• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • Kerja Sama
    • Laporan Kinerja UPPS
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Pos oleh
  • hal. 2
Pos oleh :

mediaperikanan.faperta

Departemen Perikanan UGM Jajaki Kolaborasi Riset dan Budidaya Bersama Startup dan Industri Perikanan

Berita Rabu, 8 April 2026

Departemen Perikanan UGM terus memperluas jejaring kemitraan strategis dengan dunia usaha dan industri. Upaya tersebut diwujudkan melalui pertemuan penjajakan kerja sama yang dilakukan oleh Dr. Desy Putri Handayani dan Dr. Olivia Yofananda bersama startup Waste and Wishes serta perusahaan pengolahan perikanan Olam.

Pertemuan ini membahas peluang kolaborasi dalam bidang budidaya, pengolahan limbah, serta dukungan kegiatan penelitian mahasiswa. Waste and Wishes merupakan startup yang bergerak pada pemanfaatan limbah organik melalui pengolahan maggot, kasgot, serta pemanfaatan bulu ayam untuk kebutuhan sektor perikanan. Sementara itu, Olam dikenal sebagai perusahaan yang fokus pada pengolahan produk perikanan dan agribisnis berkelanjutan.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, kedua mitra menyampaikan ketertarikannya untuk bekerja sama dengan Departemen Perikanan UGM, khususnya dalam pengembangan inovasi budidaya dan pengolahan hasil perikanan. Tidak hanya itu, pihak mitra juga membuka peluang dukungan fasilitas berupa lokasi penelitian, kolam budidaya, serta bahan penelitian yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk kegiatan skripsi.

Inisiatif ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun sinergi antara perguruan tinggi, startup, dan industri. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset terapan, memperluas kesempatan belajar berbasis industri bagi mahasiswa, serta mendorong lahirnya inovasi berkelanjutan di sektor perikanan.

Melalui penjajakan kerja sama ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan dan penelitian yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha, sekaligus mendukung pengembangan industri perikanan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Tenaga Kependidikan Perikanan UGM Ikuti Pelatihan Pakan Alami dan Budidaya Udang Galah di UKBAP Samas

Berita Rabu, 8 April 2026

Tenaga Kependidikan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada mengikuti kegiatan Pelatihan Praktek Pakan Alami Artemia & Udang Galah yang diselenggarakan di Unit Kerja Budidaya Air Payau (UKBAP) Samas, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 8 April 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga kependidikan dalam mendukung kegiatan praktikum dan pembelajaran berbasis budidaya perikanan.

Pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai budidaya Udang Galah SiJawa, varietas udang galah hasil seleksi genetik yang dikembangkan oleh UKBAP Samas. Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pakan alami artemia sebagai pakan utama pada fase larva dalam kegiatan budidaya.

Pada sesi praktik, peserta mempelajari tahapan persiapan artemia yang akan dikultur sebagai pakan. Salah satu proses utama yang dilakukan adalah dekapsulasi artemia, yaitu teknik menghilangkan cangkang kista menggunakan larutan oksidator untuk meningkatkan kualitas pakan sebelum diberikan kepada larva.

Peserta juga mengikuti proses kultur hingga artemia siap dipanen dan diberikan sebagai pakan larva. Melalui praktik langsung ini, tenaga kependidikan memperoleh pengalaman teknis yang dapat mendukung pelaksanaan kegiatan laboratorium dan praktikum mahasiswa di Departemen Perikanan.

Kegiatan ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan instansi pemerintah sekaligus meningkatkan kualitas dukungan teknis tenaga kependidikan dalam pengembangan pendidikan dan praktik budidaya perikanan yang berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Nembah di Tengah Gelombang: Sinergi Kearifan Lokal, Ilmu Pengetahuan, dan Ketahanan Nelayan Pesisir Selatan Jawa

Berita Selasa, 7 April 2026

Aktivitas penangkapan ikan di pesisir selatan Jawa yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia kerap menghadapi tantangan musim dan gelombang tinggi. Kondisi ini membatasi ruang gerak nelayan skala kecil untuk melaut lebih jauh dan menjangkau daerah tangkapan yang lebih produktif. Namun demikian, praktik lokal seperti nembah—teknik menangkap ikan menggunakan panah atau speargun—tetap dapat dilakukan di wilayah perairan yang relatif terlindung dan lebih dekat dengan garis pantai. Ketika kondisi ekologi perairan masih terjaga, metode ini terbukti mampu memberikan hasil tangkapan yang optimal.

Memasuki bulan April yang dikenal sebagai periode gelombang besar, aktivitas nembah kembali dilakukan oleh nelayan di Pantai Ngandong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Praktik ini menjadi bentuk adaptasi terhadap dinamika alam sekaligus strategi mempertahankan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Di sisi lain, masyarakat pesisir menghadapi kerentanan yang kerap luput dari perhatian, terutama dampak degradasi lingkungan yang berasal dari wilayah daratan. Limbah dan pencemaran yang terbawa aliran sungai hingga ke laut dapat merusak ekosistem pesisir, menurunkan kualitas habitat ikan, dan pada akhirnya memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Melindungi nelayan skala kecil menjadi sangat penting, mengingat mereka merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan lingkungan dan dinamika sumber daya perikanan.

Praktik penangkapan selektif seperti nembah tidak hanya membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan nelayan. Ikan hasil tangkapan menjadi sumber protein utama sekaligus penopang ketahanan pangan rumah tangga pesisir. Lebih jauh, praktik yang selaras dengan alam turut menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan laut sebagai ruang hidup.

Situasi ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara nelayan, masyarakat pesisir, akademisi, dan pemerintah. Melalui pendekatan partisipatif seperti citizen science, berbagai pihak dapat bersama-sama mencari solusi berbasis pengetahuan. Kerja sama dengan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) misalnya, membuka peluang bagi nelayan untuk memahami siklus hidup ikan, pola migrasi, serta waktu tangkap yang tepat. Integrasi pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal diharapkan mampu mendorong praktik perikanan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

 

Sumberfoto: Rujimanto-nelayan Pantai Ngandong. Foto 1. Nelayan Bersiap melakukan penangkapan ikan menggunakan metode nembah; foto 2 Hasil tangkapan ikan nelayan pada tanggal 8 april 2026 menggunakan metode nembah yang selektif untuk ikan besar dan hasil optimal.

Mahasiswa Perikanan UGM Jalani UTS April 2026 dengan Persiapan Matang

Berita Senin, 6 April 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada tengah melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS) yang berlangsung pada 6–17 April 2026. Pelaksanaan UTS ini menjadi momen penting bagi mahasiswa untuk mengukur pemahaman materi perkuliahan yang telah ditempuh selama setengah semester.

Menjelang periode ujian, mahasiswa mempersiapkan diri secara intensif melalui berbagai cara, mulai dari belajar mandiri, diskusi kelompok, hingga mengikuti sesi review materi bersama dosen. Perpustakaan dan ruang belajar mahasiswa tampak lebih ramai dari biasanya, mencerminkan keseriusan mahasiswa dalam menghadapi ujian.

Selain fokus pada penguasaan materi teori, mahasiswa juga meninjau kembali catatan praktikum dan tugas proyek yang telah dikerjakan selama perkuliahan. Hal ini penting mengingat karakteristik pembelajaran di bidang perikanan yang tidak hanya menekankan aspek teoritis, tetapi juga pemahaman praktis dan analitis.

Para mahasiswa mengaku berupaya menjaga keseimbangan antara belajar dan menjaga kesehatan selama masa ujian. Manajemen waktu yang baik, pola istirahat yang cukup, serta saling mendukung antar teman menjadi kunci dalam menghadapi periode akademik yang padat ini.

Pelaksanaan UTS diharapkan berjalan lancar dan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk terus meningkatkan kompetensi akademik. Dengan persiapan yang matang, mahasiswa Departemen Perikanan UGM optimistis dapat memberikan hasil terbaik dan melanjutkan semester dengan semangat baru. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas mahasiswa, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan SDG 14 Ekosistem Lautan dalam upaya pembelajaran bidang perikanan dan kelautan.

Menelusuri Kehidupan Kelomang di Pantai Drini: Riset Mahasiswa Ungkap Keanekaragaman “Penghuni Cangkang” Pesisir Gunungkidul

Berita Kamis, 2 April 2026

Pantai selatan Gunungkidul tidak hanya dikenal karena keindahan panorama lautnya, tetapi juga menyimpan kekayaan biodiversitas yang menarik untuk diteliti. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Atalie Safa Danella Laksita Khairah, yang mengkaji karakteristik morfologi, indeks ekologi, dan pola distribusi kelomang di Pantai Drini, Gunungkidul.

Kelomang merupakan kelompok krustasea dari famili Diogenidae yang hidup di zona intertidal dan dikenal dengan kebiasaannya menggunakan cangkang gastropoda sebagai “rumah”. Dalam penelitian yang berlangsung pada September 2025 hingga Maret 2026 tersebut, Atalie melakukan pengambilan sampel menggunakan metode belt transect dengan plot kuadran berukuran 1×1 meter di tiga stasiun pengamatan di Pantai Drini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki keragaman kelomang yang cukup tinggi. Tercatat sedikitnya tujuh spesies kelomang yang ditemukan, yaitu Clibanarius englaucus, Clibanarius humilis, Clibanarius merguiensis, Clibanarius striolatus, Clibanarius virescens, Calcinus laevimanus, dan Calcinus latens. Kelimpahan total kelomang mencapai 64,2 individu per meter persegi, dengan jumlah tertinggi ditemukan pada area yang memiliki substrat makroalga dan lamun.

Analisis indeks ekologi menunjukkan tingkat keanekaragaman berada pada kategori sedang, sementara tingkat keseragaman populasi tergolong tinggi. Pola distribusi kelomang juga cenderung mengelompok, yang menandakan bahwa kondisi habitat tertentu sangat memengaruhi keberadaan organisme ini.

Melalui penelitian ini, Atalie berharap hasil kajian tentang kelomang dapat memberikan informasi ilmiah penting mengenai kondisi ekosistem pesisir, sekaligus menjadi dasar pengelolaan dan konservasi biodiversitas di kawasan Pantai Drini, Gunungkidul. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Laut Indonesia Sedang Berubah: Ilmuwan UGM Ungkap Fakta Mengejutkan di SINNTECH Webinar #35

Berita Selasa, 31 Maret 2026

Perubahan kondisi laut Indonesia menjadi perhatian serius para ilmuwan. Hal ini dibahas dalam SINNTECH Webinar #35 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kesempatan tersebut, peneliti oseanografi dari Departemen Perikanan UGM, Riza Yuliratno Setiawan, memaparkan kondisi terkini lingkungan laut Indonesia yang menunjukkan tanda-tanda perubahan signifikan akibat dinamika iklim global dan aktivitas manusia.

Dalam presentasinya, Riza menjelaskan bahwa data observasi laut global menunjukkan terjadinya pemanasan laut (ocean warming) di berbagai wilayah, termasuk perairan Indonesia. Perubahan suhu laut ini berpotensi memengaruhi berbagai aspek ekosistem laut, mulai dari produktivitas perairan hingga pola distribusi ikan yang menjadi sumber utama pangan bagi masyarakat pesisir.

Ia juga menyoroti meningkatnya fenomena cuaca ekstrem di kawasan tropis, termasuk frekuensi badai tropis yang terjadi di sekitar wilayah Indonesia. Perubahan dinamika angin dan suhu laut tersebut dapat memengaruhi produktivitas laut serta lokasi daerah penangkapan ikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masa depan sektor perikanan: apakah pengetahuan tradisional nelayan masih relevan di tengah perubahan laut yang semakin cepat?

Melalui berbagai pendekatan ilmiah seperti pemantauan laut menggunakan Argo Floats serta pemodelan zona penangkapan ikan berbasis kecerdasan buatan, para peneliti mencoba memahami bagaimana perubahan lingkungan laut memengaruhi sumber daya perikanan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu merancang strategi adaptasi yang lebih baik bagi sektor perikanan dan menjaga ketahanan pangan laut di masa depan.

Melalui SINNTECH Webinar #35, mahasiswa dan peserta diajak melihat lebih dekat bagaimana sains kelautan berperan penting dalam memahami perubahan lingkungan laut serta menemukan solusi berbasis riset untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mahasiswa Magister Ilmu Perikanan UGM Ikuti Program Internship di NAIST Jepang

BeasiswaBerita Selasa, 31 Maret 2026

Mahasiswa Program Magister Ilmu Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2024 Ganjil, Rahma Aulia, mengikuti program internship di Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Jepang. Program ini berlangsung pada 23 Februari hingga 20 Maret 2026 di Bessho Laboratory (Gene Regulation Laboratory), Division of Biological Science NAIST.

Kegiatan internship terlaksana atas rekomendasi dosen pembimbing, Dr. Dini Wahyu Kartika Sari, S.Pi., M.Si., serta dukungan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM. Program ini juga didukung melalui pendanaan dan fasilitasi riset dari Division of Biological Science NAIST sebagai bagian dari penguatan kolaborasi akademik internasional. Program ini turut diikuti mahasiswa Sarjana Biologi dan Magister Bioteknologi UGM serta akademisi dari Malaysia dengan topik riset yang berbeda.

Selama internship, Rahma mengerjakan mini-project Whole-Mount In Situ Hybridization (WISH) Analysis in Zebrafish Embryos di bawah supervisi Assoc. Prof. Takaaki Matsui di Bessho Laboratory (Lab PI: Prof. Yasumasa Bessho). Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi lokasi ekspresi gen pada embrio ikan zebra (Danio rerio). Analisis dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari ekstraksi RNA dan sintesis cDNA ikan zebra, pembuatan probe RNA, hingga proses fiksasi, hibridisasi, serta pewarnaan embrio untuk mengamati pola ekspresi gen menggunakan mikroskop. Selain itu, Rahma juga terlibat dalam pemeliharaan ikan zebra strain wild-type, termasuk proses breeding dan kultur embrio.

Melalui program ini, Rahma memperoleh pengalaman riset internasional serta peningkatan keterampilan di bidang biologi molekuler. Selain aspek akademik, internship juga memberikan kesempatan memperluas jejaring internasional serta mengenal budaya dan lingkungan di Jepang. Program ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara UGM dan NAIST serta mendorong peningkatan kualitas riset mahasiswa Indonesia di tingkat global. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Mahasiswa Perikanan UGM Manfaatkan Teknologi Pemodelan untuk Menentukan Zona Potensi Ikan Layang di Laut Jawa

Berita Rabu, 25 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rivaldo Ferdiansyah, melakukan penelitian untuk memetakan zona potensi penangkapan ikan layang di perairan Laut Jawa menggunakan pendekatan pemodelan berbasis data lingkungan. Penelitian yang merupakan skripsi Rivaldo, berfokus pada spesies ikan layang (Decapterus spp.) yang merupakan salah satu komoditas penting bagi nelayan di wilayah pengelolaan perikanan WPPNRI 712.

Dalam penelitiannya, Rivaldo menggunakan metode Maximum Entropy (MaxEnt) untuk memodelkan kesesuaian habitat dan memprediksi lokasi potensial penangkapan ikan selama periode 2019–2023. Pendekatan ini memanfaatkan berbagai parameter lingkungan laut seperti suhu permukaan laut, salinitas, konsentrasi klorofil-a, curah hujan, serta kecepatan angin. Data-data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui kondisi lingkungan yang paling sesuai bagi keberadaan ikan layang di Laut Jawa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang digunakan memiliki performa yang sangat baik dengan nilai Area Under Curve (AUC) rata-rata di atas 0,8. Nilai tersebut mengindikasikan kemampuan model yang tinggi dalam memprediksi kesesuaian habitat ikan layang. Analisis kurva respons juga menunjukkan bahwa ikan layang cenderung berada pada kondisi lingkungan tertentu, yakni konsentrasi klorofil-a antara 0,2–0,5 mg/m³, curah hujan 2,1–5,5 mm per hari, salinitas 32,15–33,6 ppt, suhu permukaan laut 27,7–31,3°C, serta kecepatan angin 0–7,4 m/s.

Selain itu, pemodelan Habitat Suitability Index (HSI) menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian habitat tertinggi terjadi pada bulan Juni dengan nilai HSI mencapai 1. Namun demikian, wilayah dengan kesesuaian tinggi tersebut memiliki luasan yang relatif terbatas di Laut Jawa. Menurut Rivaldo, penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi kegiatan penangkapan ikan, khususnya bagi nelayan tradisional yang selama ini masih mengandalkan pengalaman dan kebiasaan dalam menentukan lokasi penangkapan. Dengan adanya peta zona potensi penangkapan berbasis data lingkungan, nelayan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat untuk menentukan daerah tangkap yang produktif.

Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi teknologi pemodelan dan data oseanografi dalam mendukung pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Dari Tradisi ke Sains: Mahasiswa Perikanan Kaji Alat Tangkap Ikan “Wadhong Gandhul” Khas Kulon Progo

Berita Jumat, 13 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ainun Rodhiyah Nurhayati, melakukan penelitian mengenai alat tangkap ikan tradisional khas lokal yang dikenal dengan nama wadhong gandhul di kawasan Bendungan Kamijoro, yang berada di wilayah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini mengungkap keunikan alat tangkap tersebut serta perannya dalam memahami perilaku migrasi ikan di Sungai Progo.

Wadhong gandhul merupakan alat tangkap ikan pasif tradisional yang bekerja tanpa menggunakan umpan. Alat ini berbentuk perangkap yang dilengkapi dengan penghadang sehingga dapat mengarahkan ikan menuju bagian penampung. Prinsip kerjanya cukup unik, yakni menangkap ikan yang melompat dari arah hilir menuju hulu ketika menghadapi bangunan terjunan air atau spillway bendungan.

 

Penelitian yang dibimbing Oleh Prof. Djumanto, mengarhakan Ainun melakukan pengambilan data selama lima bulan, mulai September 2025 hingga Januari 2026 di Sungai Progo. Wadhong gandhul yang digunakan memiliki bentuk persegi panjang dengan cekungan pada bagian depan yang berfungsi sebagai penampung ikan. Kerangka alat dibuat dari kayu kaso dan bambu, kemudian dilapisi waring. Alat ini dioperasikan dengan cara digantungkan pada tiang jembatan bendungan dan diturunkan hingga berada sekitar 30 sentimeter di atas permukaan air.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap ini berhasil menangkap berbagai jenis ikan air tawar dari famili Cyprinidae. Beberapa spesies yang tertangkap antara lain wader pari (Rasbora argyrotaenia), kepek (Mystacoleucus obtusirostris), melem (Osteochilus vittatus), beles (Barbonymus schwanenfeldii), lukas (Labiobarbus leptocheilus), palung (Hampala macrolepidota), serta tawes (Barbonymus gonionotus).

Penelitian ini juga menemukan bahwa hasil tangkapan ikan cenderung meningkat pada awal musim hujan, khususnya antara September hingga Desember, serta lebih banyak terjadi pada sore hari. Analisis tingkat kematangan gonad menunjukkan sebagian besar ikan berada pada fase TKG II hingga IV, yang mengindikasikan bahwa ikan-ikan tersebut sedang melakukan migrasi untuk memijah.

Menurut Ainun, temuan ini menunjukkan pentingnya keberadaan jalur migrasi ikan di sungai yang memiliki bendungan. Oleh karena itu, pembangunan jalur khusus ikan atau fishway tipe vertical slot dinilai menjadi salah satu solusi untuk mendukung pergerakan ikan secara alami di ekosistem sungai. Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa alat tangkap tradisional seperti wadhong gandhul tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana penting dalam penelitian ekologi perikanan di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Waspada Mikroplastik! Penelitian Mahasiswa Ungkap Pencemaran di Sungai Opak–Oyo Bantul

Berita Kamis, 12 Maret 2026

Pencemaran mikroplastik kini menjadi isu lingkungan global yang juga mulai terdeteksi di berbagai perairan Indonesia. Hal ini terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fidella Kristofani Tarigan, yang meneliti kontaminasi mikroplastik pada air dan sedimen di Sungai Opak–Oyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sungai Opak merupakan salah satu sungai besar di wilayah Yogyakarta yang terhubung dengan beberapa sungai lain seperti Winongo, Gajah Wong, Code, Oyo, dan Progo. Aktivitas manusia yang tinggi di sepanjang aliran sungai, mulai dari permukiman hingga aktivitas ekonomi, diduga menjadi sumber masuknya limbah plastik yang kemudian terurai menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik, yaitu plastik berukuran kurang dari 5 milimeter.

Penelitian yang dilakukan pada November 2025 ini mengambil sampel air dan sedimen di lima stasiun pengamatan dengan tiga kali pengulangan. Sampel air sebanyak 10 liter disaring menggunakan plankton net, sementara sedimen diambil menggunakan alat Ekman grab. Proses analisis dilakukan dengan menghancurkan material organik menggunakan larutan hidrogen peroksida serta memisahkan partikel mikroplastik melalui metode pemisahan densitas menggunakan larutan NaCl.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Opak telah terkontaminasi mikroplastik baik pada air maupun sedimen. Kelimpahan tertinggi pada air ditemukan di stasiun Tempuran Opak–Winongo dengan nilai 2,80 ± 0,44 partikel per liter. Sementara pada sedimen, jumlah tertinggi ditemukan di kawasan Jembatan Kretek 2 dengan 250 ± 100 partikel per kilogram.

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan berbentuk fiber dan fragmen, dengan ukuran dominan 50–500 mikrometer dan warna biru sebagai warna yang paling umum. Temuan ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah plastik agar tidak terus mencemari ekosistem sungai dan laut di masa depan. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

12345
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY