• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Arsip:

SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Departemen Perikanan UGM Sambut Kunjungan PT Anugerah Bahari Pasifik, Bahas Peluang Karier Internasional Bidang Akuakultur

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta, 12 Juni 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan dan audiensi dari PT Anugerah Bahari Pasifik dalam rangka penjajakan kerja sama terkait program penempatan tenaga profesional sektor akuakultur ke luar negeri melalui skema Visa E-7-3 Teknisi Akuakultur. Kegiatan ini disambut langsung oleh Ketua Departemen Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., bersama jajaran dosen dan pengelola program studi.

Kunjungan yang berlangsung di lingkungan Departemen Perikanan UGM tersebut menjadi wadah diskusi strategis mengenai peluang pengembangan karier internasional bagi lulusan dan tenaga profesional bidang perikanan dan akuakultur. Selain memperkenalkan program Visa E-7-3, audiensi juga membahas potensi kolaborasi yang dapat mendukung peningkatan daya saing lulusan Perikanan UGM di tingkat global.

Dalam sambutannya, Prof. Alim Isnansetyo menyampaikan bahwa perkembangan industri akuakultur global membuka peluang yang semakin luas bagi lulusan perikanan Indonesia. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu terus memperkuat jejaring dengan berbagai mitra industri dan dunia kerja agar mahasiswa memiliki akses terhadap informasi, pengalaman, dan peluang karier yang lebih beragam.

Sementara itu, perwakilan PT Anugerah Bahari Pasifik menjelaskan bahwa program Visa E-7-3 Teknisi Akuakultur dirancang untuk mendukung kebutuhan tenaga profesional di sektor akuakultur internasional. Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif jalur pengembangan karier bagi lulusan perikanan yang memiliki kompetensi teknis dan kesiapan bekerja di lingkungan global.

Diskusi berlangsung secara konstruktif dengan membahas berbagai aspek, mulai dari kebutuhan kompetensi tenaga kerja akuakultur, peluang kerja internasional, hingga kemungkinan pengembangan program kolaboratif yang dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan alumni Departemen Perikanan UGM.

Bagi Departemen Perikanan UGM, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring kemitraan sekaligus memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri perikanan yang terus berkembang. Melalui kerja sama yang baik antara perguruan tinggi dan dunia usaha, lulusan diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik untuk berkontribusi pada sektor perikanan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Audiensi ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki Departemen Perikanan UGM, mulai dari kualitas pendidikan, aktivitas penelitian, hingga pengembangan sumber daya manusia perikanan yang selama ini menjadi salah satu kekuatan institusi.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan akses informasi dan peluang karier bagi mahasiswa, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan konektivitas lulusan dengan dunia kerja profesional, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sektor industri dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia perikanan yang unggul.

Dosen Perikanan UGM Berbagi Keahlian AMDAL dan ESIA dalam Pelatihan Lingkungan PSLH UGM

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta, 9 Juni 2026 — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan kembali ditunjukkan melalui kontribusi dosennya dalam kegiatan pelatihan profesional. Drs. Namastra Probosunu, M.Si., dosen Departemen Perikanan UGM, menjadi salah satu pemateri dalam pelatihan “Dasar-Dasar AMDAL dan ESIA” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan PSLH UGM tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang profesional yang ingin memperdalam pemahaman mengenai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) sebagai instrumen penting dalam pembangunan berkelanjutan. Drs. Probosunu memberikan materi pada Kelas A dan Kelas B yang diselenggarakan pada Selasa, 9 Juni 2026.

Dalam sesi yang disampaikan, Drs. Probosunu menekankan pentingnya pemahaman ekologi sebagai fondasi dalam proses penyusunan dan evaluasi dokumen AMDAL. Menurutnya, keputusan terkait kelayakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mengenai bagaimana suatu ekosistem bekerja serta bagaimana aktivitas pembangunan dapat memengaruhi keseimbangan lingkungan tersebut.

Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar ekosistem, mulai dari komponen penyusun ekosistem, interaksi antar populasi, hingga hubungan yang terbentuk dalam rantai dan jaring-jaring makanan. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut dinilai penting untuk mengidentifikasi potensi dampak lingkungan yang mungkin muncul akibat suatu kegiatan atau proyek pembangunan.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai tipologi ekosistem dan tingkat kerawanannya dalam konteks pengambilan keputusan lingkungan. Berbagai karakteristik ekosistem memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap gangguan, sehingga memerlukan pendekatan pengelolaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Dalam paparannya, Drs. Probosunu menjelaskan bahwa keberhasilan AMDAL tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen, tetapi juga oleh kualitas pemahaman terhadap sistem ekologis yang menjadi objek kajian. Dengan memahami kerentanan ekosistem sejak awal, berbagai risiko lingkungan dapat diidentifikasi dan diantisipasi secara lebih efektif.

Kehadiran Drs. Probosunu sebagai narasumber menunjukkan kontribusi aktif Departemen Perikanan UGM dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang lingkungan hidup. Keahlian yang dimiliki dosen-dosen Perikanan UGM tidak hanya bermanfaat bagi pengelolaan sumber daya perairan, tetapi juga mendukung berbagai aspek perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, UGM terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu menjembatani kebutuhan akademik dan praktik profesional. Transfer pengetahuan mengenai ekologi dan lingkungan menjadi bagian penting dalam menciptakan pembangunan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kapasitas profesional di bidang lingkungan, SDG 13 (Climate Action) melalui penguatan pemahaman dampak lingkungan dalam pembangunan, SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 15 (Life on Land) melalui penguatan perlindungan ekosistem sebagai dasar pengambilan keputusan yang berkelanjutan.

Prodi MSA UGM Perkuat Sinergi Menuju Peningkatan Mutu Akademik dan Pengembangan Program Tahun 2026

Berita Jumat, 12 Juni 2026

Yogyakarta, 11 Juni 2026 — Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan rapat koordinasi yang melibatkan seluruh dosen Program Studi MSA di Ruang Serbaguna 1. Kegiatan yang dipimpin oleh Ketua Program Studi MSA, Dr. Ratih Ida Adharini, S.Pi., M.Si., ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi berbagai capaian sekaligus menyusun langkah pengembangan program studi ke depan.

Rapat koordinasi dihadiri oleh dosen-dosen MSA, di antaranya Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Prof. Dr. Ir. Djumanto, M.Sc., Prof. Suadi, S.Pi., M.Sc., Ph.D., Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., Dr. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc., Dr. Mukti Aprian, S.Kel., M.Si. (Han), serta dosen dan tenaga akademik lainnya yang berkontribusi dalam pengembangan Program Studi MSA.

Salah satu agenda utama yang dibahas adalah evaluasi pelaksanaan Program Magang Berdampak Tahun 2026. Program ini dinilai memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga bagi mahasiswa karena memungkinkan mereka terlibat langsung dalam berbagai aktivitas profesional di sektor perikanan, pengelolaan sumber daya perairan, konservasi, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir. Evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi capaian, tantangan, dan peluang penguatan program pada periode mendatang.

Selain itu, forum juga membahas evaluasi perkuliahan dan praktikum Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Diskusi difokuskan pada peningkatan kualitas proses pembelajaran, efektivitas kegiatan praktikum, serta penguatan kompetensi mahasiswa agar semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Persiapan menghadapi Audit Mutu Internal (AMI) turut menjadi perhatian penting dalam rapat. Seluruh dosen berkomitmen untuk terus menjaga budaya mutu akademik melalui penguatan dokumentasi, peningkatan layanan pendidikan, serta evaluasi berkelanjutan terhadap berbagai indikator kinerja program studi.

Dalam bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi, peserta rapat juga mendiskusikan berbagai perkembangan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang telah dan akan dilaksanakan oleh dosen MSA. Berbagai penelitian yang tengah berlangsung diharapkan tidak hanya menghasilkan luaran ilmiah berkualitas, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pengelolaan sumber daya akuatik dan masyarakat pesisir Indonesia.

Aspek kemahasiswaan menjadi agenda penting lainnya. Program studi terus berupaya menciptakan lingkungan akademik yang mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa, baik melalui kegiatan akademik, penelitian, organisasi kemahasiswaan, maupun program penguatan kompetensi lainnya.

Rapat koordinasi ini juga menjadi momentum awal untuk mempersiapkan berbagai kegiatan dalam rangka Hari Ulang Tahun Departemen Perikanan UGM, yang akan menjadi ajang mempererat kebersamaan sekaligus menampilkan berbagai capaian akademik dan kontribusi Departemen Perikanan bagi masyarakat.

Melalui koordinasi yang rutin dan partisipatif, Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik menunjukkan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi yang terbangun di antara dosen diharapkan mampu memperkuat posisi MSA sebagai salah satu program studi unggulan dalam bidang pengelolaan sumber daya perairan dan lingkungan akuatik di Indonesia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan mutu pendidikan tinggi, SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan penelitian dan pengelolaan sumber daya akuatik berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi dan sinergi akademik dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Prof. Caleb Gardner Bagikan Strategi Pengelolaan Perikanan Lobster Berkelanjutan di Departemen Perikanan UGM

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta, 2 Juni 2026 – Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan “Lobster Fisheries Workshop: Small Scale Fisheries Harvest Strategy” yang menghadirkan Prof. Caleb Gardner dari University of Tasmania, Australia, sebagai narasumber utama. Workshop ini menjadi wadah penting bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan pemangku kepentingan perikanan untuk mendalami strategi pengelolaan perikanan lobster yang berkelanjutan, khususnya pada sektor perikanan skala kecil.

Prof. Caleb Gardner merupakan ilmuwan perikanan yang dikenal secara internasional dalam bidang pengelolaan perikanan berbasis sains, asesmen stok, serta pengembangan strategi pemanenan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Pengalamannya dalam mendukung pengelolaan perikanan lobster di Australia menjadikannya salah satu pakar yang banyak berkontribusi dalam penyusunan kebijakan perikanan modern yang menyeimbangkan aspek ekologi dan ekonomi.

Dalam pemaparannya, Prof. Gardner menjelaskan bahwa keberhasilan pengelolaan perikanan lobster tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi hasil tangkapan, tetapi juga oleh kemampuan sistem pengelolaan dalam menjaga keberlanjutan stok sumber daya untuk generasi mendatang. Oleh karena itu, strategi pemanenan (harvest strategy) perlu dirancang berdasarkan data ilmiah yang kuat, indikator biologis yang jelas, serta mekanisme pengambilan keputusan yang adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan maupun dinamika perikanan.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya pengembangan sistem pengelolaan yang mampu mengintegrasikan tujuan konservasi dengan kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat nelayan. Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan pemanfaatan sumber daya perikanan dilakukan secara bertanggung jawab tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem laut.

Workshop ini juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk memahami bagaimana pengalaman pengelolaan lobster di berbagai negara dapat menjadi referensi dalam pengembangan tata kelola perikanan di Indonesia. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa tantangan perikanan skala kecil di berbagai belahan dunia memiliki kesamaan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan konservasi.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM terus memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus memperluas wawasan sivitas akademika mengenai praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Kehadiran pakar internasional seperti Prof. Caleb Gardner diharapkan dapat mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru, kolaborasi penelitian, dan inovasi kebijakan yang mendukung pembangunan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Departemen Perikanan UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 (Life Below Water) melalui pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kapasitas akademik dan pertukaran pengetahuan internasional, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengembangan kolaborasi global dalam bidang perikanan dan kelautan.

Departemen Perikanan UGM Tarik Mahasiswa Magang Berdampak Semester Genap 2025/2026

Berita Rabu, 10 Juni 2026

Yogyakarta, 6 Juni 2026 — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Upacara Penarikan Mahasiswa Magang Berdampak Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan magang yang telah dilaksanakan mahasiswa di berbagai instansi mitra. Kegiatan yang berlangsung secara daring ini dihadiri oleh dosen pembimbing, perwakilan mitra, serta mahasiswa peserta program Magang Berdampak.

Program Magang Berdampak merupakan salah satu bentuk implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat secara langsung dalam dunia kerja, sekaligus menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam konteks nyata sektor perikanan dan kelautan.

Dalam upacara tersebut, Departemen Perikanan secara resmi menarik kembali mahasiswa yang telah menyelesaikan masa penugasannya di berbagai instansi mitra, mulai dari lembaga pemerintah, pelabuhan perikanan, balai riset, hingga institusi pengelolaan sumber daya perikanan di berbagai wilayah Indonesia. Selama menjalani magang, mahasiswa memperoleh pengalaman berharga terkait pengelolaan perikanan tangkap, budidaya perikanan, konservasi sumber daya perairan, pengolahan hasil perikanan, hingga tata kelola sektor perikanan yang berkelanjutan.

Kegiatan penarikan tidak hanya menjadi agenda administratif, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas berbagai pengalaman, tantangan, dan pembelajaran yang diperoleh mahasiswa selama berada di lapangan. Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk mengembangkan kemampuan teknis, komunikasi profesional, kerja tim, serta keterampilan pemecahan masalah yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja.

Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi terhadap capaian pembelajaran mahasiswa sekaligus mengidentifikasi berbagai peluang pengembangan program magang pada periode mendatang. Masukan dari mitra menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa kurikulum dan proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan sektor perikanan yang terus berkembang.

Departemen Perikanan UGM juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh instansi mitra yang telah memberikan pendampingan dan kesempatan belajar bagi mahasiswa selama program berlangsung. Kemitraan yang terjalin diharapkan dapat terus diperkuat untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia perikanan yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan pembangunan sektor perikanan di masa depan.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman profesional, tetapi juga memahami secara langsung dinamika pengelolaan sumber daya perikanan dan peran strategis ilmu perikanan dalam mendukung pembangunan nasional. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal penting dalam membentuk lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan sektor perikanan Indonesia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan pembelajaran berbasis pengalaman, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan kesiapan kerja mahasiswa, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan berbagai mitra dalam pengembangan pendidikan tinggi yang berdampak bagi masyarakat.

Fisheries Talks UGM: Prof. Madya Dr. Ching Fui Fui Ungkap Pesona Ikan Napoleon dan Kecintaannya pada Yogyakarta

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Media Perikanan UGM kembali menghadirkan wawasan internasional melalui program Fisheries Talks. Pada episode kali ini, narasumber yang hadir adalah Prof. Madya Dr. Ching Fui Fui (Faihana Ching Abdullah), akademisi dan peneliti dari Institut Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah (UMS), yang membahas pentingnya konservasi ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) serta berbagi pengalamannya selama berada di Yogyakarta.

Dalam perbincangan yang berlangsung hangat dan inspiratif, Prof. Ching menjelaskan bahwa ikan Napoleon merupakan salah satu spesies ikan karang terbesar dan paling ikonik di kawasan Indo-Pasifik. Spesies ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang, namun populasinya menghadapi berbagai tekanan akibat eksploitasi berlebih dan degradasi habitat. Oleh karena itu, upaya konservasi berbasis riset menjadi sangat penting untuk memastikan keberlangsungan spesies tersebut di masa depan.

Menariknya, topik ikan Napoleon merupakan salah satu bidang yang juga menjadi perhatian penelitian Prof. Ching. Melalui berbagai publikasi ilmiahnya, beliau aktif mengkaji aspek pertumbuhan, konservasi, dan ketahanan genetik ikan Napoleon di wilayah perairan Malaysia.

Selain membahas ikan Napoleon, Prof. Ching juga menceritakan ketertarikannya terhadap Yogyakarta. Menurutnya, Yogyakarta memiliki kombinasi yang unik antara kekayaan budaya, suasana akademik yang dinamis, dan masyarakat yang ramah. Lingkungan tersebut menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu kota yang sangat mendukung pertukaran pengetahuan dan kolaborasi internasional.

Akademisi Internasional dengan Rekam Jejak Kuat di Bidang Akuakultur

Prof. Ching merupakan salah satu peneliti terkemuka di bidang perikanan dan akuakultur di Malaysia. Beliau berkiprah di Institut Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah, dengan fokus penelitian pada reproduksi ikan, fisiologi ikan, produksi benih ikan bernilai ekonomi tinggi, serta pengembangan akuakultur berkelanjutan. Penelitiannya mencakup berbagai spesies penting seperti kerapu, sidat, kakap putih, gobi, hingga ikan Napoleon.

Selain aktif melakukan penelitian, Prof. Ching juga terlibat dalam berbagai proyek strategis terkait ketahanan pangan laut, pengembangan teknologi akuakultur, kesehatan ikan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Hingga saat ini, beliau telah menghasilkan lebih dari seratus publikasi ilmiah dan memimpin maupun berpartisipasi dalam puluhan proyek penelitian yang didanai secara nasional maupun internasional.

Sebagai Direktur di Institut Penyelidikan Marin Borneo (IPMB), beliau juga berperan dalam pengembangan teknologi produksi benih ikan laut bernilai tinggi yang mendukung ketahanan pangan dan industri akuakultur Malaysia. Di bawah kepemimpinannya, IPMB memperoleh pengakuan sebagai Pusat Kecemerlangan Pendidikan Tinggi (HiCoE) di bidang produksi benih ikan laut bernilai tinggi.

Memperkuat Kolaborasi dan Perspektif Global

Kehadiran Prof. Ching dalam Fisheries Talks menunjukkan komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada untuk menghadirkan perspektif global kepada mahasiswa dan masyarakat. Melalui forum seperti ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan ilmiah mengenai keanekaragaman hayati laut, tetapi juga memahami bagaimana kolaborasi lintas negara dapat memperkuat upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya perikanan.

Episode ini menjadi bukti bahwa ilmu perikanan tidak mengenal batas geografis. Dari terumbu karang yang menjadi habitat ikan Napoleon hingga ruang-ruang diskusi akademik di Yogyakarta, kolaborasi dan pertukaran pengetahuan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perairan dunia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan pendidikan, konservasi sumber daya laut, dan kerja sama akademik internasional.

link video:

Napoleon Researcher Gets Real About Aquaculture, Jogja & Sheila On 7

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap Dampak El Niño dan La Niña terhadap Waduk Panglima Besar Soedirman Banjarnegara

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Perubahan iklim global ternyata tidak hanya berdampak pada cuaca, tetapi juga memengaruhi kondisi sumber daya perairan yang menopang berbagai aktivitas manusia. Hal ini terungkap dalam penelitian skripsi yang dilakukan oleh Hapsari Ayu Sedaya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, mengenai dinamika luas badan air Waduk Panglima Besar Soedirman (Waduk Mrica) di Kabupaten Banjarnegara selama periode 2019–2024.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra satelit Sentinel-1 untuk memantau perubahan luas badan air waduk terbesar di Banjarnegara tersebut. Waduk Panglima Besar Soedirman memiliki peran strategis sebagai sumber energi bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica sekaligus mendukung sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah hubungan yang sangat jelas antara fenomena iklim global dengan kondisi waduk. Hapsari menemukan bahwa fenomena El Niño pada tahun 2019 dan 2023 menyebabkan penurunan curah hujan yang diikuti penyusutan luas badan air waduk. Sebaliknya, periode Triple Dip La Niña pada tahun 2020 hingga 2022 meningkatkan curah hujan sehingga luas badan air waduk tetap tinggi, bahkan pada musim kemarau.

Namun, penelitian ini juga mengungkap fakta menarik bahwa perubahan luas badan air tidak hanya ditentukan oleh faktor alam. Operasional waduk, khususnya aktivitas pembangkitan listrik PLTA, turut memengaruhi fluktuasi volume air. Dengan kata lain, kondisi waduk merupakan hasil interaksi antara faktor iklim dan aktivitas manusia dalam pengelolaan sumber daya air.

Selain itu, analisis batimetri menunjukkan adanya variasi kedalaman dan kontur dasar waduk yang diduga berkaitan dengan proses sedimentasi serta pola aliran sungai yang masuk ke waduk. Temuan ini memberikan informasi penting untuk mendukung pengelolaan waduk secara berkelanjutan di masa mendatang.

Menurut Hapsari, pemantauan luas badan air menggunakan teknologi satelit dapat menjadi alat yang efektif untuk memahami respons waduk terhadap perubahan iklim sekaligus membantu perencanaan pengelolaan sumber daya air yang lebih adaptif.

Penelitian ini menunjukkan bahwa waduk bukan sekadar tampungan air, melainkan sistem dinamis yang dipengaruhi oleh perubahan iklim global, kebutuhan energi, dan proses ekologis yang berlangsung secara bersamaan. Informasi tersebut menjadi penting dalam mendukung ketahanan air, energi, dan pangan di tengah meningkatnya ketidakpastian iklim.

Penelitian ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals terutama SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 7 (Affordable and Clean Energy), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan basis ilmiah dalam pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Mahasiswa Perikanan UGM Ungkap “Persaingan Tersembunyi” Antar Ikan Demersal di Pantai Kulon Progo

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Ekosistem laut menyimpan berbagai interaksi yang tidak selalu terlihat oleh mata. Melalui penelitian skripsinya, Eva Luthfiyyatun Nadiroh, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, berhasil mengungkap bagaimana beberapa spesies ikan demersal di perairan pantai Kabupaten Kulon Progo saling berinteraksi dan berbagi sumber makanan dalam ekosistem yang kompleks namun tetap seimbang.

Penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si. ini menemukan fakta menarik bahwa beberapa spesies ikan demersal, yaitu Pennahia aneus, Polydactylus sextarius, Leiognathus equula, dan Upeneus moluccensis, ternyata memiliki jenis makanan yang mirip dan sering memanfaatkan sumber pakan yang sama.

Salah satu temuan unik dari penelitian ini adalah adanya perebutan sumber makanan antarspesies, terutama terhadap udang yang menjadi mangsa utama beberapa jenis ikan demersal. Meski demikian, persaingan tersebut tidak menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Sebaliknya, hasil pemodelan jejaring makanan (food web modeling) menunjukkan bahwa interaksi antarikan masih berlangsung secara alami dan mencerminkan kondisi ekosistem pantai yang relatif stabil.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar ikan yang diteliti termasuk kelompok karnivora dan omnivora, dengan kemampuan memanfaatkan berbagai jenis makanan sesuai ketersediaan sumber daya di lingkungan sekitarnya. Temuan ini memberikan gambaran bahwa hubungan antarorganisme di perairan pantai tidak hanya ditentukan oleh keberadaan spesies, tetapi juga oleh bagaimana mereka berbagi dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Informasi tersebut menjadi penting sebagai dasar ilmiah dalam pengelolaan sumber daya perikanan dan konservasi ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

Penelitian Eva menunjukkan bahwa memahami isi lambung ikan ternyata dapat membantu mengungkap cerita besar tentang keseimbangan ekosistem laut yang selama ini berlangsung di bawah permukaan perairan Kulon Progo. Kegiatan penelitian ini mendukung Sustainable Development Goals khususnya SDG 14 (Life Below Water)   melalui peningkatan pemahaman ilmiah mengenai interaksi ekologi dan keberlanjutan sumber daya perikanan di wilayah pesisir Indonesia dan SDG 4 Pendidikan Berkualitas.

Departemen Perikanan UGM Sambut Asesor LAM-PTIP untuk Akreditasi THP dan Magister Ilmu Perikanan

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyambut kedatangan tim asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Perikanan (LAM-PTIP) dalam rangka pelaksanaan asesmen lapangan Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) dan Magister Ilmu Perikanan (MIP). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya memastikan dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi perikanan yang unggul, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.

Asesmen lapangan Program Studi Teknologi Hasil Perikanan dilaksanakan oleh dua asesor berpengalaman. Kedatangan para asesor disambut oleh pimpinan fakultas, pimpinan departemen, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta berbagai mitra pengguna lulusan yang turut berpartisipasi dalam rangkaian asesmen. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan di lingkungan Departemen Perikanan UGM.

Ketua Departemen Perikanan, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., menyampaikan bahwa proses akreditasi bukan sekadar penilaian administratif, melainkan kesempatan untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap berbagai capaian yang telah diraih. Menurutnya, asesmen lapangan menjadi ruang untuk menunjukkan bagaimana proses pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola program studi dijalankan secara konsisten untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Program Studi Teknologi Hasil Perikanan selama ini dikenal aktif mengembangkan pendidikan dan riset di bidang pengolahan hasil perikanan, keamanan pangan, bioteknologi hasil perairan, serta inovasi produk berbasis sumber daya akuatik. Sementara Program Studi Magister Ilmu Perikanan terus memperkuat kapasitas riset dan pengembangan ilmu perikanan melalui pendekatan multidisiplin yang mendukung pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan.

Dalam proses asesmen, para asesor melakukan peninjauan terhadap berbagai aspek, mulai dari kurikulum, sumber daya manusia, proses pembelajaran, luaran pendidikan, publikasi ilmiah, fasilitas pendukung, hingga keterlibatan alumni dan mitra kerja sama. Selain itu, asesmen juga menjadi sarana untuk berdiskusi mengenai peluang pengembangan program studi di masa depan agar semakin responsif terhadap tantangan global dan kebutuhan sektor perikanan.

Bagi Departemen Perikanan UGM, asesmen lapangan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan menghasilkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia. Lebih dari sekadar proses penilaian, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa mutu pendidikan dibangun melalui kolaborasi seluruh sivitas akademika, alumni, mitra industri, pemerintah, dan masyarakat. Semangat tersebut diharapkan terus mendorong Program Studi Teknologi Hasil Perikanan dan Magister Ilmu Perikanan untuk berkembang sebagai pusat pendidikan dan inovasi yang unggul di tingkat nasional maupun internasional.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals terutama tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan mutu pendidikan tinggi, inovasi, dan kolaborasi dalam pengembangan sektor perikanan yang berkelanjutan.

 

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Nilai-Nilai Pancasila sebagai Fondasi Pengelolaan Perikanan Indonesia yang Berkelanjutan

Berita Selasa, 9 Juni 2026

Yogyakarta — Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila, momentum penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Pancasila bukan hanya ideologi negara, tetapi juga pedoman dalam membangun sektor perikanan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya perairan yang luar biasa. Namun, keberlimpahan tersebut juga menghadirkan tanggung jawab besar untuk mengelolanya secara bijaksana. Dalam konteks ini, nilai-nilai Pancasila memiliki relevansi yang sangat kuat bagi pembangunan perikanan nasional. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan bahwa sumber daya alam merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Laut, sungai, dan danau bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi juga amanah yang perlu dijaga keberlanjutannya untuk generasi mendatang.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan bahwa pembangunan perikanan harus memberikan manfaat yang merata bagi masyarakat, terutama nelayan, pembudidaya ikan, pengolah hasil perikanan, dan masyarakat pesisir yang selama ini menjadi bagian penting dari sistem perikanan Indonesia. Sementara itu, sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi fondasi penting dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang melibatkan berbagai daerah, budaya, dan kepentingan. Laut Indonesia menghubungkan ribuan pulau dan jutaan masyarakat yang memiliki keterikatan kuat dengan sumber daya perairan. Oleh karena itu, pengelolaan perikanan memerlukan semangat kebersamaan dan kolaborasi.

Dalam dunia akademik, sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, tercermin melalui pentingnya pengambilan keputusan berbasis ilmu pengetahuan, data, dan dialog yang konstruktif. Penelitian, inovasi, dan pendidikan menjadi instrumen penting untuk menghasilkan kebijakan perikanan yang tepat dan berkelanjutan.

Adapun sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menjadi tujuan utama pembangunan perikanan. Keberhasilan sektor perikanan tidak hanya diukur dari meningkatnya produksi, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat, terjaganya ekosistem perairan, dan tersedianya sumber pangan yang sehat bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, semangat Pancasila juga tercermin dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dosen dan mahasiswa terus berupaya menghasilkan inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan sektor perikanan, mulai dari ketahanan pangan, perubahan iklim, konservasi sumber daya ikan, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.

Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa kemajuan sektor perikanan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kebangsaan. Ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan seiring dengan etika, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Keluarga besar Departemen Perikanan UGM mengucapkan Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026. Semoga nilai-nilai Pancasila terus menjadi inspirasi dalam membangun sektor perikanan Indonesia yang maju, berdaulat, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakat.

Refleksi ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals terutama tujuan ke-2 (Zero Hunger), tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan tata kelola sumber daya perikanan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.

123…18
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY