• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • Kerja Sama
    • Laporan Kinerja UPPS
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Fakultas Pertanian UGM
  • Fakultas Pertanian UGM
  • hal. 4
Arsip:

Fakultas Pertanian UGM

Alumni Departemen Perikanan UGM Berkiprah di Akuakultur Internasional: Kisah Sukses Andhika Rakhmanda

Berita Kamis, 9 April 2026

Yogyakarta – Alumni Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat global. Salah satunya adalah Andhika Rakhmanda, yang kini berkarier di sektor akuakultur internasional dan berperan dalam pengembangan sistem operasional berbasis data serta inovasi teknologi budidaya.

Andhika merupakan alumni Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA) tahun lulus 2015. Saat ini, ia menjabat sebagai Farm Manager di GK Aqua Sdn Bhd, Malaysia, setelah sebelumnya terlibat dalam proyek pengembangan akuakultur di Oman.

Dalam proyek tersebut, Andhika memimpin pilot intensifikasi tambak udang melalui peningkatan sistem aerasi, optimasi kepadatan tebar, penyempurnaan strategi pemberian pakan, serta manajemen kualitas air. Inisiatif ini menunjukkan potensi produktivitas mencapai 24–30 ton per hektare dalam rata-rata 93 hari budidaya dalam satu siklus produksi, sekaligus menjadi dasar dalam pengembangan SOP, pelatihan tim lapangan, serta pengambilan keputusan berbasis data untuk pengembangan skala yang lebih besar.

Menurut Andhika, pengalaman selama menempuh pendidikan di Departemen Perikanan UGM memberikan fondasi yang kuat dalam ilmu perikanan sekaligus manajemen. Kurikulum yang diterima tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga mengasah kemampuan analitis, problem solving, serta membentuk cara berpikir yang sistematis sebagai bekal utama dalam karier profesionalnya.

“Perkuliahan di MSA memberikan saya fondasi yang kuat dalam ilmu perikanan dan manajemen, sekaligus membentuk kemampuan analitis dan problem solving. Selain akademik, saya juga mengembangkan soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, networking, dan adaptasi melalui kegiatan organisasi. Pola pikir riset yang saya pelajari dari pembimbing saya, Prof. Suadi, hingga saat ini masih saya terapkan dalam pengembangan sistem dan pemecahan masalah di berbagai kondisi operasional akuakultur internasional,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis metodologi penelitian yang diperoleh selama masa studi sangat membantu dalam memahami karakteristik lingkungan budidaya serta merancang sistem yang sesuai untuk mencapai hasil produksi yang optimal.

Perjalanan karier Andhika menunjukkan bahwa kombinasi kompetensi akademik, soft skill, serta dukungan dosen dan lingkungan kampus mampu membuka peluang karier di tingkat global. Kisahnya menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni Departemen Perikanan UGM untuk terus mengembangkan diri dan berkontribusi dalam kemajuan sektor perikanan dunia.

Kualitas alumni ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Kontribusi tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri dan inovasi, ekosistem laut, serta kemitraan global.

Kiprah Alumni Perikanan UGM: Saiful Marbun Berkarir di Bidang Pengelolaan dan Kebijakan Perikanan Australia

Berita Kamis, 9 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menyoroti karier Saiful Marbun, alumnus Manajemen Sumber Daya Perikanan (MSP) yang kini menjabat sebagai Senior Policy Officer di Australian Fisheries Management Authority. Pendidikan di MSP UGM memberikan fondasi kuat yang krusial bagi perjalanan profesionalnya di sektor perikanan di Indonesia maupun Australia.

Selama masa studi, Saiful memperoleh pemahaman komprehensif mengenai produksi perikanan, manajemen operasional, hingga rantai pasok industri. Bekal akademik tersebut menjadi dasar penting dalam perjalanan kariernya setelah lulus, khususnya dalam menghadapi dinamika industri yang menuntut efisiensi, inovasi, dan kemampuan adaptasi tinggi.

Dalam perjalanan profesionalnya, Saiful telah mengembangkan pengalaman kerja di sektor operasional dan pengembangan bisnis perikanan. Ia terlibat dalam pengelolaan produksi, koordinasi tim lapangan, serta penguatan strategi distribusi dan pengembangan pasar. Perannya juga mencakup peningkatan efisiensi proses kerja, pengawasan kualitas produk, hingga penguatan kolaborasi lintas divisi dalam mendukung pertumbuhan perusahaan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa lulusan perikanan tidak hanya berperan di bidang teknis, tetapi juga memiliki peluang besar dalam manajemen bisnis dan pengembangan industri. Kemampuan komunikasi, kerja tim, serta pengambilan keputusan berbasis data menjadi keterampilan yang terus ia asah sepanjang kariernya.

Pencapaian beliau membuktikan bahwa sinergi keahlian teknis dan soft skill dari UGM mampu mencetak lulusan unggul yang kompetitif di kancah internasional. Perjalanan Saiful diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk mendalami ilmu perikanan di Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik UGM.

Dengan dedikasi dan kompetensi yang tepat, para lulusan memiliki peluang besar untuk berkontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan sektor kelautan di tingkat nasional maupun global.

Kualitas alumni ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, seirama dalam upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Alumni Departemen Perikanan UGM Berkiprah Global: Ardanti Yulia Cahyaningrum Sutarto Dorong Kebijakan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan

Berita Kamis, 9 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah alumninya di tingkat nasional dan internasional. Salah satunya adalah Ardanti Yulia Cahyaningrum Sutarto, lulusan S1 Perikanan UGM yang kini dikenal sebagai profesional pembangunan dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam, serta pembangunan berkelanjutan lintas sektor.

Dari Perikanan UGM ke Panggung Kebijakan Internasional. Ardanti menyelesaikan pendidikan Sarjana Perikanan di UGM pada 2003 dengan fokus Manajemen Sumber Daya Perairan. Ia kemudian melanjutkan studi Magister Ilmu Lingkungan di UGM dan meraih predikat cum laude. Saat ini, ia tengah menempuh studi doktoral di IPB University dengan fokus dimensi sosial dan gender dalam perikanan hiu dan pari. Studi ini didukung oleh the Ilegal Wildlife Trade (IWT) Fellowship dari Pemerintah Inggris yang merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Rekam Nusantara, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Centre for Environment, Fisheries and Aquaculture Science (CEFAS), Inggris. Bekal akademik tersebut menjadi fondasi kuat bagi perjalanan kariernya di berbagai lembaga internasional ternama.

Memimpin Program Lingkungan dan Iklim di Berbagai Lembaga Dunia Dalam perjalanan profesionalnya, Ardanti telah memegang peran strategis di sejumlah organisasi internasional, antara lain: 1) Project Manager di Agence Française de Développement (AFD), Ia mengelola portofolio proyek lingkungan, perubahan iklim, serta sumber daya alam di Indonesia, termasuk proyek Pengurangan Risiko Bencana  bernilai ratusan juta euro dan pengembangan proyek Karbon Biru. Dalam perannya, ia juga bertindak sebagai gender focal point dan mengelola proyek yang mengintegrasikan perspektif kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESI) dalam pengelolaan sumber daya alam.; 2) Senior Project Manager di Conservation Internasional, Memimpin proyek restorasi ekosistem gambut dan mangrove, sekaligus memastikan integrasi pendekatan inklusif dan kesetaraan gender dalam program konservasi; 3) Regional Manager USAID APIK (Climate Change Adaptation & Resilience), mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana di Jawa Timur yang meliputi tujuh kabupaten/kota wilayah DAS Brantas, memberikan manfaat bagi lebih dari 18.000 masyarakat.

Selain itu, Ardanti juga pernah berkontribusi di UNOPS, FAO, ILO, hingga berbagai program kemitraan internasional yang berfokus pada penguatan ketahanan masyarakat, tata kelola sumber daya, serta pembangunan inklusif.

Kontribusi Nyata bagi Pembangunan Inklusif dan Blue Economy. Sepanjang kariernya, Ardanti dikenal sebagai sosok yang konsisten mengintegrasikan perspektif GESI, pemberdayaan masyarakat pesisir, serta pendekatan kolaboratif dalam pengembangan kebijakan dan program pembangunan. Ia berperan dalam: Negosiasi hibah dan pinjaman internasional dengan pemerintah Indonesia; Pengembangan kebijakan blue economy dan pengelolaan pesisir; Peningkatan kapasitas ribuan masyarakat dalam ketahanan iklim dan ekonomi lokal; Penguatan kemitraan lintas kementerian, lembaga internasional, dan komunitas

Inspirasi bagi Mahasiswa dan Alumni Perikanan UGM. Perjalanan Ardanti Sutarto menjadi bukti bahwa lulusan Perikanan UGM memiliki peluang luas untuk berkontribusi pada isu global, mulai dari konservasi laut hingga kebijakan perubahan iklim. Kiprahnya di berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa ilmu perikanan tidak hanya berkontribusi pada sektor produksi, tetapi juga berperan penting dalam pembangunan berkelanjutan, tata kelola sumber daya, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Keberhasilan Ardanti diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni Departemen Perikanan UGM untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan dampak nyata bagi Indonesia maupun dunia. Kualitas alumni ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, seirama dalam upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Raker Perdana Selam Perikanan UGM 2026: Menyusun Langkah Strategis untuk Aksi Selam dan Konservasi yang Lebih Berdampak

Berita Rabu, 8 April 2026

Kepengurusan baru Selam Perikanan di Universitas Gadjah Mada (UGM) bergerak cepat memantapkan arah organisasi melalui penyelenggaraan Rapat Kerja (Raker) pada 8 April 2026. Agenda ini menjadi langkah strategis awal bagi kepengurusan terpilih dalam merumuskan program kerja selama satu periode ke depan.

Rapat kerja dihadiri oleh Pembina Organisasi, Prof. Eko Setyobudi dan ketua terpilih beserta seluruh jajaran pengurus baru. Dalam forum tersebut, setiap divisi memaparkan rancangan program kerja yang telah disusun berdasarkan evaluasi kegiatan sebelumnya serta kebutuhan pengembangan organisasi ke depan. Proses diskusi berlangsung dinamis, menekankan pentingnya sinergi antarbidang agar setiap program dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Berbagai program strategis disepakati dalam Raker, mulai dari penguatan kegiatan pelatihan selam, peningkatan kompetensi anggota, hingga pengembangan program observasi dan konservasi sumber daya akuatik. Selain itu, organisasi juga menargetkan peningkatan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas dampak kegiatan, baik dalam lingkup kampus maupun masyarakat umum.

Raker ini menjadi momentum penting untuk menyatukan visi kepengurusan baru sekaligus memastikan bahwa setiap program yang dijalankan memiliki arah yang jelas dan terukur. Dengan perencanaan yang matang, Selam Perikanan UGM diharapkan mampu menjadi wadah yang semakin solid bagi mahasiswa yang memiliki minat di bidang selam, sekaligus berkontribusi aktif dalam upaya pelestarian ekosistem perairan.

Pelaksanaan Raker menandai komitmen kuat kepengurusan baru untuk menghadirkan inovasi, memperkuat kolaborasi, dan membawa organisasi menuju periode yang produktif dan berdampak. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas mahasiswa, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Departemen Perikanan UGM Jajaki Kolaborasi Riset dan Budidaya Bersama Startup dan Industri Perikanan

Berita Rabu, 8 April 2026

Departemen Perikanan UGM terus memperluas jejaring kemitraan strategis dengan dunia usaha dan industri. Upaya tersebut diwujudkan melalui pertemuan penjajakan kerja sama yang dilakukan oleh Dr. Desy Putri Handayani dan Dr. Olivia Yofananda bersama startup Waste and Wishes serta perusahaan pengolahan perikanan Olam.

Pertemuan ini membahas peluang kolaborasi dalam bidang budidaya, pengolahan limbah, serta dukungan kegiatan penelitian mahasiswa. Waste and Wishes merupakan startup yang bergerak pada pemanfaatan limbah organik melalui pengolahan maggot, kasgot, serta pemanfaatan bulu ayam untuk kebutuhan sektor perikanan. Sementara itu, Olam dikenal sebagai perusahaan yang fokus pada pengolahan produk perikanan dan agribisnis berkelanjutan.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, kedua mitra menyampaikan ketertarikannya untuk bekerja sama dengan Departemen Perikanan UGM, khususnya dalam pengembangan inovasi budidaya dan pengolahan hasil perikanan. Tidak hanya itu, pihak mitra juga membuka peluang dukungan fasilitas berupa lokasi penelitian, kolam budidaya, serta bahan penelitian yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk kegiatan skripsi.

Inisiatif ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun sinergi antara perguruan tinggi, startup, dan industri. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset terapan, memperluas kesempatan belajar berbasis industri bagi mahasiswa, serta mendorong lahirnya inovasi berkelanjutan di sektor perikanan.

Melalui penjajakan kerja sama ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan dan penelitian yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha, sekaligus mendukung pengembangan industri perikanan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Tenaga Kependidikan Perikanan UGM Ikuti Pelatihan Pakan Alami dan Budidaya Udang Galah di UKBAP Samas

Berita Rabu, 8 April 2026

Tenaga Kependidikan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada mengikuti kegiatan Pelatihan Praktek Pakan Alami Artemia & Udang Galah yang diselenggarakan di Unit Kerja Budidaya Air Payau (UKBAP) Samas, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 8 April 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga kependidikan dalam mendukung kegiatan praktikum dan pembelajaran berbasis budidaya perikanan.

Pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai budidaya Udang Galah SiJawa, varietas udang galah hasil seleksi genetik yang dikembangkan oleh UKBAP Samas. Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pakan alami artemia sebagai pakan utama pada fase larva dalam kegiatan budidaya.

Pada sesi praktik, peserta mempelajari tahapan persiapan artemia yang akan dikultur sebagai pakan. Salah satu proses utama yang dilakukan adalah dekapsulasi artemia, yaitu teknik menghilangkan cangkang kista menggunakan larutan oksidator untuk meningkatkan kualitas pakan sebelum diberikan kepada larva.

Peserta juga mengikuti proses kultur hingga artemia siap dipanen dan diberikan sebagai pakan larva. Melalui praktik langsung ini, tenaga kependidikan memperoleh pengalaman teknis yang dapat mendukung pelaksanaan kegiatan laboratorium dan praktikum mahasiswa di Departemen Perikanan.

Kegiatan ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan instansi pemerintah sekaligus meningkatkan kualitas dukungan teknis tenaga kependidikan dalam pengembangan pendidikan dan praktik budidaya perikanan yang berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Nembah di Tengah Gelombang: Sinergi Kearifan Lokal, Ilmu Pengetahuan, dan Ketahanan Nelayan Pesisir Selatan Jawa

Berita Selasa, 7 April 2026

Aktivitas penangkapan ikan di pesisir selatan Jawa yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia kerap menghadapi tantangan musim dan gelombang tinggi. Kondisi ini membatasi ruang gerak nelayan skala kecil untuk melaut lebih jauh dan menjangkau daerah tangkapan yang lebih produktif. Namun demikian, praktik lokal seperti nembah—teknik menangkap ikan menggunakan panah atau speargun—tetap dapat dilakukan di wilayah perairan yang relatif terlindung dan lebih dekat dengan garis pantai. Ketika kondisi ekologi perairan masih terjaga, metode ini terbukti mampu memberikan hasil tangkapan yang optimal.

Memasuki bulan April yang dikenal sebagai periode gelombang besar, aktivitas nembah kembali dilakukan oleh nelayan di Pantai Ngandong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Praktik ini menjadi bentuk adaptasi terhadap dinamika alam sekaligus strategi mempertahankan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Di sisi lain, masyarakat pesisir menghadapi kerentanan yang kerap luput dari perhatian, terutama dampak degradasi lingkungan yang berasal dari wilayah daratan. Limbah dan pencemaran yang terbawa aliran sungai hingga ke laut dapat merusak ekosistem pesisir, menurunkan kualitas habitat ikan, dan pada akhirnya memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Melindungi nelayan skala kecil menjadi sangat penting, mengingat mereka merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan lingkungan dan dinamika sumber daya perikanan.

Praktik penangkapan selektif seperti nembah tidak hanya membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan nelayan. Ikan hasil tangkapan menjadi sumber protein utama sekaligus penopang ketahanan pangan rumah tangga pesisir. Lebih jauh, praktik yang selaras dengan alam turut menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan laut sebagai ruang hidup.

Situasi ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara nelayan, masyarakat pesisir, akademisi, dan pemerintah. Melalui pendekatan partisipatif seperti citizen science, berbagai pihak dapat bersama-sama mencari solusi berbasis pengetahuan. Kerja sama dengan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) misalnya, membuka peluang bagi nelayan untuk memahami siklus hidup ikan, pola migrasi, serta waktu tangkap yang tepat. Integrasi pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal diharapkan mampu mendorong praktik perikanan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

 

Sumberfoto: Rujimanto-nelayan Pantai Ngandong. Foto 1. Nelayan Bersiap melakukan penangkapan ikan menggunakan metode nembah; foto 2 Hasil tangkapan ikan nelayan pada tanggal 8 april 2026 menggunakan metode nembah yang selektif untuk ikan besar dan hasil optimal.

Mahasiswa Perikanan UGM Jalani UTS April 2026 dengan Persiapan Matang

Berita Senin, 6 April 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada tengah melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS) yang berlangsung pada 6–17 April 2026. Pelaksanaan UTS ini menjadi momen penting bagi mahasiswa untuk mengukur pemahaman materi perkuliahan yang telah ditempuh selama setengah semester.

Menjelang periode ujian, mahasiswa mempersiapkan diri secara intensif melalui berbagai cara, mulai dari belajar mandiri, diskusi kelompok, hingga mengikuti sesi review materi bersama dosen. Perpustakaan dan ruang belajar mahasiswa tampak lebih ramai dari biasanya, mencerminkan keseriusan mahasiswa dalam menghadapi ujian.

Selain fokus pada penguasaan materi teori, mahasiswa juga meninjau kembali catatan praktikum dan tugas proyek yang telah dikerjakan selama perkuliahan. Hal ini penting mengingat karakteristik pembelajaran di bidang perikanan yang tidak hanya menekankan aspek teoritis, tetapi juga pemahaman praktis dan analitis.

Para mahasiswa mengaku berupaya menjaga keseimbangan antara belajar dan menjaga kesehatan selama masa ujian. Manajemen waktu yang baik, pola istirahat yang cukup, serta saling mendukung antar teman menjadi kunci dalam menghadapi periode akademik yang padat ini.

Pelaksanaan UTS diharapkan berjalan lancar dan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk terus meningkatkan kompetensi akademik. Dengan persiapan yang matang, mahasiswa Departemen Perikanan UGM optimistis dapat memberikan hasil terbaik dan melanjutkan semester dengan semangat baru. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas mahasiswa, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan SDG 14 Ekosistem Lautan dalam upaya pembelajaran bidang perikanan dan kelautan.

Menelusuri Kehidupan Kelomang di Pantai Drini: Riset Mahasiswa Ungkap Keanekaragaman “Penghuni Cangkang” Pesisir Gunungkidul

Berita Kamis, 2 April 2026

Pantai selatan Gunungkidul tidak hanya dikenal karena keindahan panorama lautnya, tetapi juga menyimpan kekayaan biodiversitas yang menarik untuk diteliti. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Atalie Safa Danella Laksita Khairah, yang mengkaji karakteristik morfologi, indeks ekologi, dan pola distribusi kelomang di Pantai Drini, Gunungkidul.

Kelomang merupakan kelompok krustasea dari famili Diogenidae yang hidup di zona intertidal dan dikenal dengan kebiasaannya menggunakan cangkang gastropoda sebagai “rumah”. Dalam penelitian yang berlangsung pada September 2025 hingga Maret 2026 tersebut, Atalie melakukan pengambilan sampel menggunakan metode belt transect dengan plot kuadran berukuran 1×1 meter di tiga stasiun pengamatan di Pantai Drini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki keragaman kelomang yang cukup tinggi. Tercatat sedikitnya tujuh spesies kelomang yang ditemukan, yaitu Clibanarius englaucus, Clibanarius humilis, Clibanarius merguiensis, Clibanarius striolatus, Clibanarius virescens, Calcinus laevimanus, dan Calcinus latens. Kelimpahan total kelomang mencapai 64,2 individu per meter persegi, dengan jumlah tertinggi ditemukan pada area yang memiliki substrat makroalga dan lamun.

Analisis indeks ekologi menunjukkan tingkat keanekaragaman berada pada kategori sedang, sementara tingkat keseragaman populasi tergolong tinggi. Pola distribusi kelomang juga cenderung mengelompok, yang menandakan bahwa kondisi habitat tertentu sangat memengaruhi keberadaan organisme ini.

Melalui penelitian ini, Atalie berharap hasil kajian tentang kelomang dapat memberikan informasi ilmiah penting mengenai kondisi ekosistem pesisir, sekaligus menjadi dasar pengelolaan dan konservasi biodiversitas di kawasan Pantai Drini, Gunungkidul. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Laut Indonesia Sedang Berubah: Ilmuwan UGM Ungkap Fakta Mengejutkan di SINNTECH Webinar #35

Berita Selasa, 31 Maret 2026

Perubahan kondisi laut Indonesia menjadi perhatian serius para ilmuwan. Hal ini dibahas dalam SINNTECH Webinar #35 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kesempatan tersebut, peneliti oseanografi dari Departemen Perikanan UGM, Riza Yuliratno Setiawan, memaparkan kondisi terkini lingkungan laut Indonesia yang menunjukkan tanda-tanda perubahan signifikan akibat dinamika iklim global dan aktivitas manusia.

Dalam presentasinya, Riza menjelaskan bahwa data observasi laut global menunjukkan terjadinya pemanasan laut (ocean warming) di berbagai wilayah, termasuk perairan Indonesia. Perubahan suhu laut ini berpotensi memengaruhi berbagai aspek ekosistem laut, mulai dari produktivitas perairan hingga pola distribusi ikan yang menjadi sumber utama pangan bagi masyarakat pesisir.

Ia juga menyoroti meningkatnya fenomena cuaca ekstrem di kawasan tropis, termasuk frekuensi badai tropis yang terjadi di sekitar wilayah Indonesia. Perubahan dinamika angin dan suhu laut tersebut dapat memengaruhi produktivitas laut serta lokasi daerah penangkapan ikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masa depan sektor perikanan: apakah pengetahuan tradisional nelayan masih relevan di tengah perubahan laut yang semakin cepat?

Melalui berbagai pendekatan ilmiah seperti pemantauan laut menggunakan Argo Floats serta pemodelan zona penangkapan ikan berbasis kecerdasan buatan, para peneliti mencoba memahami bagaimana perubahan lingkungan laut memengaruhi sumber daya perikanan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu merancang strategi adaptasi yang lebih baik bagi sektor perikanan dan menjaga ketahanan pangan laut di masa depan.

Melalui SINNTECH Webinar #35, mahasiswa dan peserta diajak melihat lebih dekat bagaimana sains kelautan berperan penting dalam memahami perubahan lingkungan laut serta menemukan solusi berbasis riset untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

123456…13
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY