• Tentang UGM
  • Faperta
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
Departemen Perikanan
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Staff Dosen
    • Staff Kependidikan
    • KERJA SAMA
  • Akademik
    • Program Studi Akuakultur
    • Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik
    • Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
    • Program Studi Magister Ilmu Perikanan
    • Program Studi Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan Tropis
  • Berita
  • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Inkubator Mina Bisnis
    • delifiZ
  • Penjaminan Mutu
  • TUK
  • Organisasi
    • KMIP
    • Selam Perikanan
    • Bahari Pers
  • Download
    • Prosedur Persuratan
    • Prosedur Akademik Sarjana
    • Prosedur Akademik Pascasarjana
  • Beranda
  • Berita
  • hal. 3
Arsip:

Berita

Prof. Djumanto Resmi Menjadi Sekretaris Senat Fakultas Pertanian UGM Periode 2026–2031

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Kabar membanggakan datang dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Guru Besar Departemen Perikanan, Prof. Djumanto, resmi mendapat amanah sebagai Sekretaris Senat Fakultas Pertanian UGM periode 2026–2031, bersama dengan Ketua Senat Prof. Dr. Ir. Y. Andi Trisyono, M.Sc.

Penetapan kepengurusan Senat Fakultas Pertanian UGM periode baru menjadi bagian penting dalam melanjutkan arah pengembangan akademik dan tata kelola kelembagaan fakultas selama lima tahun ke depan. Kehadiran figur-figur akademisi dalam kepemimpinan Senat diharapkan mampu memperkuat pengambilan kebijakan strategis serta mendorong pengembangan Fakultas Pertanian yang semakin unggul, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat.

Bagi sivitas akademika Departemen Perikanan, amanah yang diterima Prof. Djumanto menjadi kebanggaan tersendiri. Selama ini beliau dikenal aktif dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, khususnya pada kajian sumber daya perairan dan perikanan. Kiprah akademiknya tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam penguatan tata kelola dan pengembangan institusi pendidikan tinggi.

Sebagai akademisi sekaligus guru besar, Prof. Djumanto memiliki pengalaman panjang dalam mendampingi pengembangan pendidikan dan riset di lingkungan UGM. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi modal penting dalam mendukung pelaksanaan tugas Senat Fakultas yang memiliki peran strategis dalam memberikan pertimbangan akademik dan penguatan arah kebijakan fakultas.

Momentum ini sekaligus menjadi penanda estafet kepemimpinan baru di lingkungan Senat Fakultas Pertanian. Harapan besar disampaikan agar Ketua dan Sekretaris Senat Fakultas Pertanian UGM periode 2026–2031 dapat menjalankan amanah dengan baik, penuh kebijaksanaan, dan membawa semangat kolaborasi dalam memajukan fakultas.

Di saat yang sama, penghargaan juga diberikan kepada Ketua dan Sekretaris Senat Fakultas Pertanian periode 2021–2026 atas dedikasi, pengabdian, dan kontribusi yang telah diberikan selama masa kepemimpinan. Berbagai upaya dan capaian yang telah dilakukan menjadi bagian penting dari perjalanan pengembangan Fakultas Pertanian hingga saat ini.

Departemen Perikanan UGM turut menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Prof. Djumanto atas amanah baru yang diemban. Semoga kepercayaan tersebut dapat dijalankan dengan baik dan menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan Fakultas Pertanian UGM yang semakin maju dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Semangat penguatan tata kelola pendidikan tinggi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Kepemimpinan akademik yang kuat menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan institusi pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

 
Sumber Foto: Tim Media Fakultas Pertanian UGM

Mahasiswa Magang Berdampak UGM di Bali: Pengalaman Lapangan Membuka Realitas Penangkapan Ikan Tradisional

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Pengalaman terjun langsung ke lapangan sering kali menghadirkan pelajaran yang tidak ditemukan di ruang kelas. Hal tersebut dirasakan oleh Dias Aditya, mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, saat mengikuti Program Magang Berdampak di Bali. Selama menjalani kegiatan magang di kawasan perikanan Pengambengan, Bali, Dias mempelajari praktik penentuan daerah penangkapan ikan oleh nelayan, khususnya peran juru panggung dalam menemukan gerombolan ikan di laut. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses penangkapan ikan tidak hanya bergantung pada teknologi modern, tetapi juga pengetahuan lokal dan pengalaman panjang nelayan di lapangan.

Dias mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman paling menarik selama magang adalah melihat secara langsung bagaimana nelayan membaca kondisi laut sebelum menentukan lokasi penangkapan.

“Selama magang saya menyadari bahwa nelayan memiliki pengetahuan lapangan yang sangat kuat. Mereka membaca arus, gelombang, arah angin, bahkan tanda-tanda keberadaan ikan dari kondisi perairan,” ungkap Dias.

Berdasarkan hasil pengamatannya, juru panggung menentukan daerah penangkapan ikan dengan mempertimbangkan berbagai informasi yang diperoleh dari nelayan lain yang telah lebih dahulu melaut. Informasi tersebut umumnya berasal dari nelayan kapal fiber yang memberikan petunjuk mengenai keberadaan gerombolan ikan.

Dias menjelaskan bahwa terdapat dua mekanisme utama yang digunakan nelayan untuk mencari ikan. Cara pertama adalah sistem kejar, yaitu pencarian secara manual dengan terus bergerak mengikuti indikasi keberadaan ikan. Cara kedua adalah sistem nangko pelak, yang dilakukan dengan bantuan informasi dari nelayan lain di laut.

Selain itu, nelayan juga mengenali keberadaan gerombolan ikan melalui pantulan cahaya di permukaan laut dengan mempertimbangkan kekuatan arus, gelombang, angin, jarak tempuh, serta kedalaman perairan. Pengalaman tersebut juga membuka pandangan Dias mengenai tantangan penggunaan teknologi modern di lapangan. Ia menemukan bahwa alat fish finder yang secara umum digunakan untuk mendeteksi keberadaan ikan ternyata belum sepenuhnya diterapkan dalam praktik penangkapan tertentu.

Salah satu kendala yang ditemukan adalah cahaya dari layar fish finder yang dianggap mengganggu penglihatan juru panggung saat kondisi operasi penangkapan dilakukan tanpa penerangan agar gerombolan ikan lebih mudah diamati. Menurut Dias, pengalaman ini memberinya pelajaran penting bahwa inovasi teknologi dalam sektor perikanan perlu mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan kebiasaan nelayan di lapangan.

“Teknologi memang penting, tetapi harus bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Pengalaman di lapangan membuat saya memahami bahwa solusi perikanan tidak hanya soal alat yang canggih, tetapi juga memahami manusia yang menggunakannya,” tambahnya.

Melalui Program Magang Berdampak, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga belajar memahami dinamika sektor perikanan secara langsung dari masyarakat pelaku utama di lapangan. Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Penguatan pengalaman lapangan dan pemahaman praktik perikanan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mencetak generasi perikanan masa depan.

KMIP Perikanan UGM Gelar Pelepasliaran Tukik di Pantai Goa Cemara, Wujud Kepedulian Mahasiswa terhadap Ekosistem Laut

Berita Senin, 18 Mei 2026

Yogyakarta — Komitmen mahasiswa terhadap pelestarian lingkungan kembali diwujudkan melalui aksi nyata. Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan (KMIP) menggelar kegiatan pelepasliaran tukik di Pantai Goa Cemara pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang menggabungkan semangat konservasi, edukasi, dan kebersamaan mahasiswa Perikanan UGM.

Kegiatan pelepasliaran tukik berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Sejak pagi hari, mahasiswa terlibat dalam rangkaian kegiatan yang tidak hanya menghadirkan pengalaman lapangan, tetapi juga mengajak peserta memahami pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Sebagai organisasi mahasiswa di lingkungan Departemen Perikanan, KMIP terus mendorong berbagai kegiatan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik dan organisasi, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan lingkungan. Pelepasliaran tukik dipilih karena memiliki makna penting dalam mendukung konservasi satwa laut yang kini menghadapi berbagai ancaman.

Penyu merupakan salah satu spesies yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Namun keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan habitat, sampah laut, perubahan iklim, hingga aktivitas manusia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat secara langsung bahwa menjaga keberlanjutan laut dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama.

Momen pelepasan tukik menuju laut juga menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi peserta. Di tengah suasana Pantai Goa Cemara, mahasiswa tidak hanya menyaksikan proses pelepasliaran, tetapi juga merefleksikan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya konservasi lingkungan.

Bagi KMIP, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang aktif, peduli, dan berdampak. Mahasiswa tidak hanya belajar melalui ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenai isu-isu lingkungan dan konservasi sumber daya perikanan.

Melalui kegiatan seperti ini, KMIP menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 14 (Life Below Water), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDG 15 (Life on Land). Keterlibatan mahasiswa dalam aksi konservasi menjadi langkah penting dalam menjaga ekosistem laut dan keanekaragaman hayati bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Belajar Kebijakan Laut hingga Strategi Pembangunan Perikanan, Ini Serunya Mata Kuliah Fisheries and Marine Policy di Perikanan UGM

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Sektor perikanan dan kelautan tidak hanya membutuhkan teknologi dan kemampuan produksi, tetapi juga kebijakan yang tepat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam mata kuliah Fisheries and Marine Policy di Magister Ilmu Perikanan (MIP), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

Mata kuliah wajib yang diajarkan pada semester pertama ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana kebijakan perikanan dan kelautan dibentuk, diterapkan, hingga dievaluasi dalam konteks pembangunan nasional maupun global. Mata kuliah ini diampu oleh Prof. Djumanto dan Prof. Suadi.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa belajar berbagai teori pembangunan perikanan, posisi sektor perikanan dalam ekonomi nasional dan internasional, hingga strategi kebijakan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Tidak hanya membahas Indonesia, mahasiswa juga diajak melihat berbagai contoh pembangunan perikanan di negara-negara berbasis maritim seperti Jepang, Amerika, Eropa, dan negara-negara Asia lainnya.

Yang menarik, pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui kuliah di kelas. Mahasiswa aktif mengikuti diskusi kelompok, presentasi, studi kasus, kuis, hingga analisis berbagai persoalan nyata di sektor perikanan dan kelautan. Pendekatan ini membuat mahasiswa belajar berpikir kritis terhadap isu-isu strategis seperti konflik sumber daya, tata kelola pesisir, pembangunan ekonomi maritim, hingga peran negara dan swasta dalam sektor perikanan.

Mahasiswa juga dikenalkan pada konsep kebijakan publik modern dan tata kelola laut internasional. Topik-topik seperti konservasi lintas batas laut, hukum laut internasional, hingga marine governance menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dunia perikanan modern sangat erat kaitannya dengan aspek sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan secara global.

Selain memperkuat wawasan akademik, mata kuliah ini dirancang untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam merumuskan, menerapkan, dan mengevaluasi kebijakan perikanan secara logis, kritis, dan inovatif. Mahasiswa juga didorong untuk mampu bekerja dalam tim, membangun jejaring, serta berkontribusi dalam pengembangan masyarakat dan sektor perikanan Indonesia.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu pembangunan pesisir, kebijakan publik, ekonomi kelautan, maupun tata kelola sumber daya laut, mata kuliah ini memberikan gambaran bahwa kuliah di Perikanan UGM tidak hanya belajar tentang ikan, tetapi juga memahami bagaimana kebijakan memengaruhi masa depan laut dan masyarakat pesisir.

Melalui pembelajaran ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mencetak lulusan yang mampu berpikir strategis, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan sektor perikanan dan kelautan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Penguatan tata kelola dan kebijakan perikanan menjadi bagian penting dalam menciptakan pembangunan kelautan yang adil dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM: Melupakan Laut Berarti Mengabaikan Masa Depan Sosial Indonesia

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Wacana mengenai memudarnya orientasi pembangunan maritim Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah muncul opini berjudul “Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan” yang dimuat media nasional. Tulisan tersebut menyoroti bagaimana laut perlahan kehilangan posisi strategis dalam arah pembangunan Indonesia, padahal laut merupakan fondasi penting bagi identitas dan masa depan bangsa.
RMOL – Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan

Menanggapi isu tersebut, dosen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Mukti Aprian, menilai bahwa persoalan terbesar Indonesia hari ini bukan semata-mata eksploitasi laut, melainkan cara pandang pembangunan yang mulai menjauh dari identitas maritim bangsa.

Menurut Dr. Mukti, laut selama ini terlalu sering diposisikan hanya sebagai sumber ekonomi dan ruang produksi. Padahal, laut memiliki dimensi sosial, budaya, ekologis, hingga politik yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama komunitas pesisir dan nelayan kecil.

“Ketika laut hanya dipahami sebagai komoditas ekonomi, maka yang hilang bukan hanya ekosistemnya, tetapi juga ruang hidup masyarakat pesisir, pengetahuan lokal, dan identitas maritim Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan sektor kelautan seharusnya tidak berhenti pada peningkatan produksi atau investasi semata. Menurutnya, kebijakan maritim perlu melihat laut sebagai ruang kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan, budaya lokal, hingga keberlanjutan sosial masyarakat.

Dr. Mukti juga menyoroti bagaimana masyarakat pesisir sering menjadi kelompok yang paling terdampak ketika pembangunan tidak memperhatikan aspek sosial dan ekologis. Perubahan iklim, abrasi, pencemaran laut, hingga penurunan sumber daya ikan secara langsung memengaruhi kehidupan nelayan dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidup dari laut.

Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan paradigma pembangunan maritim yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Ia menilai pendekatan sosial dalam ilmu perikanan menjadi semakin penting untuk memahami bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, tekanan ekonomi, dan transformasi kebijakan di sektor kelautan.

“Laut bukan sekadar ruang geografis. Laut adalah ruang sosial. Di sana ada relasi budaya, ekonomi keluarga, solidaritas masyarakat, bahkan identitas komunitas yang terbentuk selama puluhan tahun,” jelasnya.

Sebagai akademisi yang menaruh perhatian pada kajian sosial perikanan dan masyarakat pesisir, Dr. Mukti Aprian juga menilai bahwa riset-riset sosial di bidang perikanan masih perlu diperkuat. Menurutnya, selama ini kajian kelautan lebih banyak didominasi pendekatan teknis dan produksi, sementara dinamika sosial masyarakat pesisir sering kurang mendapat perhatian.

Ia menekankan bahwa masa depan sektor kelautan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan memahami manusia yang hidup di dalam sistem tersebut.

Selain itu, Dr. Mukti menilai generasi muda perlu mulai membangun kembali kesadaran maritim. Kampus, menurutnya, memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk cara pandang baru terhadap laut, bukan sekadar sebagai sumber daya, tetapi sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan bangsa.

“Kalau laut rusak, dampaknya bukan hanya pada ikan atau ekosistem, tetapi juga pada ketahanan pangan, migrasi masyarakat pesisir, kemiskinan, hingga konflik sosial. Karena itu, menjaga laut sebenarnya adalah menjaga masa depan Indonesia,” tambahnya.

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, Departemen Perikanan UGM terus mendorong pengembangan ilmu perikanan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat pesisir.

Refleksi ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-13 (Climate Action), tujuan ke-14 (Life Below Water), dan tujuan ke-1 (No Poverty). Penguatan pembangunan maritim berbasis keberlanjutan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga ekologi laut sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Podcast Fisheries Talks Bahas Pentingnya Menjaga Ekosistem Laut Sejak Dini

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Kesadaran menjaga laut dan lingkungan pesisir perlu ditanamkan sejak usia dini. Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam episode terbaru Fisheries Talks by Media Perikanan UGM yang menghadirkan dua duta muda maritim Bali, yaitu Ni Putu Devika Wulandari dan Ni Putu Khenzie Dena Defika.

Dipandu oleh host Alya Putri Mezzaluna, podcast ini membahas berbagai isu terkait keberlanjutan ekosistem laut Indonesia serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan bahari.

Dalam perbincangan tersebut, kedua narasumber menyoroti bahwa laut Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar sekaligus menghadapi berbagai ancaman seperti sampah plastik, pencemaran, hingga kerusakan ekosistem pesisir. Kesadaran masyarakat, terutama anak muda, dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga masa depan laut Indonesia.

Podcast ini juga mengangkat bagaimana peran duta maritim tidak hanya sebatas ajang representasi, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap laut dan lingkungan pesisir. Melalui media sosial, kampanye edukasi, hingga kegiatan lingkungan, generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk menyebarkan kesadaran konservasi laut secara lebih luas.

Diskusi berlangsung hangat dan inspiratif dengan berbagai cerita pengalaman narasumber selama terlibat dalam kegiatan edukasi kemaritiman di Bali. Mereka juga berbagi pandangan mengenai pentingnya membangun kebiasaan sederhana seperti mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan pantai, dan lebih mengenal kekayaan laut Indonesia.

Isu keberlanjutan ekosistem laut sendiri menjadi perhatian global mengingat laut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan manusia. Berbagai tantangan seperti pencemaran laut, kerusakan terumbu karang, dan eksploitasi sumber daya laut berlebihan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem bahari.

Melalui podcast ini, Media Perikanan UGM berupaya menghadirkan ruang diskusi yang ringan namun edukatif agar isu kelautan semakin dekat dengan generasi muda. Kehadiran figur muda seperti Duta Maritim Bali diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap laut Indonesia.

Video podcast dapat disaksikan melalui kanal YouTube berikut:
Fisheries Talks – Menjaga Keberlanjutan Ekosistem Laut Indonesia

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 14 (Life Below Water). Edukasi dan keterlibatan generasi muda menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia untuk masa depan.

IMB Perikanan UGM: Tempat Mahasiswa Belajar Bisnis, Kepemimpinan, dan Industri Perikanan Secara Nyata

Berita Rabu, 13 Mei 2026

Yogyakarta — Kuliah di Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada tidak hanya tentang belajar di ruang kelas atau praktikum laboratorium. Mahasiswa juga mendapat kesempatan belajar langsung mengelola bisnis melalui Inkubator Mina Bisnis (IMB), sebuah wadah pengembangan kewirausahaan yang menjadi salah satu ciri khas Departemen Perikanan UGM.

IMB hadir sebagai sarana pembelajaran praktis yang dirancang untuk membentuk jiwa entrepreneur mahasiswa di bidang perikanan dan kelautan. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori bisnis, tetapi juga terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, pelayanan konsumen, hingga pengembangan produk berbasis hasil perikanan.

Salah satu unit yang paling dikenal adalah Resto IMB, yang menjadi ruang belajar sekaligus praktik bisnis mahasiswa. Di tempat ini, mahasiswa belajar mengelola usaha secara nyata mulai dari produksi, pemasaran, manajemen operasional, hingga pelayanan pelanggan. Konsep pembelajaran ini membuat mahasiswa memiliki pengalaman profesional bahkan sebelum lulus kuliah.

Menariknya, IMB juga terhubung dengan pengembangan produk inovatif perikanan seperti delifiZ, produk olahan ikan yang diinisiasi Departemen Perikanan UGM. Produk-produk tersebut menjadi contoh bagaimana hasil riset dan inovasi mahasiswa maupun dosen dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Keberadaan IMB menunjukkan bahwa pendidikan perikanan modern tidak hanya fokus pada aspek produksi dan budidaya, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan bisnis dan manajemen. Mahasiswa diajak memahami rantai industri perikanan secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga pemasaran produk kepada masyarakat.

Selain meningkatkan keterampilan kewirausahaan, IMB juga menjadi ruang pengembangan soft skills mahasiswa seperti kepemimpinan, komunikasi, kerja tim, dan kemampuan problem solving. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi lulusan untuk menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha mandiri di sektor perikanan.

Departemen Perikanan UGM sendiri telah berdiri sejak tahun 1963 dan terus berkembang sebagai institusi pendidikan perikanan yang unggul di Indonesia. Saat ini Departemen Perikanan memiliki berbagai program studi yang telah terakreditasi unggul dan memperoleh akreditasi internasional.

Melalui IMB, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi sarjana yang kuat secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan mampu menciptakan inovasi berbasis sumber daya perikanan.

Informasi lengkap mengenai Departemen Perikanan UGM dan IMB dapat diakses melalui:
Departemen Perikanan UGM

Program IMB ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-4 (Quality Education), tujuan ke-8 (Decent Work and Economic Growth), dan tujuan ke-9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Pengembangan kewirausahaan mahasiswa menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi muda yang inovatif dan mampu membangun sektor perikanan berkelanjutan di masa depan.

Podcast Perikanan UGM Angkat Kisah Mahasiswa Akuakultur Peraih Medali Perunggu PIMNAS 38

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Yogyakarta — Prestasi mahasiswa Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada kembali menjadi inspirasi melalui tayangan podcast terbaru Media Perikanan UGM. Episode kali ini menghadirkan Mutiara Hanum, mahasiswa Program Studi Akuakultur UGM yang berhasil meraih medali perunggu pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38 tahun 2025.

Podcast dipandu oleh host Aurelie Firlana Salsabilla dan membahas perjalanan Mutiara Hanum dalam mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) hingga berhasil membawa pulang prestasi nasional di ajang ilmiah paling bergengsi bagi mahasiswa Indonesia.

Dalam perbincangan tersebut, Mutiara berbagi cerita mengenai proses penyusunan ide, tantangan selama kompetisi, hingga pengalaman mengikuti PIMNAS 38. Ia juga menceritakan bagaimana kerja tim, konsistensi, dan dukungan lingkungan akademik menjadi faktor penting dalam perjalanan prestasinya.

Prestasi yang diraih Mutiara Hanum sebelumnya juga mendapat apresiasi dari Fakultas Pertanian UGM. Dalam ajang PIMNAS 38, Mutiara berhasil memperoleh Medali Perunggu kategori Poster pada cabang Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI).

Tim yang diikuti Mutiara mengembangkan inovasi bertajuk SOLAQUA, sistem aerasi cerdas berbasis tenaga surya dan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas air budidaya secara real-time. Inovasi tersebut dinilai mampu mendukung sistem akuakultur yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Melalui podcast ini, Media Perikanan UGM tidak hanya menghadirkan cerita prestasi mahasiswa, tetapi juga membuka ruang inspirasi bagi mahasiswa lain agar berani mencoba, berkarya, dan terlibat dalam berbagai kompetisi ilmiah.

Suasana podcast berlangsung santai dan interaktif, membuat pengalaman mengikuti PIMNAS terasa dekat dan relevan bagi mahasiswa. Berbagai cerita di balik proses persiapan, dinamika lomba, hingga pengalaman bertemu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia turut menjadi bagian menarik dalam episode tersebut.

Bagi mahasiswa baru maupun calon mahasiswa, podcast ini memberikan gambaran bahwa kuliah di Akuakultur UGM tidak hanya berfokus pada pembelajaran di kelas, tetapi juga membuka banyak peluang untuk berprestasi, berinovasi, dan mengembangkan solusi nyata bagi sektor perikanan dan lingkungan.

Video podcast dapat disaksikan melalui kanal YouTube berikut:
Podcast Mahasiswa Akuakultur UGM Tembus Perunggu PIMNAS 38

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan SDG 14 (Life Below Water). Inovasi mahasiswa di bidang akuakultur berkelanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi perikanan yang ramah lingkungan dan berdampak bagi masyarakat.

Belajar Rekayasa Genetik hingga Pemuliaan Ikan Modern, Ini Serunya Mata Kuliah Genetics and Fish Breeding di Akuakultur UGM

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Yogyakarta — Dunia akuakultur modern tidak lagi hanya berbicara tentang memberi pakan dan memelihara ikan. Di Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, mahasiswa juga diajak memahami bagaimana ilmu genetika dapat digunakan untuk menghasilkan ikan unggul melalui mata kuliah Genetics and Fish Breeding atau Pemuliaan Ikan.

Mata kuliah wajib ini menjadi salah satu pembelajaran penting bagi mahasiswa Akuakultur untuk memahami dasar-dasar genetika hingga teknologi pemuliaan ikan modern. Mata kuliah ini diampu oleh Dosen diantaranya Dr. Dini Wahyu Kartika Sari.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa belajar bagaimana sifat genetik ikan dapat diwariskan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas budidaya perikanan. Topik yang dipelajari pun sangat beragam, mulai dari konsep genetika ikan, seleksi induk unggul, heritabilitas, variasi genetik, hingga teknik pemuliaan berbasis bioteknologi.

Yang menarik, mahasiswa juga dikenalkan pada berbagai teknologi modern seperti ikan transgenik (GMO fish), poliploidi, ginogenesis, androgenesis, hingga teknologi sex reversal untuk menghasilkan ikan jantan atau betina sesuai kebutuhan budidaya. Materi-materi tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan ilmu genetika kini menjadi bagian penting dalam dunia akuakultur modern.

Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan blended learning dan student-centered learning (SCL). Mahasiswa tidak hanya mendengarkan kuliah di kelas, tetapi juga aktif berdiskusi, mengerjakan studi kasus, presentasi, hingga memanfaatkan platform digital seperti eLOK dan eLISA untuk pembelajaran mandiri.

Selain memahami teori, mahasiswa juga diajak berpikir kritis mengenai pemanfaatan teknologi genetika secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. Hal ini penting karena pengembangan akuakultur masa depan tidak hanya menuntut produktivitas tinggi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, etika, dan keberlanjutan sumber daya hayati.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada dunia sains, bioteknologi, dan inovasi budidaya perikanan, mata kuliah ini menjadi gambaran bahwa kuliah di Akuakultur UGM menawarkan pengalaman belajar yang modern dan relevan dengan perkembangan teknologi global.

Melalui pembelajaran ini, Departemen Perikanan UGM terus berupaya mencetak lulusan yang mampu mengembangkan teknologi budidaya perikanan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi untuk mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sektor perikanan Indonesia.

Mata kuliah ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Pengembangan teknologi genetika dan pemuliaan ikan menjadi bagian penting dalam mendukung sistem akuakultur yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.

Dosen Perikanan UGM Tinjau Mahasiswa Magang Berdampak di PPN Prigi

Berita Selasa, 12 Mei 2026

Trenggalek — Komitmen Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman lapangan kembali diwujudkan melalui kunjungan dosen pembimbing ke lokasi Magang Berdampak mahasiswa di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Kunjungan dilakukan oleh Prof. Djumanto sebagai bentuk monitoring dan pendampingan terhadap mahasiswa peserta program magang yang sedang menjalani praktik profesional di salah satu pelabuhan perikanan strategis di pesisir selatan Jawa Timur tersebut.

Dalam kunjungan ini, Prof. Djumanto meninjau langsung berbagai aktivitas mahasiswa, mulai dari pengamatan proses pendaratan ikan, pengelolaan pelabuhan perikanan, tata niaga hasil tangkapan, hingga sistem operasional perikanan tangkap yang berlangsung di kawasan PPN Prigi.

Sebagai salah satu pusat aktivitas perikanan tangkap di Jawa Timur, PPN Prigi menjadi ruang belajar yang penting bagi mahasiswa untuk memahami dinamika dunia perikanan secara nyata. Mahasiswa tidak hanya mempelajari aspek teknis penangkapan ikan, tetapi juga melihat hubungan antara aktivitas pelabuhan, ekonomi nelayan, rantai distribusi hasil perikanan, dan pengelolaan sumber daya laut.

Program Magang Berdampak sendiri dirancang untuk memperkuat kompetensi mahasiswa melalui pengalaman langsung di dunia kerja. Melalui keterlibatan di instansi dan kawasan perikanan strategis, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik profesional di lapangan.

Selain melakukan monitoring, kunjungan ini juga menjadi ruang diskusi antara dosen pembimbing, mahasiswa, dan pihak pelabuhan terkait tantangan sektor perikanan tangkap modern, termasuk isu keberlanjutan sumber daya ikan, efisiensi pelabuhan, serta penguatan tata kelola perikanan. Mahasiswa peserta magang juga memperoleh kesempatan untuk memahami berbagai aspek manajemen pelabuhan perikanan, mulai dari layanan kapal, penanganan hasil tangkapan, pengawasan mutu ikan, hingga sistem logistik dan distribusi hasil perikanan. Bagi Departemen Perikanan UGM, pembelajaran berbasis praktik lapangan menjadi bagian penting dalam mencetak lulusan yang adaptif, profesional, dan memahami kondisi nyata sektor perikanan Indonesia.

Informasi mengenai PPN Prigi dapat diakses melalui:
Profil PPN Prigi

Kegiatan ini juga mendukung agenda global Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dan SDG 14 (Life Below Water). Pengalaman belajar berbasis lapangan menjadi langkah penting dalam membangun sumber daya manusia perikanan yang kompeten dan berorientasi pada keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

12345…29
Universitas Gadjah Mada

Departemen Perikanan Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada
Gedung A4, Jl. Flora, Bulaksumur,Yogyakarta, 55281
 +62274-551218
 fish@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY