• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • Pos oleh
  • hal. 14
Pos oleh :

mediaperikanan.faperta

FGD Hibah Equity UGM 2026: Perkuat Riset Adaptif Perikanan di Tengah Perubahan Iklim

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menggelar Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang 2.02, Gedung A4 ini menjadi forum strategis dalam memperkuat arah riset kolaboratif dan inovatif di bidang perikanan dan kelautan.

FGD ini menghadirkan peneliti post-doctoral, Dr. Ulung Jantama Wisha, yang memaparkan hasil kajian bertajuk “Variabilitas Oseanografi dan Zona Tangkapan Ikan di WPPNRI 573.” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa perubahan iklim global (seperti peningkatan suhu permukaan laut, serta fenomena ENSO dan IOD) berdampak langsung terhadap dinamika oseanografi dan distribusi ikan.

Wilayah WPPNRI 573 yang mencakup Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara dikenal sebagai kawasan produktif, namun sangat dinamis. Variabilitas parameter lingkungan seperti suhu permukaan laut, klorofil-a, dan arus laut terbukti memengaruhi terbentuknya potential fishing zone (PFZ) yang menjadi acuan utama dalam operasi penangkapan ikan.

Dalam diskusi, diungkap bahwa musim timur dengan fenomena upwelling menghasilkan kondisi optimal bagi produktivitas perairan, ditandai dengan suhu lebih rendah dan peningkatan klorofil-a. Kondisi ini berbanding lurus dengan meningkatnya hasil tangkapan ikan (CPUE). Sebaliknya, musim barat cenderung menunjukkan produktivitas yang lebih rendah akibat stratifikasi perairan.

FGD ini juga membahas pentingnya integrasi data jangka panjang, pemodelan statistik, serta pengembangan pendekatan berbasis machine learning untuk memprediksi zona penangkapan ikan secara lebih akurat. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penangkapan sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan.

Melalui forum ini, Departemen Perikanan UGM mempertegas perannya dalam mendorong riset yang responsif terhadap tantangan global, khususnya perubahan iklim. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4  Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 14 (Ekosistem Laut), serta memperkuat sinergi antara akademisi dan peneliti dalam menghasilkan solusi berbasis sains untuk masa depan perikanan Indonesia.

FGD Hibah Equity UGM 2026: Riset Lobster hingga Zona Ikan Perkuat Kolaborasi dan Publikasi Global

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat riset unggulan melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang 2.02, Gedung A4 ini menjadi ruang strategis bagi para peneliti untuk mempresentasikan capaian riset sekaligus membangun kolaborasi ilmiah.

Salah satu paparan utama disampaikan oleh Dr. Eko Hardianto, yang mengangkat topik “Molecular Ecology of the Spiny Lobster (Panulirus homarus)”. Penelitian ini menyoroti konektivitas genetik lobster di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Bengkulu, Cilacap, Prigi, hingga Sumbawa dan Pulau Buru.

Melalui pendekatan genetika populasi, penelitian ini mengungkap pola keragaman genetik dan struktur populasi lobster di Indonesia yang sangat penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perikanan berbasis sains. Selain itu, studi ini juga mengkaji pengaruh batas biogeografi seperti Wallace’s Line terhadap aliran gen antar populasi lobster.

Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi menghadapi berbagai tekanan, mulai dari eksploitasi hingga perubahan lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan molekuler seperti yang dilakukan dalam penelitian ini menjadi kunci dalam memahami dinamika populasi spesies penting secara lebih mendalam.

Selain riset genetika, FGD ini juga menampilkan kajian lain terkait dinamika oseanografi dan zona penangkapan ikan berbasis perubahan iklim. Diskusi yang berlangsung interaktif menekankan pentingnya integrasi data lintas disiplin, mulai dari penginderaan jauh, analisis statistik, hingga pemodelan prediktif.

Program hibah Equity by Subject sendiri dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas publikasi internasional dan reputasi akademik UGM di tingkat global. Sementara itu, skema Post-Doctoral Dalam Negeri menjadi wadah bagi peneliti untuk mengembangkan riset inovatif yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM tidak hanya memperkuat budaya riset, tetapi juga mendorong lahirnya kolaborasi lintas institusi dan negara. Kegiatan ini turut berkontribusi pada SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 14 (Ekosistem Laut), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), sebagai upaya membangun pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan.

Sidat di Persimpangan: Riset Perikanan UGM Soroti Tekanan Eksploitasi dan Perubahan Iklim

Berita Jumat, 17 April 2026

Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri diselenggarakan oleh Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada dengan tema perubahan iklim dan dinamika perikanan dan kelautan. Salah satu materi yang dipaparkan mengangkat topik strategis terkait dinamika sistem sosial-ekologi sidat di wilayah selatan Pulau Jawa. Materi ini disampaikan oleh Bapak Waluyo, M.Sc sebagai mahasiswa Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis UGM.

Paparan ini menyoroti pentingnya ikan sidat sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi sekaligus spesies yang memiliki siklus hidup kompleks (catadromous), yaitu bermigrasi dari perairan tawar menuju laut untuk memijah. Dalam kajian ini, dijelaskan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman sidat tropis yang tinggi, dengan setidaknya tujuh spesies sidat yang tersebar di berbagai wilayah perairan.

Pak Waluyo, M.Sc juga menekankan bahwa sistem kehidupan sidat sangat dipengaruhi oleh interaksi antara faktor lingkungan, seperti arus laut, suhu, dan kondisi habitat estuari hingga sungai. Wilayah selatan Jawa menjadi kawasan penting karena berfungsi sebagai jalur migrasi dan habitat pertumbuhan sidat sebelum kembali ke laut lepas.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berbasis system dynamics, yang bertujuan untuk memahami hubungan kompleks antara populasi sidat, tekanan penangkapan, serta perubahan lingkungan. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat menyimulasikan berbagai skenario pengelolaan, termasuk dampak eksploitasi berlebih dan perubahan iklim terhadap keberlanjutan populasi sidat.

Selain itu, paparan ini juga menggarisbawahi pentingnya pengelolaan berbasis ekosistem dan data ilmiah dalam menjaga keberlanjutan sumber daya sidat. Upaya konservasi, pengaturan penangkapan, serta perlindungan habitat menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan populasi.

Materi ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan kebijakan perikanan yang adaptif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi riset UGM dalam mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 14 (Ekosistem Laut), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

FGD Hibah Equity UGM 2026: Inovasi AI untuk Pemberdayaan Perempuan Pesisir dan Ketahanan Ekonomi di Era Perubahan Iklim

Berita Jumat, 17 April 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian UGM Program Equity by Subject dan Program Equity Post Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026 pukul 09.00–11.00 WIB di Ruang 2.02 Gedung A4 Departemen Perikanan UGM. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik untuk memaparkan, menelaah, serta memperoleh masukan terhadap pengembangan riset yang didanai melalui skema hibah UGM.

FGD menghadirkan pemaparan penelitian oleh Dr. Endah Prihatiningtyastuti yang mengangkat tema pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai sarana transformasi perempuan pesisir menjadi agen ekonomi tangguh terhadap perubahan iklim. Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan dosen, peneliti, serta sivitas akademika yang memberikan masukan strategis terkait arah pengembangan penelitian dan implementasinya di masyarakat.

Dalam pemaparan, disampaikan bahwa sektor perikanan tangkap menghadapi tekanan signifikan akibat perubahan iklim, seperti cuaca ekstrem, kenaikan suhu laut, hingga pergeseran stok ikan yang menyebabkan pendapatan nelayan semakin tidak stabil. Kondisi ini berdampak langsung pada kerentanan ekonomi rumah tangga pesisir. Di tengah situasi tersebut, perempuan pesisir memiliki peran kunci sebagai pengelola keuangan keluarga, penjaga konsumsi rumah tangga, sekaligus penggerak strategi bertahan hidup melalui berbagai aktivitas ekonomi tambahan. Namun, kontribusi tersebut masih sering bersifat informal, tidak terdokumentasi, dan belum memiliki rekam jejak data yang kuat.

FGD juga membahas berbagai kendala yang dihadapi perempuan pesisir, seperti keterbatasan literasi finansial digital, akses teknologi, infrastruktur internet, serta hambatan budaya dan norma gender. Temuan lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan pesisir belum memiliki kebiasaan pencatatan keuangan yang sistematis, meskipun terdapat minat tinggi terhadap solusi pencatatan digital sederhana berbasis telepon seluler.

Sebagai solusi, penelitian ini memperkenalkan konsep pencatatan berbasis AI melalui platform WhatsApp dengan asisten digital bernama “MAYA”. Sistem ini dirancang untuk memudahkan pencatatan biaya melaut, hasil tangkapan, hingga penjualan secara otomatis melalui percakapan sederhana. Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan pencatatan berbasis ingatan menjadi sistem berbasis data yang terstruktur, sekaligus meningkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga.

Melalui FGD ini, peserta memberikan berbagai masukan terkait penguatan metodologi, peluang kolaborasi lintas disiplin, serta potensi pengembangan riset lanjutan yang berkontribusi pada ketahanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan penelitian hibah UGM berjalan secara berkualitas, relevan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

FGD diakhiri dengan komitmen bersama untuk mendorong riset yang inklusif gender, berbasis teknologi, serta berorientasi pada solusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di wilayah pesisir. Kegiatan ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-5 (Kesetaraan Gender), tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), tujuan ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 14, Ekosistem Lautan, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitasserta, SDG ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim). Pemanfaatan kecerdasan buatan untuk pemberdayaan perempuan pesisir dinilai mampu memperkuat inklusi ekonomi berbasis data, meningkatkan ketahanan rumah tangga terhadap guncangan iklim, sekaligus mendorong transformasi digital yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Bukan Obat, Tapi Pencegahan: Kunci Sukses Budidaya Lele dan Gurame ala Dr. Indah

Berita Kamis, 16 April 2026

Kegiatan Pelatihan Pokdakan Wanita yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo pada Kamis, 16 April 2026, membekali peserta dengan informasi pentingnya kesehatan ikan. Materi terkait kesehatan ikan ini disampaikan oleh dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D.

Dalam materinya yang berjudul “Penyakit, Pencegahan, dan Pengobatan Ikan Lele dan Gurame”, Dr. Indah menekankan bahwa penyakit ikan merupakan salah satu faktor utama yang dapat menurunkan produktivitas budidaya. Ia menjelaskan berbagai jenis penyakit yang umum menyerang ikan budidaya, mulai dari parasit seperti Trichodina dan Henneguya, hingga penyakit bakteri seperti Aeromoniasis, Edwardsiellosis, dan Pseudomoniasis.

Selain itu, peserta juga dikenalkan pada penyakit yang disebabkan oleh virus dan jamur, termasuk infeksi Aphanomycosis serta iridovirus pada ikan gurami. Pengetahuan ini penting untuk membantu pembudidaya mengenali gejala awal penyakit sehingga dapat melakukan tindakan cepat dan tepat.

Namun, poin utama yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan. Dr. Indah menegaskan bahwa penggunaan obat, terutama antibiotik, tidak selalu direkomendasikan karena berkaitan dengan keamanan pangan. Sebagai alternatif, ia mendorong penerapan manajemen kesehatan ikan yang baik, seperti pengapuran kolam secara rutin, menjaga kualitas pakan, serta memastikan kebersihan alat dan lingkungan budidaya.

Selain itu, ikan yang terinfeksi atau mati harus segera ditangani dengan benar agar tidak menjadi sumber penularan. Praktik desinfeksi alat dan pengelolaan limbah budidaya juga menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran penyakit.

Melalui pelatihan ini, para anggota Pokdakan Wanita diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dalam menjaga kesehatan ikan secara berkelanjutan. Kegiatan ini turut mendukung SDG 2 (Ketahanan Pangan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui praktik budidaya ikan yang sehat, aman, dan ramah lingkungan.

Wabah Kutil pada Ikan Gabus Ungkap Virus Baru? Peneliti Indonesia Temukan Kandidat Spesies LCDV

Berita Kamis, 16 April 2026

Temuan penting di bidang kesehatan ikan datang dari tim peneliti Indonesia yang berhasil mengidentifikasi kemungkinan spesies baru virus pada ikan gabus (Channa striata) di Kalimantan Selatan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Aquaculture ini dilakukan oleh Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah bersama tim peneliti, termasuk Dr. Indah Istiqomah dan Prof. Murwantoko.

Penelitian ini berawal dari laporan wabah penyakit dengan gejala menyerupai kutil pada ikan gabus, salah satu komoditas penting di Kalimantan Selatan. Gejala tersebut memicu investigasi mendalam untuk mengidentifikasi agen penyebab penyakit.

Melalui analisis histologi, peneliti menemukan adanya pembesaran sel limfosit yang mengandung inklusi basofilik di dalam jaringan kutil. Selain itu, ditemukan pula indikasi kerusakan jaringan seperti perdarahan, nekrosis, dan akumulasi sel inflamasi pada organ dalam ikan. Temuan ini mengarah pada dugaan infeksi virus.

Untuk memastikan hal tersebut, tim melakukan analisis molekuler menggunakan teknik PCR dan sekuensing terhadap enam gen utama virus, termasuk MCP dan MMP. Hasilnya menunjukkan bahwa ikan gabus tersebut terinfeksi Lymphocystis Disease Virus (LCDV) yang kemudian diberi nama LCDV Cs-SK.

Menariknya, hasil analisis genetik menunjukkan bahwa virus ini memiliki kemiripan tinggi dengan beberapa strain LCDV yang telah ditemukan sebelumnya, namun juga menunjukkan perbedaan signifikan pada tingkat nukleotida. Analisis filogenetik lebih lanjut mengindikasikan bahwa virus ini paling dekat dengan kelompok LCDV-3, tetapi memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari spesies yang telah teridentifikasi.

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa LCDV Cs-SK berpotensi sebagai kandidat spesies baru dalam kelompok virus LCDV. Penemuan ini menjadi langkah penting dalam memahami dinamika penyakit ikan di Indonesia, khususnya dalam mendukung pengelolaan kesehatan ikan budidaya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit ikan, sekaligus memperkuat ketahanan sektor akuakultur nasional. Temuan ini juga berkontribusi pada SDG 14 (Ekosistem Laut) dan SDG 2 (Ketahanan Pangan) melalui upaya menjaga kesehatan sumber daya perikanan.

 

Sumber gambar: Aquaculture, Volume 588, 15 July 2024, 740897

Belajar Mengelola Laut Secara Cerdas: Mata Kuliah Manajemen Operasi Penangkapan Ikan UGM Siapkan Mahasiswa Hadapi Tantangan Global

Berita Kamis, 16 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menghadirkan pembelajaran komprehensif melalui mata kuliah Manajemen Operasi Penangkapan Ikan, yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam tentang pengelolaan perikanan tangkap secara berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan.

Matakuliah yang dikoordinatori oleh Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. ini, mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, ekonomi, hingga kebijakan dalam satu kerangka pembelajaran yang utuh. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teknik penangkapan ikan, tetapi juga diajak memahami sistem perikanan sebagai sistem sosial-ekologi yang kompleks.

Materi perkuliahan mencakup berbagai topik strategis, mulai dari manajemen armada, regulasi perikanan, teknologi alat tangkap, hingga pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM). Pendekatan ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya ikan dan keberlanjutan ekosistem laut.

Menariknya, mahasiswa juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi modern dalam operasi penangkapan ikan, seperti GPS, remote sensing, serta sistem pemantauan kapal (Vessel Monitoring System). Teknologi ini memungkinkan nelayan menentukan lokasi penangkapan secara lebih efisien sekaligus mengurangi praktik penangkapan berlebih (overfishing).

Selain aspek teknis, mata kuliah ini juga mengangkat berbagai tantangan nyata di sektor perikanan, seperti praktik illegal fishing, konflik kepentingan, hingga dampak perubahan iklim terhadap distribusi ikan. Mahasiswa diajak berpikir kritis melalui diskusi, studi kasus, dan pembelajaran kolaboratif.

Dengan metode pembelajaran partisipatif, evaluasi berbasis proyek, serta integrasi teori dan praktik, mata kuliah ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki perspektif keberlanjutan dalam mengelola sumber daya laut.

Pembelajaran ini sejalan dengan SDG 14 (Ekosistem Laut), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), menjadikan mahasiswa siap berkontribusi dalam pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan di Indonesia maupun global

Dr. Senny Helmiati Latih Pokdakan Wanita tentang Pakan dan Teknik Budidaya Gurami-Lele

Berita Kamis, 16 April 2026

Upaya pemberdayaan perempuan di sektor perikanan terus diperkuat melalui kegiatan Pelatihan untuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Wanita yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo pada Kamis, 16 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas ini menghadirkan dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Dr. Senny Helmiati, sebagai narasumber utama.

Dalam pelatihan tersebut, Dr. Senny menyampaikan materi bertajuk “Pakan dan Perawatan Ikan Gurami dan Lele”, yang menekankan pentingnya manajemen pakan dan pemeliharaan dalam meningkatkan produktivitas budidaya. Beliau menjelaskan bahwa pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi, bahkan dapat mencapai 60–70% dari total biaya, sehingga efisiensi dalam pemberian pakan menjadi kunci keberhasilan usaha budidaya.

Peserta pelatihan juga diberikan pemahaman tentang jenis pakan, baik alami maupun buatan, serta kriteria pakan yang baik, seperti kandungan nutrien yang seimbang, mudah dicerna, dan sesuai dengan kebutuhan ikan. Selain itu, Dr. Senny menjelaskan teknik pemberian pakan yang efektif, mulai dari dosis, frekuensi, hingga waktu pemberian, yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ikan dan kualitas air.

Tidak hanya teori, pelatihan ini juga membahas tahapan budidaya ikan, mulai dari pembenihan, pendederan, hingga pembesaran. Peserta dibekali pengetahuan praktis tentang manajemen kualitas air, kepadatan tebar, serta teknik panen yang optimal untuk ikan gurami dan lele.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas perempuan pembudidaya ikan agar lebih mandiri dan produktif. Selain itu, pelatihan ini juga berkontribusi pada SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui pemberdayaan perempuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan produksi pangan, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan ekonomi berbasis budidaya perikanan.

Sumber Photo: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo

Perkuat Jejaring Internasional, Departemen Perikanan UGM Sambut Kunjungan Pakar Akuakultur dari Malaysia

Berita Rabu, 15 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan akademik dari dua institusi terkemuka Malaysia dalam upaya memperkuat kolaborasi internasional di bidang perikanan dan kelautan. Kunjungan ini menghadirkan Prof. Dr. Murni Marlina Abd Karim dari Institut Antarabangsa Akuakultur dan Sains Akuatik, Universiti Putra Malaysia, serta Assoc. Prof. Dr. Ching Fui Fui, Dekan Institut Marin Borneo dari Universiti Malaysia Sabah.

Dalam kegiatan tersebut, kedua narasumber memaparkan profil institusi masing-masing, termasuk fokus riset, fasilitas laboratorium, serta peluang pengembangan akademik dan penelitian lintas negara. Institut Antarabangsa Akuakultur dan Sains Akuatik sendiri dikenal sebagai pusat unggulan dalam bidang akuakultur dan sains akuatik, dengan fokus pada kesehatan ikan, bioteknologi, dan pengelolaan akuakultur berkelanjutan .

Sebagai Deputy Director di institusi tersebut, Prof. Murni Marlina memiliki keahlian di bidang kesehatan hewan akuatik, bioteknologi mikroba, serta pengembangan vaksin dan probiotik untuk akuakultur. Ia juga aktif dalam berbagai publikasi ilmiah internasional yang berfokus pada peningkatan kesehatan dan produktivitas organisme perairan. Sementara itu, Institut Marin Borneo yang dipresentasikan oleh Assoc. Prof. Dr. Ching Fui Fui menekankan penguatan riset kelautan tropis dan pengelolaan sumber daya pesisir di kawasan Asia Tenggara.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kerja sama strategis, seperti pertukaran mahasiswa dan dosen, kolaborasi penelitian, hingga pengembangan program bersama di bidang akuakultur dan ilmu kelautan. Melalui pertemuan ini, Departemen Perikanan UGM menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring global dan meningkatkan kualitas pendidikan serta riset berbasis kolaborasi internasional. Inisiatif ini juga sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Ekosistem Lautan, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang menekankan pentingnya kerja sama lintas negara dalam menghadapi tantangan global di sektor kelautan dan perikanan.

Perkuat Riset Akuakultur, UGM Sambut Dosen Baru Ahli Genetika Ikan Lulusan Belanda

Berita Rabu, 15 April 2026

Kabar baik datang dari Universitas Gadjah Mada. Departemen Perikanan Fakultas Pertanian resmi menghadirkan dosen baru, Dr. Priadi Setyawan, M.Si, yang akan memperkuat bidang akuakultur, khususnya genetika dan pemuliaan ikan. Dr. Priadi merupakan akademisi dengan latar belakang pendidikan yang kuat dan pengalaman riset yang luas. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Wageningen University & Research, Belanda, pada bidang Animal Breeding and Genomics tahun 2023. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan sarjana di UGM dan magister di Universitas Jenderal Soedirman dengan predikat cum laude.

Pengalaman profesionalnya juga sangat solid, pernah menjadi peneliti di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelum bergabung sebagai dosen di UGM. Dr. Priadi saat ini tercatat sebagai anggota dewan pakar Ispikani DI. Yogyakarta (DIY) dan sedang mendampingi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY. Beliau membantu pemerintahan DIY dalam mengembangkan induk ikan nila unggul tumbuh cepat menggunakan pemodelan genetik yang rencananya akan diajukan untuk dirilis oleh KKP pada tahun 2027. Selain mendampingi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY dalam program pemuliaan ikan, saat ini beliau melakukan penelitian pemuliaan presisi dengan mixed model dan analisis transkriptomik pada ikan nila, domestikasi dan pemuliaan ikan papuyu (Anabas Testudineus Bloch, 1792), serta domestikasi ikan Baung (Hemibagrus nemurus) Sungai Progo menggunakan model pengelolaan populasi terkontrol dengan metode BLUP (Best Linear Unbiased Prediction). Beberapa kegiatan penelitian tersebut didanai dari anggaran rumah program BRIN serta anggaran dari Riset dan Inovasi Untuk Indonesia Maju (RIIM).

Salah satu pencapaian penting dalam kariernya adalah kontribusi dalam pengembangan dan pelepasan varietas unggul ikan nila Srikandi, yang dikenal memiliki toleransi tinggi terhadap salinitas. Ia juga memiliki paten terkait metode pemijahan ikan nila, yang menunjukkan perannya dalam inovasi teknologi budidaya perikanan.

Dalam bidang publikasi ilmiah, Dr. Priadi telah menghasilkan berbagai artikel di jurnal internasional bereputasi, termasuk jurnal Aquaculture (Elsevier), dengan fokus pada pengembangan strain ikan nila unggul, toleransi salinitas, serta pendekatan genomik dalam akuakultur.

Kehadiran Dr. Priadi di Departemen Perikanan UGM diharapkan mampu memperkuat riset dan pengembangan teknologi budidaya ikan yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, khususnya di perairan payau. Selain itu, kontribusinya juga diharapkan dapat mendorong inovasi dalam peningkatan produktivitas dan ketahanan sektor perikanan nasional.

Langkah ini sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Ketahanan Pangan), SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 (Inovasi dan Industri), SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui pengembangan akuakultur berkelanjutan berbasis sains dan teknologi, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

1…1213141516…20
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY