Bangun Masa Depan Akuakultur Modern: Mata Kuliah Rekayasa Akuakultur UGM Bekali Mahasiswa dengan Teknologi Budidaya Masa Depan
Berita Jumat, 22 Mei 2026
Yogyakarta — Budidaya perikanan masa kini tidak lagi sekadar berbicara tentang kolam, pakan, dan panen. Transformasi teknologi telah membawa dunia akuakultur memasuki era baru yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Akuakultur Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadirkan Mata Kuliah Rekayasa Akuakultur (Aquacultural Engineering) sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami desain sistem budidaya berbasis teknologi modern.
Mata kuliah wajib yang diajarkan pada semester empat ini menjadi salah satu fondasi penting bagi mahasiswa Akuakultur dalam memahami bagaimana teknologi dan prinsip rekayasa diterapkan untuk mendukung sistem budidaya yang produktif dan berkelanjutan. Mata kuliah ini dikoordinasikan oleh Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si.
Berbeda dari pembelajaran akuakultur konvensional, mahasiswa tidak hanya belajar teori budidaya, tetapi juga diajak memahami bagaimana merancang dan membangun sistem akuakultur yang efektif mulai dari tahap perencanaan hingga operasional. Materi pembelajaran dimulai dari pengenalan konsep dasar rekayasa akuakultur, pemilihan lokasi budidaya yang sesuai, hingga desain dan konstruksi fasilitas pembenihan. Mahasiswa juga mempelajari berbagai jenis infrastruktur budidaya air tawar, payau, hingga laut.
Yang menarik, pembelajaran berkembang jauh melampaui desain kolam biasa. Mahasiswa diperkenalkan dengan teknologi budidaya modern seperti Recirculating Aquaculture System (RAS) yang memungkinkan air digunakan kembali melalui sistem filtrasi dan pengelolaan kualitas air yang terintegrasi. Selain itu, mahasiswa juga mempelajari teknologi Biofloc Technology (BFT) yang saat ini menjadi salah satu inovasi penting dalam sistem budidaya efisien dan ramah lingkungan.
Tidak berhenti pada teknologi produksi, mata kuliah ini juga menekankan pengelolaan limbah budidaya serta pemanfaatan inovasi digital dalam rekayasa akuakultur. Kehadiran materi tersebut menunjukkan bagaimana industri perikanan modern mulai bergerak menuju sistem berbasis teknologi cerdas dan presisi.
Pembelajaran diselenggarakan melalui pendekatan blended learning dengan metode Student Centered Learning (SCL), termasuk small group discussion dan case-based learning. Mahasiswa didorong aktif menganalisis persoalan nyata serta mengembangkan solusi berdasarkan kasus di lapangan. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu menilai kesesuaian lahan dan perairan, merancang fasilitas budidaya, hingga mengoperasikan sistem budidaya modern yang produktif, berkualitas, dan berkelanjutan.
Bagi calon mahasiswa, Rekayasa Akuakultur memperlihatkan bahwa dunia perikanan saat ini tidak lagi hanya identik dengan aktivitas di tambak atau kolam. Akuakultur telah berkembang menjadi bidang multidisiplin yang memadukan ilmu perairan, teknik, lingkungan, hingga teknologi digital. Mata kuliah ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals terutama SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 14 (Life Below Water). Melalui inovasi teknologi budidaya, mahasiswa dipersiapkan menjadi generasi yang mampu membangun masa depan akuakultur yang lebih maju dan berkelanjutan.