• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • hal. 11
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Nembah di Tengah Gelombang: Sinergi Kearifan Lokal, Ilmu Pengetahuan, dan Ketahanan Nelayan Pesisir Selatan Jawa

Berita Selasa, 7 April 2026

Aktivitas penangkapan ikan di pesisir selatan Jawa yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia kerap menghadapi tantangan musim dan gelombang tinggi. Kondisi ini membatasi ruang gerak nelayan skala kecil untuk melaut lebih jauh dan menjangkau daerah tangkapan yang lebih produktif. Namun demikian, praktik lokal seperti nembah—teknik menangkap ikan menggunakan panah atau speargun—tetap dapat dilakukan di wilayah perairan yang relatif terlindung dan lebih dekat dengan garis pantai. Ketika kondisi ekologi perairan masih terjaga, metode ini terbukti mampu memberikan hasil tangkapan yang optimal.

Memasuki bulan April yang dikenal sebagai periode gelombang besar, aktivitas nembah kembali dilakukan oleh nelayan di Pantai Ngandong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Praktik ini menjadi bentuk adaptasi terhadap dinamika alam sekaligus strategi mempertahankan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Di sisi lain, masyarakat pesisir menghadapi kerentanan yang kerap luput dari perhatian, terutama dampak degradasi lingkungan yang berasal dari wilayah daratan. Limbah dan pencemaran yang terbawa aliran sungai hingga ke laut dapat merusak ekosistem pesisir, menurunkan kualitas habitat ikan, dan pada akhirnya memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Melindungi nelayan skala kecil menjadi sangat penting, mengingat mereka merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan lingkungan dan dinamika sumber daya perikanan.

Praktik penangkapan selektif seperti nembah tidak hanya membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan nelayan. Ikan hasil tangkapan menjadi sumber protein utama sekaligus penopang ketahanan pangan rumah tangga pesisir. Lebih jauh, praktik yang selaras dengan alam turut menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan laut sebagai ruang hidup.

Situasi ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara nelayan, masyarakat pesisir, akademisi, dan pemerintah. Melalui pendekatan partisipatif seperti citizen science, berbagai pihak dapat bersama-sama mencari solusi berbasis pengetahuan. Kerja sama dengan Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) misalnya, membuka peluang bagi nelayan untuk memahami siklus hidup ikan, pola migrasi, serta waktu tangkap yang tepat. Integrasi pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal diharapkan mampu mendorong praktik perikanan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

 

Sumberfoto: Rujimanto-nelayan Pantai Ngandong. Foto 1. Nelayan Bersiap melakukan penangkapan ikan menggunakan metode nembah; foto 2 Hasil tangkapan ikan nelayan pada tanggal 8 april 2026 menggunakan metode nembah yang selektif untuk ikan besar dan hasil optimal.

Laut Indonesia Sedang Berubah: Ilmuwan UGM Ungkap Fakta Mengejutkan di SINNTECH Webinar #35

Berita Selasa, 31 Maret 2026

Perubahan kondisi laut Indonesia menjadi perhatian serius para ilmuwan. Hal ini dibahas dalam SINNTECH Webinar #35 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kesempatan tersebut, peneliti oseanografi dari Departemen Perikanan UGM, Riza Yuliratno Setiawan, memaparkan kondisi terkini lingkungan laut Indonesia yang menunjukkan tanda-tanda perubahan signifikan akibat dinamika iklim global dan aktivitas manusia.

Dalam presentasinya, Riza menjelaskan bahwa data observasi laut global menunjukkan terjadinya pemanasan laut (ocean warming) di berbagai wilayah, termasuk perairan Indonesia. Perubahan suhu laut ini berpotensi memengaruhi berbagai aspek ekosistem laut, mulai dari produktivitas perairan hingga pola distribusi ikan yang menjadi sumber utama pangan bagi masyarakat pesisir.

Ia juga menyoroti meningkatnya fenomena cuaca ekstrem di kawasan tropis, termasuk frekuensi badai tropis yang terjadi di sekitar wilayah Indonesia. Perubahan dinamika angin dan suhu laut tersebut dapat memengaruhi produktivitas laut serta lokasi daerah penangkapan ikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masa depan sektor perikanan: apakah pengetahuan tradisional nelayan masih relevan di tengah perubahan laut yang semakin cepat?

Melalui berbagai pendekatan ilmiah seperti pemantauan laut menggunakan Argo Floats serta pemodelan zona penangkapan ikan berbasis kecerdasan buatan, para peneliti mencoba memahami bagaimana perubahan lingkungan laut memengaruhi sumber daya perikanan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu merancang strategi adaptasi yang lebih baik bagi sektor perikanan dan menjaga ketahanan pangan laut di masa depan.

Melalui SINNTECH Webinar #35, mahasiswa dan peserta diajak melihat lebih dekat bagaimana sains kelautan berperan penting dalam memahami perubahan lingkungan laut serta menemukan solusi berbasis riset untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mahasiswa Magister Ilmu Perikanan UGM Ikuti Program Internship di NAIST Jepang

BeasiswaBerita Selasa, 31 Maret 2026

Mahasiswa Program Magister Ilmu Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2024 Ganjil, Rahma Aulia, mengikuti program internship di Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Jepang. Program ini berlangsung pada 23 Februari hingga 20 Maret 2026 di Bessho Laboratory (Gene Regulation Laboratory), Division of Biological Science NAIST.

Kegiatan internship terlaksana atas rekomendasi dosen pembimbing, Dr. Dini Wahyu Kartika Sari, S.Pi., M.Si., serta dukungan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM. Program ini juga didukung melalui pendanaan dan fasilitasi riset dari Division of Biological Science NAIST sebagai bagian dari penguatan kolaborasi akademik internasional. Program ini turut diikuti mahasiswa Sarjana Biologi dan Magister Bioteknologi UGM serta akademisi dari Malaysia dengan topik riset yang berbeda.

Selama internship, Rahma mengerjakan mini-project Whole-Mount In Situ Hybridization (WISH) Analysis in Zebrafish Embryos di bawah supervisi Assoc. Prof. Takaaki Matsui di Bessho Laboratory (Lab PI: Prof. Yasumasa Bessho). Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi lokasi ekspresi gen pada embrio ikan zebra (Danio rerio). Analisis dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari ekstraksi RNA dan sintesis cDNA ikan zebra, pembuatan probe RNA, hingga proses fiksasi, hibridisasi, serta pewarnaan embrio untuk mengamati pola ekspresi gen menggunakan mikroskop. Selain itu, Rahma juga terlibat dalam pemeliharaan ikan zebra strain wild-type, termasuk proses breeding dan kultur embrio.

Melalui program ini, Rahma memperoleh pengalaman riset internasional serta peningkatan keterampilan di bidang biologi molekuler. Selain aspek akademik, internship juga memberikan kesempatan memperluas jejaring internasional serta mengenal budaya dan lingkungan di Jepang. Program ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara UGM dan NAIST serta mendorong peningkatan kualitas riset mahasiswa Indonesia di tingkat global. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

Dari Tradisi ke Sains: Mahasiswa Perikanan Kaji Alat Tangkap Ikan “Wadhong Gandhul” Khas Kulon Progo

Berita Jumat, 13 Maret 2026

Mahasiswa Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ainun Rodhiyah Nurhayati, melakukan penelitian mengenai alat tangkap ikan tradisional khas lokal yang dikenal dengan nama wadhong gandhul di kawasan Bendungan Kamijoro, yang berada di wilayah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini mengungkap keunikan alat tangkap tersebut serta perannya dalam memahami perilaku migrasi ikan di Sungai Progo.

Wadhong gandhul merupakan alat tangkap ikan pasif tradisional yang bekerja tanpa menggunakan umpan. Alat ini berbentuk perangkap yang dilengkapi dengan penghadang sehingga dapat mengarahkan ikan menuju bagian penampung. Prinsip kerjanya cukup unik, yakni menangkap ikan yang melompat dari arah hilir menuju hulu ketika menghadapi bangunan terjunan air atau spillway bendungan.

 

Penelitian yang dibimbing Oleh Prof. Djumanto, mengarhakan Ainun melakukan pengambilan data selama lima bulan, mulai September 2025 hingga Januari 2026 di Sungai Progo. Wadhong gandhul yang digunakan memiliki bentuk persegi panjang dengan cekungan pada bagian depan yang berfungsi sebagai penampung ikan. Kerangka alat dibuat dari kayu kaso dan bambu, kemudian dilapisi waring. Alat ini dioperasikan dengan cara digantungkan pada tiang jembatan bendungan dan diturunkan hingga berada sekitar 30 sentimeter di atas permukaan air.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap ini berhasil menangkap berbagai jenis ikan air tawar dari famili Cyprinidae. Beberapa spesies yang tertangkap antara lain wader pari (Rasbora argyrotaenia), kepek (Mystacoleucus obtusirostris), melem (Osteochilus vittatus), beles (Barbonymus schwanenfeldii), lukas (Labiobarbus leptocheilus), palung (Hampala macrolepidota), serta tawes (Barbonymus gonionotus).

Penelitian ini juga menemukan bahwa hasil tangkapan ikan cenderung meningkat pada awal musim hujan, khususnya antara September hingga Desember, serta lebih banyak terjadi pada sore hari. Analisis tingkat kematangan gonad menunjukkan sebagian besar ikan berada pada fase TKG II hingga IV, yang mengindikasikan bahwa ikan-ikan tersebut sedang melakukan migrasi untuk memijah.

Menurut Ainun, temuan ini menunjukkan pentingnya keberadaan jalur migrasi ikan di sungai yang memiliki bendungan. Oleh karena itu, pembangunan jalur khusus ikan atau fishway tipe vertical slot dinilai menjadi salah satu solusi untuk mendukung pergerakan ikan secara alami di ekosistem sungai. Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa alat tangkap tradisional seperti wadhong gandhul tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana penting dalam penelitian ekologi perikanan di Indonesia. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Waspada Mikroplastik! Penelitian Mahasiswa Ungkap Pencemaran di Sungai Opak–Oyo Bantul

Berita Kamis, 12 Maret 2026

Pencemaran mikroplastik kini menjadi isu lingkungan global yang juga mulai terdeteksi di berbagai perairan Indonesia. Hal ini terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fidella Kristofani Tarigan, yang meneliti kontaminasi mikroplastik pada air dan sedimen di Sungai Opak–Oyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sungai Opak merupakan salah satu sungai besar di wilayah Yogyakarta yang terhubung dengan beberapa sungai lain seperti Winongo, Gajah Wong, Code, Oyo, dan Progo. Aktivitas manusia yang tinggi di sepanjang aliran sungai, mulai dari permukiman hingga aktivitas ekonomi, diduga menjadi sumber masuknya limbah plastik yang kemudian terurai menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik, yaitu plastik berukuran kurang dari 5 milimeter.

Penelitian yang dilakukan pada November 2025 ini mengambil sampel air dan sedimen di lima stasiun pengamatan dengan tiga kali pengulangan. Sampel air sebanyak 10 liter disaring menggunakan plankton net, sementara sedimen diambil menggunakan alat Ekman grab. Proses analisis dilakukan dengan menghancurkan material organik menggunakan larutan hidrogen peroksida serta memisahkan partikel mikroplastik melalui metode pemisahan densitas menggunakan larutan NaCl.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Opak telah terkontaminasi mikroplastik baik pada air maupun sedimen. Kelimpahan tertinggi pada air ditemukan di stasiun Tempuran Opak–Winongo dengan nilai 2,80 ± 0,44 partikel per liter. Sementara pada sedimen, jumlah tertinggi ditemukan di kawasan Jembatan Kretek 2 dengan 250 ± 100 partikel per kilogram.

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan berbentuk fiber dan fragmen, dengan ukuran dominan 50–500 mikrometer dan warna biru sebagai warna yang paling umum. Temuan ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah plastik agar tidak terus mencemari ekosistem sungai dan laut di masa depan. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Suksesi Kepemimpinan Selam Perikanan UGM 2026: Semangat Baru Melanjutkan Tradisi Organisasi yang Progresif

BeritaUncategorized Rabu, 11 Maret 2026

Organisasi mahasiswa Selam Perikanan di Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan organisasi melalui suksesi kepengurusan yang berlangsung secara demokratis. Rangkaian proses pergantian kepemimpinan diawali dengan agenda Pemilihan Ketua yang sukses diselenggarakan pada 11 Maret 2026, melibatkan partisipasi aktif seluruh anggota organisasi.

Kegiatan pemilihan ini menjadi momentum penting bagi Selam Perikanan UGM untuk menentukan arah kepemimpinan baru sekaligus memperkuat semangat kebersamaan antaranggota. Sejak awal proses, panitia pemilihan telah menyiapkan rangkaian kegiatan secara matang, mulai dari tahap penjaringan kandidat, penyampaian visi dan misi, hingga pelaksanaan pemungutan suara yang berlangsung secara tertib dan transparan.

Antusiasme anggota terlihat dari tingginya partisipasi dalam setiap tahapan. Forum penyampaian visi dan misi menjadi ruang diskusi yang dinamis, di mana para kandidat memaparkan gagasan strategis terkait pengembangan organisasi, peningkatan kapasitas anggota, serta rencana kegiatan konservasi dan edukasi kelautan di masa mendatang. Diskusi yang berlangsung hangat menunjukkan komitmen kuat seluruh anggota untuk memastikan keberlanjutan organisasi tetap berada di jalur yang progresif dan berdampak.

Organisasi Selam yang dibina oleh Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. ini, menjalankan pemilihan ketua sebagai upaya tidak hanya menjadi proses pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran demokrasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab organisasi bagi seluruh anggota. Dengan terpilihnya kepengurusan baru, Selam Perikanan UGM diharapkan mampu melanjutkan berbagai program unggulan, memperluas kolaborasi, serta semakin berkontribusi dalam kegiatan penyelaman ilmiah, konservasi sumber daya perairan, dan pengembangan kapasitas mahasiswa.

Suksesi kepemimpinan ini menandai awal babak baru perjalanan Selam Perikanan UGM untuk terus tumbuh sebagai organisasi mahasiswa yang aktif, inovatif, dan berdaya saing. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas mahasiswa, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mangrove Kulon Progo Masih Bertahan, Tapi Perlu Perhatian: Temuan Riset Mahasiswa

Beasiswa Rabu, 11 Maret 2026

Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, mulai dari melindungi garis pantai hingga menjadi habitat bagi berbagai organisme laut. Melihat pentingnya fungsi tersebut, mahasiswa melakukan penelitian untuk menilai kondisi kesehatan mangrove di kawasan Jembatan Api-Api, Kabupaten Kulon Progo.

Penelitian oleh Galang Mahmud Zaelani yang dibimbing Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si. ini, bertujuan menganalisis struktur komunitas vegetasi mangrove, menghitung Indeks Kesehatan Mangrove (Mangrove Health Index/MHI), serta mengevaluasi pengaruh kualitas air terhadap kondisi ekosistem. Pengambilan data dilaksanakan pada September hingga Desember 2025 dengan metode purposive sampling di tiga titik pengamatan.

Dalam proses penelitian, Galang menggunakan metode transek untuk menganalisis struktur vegetasi mangrove. Sementara itu, persentase tutupan kanopi diukur menggunakan teknik hemispherical photography, yang memungkinkan pengamatan kondisi tajuk pohon secara lebih akurat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan mangrove Jembatan Api-Api didominasi oleh spesies Avicennia marina dengan nilai Indeks Nilai Penting (INP) mencapai 213,99%. Secara umum, nilai rata-rata Indeks Kesehatan Mangrove (MHI) di kawasan tersebut berada pada angka 35,86%, yang menandakan kondisi ekosistem dalam kategori sedang.

Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa rata-rata kerapatan mangrove mencapai 3.800 individu per hektar dengan tutupan kanopi sekitar 76,6%. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa faktor kualitas air berpengaruh terhadap kondisi mangrove. Salinitas diketahui memiliki pengaruh negatif yang sangat kuat terhadap kerapatan pohon, sedangkan kandungan fosfat justru memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan tutupan kanopi.

Melalui penelitian ini, diharapkan informasi mengenai kondisi kesehatan mangrove dapat menjadi dasar pengelolaan dan konservasi ekosistem pesisir di Kulon Progo agar tetap berkelanjutan. Penelitian ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dosen Perikanan UGM Publikasikan Riset Genetika Populasi Kerang Darah untuk Strategi Konservasi Sumber Daya Perikanan

Berita Jumat, 6 Maret 2026

Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada. Dosen perikanan Eko Hardianto, Ph.D berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul Population Genetics of the Blood Cockle, Tegillarca granosa (Linnaeus, 1758): A Study of Spatial Genetic Structure Across the Indonesian Archipelago (DOI: 10.1111/maec.70017). Publikasi ini disusun bersama dosen UGM lainnya yaitu, Prof. Eko Setyobudi, Dr. Ratih Ida Adharini, dan Dr. Susanti Mugi Lestari. Publikasi ini menjadi kontribusi penting bagi pengelolaan sumber daya kerang darah di Indonesia.

Kerang darah (Tegillarca granosa) merupakan komoditas kerang yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan penting dalam ekosistem pesisir Asia. Melalui penelitian ini, tim peneliti menelusuri keragaman genetik, sejarah biogeografi, serta struktur populasi spesies tersebut di wilayah kepulauan Indonesia.

Penelitian dilakukan pada lima lokasi berbeda di Indonesia dengan menganalisis variasi sekuens DNA mitokondria dari 200 individu. Hasilnya menunjukkan tingkat keragaman genetik yang tinggi, yang mengindikasikan potensi adaptasi dan ketahanan spesies terhadap perubahan lingkungan. Namun demikian, analisis varians molekuler mengungkap adanya perbedaan genetik yang signifikan antar populasi di berbagai lokasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa penyebaran dan aliran gen antar populasi kerang darah relatif terbatas. Kondisi tersebut diduga mendorong terjadinya adaptasi lokal yang dipengaruhi oleh faktor biologis, oseanografi, dan kondisi geografis masing-masing wilayah.

Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bagi perumusan strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya kerang darah secara berkelanjutan. Informasi mengenai struktur genetik populasi dinilai krusial untuk mendukung kebijakan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem serta menjaga keberlanjutan komoditas perikanan pesisir di masa depan.

Publikasi ini sekaligus menegaskan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam menghasilkan riset berkualitas yang berdampak nyata bagi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia.

Publikasi ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, prestasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG  4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 8 Pekerjaan layan dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Podcast Perikanan UGM Bahas Dampak Perubahan Iklim terhadap Laut Global

Berita Jumat, 6 Maret 2026

Yogyakarta, 6 Maret 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan diskusi ilmiah melalui podcast bertajuk “The Impact of Climate Change on Our Oceans”. Episode ini menghadirkan Prof. Qinhua Fang sebagai narasumber, dengan Dr. Faizal Rachman sebagai host.

 

Dalam perbincangan tersebut, Prof. Fang mengulas bagaimana perubahan iklim telah membawa dampak signifikan terhadap ekosistem laut global. Kenaikan suhu laut, pengasaman samudra, serta perubahan pola arus menjadi faktor utama yang memengaruhi kehidupan biota laut dan keseimbangan ekosistem.

Ia menekankan bahwa laut berperan sebagai penyerap utama karbon dioksida di bumi. Namun, peningkatan emisi gas rumah kaca dalam beberapa dekade terakhir membuat kemampuan laut dalam menjaga keseimbangan iklim semakin tertekan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem, tetapi juga oleh manusia yang bergantung pada sumber daya laut, seperti nelayan dan industri perikanan.

Diskusi juga menyoroti ancaman terhadap keanekaragaman hayati laut, termasuk kerusakan terumbu karang dan perubahan distribusi spesies ikan akibat suhu yang semakin meningkat. Kondisi ini berpotensi mengganggu rantai pasok pangan global, khususnya sektor perikanan yang menjadi sumber protein utama bagi jutaan orang.

Sementara itu, Dr. Faizal Rachman menambahkan bahwa tantangan perubahan iklim menuntut pendekatan lintas disiplin, mulai dari sains, kebijakan, hingga peran masyarakat. Adaptasi dan mitigasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut di masa depan.

Podcast ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi global dalam menghadapi krisis iklim. Upaya konservasi, pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta pengurangan emisi menjadi langkah strategis yang perlu dilakukan secara bersama-sama.

Melalui diskusi ini, Departemen Perikanan UGM kembali menegaskan perannya sebagai ruang dialog ilmiah yang menghubungkan isu global dengan perspektif akademik dan praktis. Podcast ini tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga laut sebagai sistem kehidupan yang vital.

Sejalan dengan itu, isu yang diangkat dalam podcast ini juga berkaitan erat dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya SDG 13 (Climate Action), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 14 (Life Below Water). Pemahaman terhadap dampak perubahan iklim di laut menjadi langkah awal dalam merumuskan kebijakan dan aksi nyata untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut dan kehidupan manusia yang bergantung padanya.

link youtube:

The Impact of Climate Change on Our Oceans

Faperta UGM dan Woogene B&G Korea Jalin Kerja Sama Vaksin Marikultur

Berita Selasa, 3 Maret 2026

Fakultas Pertanian UGM resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan bioteknologi asal Korea Selatan, Woogene B&G, pada Kamis (26/2/2026). Penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam penguatan kolaborasi internasional di bidang bioteknologi perikanan dan kesehatan ikan, khususnya untuk mendukung pengembangan industri marikultur nasional yang berdaya saing global. Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan delegasi Woogene B&G ke kampus Universitas Gadjah Mada pada Desember 2025 lalu. Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak membahas potensi transfer teknologi dan riset bersama terkait pengendalian penyakit pada komoditas budidaya laut bernilai ekonomi tinggi. Penyakit viral, terutama yang disebabkan oleh Iridovirus, selama ini menjadi salah satu faktor pembatas produktivitas kerapu dan kakap putih di berbagai sentra budidaya Indonesia. Kolaborasi ini akan dikawal secara teknis oleh tim peneliti Departemen Perikanan di bawah pimpinan Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., yang memiliki rekam jejak panjang dalam riset kesehatan ikan dan pengembangan vaksin. Sinergi antara pimpinan fakultas, peneliti, serta mitra industri diharapkan mampu menjembatani kebutuhan akademik dan implementasi teknologi di lapangan. Pendekatan ini dinilai strategis untuk memastikan hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan benar-benar diadopsi oleh pelaku usaha budidaya.

Selama lima tahun ke depan, fokus utama kerja sama adalah pengembangan dan uji aplikasi vaksin Iridovirus untuk kerapu dan kakap putih. Tahapan kegiatan meliputi penelitian dasar, formulasi vaksin, uji efikasi di laboratorium, hingga uji lapang di unit-unit budidaya laut. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan teknis bagi dosen, mahasiswa, serta praktisi perikanan guna memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam bidang bioteknologi akuakultur.

Inovasi vaksin ini diharapkan mampu menekan angka kematian ikan akibat infeksi virus, meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate), serta memperbaiki performa produksi. Dampak jangka panjangnya adalah peningkatan efisiensi usaha, stabilitas pasokan ikan konsumsi, dan penguatan ketahanan pangan nasional. Dengan dukungan teknologi mutakhir dari Woogene B&G dan basis riset kuat dari Fakultas Pertanian UGM, kerja sama ini diharapkan menjadi model kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan industri global dalam mendorong transformasi sektor perikanan Indonesia menuju praktik yang lebih modern, sehat, dan berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pengembangan tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan sektor perikanan. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas riset dan publikasi, SDG 14 Life Below Water (Ekosistem Lautan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik.

1…910111213…16
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY