• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Fakultas Pertanian UGM
  • Fakultas Pertanian UGM
Arsip:

Fakultas Pertanian UGM

Belajar Kebijakan Laut hingga Strategi Pembangunan Perikanan, Ini Serunya Mata Kuliah Fisheries and Marine Policy di Perikanan UGM

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Sektor perikanan dan kelautan tidak hanya membutuhkan teknologi dan kemampuan produksi, tetapi juga kebijakan yang tepat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam mata kuliah Fisheries and Marine Policy di Magister Ilmu Perikanan (MIP), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

Mata kuliah wajib yang diajarkan pada semester pertama ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana kebijakan perikanan dan kelautan dibentuk, diterapkan, hingga dievaluasi dalam konteks pembangunan nasional maupun global. Mata kuliah ini diampu oleh Prof. Djumanto dan Prof. Suadi.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa belajar berbagai teori pembangunan perikanan, posisi sektor perikanan dalam ekonomi nasional dan internasional, hingga strategi kebijakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Tidak hanya membahas Indonesia, mahasiswa juga diajak melihat berbagai contoh pembangunan perikanan di negara-negara berbasis maritim seperti Jepang, Amerika, Eropa, dan negara-negara Asia lainnya.

Yang menarik, pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui kuliah di kelas. Mahasiswa aktif mengikuti diskusi kelompok, presentasi, studi kasus, kuis, hingga analisis berbagai persoalan nyata di sektor perikanan dan kelautan. Pendekatan ini membuat mahasiswa belajar berpikir kritis terhadap isu-isu strategis seperti konflik sumber daya, tata kelola pesisir, pembangunan ekonomi maritim, hingga peran negara dan swasta dalam sektor perikanan.

Mahasiswa juga dikenalkan pada konsep kebijakan publik modern dan tata kelola laut internasional. Topik-topik seperti konservasi lintas batas laut, hukum laut internasional, hingga marine governance menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dunia perikanan modern sangat erat kaitannya dengan aspek sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan secara global.

Selain memperkuat wawasan akademik, mata kuliah ini dirancang untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam merumuskan, menerapkan, dan mengevaluasi kebijakan perikanan secara logis, kritis, dan inovatif. Mahasiswa juga didorong untuk mampu bekerja dalam tim, membangun jejaring, serta berkontribusi dalam pengembangan masyarakat dan sektor perikanan Indonesia.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu pembangunan pesisir, kebijakan publik, ekonomi kelautan, maupun tata kelola sumber daya laut, mata kuliah ini memberikan gambaran bahwa kuliah di Perikanan UGM tidak hanya belajar tentang ikan, tetapi juga memahami bagaimana kebijakan memengaruhi masa depan laut dan masyarakat pesisir.

Melalui pembelajaran ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mencetak lulusan yang mampu berpikir strategis, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan sektor perikanan dan kelautan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Penguatan tata kelola dan kebijakan perikanan menjadi bagian penting dalam menciptakan pembangunan kelautan yang adil dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM: Melupakan Laut Berarti Mengabaikan Masa Depan Sosial Indonesia

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Wacana mengenai memudarnya orientasi pembangunan maritim Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah muncul opini berjudul “Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan” yang dimuat media nasional. Tulisan tersebut menyoroti bagaimana laut perlahan kehilangan posisi strategis dalam arah pembangunan Indonesia, padahal laut merupakan fondasi penting bagi identitas dan masa depan bangsa.
RMOL – Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan

Menanggapi isu tersebut, dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, menilai bahwa persoalan terbesar Indonesia hari ini bukan semata-mata eksploitasi laut, melainkan cara pandang pembangunan yang mulai menjauh dari identitas maritim bangsa.

Menurut Dr. Mukti, laut selama ini terlalu sering diposisikan hanya sebagai sumber ekonomi dan ruang produksi. Padahal, laut memiliki dimensi sosial, budaya, ekologis, hingga politik yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama komunitas pesisir dan nelayan kecil.

“Ketika laut hanya dipahami sebagai komoditas ekonomi, maka yang hilang bukan hanya ekosistemnya, tetapi juga ruang hidup masyarakat pesisir, pengetahuan lokal, dan identitas maritim Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan sektor kelautan seharusnya tidak berhenti pada peningkatan produksi atau investasi semata. Menurutnya, kebijakan maritim perlu melihat laut sebagai ruang kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan, budaya lokal, hingga keberlanjutan sosial masyarakat.

Dr. Mukti juga menyoroti bagaimana masyarakat pesisir sering menjadi kelompok yang paling terdampak ketika pembangunan tidak memperhatikan aspek sosial dan ekologis. Perubahan iklim, abrasi, pencemaran laut, hingga penurunan sumber daya ikan secara langsung memengaruhi kehidupan nelayan dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidup dari laut.

Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan paradigma pembangunan maritim yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Ia menilai pendekatan sosial dalam ilmu perikanan menjadi semakin penting untuk memahami bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, tekanan ekonomi, dan transformasi kebijakan di sektor kelautan.

“Laut bukan sekadar ruang geografis. Laut adalah ruang sosial. Di sana ada relasi budaya, ekonomi keluarga, solidaritas masyarakat, bahkan identitas komunitas yang terbentuk selama puluhan tahun,” jelasnya.

Sebagai akademisi yang menaruh perhatian pada kajian sosial perikanan dan masyarakat pesisir, Dr. Mukti Aprian juga menilai bahwa riset-riset sosial di bidang perikanan masih perlu diperkuat. Menurutnya, selama ini kajian kelautan lebih banyak didominasi pendekatan teknis dan produksi, sementara dinamika sosial masyarakat pesisir sering kurang mendapat perhatian.

Ia menekankan bahwa masa depan sektor kelautan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan memahami manusia yang hidup di dalam sistem tersebut.

Selain itu, Dr. Mukti menilai generasi muda perlu mulai membangun kembali kesadaran maritim. Kampus, menurutnya, memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk cara pandang baru terhadap laut, bukan sekadar sebagai sumber daya, tetapi sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan bangsa.

“Kalau laut rusak, dampaknya bukan hanya pada ikan atau ekosistem, tetapi juga pada ketahanan pangan, migrasi masyarakat pesisir, kemiskinan, hingga konflik sosial. Karena itu, menjaga laut sebenarnya adalah menjaga masa depan Indonesia,” tambahnya.

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, Departemen Perikanan UGM terus mendorong pengembangan ilmu perikanan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat pesisir.

Refleksi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-1 (No Poverty). Penguatan pembangunan maritim berbasis keberlanjutan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga ekologi laut sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Podcast Fisheries Talks Bahas Pentingnya Menjaga Ekosistem Laut Sejak Dini

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Kesadaran menjaga laut dan lingkungan pesisir perlu ditanamkan sejak usia dini. Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam episode terbaru Fisheries Talks by Media Perikanan UGM yang menghadirkan dua duta muda maritim Bali, yaitu Ni Putu Devika Wulandari dan Ni Putu Khenzie Dena Defika.

Dipandu oleh host Alya Putri Mezzaluna, podcast ini membahas berbagai isu terkait keberlanjutan ekosistem laut Indonesia serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan bahari.

Dalam perbincangan tersebut, kedua narasumber menyoroti bahwa laut Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar sekaligus menghadapi berbagai ancaman seperti sampah plastik, pencemaran, hingga kerusakan ekosistem pesisir. Kesadaran masyarakat, terutama anak muda, dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga masa depan laut Indonesia.

Podcast ini juga mengangkat bagaimana peran duta maritim tidak hanya sebatas ajang representasi, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap laut dan lingkungan pesisir. Melalui media sosial, kampanye edukasi, hingga kegiatan lingkungan, generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk menyebarkan kesadaran konservasi laut secara lebih luas.

Diskusi berlangsung hangat dan inspiratif dengan berbagai cerita pengalaman narasumber selama terlibat dalam kegiatan edukasi kemaritiman di Bali. Mereka juga berbagi pandangan mengenai pentingnya membangun kebiasaan sederhana seperti mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan pantai, dan lebih mengenal kekayaan laut Indonesia.

Isu keberlanjutan ekosistem laut sendiri menjadi perhatian global mengingat laut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan manusia. Berbagai tantangan seperti pencemaran laut, kerusakan terumbu karang, dan eksploitasi sumber daya laut berlebihan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem bahari.

Melalui podcast ini, Media Perikanan UGM berupaya menghadirkan ruang diskusi yang ringan namun edukatif agar isu kelautan semakin dekat dengan generasi muda. Kehadiran figur muda seperti Duta Maritim Bali diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap laut Indonesia.

Video podcast dapat disaksikan melalui kanal YouTube berikut:
Fisheries Talks – Menjaga Keberlanjutan Ekosistem Laut Indonesia

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Edukasi dan keterlibatan generasi muda menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia untuk masa depan.

IMB Perikanan UGM: Tempat Mahasiswa Belajar Bisnis, Kepemimpinan, dan Industri Perikanan Secara Nyata

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Kuliah di Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada tidak hanya tentang belajar di ruang kelas atau praktikum laboratorium. Mahasiswa juga mendapat kesempatan belajar langsung mengelola bisnis melalui Inkubator Mina Bisnis (IMB), sebuah wadah pengembangan kewirausahaan yang menjadi salah satu ciri khas Departemen Perikanan UGM.

IMB hadir sebagai sarana pembelajaran praktis yang dirancang untuk membentuk jiwa entrepreneur mahasiswa di bidang perikanan dan kelautan. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori bisnis, tetapi juga terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, pelayanan konsumen, hingga pengembangan produk berbasis hasil perikanan.

Salah satu unit yang paling dikenal adalah Resto IMB, yang menjadi ruang belajar sekaligus praktik bisnis mahasiswa. Di tempat ini, mahasiswa belajar mengelola usaha secara nyata mulai dari produksi, pemasaran, manajemen operasional, hingga pelayanan pelanggan. Konsep pembelajaran ini membuat mahasiswa memiliki pengalaman profesional bahkan sebelum lulus kuliah.

Menariknya, IMB juga terhubung dengan pengembangan produk inovatif perikanan seperti delifiZ, produk olahan ikan yang diinisiasi Departemen Perikanan UGM. Produk-produk tersebut menjadi contoh bagaimana hasil riset dan inovasi mahasiswa maupun dosen dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Keberadaan IMB menunjukkan bahwa pendidikan perikanan modern tidak hanya fokus pada aspek produksi dan budidaya, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan bisnis dan manajemen. Mahasiswa diajak memahami rantai industri perikanan secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga pemasaran produk kepada masyarakat.

Selain meningkatkan keterampilan kewirausahaan, IMB juga menjadi ruang pengembangan soft skills mahasiswa seperti kepemimpinan, komunikasi, kerja tim, dan kemampuan problem solving. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi lulusan untuk menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha mandiri di sektor perikanan.

Departemen Perikanan UGM sendiri telah berdiri sejak tahun 1963 dan terus berkembang sebagai institusi pendidikan perikanan yang unggul di Indonesia. Saat ini Departemen Perikanan memiliki berbagai program studi yang telah terakreditasi unggul dan memperoleh akreditasi internasional.

Melalui IMB, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi sarjana yang kuat secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan mampu menciptakan inovasi berbasis sumber daya perikanan.

Informasi lengkap mengenai Departemen Perikanan UGM dan IMB dapat diakses melalui:
Departemen Perikanan UGM

Program IMB ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-8 (Decent Work and Economic Growth), dan tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Pengembangan kewirausahaan mahasiswa menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi muda yang inovatif dan mampu membangun sektor perikanan berkelanjutan di masa depan.

Podcast Perikanan UGM Angkat Kisah Mahasiswa Akuakultur Peraih Medali Perunggu PIMNAS 38

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Yogyakarta — Prestasi mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menjadi inspirasi melalui tayangan podcast terbaru Media Perikanan UGM. Episode kali ini menghadirkan Mutiara Hanum, mahasiswa Program Studi Akuakultur UGM yang berhasil meraih medali perunggu pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38 tahun 2025.

Podcast dipandu oleh host Aurelie Firlana Salsabilla dan membahas perjalanan Mutiara Hanum dalam mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) hingga berhasil membawa pulang prestasi nasional di ajang ilmiah paling bergengsi bagi mahasiswa Indonesia.

Dalam perbincangan tersebut, Mutiara berbagi cerita mengenai proses penyusunan ide, tantangan selama kompetisi, hingga pengalaman mengikuti PIMNAS 38. Ia juga menceritakan bagaimana kerja tim, konsistensi, dan dukungan lingkungan akademik menjadi faktor penting dalam perjalanan prestasinya.

Prestasi yang diraih Mutiara Hanum sebelumnya juga mendapat apresiasi dari Fakultas Pertanian UGM. Dalam ajang PIMNAS 38, Mutiara berhasil memperoleh Medali Perunggu kategori Poster pada cabang Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI).

Tim yang diikuti Mutiara mengembangkan inovasi bertajuk SOLAQUA, sistem aerasi cerdas berbasis tenaga surya dan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas air budidaya secara real-time. Inovasi tersebut dinilai mampu mendukung sistem akuakultur yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Melalui podcast ini, Media Perikanan UGM tidak hanya menghadirkan cerita prestasi mahasiswa, tetapi juga membuka ruang inspirasi bagi mahasiswa lain agar berani mencoba, berkarya, dan terlibat dalam berbagai kompetisi ilmiah.

Suasana podcast berlangsung santai dan interaktif, membuat pengalaman mengikuti PIMNAS terasa dekat dan relevan bagi mahasiswa. Berbagai cerita di balik proses persiapan, dinamika lomba, hingga pengalaman bertemu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia turut menjadi bagian menarik dalam episode tersebut.

Bagi mahasiswa baru maupun calon mahasiswa, podcast ini memberikan gambaran bahwa kuliah di Akuakultur UGM tidak hanya berfokus pada pembelajaran di kelas, tetapi juga membuka banyak peluang untuk berprestasi, berinovasi, dan mengembangkan solusi nyata bagi sektor perikanan dan lingkungan.

Video podcast dapat disaksikan melalui kanal YouTube berikut:
Podcast Mahasiswa Akuakultur UGM Tembus Perunggu PIMNAS 38

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan SDG 14 (Life Below Water). Inovasi mahasiswa di bidang akuakultur berkelanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi perikanan yang ramah lingkungan dan berdampak bagi masyarakat.

Belajar Rekayasa Genetik hingga Pemuliaan Ikan Modern, Ini Serunya Mata Kuliah Genetics and Fish Breeding di Akuakultur UGM

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Yogyakarta — Dunia akuakultur modern tidak lagi hanya berbicara tentang memberi pakan dan memelihara ikan. Di Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, mahasiswa juga diajak memahami bagaimana ilmu genetika dapat digunakan untuk menghasilkan ikan unggul melalui mata kuliah Genetics and Fish Breeding atau Pemuliaan Ikan.

Mata kuliah wajib ini menjadi salah satu pembelajaran penting bagi mahasiswa Akuakultur untuk memahami dasar-dasar genetika hingga teknologi pemuliaan ikan modern. Mata kuliah ini diampu oleh Dosen diantaranya Dr. Dini Wahyu Kartika Sari.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa belajar bagaimana sifat genetik ikan dapat diwariskan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas budidaya perikanan. Topik yang dipelajari pun sangat beragam, mulai dari konsep genetika ikan, seleksi induk unggul, heritabilitas, variasi genetik, hingga teknik pemuliaan berbasis bioteknologi.

Yang menarik, mahasiswa juga dikenalkan pada berbagai teknologi modern seperti ikan transgenik (GMO fish), poliploidi, ginogenesis, androgenesis, hingga teknologi sex reversal untuk menghasilkan ikan jantan atau betina sesuai kebutuhan budidaya. Materi-materi tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan ilmu genetika kini menjadi bagian penting dalam dunia akuakultur modern.

Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan blended learning dan student-centered learning (SCL). Mahasiswa tidak hanya mendengarkan kuliah di kelas, tetapi juga aktif berdiskusi, mengerjakan studi kasus, presentasi, hingga memanfaatkan platform digital seperti eLOK dan eLISA untuk pembelajaran mandiri.

Selain memahami teori, mahasiswa juga diajak berpikir kritis mengenai pemanfaatan teknologi genetika secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. Hal ini penting karena pengembangan akuakultur masa depan tidak hanya menuntut produktivitas tinggi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, etika, dan keberlanjutan sumber daya hayati.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada dunia sains, bioteknologi, dan inovasi budidaya perikanan, mata kuliah ini menjadi gambaran bahwa kuliah di Akuakultur UGM menawarkan pengalaman belajar yang modern dan relevan dengan perkembangan teknologi global.

Melalui pembelajaran ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mencetak lulusan yang mampu mengembangkan teknologi budidaya perikanan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi untuk mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sektor perikanan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Pengembangan teknologi genetika dan pemuliaan ikan menjadi bagian penting dalam mendukung sistem akuakultur yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Tinjau Mahasiswa Magang Berdampak di PPN Prigi

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Trenggalek — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman lapangan kembali diwujudkan melalui kunjungan dosen pembimbing ke lokasi Magang Berdampak mahasiswa di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Kunjungan dilakukan oleh Prof. Djumanto sebagai bentuk monitoring dan pendampingan terhadap mahasiswa peserta program magang yang sedang menjalani praktik profesional di salah satu pelabuhan perikanan strategis di pesisir selatan Jawa Timur tersebut.

Dalam kunjungan ini, Prof. Djumanto meninjau langsung berbagai aktivitas mahasiswa, mulai dari pengamatan proses pendaratan ikan, pengelolaan pelabuhan perikanan, tata niaga hasil tangkapan, hingga sistem operasional perikanan tangkap yang berlangsung di kawasan PPN Prigi.

Sebagai salah satu pusat aktivitas perikanan tangkap di Jawa Timur, PPN Prigi menjadi ruang belajar yang penting bagi mahasiswa untuk memahami dinamika dunia perikanan secara nyata. Mahasiswa tidak hanya mempelajari aspek teknis penangkapan ikan, tetapi juga melihat hubungan antara aktivitas pelabuhan, ekonomi nelayan, rantai distribusi hasil perikanan, dan pengelolaan sumber daya laut.

Program Magang Berdampak sendiri dirancang untuk memperkuat kompetensi mahasiswa melalui pengalaman langsung di dunia kerja. Melalui keterlibatan di instansi dan kawasan perikanan strategis, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik profesional di lapangan.

Selain melakukan monitoring, kunjungan ini juga menjadi ruang diskusi antara dosen pembimbing, mahasiswa, dan pihak pelabuhan terkait tantangan sektor perikanan tangkap modern, termasuk isu keberlanjutan sumber daya ikan, efisiensi pelabuhan, serta penguatan tata kelola perikanan. Mahasiswa peserta magang juga memperoleh kesempatan untuk memahami berbagai aspek manajemen pelabuhan perikanan, mulai dari layanan kapal, penanganan hasil tangkapan, pengawasan mutu ikan, hingga sistem logistik dan distribusi hasil perikanan. Bagi Departemen Perikanan UGM, pembelajaran berbasis praktik lapangan menjadi bagian penting dalam mencetak lulusan yang adaptif, profesional, dan memahami kondisi nyata sektor perikanan Indonesia.

Informasi mengenai PPN Prigi dapat diakses melalui:
Profil PPN Prigi

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pengalaman belajar berbasis lapangan menjadi langkah penting dalam membangun sumber daya manusia perikanan yang kompeten dan berorientasi pada keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Departemen Perikanan UGM Bahas Penguatan Tri Dharma dan Penyesuaian Kurikulum Baru

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menggelar diskusi internal terkait penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus pembahasan perubahan kurikulum program studi pada pukul 13.00 WIB di Ruang 202 Departemen Perikanan.

Kegiatan dibuka langsung oleh Ketua Departemen Perikanan, Prof. Alim Isnansetyo, yang menekankan pentingnya adaptasi pendidikan tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan industri, dan tantangan global di sektor perikanan dan kelautan.

Dalam sambutannya, Prof. Alim menyampaikan bahwa penguatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan dengan pembaruan sistem pembelajaran yang lebih adaptif dan relevan. Perubahan kurikulum dinilai menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan lulusan yang mampu menghadapi dinamika dunia kerja dan perkembangan ilmu perikanan modern.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari masing-masing ketua program studi terkait penyesuaian kurikulum berdasarkan Peraturan Rektor Nomor 19 Tahun 2025. Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, Dr. Ratih Ida Adharini, memaparkan berbagai penyesuaian kurikulum yang diarahkan pada penguatan kompetensi mahasiswa dalam bidang pengelolaan sumber daya perairan, konservasi, dan keberlanjutan lingkungan akuatik. Kurikulum baru juga menekankan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis pemecahan masalah.

Sementara itu, Ketua Program Studi Akuakultur, Dr. Susilo Budi Priyono, menjelaskan bahwa perubahan kurikulum dilakukan untuk memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang budidaya perikanan modern, teknologi akuakultur, biosekuriti, hingga pengembangan inovasi budidaya berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Di sisi lain, Ketua Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Dr. Indun Dewi Puspita, menyoroti pentingnya integrasi teknologi pangan, keamanan pangan hasil perikanan, dan inovasi produk dalam kurikulum terbaru. Penyesuaian tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing lulusan di bidang pengolahan hasil perikanan dan industri pangan berbasis kelautan.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari dosen terkait implementasi kurikulum baru, metode pembelajaran, hingga penguatan kolaborasi lintas bidang dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Departemen Perikanan UGM untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan memastikan kurikulum yang diterapkan tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan dunia profesional.

Selain membahas aspek akademik, forum ini juga menjadi ruang koordinasi penguatan penelitian dan pengabdian masyarakat agar pelaksanaan Tri Dharma di lingkungan Departemen Perikanan semakin berdampak luas bagi masyarakat dan pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Pengembangan kurikulum yang adaptif dan berbasis inovasi menjadi langkah penting dalam menciptakan pendidikan tinggi yang berkualitas dan relevan dengan tantangan masa depan.

Dosen Perikanan UGM Ikuti Sosialisasi dan Simulasi Kenaikan Jabatan Akademik Melalui SISTER

Berita Senin, 11 Mei 2026

Yogyakarta — Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Kenaikan Jabatan Dosen melalui SISTER yang diselenggarakan pada Senin, 11 Mei 2026 di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan pemahaman dosen terkait mekanisme pengajuan kenaikan jabatan akademik melalui platform SISTER (Sistem Informasi Sumberdaya Terintegrasi). Sosialisasi diikuti oleh dosen di lingkungan Fakultas Pertanian UGM, termasuk sivitas akademika Departemen Perikanan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai alur administrasi, kelengkapan dokumen, hingga simulasi teknis pengajuan jabatan akademik dosen melalui sistem digital. Proses digitalisasi layanan akademik dinilai penting untuk mendukung tata kelola perguruan tinggi yang lebih efektif, transparan, dan terintegrasi.

Selain membahas aspek administratif, kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi mengenai pengembangan karier akademik dosen, mulai dari strategi penyusunan portofolio akademik, penguatan publikasi ilmiah, hingga pemenuhan indikator kinerja tridarma perguruan tinggi.

Bagi dosen Departemen Perikanan UGM, kegiatan semacam ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas akademik dan profesionalisme di tengah tuntutan pendidikan tinggi yang semakin dinamis dan kompetitif. Jabatan akademik tidak hanya menjadi bentuk pengakuan profesional, tetapi juga mencerminkan kontribusi dosen dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab dan simulasi langsung penggunaan sistem SISTER. Peserta aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan administrasi maupun teknis yang sering dihadapi dalam proses pengajuan kenaikan jabatan akademik.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Pertanian UGM terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia akademik agar mampu berkontribusi lebih luas dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Penguatan tata kelola akademik dan pengembangan kapasitas dosen menjadi bagian penting dalam menciptakan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Perkuat Kompetensi Petugas Karantina Yogyakarta dalam Deteksi Penyakit Ikan

Berita Senin, 11 Mei 2026

Yogyakarta — Upaya memperkuat sistem pengawasan kesehatan ikan terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang karantina perikanan. Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan In House Training (IHT) Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Penyakit Ikan pada Kamis, 30 April 2026.

Kegiatan ini menghadirkan dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, sebagai narasumber utama dalam pelatihan teknik pengambilan dan penanganan sampel penyakit ikan.

Pelatihan dibuka langsung oleh Kepala Karantina Yogyakarta, Obing Hobir As’ari, yang menekankan pentingnya peningkatan kompetensi petugas di tengah semakin dinamisnya lalu lintas media pembawa penyakit ikan. Kemampuan melakukan pengambilan sampel secara tepat dinilai menjadi fondasi utama dalam menghasilkan pengujian laboratorium yang akurat dan dapat dipercaya.

Dalam sesi materi, Dr. Laila membahas berbagai teknik sampling untuk pemeriksaan penyakit ikan, mulai dari metode pengambilan sampel representatif, prosedur penanganan sampel, hingga cara menjaga kualitas sampel agar tetap layak diuji di laboratorium kesehatan ikan.

Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik langsung pengambilan dan preparasi sampel untuk pengujian penyakit yang disebabkan oleh parasit, bakteri, dan virus. Simulasi laboratorium dilakukan secara interaktif dengan pendampingan langsung dari narasumber dan tim teknis.

Peserta pelatihan terlihat aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan di lapangan, termasuk risiko kontaminasi sampel, teknik preparasi organ target, hingga prosedur pengiriman sampel yang sesuai standar laboratorium kesehatan ikan.

Keterlibatan dosen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen akademisi dalam mendukung penguatan sistem biosekuriti dan pengawasan kesehatan ikan di Indonesia. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga karantina dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pengawasan penyakit ikan yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan pelatihan ini, Karantina Yogyakarta berharap kompetensi petugas semakin meningkat sehingga mampu mendukung sistem pengawasan kesehatan ikan yang profesional, responsif, dan berbasis standar ilmiah.

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan sistem kesehatan ikan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan, keberlanjutan perikanan, dan keamanan sumber daya hayati perairan Indonesia.

 

Sumber Foto: Karantina DIY

123…18
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY