Yogyakarta — Inovasi di bidang bioteknologi kelautan kembali ditunjukkan oleh mahasiswa dan dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melalui publikasi ilmiah terbaru di Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Penelitian berjudul “Extraction, Purification, and Bioactivity of Fucoxanthin from Brown Seaweed Sargassum hystrix” ini ditulis oleh Nungky Mufarocha bersama Prof. Amir Husni dan Dr. Mgs Muhammad Prima Putra.
Fokus utama penelitian ini adalah fucoxanthin, pigmen karotenoid utama pada rumput laut cokelat seperti Sargassum hystrix. Senyawa ini dikenal memiliki aktivitas biologis tinggi, khususnya dalam menangkal radikal bebas dan memperlambat proses penuaan. Namun, metode ekstraksi dan pemurnian yang efisien untuk mendapatkan fucoxanthin berkualitas tinggi masih menjadi tantangan.
Melalui pendekatan Ultrasound-Assisted Extraction (UAE), tim peneliti berhasil mengoptimalkan proses ekstraksi menggunakan etanol 96% pada suhu 40–45°C selama 25–30 menit. Metode ini menghasilkan ekstrak kasar hingga 19,9 persen—menunjukkan efisiensi yang cukup tinggi dibandingkan metode konvensional.
Proses pemurnian kemudian dilakukan menggunakan teknik kromatografi kolom dengan berbagai sistem pelarut. Hasil terbaik diperoleh dari kombinasi etil asetat dan n-butanol (8:2), yang mampu menghasilkan fraksi fucoxanthin hingga 9,54 persen. Salah satu fraksi terbaik bahkan mencatat kandungan fucoxanthin sebesar 1,31 mg per gram.
Tidak hanya berhenti pada proses ekstraksi, penelitian ini juga menguji aktivitas biologis senyawa yang dihasilkan. Hasilnya menunjukkan bahwa fucoxanthin hasil pemurnian memiliki aktivitas antioksidan yang kuat, dengan nilai IC₅₀ sebesar 86,18 μg/mL—meningkat signifikan hingga 83,8 persen dibandingkan ekstrak awal.
Selain itu, senyawa ini juga menunjukkan potensi sebagai agen anti-aging melalui penghambatan enzim tirosinase, dengan nilai IC₅₀ sebesar 76,04 μg/mL. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan fucoxanthin sebagai bahan aktif dalam industri nutraseutikal dan kosmetik berbasis bahan alami.
Penelitian ini tidak hanya memperkuat posisi UGM dalam riset kelautan, tetapi juga menunjukkan bahwa sumber daya hayati laut Indonesia memiliki nilai tambah yang tinggi jika diolah dengan pendekatan ilmiah yang tepat. Ke depan, penelitian lanjutan diharapkan dapat mengembangkan skala produksi serta mengkaji stabilitas dan mekanisme kerja senyawa dalam produk akhir.
Sejalan dengan itu, temuan ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Pemanfaatan rumput laut secara berkelanjutan sebagai sumber bahan aktif bernilai tinggi mencerminkan upaya optimalisasi sumber daya laut tanpa merusak ekosistem, sekaligus mendorong inovasi industri berbasis bioekonomi yang ramah lingkungan.
Sumber Gambar: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 2026: JIPK VOLUME 18 ISSUE 2 YEAR 2026