniasis, Edwardsiellosis, dan Pseudomoniasis.

Selain itu, peserta juga dikenalkan pada penyakit yang disebabkan oleh virus dan jamur, termasuk infeksi Aphanomycosis serta iridovirus pada ikan gurami. Pengetahuan ini penting untuk membantu pembudidaya mengenali gejala awal penyakit sehingga dapat melakukan tindakan cepat dan tepat.

Namun, poin utama yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan. Dr. Indah menegaskan bahwa penggunaan obat, terutama antibiotik, tidak selalu direkomendasikan karena berkaitan dengan keamanan pangan. Sebagai alternatif, ia mendorong penerapan manajemen kesehatan ikan yang baik, seperti pengapuran kolam secara rutin, menjaga kualitas pakan, serta memastikan kebersihan alat dan lingkungan budidaya.

Selain itu, ikan yang terinfeksi atau mati harus segera ditangani dengan benar agar tidak menjadi sumber penularan. Praktik desinfeksi alat dan pengelolaan limbah budidaya juga menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran penyakit.

Melalui pelatihan ini, para anggota Pokdakan Wanita diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dalam menjaga kesehatan ikan secara berkelanjutan. Kegiatan ini turut mendukung SDG 2 (Ketahanan Pangan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui praktik budidaya ikan yang sehat, aman, dan ramah lingkungan.

1234…8
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY