• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • Kerja Sama
    • Laporan Kinerja UPPS
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Fakultas Pertanian UGM
  • Fakultas Pertanian UGM
  • hal. 5
Arsip:

Fakultas Pertanian UGM

Mahasiswa Magister Ilmu Perikanan UGM Ikuti Program Internship di NAIST Jepang

BeasiswaBerita Selasa, 31 Maret 2026

Mahasiswa Program Magister Ilmu Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2024 Ganjil, Rahma Aulia, mengikuti program internship di Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Jepang. Program ini berlangsung pada 23 Februari hingga 20 Maret 2026 di Bessho Laboratory (Gene Regulation Laboratory), Division of Biological Science NAIST.

Kegiatan internship terlaksana atas rekomendasi dosen pembimbing, Dr. Dini Wahyu Kartika Sari, S.Pi., M.Si., serta dukungan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM. Program ini juga didukung melalui pendanaan dan fasilitasi riset dari Division of Biological Science NAIST sebagai bagian dari penguatan kolaborasi akademik internasional. Program ini turut diikuti mahasiswa Sarjana Biologi dan Magister Bioteknologi UGM serta akademisi dari Malaysia dengan topik riset yang berbeda.

Selama internship, Rahma mengerjakan mini-project Whole-Mount In Situ Hybridization (WISH) Analysis in Zebrafish Embryos di bawah supervisi Assoc. Prof. Takaaki Matsui di Bessho Laboratory (Lab PI: Prof. Yasumasa Bessho). Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi lokasi ekspresi gen pada embrio ikan zebra (Danio rerio). Analisis dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari ekstraksi RNA dan sintesis cDNA ikan zebra, pembuatan probe RNA, hingga proses fiksasi, hibridisasi, serta pewarnaan embrio untuk mengamati pola ekspresi gen menggunakan mikroskop. Selain itu, Rahma juga terlibat dalam pemeliharaan ikan zebra strain wild-type, termasuk proses breeding dan kultur embrio.

Melalui program ini, Rahma memperoleh pengalaman riset internasional serta peningkatan keterampilan di bidang biologi molekuler. Selain aspek akademik, internship juga memberikan kesempatan memperluas jejaring internasional serta mengenal budaya dan lingkungan di Jepang. Program ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara UGM dan NAIST serta mendorong peningkatan kualitas riset mahasiswa Indonesia di tingkat global. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Mahasiswa Perikanan UGM Manfaatkan Teknologi Pemodelan untuk Menentukan Zona Potensi Ikan Layang di Laut Jawa

Berita Rabu, 25 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rivaldo Ferdiansyah, melakukan penelitian untuk memetakan zona potensi penangkapan ikan layang di perairan Laut Jawa menggunakan pendekatan pemodelan berbasis data lingkungan. Penelitian yang merupakan skripsi Rivaldo, berfokus pada spesies ikan layang (Decapterus spp.) yang merupakan salah satu komoditas penting bagi nelayan di wilayah pengelolaan perikanan WPPNRI 712.

Dalam penelitiannya, Rivaldo menggunakan metode Maximum Entropy (MaxEnt) untuk memodelkan kesesuaian habitat dan memprediksi lokasi potensial penangkapan ikan selama periode 2019–2023. Pendekatan ini memanfaatkan berbagai parameter lingkungan laut seperti suhu permukaan laut, salinitas, konsentrasi klorofil-a, curah hujan, serta kecepatan angin. Data-data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui kondisi lingkungan yang paling sesuai bagi keberadaan ikan layang di Laut Jawa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang digunakan memiliki performa yang sangat baik dengan nilai Area Under Curve (AUC) rata-rata di atas 0,8. Nilai tersebut mengindikasikan kemampuan model yang tinggi dalam memprediksi kesesuaian habitat ikan layang. Analisis kurva respons juga menunjukkan bahwa ikan layang cenderung berada pada kondisi lingkungan tertentu, yakni konsentrasi klorofil-a antara 0,2–0,5 mg/m³, curah hujan 2,1–5,5 mm per hari, salinitas 32,15–33,6 ppt, suhu permukaan laut 27,7–31,3°C, serta kecepatan angin 0–7,4 m/s.

Selain itu, pemodelan Habitat Suitability Index (HSI) menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian habitat tertinggi terjadi pada bulan Juni dengan nilai HSI mencapai 1. Namun demikian, wilayah dengan kesesuaian tinggi tersebut memiliki luasan yang relatif terbatas di Laut Jawa. Menurut Rivaldo, penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi kegiatan penangkapan ikan, khususnya bagi nelayan tradisional yang selama ini masih mengandalkan pengalaman dan kebiasaan dalam menentukan lokasi penangkapan. Dengan adanya peta zona potensi penangkapan berbasis data lingkungan, nelayan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat untuk menentukan daerah tangkap yang produktif.

Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya integrasi teknologi pemodelan dan data oseanografi dalam mendukung pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Dari Tradisi ke Sains: Mahasiswa Perikanan Kaji Alat Tangkap Ikan “Wadhong Gandhul” Khas Kulon Progo

Berita Jumat, 13 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ainun Rodhiyah Nurhayati, melakukan penelitian mengenai alat tangkap ikan tradisional khas lokal yang dikenal dengan nama wadhong gandhul di kawasan Bendungan Kamijoro, yang berada di wilayah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini mengungkap keunikan alat tangkap tersebut serta perannya dalam memahami perilaku migrasi ikan di Sungai Progo.

Wadhong gandhul merupakan alat tangkap ikan pasif tradisional yang bekerja tanpa menggunakan umpan. Alat ini berbentuk perangkap yang dilengkapi dengan penghadang sehingga dapat mengarahkan ikan menuju bagian penampung. Prinsip kerjanya cukup unik, yakni menangkap ikan yang melompat dari arah hilir menuju hulu ketika menghadapi bangunan terjunan air atau spillway bendungan.

 

Penelitian yang dibimbing Oleh Prof. Djumanto, mengarhakan Ainun melakukan pengambilan data selama lima bulan, mulai September 2025 hingga Januari 2026 di Sungai Progo. Wadhong gandhul yang digunakan memiliki bentuk persegi panjang dengan cekungan pada bagian depan yang berfungsi sebagai penampung ikan. Kerangka alat dibuat dari kayu kaso dan bambu, kemudian dilapisi waring. Alat ini dioperasikan dengan cara digantungkan pada tiang jembatan bendungan dan diturunkan hingga berada sekitar 30 sentimeter di atas permukaan air.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap ini berhasil menangkap berbagai jenis ikan air tawar dari famili Cyprinidae. Beberapa spesies yang tertangkap antara lain wader pari (Rasbora argyrotaenia), kepek (Mystacoleucus obtusirostris), melem (Osteochilus vittatus), beles (Barbonymus schwanenfeldii), lukas (Labiobarbus leptocheilus), palung (Hampala macrolepidota), serta tawes (Barbonymus gonionotus).

Penelitian ini juga menemukan bahwa hasil tangkapan ikan cenderung meningkat pada awal musim hujan, khususnya antara September hingga Desember, serta lebih banyak terjadi pada sore hari. Analisis tingkat kematangan gonad menunjukkan sebagian besar ikan berada pada fase TKG II hingga IV, yang mengindikasikan bahwa ikan-ikan tersebut sedang melakukan migrasi untuk memijah.

Menurut Ainun, temuan ini menunjukkan pentingnya keberadaan jalur migrasi ikan di sungai yang memiliki bendungan. Oleh karena itu, pembangunan jalur khusus ikan atau fishway tipe vertical slot dinilai menjadi salah satu solusi untuk mendukung pergerakan ikan secara alami di ekosistem sungai. Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa alat tangkap tradisional seperti wadhong gandhul tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana penting dalam penelitian ekologi perikanan di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Waspada Mikroplastik! Penelitian Mahasiswa Ungkap Pencemaran di Sungai Opak–Oyo Bantul

Berita Kamis, 12 Maret 2026

Pencemaran mikroplastik kini menjadi isu lingkungan global yang juga mulai terdeteksi di berbagai perairan Indonesia. Hal ini terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fidella Kristofani Tarigan, yang meneliti kontaminasi mikroplastik pada air dan sedimen di Sungai Opak–Oyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sungai Opak merupakan salah satu sungai besar di wilayah Yogyakarta yang terhubung dengan beberapa sungai lain seperti Winongo, Gajah Wong, Code, Oyo, dan Progo. Aktivitas manusia yang tinggi di sepanjang aliran sungai, mulai dari permukiman hingga aktivitas ekonomi, diduga menjadi sumber masuknya limbah plastik yang kemudian terurai menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik, yaitu plastik berukuran kurang dari 5 milimeter.

Penelitian yang dilakukan pada November 2025 ini mengambil sampel air dan sedimen di lima stasiun pengamatan dengan tiga kali pengulangan. Sampel air sebanyak 10 liter disaring menggunakan plankton net, sementara sedimen diambil menggunakan alat Ekman grab. Proses analisis dilakukan dengan menghancurkan material organik menggunakan larutan hidrogen peroksida serta memisahkan partikel mikroplastik melalui metode pemisahan densitas menggunakan larutan NaCl.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Opak telah terkontaminasi mikroplastik baik pada air maupun sedimen. Kelimpahan tertinggi pada air ditemukan di stasiun Tempuran Opak–Winongo dengan nilai 2,80 ± 0,44 partikel per liter. Sementara pada sedimen, jumlah tertinggi ditemukan di kawasan Jembatan Kretek 2 dengan 250 ± 100 partikel per kilogram.

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan berbentuk fiber dan fragmen, dengan ukuran dominan 50–500 mikrometer dan warna biru sebagai warna yang paling umum. Temuan ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah plastik agar tidak terus mencemari ekosistem sungai dan laut di masa depan. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Serupa Tapi Tak Sama: Mahasiswa UGM Ungkap Perbedaan Dua Spesies Cumi-Cumi Lewat Analisis DNA

Berita Kamis, 12 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dyah Ayu Sofiana Sukowati, melakukan penelitian mendalam mengenai karakteristik morfologi dan identifikasi molekuler cumi-cumi yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Kabupaten Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan identitas spesies cumi-cumi yang menjadi salah satu komoditas penting dalam perikanan tangkap di wilayah selatan Pulau Jawa.

Dalam penelitian tersebut, Dyah menganalisis sebanyak 360 sampel cumi-cumi yang terdiri dari 254 individu spesies Sthenoteuthis oualaniensis dan 106 individu Uroteuthis duvaucelii. Kedua spesies ini diteliti menggunakan pendekatan morfometrik, meristik, serta analisis molekuler berbasis gen COI (Cytochrome c Oxidase subunit I), yang umum digunakan dalam identifikasi genetik organisme laut.

Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan morfologi yang cukup jelas antara kedua spesies tersebut. Melalui metode Principal Component Analysis (PCA), beberapa karakter tubuh menjadi pembeda utama, seperti panjang mantel, lebar sirip, dan panjang lengan kedua. Selain itu, bentuk tubuh juga berbeda pada bagian lebar corong. Analisis meristik turut memperkuat temuan tersebut, khususnya melalui perbedaan bentuk dan jumlah gigi pada cincin penghisap (sucker) yang dimiliki kedua jenis cumi-cumi.

Penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. juga mengungkap perbedaan pola pertumbuhan antara kedua spesies. Spesies Sthenoteuthis oualaniensis cenderung menunjukkan pertumbuhan alometrik positif, di mana bagian tubuh tertentu berkembang lebih cepat dibandingkan panjang mantel. Sebaliknya, Uroteuthis duvaucelii menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif.

Melalui analisis molekuler, Dyah menemukan bahwa sekuen genetik cumi-cumi yang diteliti memiliki kemiripan dengan populasi dari berbagai wilayah perairan internasional. Spesies Sthenoteuthis oualaniensis memiliki kesamaan genetik dengan populasi dari Samudra Hindia, Australia, dan China, sedangkan Uroteuthis duvaucelii memiliki kedekatan genetik dengan populasi dari Vietnam dan Indonesia.

Menurut Dyah, penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan terpadu antara morfologi dan molekuler dalam memastikan identifikasi spesies laut secara akurat. Hasil riset ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih berkelanjutan, khususnya bagi komoditas cumi-cumi yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi nelayan Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Suksesi Kepemimpinan Selam Perikanan UGM 2026: Semangat Baru Melanjutkan Tradisi Organisasi yang Progresif

BeritaUncategorized Rabu, 11 Maret 2026

Organisasi mahasiswa Selam Perikanan di Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan organisasi melalui suksesi kepengurusan yang berlangsung secara demokratis. Rangkaian proses pergantian kepemimpinan diawali dengan agenda Pemilihan Ketua yang sukses diselenggarakan pada 11 Maret 2026, melibatkan partisipasi aktif seluruh anggota organisasi.

Kegiatan pemilihan ini menjadi momentum penting bagi Selam Perikanan UGM untuk menentukan arah kepemimpinan baru sekaligus memperkuat semangat kebersamaan antaranggota. Sejak awal proses, panitia pemilihan telah menyiapkan rangkaian kegiatan secara matang, mulai dari tahap penjaringan kandidat, penyampaian visi dan misi, hingga pelaksanaan pemungutan suara yang berlangsung secara tertib dan transparan.

Antusiasme anggota terlihat dari tingginya partisipasi dalam setiap tahapan. Forum penyampaian visi dan misi menjadi ruang diskusi yang dinamis, di mana para kandidat memaparkan gagasan strategis terkait pengembangan organisasi, peningkatan kapasitas anggota, serta rencana kegiatan konservasi dan edukasi kelautan di masa mendatang. Diskusi yang berlangsung hangat menunjukkan komitmen kuat seluruh anggota untuk memastikan keberlanjutan organisasi tetap berada di jalur yang progresif dan berdampak.

Organisasi Selam yang dibina oleh Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. ini, menjalankan pemilihan ketua sebagai upaya tidak hanya menjadi proses pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran demokrasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab organisasi bagi seluruh anggota. Dengan terpilihnya kepengurusan baru, Selam Perikanan UGM diharapkan mampu melanjutkan berbagai program unggulan, memperluas kolaborasi, serta semakin berkontribusi dalam kegiatan penyelaman ilmiah, konservasi sumber daya perairan, dan pengembangan kapasitas mahasiswa.

Suksesi kepemimpinan ini menandai awal babak baru perjalanan Selam Perikanan UGM untuk terus tumbuh sebagai organisasi mahasiswa yang aktif, inovatif, dan berdaya saing. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas mahasiswa, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mangrove Kulon Progo Masih Bertahan, Tapi Perlu Perhatian: Temuan Riset Mahasiswa

Beasiswa Rabu, 11 Maret 2026

Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, mulai dari melindungi garis pantai hingga menjadi habitat bagi berbagai organisme laut. Melihat pentingnya fungsi tersebut, mahasiswa melakukan penelitian untuk menilai kondisi kesehatan mangrove di kawasan Jembatan Api-Api, Kabupaten Kulon Progo.

Penelitian oleh Galang Mahmud Zaelani yang dibimbing Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si. ini, bertujuan menganalisis struktur komunitas vegetasi mangrove, menghitung Indeks Kesehatan Mangrove (Mangrove Health Index/MHI), serta mengevaluasi pengaruh kualitas air terhadap kondisi ekosistem. Pengambilan data dilaksanakan pada September hingga Desember 2025 dengan metode purposive sampling di tiga titik pengamatan.

Dalam proses penelitian, Galang menggunakan metode transek untuk menganalisis struktur vegetasi mangrove. Sementara itu, persentase tutupan kanopi diukur menggunakan teknik hemispherical photography, yang memungkinkan pengamatan kondisi tajuk pohon secara lebih akurat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan mangrove Jembatan Api-Api didominasi oleh spesies Avicennia marina dengan nilai Indeks Nilai Penting (INP) mencapai 213,99%. Secara umum, nilai rata-rata Indeks Kesehatan Mangrove (MHI) di kawasan tersebut berada pada angka 35,86%, yang menandakan kondisi ekosistem dalam kategori sedang.

Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa rata-rata kerapatan mangrove mencapai 3.800 individu per hektar dengan tutupan kanopi sekitar 76,6%. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa faktor kualitas air berpengaruh terhadap kondisi mangrove. Salinitas diketahui memiliki pengaruh negatif yang sangat kuat terhadap kerapatan pohon, sedangkan kandungan fosfat justru memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan tutupan kanopi.

Melalui penelitian ini, diharapkan informasi mengenai kondisi kesehatan mangrove dapat menjadi dasar pengelolaan dan konservasi ekosistem pesisir di Kulon Progo agar tetap berkelanjutan. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Makhluk Kecil Penjaga Sungai: Penelitian Mahasiswa Temukan Keanekaragaman Makrobentos di Sungai Ndaru

Berita Senin, 9 Maret 2026

Kondisi kesehatan suatu sungai tidak hanya dapat dilihat dari kejernihan airnya, tetapi juga dari organisme kecil yang hidup di dasar perairan. Hal inilah yang menjadi fokus penelitian mahasiswa Ela Restu Mei Astuti, yang mengkaji keanekaragaman komunitas makrobentos di Sungai Ndaru, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.

Sungai Ndaru merupakan sungai yang berhulu di kawasan Gunung Andong dan menjadi bagian penting dari ekosistem perairan di wilayah tersebut. Dalam penelitiannya yang dilakukan selama delapan minggu pada Oktober hingga November 2025, Ela melakukan pengamatan di empat stasiun penelitian untuk mengetahui struktur komunitas makrobentos sekaligus menganalisis hubungan antara kualitas air dengan keberadaan organisme tersebut.

Makrobentos sendiri merupakan organisme yang hidup di dasar perairan dan sering digunakan sebagai bioindikator untuk menilai kualitas lingkungan sungai. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan surber net berukuran 30 × 30 cm, kemudian sampel diawetkan dan diidentifikasi berdasarkan karakter morfologinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Ndaru memiliki keanekaragaman makrobentos yang cukup baik. Tercatat sebanyak 1.167 individu yang terdiri dari 3 kelas, 10 famili, dan 13 spesies ditemukan selama penelitian berlangsung. Nilai kelimpahan berkisar antara 54 hingga 234 individu per meter persegi, dengan indeks keanekaragaman pada kategori sedang.

Pengukuran kualitas air juga menunjukkan kondisi yang relatif baik. Parameter seperti suhu, oksigen terlarut, pH, hingga kandungan bahan organik masih berada dalam kisaran yang mendukung kehidupan organisme perairan.

Melalui penelitian ini, Ela berharap informasi mengenai kondisi ekosistem Sungai Ndaru dapat menjadi dasar bagi upaya pelestarian lingkungan sungai serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas perairan. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, dan SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan).

Dosen Perikanan UGM Publikasikan Riset Genetika Populasi Kerang Darah untuk Strategi Konservasi Sumber Daya Perikanan

Berita Jumat, 6 Maret 2026

Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada. Dosen perikanan Eko Hardianto, Ph.D berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Population Genetics of the Blood Cockle, Tegillarca granosa (Linnaeus, 1758): A Study of Spatial Genetic Structure Across the Indonesian Archipelago (DOI: 10.1111/maec.70017). Publikasi ini disusun bersama dosen UGM lainnya yaitu, Prof. Eko Setyobudi, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Susanti Mugi Lestari. Publikasi ini menjadi kontribusi penting bagi pengelolaan sumber daya kerang darah di Indonesia.

Kerang darah (Tegillarca granosa) merupakan komoditas kerang yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan penting dalam ekosistem pesisir Asia. Melalui penelitian ini, tim peneliti menelusuri keragaman genetik, sejarah biogeografi, serta struktur populasi spesies tersebut di wilayah kepulauan Indonesia.

Penelitian dilakukan pada lima lokasi berbeda di Indonesia dengan menganalisis variasi sekuens DNA mitokondria dari 200 individu. Hasilnya menunjukkan tingkat keragaman genetik yang tinggi, yang mengindikasikan potensi adaptasi dan ketahanan spesies terhadap perubahan lingkungan. Namun demikian, analisis varians molekuler mengungkap adanya perbedaan genetik yang signifikan antar populasi di berbagai lokasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa penyebaran dan aliran gen antar populasi kerang darah relatif terbatas. Kondisi tersebut diduga mendorong terjadinya adaptasi lokal yang dipengaruhi oleh faktor biologis, oseanografi, dan kondisi geografis masing-masing wilayah.

Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bagi perumusan strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya kerang darah secara berkelanjutan. Informasi mengenai struktur genetik populasi dinilai krusial untuk mendukung kebijakan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem serta menjaga keberlanjutan komoditas perikanan pesisir di masa depan.

Publikasi ini sekaligus menegaskan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam menghasilkan riset berkualitas yang berdampak nyata bagi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia.

Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Faperta UGM dan Woogene B&G Korea Jalin Kerja Sama Vaksin Marikultur

Berita Selasa, 3 Maret 2026

Fakultas Pertanian UGM resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan bioteknologi asal Korea Selatan, Woogene B&G, pada Kamis (26/2/2026). Penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam penguatan kolaborasi internasional di bidang bioteknologi perikanan dan kesehatan ikan, khususnya untuk mendukung pengembangan industri marikultur nasional yang berdaya saing global. Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan delegasi Woogene B&G ke kampus Universitas Gadjah Mada pada Desember 2025 lalu. Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak membahas potensi transfer teknologi dan riset bersama terkait pengendalian penyakit pada komoditas budidaya laut bernilai ekonomi tinggi. Penyakit viral, terutama yang disebabkan oleh Iridovirus, selama ini menjadi salah satu faktor pembatas produktivitas kerapu dan kakap putih di berbagai sentra budidaya Indonesia. Kolaborasi ini akan dikawal secara teknis oleh tim peneliti Departemen Perikanan di bawah pimpinan Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., yang memiliki rekam jejak panjang dalam riset kesehatan ikan dan pengembangan vaksin. Sinergi antara pimpinan fakultas, peneliti, serta mitra industri diharapkan mampu menjembatani kebutuhan akademik dan implementasi teknologi di lapangan. Pendekatan ini dinilai strategis untuk memastikan hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan benar-benar diadopsi oleh pelaku usaha budidaya.

Selama lima tahun ke depan, fokus utama kerja sama adalah pengembangan dan uji aplikasi vaksin Iridovirus untuk kerapu dan kakap putih. Tahapan kegiatan meliputi penelitian dasar, formulasi vaksin, uji efikasi di laboratorium, hingga uji lapang di unit-unit budidaya laut. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan teknis bagi dosen, mahasiswa, serta praktisi perikanan guna memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam bidang bioteknologi akuakultur.

Inovasi vaksin ini diharapkan mampu menekan angka kematian ikan akibat infeksi virus, meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate), serta memperbaiki performa produksi. Dampak jangka panjangnya adalah peningkatan efisiensi usaha, stabilitas pasokan ikan konsumsi, dan penguatan ketahanan pangan nasional. Dengan dukungan teknologi mutakhir dari Woogene B&G dan basis riset kuat dari Fakultas Pertanian UGM, kerja sama ini diharapkan menjadi model kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan industri global dalam mendorong transformasi sektor perikanan Indonesia menuju praktik yang lebih modern, sehat, dan berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

1…34567…13
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY