• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • Kerja Sama
    • Laporan Kinerja UPPS
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Arsip:

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Menelusuri Kehidupan Kelomang di Pantai Drini: Riset Mahasiswa Ungkap Keanekaragaman “Penghuni Cangkang” Pesisir Gunungkidul

Berita Kamis, 2 April 2026

Pantai selatan Gunungkidul tidak hanya dikenal karena keindahan panorama lautnya, tetapi juga menyimpan kekayaan biodiversitas yang menarik untuk diteliti. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Atalie Safa Danella Laksita Khairah, yang mengkaji karakteristik morfologi, indeks ekologi, dan pola distribusi kelomang di Pantai Drini, Gunungkidul.

Kelomang merupakan kelompok krustasea dari famili Diogenidae yang hidup di zona intertidal dan dikenal dengan kebiasaannya menggunakan cangkang gastropoda sebagai “rumah”. Dalam penelitian yang berlangsung pada September 2025 hingga Maret 2026 tersebut, Atalie melakukan pengambilan sampel menggunakan metode belt transect dengan plot kuadran berukuran 1×1 meter di tiga stasiun pengamatan di Pantai Drini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki keragaman kelomang yang cukup tinggi. Tercatat sedikitnya tujuh spesies kelomang yang ditemukan, yaitu Clibanarius englaucus, Clibanarius humilis, Clibanarius merguiensis, Clibanarius striolatus, Clibanarius virescens, Calcinus laevimanus, dan Calcinus latens. Kelimpahan total kelomang mencapai 64,2 individu per meter persegi, dengan jumlah tertinggi ditemukan pada area yang memiliki substrat makroalga dan lamun.

Analisis indeks ekologi menunjukkan tingkat keanekaragaman berada pada kategori sedang, sementara tingkat keseragaman populasi tergolong tinggi. Pola distribusi kelomang juga cenderung mengelompok, yang menandakan bahwa kondisi habitat tertentu sangat memengaruhi keberadaan organisme ini.

Melalui penelitian ini, Atalie berharap hasil kajian tentang kelomang dapat memberikan informasi ilmiah penting mengenai kondisi ekosistem pesisir, sekaligus menjadi dasar pengelolaan dan konservasi biodiversitas di kawasan Pantai Drini, Gunungkidul. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Laut Indonesia Sedang Berubah: Ilmuwan UGM Ungkap Fakta Mengejutkan di SINNTECH Webinar #35

Berita Selasa, 31 Maret 2026

Perubahan kondisi laut Indonesia menjadi perhatian serius para ilmuwan. Hal ini dibahas dalam SINNTECH Webinar #35 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kesempatan tersebut, peneliti oseanografi dari Departemen Perikanan UGM, Riza Yuliratno Setiawan, memaparkan kondisi terkini lingkungan laut Indonesia yang menunjukkan tanda-tanda perubahan signifikan akibat dinamika iklim global dan aktivitas manusia.

Dalam presentasinya, Riza menjelaskan bahwa data observasi laut global menunjukkan terjadinya pemanasan laut (ocean warming) di berbagai wilayah, termasuk perairan Indonesia. Perubahan suhu laut ini berpotensi memengaruhi berbagai aspek ekosistem laut, mulai dari produktivitas perairan hingga pola distribusi ikan yang menjadi sumber utama pangan bagi masyarakat pesisir.

Ia juga menyoroti meningkatnya fenomena cuaca ekstrem di kawasan tropis, termasuk frekuensi badai tropis yang terjadi di sekitar wilayah Indonesia. Perubahan dinamika angin dan suhu laut tersebut dapat memengaruhi produktivitas laut serta lokasi daerah penangkapan ikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masa depan sektor perikanan: apakah pengetahuan tradisional nelayan masih relevan di tengah perubahan laut yang semakin cepat?

Melalui berbagai pendekatan ilmiah seperti pemantauan laut menggunakan Argo Floats serta pemodelan zona penangkapan ikan berbasis kecerdasan buatan, para peneliti mencoba memahami bagaimana perubahan lingkungan laut memengaruhi sumber daya perikanan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu merancang strategi adaptasi yang lebih baik bagi sektor perikanan dan menjaga ketahanan pangan laut di masa depan.

Melalui SINNTECH Webinar #35, mahasiswa dan peserta diajak melihat lebih dekat bagaimana sains kelautan berperan penting dalam memahami perubahan lingkungan laut serta menemukan solusi berbasis riset untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mahasiswa Perikanan UGM Manfaatkan Teknologi Pemodelan untuk Menentukan Zona Potensi Ikan Layang di Laut Jawa

Berita Rabu, 25 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rivaldo Ferdiansyah, melakukan penelitian untuk memetakan zona potensi penangkapan ikan layang di perairan Laut Jawa menggunakan pendekatan pemodelan berbasis data lingkungan. Penelitian yang merupakan skripsi Rivaldo, berfokus pada spesies ikan layang (Decapterus spp.) yang merupakan salah satu komoditas penting bagi nelayan di wilayah pengelolaan perikanan WPPNRI 712.

Dalam penelitiannya, Rivaldo menggunakan metode Maximum Entropy (MaxEnt) untuk memodelkan kesesuaian habitat dan memprediksi lokasi potensial penangkapan ikan selama periode 2019–2023. Pendekatan ini memanfaatkan berbagai parameter lingkungan laut seperti suhu permukaan laut, salinitas, konsentrasi klorofil-a, curah hujan, serta kecepatan angin. Data-data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui kondisi lingkungan yang paling sesuai bagi keberadaan ikan layang di Laut Jawa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang digunakan memiliki performa yang sangat baik dengan nilai Area Under Curve (AUC) rata-rata di atas 0,8. Nilai tersebut mengindikasikan kemampuan model yang tinggi dalam memprediksi kesesuaian habitat ikan layang. Analisis kurva respons juga menunjukkan bahwa ikan layang cenderung berada pada kondisi lingkungan tertentu, yakni konsentrasi klorofil-a antara 0,2–0,5 mg/m³, curah hujan 2,1–5,5 mm per hari, salinitas 32,15–33,6 ppt, suhu permukaan laut 27,7–31,3°C, serta kecepatan angin 0–7,4 m/s.

Selain itu, pemodelan Habitat Suitability Index (HSI) menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian habitat tertinggi terjadi pada bulan Juni dengan nilai HSI mencapai 1. Namun demikian, wilayah dengan kesesuaian tinggi tersebut memiliki luasan yang relatif terbatas di Laut Jawa. Menurut Rivaldo, penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi kegiatan penangkapan ikan, khususnya bagi nelayan tradisional yang selama ini masih mengandalkan pengalaman dan kebiasaan dalam menentukan lokasi penangkapan. Dengan adanya peta zona potensi penangkapan berbasis data lingkungan, nelayan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat untuk menentukan daerah tangkap yang produktif.

Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi teknologi pemodelan dan data oseanografi dalam mendukung pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Dari Tradisi ke Sains: Mahasiswa Perikanan Kaji Alat Tangkap Ikan “Wadhong Gandhul” Khas Kulon Progo

Berita Jumat, 13 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ainun Rodhiyah Nurhayati, melakukan penelitian mengenai alat tangkap ikan tradisional khas lokal yang dikenal dengan nama wadhong gandhul di kawasan Bendungan Kamijoro, yang berada di wilayah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini mengungkap keunikan alat tangkap tersebut serta perannya dalam memahami perilaku migrasi ikan di Sungai Progo.

Wadhong gandhul merupakan alat tangkap ikan pasif tradisional yang bekerja tanpa menggunakan umpan. Alat ini berbentuk perangkap yang dilengkapi dengan penghadang sehingga dapat mengarahkan ikan menuju bagian penampung. Prinsip kerjanya cukup unik, yakni menangkap ikan yang melompat dari arah hilir menuju hulu ketika menghadapi bangunan terjunan air atau spillway bendungan.

 

Penelitian yang dibimbing Oleh Prof. Djumanto, mengarhakan Ainun melakukan pengambilan data selama lima bulan, mulai September 2025 hingga Januari 2026 di Sungai Progo. Wadhong gandhul yang digunakan memiliki bentuk persegi panjang dengan cekungan pada bagian depan yang berfungsi sebagai penampung ikan. Kerangka alat dibuat dari kayu kaso dan bambu, kemudian dilapisi waring. Alat ini dioperasikan dengan cara digantungkan pada tiang jembatan bendungan dan diturunkan hingga berada sekitar 30 sentimeter di atas permukaan air.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap ini berhasil menangkap berbagai jenis ikan air tawar dari famili Cyprinidae. Beberapa spesies yang tertangkap antara lain wader pari (Rasbora argyrotaenia), kepek (Mystacoleucus obtusirostris), melem (Osteochilus vittatus), beles (Barbonymus schwanenfeldii), lukas (Labiobarbus leptocheilus), palung (Hampala macrolepidota), serta tawes (Barbonymus gonionotus).

Penelitian ini juga menemukan bahwa hasil tangkapan ikan cenderung meningkat pada awal musim hujan, khususnya antara September hingga Desember, serta lebih banyak terjadi pada sore hari. Analisis tingkat kematangan gonad menunjukkan sebagian besar ikan berada pada fase TKG II hingga IV, yang mengindikasikan bahwa ikan-ikan tersebut sedang melakukan migrasi untuk memijah.

Menurut Ainun, temuan ini menunjukkan pentingnya keberadaan jalur migrasi ikan di sungai yang memiliki bendungan. Oleh karena itu, pembangunan jalur khusus ikan atau fishway tipe vertical slot dinilai menjadi salah satu solusi untuk mendukung pergerakan ikan secara alami di ekosistem sungai. Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa alat tangkap tradisional seperti wadhong gandhul tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana penting dalam penelitian ekologi perikanan di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Waspada Mikroplastik! Penelitian Mahasiswa Ungkap Pencemaran di Sungai Opak–Oyo Bantul

Berita Kamis, 12 Maret 2026

Pencemaran mikroplastik kini menjadi isu lingkungan global yang juga mulai terdeteksi di berbagai perairan Indonesia. Hal ini terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fidella Kristofani Tarigan, yang meneliti kontaminasi mikroplastik pada air dan sedimen di Sungai Opak–Oyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sungai Opak merupakan salah satu sungai besar di wilayah Yogyakarta yang terhubung dengan beberapa sungai lain seperti Winongo, Gajah Wong, Code, Oyo, dan Progo. Aktivitas manusia yang tinggi di sepanjang aliran sungai, mulai dari permukiman hingga aktivitas ekonomi, diduga menjadi sumber masuknya limbah plastik yang kemudian terurai menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik, yaitu plastik berukuran kurang dari 5 milimeter.

Penelitian yang dilakukan pada November 2025 ini mengambil sampel air dan sedimen di lima stasiun pengamatan dengan tiga kali pengulangan. Sampel air sebanyak 10 liter disaring menggunakan plankton net, sementara sedimen diambil menggunakan alat Ekman grab. Proses analisis dilakukan dengan menghancurkan material organik menggunakan larutan hidrogen peroksida serta memisahkan partikel mikroplastik melalui metode pemisahan densitas menggunakan larutan NaCl.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Opak telah terkontaminasi mikroplastik baik pada air maupun sedimen. Kelimpahan tertinggi pada air ditemukan di stasiun Tempuran Opak–Winongo dengan nilai 2,80 ± 0,44 partikel per liter. Sementara pada sedimen, jumlah tertinggi ditemukan di kawasan Jembatan Kretek 2 dengan 250 ± 100 partikel per kilogram.

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan berbentuk fiber dan fragmen, dengan ukuran dominan 50–500 mikrometer dan warna biru sebagai warna yang paling umum. Temuan ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah plastik agar tidak terus mencemari ekosistem sungai dan laut di masa depan. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mangrove Kulon Progo Masih Bertahan, Tapi Perlu Perhatian: Temuan Riset Mahasiswa

Beasiswa Rabu, 11 Maret 2026

Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, mulai dari melindungi garis pantai hingga menjadi habitat bagi berbagai organisme laut. Melihat pentingnya fungsi tersebut, mahasiswa melakukan penelitian untuk menilai kondisi kesehatan mangrove di kawasan Jembatan Api-Api, Kabupaten Kulon Progo.

Penelitian oleh Galang Mahmud Zaelani yang dibimbing Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si. ini, bertujuan menganalisis struktur komunitas vegetasi mangrove, menghitung Indeks Kesehatan Mangrove (Mangrove Health Index/MHI), serta mengevaluasi pengaruh kualitas air terhadap kondisi ekosistem. Pengambilan data dilaksanakan pada September hingga Desember 2025 dengan metode purposive sampling di tiga titik pengamatan.

Dalam proses penelitian, Galang menggunakan metode transek untuk menganalisis struktur vegetasi mangrove. Sementara itu, persentase tutupan kanopi diukur menggunakan teknik hemispherical photography, yang memungkinkan pengamatan kondisi tajuk pohon secara lebih akurat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan mangrove Jembatan Api-Api didominasi oleh spesies Avicennia marina dengan nilai Indeks Nilai Penting (INP) mencapai 213,99%. Secara umum, nilai rata-rata Indeks Kesehatan Mangrove (MHI) di kawasan tersebut berada pada angka 35,86%, yang menandakan kondisi ekosistem dalam kategori sedang.

Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa rata-rata kerapatan mangrove mencapai 3.800 individu per hektar dengan tutupan kanopi sekitar 76,6%. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa faktor kualitas air berpengaruh terhadap kondisi mangrove. Salinitas diketahui memiliki pengaruh negatif yang sangat kuat terhadap kerapatan pohon, sedangkan kandungan fosfat justru memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan tutupan kanopi.

Melalui penelitian ini, diharapkan informasi mengenai kondisi kesehatan mangrove dapat menjadi dasar pengelolaan dan konservasi ekosistem pesisir di Kulon Progo agar tetap berkelanjutan. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Makhluk Kecil Penjaga Sungai: Penelitian Mahasiswa Temukan Keanekaragaman Makrobentos di Sungai Ndaru

Berita Senin, 9 Maret 2026

Kondisi kesehatan suatu sungai tidak hanya dapat dilihat dari kejernihan airnya, tetapi juga dari organisme kecil yang hidup di dasar perairan. Hal inilah yang menjadi fokus penelitian mahasiswa Ela Restu Mei Astuti, yang mengkaji keanekaragaman komunitas makrobentos di Sungai Ndaru, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.

Sungai Ndaru merupakan sungai yang berhulu di kawasan Gunung Andong dan menjadi bagian penting dari ekosistem perairan di wilayah tersebut. Dalam penelitiannya yang dilakukan selama delapan minggu pada Oktober hingga November 2025, Ela melakukan pengamatan di empat stasiun penelitian untuk mengetahui struktur komunitas makrobentos sekaligus menganalisis hubungan antara kualitas air dengan keberadaan organisme tersebut.

Makrobentos sendiri merupakan organisme yang hidup di dasar perairan dan sering digunakan sebagai bioindikator untuk menilai kualitas lingkungan sungai. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan surber net berukuran 30 × 30 cm, kemudian sampel diawetkan dan diidentifikasi berdasarkan karakter morfologinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Ndaru memiliki keanekaragaman makrobentos yang cukup baik. Tercatat sebanyak 1.167 individu yang terdiri dari 3 kelas, 10 famili, dan 13 spesies ditemukan selama penelitian berlangsung. Nilai kelimpahan berkisar antara 54 hingga 234 individu per meter persegi, dengan indeks keanekaragaman pada kategori sedang.

Pengukuran kualitas air juga menunjukkan kondisi yang relatif baik. Parameter seperti suhu, oksigen terlarut, pH, hingga kandungan bahan organik masih berada dalam kisaran yang mendukung kehidupan organisme perairan.

Melalui penelitian ini, Ela berharap informasi mengenai kondisi ekosistem Sungai Ndaru dapat menjadi dasar bagi upaya pelestarian lingkungan sungai serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas perairan. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Rahasia Budidaya Udang Berkelanjutan Dibongkar di SINNTECH Webinar #34 UGM

Berita Kamis, 26 Februari 2026

Departemen perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui SINNTECH Webinar #34 yang membahas masa depan industri akuakultur, khususnya budidaya udang yang berkelanjutan. Dalam webinar pada 28 Februari 2026 ini, pakar kesehatan organisme akuatik dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Dr. Murni Marlina Abd Karim, memaparkan strategi Integrated Health Management (IHM) sebagai pendekatan kunci untuk menjaga kesehatan udang sekaligus meningkatkan produktivitas budidaya.

Industri budidaya udang merupakan salah satu sektor akuakultur paling bernilai di dunia karena memasok sebagian besar konsumsi udang global. Namun, tingginya produktivitas juga diikuti risiko penyakit yang besar, seperti White Spot Syndrome Virus, Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), dan berbagai infeksi lainnya yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan bagi pembudidaya.

Dalam pemaparannya, Prof. Murni menekankan bahwa pengelolaan kesehatan udang tidak cukup hanya dengan pengobatan saat penyakit muncul. Sebaliknya, diperlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan interaksi antara lingkungan, patogen, dan kondisi organisme budidaya. Konsep Integrated Health Management menekankan pencegahan melalui biosekuriti yang ketat, pengelolaan kualitas air, nutrisi yang tepat, serta sistem pemantauan kesehatan secara berkala.

Ia juga menjelaskan berbagai inovasi teknologi yang mulai banyak diterapkan dalam budidaya modern, seperti penggunaan probiotik, prebiotik, imunostimulan, serta teknologi biofloc yang mampu meningkatkan kesehatan udang sekaligus menjaga kualitas lingkungan budidaya. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada antibiotik dan bahan kimia, tetapi juga mendukung keberlanjutan industri akuakultur dalam jangka panjang.

Melalui SINNTECH Webinar #34, mahasiswa dan peserta mendapatkan wawasan global mengenai pentingnya inovasi ilmiah dan manajemen kesehatan terpadu dalam menghadapi tantangan budidaya udang modern. Diskusi ini sekaligus membuka peluang kolaborasi riset internasional untuk mendukung ketahanan pangan berbasis sektor perikanan dan kelautan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mahasiswa Baru Antusias Ikuti PKKIL 2026, Gerbang Awal Memasuki Laboratorium di Universitas Gadjah Mada

Berita Jumat, 13 Februari 2026

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Pelatihan Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Instrumentasi Laboratorium (PKKIL) pada Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026. Kegiatan yang berlangsung pada 13 Februari 2026 ini, diikuti ratusan mahasiswa dan menjadi agenda penting yang wajib diikuti sebelum mahasiswa melakukan aktivitas praktikum maupun penelitian di laboratorium.

PKKIL merupakan program sertifikasi rutin yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman dasar mengenai keselamatan kerja, tata kelola laboratorium, serta penggunaan berbagai instrumen penelitian yang tersedia di lingkungan Departemen Perikanan. Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan kegiatan akademik secara aman, profesional, dan bertanggung jawab.

Kegiatan hari pertama diawali dengan sesi pembukaan yang meriah dan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para kepala laboratorium di lingkungan Departemen Perikanan. Dalam sesi ini, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai fasilitas laboratorium serta prosedur penggunaan peralatan penelitian. Selain itu, materi mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) juga disampaikan oleh Prof. Tri Joko Raharjo, S.Si., M.Si., Ph.D. guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang memiliki fokus ilmu bidang Food Analysis, enzime and molecular biotechnology. Beliau juga menjelaskan bagaimana pentingnya budaya keselamatan dalam kegiatan ilmiah.

Mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai berbagai aspek penting di laboratorium, mulai dari penggunaan alat pelindung diri, pengenalan karakteristik bahan kimia, hingga langkah-langkah mitigasi ketika terjadi potensi kecelakaan kerja. Materi tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa agar mampu bekerja secara aman saat melakukan praktikum maupun penelitian.

Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke berbagai laboratorium di Departemen Perikanan. Mahasiswa berkesempatan melihat secara langsung fasilitas penelitian sekaligus mempraktikkan cara pengoperasian beberapa instrumen yang sering digunakan dalam kegiatan akademik.

Laboratorium yang dikunjungi meliputi Laboratorium Ekologi Perairan, Laboratorium Hama dan Penyakit Ikan, Laboratorium Akuakultur, Laboratorium Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, Laboratorium Hidrobiologi, Laboratorium Teknologi Pengolahan Ikan, Laboratorium Ilmu Makanan Ikan, Laboratorium Sosial Ekonomi Perikanan, Laboratorium Alat Penangkapan Ikan, hingga Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan.

Melalui kegiatan PKKIL 2026 ini, Departemen Perikanan UGM berharap seluruh mahasiswa dapat memahami pentingnya keselamatan kerja sekaligus mengenal fasilitas laboratorium secara lebih dekat. Pelatihan ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun budaya riset yang aman, profesional, dan berkelanjutan di lingkungan akademik. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Mangrove Asia Tenggara Terancam Aktivitas Manusia: Temuan Riset Global Dibahas di SINNTECH Webinar #33 UGM

Berita Rabu, 28 Januari 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui SINNTECH Webinar #33. Webinar yang digelar pada 28 Januari 2026 ini menghadirkan peneliti dari Xiamen University, Ngo Thuy Hao, yang memaparkan riset terbaru mengenai dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove di Asia Tenggara.

Dalam pemaparannya, Hao menjelaskan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan luas mangrove terbesar di dunia. Namun, ekosistem penting ini kini menghadapi tekanan besar akibat berbagai aktivitas manusia seperti ekspansi tambak, pertanian, pembangunan infrastruktur, serta pencemaran nutrien dari daratan.

Melalui pendekatan pemetaan spasial dan model analisis Cumulative Human Impact (CHI), penelitian ini memetakan tingkat tekanan manusia terhadap mangrove di berbagai negara Asia Tenggara. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya sekitar 18,6% kawasan mangrove yang masih tergolong utuh, sementara sebagian besar lainnya telah terpapar berbagai tekanan aktivitas manusia.

Menariknya, beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Myanmar, Kamboja, dan Timor Leste masih menunjukkan tingkat tekanan kumulatif yang relatif rendah. Hal ini memberikan peluang besar untuk upaya konservasi dan restorasi sebelum ekosistem tersebut mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa ekspansi tambak akuakultur menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi degradasi mangrove di kawasan ini, diikuti oleh konversi lahan pertanian, pembangunan jalan, dan polusi nutrien.

Melalui SINNTECH Webinar #33, mahasiswa dan peserta mendapatkan wawasan penting tentang bagaimana pendekatan sains data, pemodelan spasial, dan kolaborasi internasional dapat digunakan untuk memahami sekaligus melindungi ekosistem pesisir yang vital bagi keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan global. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

1234
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY