• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure
  • SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure
  • hal. 4
Arsip:

SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure

Laut Indonesia Sedang Berubah: Ilmuwan UGM Ungkap Fakta Mengejutkan di SINNTECH Webinar #35

Berita Selasa, 31 Maret 2026

Perubahan kondisi laut Indonesia menjadi perhatian serius para ilmuwan. Hal ini dibahas dalam SINNTECH Webinar #35 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kesempatan tersebut, peneliti oseanografi dari Departemen Perikanan UGM, Riza Yuliratno Setiawan, memaparkan kondisi terkini lingkungan laut Indonesia yang menunjukkan tanda-tanda perubahan signifikan akibat dinamika iklim global dan aktivitas manusia.

Dalam presentasinya, Riza menjelaskan bahwa data observasi laut global menunjukkan terjadinya pemanasan laut (ocean warming) di berbagai wilayah, termasuk perairan Indonesia. Perubahan suhu laut ini berpotensi memengaruhi berbagai aspek ekosistem laut, mulai dari produktivitas perairan hingga pola distribusi ikan yang menjadi sumber utama pangan bagi masyarakat pesisir.

Ia juga menyoroti meningkatnya fenomena cuaca ekstrem di kawasan tropis, termasuk frekuensi badai tropis yang terjadi di sekitar wilayah Indonesia. Perubahan dinamika angin dan suhu laut tersebut dapat memengaruhi produktivitas laut serta lokasi daerah penangkapan ikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masa depan sektor perikanan: apakah pengetahuan tradisional nelayan masih relevan di tengah perubahan laut yang semakin cepat?

Melalui berbagai pendekatan ilmiah seperti pemantauan laut menggunakan Argo Floats serta pemodelan zona penangkapan ikan berbasis kecerdasan buatan, para peneliti mencoba memahami bagaimana perubahan lingkungan laut memengaruhi sumber daya perikanan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu merancang strategi adaptasi yang lebih baik bagi sektor perikanan dan menjaga ketahanan pangan laut di masa depan.

Melalui SINNTECH Webinar #35, mahasiswa dan peserta diajak melihat lebih dekat bagaimana sains kelautan berperan penting dalam memahami perubahan lingkungan laut serta menemukan solusi berbasis riset untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mahasiswa Perikanan UGM Manfaatkan Teknologi Pemodelan untuk Menentukan Zona Potensi Ikan Layang di Laut Jawa

Berita Rabu, 25 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rivaldo Ferdiansyah, melakukan penelitian untuk memetakan zona potensi penangkapan ikan layang di perairan Laut Jawa menggunakan pendekatan pemodelan berbasis data lingkungan. Penelitian yang merupakan skripsi Rivaldo, berfokus pada spesies ikan layang (Decapterus spp.) yang merupakan salah satu komoditas penting bagi nelayan di wilayah pengelolaan perikanan WPPNRI 712.

Dalam penelitiannya, Rivaldo menggunakan metode Maximum Entropy (MaxEnt) untuk memodelkan kesesuaian habitat dan memprediksi lokasi potensial penangkapan ikan selama periode 2019–2023. Pendekatan ini memanfaatkan berbagai parameter lingkungan laut seperti suhu permukaan laut, salinitas, konsentrasi klorofil-a, curah hujan, serta kecepatan angin. Data-data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui kondisi lingkungan yang paling sesuai bagi keberadaan ikan layang di Laut Jawa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang digunakan memiliki performa yang sangat baik dengan nilai Area Under Curve (AUC) rata-rata di atas 0,8. Nilai tersebut mengindikasikan kemampuan model yang tinggi dalam memprediksi kesesuaian habitat ikan layang. Analisis kurva respons juga menunjukkan bahwa ikan layang cenderung berada pada kondisi lingkungan tertentu, yakni konsentrasi klorofil-a antara 0,2–0,5 mg/m³, curah hujan 2,1–5,5 mm per hari, salinitas 32,15–33,6 ppt, suhu permukaan laut 27,7–31,3°C, serta kecepatan angin 0–7,4 m/s.

Selain itu, pemodelan Habitat Suitability Index (HSI) menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian habitat tertinggi terjadi pada bulan Juni dengan nilai HSI mencapai 1. Namun demikian, wilayah dengan kesesuaian tinggi tersebut memiliki luasan yang relatif terbatas di Laut Jawa. Menurut Rivaldo, penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi kegiatan penangkapan ikan, khususnya bagi nelayan tradisional yang selama ini masih mengandalkan pengalaman dan kebiasaan dalam menentukan lokasi penangkapan. Dengan adanya peta zona potensi penangkapan berbasis data lingkungan, nelayan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat untuk menentukan daerah tangkap yang produktif.

Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi teknologi pemodelan dan data oseanografi dalam mendukung pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Serupa Tapi Tak Sama: Mahasiswa UGM Ungkap Perbedaan Dua Spesies Cumi-Cumi Lewat Analisis DNA

Berita Kamis, 12 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dyah Ayu Sofiana Sukowati, melakukan penelitian mendalam mengenai karakteristik morfologi dan identifikasi molekuler cumi-cumi yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Kabupaten Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan identitas spesies cumi-cumi yang menjadi salah satu komoditas penting dalam perikanan tangkap di wilayah selatan Pulau Jawa.

Dalam penelitian tersebut, Dyah menganalisis sebanyak 360 sampel cumi-cumi yang terdiri dari 254 individu spesies Sthenoteuthis oualaniensis dan 106 individu Uroteuthis duvaucelii. Kedua spesies ini diteliti menggunakan pendekatan morfometrik, meristik, serta analisis molekuler berbasis gen COI (Cytochrome c Oxidase subunit I), yang umum digunakan dalam identifikasi genetik organisme laut.

Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan morfologi yang cukup jelas antara kedua spesies tersebut. Melalui metode Principal Component Analysis (PCA), beberapa karakter tubuh menjadi pembeda utama, seperti panjang mantel, lebar sirip, dan panjang lengan kedua. Selain itu, bentuk tubuh juga berbeda pada bagian lebar corong. Analisis meristik turut memperkuat temuan tersebut, khususnya melalui perbedaan bentuk dan jumlah gigi pada cincin penghisap (sucker) yang dimiliki kedua jenis cumi-cumi.

Penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. juga mengungkap perbedaan pola pertumbuhan antara kedua spesies. Spesies Sthenoteuthis oualaniensis cenderung menunjukkan pertumbuhan alometrik positif, di mana bagian tubuh tertentu berkembang lebih cepat dibandingkan panjang mantel. Sebaliknya, Uroteuthis duvaucelii menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif.

Melalui analisis molekuler, Dyah menemukan bahwa sekuen genetik cumi-cumi yang diteliti memiliki kemiripan dengan populasi dari berbagai wilayah perairan internasional. Spesies Sthenoteuthis oualaniensis memiliki kesamaan genetik dengan populasi dari Samudra Hindia, Australia, dan China, sedangkan Uroteuthis duvaucelii memiliki kedekatan genetik dengan populasi dari Vietnam dan Indonesia.

Menurut Dyah, penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan terpadu antara morfologi dan molekuler dalam memastikan identifikasi spesies laut secara akurat. Hasil riset ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih berkelanjutan, khususnya bagi komoditas cumi-cumi yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi nelayan Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Dosen Perikanan UGM Publikasikan Riset Genetika Populasi Kerang Darah untuk Strategi Konservasi Sumber Daya Perikanan

Berita Jumat, 6 Maret 2026

Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada. Dosen perikanan Eko Hardianto, Ph.D berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Population Genetics of the Blood Cockle, Tegillarca granosa (Linnaeus, 1758): A Study of Spatial Genetic Structure Across the Indonesian Archipelago (DOI: 10.1111/maec.70017). Publikasi ini disusun bersama dosen UGM lainnya yaitu, Prof. Eko Setyobudi, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Susanti Mugi Lestari. Publikasi ini menjadi kontribusi penting bagi pengelolaan sumber daya kerang darah di Indonesia.

Kerang darah (Tegillarca granosa) merupakan komoditas kerang yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan penting dalam ekosistem pesisir Asia. Melalui penelitian ini, tim peneliti menelusuri keragaman genetik, sejarah biogeografi, serta struktur populasi spesies tersebut di wilayah kepulauan Indonesia.

Penelitian dilakukan pada lima lokasi berbeda di Indonesia dengan menganalisis variasi sekuens DNA mitokondria dari 200 individu. Hasilnya menunjukkan tingkat keragaman genetik yang tinggi, yang mengindikasikan potensi adaptasi dan ketahanan spesies terhadap perubahan lingkungan. Namun demikian, analisis varians molekuler mengungkap adanya perbedaan genetik yang signifikan antar populasi di berbagai lokasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa penyebaran dan aliran gen antar populasi kerang darah relatif terbatas. Kondisi tersebut diduga mendorong terjadinya adaptasi lokal yang dipengaruhi oleh faktor biologis, oseanografi, dan kondisi geografis masing-masing wilayah.

Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bagi perumusan strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya kerang darah secara berkelanjutan. Informasi mengenai struktur genetik populasi dinilai krusial untuk mendukung kebijakan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem serta menjaga keberlanjutan komoditas perikanan pesisir di masa depan.

Publikasi ini sekaligus menegaskan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam menghasilkan riset berkualitas yang berdampak nyata bagi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia.

Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Faperta UGM dan Woogene B&G Korea Jalin Kerja Sama Vaksin Marikultur

Berita Selasa, 3 Maret 2026

Fakultas Pertanian UGM resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan bioteknologi asal Korea Selatan, Woogene B&G, pada Kamis (26/2/2026). Penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam penguatan kolaborasi internasional di bidang bioteknologi perikanan dan kesehatan ikan, khususnya untuk mendukung pengembangan industri marikultur nasional yang berdaya saing global. Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan delegasi Woogene B&G ke kampus Universitas Gadjah Mada pada Desember 2025 lalu. Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak membahas potensi transfer teknologi dan riset bersama terkait pengendalian penyakit pada komoditas budidaya laut bernilai ekonomi tinggi. Penyakit viral, terutama yang disebabkan oleh Iridovirus, selama ini menjadi salah satu faktor pembatas produktivitas kerapu dan kakap putih di berbagai sentra budidaya Indonesia. Kolaborasi ini akan dikawal secara teknis oleh tim peneliti Departemen Perikanan di bawah pimpinan Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., yang memiliki rekam jejak panjang dalam riset kesehatan ikan dan pengembangan vaksin. Sinergi antara pimpinan fakultas, peneliti, serta mitra industri diharapkan mampu menjembatani kebutuhan akademik dan implementasi teknologi di lapangan. Pendekatan ini dinilai strategis untuk memastikan hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan benar-benar diadopsi oleh pelaku usaha budidaya.

Selama lima tahun ke depan, fokus utama kerja sama adalah pengembangan dan uji aplikasi vaksin Iridovirus untuk kerapu dan kakap putih. Tahapan kegiatan meliputi penelitian dasar, formulasi vaksin, uji efikasi di laboratorium, hingga uji lapang di unit-unit budidaya laut. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan teknis bagi dosen, mahasiswa, serta praktisi perikanan guna memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam bidang bioteknologi akuakultur.

Inovasi vaksin ini diharapkan mampu menekan angka kematian ikan akibat infeksi virus, meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate), serta memperbaiki performa produksi. Dampak jangka panjangnya adalah peningkatan efisiensi usaha, stabilitas pasokan ikan konsumsi, dan penguatan ketahanan pangan nasional. Dengan dukungan teknologi mutakhir dari Woogene B&G dan basis riset kuat dari Fakultas Pertanian UGM, kerja sama ini diharapkan menjadi model kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan industri global dalam mendorong transformasi sektor perikanan Indonesia menuju praktik yang lebih modern, sehat, dan berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Rahasia Budidaya Udang Berkelanjutan Dibongkar di SINNTECH Webinar #34 UGM

Berita Kamis, 26 Februari 2026

Departemen perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui SINNTECH Webinar #34 yang membahas masa depan industri akuakultur, khususnya budidaya udang yang berkelanjutan. Dalam webinar pada 28 Februari 2026 ini, pakar kesehatan organisme akuatik dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Dr. Murni Marlina Abd Karim, memaparkan strategi Integrated Health Management (IHM) sebagai pendekatan kunci untuk menjaga kesehatan udang sekaligus meningkatkan produktivitas budidaya.

Industri budidaya udang merupakan salah satu sektor akuakultur paling bernilai di dunia karena memasok sebagian besar konsumsi udang global. Namun, tingginya produktivitas juga diikuti risiko penyakit yang besar, seperti White Spot Syndrome Virus, Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), dan berbagai infeksi lainnya yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan bagi pembudidaya.

Dalam pemaparannya, Prof. Murni menekankan bahwa pengelolaan kesehatan udang tidak cukup hanya dengan pengobatan saat penyakit muncul. Sebaliknya, diperlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan interaksi antara lingkungan, patogen, dan kondisi organisme budidaya. Konsep Integrated Health Management menekankan pencegahan melalui biosekuriti yang ketat, pengelolaan kualitas air, nutrisi yang tepat, serta sistem pemantauan kesehatan secara berkala.

Ia juga menjelaskan berbagai inovasi teknologi yang mulai banyak diterapkan dalam budidaya modern, seperti penggunaan probiotik, prebiotik, imunostimulan, serta teknologi biofloc yang mampu meningkatkan kesehatan udang sekaligus menjaga kualitas lingkungan budidaya. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada antibiotik dan bahan kimia, tetapi juga mendukung keberlanjutan industri akuakultur dalam jangka panjang.

Melalui SINNTECH Webinar #34, mahasiswa dan peserta mendapatkan wawasan global mengenai pentingnya inovasi ilmiah dan manajemen kesehatan terpadu dalam menghadapi tantangan budidaya udang modern. Diskusi ini sekaligus membuka peluang kolaborasi riset internasional untuk mendukung ketahanan pangan berbasis sektor perikanan dan kelautan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Inovasi Anak Bangsa: Solusi Biosekuriti Tambak Udang Berbasis Mikroorganisme Laut

Berita Kamis, 26 Februari 2026

Yogyakarta – Inovasi bioteknologi kelautan kembali menjadi sorotan dalam SINTECH Webinar “Integrated Blue Innovation of Shrimp Production UGM” yang digelar pada 26 Februari 2026. Dalam kegiatan ini, startup blue biotech AQUBETA memaparkan terobosan teknologi probiotik alami untuk meningkatkan produktivitas sekaligus biosekuriti budidaya udang di Indonesia.

Industri akuakultur, khususnya budidaya udang vaname, masih menghadapi tantangan besar akibat penyakit mematikan seperti Vibriosis dan AHPND. Penyakit tersebut dapat menurunkan hasil panen hingga 30% bahkan menyebabkan kematian massal dalam semalam. Kondisi ini berdampak pada kerugian miliaran dolar secara global serta menjadi salah satu penyebab utama kegagalan budidaya udang.

Founder & CEO PT. AQUBETA DIPO JAYA, Muhammad Syaifudien Bahry, menjelaskan bahwa perusahaannya menghadirkan pendekatan berbasis mikroorganisme laut sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti antibiotik dan bahan kimia berbahaya. Startup ini telah menjangkau lebih dari 5.000 petambak ikan dan udang di lebih dari 30 wilayah Indonesia, dengan area tambak mencapai 150 hektare dan lebih dari 15 kemitraan B2B sejak produk mulai dipasarkan pada 2023.

Teknologi unggulan AQUBETA memanfaatkan fungi laut Trichoderma reesei dan konsorsium bakteri Bacillus untuk menekan populasi bakteri Vibrio, meningkatkan kualitas air, serta memperkuat sistem imun udang. Uji coba pada tambak terdampak AHPND menunjukkan populasi Vibrio dapat ditekan hanya dalam satu minggu, dengan tingkat kelangsungan hidup panen meningkat hingga 60%.

Produk yang dikembangkan meliputi ANTI V-PRO, AQU PROFEED, dan AQU BACILLUS yang diklaim efektif membunuh patogen, meningkatkan biomassa, memperbaiki pencernaan, serta menjaga kesehatan ekosistem tambak. Selain menawarkan produk, AQUBETA juga membuka kolaborasi riset, distribusi, hingga konsultasi teknis bagi mitra B2B dan B2G.

Inovasi ini diharapkan menjadi langkah penting menuju revolusi blue biotechnology di Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan sektor perikanan melalui teknologi berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Riset Perikanan UGM Ungkap Waktu Terbaik Pemantauan Kualitas Air Sistem Budidaya Nila Merah

Berita Rabu, 18 Februari 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan publikasi ilmiah internasional melalui penelitian berjudul The Diurnal Trend of Water Quality in the Semi-Outdoor Recirculating Aquaculture System for the Red Tilapia (Oreochromis sp.) Production yang dimuat dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Ega Adhi Wicaksono bersama tim peneliti.

Seiring pertumbuhan populasi global, kebutuhan protein terus meningkat sehingga akuakultur menjadi solusi penting untuk ketahanan pangan. Namun, sistem budidaya konvensional membutuhkan air dalam jumlah besar, sementara ketersediaan air di banyak wilayah semakin terbatas. Sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) hadir sebagai alternatif hemat air, tetapi standar operasional pemantauan kualitas air di sistem ini masih terbatas.

Penelitian ini bertujuan mengkaji pola harian (diurnal) kualitas air pada sistem RAS semi-outdoor untuk budidaya nila merah. Pengukuran dilakukan setiap tiga jam selama 24 jam untuk memantau berbagai parameter penting seperti total ammonia nitrogen (TAN), amonia tak terionisasi (NH3), oksigen terlarut, defisit oksigen, pH, dan suhu.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pola perubahan kualitas air yang jelas sepanjang hari. Nilai TAN, oksigen terlarut, dan pH cenderung lebih tinggi pada pagi hari (06.00–09.00), sedangkan suhu dan defisit oksigen meningkat pada sore hingga malam hari (18.00–21.00).

Berdasarkan temuan tersebut, waktu terbaik untuk melakukan pemantauan kualitas air pada RAS semi-outdoor diperkirakan pada pukul 09.00 dan 18.00. Rekomendasi ini menjadi langkah penting dalam penyusunan standar operasional pemantauan kualitas air untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan produksi akuakultur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan teknologi budidaya ikan yang lebih hemat air, produktif, dan berkelanjutan di masa depan.

Penelitian ini sekaligus menegaskan kontribusi riset Departemen Perikanan UGM dalam penguatan pengelolaan sumber daya laut berbasis sains di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mahasiswa Baru Antusias Ikuti PKKIL 2026, Gerbang Awal Memasuki Laboratorium di Universitas Gadjah Mada

Berita Jumat, 13 Februari 2026

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Pelatihan Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Instrumentasi Laboratorium (PKKIL) pada Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026. Kegiatan yang berlangsung pada 13 Februari 2026 ini, diikuti ratusan mahasiswa dan menjadi agenda penting yang wajib diikuti sebelum mahasiswa melakukan aktivitas praktikum maupun penelitian di laboratorium.

PKKIL merupakan program sertifikasi rutin yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman dasar mengenai keselamatan kerja, tata kelola laboratorium, serta penggunaan berbagai instrumen penelitian yang tersedia di lingkungan Departemen Perikanan. Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan kegiatan akademik secara aman, profesional, dan bertanggung jawab.

Kegiatan hari pertama diawali dengan sesi pembukaan yang meriah dan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para kepala laboratorium di lingkungan Departemen Perikanan. Dalam sesi ini, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai fasilitas laboratorium serta prosedur penggunaan peralatan penelitian. Selain itu, materi mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) juga disampaikan oleh Prof. Tri Joko Raharjo, S.Si., M.Si., Ph.D. guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang memiliki fokus ilmu bidang Food Analysis, enzime and molecular biotechnology. Beliau juga menjelaskan bagaimana pentingnya budaya keselamatan dalam kegiatan ilmiah.

Mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai berbagai aspek penting di laboratorium, mulai dari penggunaan alat pelindung diri, pengenalan karakteristik bahan kimia, hingga langkah-langkah mitigasi ketika terjadi potensi kecelakaan kerja. Materi tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa agar mampu bekerja secara aman saat melakukan praktikum maupun penelitian.

Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke berbagai laboratorium di Departemen Perikanan. Mahasiswa berkesempatan melihat secara langsung fasilitas penelitian sekaligus mempraktikkan cara pengoperasian beberapa instrumen yang sering digunakan dalam kegiatan akademik.

Laboratorium yang dikunjungi meliputi Laboratorium Ekologi Perairan, Laboratorium Hama dan Penyakit Ikan, Laboratorium Akuakultur, Laboratorium Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, Laboratorium Hidrobiologi, Laboratorium Teknologi Pengolahan Ikan, Laboratorium Ilmu Makanan Ikan, Laboratorium Sosial Ekonomi Perikanan, Laboratorium Alat Penangkapan Ikan, hingga Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan.

Melalui kegiatan PKKIL 2026 ini, Departemen Perikanan UGM berharap seluruh mahasiswa dapat memahami pentingnya keselamatan kerja sekaligus mengenal fasilitas laboratorium secara lebih dekat. Pelatihan ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun budaya riset yang aman, profesional, dan berkelanjutan di lingkungan akademik. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Tenaga Kependidikan Departemen Perikanan UGM Ikuti Pelatihan Budidaya Maggot untuk Pengolahan Limbah Organik

Berita Selasa, 10 Februari 2026

Yogyakarta – Upaya penguatan kompetensi tenaga kependidikan terus dilakukan Departemen Perikanan UGM melalui pelatihan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengolahan limbah organik dan pengembangan pakan alternatif berkelanjutan. Kegiatan ini memanfaatkan materi handbook workshop budidaya BSF yang aplikatif dan berbasis praktik lapangan.

Pelatihan ini menekankan pentingnya pengelolaan sampah organik, mengingat lebih dari 50% sampah di Indonesia merupakan limbah mudah busuk seperti sisa makanan rumah tangga, kantin, dan restoran. Tanpa pengolahan yang tepat, limbah tersebut berisiko menularkan penyakit. Budidaya maggot BSF menjadi solusi melalui proses biokonversi, yaitu pemanfaatan larva serangga untuk mengubah limbah organik menjadi biomassa bernilai tinggi sebagai sumber protein dan lemak pakan hewan.

 

Kegiatan pelatihan juga memperkenalkan praktik budidaya BSF yang telah dikembangkan di Teaching Farm PIAT UGM sejak 2018. Farm ini memanfaatkan sisa makanan dari Rumah Sakit Akademik UGM, rumah sakit, kantin fakultas, hingga laboratorium sebagai bahan baku pakan maggot. Program ini bertujuan menciptakan pembelajaran inovatif sekaligus mendukung pengelolaan limbah kampus secara berkelanjutan.

Peserta pelatihan mempelajari siklus hidup BSF mulai dari fase telur, larva, prepupa, pupa, hingga lalat dewasa, serta teknik operasional farm seperti penetasan telur, pemeliharaan, hingga pemanenan maggot. Dalam praktiknya, 1 gram telur BSF dapat menghasilkan minimal 1 kg maggot dalam waktu sekitar 16–18 hari. Maggot segar dapat dijual Rp5.000–8.000/kg, sedangkan maggot kering mencapai Rp40.000–50.000/kg, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Selain meningkatkan kapasitas teknis tenaga kependidikan, pelatihan ini diharapkan memperkuat peran kampus sebagai pusat inovasi pengelolaan limbah, ketahanan pakan, dan kewirausahaan berbasis lingkungan. Budidaya maggot BSF dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung sistem pertanian dan peternakan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

123456
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY