• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • Kerja Sama
    • Laporan Kinerja UPPS
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Berita
  • Nembah di Tengah Gelombang: Sinergi Kearifan Lokal, Ilmu Pengetahuan, dan Ketahanan Nelayan Pesisir Selatan Jawa

Nembah di Tengah Gelombang: Sinergi Kearifan Lokal, Ilmu Pengetahuan, dan Ketahanan Nelayan Pesisir Selatan Jawa

  • Berita
  • 7 April 2026, 11.52
  • Oleh: mediaperikanan.faperta
  • 0

Aktivitas penangkapan ikan di pesisir selatan Jawa yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia kerap menghadapi tantangan musim dan gelombang tinggi. Kondisi ini membatasi ruang gerak nelayan skala kecil untuk melaut lebih jauh dan menjangkau daerah tangkapan yang lebih produktif. Namun demikian, praktik lokal seperti nembah—teknik menangkap ikan menggunakan panah atau speargun—tetap dapat dilakukan di wilayah perairan yang relatif terlindung dan lebih dekat dengan garis pantai. Ketika kondisi ekologi perairan masih terjaga, metode ini terbukti mampu memberikan hasil tangkapan yang optimal.

Memasuki bulan April yang dikenal sebagai periode gelombang besar, aktivitas nembah kembali dilakukan oleh nelayan di Pantai Ngandong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Praktik ini menjadi bentuk adaptasi terhadap dinamika alam sekaligus strategi mempertahankan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Di sisi lain, masyarakat pesisir menghadapi kerentanan yang kerap luput dari perhatian, terutama dampak degradasi lingkungan yang berasal dari wilayah daratan. Limbah dan pencemaran yang terbawa aliran sungai hingga ke laut dapat merusak ekosistem pesisir, menurunkan kualitas habitat ikan, dan pada akhirnya memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Melindungi nelayan skala kecil menjadi sangat penting, mengingat mereka merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan lingkungan dan dinamika sumber daya perikanan.

Praktik penangkapan selektif seperti nembah tidak hanya membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan nelayan. Ikan hasil tangkapan menjadi sumber protein utama sekaligus penopang ketahanan pangan rumah tangga pesisir. Lebih jauh, praktik yang selaras dengan alam turut menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan laut sebagai ruang hidup.

Situasi ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara nelayan, masyarakat pesisir, akademisi, dan pemerintah. Melalui pendekatan partisipatif seperti citizen science, berbagai pihak dapat bersama-sama mencari solusi berbasis pengetahuan. Kerja sama dengan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) misalnya, membuka peluang bagi nelayan untuk memahami siklus hidup ikan, pola migrasi, serta waktu tangkap yang tepat. Integrasi pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal diharapkan mampu mendorong praktik perikanan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

 

Sumberfoto: Rujimanto-nelayan Pantai Ngandong. Foto 1. Nelayan Bersiap melakukan penangkapan ikan menggunakan metode nembah; foto 2 Hasil tangkapan ikan nelayan pada tanggal 8 april 2026 menggunakan metode nembah yang selektif untuk ikan besar dan hasil optimal.

Tags: Fakultas Pertanian UGM Perikanan UGM SDG 14: Ekosistem Lautan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY