• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • sdg 6: Clean Water and Sanitation
  • sdg 6: Clean Water and Sanitation
Arsip:

sdg 6: Clean Water and Sanitation

Departemen Perikanan UGM Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Xiamen University dalam Pengembangan Teknologi Pengolahan Air

Berita Senin, 22 Juni 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperluas jejaring internasional dalam mendukung pengembangan riset dan inovasi berkelanjutan. Salah satu langkah strategis terbaru diwujudkan melalui kegiatan penjajakan kerja sama dengan Xiamen University, Tiongkok, yang dikenal sebagai salah satu institusi terkemuka di Asia dalam bidang lingkungan, ekologi, dan teknologi pengolahan air (water treatment).

Pertemuan ini dihadiri oleh Guru Besar Departemen Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., bersama Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama dan Alumni Fakultas Pertanian UGM, Dr. Riza Yuliratno Setiawan, serta Dr. Ratih Ida Adharini selaku Ketua Program Studi Magister Sumber Daya Akuatik (MSA).

Dalam pertemuan tersebut, kedua institusi membahas peluang kolaborasi pada bidang pengelolaan kualitas air, teknologi pengolahan air untuk kawasan pesisir dan akuakultur, pengembangan sistem pemantauan lingkungan perairan, hingga peluang penelitian bersama terkait ketahanan sumber daya air di tengah tantangan perubahan iklim dan peningkatan kebutuhan pangan global.

Prof. Alim Isnansetyo menyampaikan bahwa kebutuhan terhadap teknologi pengolahan air yang efisien dan berkelanjutan semakin penting dalam mendukung pembangunan sektor perikanan modern. Menurutnya, pengelolaan kualitas air tidak hanya menjadi faktor kunci dalam keberhasilan budidaya perikanan, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan ekosistem perairan dan keberlanjutan produksi pangan akuatik.

“Kolaborasi internasional menjadi langkah penting untuk mempercepat transfer pengetahuan, pengembangan teknologi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kami melihat Xiamen University memiliki kekuatan yang sangat relevan dengan kebutuhan pengembangan riset lingkungan perairan dan teknologi pengolahan air di Indonesia,” ungkap Prof. Alim.

Xiamen University melalui College of the Environment and Ecology dikenal memiliki reputasi internasional yang kuat dalam bidang lingkungan dan pengelolaan sumber daya air. Bidang riset yang dikembangkan mencakup teknologi pengolahan air dan air limbah, pemurnian air, mikrobiologi lingkungan, pengendalian pencemaran, hingga pengembangan solusi inovatif untuk keberlanjutan sumber daya air. Selain itu, bidang Environment & Ecology Xiamen University tercatat masuk dalam kelompok ESI Global Top 1‰, menunjukkan kapasitas riset yang sangat kompetitif di tingkat dunia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, penjajakan kerja sama ini membuka peluang pengembangan penelitian multidisiplin yang mengintegrasikan ilmu perikanan, teknologi lingkungan, dan rekayasa sumber daya air. Selain kolaborasi riset, kedua pihak juga membahas potensi pertukaran mahasiswa dan dosen, penyelenggaraan kuliah tamu internasional, program penelitian bersama, serta publikasi ilmiah kolaboratif.

Prof. Subejo menyampaikan bahwa kerja sama internasional merupakan salah satu strategi Fakultas Pertanian UGM dalam memperkuat ekosistem pendidikan dan penelitian yang berdaya saing global. Melalui kemitraan dengan institusi unggulan dunia, diharapkan mahasiswa dan dosen memperoleh akses yang lebih luas terhadap jejaring akademik, teknologi, dan sumber daya penelitian internasional.

Sementara itu, Dr. Ratih Ida Adharini menilai bahwa kolaborasi ini memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan Program Studi Magister Sumber Daya Akuatik, terutama pada aspek pengelolaan lingkungan perairan, kualitas air, dan keberlanjutan sumber daya akuatik yang menjadi isu strategis di tingkat global.

Melalui penjajakan kerja sama ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus membangun kolaborasi internasional yang mampu menghasilkan inovasi dan solusi nyata bagi pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi UGM sebagai pusat unggulan pendidikan dan riset perikanan di kawasan Asia.

Kegiatan penjajakan kerja sama ini sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 6: Clean Water and Sanitation melalui pengembangan inovasi teknologi pengolahan dan pemurnian air yang berkelanjutan. Selain itu, kolaborasi ini mendukung SDG 14: Life Below Water melalui penguatan riset terkait kualitas lingkungan perairan dan pengelolaan sumber daya akuatik, serta SDG 17: Partnerships for the Goals melalui pembangunan jejaring internasional antara UGM dan Xiamen University dalam bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat global.

 
 
 

Prof. Alim Pimpin FGD Pengembangan Teknologi SWRO untuk Dukung Produksi Garam dan Penyediaan Air Bersih di Kawasan Pesisir

Berita Senin, 22 Juni 2026

Yogyakarta – Upaya penguatan kemandirian garam nasional sekaligus penyediaan air bersih bagi masyarakat pesisir terus didorong melalui inovasi berbasis riset. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Integrasi Pemanfaatan Air Tawar pada Produksi Garam Laut dengan Teknologi SWRO (Seawater Reverse Osmosis) sebagai Air Minum” yang dipimpin oleh Guru Besar Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., selaku Ketua Kegiatan.

Kegiatan yang berlangsung di Swiss-Belhotel Airport Yogyakarta pada 17 Juni 2026 ini merupakan bagian dari Program Community Development Berbasis Riset Aplikatif dan Pemberdayaan Masyarakat dengan Kolaborator Internasional. Melalui program ini, Prof. Alim bersama tim berupaya menjembatani hasil-hasil penelitian dengan kebutuhan nyata masyarakat pesisir, khususnya dalam meningkatkan produktivitas usaha garam rakyat sekaligus mengatasi keterbatasan akses air bersih.

Sebagai peneliti yang selama ini aktif mengembangkan berbagai inovasi di bidang perikanan, akuakultur, dan bioteknologi kelautan, Prof. Alim menekankan bahwa tantangan pengembangan garam nasional tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana menciptakan sistem usaha yang lebih efisien, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui pemanfaatan teknologi SWRO, air laut yang selama ini menjadi sumber bahan baku garam dapat diolah menjadi air tawar yang layak konsumsi sehingga memberikan nilai tambah bagi kawasan produksi garam.

FGD ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha garam rakyat. Diskusi diawali dengan paparan mengenai kebutuhan dan produksi garam nasional oleh Prof. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D. dari Universitas Diponegoro, dilanjutkan dengan pembahasan penerapan teknologi SWRO oleh Dr. Mohamad Zaki Mahasin, S.Pi., M.Pi. dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta pengalaman praktik lapangan yang disampaikan oleh Marsino, Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) Pendawa Lima.

Tidak hanya berdiskusi di ruang pertemuan, peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke tambak garam dan rumah produksi milik KUGAR Pendawa Lima di Purworejo. Kegiatan ini menjadi sarana penting untuk melihat secara langsung tantangan yang dihadapi pelaku usaha garam sekaligus mengidentifikasi peluang implementasi teknologi yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Menurut Prof. Alim, sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat merupakan kunci dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata. Oleh karena itu, program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada transfer teknologi, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat agar mampu mengelola sumber daya pesisir secara lebih produktif dan berkelanjutan.

Kegiatan ini menunjukkan peran aktif Universitas Gadjah Mada dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan strategis bangsa. Di bawah kepemimpinan Prof. Alim, program ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan kawasan pesisir yang mampu mengintegrasikan produksi garam, penyediaan air bersih, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 6: Clean Water and Sanitation melalui pengembangan teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO) yang berpotensi meningkatkan akses masyarakat pesisir terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan. Selain itu, program ini sejalan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth melalui penguatan produktivitas dan nilai tambah usaha garam rakyat berbasis inovasi teknologi. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok usaha masyarakat juga mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals dalam mendorong transfer pengetahuan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Lebih lanjut, upaya pemanfaatan sumber daya pesisir secara efisien dan berkelanjutan turut mendukung SDG 14: Life Below Water dengan mendorong pengelolaan wilayah pesisir yang lebih adaptif, produktif, dan berwawasan lingkungan.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dampak El Niño dan La Niña terhadap Waduk Panglima Besar Soedirman Banjarnegara

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Perubahan iklim global ternyata tidak hanya berdampak pada cuaca, tetapi juga memengaruhi kondisi sumber daya perairan yang menopang berbagai aktivitas manusia. Hal ini terungkap dalam penelitian skripsi yang dilakukan oleh Hapsari Ayu Sedaya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, mengenai dinamika luas badan air Waduk Panglima Besar Soedirman (Waduk Mrica) di Kabupaten Banjarnegara selama periode 2019–2024.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra satelit Sentinel-1 untuk memantau perubahan luas badan air waduk terbesar di Banjarnegara tersebut. Waduk Panglima Besar Soedirman memiliki peran strategis sebagai sumber energi bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica sekaligus mendukung sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah hubungan yang sangat jelas antara fenomena iklim global dengan kondisi waduk. Hapsari menemukan bahwa fenomena El Niño pada tahun 2019 dan 2023 menyebabkan penurunan curah hujan yang diikuti penyusutan luas badan air waduk. Sebaliknya, periode Triple Dip La Niña pada tahun 2020 hingga 2022 meningkatkan curah hujan sehingga luas badan air waduk tetap tinggi, bahkan pada musim kemarau.

Namun, penelitian ini juga mengungkap fakta menarik bahwa perubahan luas badan air tidak hanya ditentukan oleh faktor alam. Operasional waduk, khususnya aktivitas pembangkitan listrik PLTA, turut memengaruhi fluktuasi volume air. Dengan kata lain, kondisi waduk merupakan hasil interaksi antara faktor iklim dan aktivitas manusia dalam pengelolaan sumber daya air.

Selain itu, analisis batimetri menunjukkan adanya variasi kedalaman dan kontur dasar waduk yang diduga berkaitan dengan proses sedimentasi serta pola aliran sungai yang masuk ke waduk. Temuan ini memberikan informasi penting untuk mendukung pengelolaan waduk secara berkelanjutan di masa mendatang.

Menurut Hapsari, pemantauan luas badan air menggunakan teknologi satelit dapat menjadi alat yang efektif untuk memahami respons waduk terhadap perubahan iklim sekaligus membantu perencanaan pengelolaan sumber daya air yang lebih adaptif.

Penelitian ini menunjukkan bahwa waduk bukan sekadar tampungan air, melainkan sistem dinamis yang dipengaruhi oleh perubahan iklim global, kebutuhan energi, dan proses ekologis yang berlangsung secara bersamaan. Informasi tersebut menjadi penting dalam mendukung ketahanan air, energi, dan pangan di tengah meningkatnya ketidakpastian iklim.

Penelitian ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 7 (Affordable and Clean Energy), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan basis ilmiah dalam pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Menjaga Masa Depan Perairan dari Ruang Kuliah: Mata Kuliah Pengendalian Pencemaran Perairan UGM Cetak Generasi Penjaga Ekosistem Akuatik

Berita Senin, 25 Mei 2026

Yogyakarta — Di tengah meningkatnya tantangan pencemaran sungai, danau, pesisir, hingga laut akibat aktivitas manusia, kebutuhan akan generasi yang mampu memahami dan mengendalikan kerusakan lingkungan perairan menjadi semakin penting. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadirkan Mata Kuliah Pengendalian Pencemaran Perairan sebagai ruang pembelajaran untuk membentuk mahasiswa yang siap menjadi penjaga keberlanjutan ekosistem perairan masa depan.

Mata kuliah berbobot 2 SKS ini tidak sekadar mengajarkan teori pencemaran air, tetapi mengajak mahasiswa memahami persoalan nyata yang saat ini dihadapi berbagai wilayah perairan di Indonesia maupun dunia. Mulai dari peningkatan limbah domestik, pencemaran industri, penurunan kualitas air, hingga dampaknya terhadap sumber daya perikanan dan kehidupan masyarakat.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diajak memahami pengertian dan ruang lingkup pencemaran perairan secara komprehensif, termasuk berbagai dampak ekologis serta indikator yang digunakan dalam menilai kondisi lingkungan perairan. Mahasiswa juga mempelajari baku mutu lingkungan, pengolahan limbah, hingga strategi pengelolaan sumber daya perairan tercemar untuk mendukung usaha perikanan berkelanjutan.

Mata kuliah ini dibimbing oleh tim pengajar berpengalaman yang terdiri dari Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si., Drs. Namastra Probosunu, M.Si., dan Tony Budi Satriyo, S.Pi., M.Sc., Ph.D. yang menghadirkan perspektif multidisiplin dalam memahami persoalan lingkungan perairan.

Yang menarik, pembelajaran diselenggarakan menggunakan pendekatan Student Centered Learning (SCL) berbasis kasus (case-based learning). Mahasiswa tidak hanya duduk mendengarkan teori, tetapi ditantang menganalisis persoalan pencemaran yang terjadi di lapangan dan mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Dalam proses pembelajaran, mahasiswa juga belajar memahami peran indikator biologis, kualitas air, hingga berbagai regulasi dan peraturan lingkungan yang menjadi dasar pengelolaan sumber daya akuatik. Pendekatan ini penting karena pengendalian pencemaran tidak hanya berbicara mengenai aspek teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan kebijakan dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, mahasiswa diperkenalkan pada prinsip pengendalian pencemaran melalui pendekatan fisik, biologis, dan kimia. Bekal tersebut diharapkan mampu membantu mereka memahami bagaimana ekosistem perairan dapat dipulihkan dan dikelola secara lebih baik di masa depan. Bagi calon mahasiswa, mata kuliah ini menunjukkan bahwa dunia perikanan tidak hanya berkaitan dengan ikan dan laut semata. Perikanan modern juga menuntut kemampuan memahami isu lingkungan, teknologi, dan pengelolaan sumber daya secara terintegrasi.

Di era perubahan iklim dan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan, keberadaan mata kuliah seperti Pengendalian Pencemaran Perairan menjadi semakin relevan dalam mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan. Mata kuliah ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals khususnya  SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan pendidikan yang mendukung pengelolaan lingkungan perairan secara berkelanjutan.

Mahasiswa Perikanan UGM Teliti Dinamika Waduk Gajah Mungkur, Data Satelit Ungkap Pengaruh Iklim terhadap Keberlanjutan Perikanan

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Isu perubahan iklim semakin menunjukkan dampaknya terhadap berbagai ekosistem perairan, termasuk waduk yang menjadi sumber penting bagi kegiatan perikanan dan kehidupan masyarakat. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yumna Niwangsa, melakukan penelitian skripsi berjudul “Pemantauan Luas Badan Air Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri Periode 2017–2024 untuk Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan”. Penelitian ini menyoroti bagaimana perubahan iklim global memengaruhi dinamika luas badan air dan implikasinya terhadap pengelolaan sumber daya perikanan.

Penelitian berfokus pada Waduk Gajah Mungkur, waduk buatan yang dibangun sejak tahun 1974 hingga 1981 dan memiliki fungsi strategis sebagai pengendali banjir, penyedia air, pembangkit listrik, hingga penopang aktivitas perikanan di wilayah sekitarnya. Namun, kondisi waduk sangat dipengaruhi oleh dinamika iklim yang terjadi secara global maupun regional. Melalui pemanfaatan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra Sentinel-1, penelitian ini mengungkap bahwa fenomena iklim seperti Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño Southern Oscillation (ENSO) berperan penting terhadap perubahan luas badan air waduk.
 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena La Niña pada periode 2020–2021 serta IOD negatif tahun 2022 menyebabkan peningkatan curah hujan harian yang kemudian diikuti peningkatan luas badan air Waduk Gajah Mungkur, baik saat musim hujan maupun musim kemarau. Sebaliknya, ketika El Niño dan IOD positif terjadi pada tahun 2023, curah hujan mengalami penurunan sehingga luas badan air waduk ikut menyusut.

Menariknya, penelitian juga menemukan anomali pada tahun 2023. Meskipun kondisi iklim cenderung menurunkan volume air, luas badan air justru mengalami peningkatan pada musim hujan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pengerukan waduk yang dilakukan untuk mengatasi sedimentasi. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan kondisi waduk tidak hanya dipengaruhi faktor iklim, tetapi juga aktivitas manusia. Penelitian mengindikasikan adanya perbedaan kedalaman dan topografi dasar waduk yang tidak merata akibat proses sedimentasi dan pengerukan yang terjadi selama bertahun-tahun.

Menurut hasil penelitian, pemantauan dinamika badan air menggunakan data satelit menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan secara berkelanjutan. Data tersebut dapat menjadi landasan ilmiah dalam perencanaan strategis pengelolaan waduk, termasuk untuk mendukung aktivitas perikanan, konservasi lingkungan, serta pengambilan kebijakan berbasis data.

Penelitian skripsi ini menunjukkan bagaimana teknologi dan ilmu perikanan dapat berjalan beriringan dalam menjawab tantangan pengelolaan sumber daya akuatik di tengah perubahan iklim. Kajian seperti ini juga menjadi bukti bahwa penelitian mahasiswa memiliki potensi besar dalam menghasilkan informasi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat. Penelitian ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pemanfaatan teknologi untuk pemantauan sumber daya perairan menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan perikanan yang adaptif dan berkelanjutan di masa depan.

Belajar Menjaga Masa Depan Perairan Indonesia Lewat Mata Kuliah Manajemen Sumberdaya Perairan UGM

Berita Jumat, 8 Mei 2026

Yogyakarta — Perubahan lingkungan, penurunan kualitas air, hingga ancaman terhadap ekosistem perairan menjadi tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadirkan mata kuliah Manajemen Sumberdaya Perairan sebagai ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami pengelolaan ekosistem perairan secara berkelanjutan.

Mata kuliah wajib berbobot 2 SKS ini diampu dosen-dosen kompeten seperti Prof. Djumanto dan Prof. Eko Setyobudi. Perkuliahan dirancang tidak hanya membahas teori pengelolaan sumber daya perairan, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami berbagai persoalan nyata yang terjadi di lapangan.

Mahasiswa akan mempelajari berbagai topik menarik, mulai dari karakter habitat perairan air tawar, payau, dan laut, pengelolaan kualitas air, pengendalian tumbuhan air, restorasi ekosistem, hingga pemanfaatan sumber daya perairan untuk ekowisata dan konservasi.

Yang membuat mata kuliah ini menarik adalah pendekatan pembelajarannya yang berbasis studi kasus (case-based learning). Mahasiswa tidak hanya mendengarkan kuliah di kelas, tetapi juga aktif berdiskusi, menganalisis permasalahan lingkungan perairan, serta mencari solusi pengelolaan yang berkelanjutan.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diajak berpikir layaknya pengelola sumber daya perairan profesional. Mereka belajar bagaimana mengidentifikasi kondisi habitat, memahami hubungan antara kualitas lingkungan dan biota perairan, hingga menyusun alternatif solusi terhadap berbagai persoalan ekosistem perairan.

Selain memperkuat pemahaman ekologis, mahasiswa juga dikenalkan pada pentingnya pendekatan sosial dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam. Pengelolaan perairan modern tidak lagi hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya, tetapi juga pada upaya menjaga keseimbangan ekologi dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Suasana pembelajaran dibuat interaktif melalui diskusi kelompok, presentasi, penugasan proyek, hingga analisis kasus nyata yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan di Indonesia. Pendekatan ini membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu lingkungan, konservasi, dan keberlanjutan sumber daya alam, mata kuliah ini menjadi salah satu gambaran menarik tentang bagaimana dunia perikanan modern tidak hanya berbicara soal ikan, tetapi juga tentang menjaga ekosistem dan masa depan lingkungan perairan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan mengenai pengelolaan sumber daya perairan menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekosistem perairan.

SinnTech Webinar 28: Menggagas Sistem Produksi Akuakultur Berkelanjutan

Berita Rabu, 27 Agustus 2025

Yogyakarta, 27 Agustus 2025 – Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM kembali menyelenggarakan SinnTech Webinar ke-28 dengan tema “Sustainable Aquaculture Production System.” Acara ini menghadirkan 62 partisipan yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, hingga perwakilan instansi, dengan antusiasme tinggi dalam membahas masa depan akuakultur yang ramah lingkungan dan efisien.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber ahli yang berkompeten di bidang akuakultur berkelanjutan. Dr. Norhidayah Abdul Manan dari Higher Institution Centre of Excellence (HICoE), Institute of Tropical Aquaculture and Fisheries (AKUATROP), Universiti Malaysia Terengganu, membawakan materi bertajuk “Aquaponic System for Sustainable Aquaculture Production.” Dr. Norhidayah menjelaskan bagaimana sistem akuaponik, kombinasi budidaya ikan dan tanaman, dapat menjadi solusi inovatif dalam menghadapi keterbatasan lahan, air, serta kebutuhan pangan yang terus meningkat. Tiga jenis sistem akuaponik seperti NFT (Nutrient Film Technique), Media Bed, dan DWC/Raft System diperkenalkan sebagai alternatif yang masing-masing memiliki kelebihan dan tantangan.

Narasumber selanjutnya adalah Dr. Ega Adhi Wicaksono, S.Pi. dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, melanjutkan dengan topik “Recirculating Aquaculture System (RAS) for Sustainable Aquaculture Production.” Dalam paparannya, Dr. Ega menekankan pentingnya sistem resirkulasi yang mampu mengolah kembali air budidaya melalui proses filtrasi mekanis dan biologis, sehingga limbah dapat diminimalisir, kualitas air tetap terjaga, serta produksi ikan menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Teknologi ini disebut sangat potensial diterapkan di skala industri modern. Diskusi berjalan interaktif dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta, mulai dari teknis penerapan biofilter, risiko kegagalan sistem pompa pada akuaponik, hingga tantangan biaya investasi awal untuk sistem RAS.

Melalui webinar ini, peserta tidak hanya memperoleh wawasan teknis, tetapi juga kesadaran bahwa inovasi sistem budidaya tertutup seperti Akuaponik dan RAS merupakan bagian penting dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produksi pangan sehat dan berkelanjutan, SDG 6 (Clean Water and Sanitation) lewat efisiensi dan pengolahan ulang air, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dengan pengelolaan sumber daya yang lebih bijak, dan SDG 14 (Life Below Water) melalui perlindungan ekosistem perairan dari pencemaran limbah budidaya. Dengan terselenggaranya SinnTech Webinar 28, semakin jelas bahwa masa depan akuakultur tidak hanya berbicara tentang produktivitas, tetapi juga tentang resiliensi, inovasi, dan keberlanjutan.

Penulis: Galuh Wulanuari

Editor: Nahla Alfiatunnisa, S.Pi.

Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY