Dosen Muda Departemen Perikanan UGM Raih Gelar Doktor dari Jepang, Kembangkan Inovasi Keamanan Pangan Perikanan Berbasis Biologi Molekuler
Berita Senin, 7 September 2026
Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satu dosen muda, Grace Margareta, S.Pi., M.Sc., berhasil menyelesaikan studi doktoralnya di Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT), Jepang. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan kapasitas akademik Departemen Perikanan UGM, khususnya di bidang keamanan pangan hasil perikanan dan mikrobiologi pangan.
Sebelum menyelesaikan studi doktoralnya, Grace menjalani penelitian di Laboratory of Food Microbiology, Tokyo University of Marine Science and Technology, salah satu pusat unggulan dunia dalam bidang ilmu pangan dan teknologi hasil perikanan. Selain mengembangkan riset, selama menempuh studi ia juga aktif menjembatani kolaborasi penelitian antara Indonesia dan Jepang melalui kerja sama yang melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan TUMSAT.
Pada 3 Agustus 2026, Grace berhasil menyelesaikan presentasi akhir disertasinya. Penelitian Grace mengangkat isu yang sangat penting namun masih sering luput dari perhatian industri perikanan dunia, yaitu keamanan pangan terkait pembentukan histamin pada ikan scombroid, khususnya ikan makerel.
Histamin merupakan salah satu penyebab utama keracunan pangan pada produk perikanan yang dapat terbentuk meskipun ikan disimpan dalam rantai dingin. Selama ini, penyimpanan pada suhu sekitar 4°C dianggap telah memadai untuk menjaga keamanan produk. Namun, melalui penelitiannya, Grace menunjukkan bahwa asumsi tersebut belum sepenuhnya tepat.
Penelitian disertasinya mengungkap bahwa Photobacterium phosphoreum, bakteri psikrofilik penyebab utama pembentukan histamin, masih mampu tumbuh dan tetap aktif menghasilkan enzim pembentuk histamin meskipun berada pada suhu penyimpanan dingin. Bahkan, peningkatan suhu yang relatif kecil, dari 4°C menjadi 10°C, dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri secara signifikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian suhu yang lebih ketat, yakni ≤2°C, menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan ikan makerel selama distribusi dan penyimpanan.
Tidak berhenti pada aspek ekologi bakteri, Grace juga mengembangkan inovasi dalam metode deteksi. Ia berhasil merancang probe-based quantitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) assay yang secara spesifik menargetkan gen hdc2, yaitu gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan histamin. Metode ini memungkinkan deteksi bakteri meskipun berada pada fase Viable But Non-Culturable (VBNC), yaitu kondisi ketika bakteri masih hidup tetapi tidak dapat dideteksi menggunakan metode kultur konvensional.
Menurut Grace, keberadaan bakteri dalam fase VBNC merupakan salah satu tantangan terbesar dalam sistem pengawasan keamanan pangan karena berpotensi menghasilkan histamin meskipun tidak terdeteksi melalui penghitungan koloni pada media kultur. Oleh karena itu, pendekatan berbasis biologi molekuler memberikan tingkat sensitivitas yang jauh lebih tinggi dalam mengidentifikasi potensi risiko keamanan pangan.
Sebagai bagian dari penelitian, Grace juga mengevaluasi efektivitas Modified Atmosphere Packaging (MAP) melalui berbagai kombinasi gas karbon dioksida, oksigen, dan nitrogen selama penyimpanan dingin. Evaluasi dilakukan tidak hanya terhadap pertumbuhan bakteri dan akumulasi histamin, tetapi juga terhadap kualitas sensori ikan serta ekspresi gen yang berkaitan dengan pembentukan histamin. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam menentukan sistem pengemasan yang paling efektif untuk memperpanjang umur simpan sekaligus menjaga keamanan produk perikanan.
Lebih jauh, penelitian ini memberikan perspektif baru bagi industri perikanan global. Grace menegaskan bahwa menghitung jumlah bakteri semata tidak lagi cukup untuk menilai keamanan produk terhadap risiko histamin. Integrasi pendekatan ekologi mikroba, biologi molekuler, dan teknologi pengemasan menawarkan paradigma baru dalam penyusunan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) dan manajemen rantai dingin yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Pencapaian Grace Margareta menjadi kebanggaan bagi Departemen Perikanan UGM sekaligus memperkuat posisi institusi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional. Keahlian yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Jepang diharapkan dapat memperkuat kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan sistem keamanan pangan hasil perikanan yang lebih modern, berbasis sains, dan menjawab tantangan industri perikanan masa depan.
Kegiatan studi lanjut dan keberhasilan penelitian ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penelitian Grace berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui penguatan sistem keamanan pangan untuk melindungi kesehatan konsumen dari risiko keracunan histamin. Inovasi di bidang teknologi deteksi dan pengemasan pangan turut mendukung SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, sementara penguatan kapasitas akademik dosen melalui pendidikan doktoral internasional merupakan implementasi SDG 4: Quality Education. Selain itu, kolaborasi riset antara UGM, BRIN, dan Tokyo University of Marine Science and Technology mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals dalam memperkuat jejaring penelitian global guna menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi industri perikanan dan masyarakat dunia.