• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Fakultas Pertanian UGM
  • Fakultas Pertanian UGM
  • hal. 7
Arsip:

Fakultas Pertanian UGM

FGD Hibah Equity UGM 2026: Inovasi AI untuk Pemberdayaan Perempuan Pesisir dan Ketahanan Ekonomi di Era Perubahan Iklim

Berita Jumat, 17 April 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian UGM Program Equity by Subject dan Program Equity Post Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026 pukul 09.00–11.00 WIB di Ruang 2.02 Gedung A4 Departemen Perikanan UGM. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik untuk memaparkan, menelaah, serta memperoleh masukan terhadap pengembangan riset yang didanai melalui skema hibah UGM.

FGD menghadirkan pemaparan penelitian oleh Dr. Endah Prihatiningtyastuti yang mengangkat tema pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai sarana transformasi perempuan pesisir menjadi agen ekonomi tangguh terhadap perubahan iklim. Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan dosen, peneliti, serta sivitas akademika yang memberikan masukan strategis terkait arah pengembangan penelitian dan implementasinya di masyarakat.

Dalam pemaparan, disampaikan bahwa sektor perikanan tangkap menghadapi tekanan signifikan akibat perubahan iklim, seperti cuaca ekstrem, kenaikan suhu laut, hingga pergeseran stok ikan yang menyebabkan pendapatan nelayan semakin tidak stabil. Kondisi ini berdampak langsung pada kerentanan ekonomi rumah tangga pesisir. Di tengah situasi tersebut, perempuan pesisir memiliki peran kunci sebagai pengelola keuangan keluarga, penjaga konsumsi rumah tangga, sekaligus penggerak strategi bertahan hidup melalui berbagai aktivitas ekonomi tambahan. Namun, kontribusi tersebut masih sering bersifat informal, tidak terdokumentasi, dan belum memiliki rekam jejak data yang kuat.

FGD juga membahas berbagai kendala yang dihadapi perempuan pesisir, seperti keterbatasan literasi finansial digital, akses teknologi, infrastruktur internet, serta hambatan budaya dan norma gender. Temuan lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan pesisir belum memiliki kebiasaan pencatatan keuangan yang sistematis, meskipun terdapat minat tinggi terhadap solusi pencatatan digital sederhana berbasis telepon seluler.

Sebagai solusi, penelitian ini memperkenalkan konsep pencatatan berbasis AI melalui platform WhatsApp dengan asisten digital bernama “MAYA”. Sistem ini dirancang untuk memudahkan pencatatan biaya melaut, hasil tangkapan, hingga penjualan secara otomatis melalui percakapan sederhana. Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan pencatatan berbasis ingatan menjadi sistem berbasis data yang terstruktur, sekaligus meningkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga.

Melalui FGD ini, peserta memberikan berbagai masukan terkait penguatan metodologi, peluang kolaborasi lintas disiplin, serta potensi pengembangan riset lanjutan yang berkontribusi pada ketahanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan penelitian hibah UGM berjalan secara berkualitas, relevan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

FGD diakhiri dengan komitmen bersama untuk mendorong riset yang inklusif gender, berbasis teknologi, serta berorientasi pada solusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di wilayah pesisir. Kegiatan ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-5 (Kesetaraan Gender), tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), tujuan ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 14, Ekosistem Lautan, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitasserta, SDG ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim). Pemanfaatan kecerdasan buatan untuk pemberdayaan perempuan pesisir dinilai mampu memperkuat inklusi ekonomi berbasis data, meningkatkan ketahanan rumah tangga terhadap guncangan iklim, sekaligus mendorong transformasi digital yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Bukan Obat, Tapi Pencegahan: Kunci Sukses Budidaya Lele dan Gurame ala Dr. Indah

Berita Kamis, 16 April 2026

Kegiatan Pelatihan Pokdakan Wanita yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo pada Kamis, 16 April 2026, membekali peserta dengan informasi pentingnya kesehatan ikan. Materi terkait kesehatan ikan ini disampaikan oleh dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D.

Dalam materinya yang berjudul “Penyakit, Pencegahan, dan Pengobatan Ikan Lele dan Gurame”, Dr. Indah menekankan bahwa penyakit ikan merupakan salah satu faktor utama yang dapat menurunkan produktivitas budidaya. Ia menjelaskan berbagai jenis penyakit yang umum menyerang ikan budidaya, mulai dari parasit seperti Trichodina dan Henneguya, hingga penyakit bakteri seperti Aeromoniasis, Edwardsiellosis, dan Pseudomoniasis.

Selain itu, peserta juga dikenalkan pada penyakit yang disebabkan oleh virus dan jamur, termasuk infeksi Aphanomycosis serta iridovirus pada ikan gurami. Pengetahuan ini penting untuk membantu pembudidaya mengenali gejala awal penyakit sehingga dapat melakukan tindakan cepat dan tepat.

Namun, poin utama yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan. Dr. Indah menegaskan bahwa penggunaan obat, terutama antibiotik, tidak selalu direkomendasikan karena berkaitan dengan keamanan pangan. Sebagai alternatif, ia mendorong penerapan manajemen kesehatan ikan yang baik, seperti pengapuran kolam secara rutin, menjaga kualitas pakan, serta memastikan kebersihan alat dan lingkungan budidaya.

Selain itu, ikan yang terinfeksi atau mati harus segera ditangani dengan benar agar tidak menjadi sumber penularan. Praktik desinfeksi alat dan pengelolaan limbah budidaya juga menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran penyakit.

Melalui pelatihan ini, para anggota Pokdakan Wanita diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dalam menjaga kesehatan ikan secara berkelanjutan. Kegiatan ini turut mendukung SDG 2 (Ketahanan Pangan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk mencapai Tujuan, serta SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui praktik budidaya ikan yang sehat, aman, dan ramah lingkungan.

Wabah Kutil pada Ikan Gabus Ungkap Virus Baru? Peneliti Indonesia Temukan Kandidat Spesies LCDV

Berita Kamis, 16 April 2026

Temuan penting di bidang kesehatan ikan datang dari tim peneliti Indonesia yang berhasil mengidentifikasi kemungkinan spesies baru virus pada ikan gabus (Channa striata) di Kalimantan Selatan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Aquaculture ini dilakukan oleh Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah bersama tim peneliti, termasuk Dr. Indah Istiqomah dan Prof. Murwantoko.

Penelitian ini berawal dari laporan wabah penyakit dengan gejala menyerupai kutil pada ikan gabus, salah satu komoditas penting di Kalimantan Selatan. Gejala tersebut memicu investigasi mendalam untuk mengidentifikasi agen penyebab penyakit.

Melalui analisis histologi, peneliti menemukan adanya pembesaran sel limfosit yang mengandung inklusi basofilik di dalam jaringan kutil. Selain itu, ditemukan pula indikasi kerusakan jaringan seperti perdarahan, nekrosis, dan akumulasi sel inflamasi pada organ dalam ikan. Temuan ini mengarah pada dugaan infeksi virus.

Untuk memastikan hal tersebut, tim melakukan analisis molekuler menggunakan teknik PCR dan sekuensing terhadap enam gen utama virus, termasuk MCP dan MMP. Hasilnya menunjukkan bahwa ikan gabus tersebut terinfeksi Lymphocystis Disease Virus (LCDV) yang kemudian diberi nama LCDV Cs-SK.

Menariknya, hasil analisis genetik menunjukkan bahwa virus ini memiliki kemiripan tinggi dengan beberapa strain LCDV yang telah ditemukan sebelumnya, namun juga menunjukkan perbedaan signifikan pada tingkat nukleotida. Analisis filogenetik lebih lanjut mengindikasikan bahwa virus ini paling dekat dengan kelompok LCDV-3, tetapi memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari spesies yang telah teridentifikasi.

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa LCDV Cs-SK berpotensi sebagai kandidat spesies baru dalam kelompok virus LCDV. Penemuan ini menjadi langkah penting dalam memahami dinamika penyakit ikan di Indonesia, khususnya dalam mendukung pengelolaan kesehatan ikan budidaya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit ikan, sekaligus memperkuat ketahanan sektor akuakultur nasional. Temuan ini juga berkontribusi pada SDG 14 (Ekosistem Laut) dan SDG 2 (Ketahanan Pangan) melalui upaya menjaga kesehatan sumber daya perikanan.

 

Sumber gambar: Aquaculture, Volume 588, 15 July 2024, 740897

Belajar Mengelola Laut Secara Cerdas: Mata Kuliah Manajemen Operasi Penangkapan Ikan UGM Siapkan Mahasiswa Hadapi Tantangan Global

Berita Kamis, 16 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menghadirkan pembelajaran komprehensif melalui mata kuliah Manajemen Operasi Penangkapan Ikan, yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam tentang pengelolaan perikanan tangkap secara berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan.

Matakuliah yang dikoordinatori oleh Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. ini, mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, ekonomi, hingga kebijakan dalam satu kerangka pembelajaran yang utuh. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teknik penangkapan ikan, tetapi juga diajak memahami sistem perikanan sebagai sistem sosial-ekologi yang kompleks.

Materi perkuliahan mencakup berbagai topik strategis, mulai dari manajemen armada, regulasi perikanan, teknologi alat tangkap, hingga pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM). Pendekatan ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya ikan dan keberlanjutan ekosistem laut.

Menariknya, mahasiswa juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi modern dalam operasi penangkapan ikan, seperti GPS, remote sensing, serta sistem pemantauan kapal (Vessel Monitoring System). Teknologi ini memungkinkan nelayan menentukan lokasi penangkapan secara lebih efisien sekaligus mengurangi praktik penangkapan berlebih (overfishing).

Selain aspek teknis, mata kuliah ini juga mengangkat berbagai tantangan nyata di sektor perikanan, seperti praktik illegal fishing, konflik kepentingan, hingga dampak perubahan iklim terhadap distribusi ikan. Mahasiswa diajak berpikir kritis melalui diskusi, studi kasus, dan pembelajaran kolaboratif.

Dengan metode pembelajaran partisipatif, evaluasi berbasis proyek, serta integrasi teori dan praktik, mata kuliah ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki perspektif keberlanjutan dalam mengelola sumber daya laut.

Pembelajaran ini sejalan dengan SDG 14 (Ekosistem Laut), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), menjadikan mahasiswa siap berkontribusi dalam pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan di Indonesia maupun global

Dr. Senny Helmiati Latih Pokdakan Wanita tentang Pakan dan Teknik Budidaya Gurami-Lele

Berita Kamis, 16 April 2026

Upaya pemberdayaan perempuan di sektor perikanan terus diperkuat melalui kegiatan Pelatihan untuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Wanita yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo pada Kamis, 16 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas ini menghadirkan dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Dr. Senny Helmiati, sebagai narasumber utama.

Dalam pelatihan tersebut, Dr. Senny menyampaikan materi bertajuk “Pakan dan Perawatan Ikan Gurami dan Lele”, yang menekankan pentingnya manajemen pakan dan pemeliharaan dalam meningkatkan produktivitas budidaya. Beliau menjelaskan bahwa pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi, bahkan dapat mencapai 60–70% dari total biaya, sehingga efisiensi dalam pemberian pakan menjadi kunci keberhasilan usaha budidaya.

Peserta pelatihan juga diberikan pemahaman tentang jenis pakan, baik alami maupun buatan, serta kriteria pakan yang baik, seperti kandungan nutrien yang seimbang, mudah dicerna, dan sesuai dengan kebutuhan ikan. Selain itu, Dr. Senny menjelaskan teknik pemberian pakan yang efektif, mulai dari dosis, frekuensi, hingga waktu pemberian, yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ikan dan kualitas air.

Tidak hanya teori, pelatihan ini juga membahas tahapan budidaya ikan, mulai dari pembenihan, pendederan, hingga pembesaran. Peserta dibekali pengetahuan praktis tentang manajemen kualitas air, kepadatan tebar, serta teknik panen yang optimal untuk ikan gurami dan lele.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas perempuan pembudidaya ikan agar lebih mandiri dan produktif. Selain itu, pelatihan ini juga berkontribusi pada SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui pemberdayaan perempuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan produksi pangan, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan ekonomi berbasis budidaya perikanan.

Sumber Photo: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo

Perkuat Jejaring Internasional, Departemen Perikanan UGM Sambut Kunjungan Pakar Akuakultur dari Malaysia

Berita Rabu, 15 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan akademik dari dua institusi terkemuka Malaysia dalam upaya memperkuat kolaborasi internasional di bidang perikanan dan kelautan. Kunjungan ini menghadirkan Prof. Dr. Murni Marlina Abd Karim dari Institut Antarabangsa Akuakultur dan Sains Akuatik, Universiti Putra Malaysia, serta Assoc. Prof. Dr. Ching Fui Fui, Dekan Institut Marin Borneo dari Universiti Malaysia Sabah.

Dalam kegiatan tersebut, kedua narasumber memaparkan profil institusi masing-masing, termasuk fokus riset, fasilitas laboratorium, serta peluang pengembangan akademik dan penelitian lintas negara. Institut Antarabangsa Akuakultur dan Sains Akuatik sendiri dikenal sebagai pusat unggulan dalam bidang akuakultur dan sains akuatik, dengan fokus pada kesehatan ikan, bioteknologi, dan pengelolaan akuakultur berkelanjutan .

Sebagai Deputy Director di institusi tersebut, Prof. Murni Marlina memiliki keahlian di bidang kesehatan hewan akuatik, bioteknologi mikroba, serta pengembangan vaksin dan probiotik untuk akuakultur. Ia juga aktif dalam berbagai publikasi ilmiah internasional yang berfokus pada peningkatan kesehatan dan produktivitas organisme perairan. Sementara itu, Institut Marin Borneo yang dipresentasikan oleh Assoc. Prof. Dr. Ching Fui Fui menekankan penguatan riset kelautan tropis dan pengelolaan sumber daya pesisir di kawasan Asia Tenggara.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kerja sama strategis, seperti pertukaran mahasiswa dan dosen, kolaborasi penelitian, hingga pengembangan program bersama di bidang akuakultur dan ilmu kelautan. Melalui pertemuan ini, Departemen Perikanan UGM menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring global dan meningkatkan kualitas pendidikan serta riset berbasis kolaborasi internasional. Inisiatif ini juga sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Ekosistem Lautan, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang menekankan pentingnya kerja sama lintas negara dalam menghadapi tantangan global di sektor kelautan dan perikanan.

Perkuat Riset Akuakultur, UGM Sambut Dosen Baru Ahli Genetika Ikan Lulusan Belanda

Berita Rabu, 15 April 2026

Kabar baik datang dari Universitas Gadjah Mada. Departemen Perikanan Fakultas Pertanian resmi menghadirkan dosen baru, Dr. Priadi Setyawan, M.Si, yang akan memperkuat bidang akuakultur, khususnya genetika dan pemuliaan ikan. Dr. Priadi merupakan akademisi dengan latar belakang pendidikan yang kuat dan pengalaman riset yang luas. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Wageningen University & Research, Belanda, pada bidang Animal Breeding and Genomics tahun 2023. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan sarjana di UGM dan magister di Universitas Jenderal Soedirman dengan predikat cum laude.

Pengalaman profesionalnya juga sangat solid, pernah menjadi peneliti di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelum bergabung sebagai dosen di UGM. Dr. Priadi saat ini tercatat sebagai anggota dewan pakar Ispikani DI. Yogyakarta (DIY) dan sedang mendampingi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY. Beliau membantu pemerintahan DIY dalam mengembangkan induk ikan nila unggul tumbuh cepat menggunakan pemodelan genetik yang rencananya akan diajukan untuk dirilis oleh KKP pada tahun 2027. Selain mendampingi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY dalam program pemuliaan ikan, saat ini beliau melakukan penelitian pemuliaan presisi dengan mixed model dan analisis transkriptomik pada ikan nila, domestikasi dan pemuliaan ikan papuyu (Anabas Testudineus Bloch, 1792), serta domestikasi ikan Baung (Hemibagrus nemurus) Sungai Progo menggunakan model pengelolaan populasi terkontrol dengan metode BLUP (Best Linear Unbiased Prediction). Beberapa kegiatan penelitian tersebut didanai dari anggaran rumah program BRIN serta anggaran dari Riset dan Inovasi Untuk Indonesia Maju (RIIM).

Salah satu pencapaian penting dalam kariernya adalah kontribusi dalam pengembangan dan pelepasan varietas unggul ikan nila Srikandi, yang dikenal memiliki toleransi tinggi terhadap salinitas. Ia juga memiliki paten terkait metode pemijahan ikan nila, yang menunjukkan perannya dalam inovasi teknologi budidaya perikanan.

Dalam bidang publikasi ilmiah, Dr. Priadi telah menghasilkan berbagai artikel di jurnal internasional bereputasi, termasuk jurnal Aquaculture (Elsevier), dengan fokus pada pengembangan strain ikan nila unggul, toleransi salinitas, serta pendekatan genomik dalam akuakultur.

Kehadiran Dr. Priadi di Departemen Perikanan UGM diharapkan mampu memperkuat riset dan pengembangan teknologi budidaya ikan yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, khususnya di perairan payau. Selain itu, kontribusinya juga diharapkan dapat mendorong inovasi dalam peningkatan produktivitas dan ketahanan sektor perikanan nasional.

Langkah ini sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Ketahanan Pangan), SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 (Inovasi dan Industri), SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui pengembangan akuakultur berkelanjutan berbasis sains dan teknologi, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Dari Satelit hingga Laut Dalam: Ilmuwan Post-Doctoral UGM dan BRIN Kembangkan Prediksi Zona Ikan Berbasis Iklim

Berita Rabu, 15 April 2026

Penguatan riset perikanan berbasis teknologi dan perubahan iklim terus dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada melalui Program Post-Doctoral Dalam Negeri Tahun 2025. Salah satu peneliti yang terlibat adalah Ulung Jantama Wisha, S.Kel., M.Sc., D.Sc., ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memiliki rekam jejak kuat di bidang oseanografi dan pemodelan laut dan pesisir.

Dalam program ini, Dr. Ulung mengembangkan penelitian bertajuk “Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Variabilitas Zona Penangkapan Ikan (ZPI) di WPPNRI 573.” Riset ini berfokus pada wilayah Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, kawasan strategis penangkapan ikan pelagis yang sangat dipengaruhi oleh fenomena iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Perubahan suhu permukaan laut dan produktivitas perairan akibat fenomena tersebut berpotensi menggeser distribusi ikan, sehingga berdampak langsung pada efisiensi penangkapan. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis data penginderaan jauh, meliputi analisis suhu permukaan laut, klorofil-a, arus laut, serta indeks iklim global.

Melalui enam tahapan penelitian, mulai dari pengolahan data satelit hingga pengembangan model prediksi berbasis machine learning, Dr. Ulung menargetkan luaran berupa peta tren perubahan iklim laut, model prediktif adaptif Zona Penangkapan Ikan (ZPI), serta dashboard interaktif berbasis web. Sistem ini diharapkan mampu membantu nelayan dan pengambil kebijakan dalam menentukan lokasi penangkapan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Kapasitas Dr. Ulung sebagai peneliti diperkuat oleh latar belakang akademiknya yang meraih gelar doktor dari University of the Ryukyus, Jepang, pada tahun 2025 di bidang Marine and Environmental Sciences. Ia juga memiliki portofolio publikasi internasional bereputasi (Q1–Q3), dengan fokus pada dinamika oseanografi, perubahan muka laut, transport sedimen, serta pemodelan wilayah pesisir dan perikanan.

Selain itu, Dr. Ulung aktif dalam kolaborasi riset lintas institusi nasional dan internasional, termasuk dengan universitas dan lembaga riset global. Pengalamannya dalam mengintegrasikan teknologi remote sensing, GIS, dan analisis data lingkungan menjadikannya salah satu ilmuwan muda yang berkontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu kelautan di Indonesia.

Penelitian ini tidak hanya berdampak pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga berkontribusi pada SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Laut), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Inovasi ini diharapkan menjadi fondasi dalam mewujudkan pengelolaan perikanan yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim global.

Inovasi Sehat dari Laut: Teh Sargassum Karya Prof. Amir Husni Raih Hibah BIMA dan Hilirisasi Riset Prioritas 2026

Berita Rabu, 15 April 2026

Kabar membanggakan datang dari Universitas Gadjah Mada. Dosen Departemen Perikanan, Prof. Dr. Amir Husni, S.Pi., M.P., berhasil meraih pendanaan Hibah BIMA skema Penelitian Tesis Magister (https://bima.kemdiktisaintek.go.id) dan Program Hilirisasi Riset Prioritas – Sinergi (https://hiliriset.kemdiktisaintek.go.id). Penelitian yang diusung mengangkat inovasi minuman fungsional berbasis rumput laut dengan judul “Aktivitas Antioksidan, Antidiabetes dan Tingkat Penerimaan Konsumen Teh Rumput Laut Sargassum sp. yang Ditambah Jahe.” dan “Pemanfaatan Rumput Laut Cokelat Sargassum sebagai Minuman Fungsional.”

Penelitian ini berangkat dari meningkatnya kasus diabetes melitus serta kebutuhan akan alternatif terapi berbasis bahan alami. Dalam penelitiannya, Prof. Amir dan tim akan mengembangkan formulasi teh herbal dengan berbagai komposisi, kemudian menguji bioaktivitasnya meliputi aktivitas antioksidan dan anti-diabetes serta uji penerimaan konsumen. Selain itu juga akan dilakukan validasi praklinis secara komprehensif untuk keamanan dan kemanfaatan, serta implementasi sistem jaminan mutu.

Luaran penelitian yang ditargetkan dari skema PTM berupa publikasi pada jurnal internasional bereputasi serta peningkatan Tingkat Kesiap-terapan Teknologi (TKT) dari level 2 ke level 3. Inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya hilirisasi riset untuk menghasilkan produk minuman fungsional berbasis sumber daya laut Indonesia. Dari skema Hilirisasi Riset diharapkan dapat mencapai TKT 9.

Tak hanya berbagi capaian, Prof. Amir juga membagikan tips bagi peneliti yang ingin lolos pendanaan hibah. Ia menekankan pentingnya memahami panduan secara detail dan menyusun proposal sesuai panduan yang ada, kemudian sebelum proposal diajukan perlu melakukan evaluasi mandiri terhadap proposal sesuai kriteria penilaian, serta tidak melupakan ikhtiar spiritual melalui doa dan tawakal.

Keberhasilan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi berbasis kelautan yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi kesehatan masyarakat. Keberhasilan penelitian ini juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pengembangan produk kesehatan berbasis pangan alami, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi produk berbasis riset, serta SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Inisiatif ini menunjukkan bahwa riset perikanan tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Perempuan Pulau Kecil Hadapi Banjir Rob: Kisah Tangguh dari Pulau Pasaran Lampung

Berita Selasa, 14 April 2026

Perubahan iklim dan kenaikan muka air laut semakin nyata dirasakan oleh masyarakat pesisir, terutama di pulau-pulau kecil. Hal ini tergambar dalam penelitian berjudul “Resilience at the Margins: Examining Island Women’s Adaptation Strategies to Tidal Flooding in a Small Island Context in Lampung, Indonesia” yang mengangkat kisah perjuangan perempuan pengolah ikan teri di Pulau Pasaran dalam menghadapi banjir rob yang terus berulang.

Penelitian yang dilakukan oleh Asri Puspita Sari bersama Prof. Suadi dan Prof. Djumanto ini menyoroti bagaimana perempuan di wilayah tersebut memahami dan merespons fenomena banjir pasang laut. Bagi mereka, banjir rob bukan sekadar bencana, melainkan kejadian alami yang terjadi secara siklus akibat pengaruh gravitasi bulan. Namun demikian, dampaknya sangat nyata, mulai dari terganggunya aktivitas produksi hingga sulitnya akses ke pasar di kota.

Dengan melibatkan 48 responden, penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kerentanan masyarakat, khususnya perempuan, tergolong tinggi. Ketidakpastian iklim dan intensitas banjir rob menjadi faktor utama yang memengaruhi keberlanjutan mata pencaharian mereka. Meski demikian, perempuan di Pulau Pasaran menunjukkan ketangguhan yang luar biasa.

Berbagai strategi adaptasi dilakukan, mulai dari diversifikasi usaha ke sektor perdagangan dan jasa, membeli produk olahan dari daerah lain untuk tetap berjualan, hingga mendorong anggota keluarga untuk merantau mencari peluang ekonomi yang lebih baik. Modal sosial dan pengalaman menghadapi banjir menjadi kunci penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan mereka.

Penelitian ini menegaskan pentingnya kebijakan adaptasi berbasis lokal yang inklusif dan sensitif gender. Upaya tersebut dinilai krusial untuk memperkuat ketahanan perempuan pesisir, khususnya di ekosistem pulau kecil yang rentan terhadap perubahan iklim. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, seirama dalam upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

1…56789…18
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY