• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Universitas Gadjah Mada
  • Universitas Gadjah Mada
  • hal. 6
Arsip:

Universitas Gadjah Mada

Menuju Pesisir Tangguh: FGD Perikanan UGM Rumuskan Model Pengelolaan Perikanan Adaptif di Pantai Depok Kabupaten Bantul

Berita Senin, 20 April 2026

Suasana pesisir Pantai Depok, Bantul, menjadi latar unik penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) Penelitian IJRA–Equity yang diinisiasi oleh Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada pada 20 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, peneliti, serta pelaku perikanan dalam satu ruang dialog terbuka untuk membahas masa depan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Berbeda dari forum ilmiah pada umumnya, FGD ini sengaja dilaksanakan di kawasan pesisir untuk menghadirkan konteks nyata antara teori dan praktik. Pantai Depok yang dikenal sebagai sentra aktivitas nelayan di Kabupaten Bantul menjadi lokasi strategis untuk menggali langsung dinamika ketahanan perikanan.

Diskusi yang dipimpin oleh Dr.nat.sc. Faizal Rachman, S.Pi., M.Sc. ini menyoroti keterkaitan erat antara perubahan lingkungan laut, dinamika sosial masyarakat pesisir, serta sistem kelembagaan yang mengatur aktivitas perikanan. Para peserta menekankan bahwa pengelolaan sumber daya laut tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan ekologis semata, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat nelayan.

Dalam forum tersebut, isu perubahan iklim menjadi salah satu perhatian utama. Perubahan pola musim, gelombang, hingga ketidakpastian hasil tangkapan dirasakan langsung oleh nelayan di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan adaptif berbasis data ilmiah yang mampu menjembatani kebutuhan kebijakan dengan kondisi riil di masyarakat.

FGD ini juga membuka ruang dialog antara peneliti dan nelayan, sehingga pengalaman lokal dapat diintegrasikan ke dalam pengembangan riset. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan IJRA–Equity ini, UGM kembali menegaskan perannya sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan riset akademik, tetapi juga mendorong solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perikanan di era perubahan global.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut), sekaligus memperkuat upaya mewujudkan pengelolaan perikanan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

Sosialisasi Restocking Ikan Lokal DIY Perkuat Upaya Pelestarian Perairan Umum

Berita Senin, 20 April 2026

Yogyakarta – Dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya ikan lokal di perairan umum Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), telah diselenggarakan kegiatan Sosialisasi Restocking Sumberdaya Ikan Lokal di Perairan Umum pada Senin, 13 April 2026 mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Gurami dan Ruang Rapat Nila III, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Jalan Sagan No. III/4, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dosen Departemen Perikanan UGM Dr. Sulistiowati, S.Si., M.Si yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam pelestarian sumber daya ikan lokal. Penyampaian Materi ini dimaksud guna memberikan pemahaman komprehensif kepada para pemangku kepentingan terkait pentingnya restocking sebagai bagian dari strategi konservasi perairan darat. Dalam pemaparan materi, dijelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman ikan yang sangat tinggi, dengan ribuan spesies ikan air tawar dan laut, termasuk ratusan spesies endemik yang tersebar di berbagai wilayah perairan. Di Pulau Jawa sendiri tercatat terdapat 132 jenis ikan asli dan endemik yang memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan budaya penting bagi masyarakat.

Namun, keberadaan ikan lokal menghadapi berbagai ancaman serius seperti degradasi habitat, pencemaran, perubahan iklim, introduksi spesies invasif, hingga eksploitasi berlebihan. Rendahnya kesadaran masyarakat serta keterbatasan sumber daya juga menjadi tantangan dalam upaya konservasi. Kondisi ini menuntut langkah strategis yang melibatkan berbagai pihak untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian sumber daya ikan.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, restocking atau penebaran ikan kembali ke habitat alaminya diperkenalkan sebagai salah satu upaya penting untuk meningkatkan keragaman dan produksi ikan di perairan umum. Selain itu, strategi konservasi lain yang disampaikan meliputi pembentukan suaka perikanan, rehabilitasi habitat, pengendalian spesies invasif, regulasi penangkapan, hingga domestikasi dan budidaya ikan lokal yang terancam punah.

Kegiatan ini juga menekankan pentingnya dukungan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat, dalam pelaksanaan program pelestarian ikan lokal. Upaya konservasi diharapkan tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem, tetapi juga menjamin keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada perikanan perairan umum.

Melalui sosialisasi ini, diharapkan terbangun sinergi dan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan sumber daya ikan lokal DIY sebagai warisan alam yang bernilai bagi generasi mendatang. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan tujuan ke -17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, tujuan ke-4 Pendidikan Berkualitas, tujuan ke-8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomike-14 (Ekosistem Laut), tujuan ke-15 (Ekosistem Daratan), serta tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim). Upaya restocking dan konservasi ikan lokal menjadi bagian penting dalam menjaga keanekaragaman hayati perairan, memperkuat ketahanan ekosistem, serta memastikan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.

Belajar ‘Aturan Main’ Laut: Mata Kuliah Kelembagaan Perikanan UGM Siapkan Mahasiswa Jadi Pengambil Kebijakan Masa Depan

Berita Senin, 20 April 2026

Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia perikanan, memahami laut tidak cukup hanya dari sisi biologi atau teknologi. Di Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, mahasiswa juga diajak memahami “aturan main” di balik pengelolaan sumber daya laut melalui mata kuliah Kelembagaan Perikanan.

Mata kuliah ini menjadi salah satu fondasi penting dalam Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik. Di sini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajak menganalisis bagaimana kebijakan, institusi, dan masyarakat berinteraksi dalam mengelola perikanan secara berkelanjutan.

Materi yang dipelajari sangat beragam dan kontekstual. Mahasiswa akan mengenal konsep dasar kelembagaan, perubahan institusi, hingga penerapannya dalam pengelolaan perikanan di berbagai skala—lokal, nasional, hingga internasional. Contohnya, mahasiswa mempelajari praktik lokal seperti sasi di Maluku dan awig-awig di Bali, yang terbukti efektif dalam menjaga kelestarian sumber daya perikanan berbasis kearifan lokal.

Tidak berhenti di situ, pembelajaran juga mengangkat isu-isu aktual seperti kebijakan penangkapan ikan terukur, pembangunan kawasan minapolitan, hingga rantai pasok hasil perikanan modern. Pendekatan yang digunakan berbasis case-based learning (CBL) dan project-based learning (PBL), sehingga mahasiswa aktif berdiskusi, menganalisis kasus nyata, hingga mempresentasikan solusi.

Menariknya, mahasiswa juga diajak melihat bagaimana kelembagaan berperan dalam pembangunan sektor perikanan, baik di bidang budidaya, penangkapan, maupun pengolahan hasil. Hal ini membuat lulusan tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja dan kebijakan.

Dengan sistem pembelajaran yang interaktif dan berbasis analisis kasus, mata kuliah ini melatih kemampuan berpikir kritis (high order thinking skills) yang sangat dibutuhkan di era kompleks saat ini.

Melalui mata kuliah Kelembagaan Perikanan, UGM membekali mahasiswa untuk menjadi pengelola sumber daya laut, analis kebijakan, hingga pemimpin masa depan di sektor perikanan. Cocok bagi kamu yang ingin berkontribusi nyata dalam menjaga laut sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat pesisir. Pembelajaran ini sejalan dengan SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, SDG 14 (Ekosistem Laut), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), menjadikan mahasiswa siap berkontribusi dalam pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan di Indonesia maupun global.

FGD Equity UGM Soroti Perikanan dalam Perspektif Sosial-Ekologi: Dari Perubahan Iklim hingga Dinamika Sumber Daya Pesisir dan Lautan

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026 di Ruang 2.02, Gedung A4. Kegiatan ini menjadi forum strategis lintas sektor yang mengangkat isu perubahan iklim dan dinamika oseanografi dalam konteks sosial-ekologi perikanan dan kelautan.

FGD menghadirkan berbagai pakar nasional dan internasional, di antaranya Prof. Widodo Setiyo Pranowo dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. R. Dwi Susanto dari University of Maryland, serta Prof. Ocky Karna Radjasa. Diskusi juga melibatkan perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan pelaku perikanan dari Kelompok Mina Samodera Pantai Baron, sehingga menghadirkan perspektif ilmiah sekaligus pengalaman lapangan.

Dalam diskusi, para narasumber menekankan bahwa perubahan iklim global telah memengaruhi parameter oseanografi seperti suhu permukaan laut, arus, dan produktivitas primer. Fenomena ini secara langsung berdampak pada distribusi ikan, musim penangkapan, hingga ketidakpastian hasil tangkapan nelayan.

Lebih jauh, pendekatan sosial-ekologi menjadi kunci dalam memahami sistem perikanan secara utuh. Tidak hanya aspek lingkungan, tetapi juga dimensi sosial seperti adaptasi nelayan, kelembagaan, dan strategi penghidupan menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan.

Paparan juga menyoroti bagaimana fenomena iklim ekstrem, seperti siklon tropis, dapat memicu perubahan produktivitas laut melalui peningkatan nutrien dan klorofil-a. Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika laut bersifat kompleks dan memerlukan pendekatan berbasis data serta teknologi, termasuk pemanfaatan penginderaan jauh dan pemodelan spasial.

Diskusi berlangsung interaktif dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, peneliti, pemerintah, dan masyarakat pesisir. Integrasi pengetahuan ilmiah dan lokal dinilai menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Melalui FGD ini, Departemen Perikanan UGM menegaskan perannya dalam mengembangkan riset yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan secara sosial. Kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut), serta memperkuat upaya pengelolaan perikanan yang tangguh dan berkelanjutan di Indonesia.

Dari Satelit NASA ke Laut Indonesia: FGD Equity UGM Bahas Teknologi PACE untuk Pantau Ekosistem Laut

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan diskusi ilmiah strategis melalui Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri yang digelar pada Jumat, 17 April 2026 di Gedung A4. Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah pemaparan teknologi satelit mutakhir untuk pemantauan ekosistem laut.

Materi disampaikan oleh Prof. Riset R. Dwi Susanto, Ph.D., peneliti senior dari University of Maryland, yang membahas pemanfaatan satelit terbaru milik NASA, yaitu PACE (Plankton, Aerosol, Clouds, Ocean Ecosystem).

Dalam paparannya, Dwi Susanto menjelaskan bahwa satelit PACE membawa teknologi hiperspektral yang mampu mendeteksi kondisi perairan laut secara lebih detail dibandingkan satelit sebelumnya. Teknologi ini memungkinkan ilmuwan untuk mengidentifikasi jenis-jenis fitoplankton, termasuk membedakan antara alga yang berbahaya (harmful algal blooms) dan yang bermanfaat bagi ekosistem.

Lebih lanjut, satelit PACE menghasilkan berbagai data penting seperti konsentrasi klorofil-a, struktur komunitas plankton, karbon laut, hingga kualitas air. Data ini sangat krusial untuk memahami dinamika ekosistem laut, termasuk responsnya terhadap perubahan iklim global.

Paparan ini juga menekankan pentingnya integrasi antara data satelit dan pengukuran lapangan. Validasi data menjadi langkah penting agar hasil pemantauan dapat digunakan secara akurat dalam skala lokal maupun regional, termasuk di perairan Indonesia yang memiliki kompleksitas tinggi.

Diskusi dalam FGD ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi satelit modern dapat menjadi solusi dalam meningkatkan akurasi pemantauan sumber daya laut, sekaligus mendukung pengambilan kebijakan berbasis data. Hal ini sangat relevan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi ekosistem laut.

Kegiatan ini menegaskan peran UGM sebagai pusat pengembangan ilmu kelautan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global. Selain itu, hasil diskusi ini turut berkontribusi pada SDG 17  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui penguatan riset berbasis inovasi teknologi untuk keberlanjutan laut Indonesia.

Bangun Karier Global! Departemen Perikanan UGM Buka Peluang Kerja Perikanan di Korea Selatan

BeritaLowongan Pekerjaan Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan peluang internasional bagi mahasiswa dan alumni melalui kegiatan Sosialisasi Program Visa Kerja Korea Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan PT Anugerah Bahari Pasifik dan Widuri Training Centre, dilaksanakan secara daring pada Jumat, 17 April 2026.

Mengusung tema “Build Your Career in South Korea”, sosialisasi ini menjadi wadah bagi mahasiswa tingkat akhir dan alumni untuk mengenal lebih dekat peluang kerja di sektor perikanan di Korea Selatan. Negara tersebut dikenal memiliki industri perikanan yang maju, modern, serta menawarkan pengalaman kerja internasional yang kompetitif.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan informasi komprehensif mengenai prosedur pengajuan visa kerja, persyaratan administrasi, hingga gambaran dunia kerja di sektor perikanan Korea Selatan. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman tentang kesiapan kompetensi, adaptasi budaya kerja, serta peluang pengembangan karier jangka panjang di luar negeri.

Kegiatan yang dilaksanakan melalui platform daring ini memberikan kemudahan akses bagi peserta untuk bergabung dari berbagai daerah. Antusiasme peserta terlihat tinggi, mengingat peluang kerja luar negeri, khususnya di sektor perikanan, menjadi salah satu jalur strategis dalam meningkatkan daya saing lulusan.

Melalui kolaborasi ini, Departemen Perikanan UGM menunjukkan komitmennya dalam membuka akses karier global bagi mahasiswa serta memperkuat konektivitas antara dunia pendidikan dan industri internasional.

Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dengan mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta membuka peluang kerja yang lebih luas di tingkat global.

FGD Hibah Equity UGM 2026: Perkuat Riset Adaptif Perikanan di Tengah Perubahan Iklim

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada menggelar Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang 2.02, Gedung A4 ini menjadi forum strategis dalam memperkuat arah riset kolaboratif dan inovatif di bidang perikanan dan kelautan.

FGD ini menghadirkan peneliti post-doctoral, Dr. Ulung Jantama Wisha, yang memaparkan hasil kajian bertajuk “Variabilitas Oseanografi dan Zona Tangkapan Ikan di WPPNRI 573.” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa perubahan iklim global (seperti peningkatan suhu permukaan laut, serta fenomena ENSO dan IOD) berdampak langsung terhadap dinamika oseanografi dan distribusi ikan.

Wilayah WPPNRI 573 yang mencakup Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara dikenal sebagai kawasan produktif, namun sangat dinamis. Variabilitas parameter lingkungan seperti suhu permukaan laut, klorofil-a, dan arus laut terbukti memengaruhi terbentuknya potential fishing zone (PFZ) yang menjadi acuan utama dalam operasi penangkapan ikan.

Dalam diskusi, diungkap bahwa musim timur dengan fenomena upwelling menghasilkan kondisi optimal bagi produktivitas perairan, ditandai dengan suhu lebih rendah dan peningkatan klorofil-a. Kondisi ini berbanding lurus dengan meningkatnya hasil tangkapan ikan (CPUE). Sebaliknya, musim barat cenderung menunjukkan produktivitas yang lebih rendah akibat stratifikasi perairan.

FGD ini juga membahas pentingnya integrasi data jangka panjang, pemodelan statistik, serta pengembangan pendekatan berbasis machine learning untuk memprediksi zona penangkapan ikan secara lebih akurat. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penangkapan sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan.

Melalui forum ini, Departemen Perikanan UGM mempertegas perannya dalam mendorong riset yang responsif terhadap tantangan global, khususnya perubahan iklim. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4  Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industry Innovation and Infrastructure, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 14 (Ekosistem Laut), serta memperkuat sinergi antara akademisi dan peneliti dalam menghasilkan solusi berbasis sains untuk masa depan perikanan Indonesia.

FGD Hibah Equity UGM 2026: Riset Lobster hingga Zona Ikan Perkuat Kolaborasi dan Publikasi Global

Berita Jumat, 17 April 2026

Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat riset unggulan melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang 2.02, Gedung A4 ini menjadi ruang strategis bagi para peneliti untuk mempresentasikan capaian riset sekaligus membangun kolaborasi ilmiah.

Salah satu paparan utama disampaikan oleh Dr. Eko Hardianto, yang mengangkat topik “Molecular Ecology of the Spiny Lobster (Panulirus homarus)”. Penelitian ini menyoroti konektivitas genetik lobster di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Bengkulu, Cilacap, Prigi, hingga Sumbawa dan Pulau Buru.

Melalui pendekatan genetika populasi, penelitian ini mengungkap pola keragaman genetik dan struktur populasi lobster di Indonesia yang sangat penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya perikanan berbasis sains. Selain itu, studi ini juga mengkaji pengaruh batas biogeografi seperti Wallace’s Line terhadap aliran gen antar populasi lobster.

Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi menghadapi berbagai tekanan, mulai dari eksploitasi hingga perubahan lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan molekuler seperti yang dilakukan dalam penelitian ini menjadi kunci dalam memahami dinamika populasi spesies penting secara lebih mendalam.

Selain riset genetika, FGD ini juga menampilkan kajian lain terkait dinamika oseanografi dan zona penangkapan ikan berbasis perubahan iklim. Diskusi yang berlangsung interaktif menekankan pentingnya integrasi data lintas disiplin, mulai dari penginderaan jauh, analisis statistik, hingga pemodelan prediktif.

Program hibah Equity by Subject sendiri dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas publikasi internasional dan reputasi akademik UGM di tingkat global. Sementara itu, skema Post-Doctoral Dalam Negeri menjadi wadah bagi peneliti untuk mengembangkan riset inovatif yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM tidak hanya memperkuat budaya riset, tetapi juga mendorong lahirnya kolaborasi lintas institusi dan negara. Kegiatan ini turut berkontribusi pada SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 14 (Ekosistem Laut), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), sebagai upaya membangun pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan.

Sidat di Persimpangan: Riset Perikanan UGM Soroti Tekanan Eksploitasi dan Perubahan Iklim

Berita Jumat, 17 April 2026

Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Program Equity by Subject dan Equity Post-Doctoral Dalam Negeri diselenggarakan oleh Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada dengan tema perubahan iklim dan dinamika perikanan dan kelautan. Salah satu materi yang dipaparkan mengangkat topik strategis terkait dinamika sistem sosial-ekologi sidat di wilayah selatan Pulau Jawa. Materi ini disampaikan oleh Bapak Waluyo, M.Sc sebagai mahasiswa Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis UGM.

Paparan ini menyoroti pentingnya ikan sidat sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi sekaligus spesies yang memiliki siklus hidup kompleks (catadromous), yaitu bermigrasi dari perairan tawar menuju laut untuk memijah. Dalam kajian ini, dijelaskan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman sidat tropis yang tinggi, dengan setidaknya tujuh spesies sidat yang tersebar di berbagai wilayah perairan.

Pak Waluyo, M.Sc juga menekankan bahwa sistem kehidupan sidat sangat dipengaruhi oleh interaksi antara faktor lingkungan, seperti arus laut, suhu, dan kondisi habitat estuari hingga sungai. Wilayah selatan Jawa menjadi kawasan penting karena berfungsi sebagai jalur migrasi dan habitat pertumbuhan sidat sebelum kembali ke laut lepas.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berbasis system dynamics, yang bertujuan untuk memahami hubungan kompleks antara populasi sidat, tekanan penangkapan, serta perubahan lingkungan. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat menyimulasikan berbagai skenario pengelolaan, termasuk dampak eksploitasi berlebih dan perubahan iklim terhadap keberlanjutan populasi sidat.

Selain itu, paparan ini juga menggarisbawahi pentingnya pengelolaan berbasis ekosistem dan data ilmiah dalam menjaga keberlanjutan sumber daya sidat. Upaya konservasi, pengaturan penangkapan, serta perlindungan habitat menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan populasi.

Materi ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan kebijakan perikanan yang adaptif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi riset UGM dalam mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 14 (Ekosistem Laut), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

FGD Hibah Equity UGM 2026: Inovasi AI untuk Pemberdayaan Perempuan Pesisir dan Ketahanan Ekonomi di Era Perubahan Iklim

Berita Jumat, 17 April 2026

Yogyakarta – Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian UGM Program Equity by Subject dan Program Equity Post Doctoral Dalam Negeri pada Jumat, 17 April 2026 pukul 09.00–11.00 WIB di Ruang 2.02 Gedung A4 Departemen Perikanan UGM. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik untuk memaparkan, menelaah, serta memperoleh masukan terhadap pengembangan riset yang didanai melalui skema hibah UGM.

FGD menghadirkan pemaparan penelitian oleh Dr. Endah Prihatiningtyastuti yang mengangkat tema pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai sarana transformasi perempuan pesisir menjadi agen ekonomi tangguh terhadap perubahan iklim. Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan dosen, peneliti, serta sivitas akademika yang memberikan masukan strategis terkait arah pengembangan penelitian dan implementasinya di masyarakat.

Dalam pemaparan, disampaikan bahwa sektor perikanan tangkap menghadapi tekanan signifikan akibat perubahan iklim, seperti cuaca ekstrem, kenaikan suhu laut, hingga pergeseran stok ikan yang menyebabkan pendapatan nelayan semakin tidak stabil. Kondisi ini berdampak langsung pada kerentanan ekonomi rumah tangga pesisir. Di tengah situasi tersebut, perempuan pesisir memiliki peran kunci sebagai pengelola keuangan keluarga, penjaga konsumsi rumah tangga, sekaligus penggerak strategi bertahan hidup melalui berbagai aktivitas ekonomi tambahan. Namun, kontribusi tersebut masih sering bersifat informal, tidak terdokumentasi, dan belum memiliki rekam jejak data yang kuat.

FGD juga membahas berbagai kendala yang dihadapi perempuan pesisir, seperti keterbatasan literasi finansial digital, akses teknologi, infrastruktur internet, serta hambatan budaya dan norma gender. Temuan lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan pesisir belum memiliki kebiasaan pencatatan keuangan yang sistematis, meskipun terdapat minat tinggi terhadap solusi pencatatan digital sederhana berbasis telepon seluler.

Sebagai solusi, penelitian ini memperkenalkan konsep pencatatan berbasis AI melalui platform WhatsApp dengan asisten digital bernama “MAYA”. Sistem ini dirancang untuk memudahkan pencatatan biaya melaut, hasil tangkapan, hingga penjualan secara otomatis melalui percakapan sederhana. Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan pencatatan berbasis ingatan menjadi sistem berbasis data yang terstruktur, sekaligus meningkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga.

Melalui FGD ini, peserta memberikan berbagai masukan terkait penguatan metodologi, peluang kolaborasi lintas disiplin, serta potensi pengembangan riset lanjutan yang berkontribusi pada ketahanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan penelitian hibah UGM berjalan secara berkualitas, relevan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

FGD diakhiri dengan komitmen bersama untuk mendorong riset yang inklusif gender, berbasis teknologi, serta berorientasi pada solusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di wilayah pesisir. Kegiatan ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-5 (Kesetaraan Gender), tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), tujuan ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 14, Ekosistem Lautan, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitasserta, SDG ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim). Pemanfaatan kecerdasan buatan untuk pemberdayaan perempuan pesisir dinilai mampu memperkuat inklusi ekonomi berbasis data, meningkatkan ketahanan rumah tangga terhadap guncangan iklim, sekaligus mendorong transformasi digital yang berkeadilan dan berkelanjutan.

1…45678…18
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY