• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • Kerja Sama
    • Laporan Kinerja UPPS
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Fakultas Pertanian UGM
  • Fakultas Pertanian UGM
  • hal. 7
Arsip:

Fakultas Pertanian UGM

Inovasi Riset Perikanan Antar wilayah, Dosen Perikanan UGM Diganjar Best Dissertation PKSPL IPB University

Berita Senin, 9 Februari 2026

Dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Mukti Aprian, kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Ia menerima penghargaan dari PKSPL IPB University, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi akademik dan pengembangan ilmu perikanan.

Penghargaan ini menjadi bukti pengakuan institusi pendidikan tinggi terhadap kiprah Mukti Aprian dalam bidang riset dan pengembangan tata kelola perikanan. Selama ini, ia dikenal aktif menghasilkan karya ilmiah yang berfokus pada pengelolaan perikanan berbasis data, teknologi pemantauan kapal, serta kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Penghargaan tersebut diberikan atas disertasi berjudul “Indeks Pergerakan Perikanan sebagai Transformasi Spasial Lintas Wilayah Pengelolaan Perikanan”. Capaian ini menjadi pengakuan atas kontribusi ilmiah Mukti Aprian dalam pengembangan riset tata kelola perikanan berbasis pendekatan spasial dan data.

Disertasi tersebut mengangkat konsep indeks pergerakan perikanan sebagai pendekatan baru untuk memahami dinamika aktivitas perikanan lintas wilayah pengelolaan. Pendekatan ini dinilai penting untuk mendukung perumusan kebijakan perikanan yang lebih adaptif, terintegrasi, dan berbasis bukti ilmiah.

Prestasi tersebut juga mempertegas peran Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak luas bagi sektor kelautan dan perikanan nasional. Kolaborasi lintas perguruan tinggi, termasuk dengan IPB, menjadi bagian penting dalam memperkuat jejaring riset dan inovasi di bidang perikanan.

Mukti Aprian menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak yang terlibat dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pengembangan ilmu perikanan membutuhkan kolaborasi kuat antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar kebijakan yang dihasilkan berbasis bukti ilmiah.

Prestasi ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi penguatan kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Riset UGM Ungkap Potensi Rumput Laut sebagai Bahan Alami Anti-Jerawat

Berita Kamis, 5 Februari 2026

Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada melalui publikasi terbaru mengenai pemanfaatan rumput laut sebagai bahan alami perawatan kulit. Penelitian berjudul In Vitro Anti-Acne Activity and Bioactive Compound Analysis of Sargassum cristaefolium Ethanolic Extract from Teluk Awur Jepara dipublikasikan dalam Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science Vol. 5 No. 2 (2025) oleh Theresia Adven Dea Kristiani bersama Prof. Amir Husni dan Prof. Alim Isnansetyo.

Jerawat merupakan salah satu gangguan kulit yang paling umum terjadi, terutama pada remaja, dan sering menimbulkan dampak fisik maupun psikologis. Penelitian ini berfokus pada potensi rumput laut Sargassum cristaefolium dari Teluk Awur, Jepara, sebagai kandidat bahan aktif anti-jerawat berbasis alam yang lebih aman dan minim efek samping.

Hasil uji in vitro menunjukkan ekstrak etanol rumput laut tersebut efektif menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat, yaitu Cutibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Selain itu, ekstrak juga mampu melisis sebagian sel bakteri, menandakan aktivitas antibakteri yang menjanjikan.

Tak hanya itu, penelitian juga menemukan aktivitas antioksidan yang signifikan melalui uji DPPH dan ABTS. Analisis kimia menunjukkan kandungan fenol total sebesar 14,17 mg GAE/g serta kandungan sulfat 10,99%. Uji LC-MS mengidentifikasi berbagai senyawa bioaktif penting, seperti karotenoid, terpenoid, steroid, flavonoid, chromenol, dan asam lemak yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri.

Temuan ini membuka peluang pengembangan bahan baku kosmetik dan farmasi berbasis sumber daya laut Indonesia. Penelitian tersebut menegaskan potensi besar rumput laut sebagai inovasi produk perawatan kulit alami sekaligus memperkuat kontribusi riset perikanan UGM dalam bidang bioteknologi kelautan. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Turun ke Lapangan di Kabupaten Cilacap, Dosen dan Mahasiswa Perikanan UGM Perkuat Riset Ketahanan Kota Pesisir

Berita Rabu, 4 Februari 2026

Cilacap – Dosen dan mahasiswa Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan penelitian lapangan di wilayah pesisir Cilacap sebagai bagian dari riset bertajuk Ketahanan Pangan di Era Perubahan Iklim: Indeks Pergerakan Perikanan sebagai Instrumen Adaptasi Kota-Kota Pesisir Indonesia. Penelitian ini merupakan bagian dari Riset Equity-Program World Class Academic Excellence. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam pengumpulan data dan penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di daerah pesisir.

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si (Han) bersama tim peneliti lintas institusi dan mahasiswa pascasarjana. Fokus utama riset adalah mengkaji ketahanan kota pesisir terhadap perubahan iklim melalui pendekatan sistem sosial-ekologi perikanan, pengelolaan pesisir terpadu, serta pembangunan berbasis data dan partisipasi masyarakat.

Selama kegiatan di Kabupaten Cilacap, tim peneliti melakukan wawancara mendalam dan diskusi dengan narasumber yang kompeten dari berbagai sektor, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Bappeda, pelabuhan perikanan, aparat keamanan laut, komunitas nelayan, pelaku usaha perikanan, hingga tokoh masyarakat setempat. Pertemuan ini menjadi sarana penting untuk menggali data faktual mengenai kondisi ekosistem pesisir, dinamika sosial-ekonomi masyarakat nelayan, serta tantangan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Interaksi langsung dengan para pemangku kepentingan memberikan gambaran komprehensif mengenai tantangan yang dihadapi kota pesisir, mulai dari perubahan pola penangkapan ikan, tekanan pembangunan wilayah pesisir, hingga risiko kenaikan muka air laut dan abrasi. Data yang diperoleh diharapkan mampu memperkaya penyusunan indeks ketahanan kota pesisir berbasis bukti ilmiah.

Keterlibatan mahasiswa dalam penelitian lapangan juga menjadi pengalaman pembelajaran berharga, karena mereka terlibat langsung dalam proses wawancara, observasi, serta pengumpulan data sosial-ekologi. Pengalaman ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam melakukan riset interdisipliner dan memahami permasalahan nyata di masyarakat pesisir.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan komitmennya untuk menghasilkan penelitian yang berdampak nyata bagi penguatan kebijakan pengelolaan pesisir dan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Laut), serta  SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat pesisir menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan kota pesisir yang adaptif, berkelanjutan, dan berbasis data ilmiah.

Mangrove Asia Tenggara Terancam Aktivitas Manusia: Temuan Riset Global Dibahas di SINNTECH Webinar #33 UGM

Berita Rabu, 28 Januari 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui SINNTECH Webinar #33. Webinar yang digelar pada 28 Januari 2026 ini menghadirkan peneliti dari Xiamen University, Ngo Thuy Hao, yang memaparkan riset terbaru mengenai dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove di Asia Tenggara.

Dalam pemaparannya, Hao menjelaskan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan luas mangrove terbesar di dunia. Namun, ekosistem penting ini kini menghadapi tekanan besar akibat berbagai aktivitas manusia seperti ekspansi tambak, pertanian, pembangunan infrastruktur, serta pencemaran nutrien dari daratan.

Melalui pendekatan pemetaan spasial dan model analisis Cumulative Human Impact (CHI), penelitian ini memetakan tingkat tekanan manusia terhadap mangrove di berbagai negara Asia Tenggara. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya sekitar 18,6% kawasan mangrove yang masih tergolong utuh, sementara sebagian besar lainnya telah terpapar berbagai tekanan aktivitas manusia.

Menariknya, beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Myanmar, Kamboja, dan Timor Leste masih menunjukkan tingkat tekanan kumulatif yang relatif rendah. Hal ini memberikan peluang besar untuk upaya konservasi dan restorasi sebelum ekosistem tersebut mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa ekspansi tambak akuakultur menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi degradasi mangrove di kawasan ini, diikuti oleh konversi lahan pertanian, pembangunan jalan, dan polusi nutrien.

Melalui SINNTECH Webinar #33, mahasiswa dan peserta mendapatkan wawasan penting tentang bagaimana pendekatan sains data, pemodelan spasial, dan kolaborasi internasional dapat digunakan untuk memahami sekaligus melindungi ekosistem pesisir yang vital bagi keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan global. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Peneliti UGM Ungkap Identitas Gurita Bernilai Ekonomi Tinggi di Perairan Bengkulu

Berita Kamis, 22 Januari 2026

Kolaborasi dosen dan mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghasilkan publikasi ilmiah internasional. Penelitian berjudul Morphological, Morphometric, and Molecular Identification of Octopus cyanea in the Waters of Kaur District, Bengkulu Province, Indonesia dipublikasikan dalam jurnal Biodiversitas Volume 26 Nomor 6 (Juni 2025) oleh Ahmad Pariansyah, M.Sc., Dr. Ratih Ida Adharini, Dr. Dini Wahyu Kartika Sari, dan Dr. Eko Hardianto.

Gurita merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang melimpah di perairan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Penelitian ini bertujuan memastikan identitas spesies gurita melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan analisis morfologi, morfometrik, dan molekuler.

Sebanyak 68 sampel gurita berhasil dikumpulkan dari perairan Kaur, terdiri atas 20 jantan dan 48 betina. Identifikasi lapangan menunjukkan seluruh sampel merupakan Octopus cyanea, yang memiliki ciri khas mantel berbentuk oval, corong berbentuk huruf W, dua baris pengisap pada setiap lengan, serta pola warna cokelat-putih dengan bintik mata semu (ocelli). Analisis morfometrik juga mengungkap bahwa gurita betina memiliki rasio ukuran tubuh relatif lebih besar dibandingkan jantan pada beberapa parameter penting.

Validasi molekuler menggunakan gen Cytochrome c Oxidase Subunit I (COI) menunjukkan kecocokan 100% dengan data GenBank, memperkuat kepastian identitas spesies. Analisis filogenetik dan jarak genetik menunjukkan populasi gurita dari Kaur memiliki kekerabatan erat dengan populasi dari Jayapura, Buton, Wakatobi, Madagaskar, India, hingga Jepang, menandakan distribusi geografis yang luas.

Temuan ini menjadi dasar ilmiah penting untuk mendukung strategi konservasi dan pengelolaan perikanan gurita secara berkelanjutan. Penelitian ini sekaligus menegaskan kontribusi riset Departemen Perikanan UGM dalam penguatan pengelolaan sumber daya laut berbasis sains di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dari Data Kapal ke Kebijakan: Temuan Baru untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

Berita Jumat, 16 Januari 2026

Salah satu dosen Departemen Perikanan, Mukti Aprian bersama tim peneliti berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Institutionalizing Indonesia’s Commercial Fisheries: Insights From Fleet Dynamics and Vessel Monitoring Systems. Penelitian ini ditulis bersama Luky Adrianto, Mennofatria Boer, Fery Kurniawan, dan Riza Y. Setiawan.

Riset ini menyoroti tantangan besar dalam tata kelola perikanan komersial Indonesia, khususnya terkait lemahnya integrasi hasil monitoring, control, and surveillance (MCS) ke dalam proses kebijakan. Selama beberapa dekade, investasi pada sistem pemantauan perikanan terus meningkat, namun ekspansi armada komersial—baik di perairan nasional maupun lintas batas—masih berlangsung tanpa pengawasan strategis yang memadai.

Penelitian ini menggunakan pendekatan rapid assessment yang menggabungkan pengetahuan berbasis komunitas, teknologi vessel monitoring system (VMS), serta data sekunder. Analisis dilakukan dengan berbagai metode mutakhir, seperti social–ecological network analysis, principal component analysis, self-organizing maps, hingga geographic information systems (GIS). Pendekatan integratif ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi peluang pengambilan keputusan berbasis data secara lebih komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara perikanan berorientasi industri dan perikanan berbasis komunitas. Selain itu, terjadi pergeseran bertahap nelayan tradisional menuju operasi komersial tanpa regulasi yang memadai. Riset juga menyoroti masih rendahnya pemanfaatan hasil penelitian ilmiah dalam kebijakan, serta kesenjangan sosial-ekonomi antara pemilik modal dan awak kapal.

Temuan penting lainnya menunjukkan bahwa kebijakan saat ini cenderung berfokus pada perikanan skala kecil, sementara sektor industri-komersial belum memiliki pengawasan strategis yang kuat. Regulasi yang seragam untuk berbagai tipe perikanan dinilai menghambat respons adaptif terhadap dinamika sektor.

Melalui penelitian ini, tim penulis mengusulkan pembentukan otoritas tata kelola khusus yang mampu mengelola perikanan komersial dan komunitas secara terintegrasi, adaptif, berbasis bukti, serta inklusif secara sosial. Publikasi ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi penguatan kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, publikasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

UGM Soroti Tantangan Deteksi Penyakit Ikan di Indonesia, Teknologi Diagnostik Jadi Kunci

Berita Rabu, 7 Januari 2026

Yogyakarta – Tantangan deteksi penyakit ikan di Indonesia menjadi topik utama dalam SINNTECH 31. Dalam pemaparannya, akademisi Fakultas Pertanian UGM (Prof. Murwantoko) menekankan pentingnya penguatan sistem diagnosis penyakit sebagai fondasi ketahanan sektor akuakultur nasional.

Deteksi penyakit ikan merupakan proses penting untuk menemukan, mengidentifikasi, dan memantau keberadaan patogen melalui berbagai sumber data klinis maupun non-tradisional. Surveilans yang sistematis dibutuhkan untuk mendeteksi penyakit baru, mengendalikan wabah, serta memastikan populasi ikan bebas penyakit tertentu.

Beragam metode diagnostik telah digunakan, mulai dari histopatologi, kultur sel, PCR konvensional, real-time PCR, hingga LAMP (Loop-Mediated Isothermal Amplification). Teknologi PCR menjadi salah satu metode paling umum karena mampu memperbanyak fragmen DNA patogen secara eksponensial sehingga keberadaan penyakit dapat diidentifikasi lebih akurat. Sementara itu, real-time PCR memungkinkan deteksi kuantitatif dengan sensitivitas tinggi, sedangkan LAMP menawarkan proses yang lebih cepat tanpa memerlukan mesin PCR.

Meski teknologi terus berkembang, deteksi penyakit ikan masih menghadapi berbagai tantangan serius. Salah satunya adalah munculnya penyakit baru dari luar negeri yang berpotensi masuk ke Indonesia sehingga membutuhkan sistem deteksi yang cepat dan sensitif. Selain itu, keragaman spesies patogen seperti Aeromonas dan Vibrio menyulitkan proses identifikasi karena primer universal tidak selalu mampu membedakan spesies secara spesifik.

Tantangan lain datang dari mutasi genetik yang tinggi, terutama pada virus RNA. Mutasi ini dapat memengaruhi akurasi deteksi karena perubahan urutan genetik membuat primer sulit menempel pada target DNA. Penelitian bahkan menemukan variasi urutan RNA pada virus TiLV yang menginfeksi ikan nila di wilayah DIY.

Melalui penguatan metode deteksi dan surveilans penyakit, diharapkan Indonesia mampu merespons wabah secara cepat, menjaga kesehatan ikan budidaya, serta memperkuat daya saing sektor perikanan nasional di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Alga Laut Jadi Senjata Baru Lawan Penyakit Budidaya: Insight Menarik di SINNTECH Webinar #32 UGM

Berita Selasa, 6 Januari 2026

Pemanfaatan sumber daya laut untuk mendukung keberlanjutan perikanan menjadi topik menarik dalam SINNTECH Webinar #32 yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kegiatan ini, dosen dari Universitas Airlangga, Dr. Woro Hastuti Satyantini, memaparkan potensi alga laut sebagai imunostimulan alami untuk meningkatkan ketahanan ikan dan udang terhadap penyakit. Webinar yang diikuti oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ini membahas tantangan besar dalam sektor akuakultur, khususnya serangan penyakit yang sering menyebabkan kerugian besar pada budidaya ikan dan udang. Penyakit seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang dan infeksi bakteri pada ikan diketahui dapat memicu kematian massal serta menurunkan produksi secara signifikan. Selama ini, pengendalian penyakit masih banyak bergantung pada penggunaan antibiotik dan bahan kimia, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap resistensi dan dampak lingkungan.

Melalui penelitiannya, Dr. Woro menjelaskan bahwa alga laut mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti polisakarida, pigmen, antioksidan, dan asam lemak yang mampu meningkatkan sistem imun organisme perairan. Senyawa-senyawa tersebut dapat merangsang respons imun, meningkatkan daya tahan terhadap infeksi, serta menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia sintetis. Ia juga mencontohkan beberapa jenis alga seperti Spirulina dan Caulerpa racemosa yang telah diuji mampu meningkatkan respons imun dan tingkat kelangsungan hidup ikan maupun udang setelah terinfeksi patogen.

Melalui diskusi ini, SINNTECH Webinar #32 tidak hanya memperkenalkan inovasi sains kelautan, tetapi juga membuka wawasan mahasiswa tentang bagaimana riset bioteknologi laut dapat berkontribusi pada keberlanjutan industri perikanan di masa depan. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi akademik dapat menghasilkan solusi ilmiah yang berdampak nyata bagi sektor pangan dan lingkungan.Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Teknologi Vaksin Ikan Jadi Sorotan di SinnTech #31 UGM, Mahasiswa Diajak Kenal Inovasi Akuakultur

Berita Selasa, 6 Januari 2026

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan kegiatan ilmiah populer SinnTech Webinar #31 yang menghadirkan diskusi menarik mengenai inovasi di bidang perikanan dan akuakultur. Webinar yang dilaksanakan pada 28 November 2025 ini mengangkat tema “Fish Vaccine Development for Sustainable Aquaculture” dan menghadirkan peneliti Desy Sugiani sebagai narasumber utama.

Kegiatan SinnTech kali ini menarik perhatian mahasiswa dan calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia perikanan modern. Dalam pemaparannya, Desy menjelaskan bahwa vaksin ikan menjadi salah satu inovasi penting dalam mendukung sistem budidaya perikanan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan. Vaksin berperan memberikan kekebalan pada ikan sebelum terpapar penyakit, sehingga mampu mencegah infeksi dan wabah yang sering terjadi pada sistem budidaya dengan kepadatan tinggi.

Selain meningkatkan kesehatan ikan, penggunaan vaksin juga memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Dengan adanya vaksin, penggunaan antibiotik dalam budidaya dapat dikurangi secara signifikan, sehingga dapat membantu menekan risiko antimicrobial resistance (AMR) yang menjadi isu global dalam kesehatan manusia dan hewan. Vaksin juga mendukung peningkatan kesejahteraan ikan serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dalam proses pembenihan dan budidaya.

 

Dalam sesi diskusi, peserta juga diajak mengenal perkembangan teknologi vaksin ikan yang terus berkembang, mulai dari vaksin inaktif, vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin subunit, vaksin DNA, hingga live vector vaccines. Masing-masing jenis vaksin memiliki keunggulan dan tantangan tersendiri dalam penerapannya pada berbagai spesies ikan budidaya.

Tak hanya membahas teknologi, webinar ini juga menyoroti kondisi pengembangan vaksin ikan di Indonesia. Saat ini beberapa vaksin telah terdaftar dan digunakan untuk melindungi ikan dari penyakit bakteri seperti Streptococcus dan Aeromonas, yang sering menjadi penyebab kerugian dalam industri budidaya. Proses registrasi vaksin sendiri berada di bawah pengawasan pemerintah melalui mekanisme pengujian dan sertifikasi sebelum dapat digunakan secara luas.

Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa yang tertarik menekuni bidang perikanan, kegiatan SinnTech menjadi ruang belajar yang inspiratif untuk mengenal berbagai inovasi terbaru di dunia akuakultur. Melalui forum ini, Departemen Perikanan UGM berharap dapat mendorong generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi perikanan yang mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sumber daya perairan di masa depan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Departemen Perikanan UGM berkolaborasi dengan KONEKSI, BRIN dan Universitas Brawijaya Dalam Workshop on Gender Disability, and Social Inclusion

Berita Rabu, 17 Desember 2025

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) turut berperan dalam penyelenggaraan Workshop on Gender, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) yang dilaksanakan pada 17 Desember 2025 di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia–Indonesia), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Brawijaya (UB) serta diikuti oleh 80 peserta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Pembicara dari kegiatan ini adalah Anes Dwi Jayanti, S.Pi., M.Agr., Ph.D dari Departemen Perikanan UGM, Dr. Tri Rini Nuringtyas, S.Si., M.Sc. dari Fakultas Biologi UGM, Dr. Ita Margaretha Nainggolan, S.Si., M.Biomed dari BRIN, Josephine Elizabeth Siregar, S.Si., M.Sc., Ph.D., dan Dr. Syahputra Wibowo, S.Si., M.Si dari BRIN.

Workshop ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya integrasi prinsip gender, disabilitas, dan inklusi sosial dalam kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Materi yang disampaikan fokus pada peran perempuan dalam pengembangan sains hayati dan kesehatan, serta pendekatan riset yang inklusif dan responsif terhadap konteks sosial. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas mahasiswa dan peneliti muda untuk dapat mengupayakan iklim riset baik di lapangan dan di laboratorium yang ramah bagi perempuan dan inklusif. Sehingga ditengah tantangan overburden bagi perempuan dan gender bias, perempuan tetap dapat menghasilkan riset yang unggul. Pelaksanaan workshop ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, workshop ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya (5) Kesetaraan Gender, (10) Berkurangnya Kesenjangan, dan (14) Ekosistem Lautan.

Penulis: Annisa Yustisia

Editor: Nahla Alfiatunnisa, Anes Dwi Jayanti

1…56789…13
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY