• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
    • Informasi
  • Beranda
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
  • hal. 2
Arsip:

SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Mahasiswa Perikanan UGM Dipersiapkan Menjadi Pemimpin Masa Depan melalui Mata Kuliah Kepemimpinan

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada terus memperkuat komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan, integritas, dan kemampuan kolaboratif. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Mata Kuliah Kepemimpinan yang dirancang untuk membentuk mahasiswa menjadi calon pemimpin muda di sektor perikanan dan kelautan.

Dalam mata kuliah ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh teori mengenai kepemimpinan, tetapi juga dibekali sistem penilaian berbasis karakter dan keterampilan umum melalui rubrik evaluasi yang komprehensif. Penilaian mencakup kesadaran terhadap kepentingan bangsa, sikap profesional, tanggung jawab, kemampuan menghargai sesama, kerja tim, hingga kemampuan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan nyata di lapangan.

Sebelum memasuki tahap evaluasi, mahasiswa juga mendapatkan pembelajaran inspiratif melalui kuliah umum yang menghadirkan berbagai tokoh prominent dari dunia akademik, industri, pemerintahan, hingga praktisi perikanan. Kehadiran para tokoh tersebut memberikan wawasan mengenai tantangan kepemimpinan, inovasi, serta pentingnya kolaborasi dalam membangun sektor perikanan yang berkelanjutan.

Salah satu mahasiswa yang menunjukkan perkembangan positif dalam proses pembelajaran ini adalah Muhammad Jibril Syahid. Dalam berbagai aktivitas akademik dan praktik lapangan, Jibril dikenal aktif membangun komunikasi, mampu bekerja sama dalam tim, serta menunjukkan tanggung jawab tinggi dalam menyelesaikan tugas. Kemampuannya dalam memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan lapangan menjadi salah satu indikator penting dalam pembentukan karakter kepemimpinan mahasiswa.

Melalui pendekatan pembelajaran ini, mahasiswa didorong untuk memahami bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga empati, integritas, kemampuan bekerja sama, dan keberanian mengambil keputusan.

Program ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Quality Education melalui penguatan pendidikan berkualitas berbasis kompetensi dan karakter. Selain itu, pengembangan kepemimpinan, kolaborasi, dan kemampuan problem solving turut mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) serta SDG 14 (Life Below Water) melalui pembentukan sumber daya manusia perikanan yang profesional dan berorientasi pada keberlanjutan sumber daya perairan.

Melalui Mata Kuliah Kepemimpinan ini, Departemen Perikanan UGM berharap dapat melahirkan generasi muda yang adaptif, inovatif, dan siap menjadi pemimpin masa depan bagi kemajuan sektor perikanan Indonesia.

Bangun Masa Depan Akuakultur Modern: Mata Kuliah Rekayasa Akuakultur UGM Bekali Mahasiswa dengan Teknologi Budidaya Masa Depan

Berita Jumat, 22 Mei 2026

Yogyakarta — Budidaya perikanan masa kini tidak lagi sekadar berbicara tentang kolam, pakan, dan panen. Transformasi teknologi telah membawa dunia akuakultur memasuki era baru yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Akuakultur Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menghadirkan Mata Kuliah Rekayasa Akuakultur (Aquacultural Engineering) sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami desain sistem budidaya berbasis teknologi modern.

Mata kuliah wajib yang diajarkan pada semester empat ini menjadi salah satu fondasi penting bagi mahasiswa Akuakultur dalam memahami bagaimana teknologi dan prinsip rekayasa diterapkan untuk mendukung sistem budidaya yang produktif dan berkelanjutan. Mata kuliah ini dikoordinasikan oleh Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si.

Berbeda dari pembelajaran akuakultur konvensional, mahasiswa tidak hanya belajar teori budidaya, tetapi juga diajak memahami bagaimana merancang dan membangun sistem akuakultur yang efektif mulai dari tahap perencanaan hingga operasional. Materi pembelajaran dimulai dari pengenalan konsep dasar rekayasa akuakultur, pemilihan lokasi budidaya yang sesuai, hingga desain dan konstruksi fasilitas pembenihan. Mahasiswa juga mempelajari berbagai jenis infrastruktur budidaya air tawar, payau, hingga laut.

Yang menarik, pembelajaran berkembang jauh melampaui desain kolam biasa. Mahasiswa diperkenalkan dengan teknologi budidaya modern seperti Recirculating Aquaculture System (RAS) yang memungkinkan air digunakan kembali melalui sistem filtrasi dan pengelolaan kualitas air yang terintegrasi. Selain itu, mahasiswa juga mempelajari teknologi Biofloc Technology (BFT) yang saat ini menjadi salah satu inovasi penting dalam sistem budidaya efisien dan ramah lingkungan.

Tidak berhenti pada teknologi produksi, mata kuliah ini juga menekankan pengelolaan limbah budidaya serta pemanfaatan inovasi digital dalam rekayasa akuakultur. Kehadiran materi tersebut menunjukkan bagaimana industri perikanan modern mulai bergerak menuju sistem berbasis teknologi cerdas dan presisi.

Pembelajaran diselenggarakan melalui pendekatan blended learning dengan metode Student Centered Learning (SCL), termasuk small group discussion dan case-based learning. Mahasiswa didorong aktif menganalisis persoalan nyata serta mengembangkan solusi berdasarkan kasus di lapangan. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu menilai kesesuaian lahan dan perairan, merancang fasilitas budidaya, hingga mengoperasikan sistem budidaya modern yang produktif, berkualitas, dan berkelanjutan.

Bagi calon mahasiswa, Rekayasa Akuakultur memperlihatkan bahwa dunia perikanan saat ini tidak lagi hanya identik dengan aktivitas di tambak atau kolam. Akuakultur telah berkembang menjadi bidang multidisiplin yang memadukan ilmu perairan, teknik, lingkungan, hingga teknologi digital. Mata kuliah ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals terutama SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 14 (Life Below Water). Melalui inovasi teknologi budidaya, mahasiswa dipersiapkan menjadi generasi yang mampu membangun masa depan akuakultur yang lebih maju dan berkelanjutan.

Belajar dari PPN Prigi: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Dinamika Ekspor Ikan Indonesia dan Tantangan Keberlanjutan

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Program Magang Berdampak bukan sekadar menjadi pengalaman kerja lapangan bagi mahasiswa, tetapi juga ruang pembelajaran untuk memahami bagaimana sektor perikanan Indonesia bekerja secara nyata dari hulu hingga hilir. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Nanda Putri Nur Rohmah, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, saat menjalani kegiatan magang di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Selama kegiatan berlangsung, Nanda mendalami dinamika ekspor hasil perikanan melalui kajian komposisi jenis ikan berdasarkan data Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan (SHTI).

Di balik aktivitas bongkar muat kapal dan lalu lintas hasil tangkapan di pelabuhan, Nanda menemukan bahwa dokumen perikanan ternyata menyimpan banyak cerita mengenai kondisi sumber daya ikan, pola perdagangan, hingga keberlanjutan sektor perikanan Indonesia. Menurutnya, pengalaman tersebut membuka perspektif baru bahwa pengelolaan perikanan tidak hanya berbicara mengenai ikan yang ditangkap, tetapi juga bagaimana setiap hasil tangkapan dapat ditelusuri secara legal dan berkelanjutan.

“Saya belajar bahwa dokumen perikanan ternyata memiliki peran yang sangat penting. Dari data SHTI kita dapat melihat tren ekspor, tekanan terhadap sumber daya, bahkan memahami pola perdagangan internasional,” ungkap Nanda.

Kajian yang dilakukan Nanda menunjukkan bahwa komoditas ekspor di PPN Prigi masih didominasi kelompok tuna, khususnya Skipjack Tuna dan Yellowfin Tuna. Pada tahun 2023, kedua komoditas tersebut menyumbang sekitar 47% dan 44% dari total ekspor. Data juga menunjukkan tren peningkatan volume ekspor dari tahun ke tahun. Volume ekspor yang semula mencapai sekitar 4,2 juta kilogram pada 2023 meningkat menjadi lebih dari 6,1 juta kilogram pada 2024 dan kembali naik menjadi sekitar 6,7 juta kilogram pada 2025. Selama pengamatan, Nanda juga menemukan perubahan menarik dalam sistem administrasi ekspor perikanan. Penerapan skema SHTI baru meningkatkan efisiensi pencatatan hasil tangkapan, termasuk penggabungan data dari beberapa kapal dalam satu dokumen administrasi.

Namun di balik peningkatan ekspor tersebut, Nanda menilai terdapat tantangan penting yang perlu diperhatikan. Munculnya komoditas baru seperti hiu dan spesies non-tuna lain menjadi sinyal bahwa diversifikasi sumber daya terus berkembang, namun memerlukan pengawasan agar tidak menimbulkan tekanan eksploitasi berlebih terhadap spesies rentan.

Temuan lain yang menarik perhatian adalah dominasi pasar ekspor ke Inggris Raya yang mengalami peningkatan sangat signifikan. Pada tahun 2025, kontribusinya bahkan mencapai sekitar 73% dari total pasar ekspor PPN Prigi. Menurut Nanda, ketergantungan pada satu pasar utama dapat menjadi tantangan tersendiri bagi sektor perikanan nasional.

“Kalau hanya bergantung pada satu pasar besar, tentu ada risiko. Diversifikasi pasar dan penguatan daya saing produk menjadi penting untuk masa depan perikanan Indonesia,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami keterkaitan antara sumber daya alam, kebijakan, perdagangan internasional, dan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelabuhan perikanan bukan hanya tempat pendaratan ikan, tetapi juga ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana data dapat menjadi dasar pengambilan keputusan di sektor perikanan.Kegiatan ini turut mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Penguatan pengalaman lapangan berbasis data menjadi langkah penting dalam menciptakan generasi muda perikanan yang adaptif dan mampu menjawab tantangan pengelolaan sumber daya masa depan.

Antara Yogyakarta dan Rwanda: Alumni Magister Ilmu Perikanan UGM Raih Posisi Assistant Lecturer dan Bawa Semangat Kolaborasi Global

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan kembali datang dari alumni internasional Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Joas Iradukunda, alumni Program Magister Ilmu Perikanan UGM asal Rwanda, resmi diterima untuk posisi Assistant Lecturer bidang Aquaculture and/or Fishery Management di University of Rwanda.

Berdasarkan pengumuman resmi hasil seleksi yang diterbitkan pada 9 Mei 2026 oleh College of Veterinary Medicine and Animal Sciences, University of Rwanda, Joas memperoleh nilai 90,3, menjadi peserta dengan skor tertinggi pada kategori Assistant Lecturer (Aquaculture and/or Fishery Management) dan dinyatakan Passed (Recommended for Recruitment). Pencapaian tersebut menempatkannya sebagai kandidat utama untuk bergabung dalam pengembangan pendidikan tinggi dan riset perikanan di Rwanda.

Perjalanan Joas menuju capaian tersebut bukanlah perjalanan singkat. Ia merupakan mahasiswa internasional penerima Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship, program beasiswa pemerintah Indonesia yang membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai negara berkembang untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia sekaligus memperkuat kerja sama internasional melalui pendidikan dan diplomasi akademik.

Selama menempuh pendidikan di Magister Ilmu Perikanan UGM, Joas mendapatkan pendampingan akademik dari dua dosen Departemen Perikanan UGM, yaitu Indah Istiqomah, S.Pi., M.Si., Ph.D., dan Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc. Keduanya tidak hanya berperan sebagai pembimbing akademik, tetapi juga menjadi sosok penting dalam perjalanan studi Joas selama berada jauh dari negara asalnya.

Bagi Joas, proses pendidikan yang ia jalani di UGM bukan sekadar hubungan formal antara mahasiswa dan dosen. Di balik proses penelitian, diskusi, dan bimbingan akademik, terdapat dukungan personal yang membentuk pengalaman belajarnya selama menempuh studi.

Dalam ungkapan rasa syukurnya, Joas menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pembimbingnya:

“Thank you very much for your supervision, guidance, and continuous support. I truly appreciate everything you have done for me, not only as a supervisor but also like a parent. I am sincerely grateful.”

Ungkapan tersebut menggambarkan hubungan yang terbangun tidak hanya sebatas proses akademik, tetapi juga kedekatan dan dukungan kemanusiaan yang sering menjadi kekuatan tersendiri dalam perjalanan mahasiswa internasional. Menempuh studi di negara baru dengan lingkungan budaya yang berbeda tentu menghadirkan tantangan, sehingga kehadiran pembimbing yang suportif menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Selama belajar di Yogyakarta, Joas tidak hanya memperdalam ilmu tentang akuakultur dan manajemen perikanan, tetapi juga membangun jejaring internasional serta pengalaman akademik lintas budaya. Lingkungan pendidikan di UGM mempertemukannya dengan berbagai perspektif mengenai keberlanjutan sumber daya perikanan, pembangunan masyarakat, hingga tantangan pangan global.

Kini, setelah kembali ke Rwanda dan berhasil meraih posisi Assistant Lecturer, Joas membawa lebih dari sekadar gelar akademik. Ia membawa pengalaman, pengetahuan, serta semangat kolaborasi global yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Indonesia.

Bagi Departemen Perikanan UGM, capaian Joas menjadi bukti bahwa pendidikan memiliki dampak lintas batas negara. Alumni internasional tidak hanya kembali sebagai lulusan, tetapi juga menjadi jembatan pengetahuan dan agen perubahan yang memperluas kontribusi UGM di tingkat global.

Kisah Joas juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Pendidikan berkualitas dan kolaborasi internasional menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang mampu memberikan dampak nyata lintas negara dan budaya.

Mahasiswa Perikanan UGM Teliti Dinamika Waduk Gajah Mungkur, Data Satelit Ungkap Pengaruh Iklim terhadap Keberlanjutan Perikanan

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Isu perubahan iklim semakin menunjukkan dampaknya terhadap berbagai ekosistem perairan, termasuk waduk yang menjadi sumber penting bagi kegiatan perikanan dan kehidupan masyarakat. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yumna Niwangsa, melakukan penelitian skripsi berjudul “Pemantauan Luas Badan Air Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri Periode 2017–2024 untuk Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan”. Penelitian ini menyoroti bagaimana perubahan iklim global memengaruhi dinamika luas badan air dan implikasinya terhadap pengelolaan sumber daya perikanan.

Penelitian berfokus pada Waduk Gajah Mungkur, waduk buatan yang dibangun sejak tahun 1974 hingga 1981 dan memiliki fungsi strategis sebagai pengendali banjir, penyedia air, pembangkit listrik, hingga penopang aktivitas perikanan di wilayah sekitarnya. Namun, kondisi waduk sangat dipengaruhi oleh dinamika iklim yang terjadi secara global maupun regional. Melalui pemanfaatan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra Sentinel-1, penelitian ini mengungkap bahwa fenomena iklim seperti Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño Southern Oscillation (ENSO) berperan penting terhadap perubahan luas badan air waduk.
 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena La Niña pada periode 2020–2021 serta IOD negatif tahun 2022 menyebabkan peningkatan curah hujan harian yang kemudian diikuti peningkatan luas badan air Waduk Gajah Mungkur, baik saat musim hujan maupun musim kemarau. Sebaliknya, ketika El Niño dan IOD positif terjadi pada tahun 2023, curah hujan mengalami penurunan sehingga luas badan air waduk ikut menyusut.

Menariknya, penelitian juga menemukan anomali pada tahun 2023. Meskipun kondisi iklim cenderung menurunkan volume air, luas badan air justru mengalami peningkatan pada musim hujan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pengerukan waduk yang dilakukan untuk mengatasi sedimentasi. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan kondisi waduk tidak hanya dipengaruhi faktor iklim, tetapi juga aktivitas manusia. Penelitian mengindikasikan adanya perbedaan kedalaman dan topografi dasar waduk yang tidak merata akibat proses sedimentasi dan pengerukan yang terjadi selama bertahun-tahun.

Menurut hasil penelitian, pemantauan dinamika badan air menggunakan data satelit menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan secara berkelanjutan. Data tersebut dapat menjadi landasan ilmiah dalam perencanaan strategis pengelolaan waduk, termasuk untuk mendukung aktivitas perikanan, konservasi lingkungan, serta pengambilan kebijakan berbasis data.

Penelitian skripsi ini menunjukkan bagaimana teknologi dan ilmu perikanan dapat berjalan beriringan dalam menjawab tantangan pengelolaan sumber daya akuatik di tengah perubahan iklim. Kajian seperti ini juga menjadi bukti bahwa penelitian mahasiswa memiliki potensi besar dalam menghasilkan informasi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat. Penelitian ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Pemanfaatan teknologi untuk pemantauan sumber daya perairan menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan perikanan yang adaptif dan berkelanjutan di masa depan.

Mahasiswa Magang Berdampak UGM: Terdapat Ancaman Eksploitasi Tuna Sirip Kuning di PPS Cilacap

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Program Magang Berdampak menjadi ruang belajar yang membuka wawasan mahasiswa terhadap dinamika nyata sektor perikanan Indonesia. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Dzulfana Noer Syailadina, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, selama menjalani kegiatan magang di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Melalui pengalaman lapangan, Dzulfana mempelajari lebih dalam mengenai tren pemanfaatan ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) dan tantangan keberlanjutan sumber daya tersebut.

Selama kegiatan magang, Dzulfana melakukan pengamatan terhadap perkembangan produksi, upaya penangkapan, serta tingkat pemanfaatan Tuna Sirip Kuning yang menjadi salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Tuna Sirip Kuning diketahui merupakan ikan pelagis besar yang tersebar luas di perairan tropis dunia, termasuk perairan Indonesia.Baginya, pengalaman magang memberikan pelajaran bahwa tingginya nilai ekonomi suatu komoditas sering kali diikuti oleh tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan stok sumber daya.

“Ketika melihat data langsung, saya menyadari bahwa peningkatan produksi tidak selalu menjadi kabar baik apabila tidak dibarengi pengelolaan yang tepat. Sumber daya ikan tetap memiliki batas yang perlu dijaga,” ungkap Dzulfana.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa produksi Tuna Sirip Kuning yang didaratkan di PPS Cilacap selama periode 2020–2024 mengalami peningkatan signifikan setiap tahun. Total produksi mencapai lebih dari 8,3 juta kilogram, dengan hasil tangkapan tertinggi terjadi pada tahun 2024 sebesar 3.439.300 kilogram. Peningkatan ini diduga dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas armada penangkapan dan intensitas penggunaan alat tangkap.

Selain produksi, peningkatan juga terlihat pada upaya penangkapan. Selama periode yang sama, jumlah trip penangkapan terus bertambah seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap komoditas tuna, terutama Tuna Sirip Kuning. Namun temuan yang paling menarik perhatian Dzulfana justru muncul dari analisis Catch Per Unit Effort (CPUE). Berdasarkan hasil penghitungan, pemanfaatan Tuna Sirip Kuning menunjukkan kategori over exploited, yang berarti tingkat tangkapan dan upaya penangkapan telah melampaui batas optimum lestari.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan hasil produksi tidak dapat dipandang semata sebagai indikator keberhasilan. Menurut Dzulfana, pengelolaan sumber daya yang baik perlu dilakukan agar stok ikan tetap tersedia untuk masa depan. Ia menilai langkah pengendalian seperti pembatasan jumlah kapal, pengaturan trip penangkapan, penerapan kuota, serta penggunaan alat tangkap yang lebih selektif menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya Tuna Sirip Kuning.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk tidak hanya memahami teori pengelolaan perikanan di ruang kelas, tetapi juga melihat bagaimana data, kebijakan, dan kondisi lapangan saling terhubung dalam praktik pengelolaan sumber daya. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Penguatan pembelajaran lapangan dan pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menjaga masa depan laut Indonesia.

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Kebangkitan Perikanan Dimulai dari Ilmu, Inovasi, dan Kepedulian

Berita Kamis, 21 Mei 2026

Yogyakarta — Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai momentum refleksi perjalanan bangsa dalam membangun persatuan, semangat perubahan, dan cita-cita menuju masa depan yang lebih baik. Bagi Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi momen untuk merefleksikan peran sektor perikanan dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Kebangkitan hari ini tidak lagi dimaknai sebatas perjuangan fisik atau sejarah masa lalu. Di tengah perubahan iklim, tekanan terhadap sumber daya laut, perkembangan teknologi, hingga dinamika kebutuhan pangan global, kebangkitan sektor perikanan justru hadir melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi.

Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi luar biasa. Laut bukan hanya ruang geografis, tetapi juga sumber kehidupan, ruang ekonomi, sumber pangan, dan masa depan bangsa. Namun potensi besar tersebut menghadapi tantangan yang tidak ringan: penurunan kualitas lingkungan, eksploitasi sumber daya, sampah laut, perubahan ekosistem, serta ketimpangan pembangunan masyarakat pesisir.

Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa membangun masa depan sektor perikanan memerlukan semangat baru. Kebangkitan sektor perikanan tidak cukup hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya dikelola secara bijaksana dan berkelanjutan.

Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan UGM, kebangkitan diwujudkan melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan generasi muda yang siap menjawab tantangan masa depan. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan memahami teori di ruang kelas, tetapi juga diajak hadir di lapangan, mendengarkan masyarakat, memecahkan persoalan nyata, dan menciptakan inovasi yang berdampak.

Di berbagai ruang pembelajaran, laboratorium, kawasan pesisir, hingga lokasi penelitian dan pengabdian, semangat kebangkitan tersebut terus tumbuh. Setiap penelitian, pengembangan teknologi, kerja sama, serta kegiatan mahasiswa menjadi bagian kecil dari upaya besar membangun masa depan laut Indonesia.

Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa kebangkitan bangsa tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari kesadaran, kepedulian, dan kerja bersama. Di sektor perikanan, kebangkitan dimulai dari keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, dan menjaga laut agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.

Refleksi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Semangat kebangkitan di bidang perikanan bukan hanya tentang masa kini, tetapi juga tentang membangun masa depan yang berkelanjutan melalui ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan kepedulian terhadap sumber daya akuatik.

Belajar dari Laut Jawa: Mahasiswa Magang Berdampak UGM Ungkap Dinamika Penangkapan Ikan dan Tantangan Keberlanjutan

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Yogyakarta — Program Magang Berdampak tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi mahasiswa, tetapi juga menghadirkan ruang belajar langsung mengenai realitas sektor perikanan Indonesia. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Gondoyoni David Ananto Putro, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, selama menjalani kegiatan magang yang berfokus pada aktivitas penangkapan ikan dan analisis hasil tangkapan Jaring Tarik Berkantong (JTB) di kawasan Laut Jawa.

Selama kegiatan magang, David berkesempatan mempelajari secara langsung pola produksi hasil tangkapan kapal JTB, dinamika musim penangkapan, hingga tantangan pengelolaan sumber daya perikanan yang semakin kompleks. Pengalaman lapangan tersebut membawanya memahami bahwa aktivitas penangkapan ikan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan stok sumber daya ikan di masa depan.

“Ketika melihat data dan kondisi lapangan secara langsung, saya menyadari bahwa sektor perikanan memiliki dinamika yang sangat kompleks. Di balik tingginya hasil tangkapan, ada tantangan besar terkait bagaimana sumber daya tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ungkap David.

Selama pengamatan, David menemukan bahwa hasil tangkapan kapal JTB sepanjang periode 2025–2026 menunjukkan pola produksi yang berfluktuasi mengikuti musim penangkapan. Puncak produksi tercatat terjadi pada beberapa periode tertentu seperti Februari, Agustus–September, dan awal tahun 2026. Menariknya, komposisi hasil tangkapan didominasi oleh ikan swanggi (Priacanthus tayenus) dengan proporsi mencapai sekitar 45% dari total tangkapan. Sementara jenis ikan lain seperti kapas-kapas, pasir-pasir, kuniran, dan kurisi memberikan kontribusi lebih kecil terhadap total produksi.

David menjelaskan bahwa dominasi ikan swanggi menunjukkan tingginya aktivitas penangkapan ikan demersal sekaligus tingginya permintaan pasar terhadap komoditas tersebut. Namun, hasil ini juga memunculkan pertanyaan penting mengenai tekanan penangkapan yang terjadi pada sumber daya perikanan. Ia juga mempelajari indikator Catch Per Unit Effort (CPUE), yang menggambarkan efisiensi hasil tangkapan dibandingkan upaya penangkapan. Dari hasil analisis, nilai CPUE swanggi menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi dan dipengaruhi oleh musim penangkapan. Puncak produktivitas terjadi pada bulan Maret, mengalami penurunan pada Mei, kemudian kembali meningkat pada Agustus hingga September.

Pengalaman tersebut semakin membuka pandangan David mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya berbasis data. Ia menemukan bahwa beberapa wilayah penangkapan telah menghadapi tekanan eksploitasi yang tinggi, ditandai dengan penurunan stok ikan, ukuran ikan yang semakin kecil, hingga lokasi penangkapan yang semakin jauh dari pantai. Menurut David, pengalaman lapangan menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan sektor perikanan tidak hanya diukur dari besarnya hasil tangkapan, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan sumber daya.

“Kami belajar bahwa pengelolaan perikanan membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Nelayan, pemerintah, pelabuhan, dan akademisi memiliki peran yang sama pentingnya untuk menjaga sumber daya tetap tersedia bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa memperoleh kesempatan melihat bagaimana teori di ruang kelas bertemu dengan realitas lapangan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk membentuk lulusan yang tidak hanya memahami ilmu perikanan secara akademik, tetapi juga peka terhadap tantangan nyata sektor perikanan Indonesia. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Penguatan pengalaman lapangan dan pemahaman pengelolaan perikanan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mencetak generasi masa depan yang adaptif dan berdampak.

Dosen Perikanan UGM Berbagi Keahlian Vaksinasi Ikan, Dorong Penguatan Kesehatan Ikan Air Tawar di Sleman

Berita Selasa, 19 Mei 2026

Sleman — Upaya meningkatkan kesehatan ikan budidaya dan memperkuat kapasitas pelaku sektor perikanan terus dilakukan melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan di lapangan. Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. drh. Nur Lailatul Fitrotun Nikmah, menjadi narasumber dalam Pelatihan Vaksinasi Pada Ikan Air Tawar yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman pada 23 April 2026.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua jam pelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor budidaya perikanan, khususnya dalam pengendalian penyakit dan peningkatan kesehatan ikan air tawar. Dalam pemaparannya, Dr. Laila menekankan bahwa kesehatan ikan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya. Meningkatnya intensitas budidaya sering kali diikuti dengan meningkatnya risiko munculnya penyakit yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya.

Menurutnya, vaksinasi merupakan salah satu pendekatan preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan ikan terhadap penyakit tertentu. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang karena membantu menekan potensi serangan penyakit sebelum wabah terjadi.

“Pencegahan selalu lebih baik dibandingkan penanganan ketika penyakit sudah menyebar. Dalam budidaya modern, kesehatan ikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang,” jelasnya dalam sesi pelatihan.

Selain menjelaskan konsep dasar vaksinasi, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai prinsip penerapan vaksin pada ikan air tawar, strategi pengendalian penyakit, serta pentingnya menjaga kualitas lingkungan budidaya sebagai bagian dari sistem kesehatan ikan secara menyeluruh. Dr. Laila juga menyoroti bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya bergantung pada metode pemberian vaksin, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain seperti kondisi ikan, kualitas air, manajemen pemeliharaan, hingga ketepatan waktu pemberian perlakuan.

Pelatihan ini menjadi ruang diskusi yang interaktif antara narasumber dan peserta. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan penyakit pada budidaya ikan, hingga praktik pengelolaan kesehatan ikan menjadi topik yang banyak dibahas selama kegiatan berlangsung. Keterlibatan dosen Departemen Perikanan UGM dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan sektor perikanan melalui pendidikan dan transfer pengetahuan kepada masyarakat serta pemangku kepentingan di lapangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan kesehatan ikan dan peningkatan kapasitas pembudidaya menjadi bagian penting dalam mendukung sistem perikanan yang produktif dan berkelanjutan.

Departemen Perikanan UGM Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum, Tekankan Pentingnya Evaluasi yang Dinamis

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Dinamika dunia pendidikan tinggi yang terus berkembang menuntut perguruan tinggi untuk selalu adaptif terhadap perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan industri, serta tantangan global. Menjawab kebutuhan tersebut, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum pada Senin, 18 Mei 2026 di Ruang 202 Departemen Perikanan UGM. Kegiatan ini dihadiri dosen, guru besar, pimpinan program studi, serta perwakilan Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM sebagai Narasumber utama, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D..

Workshop dibuka oleh Sekretaris Departemen Perikanan, Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc. yang menegaskan bahwa kurikulum merupakan fondasi utama dalam menjaga kualitas pendidikan dan relevansi lulusan di masa depan. Kegiatan ini diikuti puluhan dosen lintas bidang, termasuk jajaran guru besar dan pengelola program studi di lingkungan Departemen Perikanan. Kehadiran berbagai unsur akademik menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum bukan sekadar proses administratif, tetapi bagian dari upaya bersama untuk merancang masa depan pendidikan perikanan yang lebih adaptif dan berdampak.

Salah satu penekanan penting yang mengemuka dalam diskusi adalah perlunya kurikulum ditinjau dan diperbarui secara berkala. Prof. dr. Gandes menegaskan bahwa kurikulum tidak dapat dipandang sebagai dokumen statis, melainkan instrumen hidup yang harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Dalam forum tersebut disampaikan bahwa evaluasi dan perbaikan kurikulum idealnya dilakukan minimal setiap lima tahun. Langkah tersebut dipandang penting untuk memastikan materi pembelajaran tetap relevan, responsif terhadap perkembangan keilmuan, serta mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan tantangan sektor perikanan di masa depan.

“Perubahan terjadi sangat cepat. Jika kurikulum tidak dievaluasi secara berkala, perguruan tinggi berisiko menghasilkan lulusan yang tertinggal dari perkembangan kebutuhan masyarakat dan industri,” menjadi salah satu semangat utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Selain membahas arah pengembangan kurikulum, workshop juga menjadi ruang diskusi mengenai penyesuaian terhadap kebijakan pendidikan tinggi terbaru, pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel, penguatan kompetensi lulusan, serta integrasi kebutuhan industri dan perkembangan teknologi ke dalam proses pembelajaran.

Bagi Departemen Perikanan UGM, pembaruan kurikulum tidak hanya bertujuan mengikuti perubahan regulasi, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, kemampuan adaptasi, serta kesiapan menghadapi tantangan sektor perikanan dan kelautan yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM menunjukkan komitmennya untuk terus menjaga kualitas pendidikan melalui proses evaluasi dan pengembangan berkelanjutan. Kurikulum dipandang bukan hanya daftar mata kuliah, tetapi peta perjalanan yang akan membentuk karakter, kompetensi, dan masa depan lulusan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Pengembangan kurikulum yang adaptif dan berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang relevan, berkualitas, dan mampu menjawab tantangan masa depan.

1234…17
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY