• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • Kerja Sama
    • Laporan Kinerja UPPS
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure
  • SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure
Arsip:

SDG 9: Industry Innovation and Infrastructure

Tak Sekadar Segar, Ini Standar Mutu Daging Ikan yang Harus Diketahui di Bimtek Budidaya dan Pengolahan Ikan #6 UGM

Berita Senin, 13 April 2026

Pentingnya menjaga kualitas hasil perikanan menjadi sorotan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Budidaya dan Pengolahan Ikan #6 yang diselenggarakan pada 13 April 2026 bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pangkalpinang. Dalam kegiatan ini, dosen Universitas Gadjah Mada, Dr. Susana Endah Ratnawati, membawakan materi bertajuk “Standarisasi Mutu Daging Ikan” yang mengupas secara komprehensif standar kualitas produk perikanan dari hulu hingga hilir. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan, pelaku usaha bidang perikanan, dan institusi perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Dalam paparannya, Dr. Susana menjelaskan bahwa mutu bukan sekadar tampilan, tetapi mencakup kemampuan produk dalam memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen. Ia menekankan bahwa kualitas ikan sangat ditentukan sejak tahap bahan baku, baik dalam kondisi hidup, segar, maupun setelah diolah. Peserta diberikan pemahaman mengenai ciri-ciri ikan segar, seperti mata yang cerah, insang merah terang, daging kenyal, serta aroma yang masih alami. Sebaliknya, ikan yang tidak segar menunjukkan tanda-tanda seperti lendir keruh, bau menyengat, hingga tekstur daging yang lembek.

Selain itu, Dr. Susana juga menyoroti pentingnya standardisasi bahan baku dalam industri pengolahan ikan. Bahan baku yang seragam akan menghasilkan produk dengan rasa, tekstur, warna, dan nilai gizi yang konsisten. Hal ini tidak hanya meningkatkan daya saing produk, tetapi juga menjamin keamanan konsumen. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penjaminan mutu merupakan investasi jangka panjang yang melibatkan sinergi antara pelaku usaha, konsumen, dan pemerintah. Dengan penerapan standar mutu yang baik, produk perikanan Indonesia diharapkan mampu bersaing di pasar nasional maupun global.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga kesadaran bahwa kualitas adalah kunci utama dalam membangun industri perikanan yang berkelanjutan dan terpercaya. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, seirama dalam upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Departemen Perikanan UGM Jadi Tuan Rumah Sosialisasi Konservasi In Situ Ikan Lokal DIY

Berita Senin, 13 April 2026

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menjadi tuan rumah kegiatan Sosialisasi Konservasi In Situ Ikan Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin, 13 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Gedung A4 Fakultas Pertanian UGM dan dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah, akademisi, pengelola fasilitas UGM, serta mahasiswa Departemen Perikanan.

Sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati perairan melalui strategi konservasi in situ ikan lokal di wilayah DIY. Kegiatan dibuka dengan registrasi peserta, dilanjutkan dengan pemaparan arah kebijakan dan strategi konservasi yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Dalam sesi ini, dijelaskan pentingnya perlindungan habitat alami ikan lokal sebagai fondasi keberlanjutan sumber daya perikanan daerah.

Materi berikutnya disampaikan oleh perwakilan DPRD DIY (Imam Priyono Dwi Putranto, S.E., M.Si) yang mengulas peran legislatif dalam mendukung kebijakan konservasi melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Sesi ini menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam memastikan kebijakan konservasi dapat berjalan efektif.

Universitas Gadjah Mada turut berkontribusi melalui paparan mengenai penguatan resiliensi ekosistem perairan berbasis konservasi in situ ikan lokal, yang disampaikan oleh Eko Hardianto, S.Pi., M.Si., M.Sc., Ph.D. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan langkah strategis berbasis ilmiah untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan di DIY.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi multipihak dalam menjaga keberadaan ikan lokal sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Keanekaragaman Ikan Sungai Krasak Menurun, Studi Mahasiswa UGM Beri Peringatan

Berita Jumat, 10 April 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Maryam Tirta Nuur, memaparkan hasil penelitian mengenai dampak aktivitas antropogenik terhadap keanekaragaman ikan di Sungai Krasak, Jawa Tengah. Penelitian ini menjadi salah satu upaya awal untuk mengisi keterbatasan data terkait komposisi ikan di sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi tersebut.

Sungai Krasak memiliki karakteristik unik karena dipengaruhi material vulkanik serta variasi arus dan substrat. Penelitian dilakukan pada Oktober–November 2025 di tiga lokasi pengamatan menggunakan metode purposive sampling. Seluruh ikan yang tertangkap diidentifikasi hingga tingkat spesies, kemudian dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman, keseragaman, dominansi, dan kelimpahan relatif. Parameter lingkungan seperti suhu, pH, arus, kedalaman, kecerahan, serta substrat juga diukur untuk mendukung analisis ekologi.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas ikan di Sungai Krasak terdiri dari 221 individu yang mewakili 12 spesies dari 6 famili. Namun, tingkat keanekaragaman tergolong rendah dengan nilai indeks 0,647–0,882. Indeks keseragaman juga rendah (0,260–0,355), menandakan distribusi individu antarspesies tidak merata. Menariknya, satu spesies yaitu Mystacoleucus obtusirostris mendominasi populasi dengan kelimpahan relatif mencapai 53,39% dari total tangkapan. Dominasi tinggi ini menjadi indikasi adanya tekanan lingkungan yang memengaruhi keseimbangan komunitas ikan.

Penelitian ini memberikan gambaran awal kondisi keanekaragaman ikan di Sungai Krasak dan diharapkan dapat menjadi dasar pengelolaan sumber daya perikanan sungai secara berkelanjutan. Temuan ini juga menegaskan pentingnya penelitian lanjutan untuk memahami dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem perairan darat di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Alumni Departemen Perikanan UGM Berkiprah Global: Ardanti Yulia Cahyaningrum Sutarto Dorong Kebijakan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan

Berita Kamis, 9 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah alumninya di tingkat nasional dan internasional. Salah satunya adalah Ardanti Yulia Cahyaningrum Sutarto, lulusan S1 Perikanan UGM yang kini dikenal sebagai profesional pembangunan dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam, serta pembangunan berkelanjutan lintas sektor.

Dari Perikanan UGM ke Panggung Kebijakan Internasional. Ardanti menyelesaikan pendidikan Sarjana Perikanan di UGM pada 2003 dengan fokus Manajemen Sumber Daya Perairan. Ia kemudian melanjutkan studi Magister Ilmu Lingkungan di UGM dan meraih predikat cum laude. Saat ini, ia tengah menempuh studi doktoral di IPB University dengan fokus dimensi sosial dan gender dalam perikanan hiu dan pari. Studi ini didukung oleh the Ilegal Wildlife Trade (IWT) Fellowship dari Pemerintah Inggris yang merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Rekam Nusantara, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Centre for Environment, Fisheries and Aquaculture Science (CEFAS), Inggris. Bekal akademik tersebut menjadi fondasi kuat bagi perjalanan kariernya di berbagai lembaga internasional ternama.

Memimpin Program Lingkungan dan Iklim di Berbagai Lembaga Dunia Dalam perjalanan profesionalnya, Ardanti telah memegang peran strategis di sejumlah organisasi internasional, antara lain: 1) Project Manager di Agence Française de Développement (AFD), Ia mengelola portofolio proyek lingkungan, perubahan iklim, serta sumber daya alam di Indonesia, termasuk proyek Pengurangan Risiko Bencana  bernilai ratusan juta euro dan pengembangan proyek Karbon Biru. Dalam perannya, ia juga bertindak sebagai gender focal point dan mengelola proyek yang mengintegrasikan perspektif kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESI) dalam pengelolaan sumber daya alam.; 2) Senior Project Manager di Conservation Internasional, Memimpin proyek restorasi ekosistem gambut dan mangrove, sekaligus memastikan integrasi pendekatan inklusif dan kesetaraan gender dalam program konservasi; 3) Regional Manager USAID APIK (Climate Change Adaptation & Resilience), mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana di Jawa Timur yang meliputi tujuh kabupaten/kota wilayah DAS Brantas, memberikan manfaat bagi lebih dari 18.000 masyarakat.

Selain itu, Ardanti juga pernah berkontribusi di UNOPS, FAO, ILO, hingga berbagai program kemitraan internasional yang berfokus pada penguatan ketahanan masyarakat, tata kelola sumber daya, serta pembangunan inklusif.

Kontribusi Nyata bagi Pembangunan Inklusif dan Blue Economy. Sepanjang kariernya, Ardanti dikenal sebagai sosok yang konsisten mengintegrasikan perspektif GESI, pemberdayaan masyarakat pesisir, serta pendekatan kolaboratif dalam pengembangan kebijakan dan program pembangunan. Ia berperan dalam: Negosiasi hibah dan pinjaman internasional dengan pemerintah Indonesia; Pengembangan kebijakan blue economy dan pengelolaan pesisir; Peningkatan kapasitas ribuan masyarakat dalam ketahanan iklim dan ekonomi lokal; Penguatan kemitraan lintas kementerian, lembaga internasional, dan komunitas

Inspirasi bagi Mahasiswa dan Alumni Perikanan UGM. Perjalanan Ardanti Sutarto menjadi bukti bahwa lulusan Perikanan UGM memiliki peluang luas untuk berkontribusi pada isu global, mulai dari konservasi laut hingga kebijakan perubahan iklim. Kiprahnya di berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa ilmu perikanan tidak hanya berkontribusi pada sektor produksi, tetapi juga berperan penting dalam pembangunan berkelanjutan, tata kelola sumber daya, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Keberhasilan Ardanti diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni Departemen Perikanan UGM untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan dampak nyata bagi Indonesia maupun dunia. Kualitas alumni ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, seirama dalam upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Departemen Perikanan UGM Jajaki Kolaborasi Riset dan Budidaya Bersama Startup dan Industri Perikanan

Berita Rabu, 8 April 2026

Departemen Perikanan UGM terus memperluas jejaring kemitraan strategis dengan dunia usaha dan industri. Upaya tersebut diwujudkan melalui pertemuan penjajakan kerja sama yang dilakukan oleh Dr. Desy Putri Handayani dan Dr. Olivia Yofananda bersama startup Waste and Wishes serta perusahaan pengolahan perikanan Olam.

Pertemuan ini membahas peluang kolaborasi dalam bidang budidaya, pengolahan limbah, serta dukungan kegiatan penelitian mahasiswa. Waste and Wishes merupakan startup yang bergerak pada pemanfaatan limbah organik melalui pengolahan maggot, kasgot, serta pemanfaatan bulu ayam untuk kebutuhan sektor perikanan. Sementara itu, Olam dikenal sebagai perusahaan yang fokus pada pengolahan produk perikanan dan agribisnis berkelanjutan.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, kedua mitra menyampaikan ketertarikannya untuk bekerja sama dengan Departemen Perikanan UGM, khususnya dalam pengembangan inovasi budidaya dan pengolahan hasil perikanan. Tidak hanya itu, pihak mitra juga membuka peluang dukungan fasilitas berupa lokasi penelitian, kolam budidaya, serta bahan penelitian yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk kegiatan skripsi.

Inisiatif ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun sinergi antara perguruan tinggi, startup, dan industri. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset terapan, memperluas kesempatan belajar berbasis industri bagi mahasiswa, serta mendorong lahirnya inovasi berkelanjutan di sektor perikanan.

Melalui penjajakan kerja sama ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan dan penelitian yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha, sekaligus mendukung pengembangan industri perikanan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Tenaga Kependidikan Perikanan UGM Ikuti Pelatihan Pakan Alami dan Budidaya Udang Galah di UKBAP Samas

Berita Rabu, 8 April 2026

Tenaga Kependidikan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada mengikuti kegiatan Pelatihan Praktek Pakan Alami Artemia & Udang Galah yang diselenggarakan di Unit Kerja Budidaya Air Payau (UKBAP) Samas, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 8 April 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga kependidikan dalam mendukung kegiatan praktikum dan pembelajaran berbasis budidaya perikanan.

Pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai budidaya Udang Galah SiJawa, varietas udang galah hasil seleksi genetik yang dikembangkan oleh UKBAP Samas. Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pakan alami artemia sebagai pakan utama pada fase larva dalam kegiatan budidaya.

Pada sesi praktik, peserta mempelajari tahapan persiapan artemia yang akan dikultur sebagai pakan. Salah satu proses utama yang dilakukan adalah dekapsulasi artemia, yaitu teknik menghilangkan cangkang kista menggunakan larutan oksidator untuk meningkatkan kualitas pakan sebelum diberikan kepada larva.

Peserta juga mengikuti proses kultur hingga artemia siap dipanen dan diberikan sebagai pakan larva. Melalui praktik langsung ini, tenaga kependidikan memperoleh pengalaman teknis yang dapat mendukung pelaksanaan kegiatan laboratorium dan praktikum mahasiswa di Departemen Perikanan.

Kegiatan ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan instansi pemerintah sekaligus meningkatkan kualitas dukungan teknis tenaga kependidikan dalam pengembangan pendidikan dan praktik budidaya perikanan yang berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Nembah di Tengah Gelombang: Sinergi Kearifan Lokal, Ilmu Pengetahuan, dan Ketahanan Nelayan Pesisir Selatan Jawa

Berita Selasa, 7 April 2026

Aktivitas penangkapan ikan di pesisir selatan Jawa yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia kerap menghadapi tantangan musim dan gelombang tinggi. Kondisi ini membatasi ruang gerak nelayan skala kecil untuk melaut lebih jauh dan menjangkau daerah tangkapan yang lebih produktif. Namun demikian, praktik lokal seperti nembah—teknik menangkap ikan menggunakan panah atau speargun—tetap dapat dilakukan di wilayah perairan yang relatif terlindung dan lebih dekat dengan garis pantai. Ketika kondisi ekologi perairan masih terjaga, metode ini terbukti mampu memberikan hasil tangkapan yang optimal.

Memasuki bulan April yang dikenal sebagai periode gelombang besar, aktivitas nembah kembali dilakukan oleh nelayan di Pantai Ngandong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Praktik ini menjadi bentuk adaptasi terhadap dinamika alam sekaligus strategi mempertahankan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Di sisi lain, masyarakat pesisir menghadapi kerentanan yang kerap luput dari perhatian, terutama dampak degradasi lingkungan yang berasal dari wilayah daratan. Limbah dan pencemaran yang terbawa aliran sungai hingga ke laut dapat merusak ekosistem pesisir, menurunkan kualitas habitat ikan, dan pada akhirnya memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Melindungi nelayan skala kecil menjadi sangat penting, mengingat mereka merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan lingkungan dan dinamika sumber daya perikanan.

Praktik penangkapan selektif seperti nembah tidak hanya membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan nelayan. Ikan hasil tangkapan menjadi sumber protein utama sekaligus penopang ketahanan pangan rumah tangga pesisir. Lebih jauh, praktik yang selaras dengan alam turut menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan laut sebagai ruang hidup.

Situasi ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara nelayan, masyarakat pesisir, akademisi, dan pemerintah. Melalui pendekatan partisipatif seperti citizen science, berbagai pihak dapat bersama-sama mencari solusi berbasis pengetahuan. Kerja sama dengan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) misalnya, membuka peluang bagi nelayan untuk memahami siklus hidup ikan, pola migrasi, serta waktu tangkap yang tepat. Integrasi pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal diharapkan mampu mendorong praktik perikanan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

 

Sumberfoto: Rujimanto-nelayan Pantai Ngandong. Foto 1. Nelayan Bersiap melakukan penangkapan ikan menggunakan metode nembah; foto 2 Hasil tangkapan ikan nelayan pada tanggal 8 april 2026 menggunakan metode nembah yang selektif untuk ikan besar dan hasil optimal.

Laut Indonesia Sedang Berubah: Ilmuwan UGM Ungkap Fakta Mengejutkan di SINNTECH Webinar #35

Berita Selasa, 31 Maret 2026

Perubahan kondisi laut Indonesia menjadi perhatian serius para ilmuwan. Hal ini dibahas dalam SINNTECH Webinar #35 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kesempatan tersebut, peneliti oseanografi dari Departemen Perikanan UGM, Riza Yuliratno Setiawan, memaparkan kondisi terkini lingkungan laut Indonesia yang menunjukkan tanda-tanda perubahan signifikan akibat dinamika iklim global dan aktivitas manusia.

Dalam presentasinya, Riza menjelaskan bahwa data observasi laut global menunjukkan terjadinya pemanasan laut (ocean warming) di berbagai wilayah, termasuk perairan Indonesia. Perubahan suhu laut ini berpotensi memengaruhi berbagai aspek ekosistem laut, mulai dari produktivitas perairan hingga pola distribusi ikan yang menjadi sumber utama pangan bagi masyarakat pesisir.

Ia juga menyoroti meningkatnya fenomena cuaca ekstrem di kawasan tropis, termasuk frekuensi badai tropis yang terjadi di sekitar wilayah Indonesia. Perubahan dinamika angin dan suhu laut tersebut dapat memengaruhi produktivitas laut serta lokasi daerah penangkapan ikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masa depan sektor perikanan: apakah pengetahuan tradisional nelayan masih relevan di tengah perubahan laut yang semakin cepat?

Melalui berbagai pendekatan ilmiah seperti pemantauan laut menggunakan Argo Floats serta pemodelan zona penangkapan ikan berbasis kecerdasan buatan, para peneliti mencoba memahami bagaimana perubahan lingkungan laut memengaruhi sumber daya perikanan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu merancang strategi adaptasi yang lebih baik bagi sektor perikanan dan menjaga ketahanan pangan laut di masa depan.

Melalui SINNTECH Webinar #35, mahasiswa dan peserta diajak melihat lebih dekat bagaimana sains kelautan berperan penting dalam memahami perubahan lingkungan laut serta menemukan solusi berbasis riset untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mahasiswa Perikanan UGM Manfaatkan Teknologi Pemodelan untuk Menentukan Zona Potensi Ikan Layang di Laut Jawa

Berita Rabu, 25 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rivaldo Ferdiansyah, melakukan penelitian untuk memetakan zona potensi penangkapan ikan layang di perairan Laut Jawa menggunakan pendekatan pemodelan berbasis data lingkungan. Penelitian yang merupakan skripsi Rivaldo, berfokus pada spesies ikan layang (Decapterus spp.) yang merupakan salah satu komoditas penting bagi nelayan di wilayah pengelolaan perikanan WPPNRI 712.

Dalam penelitiannya, Rivaldo menggunakan metode Maximum Entropy (MaxEnt) untuk memodelkan kesesuaian habitat dan memprediksi lokasi potensial penangkapan ikan selama periode 2019–2023. Pendekatan ini memanfaatkan berbagai parameter lingkungan laut seperti suhu permukaan laut, salinitas, konsentrasi klorofil-a, curah hujan, serta kecepatan angin. Data-data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui kondisi lingkungan yang paling sesuai bagi keberadaan ikan layang di Laut Jawa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang digunakan memiliki performa yang sangat baik dengan nilai Area Under Curve (AUC) rata-rata di atas 0,8. Nilai tersebut mengindikasikan kemampuan model yang tinggi dalam memprediksi kesesuaian habitat ikan layang. Analisis kurva respons juga menunjukkan bahwa ikan layang cenderung berada pada kondisi lingkungan tertentu, yakni konsentrasi klorofil-a antara 0,2–0,5 mg/m³, curah hujan 2,1–5,5 mm per hari, salinitas 32,15–33,6 ppt, suhu permukaan laut 27,7–31,3°C, serta kecepatan angin 0–7,4 m/s.

Selain itu, pemodelan Habitat Suitability Index (HSI) menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian habitat tertinggi terjadi pada bulan Juni dengan nilai HSI mencapai 1. Namun demikian, wilayah dengan kesesuaian tinggi tersebut memiliki luasan yang relatif terbatas di Laut Jawa. Menurut Rivaldo, penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi kegiatan penangkapan ikan, khususnya bagi nelayan tradisional yang selama ini masih mengandalkan pengalaman dan kebiasaan dalam menentukan lokasi penangkapan. Dengan adanya peta zona potensi penangkapan berbasis data lingkungan, nelayan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat untuk menentukan daerah tangkap yang produktif.

Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi teknologi pemodelan dan data oseanografi dalam mendukung pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Serupa Tapi Tak Sama: Mahasiswa UGM Ungkap Perbedaan Dua Spesies Cumi-Cumi Lewat Analisis DNA

Berita Kamis, 12 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dyah Ayu Sofiana Sukowati, melakukan penelitian mendalam mengenai karakteristik morfologi dan identifikasi molekuler cumi-cumi yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Kabupaten Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan identitas spesies cumi-cumi yang menjadi salah satu komoditas penting dalam perikanan tangkap di wilayah selatan Pulau Jawa.

Dalam penelitian tersebut, Dyah menganalisis sebanyak 360 sampel cumi-cumi yang terdiri dari 254 individu spesies Sthenoteuthis oualaniensis dan 106 individu Uroteuthis duvaucelii. Kedua spesies ini diteliti menggunakan pendekatan morfometrik, meristik, serta analisis molekuler berbasis gen COI (Cytochrome c Oxidase subunit I), yang umum digunakan dalam identifikasi genetik organisme laut.

Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan morfologi yang cukup jelas antara kedua spesies tersebut. Melalui metode Principal Component Analysis (PCA), beberapa karakter tubuh menjadi pembeda utama, seperti panjang mantel, lebar sirip, dan panjang lengan kedua. Selain itu, bentuk tubuh juga berbeda pada bagian lebar corong. Analisis meristik turut memperkuat temuan tersebut, khususnya melalui perbedaan bentuk dan jumlah gigi pada cincin penghisap (sucker) yang dimiliki kedua jenis cumi-cumi.

Penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. juga mengungkap perbedaan pola pertumbuhan antara kedua spesies. Spesies Sthenoteuthis oualaniensis cenderung menunjukkan pertumbuhan alometrik positif, di mana bagian tubuh tertentu berkembang lebih cepat dibandingkan panjang mantel. Sebaliknya, Uroteuthis duvaucelii menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif.

Melalui analisis molekuler, Dyah menemukan bahwa sekuen genetik cumi-cumi yang diteliti memiliki kemiripan dengan populasi dari berbagai wilayah perairan internasional. Spesies Sthenoteuthis oualaniensis memiliki kesamaan genetik dengan populasi dari Samudra Hindia, Australia, dan China, sedangkan Uroteuthis duvaucelii memiliki kedekatan genetik dengan populasi dari Vietnam dan Indonesia.

Menurut Dyah, penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan terpadu antara morfologi dan molekuler dalam memastikan identifikasi spesies laut secara akurat. Hasil riset ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih berkelanjutan, khususnya bagi komoditas cumi-cumi yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi nelayan Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

1234
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY