• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • Fakultas Pertanian UGM
  • Fakultas Pertanian UGM
Arsip:

Fakultas Pertanian UGM

Dosen THP UGM Dorong Diversifikasi Produk Olahan Tuna Bernilai Tambah

Berita Selasa, 15 September 2026

Semarang, 9 September 2026 — Dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Dr. Latif Sahubawa, turut berpartisipasi dalam The 9th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2026 di Semarang. Pada konferensi yang diselenggarakan 9 September 2026 tersebut, Dr. Latif mempresentasikan penelitian berjudul “Diversification, Quality Analysis, and Consumer Preference Level of Commercial Processed Tuna Products as a Leading Commodity in the Marine and Fisheries Sector.”

Penelitian ini membahas diversifikasi produk olahan tuna yang beredar secara komersial, analisis mutu produk, serta tingkat preferensi konsumen terhadap berbagai produk olahan berbahan baku tuna. Kajian tersebut menempatkan aspek mutu dan penerimaan konsumen sebagai bagian penting dalam pengembangan produk hasil perikanan bernilai tambah.

Tuna merupakan salah satu komoditas strategis dalam sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang dapat memenuhi kebutuhan dan selera konsumen. Diversifikasi menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas pemanfaatan tuna sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Melalui analisis mutu dan preferensi konsumen, penelitian ini memberikan gambaran mengenai karakteristik produk yang dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan produk olahan tuna. Pendekatan tersebut penting agar inovasi pengolahan hasil perikanan tidak hanya berorientasi pada aspek teknis produksi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan, penerimaan, dan kecenderungan konsumen.

Keikutsertaan Dr. Latif Sahubawa dalam ICTCRED 2026 menjadi bagian dari upaya dosen THP UGM untuk memperkenalkan hasil penelitian pada forum akademik internasional sekaligus memperkuat pertukaran pengetahuan mengenai pengembangan produk hasil perikanan. Kajian diversifikasi dan preferensi konsumen diharapkan dapat mendukung pengembangan industri pengolahan tuna yang lebih inovatif, kompetitif, dan mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan nilai tambah komoditas perikanan, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi produk olahan, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan produk perikanan yang lebih berorientasi pada kebutuhan dan preferensi konsumen.

Dosen THP UGM Bahas Pemanfaatan Lactiplantibacillus plantarum untuk Peningkatan Mutu Terasi

Berita Selasa, 15 September 2026

Semarang, 9 September 2026 — Dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Mgs. Muhammad Prima Putra, turut mempresentasikan hasil penelitian pada The 9th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2026 yang berlangsung di Semarang pada 9 September 2026. Dalam forum tersebut, ia mempresentasikan penelitian berjudul “Application of Lactiplantibacillus plantarum GMP 1 to Improve Quality, Safety, and Functional Properties of Rebon Shrimp Paste.”

Penelitian ini mengkaji pemanfaatan Lactiplantibacillus plantarum GMP 1 dalam proses pengolahan terasi berbahan dasar udang rebon. Kajian diarahkan untuk melihat potensi penggunaan mikroorganisme tersebut dalam meningkatkan mutu, keamanan, serta sifat fungsional produk hasil fermentasi.

Terasi merupakan salah satu produk olahan hasil perikanan yang telah lama menjadi bagian dari pangan masyarakat Indonesia. Namun, pengembangan kualitas produk dan pengendalian keamanan menjadi aspek penting untuk meningkatkan daya saingnya. Melalui pendekatan teknologi fermentasi, penelitian ini mengeksplorasi peluang untuk menghasilkan produk terasi dengan karakteristik yang lebih baik sekaligus memberikan nilai tambah terhadap komoditas udang rebon.

Pemanfaatan Lactiplantibacillus plantarum juga menunjukkan bagaimana teknologi fermentasi dapat dikembangkan tidak hanya untuk menghasilkan karakteristik produk yang diinginkan, tetapi juga sebagai pendekatan dalam pengembangan pangan fungsional dan peningkatan keamanan pangan. Kajian semacam ini menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan yang inovatif dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.

Keikutsertaan Muhammad Prima Putra dalam ICTCRED 2026 menjadi kesempatan untuk mendiseminasikan hasil penelitian sekaligus memperluas pertukaran pengetahuan mengenai inovasi pengolahan hasil perikanan. Penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan produk perikanan bernilai tambah yang aman, berkualitas, dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut pada skala industri.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan pangan berbasis sumber daya perikanan, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan keamanan dan sifat fungsional pangan, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi teknologi fermentasi dalam pengolahan hasil perikanan.

Dosen THP UGM Raih Best Oral Presenter pada The 9th ICTCRED 2026

Berita Selasa, 15 September 2026

Semarang, 9 September 2026 — Dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Indun Dewi Puspita, M.Sc., Ph.D berpartisipasi dalam The 9th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2026 yang diselenggarakan di Semarang pada 9 September 2026. Dalam konferensi internasional tersebut, Dr. Indun mempresentasikan hasil penelitiannya berjudul “Effect of Temperature on Growth and Histamine Formation of Klebsiella aerogenes E.1 in Yellowfin Tuna Flesh Model.”

Penelitian tersebut mengkaji pengaruh suhu terhadap pertumbuhan Klebsiella aerogenes E.1 serta pembentukan histamin pada model daging tuna sirip kuning (yellowfin tuna). Kajian ini menjadi penting dalam konteks mutu dan keamanan hasil perikanan, mengingat pengendalian suhu merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas ikan dan meminimalkan risiko pembentukan histamin selama penanganan dan penyimpanan.

Melalui penelitian tersebut, Dr. Indun menyoroti pentingnya pemahaman terhadap hubungan antara kondisi penyimpanan, pertumbuhan mikroorganisme, dan pembentukan senyawa yang berpotensi membahayakan konsumen. Hasil penelitian diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi pengendalian mutu dan keamanan produk perikanan, khususnya komoditas tuna yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Keikutsertaan dalam ICTCRED 2026 juga menjadi ruang bagi dosen THP UGM untuk memperluas jejaring akademik dan mendiseminasikan hasil penelitian pada forum internasional. Prestasi tersebut semakin istimewa dengan diraihnya penghargaan Best Oral Presenter oleh Dr. Indun Dewi Puspita. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kualitas penyampaian dan substansi penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi.

Partisipasi dan prestasi tersebut menunjukkan kontribusi riset THP UGM dalam menjawab tantangan keamanan pangan serta peningkatan mutu hasil perikanan. Kegiatan ini juga mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan keamanan pangan, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pengembangan pangan hasil perikanan yang aman dikonsumsi, serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

Seminar Selam Perikanan UGM Dorong Mahasiswa Kenali Dunia Bawah Air untuk Riset dan Konservasi

Berita Selasa, 15 September 2026

Yogyakarta, 11 September 2026 — Selam Perikanan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar Selam Perikanan 2026 pada Jumat (11/9). Mengangkat tema “Dive with Purpose: Menyelam untuk Riset, Konservasi dan Masa Depan Perikanan”, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai dunia bawah air sekaligus memahami peluang pemanfaatan keterampilan selam dalam bidang perikanan dan kelautan.

Seminar dibuka oleh Pembina Selam Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., IPU. Dalam sambutannya, Prof. Eko menyampaikan bahwa kegiatan selam memiliki relevansi yang kuat dengan bidang perikanan dan kelautan. Pengenalan terhadap dunia bawah air secara langsung dapat memberikan pengalaman dan wawasan yang tidak sepenuhnya diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas. “Kegiatan ini merupakan agenda untuk mengenalkan dan menambah wawasan tentang dunia bawah air yang sangat relevan dengan bidang perikanan dan kelautan. Banyak kesempatan yang bisa diperoleh dengan mengikuti kegiatan selam,” ujarnya.

Ketua Selam Perikanan UGM, Lhasa Aginza, menambahkan bahwa kegiatan selam tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan menyelam. Menurutnya, aktivitas tersebut juga menjadi sarana pembelajaran dan membangun kolaborasi. “Selam bukan hanya sekadar menyelam, tetapi belajar dan berkolaborasi,” kata Lhasa.

Seminar menghadirkan Ika Ristiyani Madyaningrum, S.Si., M.Sc. dari Sentra Selam Jogja sebagai pembicara. Ia mengajak peserta melihat laut sebagai ruang kehidupan yang perlu dijaga bersama. Menurutnya, laut tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dalam pengembangan bidang kelautan dan perikanan. “Laut adalah wadah kehidupan. Mari kita jaga bersama agar tetap lestari untuk generasi mendatang,” tuturnya. Melalui kegiatan selam, mahasiswa berkesempatan mengenal kondisi bawah air sekaligus memahami pentingnya konservasi dan menjaga ekosistem laut. Pengalaman tersebut juga dapat melengkapi pembelajaran akademik dengan keterampilan praktis yang diperoleh melalui organisasi, UKM, pelatihan, maupun kegiatan lapangan. Keterampilan yang diperoleh dari aktivitas selam juga memiliki keterkaitan dengan berbagai peluang di bidang perikanan dan kelautan, seperti penelitian, konservasi, jasa kelautan, dan wisata bahari. Kepemilikan lisensi selam dan sertifikasi kompetensi dapat menjadi nilai tambah bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Seminar diikuti lebih dari 50 peserta, terdiri atas dosen serta mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai angkatan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kegiatan selam dapat menjadi salah satu ruang pengembangan kompetensi mahasiswa di luar kegiatan akademik formal. Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan open recruitment anggota baru Selam Perikanan UGM. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk bergabung dan mengembangkan pengalaman, keterampilan, serta jejaring dalam dunia selam dan perikanan.

Kegiatan Seminar Selam Perikanan 2026 turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan pengetahuan dan keterampilan praktis mahasiswa, SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui peningkatan kesadaran terhadap konservasi dan keberlanjutan ekosistem laut, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, organisasi mahasiswa, dan praktisi di bidang selam, perikanan, dan kelautan. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki kompetensi, kepedulian, dan kemampuan kolaboratif untuk berkontribusi pada pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM Hadirkan Orasi Ilmiah tentang Transformasi Strategis Perikanan Budi Daya Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sekaligus membahas masa depan sektor perikanan Indonesia. Salah satu agenda utama dalam perayaan tersebut adalah Orasi Ilmiah bertajuk “Perikanan Budi Daya Indonesia Berkelanjutan, Inovatif, Mendunia: Transformasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045.”

Orasi ilmiah disampaikan oleh Rokhmad Mohammad Rofiq, S.Pi., M.App.Sc., Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Dalam paparannya, ia menempatkan perikanan budi daya sebagai sektor strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan agenda ekonomi biru Indonesia.

Rokhmad menekankan bahwa masa depan perikanan budi daya Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Transformasi perlu diarahkan pada sistem budi daya yang lebih produktif, berkelanjutan, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Menurut materi orasi, transformasi tersebut mencakup pergeseran dari ekspansi kawasan menuju produktivitas berbasis daya dukung ekosistem, dari ketergantungan input menuju penguatan kapabilitas domestik, serta dari sekadar adopsi teknologi menuju pembangunan ekosistem inovasi.

Teknologi dalam konteks tersebut tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pengungkit kemampuan pelaku perikanan dalam menghadapi perubahan. Pemanfaatan teknologi perlu didukung kemampuan untuk membaca perubahan, menangkap peluang, dan melakukan transformasi dalam sistem produksi.

Transformasi juga perlu terjadi pada cara melihat keberhasilan sektor perikanan. Pengembangan perikanan tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah produksi, tetapi juga berdasarkan nilai ekonomi, lapangan kerja, efisiensi, dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Karena itu, pengembangan budi daya perlu terhubung dengan keseluruhan rantai nilai, mulai dari pakan dan produksi, panen, pengolahan, rantai dingin, hingga pemasaran. Pendekatan value-chain-based development menjadi penting agar komoditas perikanan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan memiliki daya saing di pasar global.

Pada saat yang sama, orientasi menuju pasar dunia harus diikuti dengan peningkatan standar kualitas, keamanan pangan, traceability, keberlanjutan, serta konsistensi pasokan.

Salah satu pesan penting dalam orasi adalah bahwa peningkatan produktivitas tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem. Pengembangan perikanan budi daya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kualitas air, penyakit, limbah, serta keberadaan ekosistem pendukung.

Transformasi juga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, pembudidaya, perguruan tinggi, peneliti, lembaga pembiayaan, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang saling mendukung. Dalam pendekatan ini, pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai strategic orchestrator yang mempertemukan berbagai kepentingan dan sumber daya.

Bagi Departemen Perikanan UGM, gagasan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut menjadi relevan dengan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang adaptif dan inovatif.

Mahasiswa dan akademisi perikanan perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan secara lebih luas—tidak hanya mengenai produksi ikan, tetapi juga teknologi, ekonomi, lingkungan, rantai nilai, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat. Perspektif lintas bidang tersebut menjadi semakin penting untuk menghadapi kompleksitas sektor perikanan di masa depan.

Puncak HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM melalui orasi ilmiah ini sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen Departemen Perikanan dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Orasi ilmiah ini sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan perikanan budi daya yang produktif, inovatif, berkelanjutan, dan kolaboratif menuju Indonesia Emas 2045.

Puncak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Paparkan Capaian dan Arah Pengembangan Perikanan Indonesia

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 1 September 2026 — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan, capaian, sekaligus arah pengembangan Departemen Perikanan dalam menjawab tantangan perikanan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Departemen Perikanan menyampaikan Laporan Tahunan 2026 yang merangkum perkembangan bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan institusi, kemitraan, publikasi, hingga prestasi mahasiswa. Laporan ini sekaligus memperlihatkan kontribusi Departemen Perikanan dalam mewujudkan tema HUT ke-63, “Perikanan Indonesia: Berkelanjutan, Inovatif, dan Mendunia.”

Pada tahun akademik 2026/2027, Departemen Perikanan UGM menaungi 1.020 mahasiswa aktif yang tersebar pada Program Studi Akuakultur, Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Teknologi Hasil Perikanan (THP), Magister Ilmu Perikanan (MIP), serta program doktor. Tahun ini juga tercatat 235 mahasiswa baru program sarjana, menunjukkan minat yang terus berkembang terhadap pendidikan tinggi di bidang perikanan.

Perkembangan akademik tersebut didukung oleh 38 dosen aktif pada tiga program studi sarjana, serta tenaga pendidik pada jenjang magister dan doktor. Departemen juga terus memperkuat kapasitas akademiknya melalui kehadiran dosen baru dan program tugas belajar di berbagai universitas internasional, termasuk di Jepang, Tiongkok, Australia, dan Turki.

Dari sisi sarana pembelajaran, Departemen Perikanan memiliki berbagai laboratorium yang mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian, antara lain Laboratorium Akuakultur, Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, Sosial Ekonomi dan Penangkapan Ikan, Manajemen Sumberdaya Perikanan, serta Teknologi Pengolahan Ikan. Fasilitas tersebut dilengkapi pula dengan Ruang Penelitian Ilmu Perairan Maju dan Teaching Farm Akuakultur.

Pada bidang penelitian, Departemen Perikanan mencatat 104 judul penelitian pada 2026 dengan total dana sekitar Rp10,75 miliar, yang terdiri atas Rp1,73 miliar dana internal dan Rp9,02 miliar dana eksternal. Dominasi pendanaan eksternal yang mencapai 83,9% menunjukkan semakin kuatnya kemampuan sivitas akademika dalam membangun jejaring dan memperoleh dukungan penelitian dari berbagai sumber.

Produktivitas ilmiah juga terus berkembang. Pada 2026 tercatat 73 publikasi terindeks Scopus dan 130 publikasi yang tercatat di Google Scholar, dengan jumlah sitasi masing-masing mencapai 1.578 dan 1.792.

Tidak berhenti pada publikasi, hasil penelitian juga diarahkan menuju hilirisasi. Sejumlah inovasi yang dikembangkan mencakup probiotik, nano-spirulina fermentasi, biofilter rumput laut, garam kosmetik dan terapi, aplikasi digital untuk perikanan tangkap dan budi daya, hingga sistem resirkulasi akuakultur dan teknologi pengolahan hasil perikanan. Departemen juga mencatat sejumlah kekayaan intelektual yang telah memperoleh maupun sedang dalam proses perlindungan.

Kontribusi Departemen Perikanan juga diwujudkan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Pada 2026 terdapat 104 judul kegiatan pengabdian dengan dukungan dana sekitar Rp956,5 juta, dengan 64,2% berasal dari sumber eksternal.

Berbagai kegiatan diarahkan pada persoalan nyata masyarakat, seperti pelepasliaran ikan, pemantauan perairan, pembersihan embung, pemanfaatan air tawar untuk produksi garam laut menggunakan teknologi SWRO, serta Grebek Ikan Sapu-Sapu di Rawa Kalibayem.

Jejaring kerja sama juga terus diperluas. Departemen memiliki mitra dalam negeri dan luar negeri yang mencakup institusi pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan sektor industri. Kemitraan internasional antara lain terbangun dengan University of Tasmania, Xiamen University, University of Stirling, Universiti Putra Malaysia, National Taiwan University, Pukyong National University, dan berbagai institusi lainnya.

Pengembangan mahasiswa menjadi bagian penting dari agenda Departemen Perikanan. Program magang berdampak telah melibatkan 135 mahasiswa dari 156 mahasiswa peserta magang pada tiga program studi sarjana, dengan dukungan 83 mitra magang berdampak.

Kesempatan internasional juga terus dibuka melalui berbagai skema student mobility dan credit transfer, seperti AIMS, ASEAN-FEN, IISMA, JASSO, MTCRC, dan kemitraan antaruniversitas.

Di bidang prestasi, pada 2026 tercatat 25 mahasiswa meraih prestasi melalui 27 kompetisi. Prestasi tersebut mencakup kompetisi nasional maupun internasional, mulai dari kompetisi Smart Ecosystem Engagement & Development, International Youth Innovation Summit, hingga berbagai kompetisi olahraga dan akademik.

Puncak HUT ke-63 juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi publik Departemen Perikanan. Melalui Media Perikanan, website, Instagram, YouTube, TikTok, dan layanan WhatsApp, Departemen terus menyebarluaskan informasi akademik, penelitian, kegiatan, serta berbagai perkembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Seluruh capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan Departemen Perikanan UGM untuk terus bergerak dari kekuatan akademik menuju kontribusi yang semakin nyata bagi masyarakat dan sektor perikanan. Pendidikan, penelitian, pengabdian, inovasi, kemitraan, dan pengembangan mahasiswa menjadi satu ekosistem yang saling menguatkan.

Laporan Tahunan 2026 yang disampaikan pada puncak HUT ke-63 sekaligus menjadi refleksi bahwa perjalanan Departemen Perikanan selama lebih dari enam dekade terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Dari penguatan pendidikan hingga inovasi yang dihilirkan, dari kerja sama lokal hingga jejaring internasional, Departemen Perikanan UGM terus mempersiapkan diri untuk berkontribusi pada masa depan perikanan Indonesia.

Sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), Departemen Perikanan UGM meneguhkan komitmennya untuk membangun perikanan Indonesia yang semakin berkelanjutan, inovatif, inklusif, dan berdaya saing global.

Departemen Perikanan UGM Jalani Audit Mutu Internal 2026, Perkuat Komitmen Peningkatan Mutu Pendidikan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, September 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat komitmennya terhadap peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan melalui pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) 2026. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengevaluasi dan memastikan pemenuhan standar mutu akademik pada seluruh program studi di lingkungan Departemen Perikanan.

AMI 2026 mencakup lima program studi, yaitu Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Teknologi Hasil Perikanan (THP), Akuakultur, Magister Ilmu Perikanan (MIP), serta Program Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis.

Pelaksanaan AMI menjadi bagian penting dalam sistem penjaminan mutu internal UGM. Melalui proses audit, setiap program studi memperoleh kesempatan untuk mengevaluasi pelaksanaan berbagai kegiatan akademik sekaligus mengidentifikasi aspek-aspek yang masih dapat ditingkatkan.

Audit Mutu Internal tidak semata-mata diposisikan sebagai proses pemeriksaan administratif, tetapi menjadi instrumen untuk membangun budaya mutu dan perbaikan berkelanjutan di lingkungan Departemen Perikanan.

Melalui AMI, berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan dapat ditinjau secara sistematis, termasuk pelaksanaan proses pembelajaran, pengelolaan akademik, sumber daya, capaian pendidikan, serta berbagai proses pendukung lainnya sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan.

Hasil audit diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan yang telah dimiliki masing-masing program studi sekaligus menemukan ruang perbaikan yang perlu ditindaklanjuti. Dengan demikian, AMI menjadi bagian dari siklus evaluasi–perbaikan–peningkatan mutu yang dilakukan secara berkelanjutan.

Pelaksanaan AMI secara menyeluruh pada lima program studi menunjukkan komitmen Departemen Perikanan UGM untuk memastikan bahwa peningkatan mutu dilakukan pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari program sarjana hingga doktor.

Keberagaman bidang keilmuan yang dimiliki Departemen Perikanan—mulai dari pengelolaan sumberdaya akuatik, akuakultur, teknologi hasil perikanan, hingga ilmu perikanan dan kelautan tropis—memerlukan sistem penjaminan mutu yang mampu menjaga karakteristik masing-masing program studi sekaligus memastikan tercapainya standar akademik yang ditetapkan universitas.

Dalam konteks tersebut, AMI menjadi ruang refleksi bagi setiap program studi untuk melihat kembali proses yang telah berjalan dan memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan senantiasa relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dunia kerja, serta tantangan pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, mutu pendidikan merupakan fondasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia perikanan yang unggul, adaptif, dan mampu menghadapi perubahan.

Tantangan sektor perikanan saat ini semakin kompleks. Perubahan iklim, perkembangan teknologi, transformasi digital, ketahanan pangan, keberlanjutan sumber daya, dinamika masyarakat pesisir, serta kebutuhan industri terhadap inovasi membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan nyata.

Karena itu, sistem penjaminan mutu pendidikan memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa proses pembelajaran dan pengembangan akademik mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Pelaksanaan AMI 2026 diharapkan tidak berhenti pada penyelesaian proses audit, tetapi dilanjutkan dengan tindak lanjut dan peningkatan nyata pada masing-masing program studi. Dengan demikian, hasil audit dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dan pengembangan program di masa mendatang.

Melalui AMI 2026, Departemen Perikanan UGM menegaskan bahwa mutu bukan sekadar capaian yang harus dipenuhi, melainkan budaya yang harus terus dibangun dan dikembangkan. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya Departemen Perikanan untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas sekaligus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia bagi masa depan kelautan dan perikanan Indonesia.

Pelaksanaan AMI 2026 juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan sistem penjaminan mutu dan peningkatan kualitas pendidikan, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan kapasitas akademik dan inovasi. Pada akhirnya, pendidikan perikanan yang bermutu menjadi salah satu fondasi untuk mendukung SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui lahirnya generasi ilmuwan dan profesional yang mampu mengelola sumber daya perikanan dan kelautan secara berkelanjutan.

Kenal Perikanan UGM 2026: Membuka Perjalanan Mahasiswa Baru dari Kampus hingga Industri Perikanan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 30 Agustus 2026 — Sebanyak 270 peserta mengikuti rangkaian Kenal Perikanan UGM 2026, sebuah kegiatan pengenalan dan pembelajaran lapangan yang mempertemukan mahasiswa baru Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan lingkungan akademik sekaligus dunia nyata sektor perikanan.

Kegiatan yang berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 ini diikuti oleh 235 mahasiswa dari tiga program studi, yakni Akuakultur sebanyak 77 mahasiswa, Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA) sebanyak 79 mahasiswa, dan Teknologi Hasil Perikanan (THP) sebanyak 79 mahasiswa. Selain mahasiswa, kegiatan juga melibatkan 17 dosen, 8 tenaga kependidikan, 2 personel Media Perikanan, 7 pendamping, serta 1 perwakilan KKA Fakultas.

Kenal Perikanan 2026 tidak berhenti pada kegiatan pengenalan di lingkungan kampus. Setelah mengikuti Pra Kenal Perikanan pada 24 Agustus 2026, mahasiswa diajak melakukan perjalanan lapangan untuk melihat secara langsung berbagai aktivitas dalam rantai sektor perikanan.

Dalam kegiatan lapangan, peserta terbagi dalam tujuh bus dengan tujuan kunjungan yang berbeda. Lokasi yang dikunjungi meliputi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana, serta sejumlah perusahaan pengolahan hasil perikanan, yaitu PT Java Kayana Segara, PT Morenzo Abadi Perkasa, PT Guna Citra Kartika, PT Urchindize Indonesia, dan PT Cassanatama Naturindo.

Pemilihan berbagai lokasi tersebut memberikan gambaran mengenai luasnya ekosistem perikanan yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mahasiswa. Dari budidaya, pengolahan hasil perikanan, hingga aktivitas pelabuhan dan pelelangan ikan, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana ilmu perikanan diterapkan dalam berbagai konteks.

Pada kunjungan ke PT Java Kayana Segara di Semarang, misalnya, mahasiswa mendapatkan kesempatan melihat proses pengemasan crab meat serta proses pasteurisasi dalam kaleng. Sementara itu, kunjungan ke PT Morenzo Abadi Perkasa di Demak memperkenalkan mahasiswa pada proses pengalengan rajungan dan ikan serta pengolahan makanan laut beku. Mahasiswa juga mengunjungi PT Guna Citra Kartika di Jepara serta PT Urchindize Indonesia. Di PT Urchindize Indonesia, peserta diperkenalkan dengan proses produksi ikan teri nasi kering dan bubuk ikan kering. Sementara itu, kunjungan ke PT Cassanatama Naturindo di Semarang melengkapi rangkaian kunjungan industri yang menjadi bagian dari Kenal Perikanan 2026.

Selain sektor pengolahan, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman lapangan pada sektor budidaya perikanan melalui kunjungan ke BBPBAP Jepara. Dalam kunjungan tersebut, peserta mengikuti briefing pelayanan publik dan memperoleh penjelasan dari tim kelompok kerja mengenai pembesaran udang vaname di tambak.

Pengalaman kemudian dilanjutkan pada sektor perikanan tangkap melalui kunjungan ke PPP Juwana pada 30 Agustus 2026. Di lokasi tersebut, mahasiswa melihat secara langsung aktivitas pelelangan ikan di TPI Unit 2 Juwana serta tempat bersandarnya kapal-kapal penangkap ikan besar.

Rangkaian tersebut memberikan gambaran bahwa perikanan merupakan sebuah sistem yang luas. Ikan yang dikonsumsi masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi melewati berbagai tahapan, mulai dari produksi, penangkapan atau budidaya, penanganan, pengolahan, hingga distribusi dan pemasaran.

Salah satu karakter utama Kenal Perikanan 2026 adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pelaku dan institusi yang bergerak di sektor perikanan. Dalam beberapa kunjungan, mahasiswa juga diarahkan untuk mengisi lembar kerja sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran selama berada di lapangan.

Pengalaman tersebut menjadi pelengkap bagi proses pembelajaran di kampus. Mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan program studi masing-masing, tetapi sejak awal diajak memahami bahwa ilmu Akuakultur, MSA, dan THP memiliki keterkaitan erat dalam membangun sektor perikanan yang utuh.

Bagi mahasiswa Akuakultur, pengalaman di BBPBAP memberikan gambaran mengenai praktik budidaya. Mahasiswa THP dapat melihat secara langsung bagaimana komoditas perikanan diolah menjadi produk bernilai tambah, sementara mahasiswa MSA dapat melihat keterkaitan antara aktivitas perikanan, pelabuhan, dan pemanfaatan sumber daya. Ketiganya bertemu dalam satu sistem perikanan yang saling terhubung.

Lebih dari sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru, Kenal Perikanan UGM 2026 menjadi langkah awal untuk memperkenalkan luasnya ruang kontribusi lulusan perikanan. Mahasiswa diajak melihat bahwa masa depan perikanan tidak hanya berada di laut atau tambak, tetapi juga di industri pengolahan, teknologi, kewirausahaan, pengelolaan sumber daya, kebijakan, dan berbagai bidang lainnya.

Perjalanan selama dua hari tersebut juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan antarmahasiswa dari tiga program studi. Dengan tujuh bus yang masing-masing didampingi oleh dosen, tenaga kependidikan, dan pendamping, kegiatan dirancang sebagai perjalanan bersama untuk mengenal lebih dekat dunia perikanan sekaligus keluarga besar Departemen Perikanan.

Melalui Kenal Perikanan 2026, Departemen Perikanan UGM menanamkan pesan bahwa menjadi mahasiswa perikanan berarti mempersiapkan diri untuk memahami dan membangun sebuah sektor yang kompleks, strategis, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Pengalaman pertama di lapangan diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjalani perjalanan akademik dengan perspektif yang lebih luas mengenai peran mereka di masa depan.

Kegiatan Kenal Perikanan 2026 turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pembelajaran berbasis pengalaman, pengenalan dunia industri dan praktik perikanan, serta penguatan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

Dari ruang kuliah menuju tambak, industri pengolahan, hingga pelabuhan perikanan, Kenal Perikanan 2026 menjadi langkah pertama bagi mahasiswa baru UGM untuk mengenal lebih dekat dunia yang kelak mereka bangun: perikanan Indonesia yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Lomba Mewarnai untuk Anak TK

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak hanya dirasakan oleh sivitas akademika dan masyarakat umum. Keceriaan juga hadir dari anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) yang mengikuti Lomba Mewarnai sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT Departemen Perikanan UGM.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang menghadirkan suasana berbeda dalam perayaan HUT ke-63. Dengan melibatkan anak-anak usia dini, Departemen Perikanan UGM berupaya memperkenalkan dunia perikanan dan lingkungan perairan melalui pendekatan yang menyenangkan, kreatif, dan sesuai dengan dunia anak.

Lomba mewarnai memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dan imajinasi mereka melalui gambar bertema perikanan. Dengan pensil warna dan berbagai pilihan warna, peserta menuangkan ide dan kreativitas masing-masing untuk menghasilkan karya yang menarik.

Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan ikan dan kehidupan perairan kepada anak sejak usia dini. Dunia perikanan yang sering kali dipahami sebagai bidang produksi dan pemanfaatan sumber daya, diperkenalkan melalui cara sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Melalui gambar ikan, lingkungan perairan, dan berbagai elemen yang berkaitan dengan dunia perikanan, anak-anak diajak untuk mengenal sekaligus membangun kedekatan dengan sumber daya perairan yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pelibatan anak-anak dalam rangkaian HUT menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa keberlanjutan perikanan merupakan tanggung jawab lintas generasi.

Pengenalan mengenai ikan dan lingkungan perairan sejak dini diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu serta kepedulian anak terhadap lingkungan. Pesan mengenai menjaga kebersihan perairan, mengenal keanekaragaman ikan, dan menghargai sumber daya alam dapat disampaikan melalui kegiatan yang sederhana namun menyenangkan.

Pada saat yang sama, lomba mewarnai juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas, keberanian berekspresi, ketelitian, dan rasa percaya diri. Setiap karya menjadi representasi imajinasi dan cara pandang anak terhadap dunia di sekitarnya.

Kehadiran peserta usia TK memberikan warna tersendiri dalam rangkaian HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM. Suasana kompetisi yang penuh semangat berpadu dengan kegembiraan anak-anak, menjadikan kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang mencari pemenang, tetapi juga sebagai ruang kebersamaan antara anak, orang tua, dan keluarga besar Departemen Perikanan.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perayaan ulang tahun Departemen Perikanan dapat menjadi momentum untuk membangun kedekatan dengan masyarakat dari berbagai kelompok usia. Pendidikan mengenai perikanan dan lingkungan tidak harus selalu disampaikan melalui ruang kelas atau forum akademik, tetapi dapat dimulai melalui kegiatan kreatif yang menyenangkan.

Melalui lomba mewarnai, Departemen Perikanan UGM turut menanamkan pesan bahwa generasi masa depan perlu mengenal, mencintai, dan menjaga sumber daya perairan sejak dini. Anak-anak yang hari ini menuangkan warna pada gambar ikan diharapkan kelak tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan memahami pentingnya sumber daya perikanan bagi kehidupan.

Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pendidikan lingkungan sejak usia dini dan pengenalan pentingnya menjaga sumber daya perairan.

Dari goresan warna anak-anak hari ini, Departemen Perikanan UGM menanamkan harapan untuk lahirnya generasi masa depan yang mengenal, mencintai, dan menjaga perairan Indonesia.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Bazar GEMARIKAN 2026 Dorong Konsumsi dan Produk Olahan Ikan Lokal

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Bazar GEMARIKAN 2026 pada Jumat (28/8). Bertempat di Lapangan Gedung A4 Departemen Perikanan UGM, kegiatan ini menghadirkan beragam produk ikan dan olahan hasil perikanan sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk semakin gemar mengonsumsi ikan.

Bazar yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dislautkan DIY). Kegiatan menjadi salah satu bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperkenalkan produk perikanan sekaligus mengampanyekan pentingnya konsumsi ikan bagi masyarakat.

Mengusung semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Bazar GEMARIKAN tidak sekadar menjadi kegiatan perayaan ulang tahun, tetapi juga menjadi ruang untuk mendekatkan produk perikanan kepada konsumen serta menunjukkan bahwa ikan dapat diolah menjadi beragam produk pangan yang menarik, praktis, dan sesuai dengan selera masyarakat masa kini.

Sebanyak 13 tenant turut meramaikan Bazar GEMARIKAN 2026. Berbagai produk segar dan olahan ikan ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari fresh fish hingga produk siap santap dengan beragam inovasi.

Tenant yang berpartisipasi meliputi Zamida Food, Phinisi Burger, Siomay Dimsum Batagor Fareta, Fania Food, Eldinam’s Food, Iwakku Foods, Fresh Fish, Orange Food, Simbokke Bu Nur Sambal Ikan, Khanza Food, Pempek Paris, Bakwan Udang, dan Ashlan Food.

Keberagaman produk tersebut menunjukkan bahwa komoditas perikanan memiliki peluang pengembangan yang luas. Ikan tidak hanya dapat dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah yang lebih dekat dengan preferensi konsumen.

Mulai dari burger, siomay, dimsum, batagor, pempek, sambal ikan hingga bakwan udang menjadi contoh bagaimana kreativitas pengolahan mampu meningkatkan daya tarik produk perikanan. Inovasi semacam ini sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pengembangan usaha dan kewirausahaan berbasis hasil perikanan.

Bazar ini membawa semangat Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) dengan mengajak sivitas akademika dan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan sebagai bagian dari pola pangan yang beragam dan bergizi.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting serta menyediakan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, membangun kebiasaan mengonsumsi ikan juga menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Namun, GEMARIKAN tidak hanya berbicara mengenai konsumsi. Di balik setiap produk ikan terdapat rantai ekonomi yang melibatkan pembudidaya, nelayan, pengolah, pedagang, pelaku UMKM, hingga konsumen. Meningkatnya minat masyarakat terhadap produk perikanan pada akhirnya dapat turut membuka peluang ekonomi bagi para pelaku yang berada di sepanjang rantai nilai tersebut.

Melalui Bazar GEMARIKAN, Departemen Perikanan UGM ingin memperlihatkan bahwa upaya meningkatkan konsumsi ikan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan inovasi produk dan penguatan ekonomi pelaku usaha perikanan lokal.

Pelaksanaan Bazar GEMARIKAN juga mencerminkan peran Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan dan teknologi perikanan, tetapi juga berupaya mendekatkan hasil dan semangat pengembangan sektor perikanan kepada masyarakat.

Kolaborasi dengan Dislautkan DIY menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Sinergi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk membangun sektor perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas.

Momentum HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM pun menjadi kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan panjang Departemen Perikanan dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perayaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aktivitas yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat potensi perikanan.

Bazar GEMARIKAN 2026 sekaligus menjadi ajakan sederhana kepada masyarakat: datang, cicipi, konsumsi ikan, dan dukung produk perikanan lokal. Dari pilihan pangan sehari-hari, masyarakat dapat turut berkontribusi terhadap kesehatan keluarga sekaligus keberlanjutan ekonomi para pelaku usaha perikanan.

Kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui promosi pangan bergizi berbasis ikan; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui dukungan terhadap usaha dan produk perikanan lokal; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan konsumsi produk perikanan bernilai tambah; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi Departemen Perikanan UGM, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Melalui semangat “Ikan Sehat, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!”, Departemen Perikanan UGM berharap Bazar GEMARIKAN 2026 dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk perikanan sekaligus memperkuat peran ikan sebagai sumber pangan bergizi dan penggerak ekonomi lokal menuju pembangunan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

123…27
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY