• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • Fakultas Pertanian UGM
  • Fakultas Pertanian UGM
  • hal. 2
Arsip:

Fakultas Pertanian UGM

Teknologi Hasil Perikanan UGM Raih Akreditasi Unggul, Teguhkan Komitmen Pendidikan dan Inovasi Perikanan Berkelanjutan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026 — Kabar membanggakan kembali hadir dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) berhasil memperoleh status akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP).

Berdasarkan Keputusan Nomor 001/SK/LAMPTIP/Ak.U/S/VIII/2026, status akreditasi Unggul tersebut berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen 365,68. Keputusan tersebut ditetapkan di Surakarta pada 24 Agustus 2026 oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng.

Predikat Unggul menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan di Program Studi THP UGM. Bagi Departemen Perikanan, capaian ini tidak hanya menjadi pengakuan formal, tetapi juga mencerminkan komitmen sivitas akademika dalam membangun pendidikan perikanan yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia industri.

Bidang Teknologi Hasil Perikanan memiliki posisi strategis dalam rantai nilai perikanan. Sumber daya ikan tidak cukup hanya ditangkap atau dibudidayakan, tetapi perlu ditangani dan diolah secara tepat agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, aman dikonsumsi, memiliki daya saing, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan kompetensi lulusan THP tidak hanya mencakup teknologi pengolahan, tetapi juga mencakup kemampuan memahami keamanan pangan, pengembangan produk, bioteknologi, inovasi, hingga pengelolaan industri hasil perikanan. Profil lulusan yang dikembangkan juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja, mulai dari wirausaha dan profesional hingga ASN dan asisten peneliti.

Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar. Namun, tantangan sektor ini tidak berhenti pada produksi. Kehilangan hasil, keterbatasan teknologi pascapanen, rendahnya diversifikasi produk, serta kebutuhan terhadap pangan yang aman dan berkualitas menjadi tantangan yang membutuhkan inovasi.

Dalam konteks tersebut, THP UGM berperan penting dalam mengembangkan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan. Pengembangan teknologi pengolahan, inovasi produk, bioteknologi hasil perairan, serta pemanfaatan hasil samping dapat menjadi bagian dari upaya membangun industri perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan visi THP UGM untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi hasil perikanan serta mampu berkontribusi dalam pemanfaatan sumber daya ikan dan kelautan secara optimal, lestari, dan bermanfaat.

Capaian akreditasi ini juga tidak terlepas dari proses panjang peningkatan mutu yang melibatkan berbagai unsur Departemen Perikanan UGM. Sebelumnya, Departemen Perikanan telah melakukan berbagai persiapan dan koordinasi untuk menghadapi asesmen lapangan LAM-PTIP, yang melibatkan dosen, pengelola program studi, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta mitra pengguna lulusan.

Proses tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan, mulai dari kurikulum, sumber daya manusia, proses pembelajaran, penelitian, luaran lulusan, fasilitas, hingga jejaring kerja sama.

Dengan diraihnya akreditasi Unggul, Departemen Perikanan UGM menempatkan capaian tersebut bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai landasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, inovasi, dan kontribusi THP bagi pembangunan perikanan Indonesia.

Ke depan, tantangan sektor perikanan akan semakin kompleks. Perubahan iklim, tuntutan keamanan pangan, perkembangan teknologi, kebutuhan industri terhadap produk inovatif, serta tuntutan keberlanjutan menuntut sumber daya manusia yang mampu berpikir lintas disiplin.

Dalam konteks ekonomi biru, teknologi hasil perikanan memiliki peran penting untuk memastikan bahwa sumber daya akuatik yang telah dimanfaatkan dapat memberikan nilai ekonomi maksimal dengan tetap memperhatikan efisiensi sumber daya dan dampak lingkungan.

Lulusan THP diharapkan mampu menjadi bagian dari transformasi tersebut, baik melalui pengembangan industri pengolahan, kewirausahaan, penelitian dan inovasi, maupun pengembangan kebijakan dan pelayanan publik.

Capaian akreditasi Unggul Program Studi Teknologi Hasil Perikanan UGM sekaligus memperkuat kontribusi Departemen Perikanan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Pendidikan berkualitas mendukung SDG 4, sementara pengembangan teknologi dan inovasi hasil perikanan berkontribusi pada SDG 9. Pengembangan produk pangan berbasis ikan juga mendukung SDG 2, sedangkan efisiensi proses pengolahan, pemanfaatan hasil samping, dan pengurangan limbah mendukung SDG 12.

Pada akhirnya, penguatan teknologi pascapanen dan pengolahan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi sumber daya perikanan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya akuatik secara lebih bertanggung jawab, sejalan dengan SDG 14.

Akreditasi Unggul THP UGM menjadi bukti bahwa pendidikan perikanan tidak hanya mempersiapkan lulusan untuk bekerja, tetapi juga menyiapkan talenta yang mampu mengubah potensi sumber daya perikanan menjadi inovasi, nilai tambah, dan solusi bagi masa depan ekonomi biru Indonesia yang berkelanjutan.

Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Akreditasi Unggul LAM-PTIP, Teguhkan Komitmen Pendidikan Perikanan Berkualitas

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026 — Kabar membanggakan datang dari Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program studi tersebut berhasil memperoleh akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP), menegaskan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam menghadirkan pendidikan pascasarjana yang bermutu, relevan, dan berdaya saing.

Penetapan tersebut berdasarkan Keputusan LAM-PTIP Nomor 002/SK/LAMPTIP/Ak.U/Mg/VIII/2026. Status akreditasi Unggul berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen sebesar 376,22. Keputusan tersebut secara resmi ditetapkan di Surakarta oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., pada 24 Agustus 2026.

Predikat Unggul merupakan capaian penting bagi Program Studi Magister Ilmu Perikanan UGM. Akreditasi tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan, tata kelola akademik, serta proses pembelajaran yang dikembangkan oleh program studi.

Bagi Departemen Perikanan UGM, capaian ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan bagian dari proses berkelanjutan untuk memastikan bahwa pendidikan magister mampu menjawab kebutuhan sektor perikanan yang terus berkembang.

Perubahan lingkungan, perkembangan teknologi, dinamika ekonomi perikanan, perubahan sosial masyarakat pesisir, serta tuntutan terhadap pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan membutuhkan sumber daya manusia dengan kapasitas akademik dan kemampuan analitis yang kuat.

Dalam konteks tersebut, pendidikan magister memiliki peran strategis dalam membentuk ilmuwan, peneliti, profesional, dan pengambil kebijakan masa depan bidang perikanan.

Akreditasi Unggul juga menjadi momentum bagi Program Magister Ilmu Perikanan untuk terus memperkuat ekosistem penelitian dan inovasi. Pengembangan ilmu perikanan tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan untuk menghasilkan pengetahuan yang mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.

Berbagai tantangan seperti keberlanjutan sumber daya ikan, perubahan iklim, transformasi teknologi, ketahanan pangan, pengembangan akuakultur, pengolahan hasil perikanan, hingga kesejahteraan masyarakat pesisir membutuhkan pendekatan yang semakin multidisiplin.

Karena itu, pendidikan magister di bidang perikanan tidak hanya diarahkan pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa untuk menghasilkan penelitian, mengembangkan inovasi, serta merumuskan solusi berbasis bukti.

Capaian akreditasi ini sekaligus memperkuat posisi Program Magister Ilmu Perikanan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan dan penelitian UGM yang berkontribusi terhadap pengembangan sektor perikanan Indonesia.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola potensi kelautan dan perikanan secara produktif sekaligus berkelanjutan.

Dalam konteks ekonomi biru, pengembangan sektor perikanan membutuhkan lulusan yang mampu melihat hubungan antara aspek ekologis, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan. Pendidikan magister menjadi salah satu ruang penting untuk membangun kapasitas tersebut.

Program Magister Ilmu Perikanan UGM diharapkan terus menghasilkan lulusan yang mampu berkontribusi di berbagai bidang, baik sebagai akademisi dan peneliti, profesional, birokrat, maupun penggerak inovasi dan pembangunan masyarakat.

Dengan demikian, predikat Unggul bukan menjadi titik akhir, tetapi landasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan kontribusi nyata Departemen Perikanan UGM bagi pembangunan perikanan nasional dan global.

Pencapaian akreditasi Unggul ini juga memperkuat kontribusi Departemen Perikanan UGM terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Penyelenggaraan pendidikan magister yang berkualitas secara langsung mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), sementara pengembangan riset dan inovasi berkontribusi pada SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).

Pada saat yang sama, penguatan ilmu pengetahuan dan kapasitas sumber daya manusia di bidang perikanan menjadi bagian penting dalam mendukung SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pengembangan pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Penguatan jejaring penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat juga mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Dengan diraihnya akreditasi Unggul, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus membangun pendidikan perikanan yang unggul, menghasilkan pengetahuan dan inovasi, serta menyiapkan generasi akademisi dan profesional yang mampu menjadikan sumber daya kelautan dan perikanan sebagai fondasi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Pra Kenal Perikanan UGM Sambut Mahasiswa Baru dengan Semangat Kekeluargaan dan Kreativitas

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 24 Agustus 2026 — Memulai perjalanan sebagai bagian dari keluarga besar Departemen Perikanan, mahasiswa baru Program Studi Akuakultur, Magister Sains Agribisnis (MSA), dan Teknologi Hasil Perikanan (THP) Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti rangkaian kegiatan Pra Kenal Perikanan pada Senin (24/8). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Fakultas Pertanian UGM ini menjadi momentum untuk memperkenalkan lingkungan akademik sekaligus membangun kedekatan antara mahasiswa baru, mahasiswa senior, dosen, dan keluarga besar Departemen Perikanan.

Kegiatan Pra Kenal Perikanan berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh semangat. Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada, dilanjutkan dengan sambutan serta pengenalan Departemen Perikanan yang disampaikan oleh Prof. Alim, serta berbagai penampilan kreatif dari mahasiswa dan dosen.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pengenalan institusi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mulai mengenal berbagai karakter dan budaya akademik yang ada di Departemen Perikanan. Mahasiswa dari berbagai program studi mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dan membangun jejaring sejak awal masa perkuliahan.

Mengenal Perikanan melalui Kreativitas Mahasiswa

Salah satu bagian yang menarik dalam kegiatan Pra Kenal Perikanan adalah hadirnya berbagai penampilan mahasiswa, termasuk perwakilan mahasiswa Program Studi Akuakultur, MSA, dan THP. Penampilan tersebut memberikan warna tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa di Departemen Perikanan tidak hanya berkutat pada aktivitas akademik.

Kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan bekerja dalam tim menjadi bagian penting dari pengalaman mahasiswa selama berada di UGM. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa baru diajak untuk melihat bahwa perjalanan menjadi insan perikanan juga dibangun melalui pengalaman berorganisasi, berkegiatan bersama, dan berinteraksi dengan sesama.

Tidak ketinggalan, para dosen Departemen Perikanan juga turut memberikan penampilan. Kehadiran dosen dalam suasana yang lebih informal tersebut memperkuat pesan bahwa hubungan akademik di Departemen Perikanan dibangun tidak hanya melalui proses pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui interaksi dan kebersamaan.

Menjadi Bagian dari Keluarga Besar Perikanan UGM

Pra Kenal Perikanan juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan Departemen Perikanan dan program studi yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik mereka.

Setelah rangkaian kegiatan bersama di Auditorium Fakultas Pertanian, mahasiswa kemudian mengikuti sesi pengenalan program studi secara paralel. Mahasiswa Akuakultur mengikuti sesi di Ruang 302 Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, mahasiswa THP di Auditorium MMA, sedangkan mahasiswa MSA mengikuti sesi di Auditorium Fakultas.

Pengenalan program studi tersebut menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk memahami karakter keilmuan, lingkungan pembelajaran, serta berbagai peluang yang dapat mereka kembangkan selama menempuh pendidikan.

Bagi mahasiswa baru, memasuki perguruan tinggi merupakan fase baru yang penuh tantangan sekaligus peluang. Karena itu, kegiatan Pra Kenal Perikanan diharapkan dapat membantu mahasiswa membangun rasa memiliki terhadap Departemen Perikanan sejak hari pertama.

Lebih dari sekadar kegiatan penyambutan, Pra Kenal Perikanan menjadi awal perjalanan untuk membangun identitas sebagai bagian dari generasi baru perikanan Indonesia. Mahasiswa diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi insan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu berkolaborasi, berinovasi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat serta keberlanjutan sumber daya perikanan.

Melalui semangat kebersamaan yang dibangun sejak awal, Departemen Perikanan UGM terus mendorong lahirnya generasi yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan untuk membangun masa depan perikanan Indonesia yang lebih maju dan berkelanjutan.

Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan pendidikan, pembentukan generasi muda perikanan, serta pembangunan jejaring dan kolaborasi sejak awal perjalanan akademik mahasiswa.

Kuliah Perdana Departemen Perikanan UGM Hadirkan Sekjen KKP, Dorong Generasi Baru Perikanan Siap Wujudkan Blue Economy

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 24 Agustus 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Kuliah Perdana Tahun Akademik 2026/2027 dengan mengangkat tema “Generasi Baru Perikanan Indonesia: Membangun Talenta Unggul untuk Mendukung Blue Economy dan Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (24/8) di Auditorium Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Kuliah perdana tersebut menghadirkan Dr. Ir. Andy Artha Donny Oktopura, S.T., M.Sc., Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, sebagai narasumber. Kegiatan ini secara khusus ditujukan bagi mahasiswa baru Program Sarjana Departemen Perikanan Faperta UGM angkatan 2026 sebagai bagian dari pengenalan awal terhadap perkembangan, tantangan, dan peluang sektor perikanan Indonesia.

Mengawali perjalanan akademik mahasiswa baru, kuliah perdana menjadi ruang untuk mempertemukan mahasiswa dengan perspektif praktis mengenai arah pembangunan kelautan dan perikanan nasional. Kehadiran Sekretaris Jenderal KKP memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kebutuhan sumber daya manusia dan kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi transformasi sektor kelautan dan perikanan.

Tema “Generasi Baru Perikanan Indonesia” menegaskan bahwa pembangunan sektor perikanan pada masa mendatang membutuhkan talenta yang tidak hanya menguasai pengetahuan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, berinovasi, berkolaborasi, serta memahami keterkaitan antara aspek ekonomi, sosial, teknologi, dan lingkungan.

Konsep blue economy menjadi salah satu perspektif penting yang diperkenalkan kepada mahasiswa. Ekonomi biru menempatkan sumber daya laut dan perairan sebagai modal pembangunan yang perlu dimanfaatkan secara produktif sekaligus dijaga keberlanjutannya. Bagi generasi muda perikanan, pendekatan tersebut membuka ruang pengembangan berbagai inovasi, mulai dari perikanan tangkap berkelanjutan, akuakultur, teknologi digital, pengolahan hasil perikanan, hingga pengelolaan ekosistem dan sumber daya pesisir.

Kuliah perdana juga menjadi momentum bagi Departemen Perikanan UGM untuk menanamkan perspektif bahwa masa depan perikanan Indonesia sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Mahasiswa sebagai generasi baru diharapkan mampu melihat sektor perikanan bukan semata sebagai kegiatan produksi, tetapi sebagai bagian strategis dari ketahanan pangan, ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

Bagi mahasiswa baru, kegiatan ini sekaligus menjadi langkah awal untuk membangun orientasi akademik dan profesional selama menempuh pendidikan di Departemen Perikanan. Interaksi dengan pemangku kebijakan nasional diharapkan dapat memberikan inspirasi mengenai berbagai peluang kontribusi yang dapat dikembangkan setelah menyelesaikan pendidikan.

Melalui Kuliah Perdana 2026, Departemen Perikanan UGM terus meneguhkan komitmennya dalam mempersiapkan generasi perikanan yang unggul, adaptif, inovatif, dan berwawasan keberlanjutan untuk berkontribusi dalam mewujudkan ekonomi biru serta mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.

Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kapasitas generasi muda, pengembangan talenta perikanan, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Gelar Pengabdian di Embung Tambakboyo, Dorong Kepedulian Lingkungan dan Gemar Makan Ikan

Berita Senin, 7 September 2026

Yogyakarta, 21 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Departemen Perikanan UGM melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Embung Tambakboyo pada Jumat (21/8). Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–10.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian terhadap lingkungan perairan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan.

Mengusung semangat “Bersama menjaga embung, bersama membangun masa depan perikanan!”, kegiatan pengabdian ini menghadirkan rangkaian aktivitas yang menggabungkan aksi lingkungan dan edukasi masyarakat. Tiga kegiatan utama yang dilaksanakan meliputi bersih embung, pemasangan papan anjuran kebersihan, serta sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Kegiatan diawali dengan aksi bersih-bersih di kawasan Embung Tambakboyo. Civitas akademika dan peserta kegiatan bersama-sama melakukan pengumpulan sampah di sekitar kawasan embung sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan perairan. Kebersihan kawasan embung memiliki arti penting, tidak hanya dari aspek estetika, tetapi juga dalam menjaga kualitas lingkungan perairan. Sampah yang masuk ke badan air berpotensi mengganggu kualitas perairan dan ekosistem di dalamnya. Karena itu, kegiatan bersih embung diharapkan dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan perairan merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana bagi Departemen Perikanan UGM untuk memperkenalkan perspektif perikanan yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya, tetapi juga pada pemeliharaan ekosistem sebagai fondasi keberlanjutan perikanan.

 

Pemasangan Papan Anjuran untuk Mendorong Perilaku Ramah Lingkungan

Selain aksi bersih embung, kegiatan pengabdian juga diisi dengan pemasangan papan anjuran menjaga kebersihan di kawasan Embung Tambakboyo. Papan tersebut mengajak pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.

Keberadaan papan anjuran diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk turut menjaga kebersihan kawasan embung, terutama karena ruang publik seperti Embung Tambakboyo dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai aktivitas.

Pendekatan edukatif ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan fisik, tetapi juga perlu diikuti dengan perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Kegiatan juga dilengkapi dengan sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Melalui kegiatan tersebut, Departemen Perikanan UGM turut mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan sebagai bagian dari pola makan yang sehat dan bergizi.

Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya perikanan yang besar, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan ikan sebagai bagian penting dari sistem pangan masyarakat. Karena itu, peningkatan konsumsi ikan perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan dan ekosistem perairan.

Kegiatan Gemarikan juga menjadi bentuk nyata kontribusi Departemen Perikanan UGM dalam menghubungkan ilmu perikanan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan. Kegiatan pengabdian di Embung Tambakboyo memperlihatkan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan di ruang kelas dan laboratorium. Pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Melalui kegiatan sederhana seperti membersihkan embung, memasang papan edukasi, dan mengampanyekan konsumsi ikan, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ekosistem perairan dan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 14 (Ekosistem Lautan), serta SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), melalui upaya menjaga lingkungan perairan, mendorong perilaku konsumsi yang bertanggung jawab, dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat konsumsi ikan.

PelletQ-AI: Inovasi Mahasiswa UGM Integrasikan AI dan Mesin Otomatis untuk Wujudkan Kemandirian Pakan Ikan

BeritaUncategorized Senin, 7 September 2026

Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil merealisasikan PelletQ-AI, sebuah sistem produksi pakan ikan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan mesin produksi pelet otomatis. Inovasi ini dikembangkan untuk membantu pembudidaya menghasilkan pakan ikan secara mandiri melalui proses formulasi dan produksi yang terintegrasi, sehingga dapat menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengembangan PelletQ-AI berangkat dari permasalahan yang dihadapi mitra, yaitu Budidaya Lele Pak Nanang di Kalurahan Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam usaha budidaya lele, biaya pakan masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi, yakni mencapai lebih dari 60–70 persen. Kenaikan harga pakan komersial yang tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ikan menyebabkan keuntungan pembudidaya semakin tertekan. Kondisi tersebut membuat ketergantungan terhadap pakan komersial masih relatif tinggi.

Selain tingginya biaya pakan, mitra juga belum memiliki fasilitas untuk memproduksi pakan secara mandiri. Ketiadaan mesin produksi pakan serta sistem yang dapat membantu menyusun formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan menyebabkan mitra bergantung sepenuhnya pada pakan komersial. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-PI UGM mengembangkan PelletQ-AI sebagai solusi yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sistem produksi pakan dalam satu ekosistem.

Berbeda dengan mesin pencetak pelet konvensional, PelletQ-AI dilengkapi dengan platform web app.pelletqai.com yang terhubung langsung dengan sistem kecerdasan buatan. Melalui platform tersebut, pembudidaya hanya perlu memasukkan data budidaya serta informasi mengenai bahan baku yang tersedia dan harganya. Selanjutnya, sistem AI melakukan optimasi untuk menghasilkan formulasi pakan dengan biaya serendah mungkin tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan nutrisi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil optimasi tersebut kemudian dikirimkan secara otomatis ke mesin PelletQ-AI sebagai acuan dalam proses produksi.

Seluruh proses produksi dilakukan secara otomatis di dalam mesin, mulai dari pencampuran bahan baku, pemasakan menggunakan sistem pemanas (heater), ekstrusi, pencetakan, hingga pemotongan pelet dalam satu rangkaian kerja yang terintegrasi. Dengan demikian, pelet yang dihasilkan telah matang dan siap digunakan sebagai pakan ikan tanpa memerlukan proses lanjutan.

Ketua Tim PKM-PI UGM, R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata, menjelaskan bahwa PelletQ-AI dirancang untuk menjawab permasalahan pembudidaya secara menyeluruh.

“PelletQ-AI tidak hanya berfungsi sebagai mesin produksi pelet, tetapi merupakan sistem produksi pakan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan, dan proses manufaktur dalam satu kesatuan. Melalui sistem ini, pembudidaya dapat memperoleh formulasi pakan dengan biaya yang lebih efisien namun tetap memenuhi standar nutrisi, kemudian langsung memproduksinya secara mandiri.”

Dosen pembimbing PKM-PI, Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin mampu menghasilkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat.

“PelletQ-AI merupakan contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggabungkan aspek rekayasa mesin, kecerdasan buatan, teknologi informasi, dan akuakultur dalam satu sistem. Harapannya, inovasi ini dapat membantu meningkatkan efisiensi usaha budidaya serta mendorong pemanfaatan teknologi di sektor perikanan.”

Sebagai mitra program, Pak Nanang menyambut baik penerapan PelletQ-AI di lokasi budidayanya.

“Selama ini kami bergantung pada pakan komersial karena belum memiliki alat untuk memproduksi pakan sendiri. Dengan adanya PelletQ-AI, kami berharap dapat membuat pakan secara mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau. Sistem berbasis web juga memudahkan kami memperoleh formulasi pakan tanpa harus menghitung komposisi bahan baku secara manual.”

Pengembangan PelletQ-AI juga sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui peningkatan efisiensi produksi dan penguatan kemandirian pembudidaya dalam penyediaan pakan, inovasi ini berpotensi mendukung efisiensi usaha, penguatan ekonomi pembudidaya, serta penerapan teknologi dan inovasi dalam pembangunan sektor akuakultur yang lebih berkelanjutan.

PelletQ-AI merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas disiplin Universitas Gadjah Mada yang terdiri atas R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata (Teknik Industri), Muhammad Wafdan Taqiyya (Teknologi Informasi), Muhammad Zahir Ali (Teknik Elektro), Clarissa Cindy Marta Devany (Akuakultur), dan Farhan Dwi Prabowo (Teknologi Rekayasa Mesin), di bawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Setelah melalui tahapan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan sistem, pengembangan platform web app.pelletqai.com, pembuatan mesin, hingga pengujian, PelletQ-AI kini telah berhasil direalisasikan di lokasi mitra. Tahapan selanjutnya meliputi pelatihan penggunaan sistem, pendampingan operasional, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Melalui program PKM-PI ini, Tim UGM berharap PelletQ-AI tidak hanya menjadi solusi bagi Budidaya Lele Pak Nanang, tetapi juga menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang mampu mendukung kemandirian produksi pakan ikan di Indonesia. Ke depan, integrasi platform web, kecerdasan buatan, dan mesin produksi dalam PelletQ-AI diharapkan dapat membantu lebih banyak pembudidaya menghasilkan pakan berkualitas dengan biaya yang lebih efisien, sehingga turut meningkatkan daya saing sektor budidaya perikanan nasional.

Dosen Muda Departemen Perikanan UGM Raih Gelar Doktor dari Jepang, Kembangkan Inovasi Keamanan Pangan Perikanan Berbasis Biologi Molekuler

Berita Senin, 7 September 2026

Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satu dosen muda, Grace Margareta, S.Pi., M.Sc., berhasil menyelesaikan studi doktoralnya di Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT), Jepang. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan kapasitas akademik Departemen Perikanan UGM, khususnya di bidang keamanan pangan hasil perikanan dan mikrobiologi pangan.

Sebelum menyelesaikan studi doktoralnya, Grace menjalani penelitian di Laboratory of Food Microbiology, Tokyo University of Marine Science and Technology, salah satu pusat unggulan dunia dalam bidang ilmu pangan dan teknologi hasil perikanan. Selain mengembangkan riset, selama menempuh studi ia juga aktif menjembatani kolaborasi penelitian antara Indonesia dan Jepang melalui kerja sama yang melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan TUMSAT.

Pada 3 Agustus 2026, Grace berhasil menyelesaikan presentasi akhir disertasinya. Penelitian Grace mengangkat isu yang sangat penting namun masih sering luput dari perhatian industri perikanan dunia, yaitu keamanan pangan terkait pembentukan histamin pada ikan scombroid, khususnya ikan makerel.

Histamin merupakan salah satu penyebab utama keracunan pangan pada produk perikanan yang dapat terbentuk meskipun ikan disimpan dalam rantai dingin. Selama ini, penyimpanan pada suhu sekitar 4°C dianggap telah memadai untuk menjaga keamanan produk. Namun, melalui penelitiannya, Grace menunjukkan bahwa asumsi tersebut belum sepenuhnya tepat.

Penelitian disertasinya mengungkap bahwa Photobacterium phosphoreum, bakteri psikrofilik penyebab utama pembentukan histamin, masih mampu tumbuh dan tetap aktif menghasilkan enzim pembentuk histamin meskipun berada pada suhu penyimpanan dingin. Bahkan, peningkatan suhu yang relatif kecil, dari 4°C menjadi 10°C, dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri secara signifikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian suhu yang lebih ketat, yakni ≤2°C, menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan ikan makerel selama distribusi dan penyimpanan.

Tidak berhenti pada aspek ekologi bakteri, Grace juga mengembangkan inovasi dalam metode deteksi. Ia berhasil merancang probe-based quantitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) assay yang secara spesifik menargetkan gen hdc2, yaitu gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan histamin. Metode ini memungkinkan deteksi bakteri meskipun berada pada fase Viable But Non-Culturable (VBNC), yaitu kondisi ketika bakteri masih hidup tetapi tidak dapat dideteksi menggunakan metode kultur konvensional.

Menurut Grace, keberadaan bakteri dalam fase VBNC merupakan salah satu tantangan terbesar dalam sistem pengawasan keamanan pangan karena berpotensi menghasilkan histamin meskipun tidak terdeteksi melalui penghitungan koloni pada media kultur. Oleh karena itu, pendekatan berbasis biologi molekuler memberikan tingkat sensitivitas yang jauh lebih tinggi dalam mengidentifikasi potensi risiko keamanan pangan.

Sebagai bagian dari penelitian, Grace juga mengevaluasi efektivitas Modified Atmosphere Packaging (MAP) melalui berbagai kombinasi gas karbon dioksida, oksigen, dan nitrogen selama penyimpanan dingin. Evaluasi dilakukan tidak hanya terhadap pertumbuhan bakteri dan akumulasi histamin, tetapi juga terhadap kualitas sensori ikan serta ekspresi gen yang berkaitan dengan pembentukan histamin. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam menentukan sistem pengemasan yang paling efektif untuk memperpanjang umur simpan sekaligus menjaga keamanan produk perikanan.

Lebih jauh, penelitian ini memberikan perspektif baru bagi industri perikanan global. Grace menegaskan bahwa menghitung jumlah bakteri semata tidak lagi cukup untuk menilai keamanan produk terhadap risiko histamin. Integrasi pendekatan ekologi mikroba, biologi molekuler, dan teknologi pengemasan menawarkan paradigma baru dalam penyusunan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) dan manajemen rantai dingin yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Pencapaian Grace Margareta menjadi kebanggaan bagi Departemen Perikanan UGM sekaligus memperkuat posisi institusi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional. Keahlian yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Jepang diharapkan dapat memperkuat kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan sistem keamanan pangan hasil perikanan yang lebih modern, berbasis sains, dan menjawab tantangan industri perikanan masa depan.

Kegiatan studi lanjut dan keberhasilan penelitian ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penelitian Grace berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui penguatan sistem keamanan pangan untuk melindungi kesehatan konsumen dari risiko keracunan histamin. Inovasi di bidang teknologi deteksi dan pengemasan pangan turut mendukung SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, sementara penguatan kapasitas akademik dosen melalui pendidikan doktoral internasional merupakan implementasi SDG 4: Quality Education. Selain itu, kolaborasi riset antara UGM, BRIN, dan Tokyo University of Marine Science and Technology mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals dalam memperkuat jejaring penelitian global guna menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi industri perikanan dan masyarakat dunia.

Program Studi Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Akreditasi Internasional ASIIN hingga 2031

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Prestasi membanggakan kembali diraih Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Program Studi Magister Ilmu Perikanan resmi memperoleh akreditasi internasional dari ASIIN (Accreditation Agency for Study Programmes in Engineering, Informatics, Natural Sciences and Mathematics). Pencapaian ini menjadi pengakuan internasional atas kualitas penyelenggaraan pendidikan, proses pembelajaran, dan capaian lulusan yang memenuhi standar akademik global.

Berdasarkan sertifikat akreditasi yang diterbitkan ASIIN, akreditasi untuk Program Studi Master of Science in Fisheries Science di Universitas Gadjah Mada berlaku mulai 26 September 2025 hingga 30 September 2031. Program studi ini juga dinyatakan memenuhi standar Level 7 European Qualifications Framework for Lifelong Learning (EQF LLL), yang menunjukkan kesetaraan kompetensi lulusan dengan jenjang magister pada kerangka kualifikasi pendidikan tinggi di Eropa.

ASIIN merupakan lembaga akreditasi internasional yang berbasis di Jerman dan dikenal luas dalam melakukan penjaminan mutu pendidikan tinggi di bidang teknik, ilmu alam, matematika, informatika, serta ilmu-ilmu terapan. Proses akreditasi dilakukan melalui evaluasi yang komprehensif terhadap kurikulum, capaian pembelajaran, kualitas dosen, tata kelola program studi, fasilitas pembelajaran, hingga sistem penjaminan mutu yang diterapkan oleh institusi.

Dalam sertifikat akreditasi disebutkan bahwa pemberian ASIIN Seal merupakan pengakuan bahwa program studi telah memenuhi tuntutan dunia akademik dan dunia profesi pada tingkat yang tinggi. Selain itu, ASIIN juga menilai bahwa program studi menyediakan lingkungan pembelajaran yang mendukung proses pendidikan yang berkualitas serta keberhasilan mahasiswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Penilaian tersebut didasarkan pada standar pembelajaran berbasis capaian (learning outcomes) yang selaras dengan European Qualifications Framework dan European Standards and Guidelines.

Ketua Departemen Perikanan UGM menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Akreditasi internasional bukan hanya menjadi bentuk pengakuan atas kualitas pendidikan yang telah dicapai, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus meningkatkan standar akademik, memperkuat internasionalisasi, dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global.

Bagi mahasiswa, akreditasi ASIIN memberikan nilai tambah karena menunjukkan bahwa proses pendidikan yang dijalani telah memenuhi standar internasional. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing lulusan, memperluas peluang studi lanjut maupun karier profesional, serta memperkuat jejaring akademik dan penelitian dengan berbagai institusi di luar negeri.

Ke depan, Departemen Perikanan UGM akan terus memperkuat kualitas pendidikan melalui inovasi kurikulum, pengembangan riset yang relevan dengan tantangan global, peningkatan kolaborasi internasional, serta penguatan kemitraan dengan pemerintah, industri, dan berbagai lembaga penelitian. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi bagi pembangunan sektor perikanan dan kelautan yang berkelanjutan.

Pencapaian akreditasi internasional ini juga mendukung komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pengakuan terhadap mutu pendidikan tinggi berkontribusi pada SDG 4: Quality Education melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan berstandar internasional. Penguatan jejaring akademik global dan harmonisasi standar pendidikan dengan kerangka kualifikasi internasional juga mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals, sementara pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidang perikanan diharapkan mampu mendukung SDG 14: Life Below Water melalui pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan.

Satu Langkah, Satu Semangat: Sivitas Akademika Perikanan UGM Meriahkan HUT ke-63 Lewat Jalan Sehat

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui penyelenggaraan kegiatan Jalan Sehat pada Jumat, 24 Juli 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Gedung A4 Departemen Perikanan UGM ini diikuti oleh sivitas akademika Departemen Perikanan, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Jalan sehat menjadi salah satu rangkaian kegiatan HUT yang bertujuan mempererat tali silaturahmi sekaligus membangun budaya hidup sehat di lingkungan kampus. Sejak pagi hari, para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan yang diawali dengan berkumpul di halaman Gedung A4 sebelum bersama-sama menempuh rute yang telah disiapkan panitia.

Momentum ini tidak hanya menjadi ajang berolahraga, tetapi juga menjadi ruang interaksi yang hangat antarsivitas akademika. Dalam suasana yang santai, dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan dapat saling bertegur sapa, berbagi cerita, serta memperkuat rasa kebersamaan yang menjadi bagian penting dari kehidupan akademik di Departemen Perikanan UGM.

Peringatan HUT ke-63 juga menjadi refleksi atas perjalanan panjang Departemen Perikanan UGM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi selama lebih dari enam dekade. Berbagai capaian di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama internasional menjadi fondasi yang terus diperkuat untuk menjawab tantangan pembangunan sektor perikanan dan kelautan di masa depan.

Melalui kegiatan jalan sehat, Departemen Perikanan UGM ingin menegaskan bahwa kesehatan dan kebugaran merupakan modal penting dalam mendukung produktivitas, kreativitas, dan kualitas kinerja sivitas akademika. Lingkungan akademik yang sehat diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi, kolaborasi, dan semangat pengabdian yang lebih besar bagi masyarakat.

Selain sebagai ajang kebersamaan, kegiatan ini juga menjadi wujud apresiasi kepada seluruh keluarga besar Departemen Perikanan UGM yang telah berkontribusi dalam perkembangan institusi. Semangat kekeluargaan yang terbangun diharapkan terus menjadi energi positif untuk menghadapi berbagai tantangan dan peluang di masa mendatang.

Mengusung semangat “Bersama Melangkah, Bersama Berkarya”, peringatan HUT ke-63 diharapkan semakin memperkuat solidaritas seluruh sivitas akademika dalam mewujudkan Departemen Perikanan UGM sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global, sekaligus tetap dekat dengan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang berdampak.

Kegiatan jalan sehat ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui aktivitas fisik yang melibatkan seluruh sivitas akademika, kegiatan ini mendukung SDG 3: Good Health and Well-being dengan mendorong pola hidup sehat dan meningkatkan kesejahteraan fisik. Semangat kebersamaan dan inklusivitas yang terbangun juga mencerminkan implementasi SDG 4: Quality Education, melalui penguatan lingkungan akademik yang kondusif bagi pembelajaran dan kolaborasi. Di samping itu, partisipasi aktif seluruh warga Departemen Perikanan menjadi wujud penguatan kemitraan internal yang selaras dengan SDG 17: Partnerships for the Goals, dalam membangun institusi yang semakin solid, kolaboratif, dan berdaya saing.

Semarak HUT ke-63, Departemen Perikanan UGM Gelar Aksi Donor Darah Bersama RSA UGM

Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Yogyakarta – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Departemen Perikanan bekerja sama dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM menyelenggarakan kegiatan Aksi Donor Darah pada Selasa, 28 Juli 2026 di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta masyarakat umum yang ingin berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan. Donor darah menjadi salah satu rangkaian kegiatan HUT Departemen Perikanan yang tidak hanya mempererat kebersamaan sivitas akademika, tetapi juga menjadi wujud nyata kepedulian terhadap sesama.

Mengusung semangat berbagi kehidupan, kegiatan ini bertujuan membantu memenuhi kebutuhan stok darah bagi pasien yang membutuhkan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya donor darah secara rutin. Setiap kantong darah yang terkumpul diharapkan dapat memberikan harapan baru bagi mereka yang sedang menjalani perawatan medis.

Ketua Departemen Perikanan UGM menyampaikan bahwa peringatan hari jadi departemen tidak hanya dimaknai sebagai momentum refleksi perjalanan institusi selama lebih dari enam dekade, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperluas kontribusi kepada masyarakat. Melalui kegiatan donor darah, sivitas akademika diajak untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai kepedulian, solidaritas, dan pengabdian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya akademik Departemen Perikanan.

Kerja sama dengan RSA UGM memastikan seluruh proses donor darah berlangsung sesuai standar medis, mulai dari pemeriksaan kesehatan awal, skrining calon pendonor, proses pengambilan darah, hingga pemantauan kondisi pendonor setelah kegiatan selesai. Selain memberikan manfaat bagi penerima donor, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan gaya hidup sehat agar dapat menjadi pendonor darah secara berkelanjutan.

Antusiasme peserta terlihat sejak pagi hari. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga alumni secara bergantian mengikuti proses donor darah dengan penuh semangat. Kehadiran berbagai elemen sivitas akademika menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial tetap menjadi nilai yang hidup di lingkungan Departemen Perikanan UGM.

Melalui penyelenggaraan aksi donor darah ini, Departemen Perikanan berharap dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup berbagi kepada sesama. Setetes darah yang didonorkan bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan solidaritas kemanusiaan yang mampu memberikan dampak besar bagi kehidupan orang lain.

Peringatan HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM diharapkan tidak hanya menjadi perayaan perjalanan institusi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat pengabdian kepada masyarakat. Dengan mengusung nilai kemanusiaan, kolaborasi, dan kepedulian sosial, Departemen Perikanan terus berkomitmen memberikan kontribusi nyata, baik melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, maupun aksi sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Aksi donor darah berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-being melalui dukungan terhadap ketersediaan darah yang aman dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Kolaborasi antara Departemen Perikanan dan RSA UGM mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals dalam membangun sinergi antarunit untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Selain itu, keterlibatan aktif dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan masyarakat menunjukkan semangat kebersamaan dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari penguatan budaya kampus yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar.

1234…27
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY