• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • hal. 12
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Rahasia Budidaya Udang Berkelanjutan Dibongkar di SINNTECH Webinar #34 UGM

Berita Kamis, 26 Februari 2026

Departemen perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan diskusi ilmiah internasional melalui SINNTECH Webinar #34 yang membahas masa depan industri akuakultur, khususnya budidaya udang yang berkelanjutan. Dalam webinar pada 28 Februari 2026 ini, pakar kesehatan organisme akuatik dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Dr. Murni Marlina Abd Karim, memaparkan strategi Integrated Health Management (IHM) sebagai pendekatan kunci untuk menjaga kesehatan udang sekaligus meningkatkan produktivitas budidaya.

Industri budidaya udang merupakan salah satu sektor akuakultur paling bernilai di dunia karena memasok sebagian besar konsumsi udang global. Namun, tingginya produktivitas juga diikuti risiko penyakit yang besar, seperti White Spot Syndrome Virus, Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), dan berbagai infeksi lainnya yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan bagi pembudidaya.

Dalam pemaparannya, Prof. Murni menekankan bahwa pengelolaan kesehatan udang tidak cukup hanya dengan pengobatan saat penyakit muncul. Sebaliknya, diperlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan interaksi antara lingkungan, patogen, dan kondisi organisme budidaya. Konsep Integrated Health Management menekankan pencegahan melalui biosekuriti yang ketat, pengelolaan kualitas air, nutrisi yang tepat, serta sistem pemantauan kesehatan secara berkala.

Ia juga menjelaskan berbagai inovasi teknologi yang mulai banyak diterapkan dalam budidaya modern, seperti penggunaan probiotik, prebiotik, imunostimulan, serta teknologi biofloc yang mampu meningkatkan kesehatan udang sekaligus menjaga kualitas lingkungan budidaya. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada antibiotik dan bahan kimia, tetapi juga mendukung keberlanjutan industri akuakultur dalam jangka panjang.

Melalui SINNTECH Webinar #34, mahasiswa dan peserta mendapatkan wawasan global mengenai pentingnya inovasi ilmiah dan manajemen kesehatan terpadu dalam menghadapi tantangan budidaya udang modern. Diskusi ini sekaligus membuka peluang kolaborasi riset internasional untuk mendukung ketahanan pangan berbasis sektor perikanan dan kelautan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Inovasi Anak Bangsa: Solusi Biosekuriti Tambak Udang Berbasis Mikroorganisme Laut

Berita Kamis, 26 Februari 2026

Yogyakarta – Inovasi bioteknologi kelautan kembali menjadi sorotan dalam SINTECH Webinar “Integrated Blue Innovation of Shrimp Production UGM” yang digelar pada 26 Februari 2026. Dalam kegiatan ini, startup blue biotech AQUBETA memaparkan terobosan teknologi probiotik alami untuk meningkatkan produktivitas sekaligus biosekuriti budidaya udang di Indonesia.

Industri akuakultur, khususnya budidaya udang vaname, masih menghadapi tantangan besar akibat penyakit mematikan seperti Vibriosis dan AHPND. Penyakit tersebut dapat menurunkan hasil panen hingga 30% bahkan menyebabkan kematian massal dalam semalam. Kondisi ini berdampak pada kerugian miliaran dolar secara global serta menjadi salah satu penyebab utama kegagalan budidaya udang.

Founder & CEO PT. AQUBETA DIPO JAYA, Muhammad Syaifudien Bahry, menjelaskan bahwa perusahaannya menghadirkan pendekatan berbasis mikroorganisme laut sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti antibiotik dan bahan kimia berbahaya. Startup ini telah menjangkau lebih dari 5.000 petambak ikan dan udang di lebih dari 30 wilayah Indonesia, dengan area tambak mencapai 150 hektare dan lebih dari 15 kemitraan B2B sejak produk mulai dipasarkan pada 2023.

Teknologi unggulan AQUBETA memanfaatkan fungi laut Trichoderma reesei dan konsorsium bakteri Bacillus untuk menekan populasi bakteri Vibrio, meningkatkan kualitas air, serta memperkuat sistem imun udang. Uji coba pada tambak terdampak AHPND menunjukkan populasi Vibrio dapat ditekan hanya dalam satu minggu, dengan tingkat kelangsungan hidup panen meningkat hingga 60%.

Produk yang dikembangkan meliputi ANTI V-PRO, AQU PROFEED, dan AQU BACILLUS yang diklaim efektif membunuh patogen, meningkatkan biomassa, memperbaiki pencernaan, serta menjaga kesehatan ekosistem tambak. Selain menawarkan produk, AQUBETA juga membuka kolaborasi riset, distribusi, hingga konsultasi teknis bagi mitra B2B dan B2G.

Inovasi ini diharapkan menjadi langkah penting menuju revolusi blue biotechnology di Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan sektor perikanan melalui teknologi berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Fisheries Talks UGM Angkat Peran Anak dalam Menjaga Laut Sejak Dini

Berita Senin, 23 Februari 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan episode terbaru Fisheries Talks melalui kanal YouTube Media Perikanan UGM. Pada episode kali ini, diskusi mengangkat tema pentingnya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan laut sejak usia dini.

Dipandu oleh Annisa Yustisia, podcast ini menghadirkan dua narasumber muda inspiratif, yakni Anak Agung Ayuna Putri Indari dan Komang Adhisthanaya Sarasvati Kalyani Adilananda. Keduanya berbagi pengalaman sekaligus pandangan tentang pentingnya mengenalkan isu kelautan kepada anak-anak sejak dini.

Dalam perbincangan tersebut, Ayuna menekankan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan laut. Edukasi sejak usia anak-anak dinilai mampu membentuk kebiasaan positif, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Sementara itu, Komang menyoroti pentingnya pendekatan edukasi yang menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak. Menurutnya, kegiatan seperti kampanye lingkungan, permainan edukatif, hingga keterlibatan langsung di alam dapat membantu menumbuhkan rasa cinta terhadap laut.

Diskusi ini juga menggarisbawahi bahwa isu lingkungan laut tidak hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa atau pemerintah, tetapi juga dapat dimulai dari langkah kecil oleh anak-anak. Perubahan perilaku sederhana, jika dilakukan secara kolektif, dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan ekosistem laut.

Melalui episode ini, Fisheries Talks tidak hanya menjadi ruang berbagi cerita inspiratif, tetapi juga sarana edukasi yang mendorong kesadaran publik akan pentingnya menjaga laut sejak dini. Kehadiran narasumber muda menjadi bukti bahwa generasi penerus memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan di masa depan.

Sejalan dengan itu, tema yang diangkat juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 4 (Quality Education). Edukasi lingkungan sejak dini menjadi kunci dalam membentuk generasi yang sadar akan pentingnya menjaga ekosistem laut secara berkelanjutan.

 

link youtube:

Belajar Peduli Laut Sejak Usia Dini Bersama Duta Kids dari Forum Maritim Bali

Mengintip Kehidupan Bulu Babi: Studi UGM Perkuat Konservasi Pesisir Yogyakarta

Berita Jumat, 20 Februari 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghasilkan publikasi ilmiah kolaboratif antara mahasiswa dan dosen mengenai keanekaragaman bulu babi di pesisir selatan Yogyakarta. Penelitian berjudul Investigating the Diversity of Sea Urchins (Echinoidea) in Yogyakarta, Indonesia Using Molecular Approaches, Abundance, and Ecological Index dilakukan oleh Putri Ayu Hia bersama Dr. Ratih Ida Adharini, Prof. Eko Setyobudi, dan Dr. Eko Hardianto.

Bulu babi merupakan invertebrata laut yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem intertidal serta berfungsi sebagai bioindikator kesehatan lingkungan pesisir. Penelitian ini berfokus pada kawasan Pantai Ngrumput, Yogyakarta, untuk mengkaji keanekaragaman, kelimpahan, serta identifikasi spesies bulu babi melalui pendekatan ekologi dan molekuler berbasis DNA barcoding.

Pengambilan sampel dilakukan pada November–Desember 2023 menggunakan metode transek kuadrat 1×1 meter. Analisis molekuler menargetkan gen mtDNA COI untuk memastikan identifikasi spesies secara akurat. Hasil penelitian mengidentifikasi empat spesies utama bulu babi, yaitu Echinometra oblonga, Echinometra mathaei, Heterocentrotus trigonarius, dan Stomopneustes variolaris.

Secara ekologis, kelimpahan bulu babi tercatat mencapai 74,14 individu per meter persegi. Indeks keanekaragaman berada pada kategori sedang (1,07), indeks keseragaman tinggi (0,83), serta indeks dominansi rendah (0,23). Temuan ini menunjukkan komunitas bulu babi di lokasi penelitian relatif stabil dan seimbang.

Analisis pola sebaran menunjukkan beberapa spesies memiliki distribusi mengelompok, sementara lainnya menunjukkan kombinasi pola seragam dan mengelompok. Kelimpahan tertinggi ditemukan pada jarak 30 meter dari garis pantai, menandakan zona tersebut menjadi habitat optimal bagi bulu babi.

Pendekatan DNA barcoding menghasilkan sekuens sepanjang 630 bp dan analisis filogenetik yang menguatkan identifikasi morfologi. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bagi pengelolaan ekosistem pesisir dan konservasi sumber daya laut di Yogyakarta. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Riset Perikanan UGM Ungkap Waktu Terbaik Pemantauan Kualitas Air Sistem Budidaya Nila Merah

Berita Rabu, 18 Februari 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan publikasi ilmiah internasional melalui penelitian berjudul The Diurnal Trend of Water Quality in the Semi-Outdoor Recirculating Aquaculture System for the Red Tilapia (Oreochromis sp.) Production yang dimuat dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Ega Adhi Wicaksono bersama tim peneliti.

Seiring pertumbuhan populasi global, kebutuhan protein terus meningkat sehingga akuakultur menjadi solusi penting untuk ketahanan pangan. Namun, sistem budidaya konvensional membutuhkan air dalam jumlah besar, sementara ketersediaan air di banyak wilayah semakin terbatas. Sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) hadir sebagai alternatif hemat air, tetapi standar operasional pemantauan kualitas air di sistem ini masih terbatas.

Penelitian ini bertujuan mengkaji pola harian (diurnal) kualitas air pada sistem RAS semi-outdoor untuk budidaya nila merah. Pengukuran dilakukan setiap tiga jam selama 24 jam untuk memantau berbagai parameter penting seperti total ammonia nitrogen (TAN), amonia tak terionisasi (NH3), oksigen terlarut, defisit oksigen, pH, dan suhu.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pola perubahan kualitas air yang jelas sepanjang hari. Nilai TAN, oksigen terlarut, dan pH cenderung lebih tinggi pada pagi hari (06.00–09.00), sedangkan suhu dan defisit oksigen meningkat pada sore hingga malam hari (18.00–21.00).

Berdasarkan temuan tersebut, waktu terbaik untuk melakukan pemantauan kualitas air pada RAS semi-outdoor diperkirakan pada pukul 09.00 dan 18.00. Rekomendasi ini menjadi langkah penting dalam penyusunan standar operasional pemantauan kualitas air untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan produksi akuakultur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan teknologi budidaya ikan yang lebih hemat air, produktif, dan berkelanjutan di masa depan.

Penelitian ini sekaligus menegaskan kontribusi riset Departemen Perikanan UGM dalam penguatan pengelolaan sumber daya laut berbasis sains di Indonesia. Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Gaet Perkumpulan Penggiat Maritim Bali, Departemen Perikanan UGM Berupaya Membangun Kapasitas Pemuda Maritim

Berita Jumat, 13 Februari 2026

Departemen perikanan melalui Fakultas Pertanian menjalin kerjasama dengan Perkumpulan Penggiat Maritim Bali. Perjanjian ini bermaksud untuk menyelaraskan program kegiatan bersama dalam upaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam kegiatan yang meliputi pembelajaran praktik kerja lapangan, penelitian, studi independen, kewirausahaan, dan/atau membina desa.

Kegiatan yang dihadiri oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Jaka Widada) dan Ketua Perkumpulan Penggiat Maritim Bali (Adil Darme Yase), menghasilkan beberapa rencana aksi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah penyelenggaraan kegiatan bersama yang meliputi pembelajaran, Praktik Kerja Lapangan (PKL), penelitian kolaboratif, studi independen, kewirausahaan berbasis kemaritiman, pengabdian kepada masyarakat, pembinaan desa pesisir, serta implementasi Tridharma Perguruan Tinggi lainnya.

Kerjasama ini juga berupaya untuk pengembangan pendidikan dan pembinaan generasi muda maritim, termasuk pembinaan Anak-anak Duta Maritim Bali dalam peningkatan kapasitas penelitian kemaritiman, kepemimpinan, wawasan kebangsaan maritim, serta literasi kelautan dan perikanan. Kegiatan ini juga mencakup pembinaan siswa sekolah dasar hingga menengah dalam rangka menanamkan kesadaran maritim sejak dini.

Melalui kerjasama yang intensif juga diharapkan tersediannya n sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, inovasi, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat di bidang kemaritiman, termasuk laboratorium, fasilitas lapangan, pusat studi, dan lokasi pembelajaran berbasis pesisir. Kegiatan sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Mahasiswa Magister Ilmu Perikanan Raih Best Presenter pada 18th International Conference on Computer Research and Development (ICCRD) 2026

Berita Jumat, 13 Februari 2026

Lupi Nugraheni, mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, meraih best oral presentation award pada 18th International Conference on Computer Research and Development (ICCRD) 2026 yang diselenggarakan pada 23–25 Januari 2026 di Singapura.

ICCRD merupakan konferensi internasional tahunan yang menjadi forum pertukaran hasil riset dan pengembangan di bidang teknologi komputer, khususnya artificial intelligence (AI) dan komputasi. Konferensi ini diikuti oleh peneliti, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai negara. ICCRD 2026 membahas pengembangan machine learning, intelligent computing, dan teknologi artificial intelligence (AI), serta berbagai topik terkait, seperti algoritma, sistem komputer, dan rekayasa perangkat lunak.

Dalam konferensi tersebut, Lupi mempresentasikan penelitian berjudul “A Random Forest Model-Based Detection of Threshold Effects in Environmental Drivers of Scad Distribution in the Western Waters of Sumatra”. Penelitian ini mengusung pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan ilmu perikanan, oseanografi, dan machine learning untuk menganalisis pengaruh faktor lingkungan terhadap distribusi ikan layang serta memprediksi zona potensi penangkapan ikan. Penelitian ini merupakan bagian dari tesis yang disusun dengan bimbingan Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel.,M.Sc. dan Prof.Dr.Ir. Djumanto, M.Sc., serta didukung pendanaan dari Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Selain sebagai ajang presentasi ilmiah, ICCRD 2026 juga menjadi sarana penguatan jejaring akademik internasional. Selama kegiatan berlangsung, Lupi berkesempatan bertemu dan berdiskusi tidak hanya dengan mahasiswa dan peneliti dari berbagai negara, tetapi juga dengan sesama mahasiswa Indonesia, termasuk mahasiswa dari Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Mahasiswa Magister Ilmu Perikanan UGM Paparkan Diversitas Ikan Sidat di 18th Halal Science Industry and Business Thailand

Berita Jumat, 13 Februari 2026

Bangkok, 18 Desember 2025. The International Halal Science and Technology Conference 2025 (IHSATEC): 18th Halal Science Industry and Business (HASIB) merupakan program konferensi internasional kolaboratif antara Halal Science Center Universitas Chulalongkorn, Thailand, dan Research Synergy Foundation. IHSATEC 2025: HASIB ke-18 menyediakan platform interdisipliner untuk mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi dalam mendiseminasikan penelitian yang sedang berlangsung terkait bidang sains dan teknologi halal. Kegiatan ini telah sukses diselenggarakan pada tanggal 18–19 Desember 2025 secara luring di Hotel Al Meroz, Bangkok, Thailand.

Konferensi ini bertujuan untuk bertukar dan berbagi gagasan serta temuan ilmiah dalam berbagai spektrum Sains dan Teknologi Halal (Industri dan Bisnis) melalui presentasi lisan (luring) dan virtual dalam Sesi Akademik Thailand Halal Assembly 2025. Pada kegiatan tersebut, Samsuri Djamal, S.Pi satu-satunya presenter dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, berkesempatan mempresentasikan sebuah paper berjudul “Genetic Diversity of Eel Fish using Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD) Method in North Maluku Waters, Indonesia.”

Dalam presentasi ini, Samsuri memaparkan hasil penelitian mengenai keragaman genetik ikan sidat (eel fish) di perairan Maluku Utara menggunakan metode Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) sebagai pendekatan biologi molekuler. Penelitian ini menyoroti pentingnya informasi genetik dalam mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan serta menjamin kualitas bahan baku perikanan.

Lebih lanjut, presentasi ini menekankan bahwa konsep produk halal tidak hanya terbatas pada aspek kehalalan (permissibility) semata, tetapi juga mencakup nilai tanggung jawab (responsibility) dan keamanan pangan (food safety). Hal tersebut harus diterapkan secara menyeluruh mulai dari proses penangkapan ikan, penanganan dan pengolahan, hingga distribusi dan konsumsi oleh konsumen akhir. Dengan demikian, prinsip halal sejalan dengan konsep keberlanjutan, ketertelusuran, dan perlindungan konsumen.

Keikutsertaan sebagai presenter dalam konferensi internasional ini memberikan kesempatan berharga untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta memperluas jejaring akademik dengan peneliti dan praktisi dari berbagai negara, sekaligus memperkuat kontribusi penelitian di bidang sains dan teknologi halal, khususnya pada sektor perikanan. Kegiatan sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Magister Ilmu Perikanan UGM Gelar Seminar Inspiratif Kiat Sukses Raih Beasiswa LPDP

Berita Selasa, 10 Februari 2026

Yogyakarta – Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan seminar inspiratif bertajuk “Menggapai Gelar M.Sc. di Magister Ilmu Perikanan UGM dengan Beasiswa LPDP” pada Selasa, 10 Februari 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini terbuka bagi mahasiswa dan masyarakat umum yang tertarik melanjutkan studi pascasarjana dengan dukungan beasiswa.

Seminar menghadirkan tiga narasumber yang merupakan alumni sekaligus awardee LPDP, yaitu Ahmad Pariansyah, Al Fajar Alam, dan Lupi Nugraheni. Ketiganya berbagi pengalaman mengenai perjalanan akademik, proses seleksi beasiswa, hingga strategi mempersiapkan diri untuk studi di Magister Ilmu Perikanan UGM.

Dalam sesi pemaparan, narasumber menekankan pentingnya persiapan sejak dini, mulai dari penguatan rekam jejak akademik, pengalaman organisasi dan riset, hingga penyusunan esai dan wawancara. Peserta juga mendapatkan gambaran nyata mengenai kehidupan perkuliahan pascasarjana, peluang riset, serta prospek karier di bidang perikanan setelah lulus.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait tips lolos seleksi LPDP, pemilihan topik riset, serta strategi menyeimbangkan studi dan pengembangan diri. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan berkontribusi pada pembangunan sektor perikanan berkelanjutan.

Melalui seminar ini, Program Studi Magister Ilmu Perikanan UGM berkomitmen untuk terus mendorong akses pendidikan lanjutan serta memperluas kesempatan bagi calon mahasiswa untuk meraih beasiswa dan mengembangkan kapasitas akademik di bidang perikanan. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan SDG 17 Kemitraan untuk mencapai tujuan. Melalui berbagi pengalaman dan motivasi untuk melanjutkan studi pascasarjana dengan beasiswa, seminar ini mendorong peningkatan akses pendidikan tinggi serta pengembangan sumber daya manusia unggul yang siap berkontribusi pada pembangunan sektor perikanan dan kelautan berkelanjutan.

Tenaga Kependidikan Departemen Perikanan UGM Ikuti Pelatihan Budidaya Maggot untuk Pengolahan Limbah Organik

Berita Selasa, 10 Februari 2026

Yogyakarta – Upaya penguatan kompetensi tenaga kependidikan terus dilakukan Departemen Perikanan UGM melalui pelatihan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengolahan limbah organik dan pengembangan pakan alternatif berkelanjutan. Kegiatan ini memanfaatkan materi handbook workshop budidaya BSF yang aplikatif dan berbasis praktik lapangan.

Pelatihan ini menekankan pentingnya pengelolaan sampah organik, mengingat lebih dari 50% sampah di Indonesia merupakan limbah mudah busuk seperti sisa makanan rumah tangga, kantin, dan restoran. Tanpa pengolahan yang tepat, limbah tersebut berisiko menularkan penyakit. Budidaya maggot BSF menjadi solusi melalui proses biokonversi, yaitu pemanfaatan larva serangga untuk mengubah limbah organik menjadi biomassa bernilai tinggi sebagai sumber protein dan lemak pakan hewan.

 

Kegiatan pelatihan juga memperkenalkan praktik budidaya BSF yang telah dikembangkan di Teaching Farm PIAT UGM sejak 2018. Farm ini memanfaatkan sisa makanan dari Rumah Sakit Akademik UGM, rumah sakit, kantin fakultas, hingga laboratorium sebagai bahan baku pakan maggot. Program ini bertujuan menciptakan pembelajaran inovatif sekaligus mendukung pengelolaan limbah kampus secara berkelanjutan.

Peserta pelatihan mempelajari siklus hidup BSF mulai dari fase telur, larva, prepupa, pupa, hingga lalat dewasa, serta teknik operasional farm seperti penetasan telur, pemeliharaan, hingga pemanenan maggot. Dalam praktiknya, 1 gram telur BSF dapat menghasilkan minimal 1 kg maggot dalam waktu sekitar 16–18 hari. Maggot segar dapat dijual Rp5.000–8.000/kg, sedangkan maggot kering mencapai Rp40.000–50.000/kg, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Selain meningkatkan kapasitas teknis tenaga kependidikan, pelatihan ini diharapkan memperkuat peran kampus sebagai pusat inovasi pengelolaan limbah, ketahanan pakan, dan kewirausahaan berbasis lingkungan. Budidaya maggot BSF dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung sistem pertanian dan peternakan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

1…1011121314…16
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY