• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure
  • SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure
Arsip:

SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM Hadirkan Orasi Ilmiah tentang Transformasi Strategis Perikanan Budi Daya Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sekaligus membahas masa depan sektor perikanan Indonesia. Salah satu agenda utama dalam perayaan tersebut adalah Orasi Ilmiah bertajuk “Perikanan Budi Daya Indonesia Berkelanjutan, Inovatif, Mendunia: Transformasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045.”

Orasi ilmiah disampaikan oleh Rokhmad Mohammad Rofiq, S.Pi., M.App.Sc., Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Dalam paparannya, ia menempatkan perikanan budi daya sebagai sektor strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan agenda ekonomi biru Indonesia.

Rokhmad menekankan bahwa masa depan perikanan budi daya Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Transformasi perlu diarahkan pada sistem budi daya yang lebih produktif, berkelanjutan, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Menurut materi orasi, transformasi tersebut mencakup pergeseran dari ekspansi kawasan menuju produktivitas berbasis daya dukung ekosistem, dari ketergantungan input menuju penguatan kapabilitas domestik, serta dari sekadar adopsi teknologi menuju pembangunan ekosistem inovasi.

Teknologi dalam konteks tersebut tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pengungkit kemampuan pelaku perikanan dalam menghadapi perubahan. Pemanfaatan teknologi perlu didukung kemampuan untuk membaca perubahan, menangkap peluang, dan melakukan transformasi dalam sistem produksi.

Transformasi juga perlu terjadi pada cara melihat keberhasilan sektor perikanan. Pengembangan perikanan tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah produksi, tetapi juga berdasarkan nilai ekonomi, lapangan kerja, efisiensi, dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Karena itu, pengembangan budi daya perlu terhubung dengan keseluruhan rantai nilai, mulai dari pakan dan produksi, panen, pengolahan, rantai dingin, hingga pemasaran. Pendekatan value-chain-based development menjadi penting agar komoditas perikanan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan memiliki daya saing di pasar global.

Pada saat yang sama, orientasi menuju pasar dunia harus diikuti dengan peningkatan standar kualitas, keamanan pangan, traceability, keberlanjutan, serta konsistensi pasokan.

Salah satu pesan penting dalam orasi adalah bahwa peningkatan produktivitas tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem. Pengembangan perikanan budi daya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kualitas air, penyakit, limbah, serta keberadaan ekosistem pendukung.

Transformasi juga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, pembudidaya, perguruan tinggi, peneliti, lembaga pembiayaan, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang saling mendukung. Dalam pendekatan ini, pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai strategic orchestrator yang mempertemukan berbagai kepentingan dan sumber daya.

Bagi Departemen Perikanan UGM, gagasan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut menjadi relevan dengan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang adaptif dan inovatif.

Mahasiswa dan akademisi perikanan perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan secara lebih luas—tidak hanya mengenai produksi ikan, tetapi juga teknologi, ekonomi, lingkungan, rantai nilai, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat. Perspektif lintas bidang tersebut menjadi semakin penting untuk menghadapi kompleksitas sektor perikanan di masa depan.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM melalui orasi ilmiah ini sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen Departemen Perikanan dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Orasi ilmiah ini sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan perikanan budi daya yang produktif, inovatif, berkelanjutan, dan kolaboratif menuju Indonesia Emas 2045.

Puncak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Paparkan Capaian dan Arah Pengembangan Perikanan Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan, capaian, sekaligus arah pengembangan Departemen Perikanan dalam menjawab tantangan perikanan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Departemen Perikanan menyampaikan Laporan Tahunan 2026 yang merangkum perkembangan bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan institusi, kemitraan, publikasi, hingga prestasi mahasiswa. Laporan ini sekaligus memperlihatkan kontribusi Departemen Perikanan dalam mewujudkan tema HUT ke-63, “Perikanan Indonesia: Berkelanjutan, Inovatif, dan Mendunia.”

Pada tahun akademik 2026/2027, Departemen Perikanan UGM menaungi 1.020 mahasiswa aktif yang tersebar pada Program Studi Akuakultur, Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Teknologi Hasil Perikanan (THP), Magister Ilmu Perikanan (MIP), serta program doktor. Tahun ini juga tercatat 235 mahasiswa baru program sarjana, menunjukkan minat yang terus berkembang terhadap pendidikan tinggi di bidang perikanan.

Perkembangan akademik tersebut didukung oleh 38 dosen aktif pada tiga program studi sarjana, serta tenaga pendidik pada jenjang magister dan doktor. Departemen juga terus memperkuat kapasitas akademiknya melalui kehadiran dosen baru dan program tugas belajar di berbagai universitas internasional, termasuk di Jepang, Tiongkok, Australia, dan Turki.

Dari sisi sarana pembelajaran, Departemen Perikanan memiliki berbagai laboratorium yang mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian, antara lain Laboratorium Akuakultur, Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, Sosial Ekonomi dan Penangkapan Ikan, Manajemen Sumberdaya Perikanan, serta Teknologi Pengolahan Ikan. Fasilitas tersebut dilengkapi pula dengan Ruang Penelitian Ilmu Perairan Maju dan Teaching Farm Akuakultur.

Pada bidang penelitian, Departemen Perikanan mencatat 104 judul penelitian pada 2026 dengan total dana sekitar Rp10,75 miliar, yang terdiri atas Rp1,73 miliar dana internal dan Rp9,02 miliar dana eksternal. Dominasi pendanaan eksternal yang mencapai 83,9% menunjukkan semakin kuatnya kemampuan sivitas akademika dalam membangun jejaring dan memperoleh dukungan penelitian dari berbagai sumber.

Produktivitas ilmiah juga terus berkembang. Pada 2026 tercatat 73 publikasi terindeks Scopus dan 130 publikasi yang tercatat di Google Scholar, dengan jumlah sitasi masing-masing mencapai 1.578 dan 1.792.

Tidak berhenti pada publikasi, hasil penelitian juga diarahkan menuju hilirisasi. Sejumlah inovasi yang dikembangkan mencakup probiotik, nano-spirulina fermentasi, biofilter rumput laut, garam kosmetik dan terapi, aplikasi digital untuk perikanan tangkap dan budi daya, hingga sistem resirkulasi akuakultur dan teknologi pengolahan hasil perikanan. Departemen juga mencatat sejumlah kekayaan intelektual yang telah memperoleh maupun sedang dalam proses perlindungan.

Kontribusi Departemen Perikanan juga diwujudkan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Pada 2026 terdapat 104 judul kegiatan pengabdian dengan dukungan dana sekitar Rp956,5 juta, dengan 64,2% berasal dari sumber eksternal.

Berbagai kegiatan diarahkan pada persoalan nyata masyarakat, seperti pelepasliaran ikan, pemantauan perairan, pembersihan embung, pemanfaatan air tawar untuk produksi garam laut menggunakan teknologi SWRO, serta Grebek Ikan Sapu-Sapu di Rawa Kalibayem.

Jejaring kerja sama juga terus diperluas. Departemen memiliki mitra dalam negeri dan luar negeri yang mencakup institusi pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan sektor industri. Kemitraan internasional antara lain terbangun dengan University of Tasmania, Xiamen University, University of Stirling, Universiti Putra Malaysia, National Taiwan University, Pukyong National University, dan berbagai institusi lainnya.

Pengembangan mahasiswa menjadi bagian penting dari agenda Departemen Perikanan. Program magang berdampak telah melibatkan 135 mahasiswa dari 156 mahasiswa peserta magang pada tiga program studi sarjana, dengan dukungan 83 mitra magang berdampak.

Kesempatan internasional juga terus dibuka melalui berbagai skema student mobility dan credit transfer, seperti AIMS, ASEAN-FEN, IISMA, JASSO, MTCRC, dan kemitraan antaruniversitas.

Di bidang prestasi, pada 2026 tercatat 25 mahasiswa meraih prestasi melalui 27 kompetisi. Prestasi tersebut mencakup kompetisi nasional maupun internasional, mulai dari kompetisi Smart Ecosystem Engagement & Development, International Youth Innovation Summit, hingga berbagai kompetisi olahraga dan akademik.

Puncak HUT ke-63 juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi publik Departemen Perikanan. Melalui Media Perikanan, website, Instagram, YouTube, TikTok, dan layanan WhatsApp, Departemen terus menyebarluaskan informasi akademik, penelitian, kegiatan, serta berbagai perkembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Seluruh capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan Departemen Perikanan UGM untuk terus bergerak dari kekuatan akademik menuju kontribusi yang semakin nyata bagi masyarakat dan sektor perikanan. Pendidikan, penelitian, pengabdian, inovasi, kemitraan, dan pengembangan mahasiswa menjadi satu ekosistem yang saling menguatkan.

Laporan Tahunan 2026 yang disampaikan pada puncak HUT ke-63 sekaligus menjadi refleksi bahwa perjalanan Departemen Perikanan selama lebih dari enam dekade terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Dari penguatan pendidikan hingga inovasi yang dihilirkan, dari kerja sama lokal hingga jejaring internasional, Departemen Perikanan UGM terus mempersiapkan diri untuk berkontribusi pada masa depan perikanan Indonesia.

Sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), Departemen Perikanan UGM meneguhkan komitmennya untuk membangun perikanan Indonesia yang semakin berkelanjutan, inovatif, inklusif, dan berdaya saing global.

Departemen Perikanan UGM Jalani Audit Mutu Internal 2026, Perkuat Komitmen Peningkatan Mutu Pendidikan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, September 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat komitmennya terhadap peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan melalui pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) 2026. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengevaluasi dan memastikan pemenuhan standar mutu akademik pada seluruh program studi di lingkungan Departemen Perikanan.

AMI 2026 mencakup lima program studi, yaitu Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Teknologi Hasil Perikanan (THP), Akuakultur, Magister Ilmu Perikanan (MIP), serta Program Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis.

Pelaksanaan AMI menjadi bagian penting dalam sistem penjaminan mutu internal UGM. Melalui proses audit, setiap program studi memperoleh kesempatan untuk mengevaluasi pelaksanaan berbagai kegiatan akademik sekaligus mengidentifikasi aspek-aspek yang masih dapat ditingkatkan.

Audit Mutu Internal tidak semata-mata diposisikan sebagai proses pemeriksaan administratif, tetapi menjadi instrumen untuk membangun budaya mutu dan perbaikan berkelanjutan di lingkungan Departemen Perikanan.

Melalui AMI, berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan dapat ditinjau secara sistematis, termasuk pelaksanaan proses pembelajaran, pengelolaan akademik, sumber daya, capaian pendidikan, serta berbagai proses pendukung lainnya sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan.

Hasil audit diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan yang telah dimiliki masing-masing program studi sekaligus menemukan ruang perbaikan yang perlu ditindaklanjuti. Dengan demikian, AMI menjadi bagian dari siklus evaluasi–perbaikan–peningkatan mutu yang dilakukan secara berkelanjutan.

Pelaksanaan AMI secara menyeluruh pada lima program studi menunjukkan komitmen Departemen Perikanan UGM untuk memastikan bahwa peningkatan mutu dilakukan pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari program sarjana hingga doktor.

Keberagaman bidang keilmuan yang dimiliki Departemen Perikanan—mulai dari pengelolaan sumberdaya akuatik, akuakultur, teknologi hasil perikanan, hingga ilmu perikanan dan kelautan tropis—memerlukan sistem penjaminan mutu yang mampu menjaga karakteristik masing-masing program studi sekaligus memastikan tercapainya standar akademik yang ditetapkan universitas.

Dalam konteks tersebut, AMI menjadi ruang refleksi bagi setiap program studi untuk melihat kembali proses yang telah berjalan dan memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan senantiasa relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dunia kerja, serta tantangan pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, mutu pendidikan merupakan fondasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang unggul, adaptif, dan mampu menghadapi perubahan.

Tantangan sektor perikanan saat ini semakin kompleks. Perubahan iklim, perkembangan teknologi, transformasi digital, ketahanan pangan, keberlanjutan sumber daya, dinamika masyarakat pesisir, serta kebutuhan industri terhadap inovasi membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan nyata.

Karena itu, sistem penjaminan mutu pendidikan memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa proses pembelajaran dan pengembangan akademik mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Pelaksanaan AMI 2026 diharapkan tidak berhenti pada penyelesaian proses audit, tetapi dilanjutkan dengan tindak lanjut dan peningkatan nyata pada masing-masing program studi. Dengan demikian, hasil audit dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dan pengembangan program di masa mendatang.

Melalui AMI 2026, Departemen Perikanan UGM menegaskan bahwa mutu bukan sekadar capaian yang harus dipenuhi, melainkan budaya yang harus terus dibangun dan dikembangkan. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya Departemen Perikanan untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas sekaligus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia bagi masa depan kelautan dan perikanan Indonesia.

Pelaksanaan AMI 2026 juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan sistem penjaminan mutu dan peningkatan kualitas pendidikan, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan kapasitas akademik dan inovasi. Pada akhirnya, pendidikan perikanan yang bermutu menjadi salah satu fondasi untuk mendukung SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui lahirnya generasi ilmuwan dan profesional yang mampu mengelola sumber daya perikanan dan kelautan secara berkelanjutan.

Kenal Perikanan UGM 2026: Membuka Perjalanan Mahasiswa Baru dari Kampus hingga Industri Perikanan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 30 Agustus 2026 — Sebanyak 270 peserta mengikuti rangkaian Kenal Perikanan UGM 2026, sebuah kegiatan pengenalan dan pembelajaran lapangan yang mempertemukan mahasiswa baru Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan lingkungan akademik sekaligus dunia nyata sektor perikanan.

Kegiatan yang berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 ini diikuti oleh 235 mahasiswa dari tiga program studi, yakni Akuakultur sebanyak 77 mahasiswa, Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA) sebanyak 79 mahasiswa, dan Teknologi Hasil Perikanan (THP) sebanyak 79 mahasiswa. Selain mahasiswa, kegiatan juga melibatkan 17 dosen, 8 tenaga kependidikan, 2 personel Media Perikanan, 7 pendamping, serta 1 perwakilan KKA Fakultas.

Kenal Perikanan 2026 tidak berhenti pada kegiatan pengenalan di lingkungan kampus. Setelah mengikuti Pra Kenal Perikanan pada 24 Agustus 2026, mahasiswa diajak melakukan perjalanan lapangan untuk melihat secara langsung berbagai aktivitas dalam rantai sektor perikanan.

Dalam kegiatan lapangan, peserta terbagi dalam tujuh bus dengan tujuan kunjungan yang berbeda. Lokasi yang dikunjungi meliputi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana, serta sejumlah perusahaan pengolahan hasil perikanan, yaitu PT Java Kayana Segara, PT Morenzo Abadi Perkasa, PT Guna Citra Kartika, PT Urchindize Indonesia, dan PT Cassanatama Naturindo.

Pemilihan berbagai lokasi tersebut memberikan gambaran mengenai luasnya ekosistem perikanan yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mahasiswa. Dari budidaya, pengolahan hasil perikanan, hingga aktivitas pelabuhan dan pelelangan ikan, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana ilmu perikanan diterapkan dalam berbagai konteks.

Pada kunjungan ke PT Java Kayana Segara di Semarang, misalnya, mahasiswa mendapatkan kesempatan melihat proses pengemasan crab meat serta proses pasteurisasi dalam kaleng. Sementara itu, kunjungan ke PT Morenzo Abadi Perkasa di Demak memperkenalkan mahasiswa pada proses pengalengan rajungan dan ikan serta pengolahan makanan laut beku. Mahasiswa juga mengunjungi PT Guna Citra Kartika di Jepara serta PT Urchindize Indonesia. Di PT Urchindize Indonesia, peserta diperkenalkan dengan proses produksi ikan teri nasi kering dan bubuk ikan kering. Sementara itu, kunjungan ke PT Cassanatama Naturindo di Semarang melengkapi rangkaian kunjungan industri yang menjadi bagian dari Kenal Perikanan 2026.

Selain sektor pengolahan, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman lapangan pada sektor budidaya perikanan melalui kunjungan ke BBPBAP Jepara. Dalam kunjungan tersebut, peserta mengikuti briefing pelayanan publik dan memperoleh penjelasan dari tim kelompok kerja mengenai pembesaran udang vaname di tambak.

Pengalaman kemudian dilanjutkan pada sektor perikanan tangkap melalui kunjungan ke PPP Juwana pada 30 Agustus 2026. Di lokasi tersebut, mahasiswa melihat secara langsung aktivitas pelelangan ikan di TPI Unit 2 Juwana serta tempat bersandarnya kapal-kapal penangkap ikan besar.

Rangkaian tersebut memberikan gambaran bahwa perikanan merupakan sebuah sistem yang luas. Ikan yang dikonsumsi masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi melewati berbagai tahapan, mulai dari produksi, penangkapan atau budidaya, penanganan, pengolahan, hingga distribusi dan pemasaran.

Salah satu karakter utama Kenal Perikanan 2026 adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pelaku dan institusi yang bergerak di sektor perikanan. Dalam beberapa kunjungan, mahasiswa juga diarahkan untuk mengisi lembar kerja sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran selama berada di lapangan.

Pengalaman tersebut menjadi pelengkap bagi proses pembelajaran di kampus. Mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan program studi masing-masing, tetapi sejak awal diajak memahami bahwa ilmu Akuakultur, MSA, dan THP memiliki keterkaitan erat dalam membangun sektor perikanan yang utuh.

Bagi mahasiswa Akuakultur, pengalaman di BBPBAP memberikan gambaran mengenai praktik budidaya. Mahasiswa THP dapat melihat secara langsung bagaimana komoditas perikanan diolah menjadi produk bernilai tambah, sementara mahasiswa MSA dapat melihat keterkaitan antara aktivitas perikanan, pelabuhan, dan pemanfaatan sumber daya. Ketiganya bertemu dalam satu sistem perikanan yang saling terhubung.

Lebih dari sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru, Kenal Perikanan UGM 2026 menjadi langkah awal untuk memperkenalkan luasnya ruang kontribusi lulusan perikanan. Mahasiswa diajak melihat bahwa masa depan perikanan tidak hanya berada di laut atau tambak, tetapi juga di industri pengolahan, teknologi, kewirausahaan, pengelolaan sumber daya, kebijakan, dan berbagai bidang lainnya.

Perjalanan selama dua hari tersebut juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan antarmahasiswa dari tiga program studi. Dengan tujuh bus yang masing-masing didampingi oleh dosen, tenaga kependidikan, dan pendamping, kegiatan dirancang sebagai perjalanan bersama untuk mengenal lebih dekat dunia perikanan sekaligus keluarga besar Departemen Perikanan.

Melalui Kenal Perikanan 2026, Departemen Perikanan UGM menanamkan pesan bahwa menjadi mahasiswa perikanan berarti mempersiapkan diri untuk memahami dan membangun sebuah sektor yang kompleks, strategis, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Pengalaman pertama di lapangan diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjalani perjalanan akademik dengan perspektif yang lebih luas mengenai peran mereka di masa depan.

Kegiatan Kenal Perikanan 2026 turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pembelajaran berbasis pengalaman, pengenalan dunia industri dan praktik perikanan, serta penguatan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

Dari ruang kuliah menuju tambak, industri pengolahan, hingga pelabuhan perikanan, Kenal Perikanan 2026 menjadi langkah pertama bagi mahasiswa baru UGM untuk mengenal lebih dekat dunia yang kelak mereka bangun: perikanan Indonesia yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan.

Teknologi Hasil Perikanan UGM Raih Akreditasi Unggul, Teguhkan Komitmen Pendidikan dan Inovasi Perikanan Berkelanjutan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026 — Kabar membanggakan kembali hadir dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) berhasil memperoleh status akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP).

Berdasarkan Keputusan Nomor 001/SK/LAMPTIP/Ak.U/S/VIII/2026, status akreditasi Unggul tersebut berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen 365,68. Keputusan tersebut ditetapkan di Surakarta pada 24 Agustus 2026 oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng.

Predikat Unggul menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan di Program Studi THP UGM. Bagi Departemen Perikanan, capaian ini tidak hanya menjadi pengakuan formal, tetapi juga mencerminkan komitmen sivitas akademika dalam membangun pendidikan perikanan yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia industri.

Bidang Teknologi Hasil Perikanan memiliki posisi strategis dalam rantai nilai perikanan. Sumber daya ikan tidak cukup hanya ditangkap atau dibudidayakan, tetapi perlu ditangani dan diolah secara tepat agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, aman dikonsumsi, memiliki daya saing, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan kompetensi lulusan THP tidak hanya mencakup teknologi pengolahan, tetapi juga mencakup kemampuan memahami keamanan pangan, pengembangan produk, bioteknologi, inovasi, hingga pengelolaan industri hasil perikanan. Profil lulusan yang dikembangkan juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja, mulai dari wirausaha dan profesional hingga ASN dan asisten peneliti.

Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar. Namun, tantangan sektor ini tidak berhenti pada produksi. Kehilangan hasil, keterbatasan teknologi pascapanen, rendahnya diversifikasi produk, serta kebutuhan terhadap pangan yang aman dan berkualitas menjadi tantangan yang membutuhkan inovasi.

Dalam konteks tersebut, THP UGM berperan penting dalam mengembangkan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan. Pengembangan teknologi pengolahan, inovasi produk, bioteknologi hasil perairan, serta pemanfaatan hasil samping dapat menjadi bagian dari upaya membangun industri perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan visi THP UGM untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi hasil perikanan serta mampu berkontribusi dalam pemanfaatan sumber daya ikan dan kelautan secara optimal, lestari, dan bermanfaat.

Capaian akreditasi ini juga tidak terlepas dari proses panjang peningkatan mutu yang melibatkan berbagai unsur Departemen Perikanan UGM. Sebelumnya, Departemen Perikanan telah melakukan berbagai persiapan dan koordinasi untuk menghadapi asesmen lapangan LAM-PTIP, yang melibatkan dosen, pengelola program studi, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta mitra pengguna lulusan.

Proses tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan, mulai dari kurikulum, sumber daya manusia, proses pembelajaran, penelitian, luaran lulusan, fasilitas, hingga jejaring kerja sama.

Dengan diraihnya akreditasi Unggul, Departemen Perikanan UGM menempatkan capaian tersebut bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai landasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, inovasi, dan kontribusi THP bagi pembangunan perikanan Indonesia.

Ke depan, tantangan sektor perikanan akan semakin kompleks. Perubahan iklim, tuntutan keamanan pangan, perkembangan teknologi, kebutuhan industri terhadap produk inovatif, serta tuntutan keberlanjutan menuntut sumber daya manusia yang mampu berpikir lintas disiplin.

Dalam konteks ekonomi biru, teknologi hasil perikanan memiliki peran penting untuk memastikan bahwa sumber daya akuatik yang telah dimanfaatkan dapat memberikan nilai ekonomi maksimal dengan tetap memperhatikan efisiensi sumber daya dan dampak lingkungan.

Lulusan THP diharapkan mampu menjadi bagian dari transformasi tersebut, baik melalui pengembangan industri pengolahan, kewirausahaan, penelitian dan inovasi, maupun pengembangan kebijakan dan pelayanan publik.

Capaian akreditasi Unggul Program Studi Teknologi Hasil Perikanan UGM sekaligus memperkuat kontribusi Departemen Perikanan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Pendidikan berkualitas mendukung SDG 4, sementara pengembangan teknologi dan inovasi hasil perikanan berkontribusi pada SDG 9. Pengembangan produk pangan berbasis ikan juga mendukung SDG 2, sedangkan efisiensi proses pengolahan, pemanfaatan hasil samping, dan pengurangan limbah mendukung SDG 12.

Pada akhirnya, penguatan teknologi pascapanen dan pengolahan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi sumber daya perikanan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya akuatik secara lebih bertanggung jawab, sejalan dengan SDG 14.

Akreditasi Unggul THP UGM menjadi bukti bahwa pendidikan perikanan tidak hanya mempersiapkan lulusan untuk bekerja, tetapi juga menyiapkan talenta yang mampu mengubah potensi sumber daya perikanan menjadi inovasi, nilai tambah, dan solusi bagi masa depan ekonomi biru Indonesia yang berkelanjutan.

Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Akreditasi Unggul LAM-PTIP, Teguhkan Komitmen Pendidikan Perikanan Berkualitas

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026 — Kabar membanggakan datang dari Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program studi tersebut berhasil memperoleh akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP), menegaskan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam menghadirkan pendidikan pascasarjana yang bermutu, relevan, dan berdaya saing.

Penetapan tersebut berdasarkan Keputusan LAM-PTIP Nomor 002/SK/LAMPTIP/Ak.U/Mg/VIII/2026. Status akreditasi Unggul berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen sebesar 376,22. Keputusan tersebut secara resmi ditetapkan di Surakarta oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., pada 24 Agustus 2026.

Predikat Unggul merupakan capaian penting bagi Program Studi Magister Ilmu Perikanan UGM. Akreditasi tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan, tata kelola akademik, serta proses pembelajaran yang dikembangkan oleh program studi.

Bagi Departemen Perikanan UGM, capaian ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan bagian dari proses berkelanjutan untuk memastikan bahwa pendidikan magister mampu menjawab kebutuhan sektor perikanan yang terus berkembang.

Perubahan lingkungan, perkembangan teknologi, dinamika ekonomi perikanan, perubahan sosial masyarakat pesisir, serta tuntutan terhadap pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan membutuhkan sumber daya manusia dengan kapasitas akademik dan kemampuan analitis yang kuat.

Dalam konteks tersebut, pendidikan magister memiliki peran strategis dalam membentuk ilmuwan, peneliti, profesional, dan pengambil kebijakan masa depan bidang perikanan.

Akreditasi Unggul juga menjadi momentum bagi Program Magister Ilmu Perikanan untuk terus memperkuat ekosistem penelitian dan inovasi. Pengembangan ilmu perikanan tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan untuk menghasilkan pengetahuan yang mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.

Berbagai tantangan seperti keberlanjutan sumber daya ikan, perubahan iklim, transformasi teknologi, ketahanan pangan, pengembangan akuakultur, pengolahan hasil perikanan, hingga kesejahteraan masyarakat pesisir membutuhkan pendekatan yang semakin multidisiplin.

Karena itu, pendidikan magister di bidang perikanan tidak hanya diarahkan pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa untuk menghasilkan penelitian, mengembangkan inovasi, serta merumuskan solusi berbasis bukti.

Capaian akreditasi ini sekaligus memperkuat posisi Program Magister Ilmu Perikanan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan dan penelitian UGM yang berkontribusi terhadap pengembangan sektor perikanan Indonesia.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola potensi kelautan dan perikanan secara produktif sekaligus berkelanjutan.

Dalam konteks ekonomi biru, pengembangan sektor perikanan membutuhkan lulusan yang mampu melihat hubungan antara aspek ekologis, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan. Pendidikan magister menjadi salah satu ruang penting untuk membangun kapasitas tersebut.

Program Magister Ilmu Perikanan UGM diharapkan terus menghasilkan lulusan yang mampu berkontribusi di berbagai bidang, baik sebagai akademisi dan peneliti, profesional, birokrat, maupun penggerak inovasi dan pembangunan masyarakat.

Dengan demikian, predikat Unggul bukan menjadi titik akhir, tetapi landasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan kontribusi nyata Departemen Perikanan UGM bagi pembangunan perikanan nasional dan global.

Pencapaian akreditasi Unggul ini juga memperkuat kontribusi Departemen Perikanan UGM terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Penyelenggaraan pendidikan magister yang berkualitas secara langsung mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), sementara pengembangan riset dan inovasi berkontribusi pada SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).

Pada saat yang sama, penguatan ilmu pengetahuan dan kapasitas sumber daya manusia di bidang perikanan menjadi bagian penting dalam mendukung SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pengembangan pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Penguatan jejaring penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat juga mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Dengan diraihnya akreditasi Unggul, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus membangun pendidikan perikanan yang unggul, menghasilkan pengetahuan dan inovasi, serta menyiapkan generasi akademisi dan profesional yang mampu menjadikan sumber daya kelautan dan perikanan sebagai fondasi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

PelletQ-AI: Inovasi Mahasiswa UGM Integrasikan AI dan Mesin Otomatis untuk Wujudkan Kemandirian Pakan Ikan

BeritaUncategorized Senin, 7 September 2026

Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil merealisasikan PelletQ-AI, sebuah sistem produksi pakan ikan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan mesin produksi pelet otomatis. Inovasi ini dikembangkan untuk membantu pembudidaya menghasilkan pakan ikan secara mandiri melalui proses formulasi dan produksi yang terintegrasi, sehingga dapat menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengembangan PelletQ-AI berangkat dari permasalahan yang dihadapi mitra, yaitu Budidaya Lele Pak Nanang di Kalurahan Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam usaha budidaya lele, biaya pakan masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi, yakni mencapai lebih dari 60–70 persen. Kenaikan harga pakan komersial yang tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ikan menyebabkan keuntungan pembudidaya semakin tertekan. Kondisi tersebut membuat ketergantungan terhadap pakan komersial masih relatif tinggi.

Selain tingginya biaya pakan, mitra juga belum memiliki fasilitas untuk memproduksi pakan secara mandiri. Ketiadaan mesin produksi pakan serta sistem yang dapat membantu menyusun formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan menyebabkan mitra bergantung sepenuhnya pada pakan komersial. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-PI UGM mengembangkan PelletQ-AI sebagai solusi yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sistem produksi pakan dalam satu ekosistem.

Berbeda dengan mesin pencetak pelet konvensional, PelletQ-AI dilengkapi dengan platform web app.pelletqai.com yang terhubung langsung dengan sistem kecerdasan buatan. Melalui platform tersebut, pembudidaya hanya perlu memasukkan data budidaya serta informasi mengenai bahan baku yang tersedia dan harganya. Selanjutnya, sistem AI melakukan optimasi untuk menghasilkan formulasi pakan dengan biaya serendah mungkin tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan nutrisi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil optimasi tersebut kemudian dikirimkan secara otomatis ke mesin PelletQ-AI sebagai acuan dalam proses produksi.

Seluruh proses produksi dilakukan secara otomatis di dalam mesin, mulai dari pencampuran bahan baku, pemasakan menggunakan sistem pemanas (heater), ekstrusi, pencetakan, hingga pemotongan pelet dalam satu rangkaian kerja yang terintegrasi. Dengan demikian, pelet yang dihasilkan telah matang dan siap digunakan sebagai pakan ikan tanpa memerlukan proses lanjutan.

Ketua Tim PKM-PI UGM, R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata, menjelaskan bahwa PelletQ-AI dirancang untuk menjawab permasalahan pembudidaya secara menyeluruh.

“PelletQ-AI tidak hanya berfungsi sebagai mesin produksi pelet, tetapi merupakan sistem produksi pakan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan, dan proses manufaktur dalam satu kesatuan. Melalui sistem ini, pembudidaya dapat memperoleh formulasi pakan dengan biaya yang lebih efisien namun tetap memenuhi standar nutrisi, kemudian langsung memproduksinya secara mandiri.”

Dosen pembimbing PKM-PI, Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin mampu menghasilkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat.

“PelletQ-AI merupakan contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggabungkan aspek rekayasa mesin, kecerdasan buatan, teknologi informasi, dan akuakultur dalam satu sistem. Harapannya, inovasi ini dapat membantu meningkatkan efisiensi usaha budidaya serta mendorong pemanfaatan teknologi di sektor perikanan.”

Sebagai mitra program, Pak Nanang menyambut baik penerapan PelletQ-AI di lokasi budidayanya.

“Selama ini kami bergantung pada pakan komersial karena belum memiliki alat untuk memproduksi pakan sendiri. Dengan adanya PelletQ-AI, kami berharap dapat membuat pakan secara mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau. Sistem berbasis web juga memudahkan kami memperoleh formulasi pakan tanpa harus menghitung komposisi bahan baku secara manual.”

Pengembangan PelletQ-AI juga sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui peningkatan efisiensi produksi dan penguatan kemandirian pembudidaya dalam penyediaan pakan, inovasi ini berpotensi mendukung efisiensi usaha, penguatan ekonomi pembudidaya, serta penerapan teknologi dan inovasi dalam pembangunan sektor akuakultur yang lebih berkelanjutan.

PelletQ-AI merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas disiplin Universitas Gadjah Mada yang terdiri atas R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata (Teknik Industri), Muhammad Wafdan Taqiyya (Teknologi Informasi), Muhammad Zahir Ali (Teknik Elektro), Clarissa Cindy Marta Devany (Akuakultur), dan Farhan Dwi Prabowo (Teknologi Rekayasa Mesin), di bawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Setelah melalui tahapan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan sistem, pengembangan platform web app.pelletqai.com, pembuatan mesin, hingga pengujian, PelletQ-AI kini telah berhasil direalisasikan di lokasi mitra. Tahapan selanjutnya meliputi pelatihan penggunaan sistem, pendampingan operasional, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Melalui program PKM-PI ini, Tim UGM berharap PelletQ-AI tidak hanya menjadi solusi bagi Budidaya Lele Pak Nanang, tetapi juga menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang mampu mendukung kemandirian produksi pakan ikan di Indonesia. Ke depan, integrasi platform web, kecerdasan buatan, dan mesin produksi dalam PelletQ-AI diharapkan dapat membantu lebih banyak pembudidaya menghasilkan pakan berkualitas dengan biaya yang lebih efisien, sehingga turut meningkatkan daya saing sektor budidaya perikanan nasional.

Dosen Muda Departemen Perikanan UGM Raih Gelar Doktor dari Jepang, Kembangkan Inovasi Keamanan Pangan Perikanan Berbasis Biologi Molekuler

Berita Senin, 7 September 2026

Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satu dosen muda, Grace Margareta, S.Pi., M.Sc., berhasil menyelesaikan studi doktoralnya di Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT), Jepang. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan kapasitas akademik Departemen Perikanan UGM, khususnya di bidang keamanan pangan hasil perikanan dan mikrobiologi pangan.

Sebelum menyelesaikan studi doktoralnya, Grace menjalani penelitian di Laboratory of Food Microbiology, Tokyo University of Marine Science and Technology, salah satu pusat unggulan dunia dalam bidang ilmu pangan dan teknologi hasil perikanan. Selain mengembangkan riset, selama menempuh studi ia juga aktif menjembatani kolaborasi penelitian antara Indonesia dan Jepang melalui kerja sama yang melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan TUMSAT.

Pada 3 Agustus 2026, Grace berhasil menyelesaikan presentasi akhir disertasinya. Penelitian Grace mengangkat isu yang sangat penting namun masih sering luput dari perhatian industri perikanan dunia, yaitu keamanan pangan terkait pembentukan histamin pada ikan scombroid, khususnya ikan makerel.

Histamin merupakan salah satu penyebab utama keracunan pangan pada produk perikanan yang dapat terbentuk meskipun ikan disimpan dalam rantai dingin. Selama ini, penyimpanan pada suhu sekitar 4°C dianggap telah memadai untuk menjaga keamanan produk. Namun, melalui penelitiannya, Grace menunjukkan bahwa asumsi tersebut belum sepenuhnya tepat.

Penelitian disertasinya mengungkap bahwa Photobacterium phosphoreum, bakteri psikrofilik penyebab utama pembentukan histamin, masih mampu tumbuh dan tetap aktif menghasilkan enzim pembentuk histamin meskipun berada pada suhu penyimpanan dingin. Bahkan, peningkatan suhu yang relatif kecil, dari 4°C menjadi 10°C, dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri secara signifikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian suhu yang lebih ketat, yakni ≤2°C, menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan ikan makerel selama distribusi dan penyimpanan.

Tidak berhenti pada aspek ekologi bakteri, Grace juga mengembangkan inovasi dalam metode deteksi. Ia berhasil merancang probe-based quantitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) assay yang secara spesifik menargetkan gen hdc2, yaitu gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan histamin. Metode ini memungkinkan deteksi bakteri meskipun berada pada fase Viable But Non-Culturable (VBNC), yaitu kondisi ketika bakteri masih hidup tetapi tidak dapat dideteksi menggunakan metode kultur konvensional.

Menurut Grace, keberadaan bakteri dalam fase VBNC merupakan salah satu tantangan terbesar dalam sistem pengawasan keamanan pangan karena berpotensi menghasilkan histamin meskipun tidak terdeteksi melalui penghitungan koloni pada media kultur. Oleh karena itu, pendekatan berbasis biologi molekuler memberikan tingkat sensitivitas yang jauh lebih tinggi dalam mengidentifikasi potensi risiko keamanan pangan.

Sebagai bagian dari penelitian, Grace juga mengevaluasi efektivitas Modified Atmosphere Packaging (MAP) melalui berbagai kombinasi gas karbon dioksida, oksigen, dan nitrogen selama penyimpanan dingin. Evaluasi dilakukan tidak hanya terhadap pertumbuhan bakteri dan akumulasi histamin, tetapi juga terhadap kualitas sensori ikan serta ekspresi gen yang berkaitan dengan pembentukan histamin. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam menentukan sistem pengemasan yang paling efektif untuk memperpanjang umur simpan sekaligus menjaga keamanan produk perikanan.

Lebih jauh, penelitian ini memberikan perspektif baru bagi industri perikanan global. Grace menegaskan bahwa menghitung jumlah bakteri semata tidak lagi cukup untuk menilai keamanan produk terhadap risiko histamin. Integrasi pendekatan ekologi mikroba, biologi molekuler, dan teknologi pengemasan menawarkan paradigma baru dalam penyusunan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) dan manajemen rantai dingin yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Pencapaian Grace Margareta menjadi kebanggaan bagi Departemen Perikanan UGM sekaligus memperkuat posisi institusi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional. Keahlian yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Jepang diharapkan dapat memperkuat kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan sistem keamanan pangan hasil perikanan yang lebih modern, berbasis sains, dan menjawab tantangan industri perikanan masa depan.

Kegiatan studi lanjut dan keberhasilan penelitian ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penelitian Grace berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui penguatan sistem keamanan pangan untuk melindungi kesehatan konsumen dari risiko keracunan histamin. Inovasi di bidang teknologi deteksi dan pengemasan pangan turut mendukung SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, sementara penguatan kapasitas akademik dosen melalui pendidikan doktoral internasional merupakan implementasi SDG 4: Quality Education. Selain itu, kolaborasi riset antara UGM, BRIN, dan Tokyo University of Marine Science and Technology mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals dalam memperkuat jejaring penelitian global guna menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi industri perikanan dan masyarakat dunia.

Dr. Senny Helmiati Raih Jabatan Fungsional Lektor, Perkuat Pengembangan Keilmuan Nutrisi dan Pakan Ikan di Departemen Perikanan UGM

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. resmi memperoleh kenaikan jabatan fungsional ke jenjang Lektor dalam bidang ilmu Nutrisi dan Pakan Ikan. Pencapaian ini menjadi pengakuan atas dedikasi dan kontribusi beliau dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada bidang akuakultur yang berfokus pada pengembangan nutrisi dan manajemen pakan ikan.

Kenaikan jabatan fungsional ini tidak hanya menjadi capaian akademik secara personal, tetapi juga memperkuat kapasitas Departemen Perikanan UGM dalam mengembangkan riset, pendidikan, dan inovasi di bidang budidaya perikanan. Bidang nutrisi dan pakan ikan memegang peranan penting dalam mendukung peningkatan produktivitas akuakultur yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Sebagai akademisi di Departemen Perikanan UGM, Dr. Senny menekuni bidang nutrisi ikan, manajemen pakan ikan, pakan alami, dan akuakultur. Fokus keilmuan tersebut diwujudkan melalui berbagai penelitian yang mengembangkan bahan baku pakan alternatif, peningkatan kualitas nutrisi pakan, hingga optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal sebagai bahan penyusun pakan ikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Dr. Senny aktif mengembangkan penelitian mengenai pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai sumber protein alternatif dalam formulasi pakan ikan, evaluasi mikrobiota maggot, pemanfaatan tanaman lokal seperti daun kelor, Lemna, kulit singkong, serta berbagai bahan baku nonkonvensional yang berpotensi menggantikan tepung ikan dan tepung kedelai. Penelitian-penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan formulasi pakan yang lebih ekonomis tanpa mengurangi performa pertumbuhan maupun kesehatan ikan budidaya.

Selain aktif melakukan penelitian, Dr. Senny juga berkontribusi dalam membimbing mahasiswa sarjana maupun pascasarjana, melaksanakan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, serta menjalin kolaborasi penelitian dengan berbagai institusi di dalam dan luar negeri. Rekam jejak publikasinya menunjukkan kontribusi yang konsisten dalam pengembangan ilmu nutrisi ikan, teknologi pakan, mikrobiologi akuakultur, hingga pemanfaatan serangga sebagai sumber protein alternatif bagi industri budidaya perikanan.

Berbagai inovasi yang dikembangkan juga memiliki relevansi yang tinggi terhadap tantangan akuakultur modern. Meningkatnya harga bahan baku pakan konvensional mendorong perlunya sumber protein alternatif yang lebih berkelanjutan. Melalui pendekatan ilmiah, Dr. Senny bersama tim peneliti terus mengeksplorasi berbagai sumber daya lokal yang mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pencapaian ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia akademik. Bertambahnya dosen pada jenjang Lektor diharapkan semakin memperkuat atmosfer akademik, memperluas jejaring penelitian, meningkatkan kualitas publikasi internasional, serta menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Departemen Perikanan UGM mengucapkan selamat kepada Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. atas capaian jabatan fungsional Lektor. Semoga pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya-karya ilmiah yang inovatif, memperkuat kolaborasi akademik, serta memberikan kontribusi yang semakin besar bagi pengembangan ilmu akuakultur dan kemajuan perikanan Indonesia.

Pencapaian ini juga mendukung komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kapasitas akademisi dan kualitas pendidikan tinggi, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan inovasi pakan dan teknologi budidaya, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan bahan baku alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan, serta SDG 14 (Life Below Water) dengan mendukung sistem akuakultur yang produktif, sehat, dan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan.

Guru Besar Departemen Perikanan UGM Dikukuhkan, Prof. Eko Setyobudi Tegaskan Pentingnya Data dalam Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan

Berita Selasa, 30 Juni 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan capaian akademik melalui pengukuhan Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. sebagai Guru Besar dalam bidang Biologi Perikanan dan Kelautan. Pengukuhan ini menjadi tonggak penting bagi Departemen Perikanan UGM dalam memperkuat kontribusi ilmu pengetahuan terhadap pengelolaan sumber daya perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Data sebagai Fondasi Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berkelanjutan”, Prof. Eko menegaskan bahwa pengambilan keputusan dalam sektor perikanan harus didasarkan pada data ilmiah yang akurat, berkelanjutan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, tantangan pengelolaan perikanan saat ini semakin kompleks akibat meningkatnya tekanan terhadap sumber daya ikan, perubahan iklim, serta tingginya kebutuhan pangan bagi masyarakat.

Prof. Eko menjelaskan bahwa ketersediaan data yang berkualitas merupakan prasyarat utama dalam menyusun kebijakan pengelolaan perikanan yang adaptif. Data mengenai stok ikan, dinamika populasi, kondisi habitat, hingga aktivitas penangkapan menjadi dasar penting dalam menentukan strategi pengelolaan yang mampu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan keberlanjutan ekosistem.

Sebagai akademisi yang menekuni bidang biologi perikanan dan kelautan, Prof. Eko juga menyoroti pentingnya integrasi berbagai sumber data, mulai dari hasil survei lapangan, pemantauan oseanografi, teknologi penginderaan jauh, hingga sistem informasi digital. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas analisis ilmiah sekaligus mendukung pengambilan kebijakan yang lebih cepat, tepat, dan berbasis bukti (evidence-based policy).

Bagi Departemen Perikanan UGM, pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian individu, tetapi juga memperkuat komitmen departemen dalam menghasilkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan sektor perikanan. Berbagai penelitian yang dikembangkan oleh sivitas akademika Departemen Perikanan UGM selama ini telah berkontribusi dalam penyediaan data ilmiah untuk pengelolaan perikanan, konservasi sumber daya akuatik, pengembangan akuakultur, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.

Keberadaan guru besar juga diharapkan semakin memperkuat atmosfer akademik di lingkungan Departemen Perikanan UGM melalui pengembangan riset multidisiplin, peningkatan kualitas publikasi internasional, serta kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan berbagai institusi akademik di tingkat nasional maupun global. Penguatan kapasitas keilmuan tersebut menjadi modal penting dalam mencetak lulusan yang mampu menjawab tantangan sektor perikanan di masa depan.

Momentum pengukuhan Prof. Eko Setyobudi sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan dosen muda untuk terus mengembangkan inovasi serta menghasilkan penelitian yang berdampak nyata bagi masyarakat. Departemen Perikanan UGM meyakini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan akan memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan tata kelola sumber daya perikanan yang lebih produktif, tangguh, dan berkelanjutan.

Pencapaian ini juga sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi dan pengembangan sumber daya manusia, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan riset dan inovasi berbasis data, SDG 14 (Life Below Water) dengan mendorong pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menghasilkan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.

123…9
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY