• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Fakultas Pertanian UGM
  • Fakultas Pertanian UGM
  • hal. 3
Arsip:

Fakultas Pertanian UGM

Fakultas Pertanian UGM dan FisTx Indonesia Tandatangani MoU Penguatan Inovasi Akuakultur Berkelanjutan

Berita Selasa, 5 Mei 2026

Yogyakarta — Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada resmi menjalin kerja sama strategis dengan FisTx Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam upaya memperkuat inovasi dan pengembangan akuakultur berkelanjutan di Indonesia.

Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam mempertemukan dunia akademik dengan industri berbasis teknologi perikanan. Kerja sama diarahkan pada pengembangan riset, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, implementasi teknologi budidaya modern, hingga penguatan ekosistem akuakultur yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Sebagai perusahaan rintisan berbasis teknologi akuakultur, FisTx Indonesia dikenal aktif mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung produktivitas budidaya, khususnya sektor tambak udang dan perikanan modern. Perusahaan ini mengembangkan solusi seperti teknologi UV tambak, sistem budidaya terukur, pendampingan petambak, hingga pengelolaan kualitas air berbasis teknologi.

Dalam beberapa tahun terakhir, FisTx juga aktif memperkenalkan inovasi teknologi budidaya berkelanjutan, termasuk teknologi elektrolisis untuk meningkatkan kualitas air tambak dan mengurangi penggunaan bahan kimia dalam budidaya udang.

Melalui kerja sama ini, Fakultas Pertanian UGM berharap mahasiswa dan dosen dapat memperoleh ruang kolaborasi yang lebih luas dengan dunia industri, baik dalam bentuk penelitian terapan, program magang, pengembangan inovasi, maupun hilirisasi teknologi perikanan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dinilai semakin penting di tengah tantangan sektor akuakultur modern yang membutuhkan pendekatan multidisiplin dan berbasis teknologi. Integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri diharapkan mampu melahirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat pembudidaya.

Selain mendukung pengembangan teknologi, kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi sektor perikanan menuju sistem budidaya yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sejalan dengan itu, penandatanganan MoU ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomidan SDG 14 (Life Below Water). Sinergi antara perguruan tinggi dan industri menjadi langkah strategis dalam memperkuat inovasi akuakultur sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

Generasi Muda Diajak Kenal Keamanan Pangan Perikanan dalam Sosialisasi di BPTPB Cangkringan

Berita Senin, 4 Mei 2026

Sleman — Upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya keamanan pangan produk perikanan terus dilakukan melalui kegiatan edukatif dan interaktif. Pada Selasa, 28 April 2026, UPTD Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya menggelar kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan Produk Perikanan Budidaya di kawasan Argomulyo, Cangkringan.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas anggota Saka Bahari Kota Yogyakarta serta siswa-siswi SMK Sanden. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami pentingnya penerapan keamanan pangan dalam budidaya ikan, mulai dari proses produksi hingga pengelolaan hasil perikanan yang memenuhi standar mutu dan aman dikonsumsi.

Acara diawali dengan sesi pematerian di dalam ruangan. Materi pertama disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta mengenai program KAWEDAR (Kaweruh Digital Mina lan Samudra). Program ini merupakan inisiatif edukasi digital yang bertujuan memperluas penyebaran informasi dan literasi sektor kelautan dan perikanan melalui media sosial dan platform digital agar lebih mudah diakses masyarakat.

Selanjutnya, Rifki Listianto selaku anggota Komisi B DPRD Kota Yogyakarta memaparkan pentingnya dukungan kebijakan terhadap jaminan mutu produk perikanan. Ia menjelaskan bahwa DPRD memiliki peran strategis melalui fungsi penganggaran, pengawasan, dan legislasi untuk mendukung pengembangan sektor perikanan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Materi utama mengenai Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) disampaikan oleh Desy Putri Handayani. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa keamanan pangan harus dimulai sejak proses budidaya. Peserta dikenalkan pada berbagai aspek penting, seperti kualitas air, manajemen pakan, desain kolam yang baik, sanitasi lingkungan, hingga pemilihan benih sehat.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep Feed Conversion Ratio (FCR), yaitu indikator efisiensi penggunaan pakan dalam budidaya ikan. Pemahaman mengenai FCR dinilai penting karena berkaitan langsung dengan produktivitas budidaya sekaligus efisiensi biaya produksi.

Tidak hanya berlangsung di dalam kelas, kegiatan juga dilanjutkan dengan sesi lapangan melalui kunjungan ke UKBAT Wonocatur. Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat secara langsung praktik budidaya ikan air tawar dan berbagai komoditas yang dikembangkan, seperti ikan lele, nila, tawes, hingga wader pari.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis mengenai sistem budidaya ikan yang baik dan aman. Pendekatan edukatif berbasis pengalaman lapangan diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor perikanan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 4 (Quality Education), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan tujuan ke-14 (Life Below Water). Edukasi mengenai keamanan pangan dan budidaya berkelanjutan menjadi langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan.

Hari Pendidikan Nasional 2026: Departemen Perikanan UGM Refleksikan Pendidikan untuk Masa Depan Laut dan Pangan

Berita Sabtu, 2 Mei 2026

Yogyakarta, 2 Mei 2026 — Peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum refleksi bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam melihat kembali peran pendidikan terhadap masa depan sektor perikanan dan keberlanjutan sumber daya perairan Indonesia.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi ekosistem laut, hingga ancaman ketahanan pangan, pendidikan dinilai memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan. Pendidikan perikanan tidak lagi sekadar berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang keberlanjutan, inovasi, dan keadilan sosial bagi masyarakat pesisir.

Departemen Perikanan UGM terus mendorong proses pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui penguatan riset, praktikum lapangan, kolaborasi internasional, hingga pengabdian masyarakat, mahasiswa didorong untuk memahami persoalan perikanan secara lebih holistik—mulai dari aspek ekologi, ekonomi, teknologi, hingga dinamika sosial masyarakat.

Momentum Hari Pendidikan Nasional juga menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan harus mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Berbagai penelitian yang dikembangkan di lingkungan Departemen Perikanan diarahkan untuk memberikan solusi terhadap isu strategis, seperti perikanan berkelanjutan, kesehatan ikan, adaptasi perubahan iklim, hingga pengembangan pangan berbasis sumber daya laut.

Selain itu, transformasi digital dan perkembangan teknologi turut menjadi tantangan sekaligus peluang dalam dunia pendidikan perikanan. Mahasiswa dituntut tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif dalam menghadapi perubahan global yang semakin cepat.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga masa depan laut Indonesia. Melalui pendidikan yang inklusif dan berkualitas, diharapkan lahir generasi perikanan yang mampu menjadi penggerak perubahan menuju pengelolaan sumber daya perairan yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan.

Refleksi Hari Pendidikan Nasional ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan yang berkualitas menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang mampu menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus mendukung ketahanan pangan masa depan.

Hari Buruh 2026: Departemen Perikanan UGM Refleksikan Masa Depan Pekerja Sektor Perikanan

Berita Jumat, 1 Mei 2026

Yogyakarta, 1 Mei 2026 — Peringatan Hari Buruh Internasional menjadi momentum refleksi bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada terhadap kondisi dan masa depan pekerja di sektor perikanan. Di tengah tantangan perubahan iklim, tekanan ekonomi, dan transformasi industri, pekerja perikanan dinilai menjadi kelompok yang memiliki peran vital namun sering kali menghadapi berbagai kerentanan.

Sektor perikanan selama ini tidak hanya menopang ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat pesisir, nelayan, pembudidaya, pengolah hasil perikanan, hingga pekerja rantai distribusi. Namun demikian, berbagai persoalan seperti ketidakpastian pendapatan, risiko kerja tinggi, akses perlindungan sosial yang terbatas, hingga tekanan terhadap sumber daya laut masih menjadi tantangan nyata.

Melalui momentum Hari Buruh, sivitas akademika Departemen Perikanan UGM menekankan pentingnya membangun sistem perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga adil bagi para pekerja di dalamnya. Pendekatan keberlanjutan dinilai harus mencakup aspek sosial, termasuk kesejahteraan tenaga kerja, keselamatan kerja, serta akses terhadap pendidikan dan teknologi.

Selain itu, perkembangan teknologi dan modernisasi sektor perikanan juga perlu diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Transformasi menuju perikanan modern tidak boleh meninggalkan masyarakat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi perikanan nasional.

Dalam konteks akademik, Departemen Perikanan UGM terus mendorong penelitian dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada penguatan ketahanan sosial-ekonomi komunitas perikanan. Berbagai kajian tentang dinamika nelayan, perikanan adaptif, hingga tata kelola sumber daya pesisir menjadi bagian dari upaya memahami realitas pekerja perikanan secara lebih utuh.

Hari Buruh juga menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sektor perikanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologi laut, tetapi juga oleh kesejahteraan manusia yang bergantung padanya. Laut yang sehat perlu diiringi dengan kehidupan pekerja yang layak dan bermartabat.

Sejalan dengan itu, refleksi ini juga berkaitan erat dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya  SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas dan SDG 14 (Life Below Water). Pengelolaan perikanan yang berkelanjutan harus berjalan beriringan dengan penciptaan pekerjaan yang layak, perlindungan pekerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Mata Kuliah Iktiologi: Perikanan UGM Tawarkan Fondasi Penting Memahami Dunia Ikan bagi Mahasiswa Perikanan

Berita Kamis, 30 April 2026

Yogyakarta — Di balik keberhasilan sektor perikanan, terdapat fondasi keilmuan yang kuat yang dibangun sejak bangku kuliah. Salah satunya melalui mata kuliah Iktiologi yang menjadi mata kuliah wajib di Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

Mata kuliah ini diperuntukkan bagi mahasiswa semester dua, khususnya pada program studi akuakultur, sebagai langkah awal dalam memahami dunia ikan secara komprehensif. Melalui pembelajaran ini, mahasiswa tidak hanya diajak mengenal jenis-jenis ikan, tetapi juga memahami struktur tubuh, sistem organ, hingga fungsi biologis yang mendasari kehidupan ikan.

Diampu oleh tim pengajar yang  kompeten seperti Dr. Indah Istiqomah, dan Dr. Triyanto, mata kuliah ini dirancang dengan pendekatan pembelajaran modern berbasis student-centered learning. Mahasiswa diajak aktif melalui diskusi kelompok kecil, studi kasus, hingga pembelajaran berbasis proyek.

Proses pembelajaran juga mengadopsi sistem blended learning, yang menggabungkan perkuliahan tatap muka dan daring. Platform digital seperti eLOK dan eLISA dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas belajar mandiri, kuis, hingga diskusi interaktif. Dengan total beban studi sekitar 3,02 ECTS, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang seimbang antara teori, praktik, dan eksplorasi mandiri.

Materi yang diajarkan mencakup berbagai aspek penting dalam ilmu ikan, mulai dari klasifikasi seperti ikan tanpa rahang hingga ikan bertulang sejati, hingga sistem anatomi dan fisiologi seperti sistem pernapasan, peredaran darah, pencernaan, hingga reproduksi. Pemahaman ini menjadi dasar penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi di bidang perikanan berkelanjutan.

Tidak hanya itu, mata kuliah ini juga membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk mengaitkan ilmu dasar dengan isu yang lebih luas, seperti pengelolaan sumber daya perairan dan keberlanjutan sektor perikanan. Hal ini sejalan dengan capaian pembelajaran program studi yang menekankan pemahaman sistem perikanan secara holistik, termasuk aspek sosial dan ekonomi.

Dengan pendekatan yang adaptif dan komprehensif, mata kuliah Iktiologi tidak hanya menjadi pengantar ilmu, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk memahami kompleksitas dunia perikanan. Dari ruang kelas hingga diskusi daring, mahasiswa diajak untuk melihat ikan bukan sekadar komoditas, melainkan bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga keberlanjutannya.

Sejalan dengan itu, pembelajaran ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 14 (Life Below Water). Pendidikan yang berkualitas di bidang perikanan menjadi kunci dalam mencetak generasi yang mampu mengelola sumber daya laut secara bijak dan berkelanjutan.

Dua Dosen Perikanan UGM Raih Hibah Academic Excellence 2026, Masuk 35 Terbaik dari Ratusan Pengusul

Berita Kamis, 30 April 2026

Yogyakarta — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Dua dosen, yakni Dr. Ratih Ida Adharini dan Dr. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, berhasil meraih Hibah Program Peningkatan Academic Excellence Tahun 2026.

Penghargaan ini diberikan berdasarkan hasil evaluasi proposal yang dilaksanakan pada 14–23 April 2026, dengan mempertimbangkan penilaian ketat dari para reviewer. Dari ribuan dosen yang mengajukan proposal, hanya 35 orang yang berhasil lolos sebagai penerima hibah, menjadikan capaian ini sebagai prestasi yang sangat kompetitif dan bergengsi.

Dalam program ini, Dr. Ratih Ida Adharini mengusung penelitian yang berfokus pada penguatan sistem perikanan berkelanjutan berbasis pendekatan ekologi dan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah mengembangkan riset di bidang kesehatan ikan dan lingkungan perairan, yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem perikanan.

Program Hibah Academic Excellence sendiri dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas riset dosen di berbagai bidang strategis. Beberapa tujuan utama program ini meliputi pengembangan penelitian unggulan yang memiliki relevansi dan manfaat nyata bagi masyarakat, peningkatan publikasi ilmiah berbasis kolaborasi nasional dan internasional, serta penguatan jejaring kerja sama riset dengan institusi dalam dan luar negeri.

Selain itu, program ini juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi di tingkat global, termasuk dalam pemeringkatan seperti QS dan Times Higher Education (THE). Tidak kalah penting, hibah ini menjadi instrumen dalam memperkuat kompetensi dan kepakaran dosen guna mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara optimal.

Keberhasilan dua dosen Perikanan UGM ini menjadi bukti komitmen institusi dalam mendorong budaya riset yang unggul dan berdampak. Capaian ini diharapkan dapat menginspirasi sivitas akademika lainnya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan solusi bagi tantangan sektor perikanan di masa depan.

Sejalan dengan itu, program ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan riset unggulan di bidang perikanan tidak hanya mendorong inovasi dan daya saing akademik, tetapi juga berperan dalam memastikan pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Departemen Perikanan UGM Gelar FGD dan Kegiatan Lapangan Pengembangan Perikanan Adaptif di Kulon Progo

Berita Rabu, 29 April 2026

Yogyakarta, 29 April 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada akan menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan kegiatan lapangan bertajuk “Pengembangan Model Perikanan Adaptif untuk Meningkatkan Ketahanan Sosial, Ekonomi, dan Ekologi” di wilayah Kulon Progo.

Kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk merespons tantangan sektor perikanan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, tekanan terhadap sumber daya, hingga dinamika sosial-ekonomi masyarakat pesisir dan pembudidaya. Pendekatan perikanan adaptif dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sistem yang tangguh dan berkelanjutan.

FGD akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, praktisi, pemerintah daerah, serta pelaku usaha perikanan. Diskusi ini bertujuan untuk menggali perspektif bersama dalam merumuskan model pengelolaan perikanan yang tidak hanya produktif, tetapi juga resilien terhadap perubahan lingkungan dan sosial. Kegiatan ini rencananya akan dihadiri oleh lebih dari 45 peserta dari berbagai latar belakang, mencerminkan tingginya antusiasme terhadap isu perikanan adaptif.

Sebagai narasumber utama, Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. memaparkan konsep dan implementasi perikanan adaptif, termasuk pentingnya integrasi antara aspek ekologi, ekonomi, dan sosial dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Ia menekankan bahwa pendekatan adaptif harus berbasis pada kondisi lokal serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen-dosen perikanan yaitu Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si., dan Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han).

Selain diskusi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan di kawasan perikanan Kulon Progo. Peserta akan melihat langsung praktik-praktik pengelolaan perikanan yang telah berjalan, sekaligus mengidentifikasi tantangan dan peluang pengembangan di tingkat lokal.

Kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan dan model implementatif yang dapat diterapkan secara lebih luas. Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah dan pengalaman lapangan, Departemen Perikanan UGM berupaya mendorong transformasi sektor perikanan menuju sistem yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Lebih jauh, inisiatif ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 13 (Climate Action), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan SDG 14 (Life Below Water). Pengembangan perikanan adaptif menjadi langkah penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem perairan dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung padanya.

Inovasi Teh Rumput Laut Antidiabetes dari Peneliti Perikanan UGM Tembus Jurnal Internasional

Berita Selasa, 28 April 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan kembali datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Tim mahasiswa dan dosen berhasil mempublikasikan riset terbaru tentang pengembangan pangan fungsional berbasis rumput laut dalam jurnal internasional AIMS Agriculture and Food.

Penelitian berjudul “In vitro antidiabetic activity and consumer acceptance level of fermented brown seaweed Sargassum hystrix tea using Lactobacillus plantarum” ini ditulis oleh Khalishah Jasmine Putri Abdillah bersama Prof. Amir Husni, Dr. Mgs Muhammad Prima Putra, dan Dr. Siti Ari Budhiyanti.

Riset ini mengangkat potensi rumput laut cokelat Sargassum hystrix sebagai bahan baku teh fungsional dengan aktivitas antidiabetes. Kandungan senyawa bioaktif seperti fenol dan florotanin diketahui memiliki kemampuan menghambat enzim yang berperan dalam peningkatan kadar gula darah. Namun, pemanfaatannya selama ini terkendala oleh stabilitas senyawa aktif serta aroma amis yang menurunkan tingkat penerimaan konsumen.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti menerapkan metode fermentasi menggunakan bakteri asam laktat Lactobacillus plantarum. Proses fermentasi dilakukan selama 0 hingga 4 hari pada kondisi mikroaerofilik dengan suhu 37°C, guna mengkaji pengaruh lama fermentasi terhadap kualitas fungsional dan sensorik produk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi selama tiga hari menjadi kondisi optimal. Pada tahap ini, kandungan fenol mencapai 12,94 mg GAE/g dan florotanin sebesar 14,60 mg PGE/g. Aktivitas antidiabetes juga meningkat signifikan, ditunjukkan dengan kemampuan penghambatan enzim α-amilase sebesar 82,80 persen dan α-glukosidase hingga 91,26 persen.

Selain peningkatan aktivitas biologis, fermentasi juga memberikan dampak positif terhadap karakteristik sensorik. Aroma amis khas rumput laut berkurang secara signifikan, sementara rasa menjadi lebih dapat diterima. Uji konsumen menunjukkan bahwa perlakuan fermentasi tiga hari memperoleh tingkat penerimaan tertinggi, baik dari segi aroma, rasa, maupun penilaian keseluruhan produk.

Temuan ini menunjukkan bahwa fermentasi tidak hanya berfungsi sebagai metode pengolahan, tetapi juga sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah produk berbasis sumber daya laut. Teh rumput laut fermentasi berpotensi dikembangkan sebagai alternatif minuman kesehatan yang inovatif dan berbasis bahan alami.

Lebih jauh, penelitian ini mempertegas potensi besar sumber daya laut Indonesia dalam mendukung pengembangan pangan fungsional yang berdaya saing tinggi di pasar global. Dengan pendekatan ilmiah yang tepat, bahan sederhana seperti rumput laut dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi dengan manfaat kesehatan yang signifikan.

Sejalan dengan itu, inovasi ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being),  SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, dan SDG 14 (Life Below Water). Pengembangan pangan fungsional berbasis rumput laut tidak hanya mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

sumber foto: AIMS Agriculture and Food 2026, Volume 11, Issue 1: 274-289. doi: 10.3934/agrfood.2026014

 

Mahasiswa dan Dosen Perikanan UGM Ungkap Potensi Antioksidan Rumput Laut dalam Publikasi Internasional

Berita Selasa, 28 April 2026

Yogyakarta — Inovasi di bidang bioteknologi kelautan kembali ditunjukkan oleh mahasiswa dan dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melalui publikasi ilmiah terbaru di Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Penelitian berjudul “Extraction, Purification, and Bioactivity of Fucoxanthin from Brown Seaweed Sargassum hystrix” ini ditulis oleh Nungky Mufarocha bersama Prof. Amir Husni dan Dr. Mgs Muhammad Prima Putra.

Fokus utama penelitian ini adalah fucoxanthin, pigmen karotenoid utama pada rumput laut cokelat seperti Sargassum hystrix. Senyawa ini dikenal memiliki aktivitas biologis tinggi, khususnya dalam menangkal radikal bebas dan memperlambat proses penuaan. Namun, metode ekstraksi dan pemurnian yang efisien untuk mendapatkan fucoxanthin berkualitas tinggi masih menjadi tantangan.

Melalui pendekatan Ultrasound-Assisted Extraction (UAE), tim peneliti berhasil mengoptimalkan proses ekstraksi menggunakan etanol 96% pada suhu 40–45°C selama 25–30 menit. Metode ini menghasilkan ekstrak kasar hingga 19,9 persen—menunjukkan efisiensi yang cukup tinggi dibandingkan metode konvensional.

Proses pemurnian kemudian dilakukan menggunakan teknik kromatografi kolom dengan berbagai sistem pelarut. Hasil terbaik diperoleh dari kombinasi etil asetat dan n-butanol (8:2), yang mampu menghasilkan fraksi fucoxanthin hingga 9,54 persen. Salah satu fraksi terbaik bahkan mencatat kandungan fucoxanthin sebesar 1,31 mg per gram.

Tidak hanya berhenti pada proses ekstraksi, penelitian ini juga menguji aktivitas biologis senyawa yang dihasilkan. Hasilnya menunjukkan bahwa fucoxanthin hasil pemurnian memiliki aktivitas antioksidan yang kuat, dengan nilai IC₅₀ sebesar 86,18 μg/mL—meningkat signifikan hingga 83,8 persen dibandingkan ekstrak awal.

Selain itu, senyawa ini juga menunjukkan potensi sebagai agen anti-aging melalui penghambatan enzim tirosinase, dengan nilai IC₅₀ sebesar 76,04 μg/mL. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan fucoxanthin sebagai bahan aktif dalam industri nutraseutikal dan kosmetik berbasis bahan alami.

Penelitian ini tidak hanya memperkuat posisi UGM dalam riset kelautan, tetapi juga menunjukkan bahwa sumber daya hayati laut Indonesia memiliki nilai tambah yang tinggi jika diolah dengan pendekatan ilmiah yang tepat. Ke depan, penelitian lanjutan diharapkan dapat mengembangkan skala produksi serta mengkaji stabilitas dan mekanisme kerja senyawa dalam produk akhir.

Sejalan dengan itu, temuan ini juga berkontribusi pada agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 4 Pendidikan Berkualitas,  dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Pemanfaatan rumput laut secara berkelanjutan sebagai sumber bahan aktif bernilai tinggi mencerminkan upaya optimalisasi sumber daya laut tanpa merusak ekosistem, sekaligus mendorong inovasi industri berbasis bioekonomi yang ramah lingkungan.

 

Sumber Gambar: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 2026: JIPK VOLUME 18 ISSUE 2 YEAR 2026

Kisah Karier Auditor Sustainable Aquaculture dari Lulusan Perikanan UGM

Berita Senin, 27 April 2026

Yogyakarta — Perjalanan karier lulusan perikanan tidak selalu berakhir di tambak atau laboratorium. Hal ini tergambar dalam episode podcast bertajuk “Kisah Karier Auditor Sustainable Aquaculture dari Lulusan Perikanan UGM” yang menghadirkan Cindy Silvia Hadi sebagai narasumber, dengan Dr. Anes Dwi Jayanti sebagai host.

Dalam perbincangan tersebut, Cindy membagikan kisah perjalanannya meniti karier sebagai auditor di bidang sustainable aquaculture—sebuah profesi yang berperan penting dalam memastikan praktik budidaya perikanan berjalan sesuai standar keberlanjutan global. Profesi ini menuntut pemahaman mendalam tidak hanya pada aspek teknis budidaya, tetapi juga pada regulasi, lingkungan, hingga tata kelola industri.

Cindy menjelaskan bahwa latar belakang pendidikan di bidang perikanan, khususnya pemahaman tentang kualitas air, manajemen pakan, dan kesehatan ikan, menjadi fondasi penting dalam pekerjaannya saat ini. Kompetensi tersebut diperkuat dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang dibutuhkan dalam proses audit, termasuk saat berinteraksi dengan pelaku industri.

“Perikanan itu luas, dan peluangnya tidak hanya di produksi, tetapi juga di aspek keberlanjutan,” menjadi salah satu pesan kunci yang disampaikan dalam diskusi tersebut.

Sebagai auditor, Cindy terlibat dalam proses evaluasi praktik budidaya di berbagai perusahaan untuk memastikan kesesuaian dengan standar internasional yang berorientasi pada lingkungan dan keberlanjutan. Peran ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap produk perikanan yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

Sementara itu, host Dr. Anes Dwi Jayanti menekankan bahwa perkembangan sektor akuakultur saat ini memang membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif dan memiliki perspektif multidisiplin. Dunia perikanan tidak lagi hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang keberlanjutan, sertifikasi, dan tata kelola global.

Podcast ini juga menjadi refleksi bahwa lulusan perikanan memiliki spektrum karier yang luas, mulai dari praktisi budidaya, peneliti, hingga profesional di bidang audit dan sertifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan perikanan mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.

Secara lebih luas, peran auditor dalam akuakultur berkelanjutan juga berkaitan erat dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Melalui pengawasan dan evaluasi praktik budidaya, auditor membantu memastikan bahwa produksi perikanan tetap menjaga keseimbangan ekosistem serta memenuhi standar keberlanjutan global.

Link Youtube: Kisah Karier Auditor Sustainable Aquaculture dari Lulusan Perikanan UGM

12345…17
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY